
Srak Sruk! Srak Sruk!
“Ahh, aku tidak bisa tidur!” erang Olivia frustrasi dengan rambut acak-acakan dan perut buncitnya. Wanita itu terus mengacak-acak rambutnya kesal sambil sesekali mengusap perut buncitnya yang telah menginjak usia enam bulan. Sejak seminggu yang lalu Olivia mulai sering merasakan pegal di bagian punggungnya. Terkadang ia juga merasa punggungnya tidak bisa digerakan saat ia bangun dari tidurnya di pagi hari. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain memijat-mijatnya pelan karena dokter mengatakan hal itu wajar terjadi pada ibu hamil sepertinya.
Bahkan menurut dokter, rasa pegal itu akan semakin bertambah menyiksa seiring dengan usia kandungannya yang semakin besar.
“Kau berisik sekali. Bisakah kau tidur dengan tenang? Aku baru saja memejamkan mataku tiga puluh menit yang lalu dan kau sudah mengusikku dengan gerakanmu yang berisik itu. Bisakah kau tenang dan hanya memejamkan matamu?” bentak Scout galak dengan wajah gusarnya. Olivia membalas tatapan pria itu tajam sambil mengusap punggungnya yang terasa pegal. Lalu tiba-tiba perutnya berbunyi nyaring dengan suara yang sangat memalukan, membuat Olivia mengurungkan niatnya untuk membalas bentakan pria itu karena ia merasa malu.
“Kau lapar?”
“Ini semua karena ulah anakmu. Aku tidak bisa tidur karena punggungku sakit! Dan sekarang tiba-tiba aku merasa lapar, padahal aku sudah memakan semua makan malamku dengan rakus sore tadi. Arghh, aku benci mengandung! Aku benci anak ini!” teriak Olivia frustrasi. Scout menatap datar wanita itu, dan tiba-tiba saja ia segera bangkit dari tidurnya sambil mengulurkan tangannya pada Olivia.
“Apa?”
“Jangan membenci anak itu, ia tidak bersalah. Ayo, aku akan membuatkanmu makanan.” ucap pria itu datar.
Olivia menatap pria itu dengan tatapan bahagia dan langsung menarik tangan pria itu untuk turun ke bawah. Padahal beberapa menit yang lalu ia baru saja berteriak-teriak dan menyalahkan bayi yang berada di dalam kandungannya, namun ketika ia melihat sikap perhatian Scout, wanita itu seolah-olah telah melupakan seluruh amarahnya begitu saja. Dan hal itu sudah sering terjadi beberapa hari terakhir ini, membuat Scout harus selalu ekstra sabar dalam menghadapi Olivia. Karena bagaimanapun juga bayi itu adalah anaknya. Ia tidak akan menyia-nyiakan anaknya dan ingin melihat anaknya lahir dengan selamat nanti.
“Apa yang akan kau masak untukku?” tanya Olivia antusias dari arah meja pantri. Wanita itu tampak menopangkan kepalanya di atas meja sambil mengamati setiap gerakan cekatan Scout yang sedang menyiapkan berbagai macam bahan makanan dari dalam kulkas. Pria itu lalu menatap Olivia sekilas dan mengedikan bahunya acuh pada bahan-bahan makanan yang sedang ia siapkan di atas kontainer dapur. Kebiasaan Scout ketika sedang melakukan sesuatu, ia tidak ingin diganggu dengan suara-suara apapun.
“Kenapa kau hanya mengedikan bahu, aku ingin mendengar jawabanmu.” gerutu Olivia kesal. Selama lebih dari empat bulan tinggal bersama Scout, wanita itu selalu dibuat kesal dengan sikap Scout yang kelewat dingin dan datar. Tak jarang Scout mengabaikannya saat ia bertanya hingga ia akhirnya menyerah dan memilih untuk mengabaikan pria itu seharian. Namun Wills yang baik hati selalu menemani Olivia dan membuat wanita itu dapat tertawa dan melupakan rasa kesalnya pada Scout. Tapi tak selamanya pria itu akan selalu ada untuknya. Seperti malam ini, biasanya Wills tidak akan muncul di hadapannya jika Scout sedang bersamanya karena pria itu merasa ia akan mengganggu kedekatannya dengan Scout. Padahal sejujurnya Olivia lebih suka pria itu selalu ada di dekatnya saat Scout sedang bersamanya, karena dengan begitu ia dapat mengusir kebosanannya yang menjemukan saat bersama Scout.
“Scout, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
“Memasak makanan untukmu dan membuatmu diam.” jawab Scout langsung dengan nada datar. Olivia memutar bola matanya kesal sambil memain-mainkan kotak garam yang berada di didepannya dengan gusar. Sebenarnya bukan itu jawaban yang diinginkannya. Ia sedang bertanya serius mengenai nasib keluarganya. Terakhir kali Scout membicarakan mengenai Sian yang masih sibuk mencarinya kesana kemari seperti orang gila, dan Justice yang kini aman di rumah Eden. Entah darimana pria itu mendapatkan informasi, Scout tidak pernah mengatakannya. Pria itu hanya memberitahunya jika pada waktunya nanti, ia akan dikembalikan ke keluarganya dengan utuh. Setelah itu ia tidak pernah membahasnya lagi dan hanya diam dengan segala rencana Scout.
Semakin lama Olivia merasa sangat sulit membedakan antara rasa nyaman dan cinta. Sekarang ia merasa sangat nyaman bersama Scout. Pria itu ternyata tak sejahat yang dipikirkannya. Scout baik, meskipun sering mengomel karena ia memiliki banyak permintaan. Perlahan-lahan ia memanfaatkan keberadaan Scout untuk
memenuhi semua keinginannya. Sesuatu yang selama ini jarang didapatkannya dari Sian. Perhatian! Ia mungkin sudah terlalu haus akan rasa perhatian Sian yang lebih banyak menuntut pengertian darinya semenjak pria itu mengalami cedera karena kecelakaan.
“Apa yang kau pikirkan?”
Tiba-tiba Scout bertanya pada Olivia sambil memotong-motong daging salmon. Merasa tertarik dengan kegiatan yang dilakukan oleh Scout, Oliviapun berjalan mendekat pada pria itu dan segera merebut pisau besar yang digunakan oleh Scout untuk memotong ikan salmon.
“Aku akan memotongnya. Kau rebus saja pastanya dan juga jamurnya.” perintah Olivia acuh dengan sedikit memaksa. Scout kemudian meletakan pisau itu di tempat dan langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun. Terkadang ia merasa bersalah pada Olivia karena telah menyeret wanita itu ke dalam masalahnya. Tapi ia tidak bisa melepaskan Olivia begitu saja karena saat ini wanita itu sedang mengandung anaknya. Jika ia melepaskan Olivia sekarang, ia khawatir wanita itu akan berbuat hal-hal nekat dan mencelakai anaknya.
“Scout, apa yang terjadi pada keluargaku? Kenapa akhir-akhir ini kau tidak pernah membicarakannya seperti dulu? Bagaimana kabar Justice dan Sian?” tanya Olivia bertubi-tubi dengan wajah penuh tanya. Scout menatap Olivia sekilas, dan setelah itu ia kembali berkutat pada pasta dan jamurnya yang hampir matang.
“Kau tidak perlu memikirkan mereka. Lebih baik kau perhatikan kesehatanmu dan anakku, aku tidak ingin dia terluka.”
Refleks, Olivia langsung berbalik sambil berkacak pinggang di belakang tubuh tegap Scout. Dengan gemas, ia melemparkan sebuah tomat pada Scout dan disusul dengan lemparan tomat yang lain dan juga beberapa sayuran hijau yang akan dimasak oleh Scout.
“Dasar pria dingin, kaku, egois! Mengapa seolah-olah aku ini hanya robot yang berfungsi untuk melahirkan anakmu. Dia juga anakku, jadi jangan menganggap jika dia hanya anakmu. Ahh, aku membencimu!” teriak Olivia kesal sambil terus melemparkan sayur-sayuran ke arah Scout. Sedangkan Scout tampak begitu kewalahan di depan Olivia sambil terus menangkis serangan sayur-sayuran yang kini telah mengotori bagian depan kaos birunya.
“Hentikan! Apa yang kau lakukan. Olivia!” peringat Scout tegas, namun sama sekali tidak dipedulikan oleh Olivia. Wanita itu terus menghujani Scout dengan berbagai macam sayur-sayuran yang bisa dijangkaunya sambil menjulurkan lidahnya mengejek.
“Aku tidak akan berhenti. Ayo balas aku jika kau bisa.” ejek Olivia sambil berlari menghindar dari kejaran Scout. Merasa kesal dengan sikap kekanakan Olivia, akhirnya Scout memutuskan untuk membalas Olivia dan segera berlari ke depan mengejar Olivia yang telah berlari jauh menghindarinya.
“Hey, berhenti! Kau harus merasakan pembalasanku.” teriak Scout nyaring dengan sebuah tomat di tangannya. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu sekarang, tapi ia terlihat sangat konyol dengan sebuah tomat merah di tangannya. Padahal selama ini ia selalu bersikap dingin dan sama sekali tidak pernah tertarik pada hal-hal konyol seperti ini. Namun dalam sekejap, Olivia dapat menghancurkan dinding kaku itu dan membuatnya terlihat lebih manusiawi dari sebelumnya.
“Scout, kejar aku! Hahahaa, dasar payah.” ejek Olivia dari arah ruang tamu. Scout menggeram pelan dan segera mempercepat laju larinya untuk mengejar Olivia. Seorang Scout Voyage pasti bisa menangkap Olivia dengan mudah, apalagi wanita itu sedang mengandung. Akan sangat memalukan baginya jika ia tidak bisa menangkap wanita itu dan membiarkannya terus mengejeknya dengan wajahnya yang menjijikan itu.
“Awas kau Olivia, aku akan membuatmu membayar semua perbuatanmu padaku.”
Dengan gerakan cepat, Scout langsung melesat ke depan, menerjang semua perabotan yang berada di dalam ruang tamu untuk mendapatkan Olivia. Suara gaduh barang-barang yang jatuh dan barang-barang yang bergeser dari tempatnya sama sekali tak dipedulikan olehnya, dan ia hanya terus berlari untuk mendapatkan Olivia yang cukup gesit itu.
Sementara itu, Olivia tampak tertawa-tawa keras di depan Scout sambil terus melangkahkan kaki jenjangnya kesana kemari agar pria itu tidak bisa menangkapnya. Ternyata bermain kejar-kejaran dengan pria kaku seperti Scout cukup menyenangkan untuknya. Bahkan ia merasa menikmatinya dan sama sekali tidak peduli pada perut buncitnya yang ikut bergoyang-goyang kesana kemari seiring dengan langkah kakinya yang sangat lincah. Ia yakin, kandungannya pasti kuat dan tidak akan bermasalah hanya karena ia berlarian kesana kemari. Lagipula menurut beberapa artikel yang sering dibacanya akhir-akhir ini, berlari sangat bagus untuk memperlancar aliran darah ibu hamil.
Hup!
“Kena kau!” seringai Scout dengan wajah mengerikan. Olivia yang berada di dalam dekapan Scout langsung terpekik kaget sambil meronta-ronta kuat dengan suara nyaringnya yang memekakan telinga.
“Yak, lepaskan aku! Scout, aaa..”
Dengan jahil Scout langsung menggelitik pinggang Olivia dan semakin membuat Olivia berteriak kencang karena merasa geli.
“Huh, rasakan! Ini balasanmu karena telah mengotori kaosku dan mengacaukan dapurku.”
__ADS_1
“Hahahaha, ampun.... Aku hahahahaa, tidak akan melakukannya lagi... hahahaa.” mohon Olivia dengan suara terputus-putus. Scout kemudian melepaskan tangannya dari pinggang Olivia dan membiarkan wanita itu untuk mengambil udara sebanyak-banyaknya karena ia baru saja membuat wanita itu kehabisan nafas karena terlalu banyak udara.
Dengan langkah terhuyung-huyung, Olivia mulai berjalan menjauh dari Scout, tapi langkahnya yang tidak seimbang membuatnya hampir jatuh tersungkur ke atas lantai, namun dengan sigap Scout langsung menangkapnya dan menatapnya penuh kekhawatiran.
“Perhatikan langkahmu, kau bisa terjatuh.” nasihat Scout datar, namun menyiratkan nada kekhawatiran yang kental di dalam nada bicaranya. Olivia tersenyum simpul dan segera berjalan pelan menuju sofa yang berada di tengah ruangan.
“Kau tahu, terkadang kau begitu perhatian dan sangat manis. Jujur, aku menyukainya.” ucap Olivia tulus dengan senyum lembut di wajahnya. Scout mengedikan bahunya acuh dan segera berjalan pergi menuju dapur. Kedekatannya hari ini dengan Olivia bukan sesuatu yang harus ia tanggapi dengan penuh sukacita. Anggap saja itu hanya hiburan di tengah kekalutan hatinya.
Sembari mengaduk saus krimnya di dalam panci, Scout mulai memikirkan masa depannya dan juga bayi yang saat ini sedang berada di dalam kandungan Olivia. Sejujurnya selama ini ia hidup hanya mengikuti alur kehidupan yang digariskan oleh Tuhan padanya. Tidak ada masa depan, dan tidak pernah ada rencana untuk masa depan karena ia tidak ingin merencanakan apapun. Baginya masa depan itu sesuatu yang tidak pasti dan sewaktu waktu dapat menyakitinya. Tapi setelah kehadiran Olivia di dalam hidupnya dan juga kehamilan Olivia, pemikirannya tentang masa depan sedikit demi sedikit mulai berubah. Sekarang ia merasa ingin merencanakan
sesuatu untuk keluarga kecilnya. Terkadang hati kecilnya menjerit ingin tetap mempertahankan Olivia di sampingnya bersama dengan anak yang dikandungnya. Tapi dulu ia pernah berjanji pada Olivia, bahwa ia akan melepaskan wanita itu setelah ia melahirkan. Dan ia tentu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menarik itu semua. Sebagai seorang pria sejati, ia harus selalu menepati janjinya. Sekalipun ia bukan pria baik-baik dan bisa dikatakan sebagai pria brengsek, ia tidak akan menarik kata-katanya sendiri.
“Ada apa denganku?” gumam Scout pelan dengan pandangan kosong ke depan. Sepintas bayangan mengenai masa kecilnya yang indah langsung berputar-putar di dalam kepalanya, lengkap dengan suara tawanya yang terdengar nyaring saat ia tengah bermain base ball dengan ayahnya. Kenangan itu rasanya tidak akan pernah pergi dari kepalanya, dan justru akan menjadi sebuah pengingat yang terasa begitu menyedihkan untuknya. Terkadang ia juga membayangkan hal yang sama mengenai anaknya nanti. Ia ingin membesarkan anak itu dengan limpahan cinta yang sangat banyak dan ia ingin memiliki keluarga utuh yang bahagia. Ia tidak ingin anak yang berada di dalam kandungan Olivia merasakan apa yang ia rasakan selama ini. Ia tidak mau hal itu terjadi. Cukup dirinya saja yang merasakan hal itu, tidak untuk anaknya.
“Scout, mana makananku? Aku lapar.” panggil Olivia dari arah depan. Tiba-tiba sajaa wanita itu sudah berjalan ke arahnya dengan sebelah tangannya yang bergerak mengelus perutnya lembut. Entah itu gerakan sadar atau gerakan naluriah sebagai seorang ibu, yang jelas Scout merasa hatinya menghangat melihat hal itu. Rasanya Olivia terlihat juga menyayangi anaknya.
“Duduklah, dan makan makananmu!” perintah Scout datar dan dingin seperti biasa. Pria itu meletakan sepiring pasta dengan saus krim dan daging ikan salmon di atas meja bar, lalu membantu Olivia untuk duduk di atas sebuah kursi bar yang cukup tinggi.
Melihat hasil masakan Scout yang tampak menggiurkan, mata bulat Olivia langsung bersinar penuh minat dengan air liur yang hampir menetes dari sudut bibirnya. Rasanya ia sangat bahagia hanya dengan melihat makanan itu. Perutnya yang awalnya sedikit bergejolak, tiba-tiba rasa itu langsung hilang seketika, digantikan dengan rasa lapar dan keinginan untuk melahap semua makanan itu dengan rakus. Ia kemudian langsung menyambar garpu serta sendok yang disodorkan oleh Scout, dan setelahnya ia langsung memakan pasta itu dengan lahap.
“Scout, ini enak. Terimakasih banyak.” ucap Olivia riang sambil terus melahap pastanya. Scout tersenyum simpul dan memutusakan untuk duduk di sebelah Olivia sambil menegak sekaleng birnya. Tiba-tiba Olivia menyodorkan sesendok pasta tepat di depan mulutnya, tapi kemudian ia menggeleng karena ia tidak mau mengambil jatah nutrisi Olivia.
Nutrisi anaknya
“Buka mulutmu, kau juga harus makan.” perintah Olivia sedikit memaksa. Scout menjauhkan tangan mungil itu dari bibirnya dan mengarahkan tangan itu tepat di depan bibir Olivia sendiri. Ia tidak mau memakan makanan itu karena makanan itu untuk Olivia, bukan untuk dirinya.
“Itu makananmu. Aku tidak lapar.”
“Tapi aku ingin kau memakannya. Cobalah, ini sangat enak.” bujuk Olivia lagi keras kepala. Scout tetap menggelengkan kepalanya kesal di sebelah Olivia dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Tapi seperti tidak kehabisan akal, Olivia langsung bangkit dari atas kursinya yang tinggi, dan wanita itu memutari tubuh Scout untuk memaksa pria itu memakan pasta buatannya.
“Apa? Kenapa kau keras kepala sekali. Aku tidak mau memakannya, makanan itu milikmu dan...”
Tiba-tiba Scout menggantung kata-katanya karena ia merasa ragu untuk mengucapkannya. Terkadang ia sendiri merasa aneh untuk mengucapkan kata anakku di depan Olivia, dan membuat Olivia seolah-olah hanya sebagai seorang penampung bagi tumbuh kembang anaknya di dalam sana.
“Dan apa?” tanya Olivia penasaran. Scout menghembuskan napasnya pelan dan memilih untuk membuka mulutnya secepat mungkin agar Olivia segera diam dan kembali melanjutkan makananya.
“Dan anakku. Makanan itu untukmu dan anakku.”
Seketika Olivia langsung menoleh ke arah Scout dengan mata yang terlihat berkaca-kaca dan hampir menangis. Merasa bingung, Scout kemudian menyentuh wajah Olivia sambil mencoba merangkai kata untuk menjelaskan pada wanita itu. Tapi tanpa diduga Olivia justru memeluk tubuhnya dengan erat dan langsung menangis di pundaknya.
“Terimakasih, terimakasih Scout. Meskipun kau jahat dan telah menculikku dari keluargaku, tapi kau selalu memperhatikanku dan memperhatikan kehamilanku. Aku... aku benar-benar merasa lebih dihargai di sini. Selama ini aku tidak pernah mendapatkan limpahan kasih sayang dari Sian. Sedangkan aku tidak memiliki keluarga sejak kecil.” isak Olivia di bahu Scout. “Teruslah menjadi Scout yang baik seperti ini. Aku tahu kau bukan pria jahat. Kau hanya terobsesi padaku awalnya, tapi kau menjadi mencintai anak ini seiring dengan berjalannya waktu. Andai
saja kita dipertemukan dengann cara yang lebih baik. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu, Scout. Kau pria yang baik.”
Scout terdiam di tempat dengan tangan yang menggantung di udara. Niatnya untuk membalas pelukan Olivia terhenti begitu saja setelah mendengar semua kata-kata yang dolontarkan oleh wanita itu padanya.
Jadi selama ini ia menganggap semua ini karena bayi itu?
Scout merasa sebenarnya apa yang diucapkan Olivia sedikit salah. Ia tidak memperlakukannya dengan baik semata-mata hanya karena anak itu. Ia benar-benar tulus memperlakukan Olivia dengan baik karena ia merasa bersalah pada wanita itu, dan juga... ia merasa memang harus melakukan hal itu. Semenjak ia membawa Olivia pergi dari rumah itu, ia langsung berpikir jika Olivia adalah tanggungjawabnya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah mengenal Olivia atau mengenal wanita itu. Tapi ia merasa seperti telah mengenal Olivia sejak lama. Ia merasa memiliki keterikatan dengan Olivia, yang tidak pernah ia sadari selama ini.
“Scout, apakah kau akan melepaskanku setelah anak ini lahir?”
“Nanti aku pasti akan melepaskanmu. Mengembalikanmu pada keluargamu.”
Kata-kata itu terasa sedikit berat untuk diucapkan oleh Scout. Ia sebenarnya tidak ingin melepaskan Olivia dan menginginkan wanita itu berada di sampingnya, bersama dengan anaknya kelak. Tapi ia merasa tidak memiliki hak untuk menahan Olivia di sisinya karena sejak awal Olivia memang tidak seharusnya bersamanya. Ia yang
merampas kehidupan wanita itu dan memaksanya untuk bertahan di sisinya dengan anak itu. Jadi apakah ia berhak untuk manahan Olivia dan meminta wanita itu tinggal di sisinya?
Sementara itu, Olivia tengah merasa sakit dan kecewa dengan ucapan Scout. Selama dua minggu ini ia terus memikirkan nasibnya setelah melahirkan nanti, ia kemudian merasa tidak rela jika dijauhkan dari anaknya. Setitik air mata tanpa sadar menggenang di pelupuk mata Olivia. Perasannya kini terombang-ambing bingung. Sian dan Scout adalah dua pria yang kini memiliki kedudukan yang beda tipis di hatinya.
Tidak ada yang salah antara Scout dan Sian, itulah yang dipikirkan Olivia setelah berbulan-bulan mengikuti kemanapun Scout membawanya. Hatinya bimbang setelah merasakan semua perhatian yang diberikan Scout bagaikan candu. Salah sendiri dulu Sian memaki-makinya dengan kasar. Terkadang itu yang menyusup di hati Olivia jika ia merasa berat akan masa depannya yang akan berpisah dari Scout. Jika Sian tahu, pria itu pasti akan menyesal karena telah menyia-nyiakannya yang dulu selalu mencoba menjelaskan semuanya. Bukankah ia tidak sepenuhnya salah? Huh, lagi-lagi Olivia mencoba berbagai macam cara untuk mengamankan posisinya. Padahal jelas-jelas ia telah salah menikmati semua ini.
Pada akhirnya baik Olivia maupun Scout hanya mampu memeluk satu sama lain untuk menyalurkan perasaan mereka yang tak pernah mereka utarakan. Mereka hanya berharap, semoga suatu saat mereka dapat mengatakannya dan saling jujur satu sama lain.
-00-
Eden merapatkan gaun tidurnya, berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya agar tidak membangunkan Aciel yang baru saja tertidur satu setengah jam yang lalu. Hawa dingin dan kesunyian malam langsung menyapa Eden saat ia berhasil keluar dengan aman dari kamarnya.
__ADS_1
Kasihan Aciel, pikir Eden tak tega. Sudah berbulan-bulan Aciel tidak beristirahat dengan benar. Suaminya sibuk membantu Sian mencari Olivia yang tak kunjung ditemukan. Padahal segala cara telah mereka lakukan, tapi hasilnya selalu nihil. Kadang Eden berpikir, mungkin Scout memang pria cerdik yang tidak bisa mereka remehkan
begitu saja. Terbukti pergerakan pria itu lebih licin daripada seekor belut sekalipun. Namun anehnya, ia tidak pernah menerima pesan apapun dari Olivia. Dulu ia berpikir, Olivia setidaknya dapat mengirimkan pesan SOS padanya saat mereka sedang singgah di suatu tempat dalam pelariannya. Namun hingga berbulan-bulan berlalu, wanita itu tidak pernah sekalipun mengirimkan pesan SOS padanya. Bahkan sekarang Eden yakin jika perut Olivia telah tumbuh kian membesar karena usia janinnya sudah hampir memasukin bulan ke tujuh.
Eden berhenti sebentar di depan kamar Ciara saat mendengar suara rengekan Justice yang samar-samar.
“Mimpi buruk.” gumam Eden dan segera masuk ke dalam kamar putrinya yang hanya diterangi cahaya dari lampu tidur. Di tengah ranjang besar dengan warna pink yang mendominasi itu, Ciara terlihat tertidur dengan nyenyak menghadap ke arah Justice. Namun Justice tidak terlihat senyenyak Ciara karena gadis kecil itu terus mengerut-ngerutkan alisnya sambil mengeluarkan suara rengekan kecil dari bibir kecilnya. Eden lantas berjalan mendekati ranjang dan mencoba mengelus kepala Justice beberapa kali agar gadis kecil itu kembali tenang.
“Sshhh... mommy di sini.”
Karena terlalu lama tinggal di rumah Eden, kini panggilan Justice untuk Eden telah berubah menjadi mommy, sama seperti anak-anak Eden yang lain. Eden merasa kasihan melihat Justice yang tak terasa telah berada di rumahnya selama lebih dari enam bulan. Sesekali Sian datang untuk menjenguk Justice jika pria itu
merindukan putrinya. Atau jika Sian ingin mengajak putrinya jalan-jalan, Eden akan mempersilahkannya dan tidak pernah melarang Sian untuk melakukan apapun bersama putrinya. Ia cukup mengerti perasaan Sian yang dari hari ke hari semakin hancur. Harapan yang dulu Eden lihat sangat bergelora dari wajah Sian, kini semakin lama kian meredup. Mungkin pria itu sudah tidak memiliki harapan lagi akan keadaan istrinya. Mengingat Sian juga sering membentak-bentak Olivia sebelum wanita itu diculik, ia jadi semakin dihinggapi rasa bersalah yang sangat pekat di hatinya.
Eden merapikan kembali selimut yang merosot hingga sebatas dagu Ciara dan Justice. Dalam diamnya Eden berharap semoga kedua gadis manis itu selalu dilindungi oleh Tuhan. Jangan sampai mereka bernasib sama seperti ibu mereka yang rusak. Yeah, ia rusak. Ia gadis kecil yang rusak dan telah ditinggalkan.
Sambil berjingkat, Eden keluar dari kamar putrinya dan menutup pintunya pelan. Saat hendak berbalik, ia tiba-tiba saja dikagetkan dengan kemunculan Aciel di belakangnya sambil bertelanjang dada. Celana piyama bergaris biru yang dikenakan pria itu telah merosot dan hanya tertahan oleh tulang panggulnya yang kokoh. Erghh... jika Eden wanita lain, ia pasti akan bersorak girang atas penampilan seksi Aciel di tengah malam yang sangat acak-acakan.
“Mimpi buruk juga?” tanya Eden lembut.
“Aku kehilangann gulingku, mom.” Aciel mencoba menirukan gaya berbicara Louise yang lucu, namun gagal. Pria itu justru akhirnya merasa jijik dengan nada bicaranya yang terlalu dibuat-buat.
“Kau ingin kopi?”
“Susu.”
“Aneh.” ucap Eden sambil mengendikan bahu pelan. Aciel terlihat berjalan mengekorinya ketika Eden berjalan terlebihdulu untuk turun ke dapur. “Kenapa kau ingin meminum susu?”
“Sudah lama aku tidak meminumnya. Menjadi bayi lagi sepertinya menyenangkan.”
Eden terkekeh di ujung tangga terakhir, langkahnya sengaja dibuat lambat agar ia dapat berjalan beriringan dengan Aciel dan memeluk lengan kokohnya. “Aku berani bertaruh, kau pasti terakhir melakukan hal seperti ini saat berusia lima tahun.”
“Entahlah, tapi mungkin tebakanmu benar.” jawab Aciel acuh tak acuh. Pemandangan dapur yang remang-remang dengan bayangan perabotan mahal yang terbiaskan cahaya bulan menjadi pemandangan pertama saat mereka memasuki dapur. Dengan langkah pasti, Eden berjalan ke arah sakelar lampu dan menyalakannya dalam sekali sentakan.
“Ini lebih baik. Aku khawatir akan salah memasukan garam ke dalam minumanmu jika aku membiarkan suasananya tetap remang-remang.” kekeh Eden pelan. Ia dengan cekatan segera menyiapkan ketel dan mengisinya dengan air. Setelah itu ia memasaknya di atas kompor bertungku empat yang setiap hari selalu digosok oleh para pelayannya hingga mengkilap. Sepertinya menyenangkan berkutat di dapur seharian. Eden bisa membayangkan kebahagiaan itu saat melihat peralatan dapurnya yang sangat lengkap. Sama seperti yang terlihat di dapur profesional milik juru masak ternama.
“Banyak gula atau sedikit gula?” tanya Eden sambil menyiapkan dua cangkir berukuran sedang di atas kontainer dapur. Gerakan Eden yang lincah untuk berpindah dari satu rak ke rak yang lain menjadi pemandangan yang sangat menyenangkan untuk dilihat Aciel yang sedang terkantuk-kantuk di mejanya.
“Sangat sedikit gula. Apa kau tahu, Ed?” Matanya tak lepas sedikitpun dari tubuh ramping Eden yang begitu menggoda. Lalu saat Eden menoleh ke arahnya, Aciel langsung bersiul genit sambil menunjuk ke arah gaun tidur Eden yang terbuka sedikit. “Seksi. Wanita dengan gaun tidur yang sedikit terbuka dan sedang bergerak lincah di dapur. Aku suka itu.”
“Ya ampun, dasar!”
Suara ketel air yang mendidih mengalihkan perhatian Eden dari Aciel. Ia cepat-cepat mematikan kompor dan menuangkan air panas itu ke dalam gelas yang telah ia siapkan. “Semakin lama aku semakin mengkhawatirkan kalian dan Olivia. Apa belum ada tanda-tanda keberadaan Olivia?” Sambil mengaduk susu di gelas, Eden mencoba membuka topik pembicaraan mengenai Olivia. Sudah dua hari ia tidak membicarakannya dengan Aciel. Pria itu tengah disibukan dengan proyek pembangunan pabrik, guncangan ekonomi akibat terjadi demo besar-besaran di Washington, tuntutan serikat buruh meminta kenaikan upah, dan berbagai masalah yang tidak bisa dianggap remeh oleh Eden. Aciel menangani semua itu di luar, ditambah masalah Olivia yang tak kunjung menemukan titik terang. Itu memusingkan.
“Masih sama. Sian mempekerjakan orang-orang yang lambat. Aku sudah melakukannya sesuai saranmu.”
“Itu bagus.” Eden berjalan menghampiri Aciel dan memberikan usapan lembut di kepala pria itu. “Jika kau terlalu ikut campur dengan mengerahkan orang-orang yang kau kenal, Sian pasti akan tersinggung.”
“Memang.” balas Aciel malas-malasan. Merasa mendapatkan kesempatan untuk bermanja-manja di pinggang Eden, Aciel langsung memanfaatkan hal itu untuk memeluk pinggang Eden sebanyak yang ia mau. Sekarang perhatian Eden jelas terbagi-bagi dan tidak bisa fokus padanya. Kesempatan untuk menempeli Eden seperti ini adalah kesempatan langka yang tidak bisa ia dapatkan jika kelima anak itu bangun untuk meramaikan dunianya yang sudah terlalu padat oleh masalah.
“Kenapa Olivia tidak pernah mengirimkan pesan pada kita untuk mengabarkan keadaannya?”
“Menurutmu kenapa?” tanya Aciel balik bertanya. Ia ingin membuat Eden menebak-nebak sendiri dengan jalan pikirannya. Lagipula apa yang bisa membuat seorang wanita bersuami dan beranak betah diculik oleh penculiknya tanpa pernah berpikir untuk mencari bala bantuan?
“Yang kutakutkan, pria itu menyakiti Olivia hingga membuat Olivia tidak memiliki kesempatan untuk mengirimkan pesan-pesan pada kita.”
“Aku tidak berpikir seperti itu.” Suara Aciel terdengar seperti gumaman untuk Eden saat Aciel mengucapkannya sambil membenamkan bibirnya pada permukaan baju tidurnya.
“Kau bilang apa, Ace?” ulang Eden lagi.
“Sini, duduklah!” Aciel justru menarik Eden duduk di atas pangkuannya dan memerangkap istrinya yang cantik itu menggunakan tangan kokohnya. “Pada waktunya nanti, kurasa Olivia akan pulang dengan sendirinya.” bisik Aciel santai. Eden mencoba mengamati wajah Aciel sungguh-sungguh, dan pria itu sama sekali tidak memiliki kekhawatiran untuk Olivia.
“Kau terlihat sangat yakin.”
“Tidak ada yang lebih baik dari sebuah keyakinan. Keyakinan membuatmu tenang. Keyakinan akan melindungi dari rasa takut.”
“Walaupun aku malas untuk mengakuinya, tapi kau benar. Aku merasa tak berdaya saat tak memiliki keyakinan di hatiku. Menghilangnya Olivia menimbulkan banyak spekulasi yang tak pasti di hatiku. Hal-hal buruk sering melayang di benakku dan membuatku tidak tenang.”
__ADS_1
“Kalau begitu kau harus yakin jika Olivia baik-baik saja.” ucap Aciel mencoba menenangkan. Ditariknya kepala Eden dan dipaksanya wanita itu untuk menyandar ke dadanya. “Kau memiliki lima anak yang memerlukan perlindunganmu. Jika kau sakit karena terlalu banyak memikirkan hal-hal buruk, siapa yang akan melindungimu? Urusan Olivia, serahkan saja pada kami. Nanti jika waktunya tiba, ia pasti akan kembali dengan sendirinya.” bisik Aciel lembut penuh kesungguhan. Entah mengapa Eden merasa jika kata-kata Aciel itu adalah sebuah kebenaran. Saat ini Olivia pasti sedang menjalani kehidupan yang lebih dari baik di luar sana, dan ia sedang menunggu saat yang tepat untuk pulang ke rumah.