Black Swan

Black Swan
Tears (Fourty Two)


__ADS_3

Flashback


            Dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya dan sebuah mantel hitam panjang, Aciel berjalan tenang membelah kerumunan manusia yang sore ini memadati bandara McCarran. Lima belas menit yang lalu pesawatnya baru saja mendarat dari bandara internasional Vancouver, Canada, setelah ia menghabiskan waktu tiga hari di negara itu untuk menyelesaikan urusan bisnisnya. Sore ini ia akan memberikan kejutan pada Ciara dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Ia ingin mengejutkan gadis kecil itu dengan kemunculannya sebagai seorang ayah, bukan lagi sebagai paman yang terlihat asing di mata gadis cantiknya.


            “Kita langsung ke rumah sakit St.Apollo.”


            Selama hidupnya, Aciel tidak pernah merasakan sebuah rasa yang dinamakan menggebu-gebu. Keinginan yang meluap-luap dalam dirinya untuk bertemu Ciara ini benar-benar sangat nyata dan hampir membuatnya sesak nafas karena terlalu senang. Namun tetap saja, wajah datarnya dan sikap dinginnya berhasil menyamarkan semua emosi meledak-ledaknya yang telah bergemuruh dengan heboh di dalam jantungnya. Ia merasa seperti sebuah kembang api yang hampir meledak, meletup-letup, memercikan api kebahagiaan yang sedang membuncah di hatinya.


            “Bagaimana keadaanya?”


            Aciel bertanya pada seseorang melalui telepon sambil menatap tenang jalanan Las Vegas yang cukup lenggang hari ini. Dari spion depan sang supir tampak menahan senyum saat dilihatnya sang majikannya sedang begitu gembira karena akan segera bertemu dengan putrinya.


            “Nona Ciara telah sadar dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Selama anda pergi nyonya Eden selalu berada di rumah sakit untuk menjaga nona Ciara.”


           Bukan Aciel namanya jika ia tidak memberikan penjagaan ekstra ketat pada Eden. Terlebih saat ini putrinya sedang sakit, dan ia tidak bisa mendampingi putrinya di rumah sakit. Jadi ia merasa perlu menempatkan orang-orangnya untuk menjaga dua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya itu.


            “Hanya itu, tidak ada yang lain?”


            “Tidak tuan, sejauh ini hanya itu hal-hal yang terjadi di rumah sakit selama anda berada di Canada.”


            “Hmm.. kalau begitu kau boleh pergi, aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.”


            Aciel menyandarkan punggungnya lelah pada sandaran kursi setelah ia mengakhiri sambungan teleponnya pada sang anak buah. Kira-kira apa yang harus ia lakukan saat bertemu Eden dan Ciara? Haruskah ia menyapa mereka dengan gaya ramah yang terkesan tidak cocok untuknya? Atau ia tetap menjadi dirinya sendiri, yang kaku dan juga dingin pada siapapun? Tapi jika ia tetap pada egonya, Ciara akan takut. Ia tidak akan pernah bisa membangun kedekatan dengan Ciara jika gadis kecil itu takut padanya. Ck, persetan dengan semua hal-hal bodoh yang beputar di dalam kepalanya, itu semua hanya akan menghambat langkahnya. Ia hanya perlu menjadi dirinya yang biasa, dan bersikap secukupnya di depan Eden dan Ciara. Toh mereka adalah ayah dan anak, tanpa harus bersandiwara sekalipun, Ciara pasti akan memakluminya.


            “Kita sudah sampai tuan.”


            Aciel segera turun dari mobil sedan hitamnya, dan melangkah masuk ke dalam bangunan rumah sakit itu dengan langkah yang sedikit tergesa. Perasaan bahagia yang meluap-luap, ditambah dengan perasaan gugup yang sejak tadi melingkupinya, menghasilkan energi ekstra yang begitu dahsyat di tubuhnya. Namun saat langkahnya hampir menjangkau kamar Ciara, ia justru dikejutkan dengan sebuah surprise kecil yang sama sekali tidak menyenangkan. Ia melihat Eden dan Jensen sedang berpelukan mesra di depan ruang perawatan Ciara, lalu dengan manja wanita itu menyandarkan kepalanya di atas pundak kokoh Jensen yang memancarkan aura nyaman yang sangat pekat.


            Seketika ekspresi wajah Aciel berubah datar, dan mengeras. Pemandangan menjijikan di hadapannya benar-benar membuat emosinya menjadi buruk. Dan tanpa pikir panjang ia langsung berbalik meninggalkan lorong rumah sakit itu untuk pulang ke mansionnya. Percuma saja ia berada disana, dan kemudian diabaikan oleh pasangan yang sedang sibuk bermesraan tanpa tahu malu di rumah sakit. Perasaan kecewa itu lagi-lagi melingkupi Aciel hingga ia merasa ingin memukul sesuatu untuk melampiaskannya. Padahal belum sembuh ia merasakan sakit selama Eden pergi, lalu sekarang ia harus disuguhkan dengan sebuah fakta jika Eden telah menemukan mainan baru selama ia pergi ke Canada.


            “Kita pulang sekarang.”


            Supir tua itu tampak heran melihat tuannya yang tiba-tiba kembali dalam waktu singkat ke dalam mobil. Padahal seharusnya pria itu akan menghabiskan waktu selama berjam-jam di dalam sana bersama keluarga kecilnya.


            “Kenapa cepat sekali tuan?” tanya pria tua itu setengah bercanda. Rupanya ia tidak tahu jika saat ini Aciel sedang dilingkupi awan mendung.


            “Kau tidak perlu mencampuri urusanku Shin, lihat saja jalanan di depanmu.


            Seketika tuan Shin membungkam bibirnya rapat sambil melanjutkan kegiatan menyetirnya yang menjadi tidak nyaman karena sikap dingin Aciel. Ini mungkin adalah hari tersialnya karena berani mengusik seorang Aciel yang sedang dalam mode bad mood.


Flashback end


            “Kenapa cepat sekali?”


            “Ah... Eee...”


            Eden kehilangan kata-kata saat Sian menatapnya dengan pandangan menelisik yang tampak curiga. Dua puluh menit yang lalu ia sengaja menitipkan Ciara pada Sian untuk mencari Aciel. Tapi karena pria itu sedang sibuk dengan wanitanya, ia memutuskan untuk segera kembali ke rumah sakit dan membatalkan niatnya untuk bertemu dengan pria itu. Toh sebenarnya bukan dia yang menginginkan Aciel datang. Ia hanya ingin memberikan sedikit hadiah kecil pada Ciara karena hari ini kondisinya mengalami peningkatan yang luar biasa. Kehadiran ayah yang


selama ini selalu diinginkan Ciara pasti akan menjadi hadiah yang paling luar biasa untuk putrinya. Tapi... pria itu bisa saja salah paham dan menganggapnya sedang mengalami cemburu jika ia nekat mengganggu kegiatan Aciel dengan wanitanya.


            “Kau tidak bersama Aciel?”


            “Aciel sedang sibuk. Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.” bohong Eden tenang. Ia segera masuk dan meletakan mantelnya di atas kursi panjang, tak jauh dari ranjang perawatan Ciara.


            “Mommy, aku ingin puding.” rengek Ciara tiba-tiba. Sian yang berada di sebelah Ciara langsung menyuapkan puding strawberry kesukaan gadis kecil itu, dan meminta Eden untuk tetap duduk di tempatnya.


            “Istirahatlah, akhir-akhir ini kau pasti tidak tidur dan makan dengan teratur. Ada lingkaran hitam di masing-masing matamu.” ucap Sian prihatin. Eden hanya tersenyum masam menanggapi pria itu, dan ia kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa agar lebih rileks.


            “Aku sudah biasa seperti ini, jangan terlalu mengkhawatirkanku.”


            “Zyan tidak ingin menjenguk putri kecilnya?” tanya Sian. Eden tampak diam untuk beberapa saat, namun ia segera menggelengkan kepalanya cepat-cepat untuk memberikan jawaban pada Sian. Lagi-lagi ia harus mengarang sebuah kebohongan. Shit

__ADS_1


            “Ada pekerjaan yang harus ia lakukan.”


            “Lalu bagaimana tanggapan Zyan selama ini jika Ciara adalah putri Aciel?”


            Sian berusaha mengangkat topik pembicaraan seputar Zyan karena ia merasa jika semua ini tidak wajar. Ketidakhadiran Zyan ketika Ciara sakit dan sikap Eden yang seolah-olah tidak pernah memiliki keterikatan apapun dengan Zyan membuat Sian benar-benar merasa terganggu. Kemudian pikirannya mulai mengarahkannya pada berita dari koran lama yang sebelumnya pernah ia bahas bersama Aciel. Mungkinkah jika sebenarnya Zyan adalah korban di foto itu?


            “Mommy... mommy... dimana daddy?”


            “Ayahmu sedang memiliki banyak pekerjaan sayang.” jawab Eden lembut. Ia kemudian beralih pada Sian dan menggeleng kecil, tanda ia tidak ingin membicarakan topik itu untuk saat ini. Sementara itu Ciara terlihat cemberut saat mendapatkan jawaban yang mengecewakan dari Eden. Namun mulut manyunnya yang berisi banyak puding berhasil membuat Sian seketika tertawa sambil menyodorkan sesendok puding lagi ke depan mulut Ciara.


            “Ini makanlah, wajah ngambekmu benar-benar sangat mirip dengan ibumu, tapi kau memiliki aura marah seperti ayahmu yang mengerikan.” canda Sian. Eden hanya diam memperhatikan interaksi antara Ciara dan Sian dari kejauhan. Entah kenapa hatinya sedikit mencelos kesal saat melihat Aciel bersama salah satu wanitanya. Bukankah itu sudah biasa? Sampai kapanpun Aciel memang tidak akan pernah jauh-jauh dari wanita. Ia bodoh jika menganggap pernyataan cinta Aciel adalah suatu yang serius, karena kenyataanya pria itu tidak akan pernah berani berkomitmen bersamanya.


            “Eden!”


            “Hah, ada apa?”


            Eden terlihat kaget saat Sian memanggilnya keras sambil melirik kearah pintu.


            “Aciel datang, apa kau tidak dengar?”


            Dengan kikuk Eden berdiri sambil menatap pria itu dalam diam. Untuk apa pria ini datang? Menyebalkan! Eden membatin kesal. Namun ia tetap mempersilahkan Aciel masuk untuk melihat kondisi Ciara.


            “Paman Aciel? Ahh... mommy, bukankah mulai sekarang paman Aciel adalah daddy Ciara? Daddy!” panggil Ciara girang. Melihat itu Aciel hanya tersenyum tipis sambil menghampiri putri kecilnya. Akhirnya setelah sekian lama berkubang dalam kekecewaan, kini ia bisa melihat putrinya secara nyata. Darah dagingnya, keturunannya,


penerus klan Lutherford yang terhormat. Ini sungguh sesuatu yang sangat menggembirakan untuknya. Hanya saja semua itu belum lengkap bila ia belum mendapatkan Eden di dalam genggamannya. Tapi ia tidak perlu terburu-buru, masih ada waktu untuk menaklukan Eden. Yang terpenting saat ini ia telah mendapatkan Ciara di dalam genggamannya.


            “Minggir Sian, aku ingin menyapa putriku.”


            Sambil bersungut-sungut kesal Sian mulai menyingkir dari tempat duduknya dan mulai berjalan kearah Eden. Sepertinya ia dan Eden akan senasib karena harus puas hanya dengan melihat interaksi antara Aciel dan Ciara dari kejauhan.


            “Daddy.... Ciara merindukan daddy!”


            Dengan kaku Aciel merengkuh Ciara dalam dekapannya, lalu menyesap pelan aroma rambut Ciara yang beraroma khas anak-anak. Ia tidak percaya jika sekarang ia memiliki seorang keturunan. Seorang gadis kecil yang begitu polos, dan murni, tanpa sentuhan dosa sedikitpun. Seketika instingnya sebagai ayah muncul. Ia ingin


            “Daddy... daddy suka puding?"


            Ciara menyodorkan sesendok puding strawberry yang hanya ditatap Aciel dengan bingung.


            “Kau saja yang makan.”


            “No! Daddy Aaaa....”


            Ciara memaksa Aciel untuk memakan puding yang disodorkannya, dan dengan sedikit terpaksa Aciel segera melahap puding itu sambil tersenyum tulus kearah Ciara.


            “Enak?”


            “Sangat enak, terimakasih sayang.” jawab Aciel dengan senyuman. Sian dan Eden saling bertatapan satu sama lain dengan senyum geli yang tak bisa mereka sembunyikan. Aciel yang kaku akhirnya harus menurunkan egonya demi putrinya yang polos. Itu sungguh sangat lucu. Bahkan dua manusia itu masih ingin melihat interaksi


antara anak dan ayah yang menggelikan itu.


            “Aciel sangat kaku, aku tidak menyangka ia bisa bersikap sedikit hangat pada putrinya.”


            “Aku juga. Pria itu terlihat aneh.” tambah Eden. Sesekali ekor matanya mencuri-curi pandang kearah Ciara yang sibuk membicarakan apapun pada ayahnya. Dan karena hal itu, kini hatinya merasa menghangat. Ia pikir ia tidak akan pernah melihat interaksi putrinya dengan sang ayah, ternyata ia salah. Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk memberikan kebahagiaana pada Ciara, meskipun melalui cara yang sangat menyebalkan.


            “Aku penasaran, kenapa kau memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Aciel? Bukankah Aciel tidak melakukan kesalahan yang fatal padamu?”


            “Aku malas. Aku ingin bahagia Sian, lebih baik kita membicarakan hal lain saja.”


            Sian seketika menghembuskan napasnya panjang sambil meraih jas hitamnya yang tersampir di lengan sofa.


            “Kalau begitu lebih baik aku pulang, ini sudah malam.”

__ADS_1


            Sian melirik jam tangannya sekilas dan berjalan menuju ranjang Ciara untuk berpamitan pada gadis kecil itu. Tidak ada gunanya ia bertahan di sana, dengan Eden yang sedang malas untuk memabahas apapun bersamanya.


            “Paman pulang dulu. Kau harus cepat sembuh, agar ibumu tidak sedih lagi.”


            “Hmm... paman hati-hati di jalan.” ucap Ciara sambil melambaikan tangannya pelan.


            Sepeninggal Sian, ruangan tempat Ciara dirawat semakin hening. Baik Eden maupun Aciel, keduanya memilih untuk tidak saling berbicara. Aciel lebih memilih untuk bermain bersama Ciara. Sedangkan Eden, ia memilih untuk sibuk dengan pikirannya sendiri supaya kelelahan itu dapat membuat matanya segera terpejam. Tapi hasilnya sungguh di luar kehendaknya, kedua matanya sama sekali tidak bisa dipejamkan, dan ia justru ingin terus melihat kebersamaan putrinya bersama Aciel.


            “Ciara sudah tidur...”


            “Hah, sejak kapan?”


            Terlalu banyak melamum membuat Eden tidak sadar jika ia telah melewatkan banyak hal. Bahkan ia tidak tahu sejak kapan putrinya tertidur.


            “Oh.. kalau begitu pulanglah, ini sudah malam.” ucap Eden sambil melirik jam dinding yang telah menunjukan pukul sebelas malam. Meskipun ia tahu jika jam malam Aciel mungkin lebih dari itu, tapi ia hanya ingin menjernihkan pikirannya yang sedang kacau.


            “Aku ingin berbicara denganmu.”


            “Apalagi yang perlu dibicarakan? Setelah Ciara sembuh, kami ingin kembali ke Perancis.” ucap Eden menyuarakan keinginannya. Ia telah memikirkan ini sejak dua hari yang lalu, dan ia merasa harus segera kembali ke Perancis. Selain karena ia telah meninggalkan butiknya terlalu lama, ia juga harus kembali melanjutkan hidupnya di sana. Aciel hanyalah kisah masa lalunya, dan ia akan membiarkannya tetap menjadi masa lalu.


           “Kau masih memiliki banyak hutang padaku Eden, asal kau tahu. Darah yang mengalir di tubuh Ciara, kau harus membayarnya.”


            “Kau! Itu untuk putrimu sendiri, kenapa aku harus membayarnya?” dengus Eden kesal. Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Aciel yang begitu perhitungan untuk putrinya sendiri. Padahal kemarin-kemarin pria itu mengatakan jika ia akan memberikan apapun untuk putrinya.


            “Itu bukan alasan. Kau yang memintanya padaku, bukan aku yang menginginkannya.” jawab Aciel tenang. Membuat Eden kesal adalah keahliannya. Saat Eden kesal, maka wanita itu akan sedikit melonggarkan dinding tinggi yang selama ini selalu melingkupi hidupnya. Sangat menarik.


            “Jadi berapa harga untuk tiga kantong darahmu? Aku tidak menyangka kau masih saja licik, meskipun untuk putrimu sendiri.”


            “Maaf karena membuatmu kecewa Eden, tapi empat tahun tidak akan mengubah sifatku sedikitpun. Bukankah kau tahu jika aku ini adalah pria licik? Maka bersiaplah untuk menghadapinya.” bisik Aciel sensual tepat di telinga Eden. Pergerakan Aciel yang begitu halus sama sekali tidak disadari Eden hingga ia tidak bisa menghindar sedikitpun saat Aciel telah menghimpitnya di ujung sofa.


            “Aaa apa yang akan kau lakukan? Jangan macam-macam Ace!”


            Eden merasa posisinya saat ini cukup terancam dan membahayakan. Tidak ada tanda-tanda dari Aciel jika pria itu ingin menyingkir. Justru Aciel semakin mempersempit jarak mereka hingga hembusan nafas pria itu terasa begitu hangat menampar-nampar wajahnya.


            “Aku mencium aroma ketakutan dari wajahmu Eden. Kau takut padaku, hmm?”


            “Minggir! Ciara sedang tidur. Apa kau ingin mengusiknya.”


            “Ssshh... Ciara akan baik-baik saja jika kau tidak berisik.” bisik Aciel semakin intens. Sedikit saja Eden melakukan pergerakan, maka bibir mereka akan saling bersentuhan. Dan tak butuh waktu lama untuk Aciel merealisasikannya, karena ia langsung ******* bibir Eden begitu saja dengan sedikit pemberontakan yang ia dapatkan dari Eden.


           “Eengghh... lepmmhhff...”


            Eden bergerak brutal, berusaha melepaskan diri dari Aciel. Pria itu dengan ganas menekan pinggangnya dan membuatnya benar-benar tidak bisa melakukan apapun selain berteriak tertahan di bawah kungkungan Aciel.


            “Kau masih menggairahkan seperti biasa Eden.”


            Napas Eden tampak memburu, dadanya naik turun tak beraturan dengan degup jantung yang menggila.


            “Hmm.. kau menginginkannya lagi?”


            “Brengsek! Jangan main-main Aciel, aku bukan budak seksmu lagi. Ingat, aku sudah menikah dengan Zyan!”


            “Oya? Tapi Zyan telah mati! Kau milikku mulai sekarang.” geram Aciel tertahan sebelum ia ******* lagi bibir merah muda Eden dengan gerakan menggebu yang dipenuhi oleh gairah.


            Eden tak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan ucapan Aciel mengenai Zyan. Tak disangka jika Aciel akan mengetahuinya lebih cepat dari perkiraannya. Orang-orang Aciel pasti telah mengikutinya selama ini. Dan bodohnya ia tidak pernah menyadarinya sejak dulu.


            “Aku menginginkanmu Eden.” bisik Aciel serak. Eden yang telah dikuasai oleh kabut gairahpun hanya membisu sambil mencoba menormalkan deru nafasnya yang masih memburu. Ia tidak tahu apakah ini benar? Tapi mereka sudah sama-sama diambang gairah sekarang. Hanya tinggal menunggu nafsu atau akal sehat yang akan memenangkan semua ini.


            “Darimana kau tahu Zyan telah meninggal?”


            “Kau pikir aku tidak pernah mengawasimu? Ingat, kepergianmu empat tahun yang lalu bukan karena kemenanganmu Eden, tapi karena aku memang memberikanmu kesempatan untuk pergi. Dan sekarang adalah saatnya untuk membawamu kembali masuk ke dalam kehidupanku. Kehidupan kita yang lama.”

__ADS_1


            Eden menelan salivanya gugup sambil menatap manik coklat Aciel intens. Sejak kapan ia menjadi tak berdaya seperti ini? Sungguh otaknya sekarang menjadi buntu, dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.


Dan saat Aciel perlahan-lahan mulai mencumbu wajahnya dan melucuti semua pakaiannya, ia hanya mampu mendesah. Mendesah dengan seluruh kefrustrasian yang ia miliki dan ketidakberdayaan yang melingkupi seluruh tubuhnya.


__ADS_2