Black Swan

Black Swan
Start From Zero (Sixty Five)


__ADS_3

        “Kau yakin kau baik-baik saja?”


            Aciel menahan tangan Eden ketika wanita itu hendak berjalan meghampiri Anthony yang sedang duduk di atas kursi pesakitan. Eden menatap Aciel tajam dan menyuruh Aciel untuk melepaskan cekalan tangannya yang cukup kuat di lengannya yang kecil.


            “Aku baik-baik saja. Mari kita selesaikan semua masalah ini.” jawab Eden tegas. Ketika menatap manik pekat Aciel, ekor matanya tak sengaja menangkap siluet wajah Stacie tepat di belakang Aciel. Seketika ia merasa muak. Ia tahu wanita itu bukanlah wanita berkelas seperti yang diceritakan Sian padanya. Wanita itu tak ubahnya seperti sebuah sampah yang mengotori kehidupan rumah tangganya. Namun yang membuatnya sakit adalah sikap Aciel pada wanita itu yang terlihat baik-baik saja. Bahkan Aciel tak mengatakan apapun padanya sejak kemarin setelah makan malam mereka. Pria itu memilih untuk segera tidur setelah mereka makan malam tanpa membahas apapun lagi. Lalu pagi ini Aciel juga tak banyak bicara. Pria itu tiba-tiba saja mengajaknya untuk pergi ke pengadilan pukul setengah sembilan pagi.


            “Jangan melebihi batas.”


            Satu kalimat itu menjadi kalimat terakhir sebelum Aciel melepaskan cekalan tangannya pada lengan Eden dan membiarkan istrinya pergi menemui Anthony. Meskipun ia sendiri sangat tidak rela, namun ia harus melakukannya kali ini agar semuanya segera berakhir. Ia ingin Anthony segera mendapatkan hukumannya dan ia segera mendapatkan ketenteramannya lagi.


            “Kau tidak duduk?”


            Sebuah suara menginterupsi pikiran Aciel dan membuat pria itu harus berbalik ke belakang untuk bertatapan dengan sang lawan bicaranya. Namun hanya dari nada suaranya Aciel sudah dapat menebak jika wanita itu adalah Stacie.


            “Aku akan duduk sekarang.”


            Aciel meninggalkan Stacie begitu saja dengan aura dingin yang menguar dari seluruh tubuhnya. Setelah insiden kemarin ia berharap tidak perlu lagi bertemu dengan Stacie karena ia muak dengan wanita itu. Jangan sampai masalah baru muncul di dalam keluarganya setelah ia berhasil mencari jalan keluar untuk masalah Anthony. Stacie hanya masa lalunya. Dan ia telah membuang Stacie dari kehidupannya bersama dengan wanita-wanita murahan lain yang pernah mengisi hari-harinya dulu.


            “Boleh aku duduk di sini?”


            Aciel tanpa kata hanya menatap lurus ke depan tanpa mengindahkan Stacie yang telah mendaratkan dirinya dengan nyaman di sebelahnya. Tatapan matanya kini hanya terkunci pada Eden dan Anthony yang sedang sibuk berinteraksi di depan sana dengan kepala berasap karena terlalu keras menahan setiap emosi yang menguar di


dalam hatinya. Ia tidak suka melihat Eden begitu perhatian pada Anthony, padahal bedebah sialan itu pernah hampir membahayakan nyawanya dan juga hampir membunuhnya.


            “Mereka terlihat sangat dekat, apa mereka pernah memiliki hubungan sebelumnya?”


            Lagi-lagi Stacie bersuara di sebelahnya tanpa memikirkan bagaimana hatinya saat ini yang sedang meletup-letup menahan kecemburuan. Ingin rasanya ia membentak wanita itu dan mendorongnya menjauh, tapi ia tidak mungkin melakukannya. Mereka sedang berada di tempat umum. Ia tidak mau mengotori nama baiknya hanya karena sebuah gangguan kecil yang ditimbulkan oleh Stacie, jadi ia berusaha tetap diam tanpa terpengaruh sedikitpun pada Stacie.


            “Maafkan aku Ace, perbuatanku kemarin memang sangat tidak pantas. Aku seharusnya menghormati keputusanmu dan tidak mengganggumu karena kau sudah bahagia dengan keluargamu. Tapi kumohon jangan mendiamiku seperti ini, aku ingin tetap menjalin hubungan yang baik denganmu.”

__ADS_1


           “Jangan harap aku mau melakukannya, karena aku tahu seperti apa dirimu Stacie.” peringat Aciel tegas. Stacie tak ubahnya seperti kucing yang begitu manis dan menggemaskan saat ia sedang tenang, namun jika ia sedang marah, maka ia tidak akan segan-segan menggunakan kuku-kuku tajamnya untuk menyakiti orang lain


            “Kenapa kau berburuk sangka padaku? Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita yang renggang.


Aku tahu aku bodoh, seharusnya aku tidak menggodamu dengan cara murahan seperti kemarin. Tapi aku terlalu kalut Ace, kupikir kau masih Aciel yang dulu, yang tidak mengenal cinta. Kumohon maafkan aku.”


            “Jika kau ingin aku memaafkanmu, maka pergilah dari hadapanku sekarang karena aku sangat muak melihatmu di sini.” desis Aciel tajam sambil memberikan tatapan penuh intimidasi pada Stacie. Stacie membalas tatapan tajam Aciel dengan sorot sedih yang terlihat jelas dari kedua matanya, namun ia tak kunjung beranjak dari tempat duduknya. Ia dengan keras kepalanya tetap duduk di sebelah Aciel hingga persidangan itu dimulai.


-00-


            Di lain tempat Eden sedang bersama Anthony untuk memberikan dukukan pada pria itu sebelum hakim memulai sidang untuk menetapkan hukuman bagi pria itu. Dengan wajah sayu Anthony menyambut kedatangan Eden dengan senyum manisnya yang sedikit dipaksakan. Eden melihat banyak sekali perubahan yang terjadi pada


wajah Anthony. Anthony saat ini tampak lebih kurus dan juga pucat. Kantung mata di kedua mata Anthony juga terlihat sangat mengerikan. Ia dengan penuh prihatin menangkup pipi Anthony sambil menatap manik sayu itu dengan tatapan sedih.


            “Kenapa Thony? Apa yang mereka lakukan padamu?”


            Anthony menurunkan tangan Eden dari wajahnya dan menggeleng lemah. Semua yang terjadi padanya hingga detik ini adalah karena Aciel. Ia tahu jika penyiksaan yang ia dapatkan selama berada di penjara adalah karena Aciel. Pria itu adalah pria dengan segala kekuasaan yang mengelilinginya. Hanya dengan menjentikan ibu


            “Kau datang? Maafkan perbuatanku dulu Ed. Aku tidak bermaksud menyakitimu.”


            “Aku tahu Thony. Kau adalah pria yang baik. Jika bukan karena dendam, kau pasti tidak akan melakukan hal itu.”


            Eden menggenggam tangan Anthony erat dan menatap manik sayu itu dalam. Di belakang tubuh Anthony, ia dapat melihat Aciel sedang menatapnya dengan tajam. Kedua mata elang pria itu memerintahkannya untuk menjauhi Anthony secepatnya, namun ia mengabaikannya dan hanya fokus pada Anthony. Tak berapa lama ekor matanya menangkap sosok Stacie yang kini sedang mendekati suaminya. Wanita itu dengan tidak tahu malunya mencoba mengalihkan perhatian Aciel yang sejak tadi sedang sibuk menatapnya.


            “Ed, kau harus hidup bahagia?”


            “Yya? Ada apa Thony?”


            Eden tampak tidak fokus dan tidak bisa menangkap maksud ucapan Anthony dengan jelas. Ia pun segera menyudahi pandangan matanya pada sang suami agar ia bisa mendengarkan setiap kalimat yang dilontarkan Anthony dengan jelas.

__ADS_1


            “Kau harus hidup bahagia. Bersama pria jahat itu.”


            Anthony terlihat masih begitu dendam pada Aciel, namun tak bisa dipungkiri jika ia telah kalah dari pria itu. Sejak empat tahun yang lalu pun sebenarnya ia telah kalah, hanya saja ia masih bertahan pada egonya untuk mengalahkan Aciel, sehingga ia tidak pernah menyerah untuk menjatuhkan Aciel hingga sejauh ini. Sayangnya sekarang ia merasa telah benar-benar kalah. Tak ada lagi harapan untuk menjatuhkan Aciel karena pria itu memang bukan lawannya.


            “Kau tahu, Aciel adalah pria yang jahat. Dulu ia memporak-porandakan karierku, lalu ia juga mengambil kebahagiaanku. Bahkan ia juga hampir membunuhku beberapa kali. Dia benar-benar pria yang sangat jahat Ed. Bertahun-tahun aku mencoba menghancurkannya. Aku berusaha untuk melupakanmu dengan menjalin hubungan


dengan wanita lain, namun aku tak pernah benar-benar bisa melupakanmu. Satu tahun hidup bersama Aciel dan memiliki anak membuat cara pandangmu pada Aciel berubah. Kau menjadi lebih mencintai Aciel dan mulai menerima garis takdirmu bersama pria itu. Belum lagi anak kalian yang sangat menggemaskan membuatmu


tidak bisa lagi kembali padaku. Aku seharusnya menyadari kebodohanku sejak awal. Kupikir aku masih memiliki kesempatan untuk merebutmu darinya Ed. Setiap kali kita bertemu secara diam-diam kau tidak pernah berhenti membujukku untuk melupakan semua dendamku pada Aciel. Kau selalu mengatakan padaku jika Aciel sebenarnya adalah pria yang sangat baik yang tidak pernah menyakiti orang lain tanpa alasan yang jelas. Saat itu aku benar-benar sakit Ed. Wanita yang selama ini kuperjuangkan ternyata telah berpaling dariku. Kau benar-benar memujanya saat itu. Membenarkan semua perbuatannya dan kau tidak lagi menyalahkannya karena telah menghancurkan masa mudamu. Kau justru membujukku untuk bergabung bersama bisnis yang dirintis oleh si keparat Aciel.....”


            “Anthony...”


            Eden mendesah frustrasi sambil menenangkan Anthony agar tidak terlalu terbawa emosi. Tapi Anthony tak mengindahkan tegurannya dan tetap melanjutkan ceritanya dengan emosi yang begitu membara di kedua matanya.


            “Suatu hari kita kembali bertemu. Di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai dan yang biasa kau datangi untuk berbelanja keperluan rumah tanggamu. Kita bertemu untuk membicarakan masalah rencanaku karena aku sudah muak dan bosan menunggu. Selama  bertahun-tahun aku menahan diri agar tidak bergerak untuk membalaskan dendamku pada Aciel, tapi kau justru membujukku lagi untuk melupakan dendamku. Aku yang mulai sadar akan sikapmu memutuskan untuk segera mengambil tindakan, namun kau siang itu menolaknya dengan keras. Kau dengan terang-terangan mengatakan padaku jika kau telah berubah. Kau mencintai pria itu dan tidak mau lagi membantuku. Kau mengancam akan mengadukanku pada Aciel dan membiarkan Aciel mengambil tindakan untuk semua rencana jahat yang telah kurencanakan. Aku yang tidak terima berusaha mengejarmu. Tapi kau justru terus berlari untuk menghindariku hingga akhirnya kau tertabrak. Aku melihatmu saat itu sedang merenggang nyawa di depanku, tapi aku hanya melihatmu tanpa melakukan apapun. Aku berharap saat itu kau mati agar kau tidak bisa membeberkan rencanaku pada suamimu yang brengsek itu. Tapi aku justru dikejutkan dengan berita mengenai kondisimu yang mengalami koma. Seluruh masyarakat Vegas turut bersedih atas insiden yang menimpamu karena Aciel memiliki pengaruh yang begitu kuat di Amerika. Apalagi kau dulu adalah model berbakat yang sering mendapatkan perhatian dari masyarakat Vegas, otomatis setiap hari beritamu selalu disiarkan dan kondisimu selalu dipantau. Meskipun kau disembunyikan di dalam rumahnya yang megah, tapi beritamu terus saja berkeliaran di media elektronik. Jujur aku benci melihatmu yang bahagia bersama si keparat itu. Aku ingin membunuhmu dan malam itu aku sebenarnya berniat untuk melenyapkanmu juga setelah melenyapkan si keparat itu. Sayangnya Tuhan tidak mengijinkan aku melakukannya. Lagi-lagi aku gagal untuk yang kesekian kalinya. Aku justru semakin terpuruk dengan kehidupanku yang menyedihkan ini. Mungkin sebentar lagi hakim akan menjatuhi hukuman mati untukku karena pria itu jelas tidak akan memberikan ampunan padaku. Namun kau harus ingat Ed bahwa sejak awal kau memang ditakdirkan bersama pria itu. Sebenci apapun kau padanya, kau akan tetap berakhir dengannya karena kau adalah takdirnya. Aku ingin meminta maaf padamu karena telah melakukan banyak sekali kesalahan padamu selama ini Ed. Meskipun kau tidak mengingatnya, tapi aku adalah saksi dari kisah cintamu pada


pria itu Ed. Aciel adalah pria yang benar-benar kau cintai di masa lalu. Jadi berbahagialah dengannya. Dan kau boleh memmembenciku karena aku memang pantas untuk dibenci."


            Eden tak kuasa menahan air matanya dan ia langsung memeluk Anthony dengan erat. Meskipun ia cukup marah dengan semua pengakuan yang diberikan Anthony, namun ia juga cukup terharu pada keberanian Anthony untuk mengakuinya. Ia tahu, jauh di dalam hati Anthony, pria itu sangat baik. Namun karena memiliki dendam yang begitu besar, pria itu akhirnya berubah menjadi monster yang haus akan darah.


            “Lepaskan Eden, waktumu bersamanya sudah habis.”


            Tiba-tiba Eden merasa pelukanya dipisahkan begitu saja dan ia langsung diseret manjauhi kursi pesakitan Anthony untuk duduk di sebuah kursi khusus para saksi. Dengan gusar ia menghempaskan cekalan tangan Aciel di lengannya dan menyuruh Aciel untuk menjauh darinya karena ia masih muak pada pria itu. Seenaknya saja ia melarangnya untuk menjauhi Anthony yang notabenenya telah berkata jujur padanya, sedangkan pria itu bebas berdekatan dengan Stacie kapanpun ia mau.


            “Apa yang kau lakukan?”


            “Duduk atau aku akan mengajukan hukuman mati untuk Anthony.” perintah Aciel tegas. Eden duduk dengan wajah gusar sambil membuang wajahnya kearah lain.


            “Kau sudah melebihi batas Eden, kau harus mendapatkan hukuman setelah ini.”

__ADS_1


            “Kenapa harus aku yang mendapatkan hukuman? Padahal aku tidak melakukan apapun dengan Anthony. Justru kau yang seenaknya berdekatan dengan Stacie dan melakukan hal-hal menjijikan bersama Stacie, tapi kau tidak mendapatkan hukuman apapun. Seharusnya aku yang memberikan hukuman padamu karena kau telah menipuku! Kau selama ini selalu memaksaku untuk menerimamu menjadi suamiku dan ayah dari anakku, tapi di belakangku kau tetap saja pria jahat yang selama ini kukenal. Jangan pernah menyentuhku lagi atau mengatur hidupku lagi karena aku muak denganmu!”


            Kata-kata penuh ketegasan itu menjadi akhir dari sesi percakapan sengit mereka sebelum hakim memberikan tanda jika persidangan akan segera dimulai. Aciel yang merasa susana diantara mereka sedang tidak kondusif memilih untuk mengalah dan tidak memaksa Eden untuk beradu mulut dengannya. Niat awalnya untuk memberikan peringatan pada Eden tidak berjalan baik. Wanita itu justru membalik tuduhannya dengan mengaitkannya dengan Stacie. Sekarang ia harus meredam kemarahannya dan berusaha fokus pada jalannya persidangan.


__ADS_2