Black Swan

Black Swan
Come Back Home (Thirty)


__ADS_3

            Senyum lebar itu terus terpatri di wajah Ciara saat kaki-kaki mungilnya telah berlari-lari di atas tanah Las Vegas yang sedikit basah karena hujan. Di penghujung bulan oktober ini akhirnya ia dapat menginjakan kakinya di tanah kelahiran ibunya yang selama ini hanya ia dengar melalui cerita ibunya sebelum ia terlelap tidur di malam hari.


            “Mommy... kapan Fany aunty akan menjemput kita?” tanya Ciara dengan wajah berbinar-binarnya. Udara dingin Las Vegas yang mencapai tiga belas derajat sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk segera menjelajahi negara kelahiran ibunya yang terlihat begitu menakjubkan di matanya. Dan yang paling penting, ia


sudah tidak sabar untuk segera bertemu ayahnya.


            “Entahlah, mommy tidak tahu. Ayo kita cari Fany aunty di sana.”


            Ciara refleks menggandeng tangan ibunya erat sambil sedikit menarik ibunya menuju gerbang kedatangan yang telah dipadati oleh banyak penjemput. Beberapa diantara mereka tampak membawa papan nama sambil melongok kesana kemari untuk mencari objek jemputan mereka. Dan ketika Eden dan putrinya berhasil keluar dari kerumunan orang-orang itu, mata bulat Eden tak sengaja bertatapan dengan mata bulan sabit milik Tiffany yang cantik. Seketika Eden dan Ciara langsung heboh, berlari-lari kearah Tiffany sambil merentangkan tangannya lebar-lebar.


            “Eden! Astaga, aku merindukan kalian.”


            Dengan girang Tiffany langsung memeluk Eden, dan setelah itu ia beralih pada si cantik Ciara yang tampak tidak sabar untuk segera digendong oleh Tiffany.


            “Hai princess...”


            “Halo ibu ratu.” balas Ciara jenaka. Sebentar saja mereka berdua sudah terlihat heboh tanpa mengindahkan Eden sedikitpun yang sedang sibuk mengumpulkan barang-barangnya.


            “Kau sudah lama menunggu kami?” tanya Eden membuka percakapan ketika mereka bertiga sedang berjalan beriringan menuju mobil milik Tiffany.


            “Tidak juga, sekitar lima belas menit yang lalu. Hari ini jalanan sedikit macet, ada perayaan dengan sponsor utama Cadillac di kota. Huh, mereka semua benar-benar menghambat jalanku.” gerutu Tiffany kesal. Eden hanya bergumam kecil menanggapi ucapan Tiffany dan tampak tidak ingin berkomentar terlalu banyak. Mendengar


nama perusahaan raksasa itu disebut, membuat Eden harus mengingat pria itu lagi. Huh... ini benar-benar menyebalkan, ia seperti tidak bisa sedikit saja keluar dari ruang lingkup seorang Aciel, karena meskipun ia telah tinggal di Perancis, di kota yang sangat jauh dari Aciel, tapi hal-hal yang berhubungan dengan pria itu selalu saja mengikutinya. Seperti cabang perusahaanya, atau properti milik pria itu, dan berbagai macam pernak pernik atas nama Aciel Lutherford selalu bisa dengan mudah ditemukan dimanapun, di seluruh dunia! Tidak heran jika Aciel selain terkenal dengan sifat playernya, ia juga terkenal sebagai pria kaya raya yang paling diinginkan versi majalan forbes.


            “Oya, aku dan Summer telah membersihkan apartemenmu. Jadi kau bisa langsung beristirahat saat kita tiba nanti.”


            “Benarkah? Ohh.... kau benar-benar sahabat terbaikku. Tapi dimana Summer?” tanya Eden kebingungan. Biasanya mereka berdua selalu menempel satu sama lain seperti kembar identik yang tak terpisahkan. Bahkan saat liburan natal tahun lalu, mereka berdua dengan hebohnya memberikan kejutan padanya saat ia sedang mendesain gaun pesanan salah satu pelanggannya di butik. Benar-benar mereka berdua adalah sahabat sejati yang tak terpisahkan. Berbeda dengannya yang tidak bisa terlalu dekat dengan mereka karena banyaknya hal-hal rumit yang mengikuti hidupnya. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tujuh tahun, ia telah memiliki seorang anak berumur hampir empat tahun yang sangat menggemaskan. Masa mudanya otomatis telah teregut karena ia harus membesarkan Ciara sendiri dan juga bekerja tanpa seorang suami yang dapat mendampinginya setiap waktu.


            “Summer sedang pergi, dia menitipkan salam untukmu karena ia tidak bisa menjemputmu hari ini. Tapi besok mungkin ia akan datang ke apartemenmu, sekaligus membantumu mempersiapkan acara fashion show yang akan diadakan tiga hari lagi. Apa kau sudah menyiapkan semua keperluanmu untuk acara spesialmu itu?”


            “Sudah, asistenku dan juga beberapa staffku telah tiba kemarin pagi. Jadi besok aku hanya tinggal mengecek sedikit persiapan kami. Lagipula besok aku akan pergi ke California. Aku akan mengunjungi orang tua Zyan dan menengok makam Zyan. Ciara sudah lama ingin bertemu ayahnya.”


            “Eden....”


            Tiffany tampak prihatin dengan lika liku kehidupan Eden yang sangat menyedihkan. Bahkan setelah lepas dari genggaman Acielpun, Eden belum juga mendapatkan kebahagiaanya. Hidup ini memang penuh misteri. Entah harus berapa banyak lagi air mata yang ditumpahkan Eden, yang jelas ia hanya ingin melihat sahabatnya itu mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Bukan kebahagiaan semu yang hanya bertahan sekejap mata.


            “Jangan mengasihaniku Fany.” peringat Eden dingin. Tatapan sendu milik Tiffany membuat Eden merasa muak seketika. Bola mata Eden bergulir begitu saja kearah kiri, menghindari tatapan sendu milik Tiffany yang terus saja mengusiknya sejak wanita itu mulai membahas masalah Zyan. Sejak dulu ia tidak suka jika orang lain melihatnya dengan pandangan sedih seperti itu. Ia adalah wanita kuat, pelajaran hidup yang Aciel berikan selama ini benar-benar telah membuatnya memiliki hati sekeras baja yang tidak akan mudah goyah walaupun banyak rintangan yang menghalangi jalannya.


            “Maaf, aku hanya merasa kesal pada diriku sendiri. Sebagai sahabat, aku tidak bisa banyak membantumu.”


            “Tidak, kau dan Summer sudah sangat banyak membantuku. Aku tidak bisa seperti saat ini jika bukan karena kalian dan juga Tranz, jadi jangan merasa kau tidak pernah melakukan apapun untukku. Kalian adalah sumber kekuatanku.” ucap Eden tulus. Mereka berdua lantas segera masuk kedalam mobil mini chooper milik Tiffanya dan pergi meninggalkan bandara yang sangat penuh hari ini. Tuhan, aku tidak mau bertemu pria brengsek itu lagi....

__ADS_1


            Hati Eden berdebar seketika kala ekor matanya tak sengaja menatap papan baliho raksasa yang menunjukan potret seorang Aciel Lutherford yang sedang berdiri angkuh di tengah mobil-mobil mewah keluaran perusahaannya. Hanya satu minggu, hanya satu minggu ia menghabiskan waktunya di Las Vegeas. Setelah itu ia akan kembali ke kehidupan tenangnya di Perancis dan ia tidak perlu takut lagi dengan kemunculan Aciel yang tidak terduga. Ia yakin ia dapat melewati waktunya selama tujuh hari dengan mudah tanpa harus mengulang masa lalu kelamnya yang menyakitkan.


-00-


            Setelah menjalani kehidupan empat tahun tanpa Eden, kini Aciel mulai memiliki kebiasaan baru. Saat pagi ia akan menyempatkan diri untuk berdiri di atas balkon kamar Eden sambil menikmati secangkir kopi hitam buatan tuan Kim.


            Dulu beberapa kali ia sering melihat Eden sedang termenung di atas balkon kamarnya ketika ia baru saja pulang dari kantor. Di malam yang sangat dingin, dengan angin yang berhembus kencang, terkadang ia masih melihat Eden sedang melamun sendiri di balkon kamarnya. Ia yang saat itu tidak pernah peduli pada kehidupan Eden, selalu menganggap acuh hal itu dan hanya melihatnya sebagai sebuah kegiatan tak berguna yang dilakukan oleh seorang wanita rapuh. Tapi sekarang, ia justru menyukai rutinitas paginya berdiam diri di atas balkon sambil menikmati semilir angin yang terkadang berhembus kencang, dan kadang berhembus lembut. Semua


kegiatan yang ia lakukan setiap pagi seperti ini selalu berhasil membuat pikirannya jauh lebih tenang dan juga damai.


            “Tuan, nona Jessica menunggua anda di bawah.”


            Lamunan Aciel seketika buyar ketika tuan Kim tiba-tiba masuk dan merusak segalanya. Sejak tadi bahkan ia tahu jika Jessica telah datang ke rumahnya dan membuat sedikit keributan dengan salah satu tukang kebunnya karena Jessica menginjak salah satu tanaman yang baru saja dirapikan oleh tukang kebunnya. Tapi ia pikir Kim tidak akan berani mengganggunya karena ia tidak pernah suka jika rutinitas paginya diusik oleh siapapun. Hanya saja ini Jessica! Wanita berisik yang tak pernah sedikitpun berhenti untuk mengganggu hidupnya. Tuan Kim jelas tidak akan tahan mendengar suara cemprengnya saat wanita berisik itu terus merengek-rengek untuk bertemu dengannya.


            “Kim, kau...”


            “Ace.. kau masih saja meratapi kepergian Eden?”


            Suara datar nan melengking itu membuat kata-kata Aciel seketika terhenti di udara. Dia lantas membalikan tubuhnya malas kearah Jessica, dan secepat mungkin membimbing wanita itu keluar dari kamar Eden karena ia malas jika Jessica mulai mengeluarkan omelannya yang sangat berisik di pagi harinya yang tenang ini.


            “Apa yang kau lakukan di rumahku sepagi ini Sica?”


pagi lagi Ace, ini sudah pukul sembilan. Bahkan aku heran, kenapa kau masih


berada di rumahmu di jam-jam sepenting ini.”


            “Aku hanya membutuhkan sedikit ketenangan. Ada apa?” tanya Aciel penuh penekanan sambil mendudukan dirinya di kursi panjang di ruang keluarga. Berbicara dengan Jessica di pagi hari seperti ini sebenarnya sama sekali bukan pilihan yang bagus. Sebisa mungkin Aciel menghindari obrolan-obrolan sensitif saat bersama Jessica karena wanita itu biasanya hanya akan memperparah kerumitan pikirannya setiap kali topik mengenai Eden kembali dibahas.


            “Aku ingin memberikan undangan fashion showku secara resmi. Kau harus datang, karena ini acara yang cukup bergengsi. Akan ada banyak desainer yang berpartisipasi untuk meramaikan acara besok. Mungkin kau bisa mengembangkan bisnismu di dunia fashion? Bukankah Cadillac telah berhasil menjalin kerjasama dengan Leica, jadi tidak menutup kemungkinan kau juga bisa berkolaborasi dengan salah satu desainer yang berasal dari berbagai belahan dunia.”


            “Akan kuusahakan.” jawab Aciel malas. “Selain untuk memberikan undangan, apa lagi yang kau inginkan dariku Sica?” tambah Aciel datar, pria itu lalu menegak habis sisa cairan kopi di cangkirnya dan segera meminta salah satu pelayannya untuk membawa cangkir kosong itu ke dapur.


            “Mungkin kau bisa bertemu dengannya di sana, kau masih belum bisa melupakannya bukan?”


            “Siapa yang kau maksud Sica? Kurasa aku baik-baik saja.”


            “Tentu saja Eden. Jangan berpura-pura idiot di hadapanku Ace, karena aku tahu apa yang kau rasakan.” ucap Jessica tegas. Aciel tertawa hambar menanggapi kesoktahuan Jessica. Memangnya apa yang diketahui wanita itu tentangnya? Bahkan wanita itu tidak pernah bisa menilai dirinya sendiri dengan baik. Lalu bagaimana mungkin wanita itu dapat menilai seorang Aciel Lutherford yang selalu terkesan misterius?


            “Benarkah? Aku meragukannya.” ucap Aciel tertawa sinis. Jessica menggeram kesal saat diremehkan


seperti itu, dan ia berusaha meyakinkan Aciel jika hipotesisnya sama sekali tidak salah.

__ADS_1


            “Lihat, wajahmu yang kusut itu menjelaskan segalanya. Dan kebiasaanmu berdiam diri di dalam kamar Eden adalah bukti kuat yang tidak bisa kau bantah. Kau merindukannya bukan? Kau merindukan putri Brexton yang telah kau rusak. Ia bahkan sekarang sedang membesarkan anakmu bersama pria lain, apa kau lupa tentang fakta itu?” teriak Jessica berapi-api. Rasanya ia sudah terlalu gemas melihat sikap sok kuat Aciel yang nyatanya sangat bertolak belakang dengan keadaan pria itu yang sebenarnya. Aciel jelas terluka dengan kepergian Eden, namun pria itu terlalu naif untuk mengakui semuanya.


        “Kurasa perasaanku itu bukan urusanmu Sica. Bukankah seharusnya kau senang? Dengan perginya Eden, kau tidak perlu mengemis-ngemis perhatian dariku seperti dulu. Aku tahu, kau sebenarnya tidak menyukainya dan sangat ingin menyingkirkannya karena keberadaanya di sini hanya membuatmu terabaikan. Mengakulah Sica, dan jangan memasang wajah terkejutmu seperti itu.” kekeh Aciel sinis. Skak mat! Jessica pasti tidak pernah menyangka jika ia sebenarnya selalu memperhatikan gerak gerik wanita itu, sekecil apapun gerakannya. Bahkan bukan hanya Jessica, ia pun juga melakukan hal yang sama pada Eden. Hanya saja ada beberapa hal yang terlambat ia ketahui dari Eden, sehingga ia gagal mencegah wanita itu melakukan hal-hal licik di luar batasnya.


            “Kenapa kau diam saja selama ini? Kau selalu terkesan tidak peduli dan hanya melakukan apa yang


menurutmu benar.” ucap Jessica mengklarifikasi. Rasanya terlalu munafik jika ia masih tetap menyangkal setelah Aciel mengatakannya dengan penuh keyakinan di hadapannya.


            “Karena aku tidak mau mempermasalahkannya. Ada lebih banyak masalah penting yang membutuhkan perhatianku daripada masalah kalian yang kekanakan. Berkali-kali Eden berteriak di depanku, mengatakan padaku jika kau mungkin memiliki perasaan untukku. Namun pada akhirnya aku hanya mampu tertawa terbahak-bahak di depannya karena semua ucapannya itu terdengar sangat konyol. Aku tahu kau tidak mungkin memiliki perasaan padaku, dan tidak pernah memilikinya. Satu-satunya perasaan yang kau miliki adalah rasa cemburu, karena selama ini kau terbiasa dekat denganku. Yahh... meskipun kita beberapa kali mejadi teman tidur, tapi kuyakin kau tidak pernah melibatkan perasaanmu padaku. Bukankah kita hanya saling memuaskan, Sica?” bisik Aciel intens tepat di depan wajah Jessica. Jessica refleks memundurkan wajahnya menjauh sambil menatap Aciel kesal karena kerlingan nakal pria itu.


            “Kau sengaja mempermainkan perasaan kami?” tuduh Jessica keras.


            “Mungkin. Terkadang melihat makhluk-makhluk seperti kalian cemburu, itu menyenangkan. Aku merasa menjadi seseorang yang sangat diinginkan di sini.” kekeh Aciel menyebalkan. Jessica rasanya ingin memukul wajah menyebalkan Aciel dengan tas tangannya yang sejak tadi telah ia genggam dengan erat di tangan kanannya. Bagaimana mungkin pria itu selama ini hanya diam, dan seolah-olah tidak pernah mengetahui apapun? Padahal kenyataanya, ia mengetahui semuanya dengan jelas.


            “Soal bayi itu, kau mempercayainya begitu saja?”


            Tiba-tiba Jessica berseru sambil menatap wajah Aciel serius. Selama lebih dari tiga tahun ia tidak membahas hal itu di depan Aciel, karena merasa Aciel sedang dalam tahap melupakan Eden. Tapi melihat bagaimana sikap Aciel hari ini, akhirnya Jessica yakin jika sampai kapanpun Aciel tidak akan pernah bisa melupakan seorang Eden Morel.


            “Bukankah kau yang mengatakannya jika itu bukan anakku? Jadi apa lagi yang harus kuragukan?” tanya


Aciel santai.


            “Tapi aku sekarang menjadi ragu.” gumam Jessica pelan. Pertemuannya dengan Anthony satu bulan yang


lalu justru membuatnya merasa bersalah pada Aciel, karena dulu ia pernah meneriakan sesuatu yang belum tentu benar di hadapan pria itu.


            “Hmm... terlalu terlambat untuk menjadi ragu Sica. Sekarang Eden telah bahagia bersama Zyan.”


            Ada nada getir yang ditangkap Jessica dari suara Aciel. Ia tahu pria itu belum sepenuhnya ikhlas melepaskan Eden bersama pria lain. Tapi ia sendiri tidak tahu mengapa saat itu Aciel memilih untuk melepaskan Eden, padahal selama ini pria itu selalu bersikeras untuk mempertahankan Eden di sisinya.


            “Aku ingin tahu alasanmu mengapa kau memutuskan untuk melepaskan Eden. Itu semua semata-mata bukan hanya karena anak itu bukan? Kau memiliki alasan lain.”


            “Tidak ada alasan apapun Sica. Aku hanya ingin melepaskannya. Sudah saatnya ia hidup dengan intuisinya sendiri.”


            “Kau yakin? Kau masih menyembunyikan banyak hal dariku Aciel.” geram Jessica kesal. Bertahun-tahun mereka bersahabat, namun Aciel belum juga terbuka padanya. Selalu ada banyak hal yang disembunyikan Aciel untuk dirinya sendiri.


              “Ada kalanya aku memiliki rahasia yang tidak kubagi dengan siapapun. Sekarang kembalilah ke butikmu.


Persiapkan acaramu dengan baik, jangan mengecewakanku.” ucap Aciel diakhiri dengan kecupan singkat di pipi Jessica sebelum pria itu memutskan untuk menghilang ke dalam ruang kerjanya.


            Selalu saja ia menghindar disaat telah terpojok. Kebiasaan baru Aciel setelah Eden menghilang adalah menghindar. Sebisa mungkin pria itu menghindari apapun topik pembicaraan tentang Eden jika mereka telah membahasnya terlalu jauh. Salah satu defense mechanism yang menurut Jessica sangat memuakan dan juga pengecut.

__ADS_1


__ADS_2