
Lucas memasukan Laila secara paksa ke dalam mobilnya dengan Laila yang terus menggerutu kesal pada pria itu. Sedangkan Lucas tampak tak peduli dan langsung menginjak pedal gasnya kuat-kuat meninggalkan pelataran gereja yang luas.
“Lucas, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan? Kau merusak acara pernikahanku dengan Mack. Jika sampai mom marah padaku karena aku mempermalukannya di depan umum, kau yang harus bertanggungjawab!”
marah Laila sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Lucas melirik sekilas pada Laila yang tengah menggerutu kesal di sebelahnya. Sejujurnya ia juga merasa malu dengan tindakannya yang brutal hari ini. Tapi mau bagaimana lagi, seseorang saat ini sedang merenggang nyawa di rumah sakit dan membutuhkan pertolongan dari Laila segera.
“Kalau begitu aku minta maaf, tapi kau seharusnya menyalahkan orang itu, bukan aku. Jika bukan karena pasienmu yang menyusahkan itu, aku tidak akan melakukan hal ini.” ucap Lucas membela diri. Laila memutar bola matanya malas dengan alasan Lucas yang sangat menyebalkan itu. Kalau sudah begini, ia sendiri juga tidak akan berdaya dan menyalahkan siapapun.
“Lalu siapa yang saat ini sedang merenggang nyawa di rumah sakit? Aku belum mengganti gaunku dengan jas praktek, orang-orang pasti akan merasa aneh saat melihat penampilanku yang seperti ini. Mereka akan mengira jika aku baru saja kabur dari pesta pernikahanku.”
“Bukankah kau memang melakukannya.” celetuk Lucas pelan, namun berhasil didengar oleh Laila dan membuat wanita itu langsung mengamuk padanya.
“Yakk, ini semua salahmu! Kau memang sahabat yang menyusahkan. Dan jangan lupakan pria bodoh itu yang selama ini telah menggagalkan lima kali pesta pernikahanku. Untung saja hari ini dia tidak....” Laila tiba-tiba menghentikan kalimatnya sambil menatap Lucas horor. Sepertinya ia baru saja teringat pada seseorang.
“Lucas, jangan katakan jika pasien yang sedang merenggang nyawa di rumah sakit adalah pria itu.” desis Laila dengan wajah menyeramkan. Lucas yang berada di sebelahnya langsung meneguk ludah susah payah karena rencanannya hari ini dengan pria menyebalkan itu telah diketahui oleh Laila.
“Mmm, sebenarnya mantan suamimu yang telah merencanakannya.”
“Kalian berdua!! Kau dan pria bodoh itu akan merasakan kemarahanku. MATI KAU LUCAS BRAYLE!” teriak Laila brutal di dalam mobil Lucas hingga membuat pria itu tidak bisa berkonsentrasi menyetir dan membuat mobil yang dikemudikannya beberapa kali keluar dari jalur yang telah ditentukan karena Laila yang memukul-mukul lengannya dengan keras.
“Aww, itu sakit! Lai! Astaga mobilku.”
Tiinnn
tinnn
“Ini semua salahmu Luc, kau menyebalkan... kau jahat... kau mempermalukanku di depan calon suamiku dan calon mertuaku. Sialan kau Luc!”
Lucas akhirnya membiarkan Laila menumpahkan seluruh kemarahannya padanya. Percuma saja ia menghentikan aksi brutal Laila dan menyuruhnya untuk diam jika wanita itu saat ini sedang merasa kesal dan marah yang begitu meluap-luap padanya. Entah setelah ini apa yang akan terjadi pada sahabat bodohnya itu, ia pasti akan mendapatkan kemarahan yang lebih besar dari Laila.
“Aku bersumpah, kau dan Nathan akan merasakan kemarahanku.” teriak Laila murka sebelum ia keluar dari dalam mobil milik Lucas dan membanting pintu mobil itu keras-keras.
-00-
Laila berjalan memasuki lobi rumah sakit dengan langkah lebar-lebar sambil menaikan tutu gaunnya setinggi lutut. Puluhan pasien dan para perawat yang sedang berjaga di resepsionis tampak memandang Laila aneh dan ada beberapa yang berbisik kecil dengan tingkah Laila yang memang terlihat tidak tahu malu itu. Seorang perawat yang kebetulan lewat di depan Laila langsung menghentikan langkahnya untuk menegur Laila karena sikapnya yang mempermalukan citra rumah sakit tempatnya bekerja.
“Dokter Stanford, apa yang sedang kau lakukan di sini dengan gaun pengantin yang tampak kusut seperti itu?” tanya Belle dengan sorot mata yang terlihat mencemooh. Laila menatap horor pada suster Belle yang jelas-jelas telah mengganggu jalannya itu.
“Bukan urusanmu, lebih baik kau menyingkir dari jalanku karena aku memiliki seorang pasien yang sedang sekarat di ruang UGD.”
__ADS_1
Laila lantas berjalan pergi meninggalkan Belle sendiri dengan raut wajah heran yang tercetak jelas di wajahnya.
“Bukankah tidak ada seorang pun yang sedang sekarat di ruang UGD? Kurasa hanya ada beberapa perawat dan dokter Nathan di sana, sedang berbaring di salah satu blangkar. Ah sudahlah, itu bukan urusanku.” gumam Belle acuh sambil berjalan pergi meninggalkan lobi rumah sakit yang semakin sesak.
Sementara itu, Laila sedang berjalan menuju ruang UGD sambil menyumpah serapahi pria bodoh yang hari ini telah mengacaukan pesta pernikahannya. Dengan sekali dorongan, Laila berhasil membuka pintu ruang UGD itu dan langsung mendapatkan tatapan bingung dari semua orang yang berada di dalam sana.
“Dokter Stanford apa yang kau lakukan di sini?”
“Dimana pasien yang sedang sekarat itu, aku ingin memeriksanya.”
Suster Lucy yang sedang berjaga di dalam ruang UGD langsung menunjuk pada bilik ke dua dari kiri yang berada tak jauh darinya. Dan tanpa berkata-kata apapun, Laila langsung melangkah ke dalam bilik itu dengan perasaan emosi yang meluap-luap.
Srak
Laila menarik kasar tirai putih yang membatasi antara bilik ke dua dan ke tiga. Di dalam sana Laila dapat melihat seorang pria sedang terbaring damai dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya sebatas leher. Dengan geram Laila langsung berjalan menuju pria itu dan menarik selimut putih itu kasar hingga sang pria membuka matanya lebar-lebar karena terkejut.
“Apa maksudmu melakukan ini padaku?” tanya Laila marah. Nathan yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung tersenyum aneh seperti seorang idiot bodoh yang terlihat sangat memuakan untuk Laila.
“Laila! Oh, akhirnya kau datang juga. Lihat, aku baru saja terserempet mobil dan mengalami luka lecet di pergelangan tanganku, menurutmu apa ini akan baik-baik saja?” tanya Nathan polos. Laila menggeram kesal di depan Nathan, dan tanpa aba-aba ia langsung menekan luka itu kuat-kuat hingga Nathan berteriak kesakitan di dalam bilik.
“Laila apa yang kau lakukan? Kau ingin membuatku mati kesakitan?”
Melihat Laila yang tampak begitu marah, akhirnya Nathan memutuskan untuk berdiam diri tanpa berniat untuk menyingkirkan tangan Laila dari pergelangan tangannya yang terluka. Biarlah wanita marah padanya dan menyiksanya dengan siksaan fisik, baginya itu lebih baik daripada wanita itu menyiksanya dengan siksaan batin yang sangat menyakitkan. Dan ngomong-ngomong soal Lucas, rasanya saat ini ia ingin memeluk pria itu dan mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya karena pria itu berhasil menggagalkan pesta pernikahan Laila. Tak bisa ia bayangkan bagaimana nasibnya saat ini jika Laila benar-benar telah menikah dengan pria-pria yang tidak jelas di luar saja, ia pasti akan sangat patah hati dengan kenyataan itu. Sebenarnya hari ini ia akan menyusup ke dalam gereja untuk menggagalkan pesta pernikahan Laila, tapi nahasnya ia justru diserempet oleh sebuah mobil yang kebetulan sedang melintas di depannya. Karena pergelangan tangannya terluka cukup dalam, akhirnya ia memutuskan untuk meminta bantuan pada Lucas untuk menggagalkan rencana pernikahan Laila. Dan sejujurnya ia tidak tahu cara apa yang digunakan oleh Lucas untuk menyeret Laila keluar sebelum acara pemberkatan itu berlangsung, yang terpenting saat ini wanita itu telah berdiri di hadapannya dan masih dengan status yang sama, janda muda yang cantik.
“Sebenarnya apa yang dilakukan Lucas padamu?” tanya Nathan tenang sambil menatap Laila dalam. Merasa ditatap dengan mata sendu yang sangat menyebalkan itu, Laila memilih untuk memalingkan wajahnya ke samping agar ia tidak perlu bertatapan dengan pria menyebalkan yang hari ini telah menghancurkan imagenya lagi di hadapan puluhan tamu undangan dan juga calon mertuanya.
“Kau tanyakan saja padanya. Nath, kumohon berhentilah untuk mengganggu kehidupanku. Apa kau tidak puas selama ini telah merusak lima kali pesta pernikahanku dan di tambah dengan hari ini, maka kau sudah mengacaukannya sebanyak enam kali. Kau pikir aku tidak menanggung malu atas semua kelakuan ajaibmu itu? Lagipula pernikahan kita tidak akan pernah kembali utuh seperti semula. Kau dan aku, kita tidak akan mungkin bersama. Lebih baik kau segera mencari wanita lain dan menikahinya agar kau tidak terus menerus mengganggu kehidupanku. Aku lelah Nath, aku lelah dengan semua perbuatan konyolmu yang sama sekali tidak menunjukan jati dirimu sebagai pria dewasa dan sebagai seorang dokrer muda yang cerdas. Kumohon biarkan aku hidup dengan tenang bersama dengan pria yang benar-benar mencintaiku.”
Nathan menatap sendu pada Laila yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan memohon yang membuatnya merasa kesal dengan dirinya sendiri. Seharusnya dulu ia tidak menyetujui begitu saja permintaan Laila untuk berpisah dengannya jika pada akhirnya ia masih mengharapkan wanita itu menjadi istrinya. Tapi saat itu ia sedang dalam masa-masa sulit yang membuatnya tidak bisa menolak permintaan Laila untuk bercerai. Lagipula saat itu ia sedang dalam keadaan yang sangat terpuruk.
“Maafkan aku Laila, tapi aku sangat mencintaimu.” ucap Nathan dengan wajah terluka. Laila yang mendengar hal itu hanya mampu menghela napas gusar sambil meruntuki kebodohan mantan suaminya di dalam hati. Bisa-bisanya pria itu mengumandangkan kata-kata cinta di hadapannya, sementara dulu pria itu selalu mengacuhkannya dan lebih mengutamankan karir dibandingkan dirinya yang saat itu sedang hamil muda. Salah
satu alasannya saat itu meminta Nathan menceraikannya karena ia sudah tidak tahan dengan sikap pria itu yang terus menerus mengabaikannya dan lebih berambisi untuk mengejar karirnya sebegai dokter bedah di sukses di usia muda. Meskipun pada awalnya Laila masih mentoleransi sikap pria itu yang mengacuhkannya, tapi saat ia pada akhirnya keguguran dan pria itu tidak memunculkan batang hidungnya hingga dua hari kemudian, ia menjadi sangat marah pada Nathan dan merasa ia sudah tidak bisa memaafkan pria itu lagi. Lalu pada akhirnya ia mengajukan surat perceraian pada Nathan yang dengan senang hati langsung disetujui oleh Nathan pada saat itu juga. Betapa sakitnya Laila saat itu ketika mengetahui jika kadar cinta Nathan padanya hanya sebesar itu. Bahkan Nathan tidak mau repot-repot mengklarifikasikannya pada Laila dan langsung menghilang begitu saja selama enam bulan pasca perceraian mereka. Dan selama Nathan menghilang, Laila memutuskan untuk melupakan Nathan dan mulai membuka lembaran baru dengan jati dirinya sendiri sebagai seorang janda muda. Meskipun awalnya ia merasa berat dan terganggu dengan status baru itu, tapi pada akhirnya ia berhasil melewati masa-masa sulit itu dengan lancar tanpa ada halangan suatu apapun. Namun masa-masa tenang itu rupanya tak berjalan lama. Disaat Laila mulai membuka hatinya untuk pria lain yang saat itu mendekatinya, tiba-tiba Nathan kembali hadir di dalam kehidupannya dengan berbagai macam perilaku konyol yang selalu pria itu lakukan padanya. Dan rasanya saat ini Laila ingin mencekik pria menyebalkan itu dan membuang mayatnya ke dalam laut agar pria itu tidak bisa mengganggunya lagi dan merusak rencana pernikahannya dengan seorang pria yang benar-benar mencintainya dengan sepenuh hati.
“Lebih baik kau simpan saja pernyataan cinta itu untuk wanita lain, aku tidak membutuhkannya. Aku pergi, Nath.”
Tanpa menunggu jawaban dari Nathan, Laila langsung berjalan pergi meninggalkan Nathan yang tampak terluka di dalam bilik perawatannya. Namun saat pria itu ingin meratapi nasibnya yang menyedihkan, hati kecilnya langsung mengingatnya akan perlakukannya di masa lalu pada Laila. Sebenarnya ia tahu jika sikap Laila yang sangat kasar seperti itu adalah akibat dari perbuatannya di masa lampau yang telah mengecewakan wanita itu hingga ia harus kehilangan calon anak pertamanya. Tapi andai saja ia memiliki keberanian untuk mengungkapkan semua kebenaran itu, Laila mungkin tidak akan melayangkan surat cerai padanya. Tapi nasi sudah berubah menjadi bubur, semua hal buruk itu telah terjadi dan membuatnya merasa sangat menyesal pada Laila. Dan sekarang ia ingin memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu untuk menebus rasa bersalahnya pada Laila. Setidaknya ia ingin mencoba untuk mengembalikan ikatan pernikahan mereka yang telah terputus. Namun jika pada akhirnya hubungan itu tidak bisa diperbaiki lagi, maka ia akan pasrah dan mencoba untuk menerima semuanya dengan hati ikhlas.
“Laila, kumohon berilah aku kesempatan.”
__ADS_1
-00-
Lucas melihat Laila telah keluar dari pintu rumah sakit dan sedang menyetop sebuah taksi di depan rumah sakit. Pria itu kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam ruang UGD dan melihat bagaimana keadaan sahabat bodohnya yang mungkin saat ini benar-benar sedang merenggang nyawa karena baru saja mendapat amukan dahsyat dari Laila. Tapi belum sempat ia masuk ke dalam ruang UGD, Nathan sudah terlebihdahulu membuka pintu kaca itu dengan wajah kusut dan juga dengan perban di tangannya yang terlihat berantakan.
Apakah pria itu baru saja melakukan tinju dengan mantan istrinya? batin Lucas prihatin.
“Nath.”
Lucas memanggil Nathan pelan dan membuat pria itu langsung mendongakan wajahnya getir pada Lucas. Dengan langkah gontai Nathan menghampiri Lucas dan langsung tersenyum masam pada pria itu.
“Terimakasih Luc, kau telah membantuku hari ini.”
“Ya itu tidak masalah. Tapi ada apa dengan wajahmu? Kau seperti seorang prajurit yang kalah perang. Apa Laila baru saja mengamuk padamu?”
“Hahaha, tentu saja. Kau pikir apa yang akan Laila lakukan padaku setelah aku menghancurkan pesta pernikahannya yang ke enam kalinya.” jawab Nathan dengan tawa hambar yang dipaksakan. Lucas menepuk-nepuk pundak Nathan pelan untuk menenangkan pria itu. Meskipun ia tahu jika Nathan memang salah dalam hal ini, tapi ia sangat kagum dengan kegigihan Nathan untuk mendapatkan Laila kembali. Pria itu rela mempermalukan dirinya sendiri di depan umum demi mencegah pernikahan Laila dengan pria-pria yang menurutnya tidak lebih baik dari Nathan. Tapi tak dapat dipungkiri jika kesalahan yang dilakukan Nathan memang sangat fatal. Pria itu dengan teganya mengacuhkan Laila yang sedang mengandung anaknya dan membuat wanita itu stress hingga keguguran. Dan menurutnya Laila pasti membutuhkan waktu untuk memaafkan perbuatan tak bertanggungjawab Nathan di masa lalu.
“Apakah kau akan patah semangat setelah Laila memarahimu habis-habisan?”
“Menyerah? Tentu saja tidak! Kau pikir aku akan menyerah dengan semudah itu hanya karena Laila memarahiku? Cih, aku bukan pria lemah seperti itu Luc. Kemarahan Laila bukanlah penghalang untuk mendapatkan Laila kembali ke dalam pelukanku. Justru aku akan semakin bekerja keras agar Laila bisa memaafkanku dan kembali ke dalam pelukanku.”
“Hmm, ya baiklah aku percaya padamu. Jadi apa rencanamu selanjutnya untuk mendapatkan Laila kembali?” tanya Lucas penasaran. Namun sepertinya Nathan belum ingin memberitahukan rencana selanjutnya untuk membawa Laila kembali ke dalam pelukannya. Pria itu justru hanya tersenyum misterius pada Lucas sambil menjentikan jarinya ke udara.
Takk
“Aku sudah mendapatkan ide. Sampai jumpa Luc, aku harus segera bertemu dengan Laila.” pamit Nathan dengan wajah berbinar-binar sambil berlari keluar meninggalkan Lucas yang masih mematung di tempat dengan tatapan tak percaya. Ia pikir sahabatnya itu memang luar biasa. Ia seperti tidak memiliki urat sakit di hatinya, sehingga sebanyak apapun Laila menolaknya dan menohoknya dengan berbagai macam kata-kata kasar, rasanya Nathan tidak akan pernah goyah dan mundur dengan tujuan awalnya.
-00-
Laila berjalan gusar memasuki apartemennya sambil menjepit sebuah ponsel di samping telinga kanannya.
“Mack, kumohon pertimbangkan lagi keputusanmu. Aku benar-benar minta maaf atas insiden hari ini, itu semua benar-benar di luar kuasaku, aku tidak tahu jika pasien itu akan merenggang nyawa saat kita akan melakukan sumpah pernikahan.” mohon Laila memelas pada Mack. Pria yang saat ini sedang berbicara dengannya melalui telepon hanya menanggapi ucapan memelas Laila dengan helaan napas berat. Pria itu sepertinya tidak bisa mengubah keputusannya yang telah bulat.
“Maafkan aku Laila, hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi. Mom sangat marah atas insiden tidak mengenakan tadi pagi dan aku tidak bisa membantah keinginan momku. Semoga kau mendapatkan pria lain yang lebih baik dariku.”
Klik
Sambungan terputus begitu saja sebelum Laila mengeluarkan kata-kata pembelaan diri.
“Halo Mack, Mackenzie! Mackenzie Bertinolli, halo! Arghh, sial. Ini semua karena Nathan sialan itu. Arghhh!!!” erang Laila kesal di lobi apartemennya hingga membuat beberapa penghuni apartemen yang melihat tingkah anehnya langsung menoleh penuh tanda tanya pada Laila yang saat ini sedang menghentak-hentakan kakinya kesal menuju lift yang telah terbuka.
__ADS_1