Black Swan

Black Swan
Start From Zero (Sixty Four)


__ADS_3

        Aciel berjalan masuk dengan gaya ponggahnya ke dalam mansion tanpa menyapa para pelayannya yang telah berjejer rapi di pintu depan. Malam ini ia begitu lelah setelah melewatkan serangkaian kejadian penuh emosi di kantornya dan juga di kantor Stacie. Hingga detik ini ia masih tak habis pikir dengan tindakan nekat Stacie siang ini yang dengan terang-terangan menggodanya di kantornya. Bahkan jika ia tidak memiliki pertahanan diri yang baik, ia pasti akan dengan mudah terjerat dalam jebakan Stacie. Sayangnya semenjak ia mengenal Eden, semua wanita seksi ataupun cantik di luar sana yang ditemuinya menjadi tidak menarik. Mereka hanya sebatas cantik secara


fisik menurutnya, namun mereka tidak memiliki manner yang cantik yang bisa membangkitkan gairahnya untuk menyentuh mereka, sehingga ia tidak pernah lagi bermain-main dengan wanita murahan di luar sana. Ia lebih senang menghabiskan berjam-jam waktunya bergelung bersama Eden di atas ranjang mereka yang hangat dan juga nyaman.


            Tiba-tiba saja Aciel merasa bergairah dan ingin segera bertemu Eden. Bayangan percintaan panas mereka kemarin membuat Aciel tidak sabar untuk segera menyeret Eden ke atas ranjang. Ia ingin melihat wajah polos Eden yang gelagapan ketika ia mulai menggodanya, atau wajah merah Eden ketika kemarin wanita itu menonton salah satu jenis film yang sering diputar Sian. Sahabatnya itu memang gila, ia memiliki hobi yang sangat mengerikan. Tapi Sian jelas tidak sepertinya yang lebih mengerikan karena pernah merasakan berbagai macam kenakalan remaja yang kadarnya lebih parah daripada hanya sekedar menonton film-film dewasa.


            “Daddy!!”


            Ciara berlari kencang menyambut ayahnya yang sedang berjalan memasuki ruang tamu. Gadis kecil itu merentangkan tangannya lebar-lebar dan melompat begitu saja ke dalam dekapannya yang hangat. Aciel dengan penuh kasih sayang menggendong Ciara dan memberikan beberapa kecupan di pipi serta puncak kepala Ciara yang menguarkan aroma wangi khas anak-anak.


            “Daddy... Kenapa daddy baru pulang?”


            Ciara dengan manja memeluk leher Aciel dan bersandar dengan nyaman di atas pundak tegapnya. Aciel terkekeh pelan dengan sikap manja Ciara sambil membawa Ciara menyusuri ruang tamunya untuk menuju ruang keluarga di sebelah ruang tamu.


            “Daddy memiliki banyak pekerjaan di kantor. Bukankah daddy biasanya selalu pulang malam? Bahkan daddy lebih sering pulang saat kau sudah tertidur. Ada apa? Kau merindukan daddy?”


            Ciara mengangguk di dalam pelukan Aciel sambil tetap bermanja-manja pada ayahnya. Melihat itu Aciel teringat akan sikap Eden dulu yang juga sama manjanya seperti Ciara. Meskipun kemudian Eden berubah liar karena menelan banyak kekecewaan darinya, namun di bulan-bulan setelah mereka menikah, Eden justru menjadi sangat manja padanya. Bahkan wanita itu tanpa malu-malu menahannya untuk tidak pergi ke kantor dan hanya menemaninya seharian di rumah. Jika dipikir-pikir itu adalah salah satu sikap aneh Eden yang secara tidak langsung menunjukan padanya jika wanita itu telah menerimanya. Hanya saja Eden terlalu gengsi untuk mengungkapkannya dan menggunaka alasan klise masalah keinginan anak mereka untuk menahannya agar tetap bersamanya di rumah.


            “Apa yang kau lakukan hari ini sayang?”


            Aciel menanyakan kegiatan putrinya hari ini dan memilih untuk duduk sejenak di atas sofa hitam yang cukup nyaman di ruang keluarga. Sudah lama sekali ia tidak berinteraksi dengan putrinya sedekat ini karena ia terlalu dibuat kalut oleh masalah Eden dan juga Anthony. Dua orang itu cukup menyita atensinya bulan ini. Belum lagi masalah punggungnya yang tertembak karena insiden penembakan yang dilakukan Anthony membuatnya tidak bebas bergerak. Dokter melarang keras dirinya untuk melakukan aktivitas berat karena khawatir lukanya akan kembali menganga seperti saat Eden menyerangnya malam itu. Praktis sejak kejadian-kejadian yang cukup rumit itu ia menjadi tidak memperhatikan Ciara. Ia hanya sesekali memandangi putrinya dari kejauhan saat sedang bermain bersama para pelayan, Sian, maupun Eden.


            “Hari ini Ciara memasak bersama mommy, mommy membuatkan Ciara omellet dengan taburan keju yang super lezat.” cerita Ciara lucu dengan gaya anak-anaknya. Aciel tersenyum lembut pada putrinya sambil mengelus surai panjang itu pelan. Melihat Ciara yang sangat ceria malam ini berhasil membuat keruwetan pikirannya menjadi hilang begitu saja. Sejak ia menikah dengan Eden dan memiliki Ciara, ia tidak lagi berminat pergi ke club untuk menenangkan kesuntukan hatinya. Baginya melihat keluarga kecilnya yang manis di rumah sudah mampu membuat semua masalahnya menguap dan pergi begitu saja. Mereka adalah orang-orang yang berhasil membuatnya merasa berarti hidup di dunia ini. Ia tidak lagi merasa seperti seorang yang dimanfaatkan untuk memberikan uang, namun keberadaanya benar-benar dihargai sebagai seorang kepala keluarga dan juga ayah. Seperti yang Ciara lakukan sekarang ini. Gadis kecilnya memeluknya erat karena benar-benar merindukannya bukan karena ia adalah pria kaya yang menghasilkan banyak uang dari hasil bisnisnya selama ini. Dan hatinya pasti akan selalu menghangat setiap ia melihat putri kecilnya yang sangat cantik dan juga menggemaskan ini.


            “Dimana mommy sekarang?”


            “Di belakang, bersama paman Sian.”


            Aciel tanpa sadar menghembuskan nafasnya gusar. Lagi-lagi Sian menghabiskan waktu bersama istrinya. Memang untuk beberapa hari kedepan ia memberikan kelonggaran pada Sian untuk bersenang senang setelah pria itu dulu menghandle semua pekerjaanya di kantor. Tapi bukan berarti kesempatan yang ia berikan dapat

__ADS_1


dimanfaatkan untuk mendekati Eden. Jujur ia sangat cemburu pada Sian. Pria itu dengan tidak adilnya dapat menyusup masuk ke dalam kehidupan Eden yang baru, sedangkan ia tidak. Ia harus berusaha dengan sangat keras agar dapat memenangkan hati Eden untuk yang ke dua kalinya. Ia lelah. Sesekali ia ingin Eden sendiri yang datang padanya sambil memeluknya erat seperti dulu.


            “Ayo kita menemui mommymu.”


           Ciara mengangguk dalam dekapan Aciel dan tampak sibuk memainkan ujung dasi Aciel yang telah kusut.


            “Daddy.. Ciara mau jalan-jalan ke kebun binatang. Melihat gajah, beruang, burung, dan singa, rooaaarrrr.”


            Ciara menirukan suara singa dan gaya singa khas anak-anak yang tampak menggemaskan untuk Aciel. Ia tak kuasa menahan perasaan gemasnya dengan menciumi pipi Ciara dan menggelitiki tubuh Ciara yang berada di dalam dekapannya.


            “Ahahahhhahaaa.. Daddy!! Geliiii... Ahahahahaa...”


            “Hmm.. Setelah daddy tidak sibuk, kita akan ke kebun binatang.” janji Aciel. Ciara berteriak girang sambil mengangkat tangannya ke udara dan menciumi wajah Aciel berkali-kali sebagai bentuk rasa senangnya.


            Sementara itu ketika Aciel telah menginjakan kakinya di dapur, ia melihat Sian dan Eden sedang berbicara serius. Lebih tepatnya Sian sedang mendesak Eden untuk mengatakan sesuatu, sedangkan istrinya itu terus berkelit dengan sibuk meletakan piring-piring di atas meja.


            “Ayolah, ceritakan padaku ada apa? Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku Ed.”


            “Ada apa?”


            Eden dan Sian langsung menoleh bersamaan kearah sumber suara. Eden yang melihat Aciel datang bersama Ciara berusaha untuk menghindari kontak mata yang sejak tadi dilakukan Aciel. Sedangkan Sian tampak menyambut Aciel dengan santai dan menarikan sebuah kursi untuk Aciel duduk.


              “Duduk Ace. Eden sudah membuatkan sup ikan kesukaanmu.”


            Eden meletakan semangkuk sup ikan di depan Aciel dan mangkuk yang lain di depan Sian. Ia kemudian mengambil alih Ciara dari gendongan Aciel dan menyuruh Aciel untuk memakan makanannya.


            “Mommy, Ciara mau jus.”


            Ciara merengek manja pada Eden di atas kursi khususnya ketika Eden meletakan gadis kecil itu untuk menyiapkan menu makan malam untuk Ciara.

__ADS_1


            “Ini, minum perlahan oke.”


            Eden meletakan segelas jus di depan Ciara sambil memberikan peringatan dengan jari telunjuknya. Sedangkan Aciel hanya memandang itu semua dengan kerutan samar yang tercetak jelas di wajahnya. Ia merasa sesuatu telah terjadi pada Eden dan wanita itu sedang mencoba untuk menutupinya.


            “Kau tidak makan?” tanya Aciel sambil menyendok kuah sup ikanya. Eden mengambil tempat di sebelah Ciara sambil meletakan menu makan malam milik Ciara.


            “Aku akan makan setelah menyuapi Ciara. Ciara sayang, ayo buka mulutmu.”


            Eden memasukan sesendok sup jamur ke dalam mulut Ciara yang langsung dimakan gadis kecil itu dengan lahap. Ciara cukup kelaparan malam ini karena ia telah melewatkan jam makan snacknya sore tadi karena Eden lupa menyiapkan cemilan ringan untuk teman menonton kartun putrinya.


            “Besok kita akan menghadiri persidangan kasus percobaan pembunuhan Anthony.”


            “Ace, apa kita harus membicarakannya saat makan?”


            “Suasana saat ini sedang bagus untuk membahas masalah itu Sian.”


            Sian tampak tak setuju saat Aciel mulai membawa sebuah topik yang cukup serius ke meja makan. Namun Aciel tampak tak peduli dan tetap melanjutkan pembicaraanya mengenai Anthony. Lagipula ia yakin Ciara akan tetap baik-baik saja, gadis kecil itu juga tidak mungkin akan paham apa yang sedang dibicarakan oleh tiga orang dewasa di depannya. Tapi menurut Sian hal itu tetap saja tidak baik untuk dilakukan, sehingga ia tidak mau terlalu banyak menimpali informasi yang dibawa oleh Aciel mengenai kasus yang menimpa Anthony.


            “Kenapa mendadak sekali? Bahkan aku belum mengurus masalah pengacara dan hal penting lainnya.” timpal Eden bingung. Dalam hati Eden cukup yakin jika Aciel telah melakukan sesuatu siang tadi hingga berujung pada dipercepatnya proses hukuman yang menimpa Anthony. Seketika ia merasa muak dan jijik saat membayangkan Aciel. Ia pikir sekarang bukan hanya wanita yang bisa bersikap murahan, namun pria juga bisa melakukan hal yang sama.


            “Kau terlalu lambat Ed, aku tidak sabar jika harus menunggumu untuk bergerak, jadi lebih baik aku yang mengambil tindakan.”


            “Kami sebenarnya akan menemui Stacie siang tadi, tapi Stacie sedang sibuk saat kami datang.” beritahu Sian. Aciel menatap Eden untuk meminta penjelasan, sedangkan Eden langsung mengalihkan tatapan matanya pada Ciara dengan sibuk menyuapi Ciara yang sangat lahap menelan makanannya.


            “Benarkah? Kenapa aku tidak bertemu dengan kalian?” tanya Aciel sambil mengernyitkan dahinya.


            “Mungkin kau sedang berada di ruangan komisaris Edburg.”


            Jawaban yang diberikan oleh Eden cukup masuk akal karena ia memang sempat menemui komisaris Edburg setelah Stacie melakukan hal yang menjijikan padanya. Namun melihat gelagat aneh yang sedang ditunjukan Eden membuatnya tidak yakin jika Eden berada di kantor kepolisian saat ia sedang bertemu komisaris Edburg, bisa saja Eden melihatnya saat ia sedang berada di dalam ruangan Stacie.

__ADS_1


            “Kenapa tidak menungguku jika kau datang ke kantor polisi? Kau bisa pulang bersamaku.”


            “Aku takut mengganggumu.” jawab Eden seadanya. Aciel memilih untuk diam dan tidak melemparkan pertanyaan apapun lagi pada Eden. Ia tahu suasana hati Eden sedang tidak baik malam ini, sehingga ia memilih untuk segera menghabiskan makan malamnya lalu naik ke kamarnya untuk mandi. Ia membutuhkan banyak siraman air dingin malam ini untuk menjernihkan kepalanya dari berbagai macam prasangka yang berputar-putar di dalam kepalanya.


__ADS_2