Black Swan

Black Swan
Plan (One Hundred Thirty Seven)


__ADS_3

            Sudah lebih dari satu jam Sian duduk termenung di dalam ruangan Nathan dengan semua mata penuh kemarahan yang mengarah padanya. Nathan dan Aciel, dua orang itu terus menyalahkannya atas kasus penculikan yang menimpa Olivia. Sebagai suami, ia dituduh tidak memiliki tanggungjawab dan rasa belas kasihan pada seorang wanita yang tengah dilanda stess berat akibat masalah yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dan Sian merasa dirinya patut disalahkan oleh dua orang pria itu karena kenyataannya ia telah menelantarkan Olivia selama ini.


            “Untuk pertama kalinya aku merasa kecewa padamu.”


            Itu suara Aciel. Dengan penuh arogansi ia menatap Sian sambil menggenggam sebatang rokok di tangannya. Sedikit pengecualian untuk hari ini, Natha mengizinkan Aciel merokok di ruangannya yang jendelanya langsung dibuka lebar oleh dokter tampan itu.


            “Kau sebelumnya tidak pernah seperti ini. Kupikir kau akan menjadi lebih baik dari aku. Bukankah dulu kau tahu jika aku pernah melakukan hal yang sama pada Eden? Menelantarkannya saat ia sedang mengandung.”


            “Kau pernah?”


            “Ini bukan saatnya bercanda, Nath.” balas Aciel gusar. Jika pria itu masih menjadikan kata-katanya sebagai lelucon, ia benar-benar akan memukul pria itu. Rasanya ia terlalu emosi menghadapi Sian yang berubah menjadi lembek dan begitu lambat bak siput untuk mencari keberadaan istrinya.


            “Kalau begitu seharusnya kau tahu bagaimana rasanya.”


            Bosan disalahkan terus menerus, akhirnya Sian buka suara. Ingin rasanya ia memukul Aciel atas sikap semena-mena pria itu. Bahkan ia telah merasakan karma dari kesalahannya sendiri, tapi itu seperti tidak cukup untuk Aciel hingga ia terus melayangkan tuduhan-tuduhan keji padanya untuk menghukumnya. “Kau pernah ada di


posisiku, Ace. Kau pasti tahu bagaimana rasa marah yang berkobar-kobar di hatimu saat kau dikhianati oleh Eden. Kau mungkin lupa rasanya karena itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Tapi aku akan mengingatkanmu lagi sekarang bahwa kau dulu melakukan kesalahan besar dengan membuat Eden nyaris mati karena pendarahan. Kau....”


            “Tutup mulutmu!” bentak Aciel marah. Ia langsung membuang rokoknya kasar keluar jendela dan menatap Sian tajam dengan mata elangnya. “Kau tidak berhak mengungkit-ungkit masa laluku di sini.”


            “Oh, dan karena kau lalai, Eden menjadi amnesia karen sering menemui Anthony diam-diam. Huh, kau tidak perlu bertingkah sok pahlawan di sini. Ini keluargaku.”


            Di tempatnya berdiri, Aciel mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa terhina dengan seluruh komentar yang dilayangkan Sian padanya. “Sekali lagi kau menggunakan mulut lebarmu untuk mengorek masa laluku, aku tidak akan segan-segan untuk memukulmu.”


            “Apa? Kau pikir aku takut padamu? Kau boleh bersikap sok berkuasa karena kau yang menyelamatkanku dari komplek kumuh itu, tapi kau tidak bisa menginjak-injak harga diriku dengan ikut campur dalam urusan rumah tanggamu.


Bugh


            “Kau sialan! Kau terus berbicara omong kosong seperti wanita.” desis Aciel marah. Nathan yang melihat Sian akan membalas Aciel, segera menahan pria itu dan memohon pada Aciel agar tidak semakin memperkeruh keadaan dengan pertengkaran mereka yang seharusnya tidak perlu.


            “Jangan membuat suasana menjadi lebih buruk dari ini, Ace! Kita harus bersatu untuk menemukan Olivia sebelum sialan gila itu melakukan hal buruk pada Olivia.”

__ADS_1


            “Ck, dia yang memulai. Lebih baik aku pergi dari sini. Aku akan meminta laporan Calson terkait pencarian Olivia hari ini.”


            Aciel meninggalkan ruangan Nathan dengan membanting pintu keras-keras. Namun Nathan sama sekali tidak peduli karena ia cukup memaklumi kemarahan Aciel. Dan sebagai kerabat dekat Olivia, ia juga sama marahnya seperti Aciel. Tapi ia tidak mau menggunakan kekerasan untuk melawan Sian. Percuma saja, pikir Nathan getir. Saat ini Sian hanya sedang bingung dengan dirinya sendiri dan merasa bersalah atas menghilangnya istrinya secara misterius.


            “Kita semuanya menyayangi Olivia.”


            “Aku tahu.”


            “Itulah sebabnya mengapa Aciel sangat marah padamu.”


            “Aku juga tahu. Kalian pasti geram melihatku yang hanya diam seperti seorang pecundang.” ucap Sian getir. Pria itu menatap kosong ke arah Nathan yang sedang menatapnya dengan raut cemas. “Bagaimana jika pria itu melakukan hal buruk pada Olivia?”


            “Maka dari itu kita harus segera menemukannya. Sebelum semuanya menjadi terlambat.”


-00-


            Olivia mengerjap-ngerjapkan matanya pelan sambil mencoba untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Wanita itu tampak mengerang sebentar sebelum ia memutuskan untuk bangkit dari posisi tidurnya.


            Olivia mulai berjalan menuruni ranjang king size itu untuk keluar dari kamar yang ia tempati. Saat ini ia tidak diikat dan hanya diletakan di sebuah kamar besar bernuansa coklat abu-abu yang maskulin. Entah apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pria itu. Kenapa ia membawanya pergi dan sama sekali tidak mengikatnya di dalam kamar seperti kemarin. Lalu apa maksud pria itu dengan memberinya obat tidur tadi. Ia harus segera mencari pria itu untuk menanyakan semua jawaban dari pertanyaannya.


            “Nona.”


            Seorang pelayan laki-laki langsung menunduk hormat pada Olivia ketika Olivia membuka pintu coklat itu perlahan. Olivia yang awalnya sedikit terkejut langsung menormalkan raut wajahnya menjadi raut wajah dingin dan angkuh.


            “Dimana Scout? Aku ingin bicara dengannya.” ucap Olivia datar dan sinis. Pria berwajah ramah itu kemudian mengantarkan Olivia menuju ruang kerja Scout yang berada di lantai satu. Sedikit heran, Olivia mengamati rumah klasik bergaya kuno yang di dinding-dindingnya banyak terpasang foto besar dan juga lukisan. Salah satu foto yang dilihat Olivia terlihat mirip dengan Scout. Seorang pria tua dengan kumis melintang di bawah cuping hidungnya yang mancung. Pria itu memiliki ketampanan khas bangsawan amerika kaya yang terlihat berkelas. Lalu di sisi lain foto itu masih berjejer foto-foto yang lain hingga Olivia menemukan foto Scout di deret yang paling ujung. Sebentar saja Olivia sudah dapat menduga jika rumah yang ia tempati saat ini munkin milik leluhur Scout.


            “Tuan Scout ada di dalam. Apakah nona membutuhkan sesuatu yang lain?”


            “Emm, aku membutuhkan minuman. Apa kau bisa mengantarnya ke dalam?” tanya Olivia pelan. Tiba-tiba ia merasa jahat pada pria itu karena ia telah bersikap sinis padanya. Padahal pelayan laki-laki itu sangan baik dan menghormatinya. Olivia kemudian memilih untuk bersikap lebih wajar pada pelayan itu dengan bersikap lembut. Lagipula sikap kasar itu lebih pantas ditujukan pada Scout daripada pelayan pria yang baik hati itu.


            “Baiklah nona, saya akan mengantarkan minuman untuk anda setelah ini.” ucap pria itu sopan sebelum ia berjalan pergi meninggalkan Olivia.

__ADS_1


            Sepeninggal pelayan pria itu, Olivia mulai mengukuhkan hatinya untuk bertemu Scout. Rasanya ia harus membiacarakan banyak hal pada pria itu, perihal mengapa pria itu membawanya ke rumah besar ini. Dan apa yang akan dilakukan pria itu padanya?


            “Scout.”


            Olivia memanggil nama pria itu sedikit keras ketika ia berhasil membuka pintu coklat itu lebar-lebar. Ketika Olivia masuk, Scout hanya melirik wanita itu sekilas sambil melipat kedua tangannya di atas meja.


            Olivia masuk ke dalam ruangan bernuansa kayu yang dindingnya terbuat dari rak kayu besar berisi buku. Ini lebih mirip seperti perpustakaan daripada kantor, batin Olivia heran. Bola matanya yang besar terus bergulir mengitari ruangan itu untuk melihat apapun yang tersaji di sana. Jelas itu adalah ruang kerja bangsawan kuno yang penuh dengan buku-buku tua. Andai saja ia tidak sedang diculik, Olivia pasti akan senang berada di dalam ruangan itu untuk membaca berbagai macam buku yang disukainya.


            “Duduk!”


            Olivia menuruti perintah pria itu dan segera mendudukan diri di depan meja kebesaran milik Scout dengan wajah bertanya-tanya.


            “Aku tidak akan membunuhmu. Ekspresi wajahmu menunjukan keingintahuan yang pekat. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, bahwa aku tidak akan membunuhmu.” ucap Scout santai dan seakan-akan tidak peduli pada raut wajah Olivia yang mulai pucat. Sesaat Scout merasa aneh dengan Olivia. Wanita itu terkadang menunjukan sisi kasar dan angkuhnya di depannya. Namun sesaat Olivia juga menunjukan sisi lemahnya dan terlihat ketakutan seperti ini. Wanita memang sulit untuk ditebak!


            “Aku ingin pulang. Mari kita membuat kesepakatan yang menguntungkan antara kau dan aku.” bujuk Olivia dengan wajah meyakinkan.


            Scout menatap datar pada wajah Olivia dan mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Olivia dengan posisi yang mengintimidasi. “Kesepakatan? Rupanya kau sedang mengajakku untuk bernegosiasi. Baiklah, apa yang akan kau tawarkan untuk kesepakatan kita kali ini.” ucap Scout datar. Olivia mulai merangkai seluruh kata-kata yang telah ia pikirkan sejak tadi. Dan ia berharap Scout mau menerima tawarannya dan akan melepaskannya dengan mudah.


            “Kau, tolong lepaskan aku. Biarkan aku pergi dan kembali pada keluargaku. Sebagai gantinya, aku tidak akan melaporkanmu pada polisi atas perbuatan bejatmu kemarin. Kau tetap bebas untuk melakukan apapun. Dan tentu saja aku akan menjaga anak ini untukmu. Kau...”


            “Aku tidak bisa melepaskanmu. Kau harus tetap bersamaku, apapun yang terjadi. Dan mengenai anak itu, kau memang harus menjaganya. Kau adalah ibunya.” potong Scout cepat dengan wajah merah menahan marah. Buku tangannya mengepal di atas meja. Dan hal itu tak luput sedikitpun dari pengawasan Olivia.


            “Bukankah kau takut jika aku membunuh anak ini? Aku tidak akan melakukannya. Aku janji.” ucap Olivia sungguh-sungguh.


            Scout mendecih meremehkan menatap Olivia yang sedang berusaha meyakinkannya. “Jika bukan kau yang membunuhnya, maka suamimu yang akan melakukannya.”


            Olivia terdiam bungkam dengan kata-kata Scout. Meskipun menurutnya Sian tidak akan sekejam itu pada bayinya yang tak berdosa, tapi mungkin saja hal itu bisa terjadi. Sian merasa dikhianati olehnya. Dan keberadaan bayi itu nantinya hanya akan menjadi duri di luka Sian yang terus menganga dan berdarah.


            “Kenapa kau diam? Bukankah aku benar? Sian pasti akan mencoba membunuh bayi itu karena ia membenciku. Jadi kau tetap harus di sini bersamaku hingga bayi itu lahir.”


            “Lalu apa yag akan kau lakukan setelah bayi ini lahir? Kau pasti akan membuat semakin banyak alasan untuk menahanku di sini. Seorang bayi tentu saja membutuhkan ibunya untuk bertahan hidup. Dan hal itu akan kau gunakan sebagai alasan ketika bayi ini telah lahir nantinya. Jadi kau tidak akan melepaskanku, bukankah begitu?” tebak Olivia sakarstik. Scout hanya diam di tempatnya sambil mencerna semua pemikiran yang baru saja dilontarkan Olivia. Sejujurnya ia belum sampai memikirkan hal itu. Ia sendiri tidak tahu sampai kapan akan tinggal di rumah kakek buyutnya. Tentu saja ia tidak bisa seperti ini selamanya. Ia memiliki pekerjaan, dan ia memiliki kehidupan di Miami. Dan hingga sejauh ini ia belum memiliki rencana untuk bayi itu setelah dilahirkan. Bisa saja ia membawa bayi itu ke Florida dan mengembalikan Olivia kembali pada Sian.

__ADS_1


            “Kau tidak perlu tahu bagaimana rencanaku untuk bayi itu. Aku hanya ingin kau tetap di sini sampai waktunya melahirkan nanti.” putus Scout telak tanpa ingin dibantah. Olivia hanya mampu menghembuskan napas pasrah dan tidak ingin berdebat lebih jauh. Selagi Scout menculiknya, Olivia ingin tahu bagaimana kepribadian Scout selama ini. Dan tentu saja ia harus tahu apakah Scout layak menjadi ayah untuk bayi yang akan ia lahirkan kelak.


__ADS_2