Black Swan

Black Swan
(One Hundred Fourteen)


__ADS_3

            Malam hari yang dingin, angin berhembus kencang menerbangkan dedaunan kering hingga berserakan di atas aspal. Gemuruh petir yang saling bersahut-sahutan menggema di langit, menandakan jika sebentar lagi titik-titik hujan akan turun di Kota Vegas. Laila, sang wanita yang saat ini sedang berdiri di pinggir trotoar terlihat cemas sambil mengamati jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangannya. Sore ini saat ia akan pulang, tiba-tiba mobil kesayangannya mogok karena ia lupa mengganti oli di bengkel langganannya. Dan karena itu ia harus


menunggu petugas bengkel hingga pada akhirnya ia menjadi kemalaman untuk pulang ke apartemennya. Padahal tadi Stella sempat menawarkan tumpangan untuknya. Tapi ia merasa tidak enak pada Stella karena rumah Stella dan apartemennya tidak searah. Apalagi Stella memiliki bayi di rumah yang baru berusia tiga bulan, jika Stella harus mengantarnya terlebidahulu, ia khawatir anak Stella akan terlalu lama menunggu Stella pulang. Akhirnya ia berasalan pada Stella jika ia akan menggunakan taksi untuk pulang. Tapi hingga langit berubah menjadi gelap dan suara petir bersahut-sahutan di sekitarnya, tak ada satupun taksi yang lewat dan bersedia untuk memberikannya tumpangan hingga ke apartemennya. Laila kemudian kembali memikirkan alternatif lain untuk pulang ke rumah. Satu-satunya cara selain menggunakan taksi adalah dengan menggunakan bus, jadi mau tidak mau sekarang ia harus segera menyebrang dan menemukan halte bus terdekat dari tempatnya berdiri.


Ting


            Lampu lalu lintas tiba-tiba berubah menjadi hijau. Seluruh pejalan kaki yang semula berdiri di sebelahnya langsung berjalan tergesa-gesa menyebrangi jalan raya yang padat. Titik-titik hujan yang semula belum turun, kini mulai menetes sedikit demi sedikit ke bumi dan menyebabkan sedikit kepanikan dari para pejalan kaki yang tidak membawa payung.


            “Ahh, aku lupa membawa payung.” gerutu Laila kesal. Wanita itu cepat-cepat berjalan di sepanjang emperan toko agar bajunya tidak basah oleh rintik-rintik hujan yang semakin deras.


            Laila berdiri di pinggir sebuah toko tas sambil menatap kesal pada hujan lebat yang saat ini sedang terjadi di depannya. Andai saja ia tidak lupa untuk mengganti oli mobilnya, pasti ia tidak akan terjebak di emperan toko, dan ditengah hujan deras seperti ini. Tapi sepertinya penyesalan itu tidak akan berguna dan tidak akan membawa apapun untuknya. Dengan pasrah Laila mulai mendudukan dirinya di salah satu kursi yang kosong sambil menatap lalu lalang kendaraan bermotor dan juga para pejalan kaki yang sedang berjalan di bawah payung besar bersama teman-temannya. Sekilas Laila tampak tertarik dengan sepasang kekasih yang sedang bertengkar tak jauh dari


tempatnya duduk dengan sang wanita yang sedang menatap kesal pada sang pria yang juga tampak sama kesalnya dengan sang wanita. Samar-samar Laila mendengar suara sang wanita yang sedang menyalahkan kekasihnya lantaran mereka tidak membawa payung, sedangkan mobil sang kekasih berada di seberang jalan yang jaraknya cukup jauh. Laila tersenyum kecil melihat pertengkaran kecil itu yang terlihat cukup konyol untuknya.


            Dulu ia juga pernah mengalaminya..... Pertengkaran konyol yang pernah terjadi karena Nathan terlambat datang berjam-jam lamanya saat mereka telah berjanji untuk pergi berkencan.


            “Laila.... Laila Stanford... Hey, apa kau mendengarku? Laila!”


            Laila menatap linglung pada seseorang yang sedang berdiri di depannya dengan pakaian basah. Laila kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali untuk memanggil kesadarannya kembali yang sudah cukup lama menghilang. Setelah itu ia kembali beralih pada seseorang yang kini sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.


            “Apa kau baik-baik saja?”


            “Sejak kapan kau berdiri di sana? Oh, kau basah.” pekik Laila tertahan sambil menarik tangan pria itu agar berteduh di sebelahnya. Nathan mendudukan dirinya sedikit jauh dari tempat Laila duduk agar bajunya yang basah tidak ikut membasahi baju Laila.


            “Aku datang sekitar lima menit yang lalu. Kebetulan aku lewat dan melihatmu sedang melamun sendirian di sini. Kemana mobilmu? Kenapa kau berada di sini?”


            “Mobilku rusak, aku lupa mengganti olinya.”


            Nathan terkekeh dengan jawaban Laila sambil menerawang jauh pada jalanan basah di depannya.  “Ternyata sikap pelupamu itu tidak berubah. Dulu aku yang selalu mengingatkanmu untuk mengganti oli di bengkel setiap tiga bulan sekali.”


            Laila tampak cemberut sambil menatap sebal pada Nathan. Dulu Nathan adalah alarm berjalan untuknya. Setiap tiga bulan sekali Nathan akan mengingatkannya untuk pergi ke bengkel dan mengganti oli mobilnya. Lalu Nathan juga yang akan mengingatkannya untuk makan siang jika ia terlalu sibuk dengan pasien-pasiennya. Tapi itu dulu, sekarang ia sudah berubah untuk menjadi lebih mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Meskipun kebiasaan lupanya itu memang sulit untuk dihilangkan.


            “Kurasa sekarang aku sudah lebih baik.” ucap Laila sedikit keras. Tiba-tiba keheningan melanda mereka ketika Nathan ternyata sama sekali tak menanggapi ucapannya. Laila yang merasa gerah dengan suasana aneh itu akhirnya memberanikan diri untuk menoleh ke arah Nathan yang berada di sebelahnya.


            “Maaf, mungkin aku terlalu keras.” ucap Laila menyesal. Nathan tersenyum manis ke arah Laila dan menggeleng pelan.


            “Tidak, kau memang lebih baik sekarang. Aku hanya.... aku hanya tidak tahu apa yang harus kukatakan sekarang.”


            “Oh, jadi kau baru saja pulang dari rumah sakit?” tanya Laila membuka percakapan.


            “Tidak, aku baru saja menyelesaikan meeting dengan investor kami dari China. Kau sendiri, kenapa kau baru pulang?”


            “Investor? Kau memiliki perusahaan?” tanya Laila dengan dahi berkerut. Setahunya selama ini Nathan hanya menggeluti pekerjaannya sebagai dokter bedah yang sukses.


            “Yahh... hanya bisnis kafe, bukan sesuatu yang istimewa. Terkadang bekerja sebagai dokter membosankan, aku membutuhkan sesuatu yang sedikit menghibur.”


            “Sejak kapan?” Tatapan Laila terlihat tidak fokus kearah Nathan. Ada kegetiran yang terlihat jelas di manik abu-abu milik Laila, namun Nathan enggan menanyakan alasan dibalik itu semua pada Laila. Ia takut hal itu akan membuat Laila terganggu dan semakin menjauh darinya.


            “Setelah aku menyelesaikan studiku di Belanda.”


            “Itu berarti setelah kita bercerai.” ucap Laila datar.


            “Kau sendiri, bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Nathan mengalihkan pembicaraan mereka, berharap Laila akan kembali baik-baik saja setelah mereka tidak lagi membahas mengenai kehidupannya.


            “Hari ini aku memiliki banyak pasien dan ada beberapa hal yang harus kukerjakan. 


            Keheningan kembali melanda mereka setelah Laila menyelesaikan kalimatnya. Entah mengapa kali ini Nathan terlihat lebih diam dibandingkan hari-hari sebelumnya atau siang tadi saat pria itu datang untuk mengantarkan makan siang.


            “Emm, apa kau ingin pulang bersamaku? Mobilku terparkir di sana, jadi kau tidak perlu berjalan terlalu jauh.”


            Laila mengikuti arah telunjuk Nathan yang sedang menunjuk pada sebuah mobil SUV putih yang tampak terpakir sempurna di depannya. Wanita itu kemudian berpikir jika sekarang Nathan telah benar-benar berubah. Dulu pria itu tidak pernah memiliki mobil semewah itu karena ia hanya mampu membeli mobil bekas milik salah satu temannya dengan harga murah. Tapi kini pria itu sudah terlihat jauh lebih mapan dan sukses. Ternyata perceraian mereka membawa perubahan yang begitu besar pada diri seorang Nathan.


            “Jika kau tidak keberatan.”


            “Tentu saja, ayo aku akan mengantarkanmu pulang dengan aman.”


            Laila mengikuti langkah lebar Nathan sambil menutup kepalanya dengan tas yang ia bawa. Nathan kemudian berbalik sebentar sambil menepuk jidatnya karena ia lupa membawa payung dan harus membuat Laila sedikit basah karena air hujan.


            “Tidak apa-apa. Hanya basah sedikit.” ucap Laila menenangkan. Nathan cepat-cepat berlari ke arah mobilnya dan langsung membukakan kursi penumpang untuk Laila, sedangkan ia sendiri sudah basah kuyup sejak tadi.


            “Nathan kau basah kuyup.” cap Laila canggung di depan Nathan. Nathan mengendikan bahunya ringan dan tampak tak peduli dengan kemejanya yang memang sudah basah kuyup sejak tadi.

__ADS_1


            “Tidak masalah, aku ini adalah seorang pria. Tubuhku sudah pasti jauh lebih kuat daripada tubuhmu.” ucap Nathan sombong. Laila mencibir pelan pada sikap Nathan yang sepertinya telah kembali seperti semula. Padahal sebelumnya pria itu tampak lebih kalem.


            “Ck, dasar! Cepatlah masuk sebelum pakaianmu semakin basah.”


            “Siap nyonya.”


            Nathan berpura-pura melakukan hormat pada Laila sebelum menutup pintu mobilnya keras dan berlari memutar menuju kursi kemudi.


            “Laila, aku pasti akan mendapatkanmu kembali.” gumam Nathan senang sebelum ia membuka pintu kemudi mobilnya dan bersiap untuk mengantarkan Laila ke apartemennya.


-00-


            “Ini, cepat ganti bajumu sekarang.”


            Laila melemparkan sebuah kemeja berwarna biru kotak-kotak ke arah Nathan. Dengan sigap Nathan langsung menangkapnya sambil tersenyum-senyum aneh pada Laila.


            “Apa?”


            “Kau masih menyimpannya?” tanya Nathan takjub dengan kemeja biru yang berada di tangannya. Laila memutar bola matanya malas dan segera masuk ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Nathan.


            “Saat itu kau pergi begitu saja tanpa mengambil barang-barangmu. Tapi sebenarnya aku telah memberikan sebagian barang-barangmu pada petugas pindahan rumah. Tapi karena beberapa bajumu adalah pemberian dariku, dan aku membelinya dengan uangku, maka aku memutuskan untuk membawanya karena baju-baju mahal itu terlalu sayang untuk diberikan pada petugas pindahan rumah.” jawab Laila sakarstik. Nathan berjalan masuk ke dalam dapur sambil menciumi bajunya berkali-kali. Entah apa yang dipikirkan pria aneh itu sekarang, yang jelas ia terlihat semakin aneh dengan tingkahnya yang menjemukan untuk Laila.


            “Kenapa kau masih di sini, cepat ganti bajumu.”


            “Oh Lai, terimakasih.. Kau masih menyelamatkan salah satu kemeja favoritku, dan terimakasih juga karena dulu kau memberikannya disaat ulangtahunku yang ke dua puluh sembilan.”


            “Huh, itu tidak masalah. Ya ampun, kau mengotori lantai apartemenku dengan pakaianmu yang basah. Nathan, sebaiknya kau cepat mengganti pakaianmu sekarang!” ucap Laila sedikit kesal sambil mengelap lantai apartemennya yang kini mulai digenangi air karena ulah Nathan. Nathan meringis kecil pada Laila dan hendak berjalan menuju kamar mandi, namun lagi-lagi pria itu kembali pada Laila sambil menanyakan dimana celananya.


            “Kau tidak memberiku celana?”


            “Ck, aku akan mengambilkannya setelah ini. Lebih baik kau segera mengganti pakaianmu dengan pakaian yang kering agar kau tidak kedinginan dan sakit.”


            “Kau akan masuk ke dalam kamar mandi?”


            “Please, jangan memulainya lagi.” geram Laila kesal. Namun sepertinya Nathan ingin sedikit bermain-main dengan kemarahan Laila yang membara. Pria itu dengan wajah bodoh mulai mempermainkan Laila lagi dengan kata-katanya yang menyebalkan.


            “Tapi kupikir kau bisa masuk, bukannya kau sudah pernah melihatnya, dan...”


            “BERISIK! CEPAT MASUK DAN JANGAN BANYAK BICARA LAGI!” teriak Laila menggelegar sambil mendorong tubuh Nathan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu, Nathan sedang tertawa terbahak-bahak di dalam kamar mandi, menertawakan reaksi Laila yang menurutnya lucu. 


            Laila terus menggerutu di dalam kamarnya sambil mencari-cari celana panjang Nathan yang dulu pernah ia bawa dari rumah mereka yang lama. Sebagai seorang wanita, saat itu ia tetap memikirkan nilai ekonomis barang-barang milik Nathan yang ia tinggalkan, sehingga ia memutuskan untuk membawanya untuk disimpan. Lagipula saat itu ia berpikir akan segera bertemu dengan Nathan, sehingga ia bisa memberikan semua barang-barang


itu pada mantan suaminya. Tapi ternyata sang mantan tak kunjung muncul juga hinga berbulan-bulan lamanya, membuatnya kemudian lupa akan baju-baju milik Nathan yang telah ia selamatkan dari rumah mereka yang dulu.


            “Lai, mana celanaku?”


            Laila mendengar suara teriakan Nathan yang cukup nyaring dari arah kamar mandi. Dengan malas ia mulai membereskan lemarinya dan segera menarik salah satu celananya yang sekiranya cocok untuk Nathan.


Tok


tok tok


            Laila mengetuk tiga kali pintu kamar mandi dan menunggu Nathan membukakan pintu untuknya.


            “Ini celanamu, lain kali tidak perlu berteriak karena aku sudah mendengarnya.” peringat Laila galak. Nathan hanya tersenyum tanpa dosa menanggapi peringatan dari Laila sambil membawa masuk celana panjangnya ke dalam kamar mandi.


            “Sekali lagi terimakasih karena kau sudah membawanya ikut serta bersamamu.” teriak Nathan dari dalam kamar mandi seperti orang bar-bar. Laila menatap pintu kamar mandi yang ditempati Nathan sekilas sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


-00-


            Laila terlihat sibuk menata beberapa piring di atas meja. Di luar hujan masih turun dengan deras dan terlihat semakin menakutkan dengan suara petir yang bergemuruh serta hembusan angin yang begitu kencang menerbangkan daun-daun dan juga ranting-ranting ke udara. Sementara itu, Nathan sedang duduk manis di atas kursi dapur sambil membuka beberapa email yang masuk ke dalam ponselnya. Malam ini Laila sengaja memintanya untuk tinggal sebentar dan makan malam karena ia merasa berhutang budi pada pria itu. Andai saja Nathan tidak datang, ia mungkin akan tetap terjebak di emperan toko itu hingga larut malam seperti ini.


            “Makanlah, dan simpan ponselmu hingga kau selesai makan.” ucap Laila galak. Nathan melirik sekilas wajah Laila sambil memasukan ponselnya ke dalam saku celananya. Mata sendunya yang beberapa saat lalu sempat mengantuk, kini langsung terbuka sempurna ketika ia melihat beberapa hidangan yang disajikan Laila di depannya.


            “Kau memasak semua ini? Hmm, kelihatannya enak.” ucap Nathan dengan wajah yang sudah tidak sabar untuk melahap seluruh makanan itu. Laila mengangsurkan sebuah sumpit dan juga sendok untuk memakan sup tofu yang dibuatnya. Dan setelah semua hidangan telah ia tata di atas meja, Laila mulai mengambil tempat di depan Nathan sambil bersiap untuk memakan hasil masakannya.


            “Apa aku boleh memakannya sekarang?”


            “Tentu saja, memangnya aku pernah melarangmu untuk makan?” tanya Laila sedikit ketus. Merasa mendapatkan ijin, Nathan langsung mencicipi sup tofu buatan Laila dengan lahap. Dan ketika kuah sup itu telah berada di dalam mulut Nathan, Laila tampak menunggu reaksinya dengan perasaan berdebar-debar. Meskipun ia yakin jika masakan buatannya akan enak, tapi entah mengapa ketika melihat Nathan akan memakan masakan buatannya, ia merasa gugup.


            “Hmm, ini enak. Sungguh ini enak. Aku merasa seperti kembali ke masa lalu.” Nathan berucap ringan. Sedangkan Laila memilih untuk berkonsentrasi pada makanannya dan mengabaikan Nathan yang sedang memakan hasil masakannya dengan lahap. Ia yakin saat ini Nathan sedang memancingnya untuk kembali mengingat masa lalu mereka yang telah lama ia lupakan. Keheningan tiba-tiba menyelimuti mereka dan suasana diantara mereka hanya diisi dengan bunyi dentingan sendok dan sumpit. Kali ini Nathan juga memilih untuk diam karena ia melihat Laila sedang tidak ingin membahas masa lalu mereka yang memang sedikit berkonflik. Namun sejujurnya ia sangat ingin membahas sedikit masa lalu mereka karena ia memiliki beberapa hal yang harus ia luruskan dan harus ia ketahui. Tapi, apakah Laila akan siap untuk membahasnya?

__ADS_1


            “Laila.... Eeee...”


            Laila mendongakan wajahnya sambil menatap Nathan penuh tanda tanya. Sedangkan lelaki yang sejak tadi menjadi objek pandangan Laila hanya mampu tersenyum aneh dengan kalimatnya yang menggantung di udara.


            “Ada apa? Jika kau memang tidak memiliki suatu topik yang perlu dibahas, maka kau tidak perlu mengeluarkan suara.”


            Nathan meringis kecil dengan kebodohannya dan kembali melanjutkan kegiatan makannya yang tertunda. Ia pikir menaklukan Laila sekarang benar-benar sulit. Padahal ia dulu merasa mudah saat akan meminta Laila untuk menjadi kekasihnya dan juga istrinya.


            “Laila... boleh aku menanyakan sesuatu padamu?”


            Laila menatap Nathan dalam diam dan setelahnya ia mengangguk, mengizinkan Nathan untuk menanyakan apapun padanya. Nathan yang melihat Laila telah memberikan persetujuan, langsung bersorak riang dalam


hati karena akhirnya ia dapat menanyakan satu pertanyaan yang sejak dulu selalu mengganjal di benaknya.


            “Kau yakin?”


            Nathan berusaha meyakinkan Laila lagi sebelum wanita itu akan mendengar pertanyaan darinya. Meskipun pertanyaan yang akan ia lontarkan tidak akan semengerikan soal matematika atau fisika, tapi ia tidak yakin jika Laila akan beranggapan demikian, karena pertanyaan ini berhubungan dengan..... sesuatu yang berharga dalam hidup mereka dulu.


            “Apa? Apa yang ingin kau tanyakan dariku?”


            “Begini, sebenarnya ini mengenai masa lalu kita yang.... kuakui tidak menyenangkan. Tapi sejak dulu aku sangat ingin menanyakan hal ini padamu, berbulan-bulan aku hidup jauh darimu dan aku selalu terbayang-bayang tentang dia. Jadi sebenarnya berapa bulan usia kandunganmu saat kau keguguran?”


            Laila tiba-tiba merasa menyesal dengan keputusannya untuk menjawab pertanyaan dari pria menyebalkan yang ada di depannya itu. Tapi sayangnya ia telah berjanji dan tidak mungkin akan mengingkarinya. Jadi.... sekarang ia benar-benar tidak memiliki pilihan lain selain menjawabnya.


            “Empat bulan.” jawab Laila singkat tanpa memandang wajah Nathan. Nathan yang melihat Laila yang tampak terganggu dengan pertanyaannya, langsung menghentikan kegiatan makannya sambil mencoba menenagkan Laila dengan menyentuh tangan wanita itu. Namun dengan kasar Laila langsung menepisnya dan menyembunyikan tangannya yang bebas di bawah meja.


            “Maaf, aku tidak bermaksud membuka luka lama. Hanya saja aku terus memikirkannya selama ini dan aku merasa menjadi seorang calon ayah yang paling buruk. Betapa ia pasti sangat membenciku karena saat itu aku menelantarkan ibunya dan juga dirinya. Lai, aku tahu jika seribu maafpun tidak akan pernah cukup untuk menebus semua kesalahanku di masa lalu, tapi tolong ijinkan aku untuk memperbaiki semuanya. Tolong berikan aku kesempatan untuk menunjukan padamu jika aku benar-benar menyesal dengan semua hal yang telah kulakukan di masa lalu. Aku masih mencintaimu, aku tidak bisa mencari wanita lain di luar sana untuk menggantikan posisimu, karena selamanya kau adalah istriku dan ibu dari anak-anakku.”


Takkk!


            Laila membanting sendoknya ke atas meja dan menatap Nathan dengan tajam. Sebulir air mata tampak meluruh turun dari mata beningnya yang rapuh. Terlihat jelas bahwa selama ini Laila telah menahan kesakitan yang cukup banyak di dalam hatinya. Meskipun ia sudah berusaha menutupinya dengan sikapnya yang acuh dan terlihat galak, tapi sebenarnya ia rapuh. Ia menyembunyikan banyak kesedihan di dalam dirinya yang tidak bisa ia bagi dengan orang lain.


            “Selamanya? Kau pikir aku akan semudah itu kembali kepadamu setelah apa yang kau lakukan padaku dulu? Kau membuangku, Nath, dulu kau mengabaikanku dan lebih mementingkan karirmu agar kau dapat membuktikan pada orangtua angkatku jika kau adalah pria mapan yang sukses. Kenapa? Kau terkejut? Kau terkejut karena aku mengetahui semua hal yang selama ini kau sembunyikan dariku? Sejak awal orangtua angkatku sudah mengatakannya padaku, mereka hanya ingin mengujimu sebelum kau diberikan separuh aset milik keluargaku untuk kau kelola, tapi kau justru bersikap tidak sesuai dengan harapan kami. Asal kau tahu, orangtua angkatku tidak pernah mempermasalahkan statusmu yang berasal dari keluarga sederhana atau pekerjaanmu yang hanya sebagai dokter umum biasa saat itu. Yang mereka cari adalah pria baik yang perhatian dan juga bertanggungjawab pada anak agkatnya, tapi hanya karena ejekan dari mereka sedikit saja kau langsung berubah menjadi pria asing yang sama sekali tak kukenal. Aku stress dan keguguran karena terus memikirkanmu sepanjang hari. Aku memikirkanmu yang terlalu haus akan materi dan kehormatan. Memangnya apa gunanya kehormatan jika kau tidak bahagia? Apa kau bahagia dengan semua ini? Jawab aku Nathan! Jawab!”


            Laila terengah-engah di sela-sela tangisannya yang memilukan. Sementara itu Nathan sedang berusaha mengontrol emosinya setelah ia mendengar semua hal yang selama ini tak diketahuinya. Andai saja ia dulu tidak terlalu termakan oleh omongan orangtua angkat Laila, mungkin ia akan hidup bahagia bersama Laila dan calon anaknya. Tapi menurutnya semua ini tetap buah dari kesalahan ayah dan ibu angkat Laila karena mereka memiliki


pikiran yang begitu kolot hanya untuk membuktikan jika ia pria yang baik dan juga bertanggungjawab.


            “Aku memang tidak bahagia setelah aku mendapatkan semua materi dan kehormatan ini, tapi kau tidak bisa menyalahkanku begitu saja atas semua hal yang terjadi di masa lalu, sedikit banyak ibu dan ayah angkatmu juga turut andil dalam kehancuran rumah tangga kita. Seandainya mereka tidak memancing kesabaranku dengan kata-kata menyakitkan mereka, aku tidak akan mungkin bersikap seperti itu. Coba kau bayangkan bagaimana sakitnya hatiku saat mereka dengan seenaknya menginjak-injak harga diriku. Kau pikir aku adalah pria lemah yang akan dengan pasrah membiarkan orang lain menginjak-injak harga diriku? Jika aku memiliki kesempatan untuk menyelamatkan harga diriku, aku pasti akan maju untuk menyelamatkannya.”


            “Kau memang pria egois. Disaat semua bukti kesalahanmu telah terpampang di depan mata, kau masih ingin mengelak dan justru menyalahkan orang lain? Kau picik, Nath, kau pria jahat dan pria paling egois yang pernah kukenal.” bentak Laila penuh emosi sambil bangkit berdiri meninggalkan Nathan dengan emosinya yang meluap-luap.


Brakk


            Suara pintu yang dibanting keras, terdengar tak lama setelah Laila memutuskan untuk keluar dari ruangan makan. Sedangkan Nathan yang masih tersisa di sana tampak begitu kacau dan ingin menumpahkan seluruh kemarahannya dengan memukul meja yang ada di depannya. Tapi untung saja ia masih memiliki akal sehat yang bersarang di kepalanya, sehingga ia langsung memutuskan untuk pergi setelah ia berteriak dengan nyaring di depan kamar wanita itu.


            “Sampai kapanpun aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu kembali. Meskipun aku harus bermain kotor, aku tidak peduli!”


Drrt drrt


            “Apa lagi ini? Ya Tuhan!” dengus Eden kesal saat ponselnya kembali bergetar disaat ia sedang mendengarkan cerita seru dari Laila.


            “Aku akan mengangkat panggilan dari Aciel sebentar. Jangan coba-coba untuk melanjutkan ceritamu yang menarik itu.” peringat Eden sebelum ia mengangkat telponnya dan mulai berbicara pada Aciel di seberang sana.


            “Ada apa, Ace? Kau mengganggu acara bersenang-senangku.” gerutu Eden sebal. Diraihnya segelas lemonade miliknya yang masih tersisa separuh untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Sambil meminum lemonadenya, Eden meringis kecil kearah Laila yang sedang meminum minumannya dengan rakus.


            “Ia pasti sangat kehausan setelah menceritakan dongeng kisah cintanya yang ajaibnya bersama Nathan.” ucap Olivia terkikik. Tanpa sadar Eden juga ikut tertawa hingga ia mengabaikan Aciel yang mulai berteriak-teriak di seberang sana.


            “Eden!”


            “Apa? Aku masih di sini, Ace. Jangan berteriak.” balas Eden gusar.


            “Kau tidak mendengar kata-kataku sejak tadi. Pulang sekarang!” perintah Aciel telak dan keras sampai-sampai Eden harus menjauhkan ponselnya dari telinganya karena suara menggelegar Aciel. Olivia yang ikut mendengar suara keras Aciel hanya mampu meringis kecil menyaksikan wajah kesal Eden.


            “Ya Tuhan, aku masih ingin mengobrol bersama Laila.” keluh Eden sebal. “Memangnya jam berapa sekarang? Kenapa kau menyuruhku pulang. Ini masih....” Eden melirik jam tangannya sekilas. “Astaga! Pukul empat!” pekik Eden tak percaya. Ia lalu saling berpandangan dengan Olivia dan juga Laila yang terlihat begitu santai di depannya.


            “Aku tidak mau tahu, kau harus pulang sekarang karena Louise mulai rewel. Aku menunggumu di rumah lima belas menit lagi.” akhir Aciel sebelum menutup sambungan teleponnya sepihak.


            “Aku harus pulang.” ucap Eden berat pada kedua temannya. Olivia yang sejak awal datang bersama Eden juga tak memiliki pilihan lain selain ikut pulang bersama Eden. Meskipun Sian tidak menyuruhnya pulang seperti Aciel, tapi ia sadar jika sekarang memang sudah saatnya untuk pulang.


            “Padahal aku belum puas dengan ceritamu.” keluh Eden berat sambil memasukan barang-barangnya ke dalam tas. Laila yang juga sedang bersiap untuk pulang hanya tersenyum kecil di depan Eden.

__ADS_1


            “Akan kulanjutkan lagi ceritaku saat kita bertemu. Ceritaku masih panjang, Ed.” Laila memberikan tepukan ringan di bahu Eden beberapa kali. “Aku pasti akan menceritakan kisahku lagi pada kalian saat kita memiliki waktu luang untuk mengobrol seperti ini.”


            “Baiklah, terimakasih untuk hari ini. Ceritamu sangat menginspirasi.” goda Eden dengan kerlingan jahil. Sedangkan Laila tampak tak terpengaruh sama sekali dengan godaan Eden. Ia dengan santai justru mengibaskan tangannya di depan wajah Eden. “Kau tunggu saja ceritaku selanjutnya. Kau pasti akan terkejut saat mendengarnya.” ucap Laila misterius sebelum ia masuk ke dalam mobilnya sendiri.


__ADS_2