
Eden menekan bel di sisi kanan pintu kayu itu sambil sesekali memberikan tatapan tajam pada Louise, si bintang utama yang senang membuat keributan agar tidak terus menerus mengganggu Justice yang sudah tenang di samping Ciara.
Sementara itu di belakangnya ia memberikan senyuman manis pada si kembar yang tampak begitu antusias dengan biskuit di tangan mereka masing-masing karena setidaknya siang ini mereka berada di luar tembok mansion Lutherford yang tinggi dan kokoh.
“Apa aunty Laila ada di rumah mom?”
Ciara terlihat tidak yakin melihat keadaan rumah Hyena yang sangat sepi. Namun beberapa saat kemudian mereka mendengar suara langkah kaki yang terdengar terburu-buru dari dalam rumah disusul dengan suara teriakan Laila yang begitu khas dan sangat nyaring.
“Halo! Ya ampun Eden! Kau membawa pasukan sebanyak ini?”
Laila terkekeh geli meliha rombongan Eden yang begitu riuh.
Louise yang melihat Hyena berada di belakang tubuh Laila langsung menerobos masuk ke dalam rumah
tanpa mempedulikan panggilan ibunya yang begitu gusar karena sikapnya yang begitu sulit diatur seperti Aciel.
“Apa kabar Lai? Maaf aku membuat rumahmu menjadi sangat ramai dengan kedatangan kami.”
“Sama sekali tidak. Aku justru sangat senang kedatangan banyak tamu.”
Laila membalas pelukan Eden lalu mencium pipi wanita itu bergantian dengan hangat.
“Ayo masuk. Kebetulan hari ini aku sedang libur dan tidak ada jadwal dadakan di rumah sakit.”
“Sebenarnya aku sudah menanyakan jadwalmu pada Nathan.” Eden meringis kecil.
“Aku menelpon Nathan kemarin, menanyakan jadwal praktekmu dan Nathan mengatakan padaku jika hari ini kau libur. Kau tampak sangat menakjubkan Lai.”
Eden mengobservasi tubuh Laila dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak ada satupun yang terlihat aneh di matanya. Laila tampak bugar dan sangat bahagia. Gaun rumah yang ia kenakan saat ini menambah kesan segar dalam dirinya dengan potongan rambut baru yang dipotong lebih pendek dari model rambut yang sebelumnya.
“Nath tidak memberitahuku apapun. Hmm... dia pasti sengaja ingin melakukannya. Dia tahu aku sangat bosan berada di rumah selama lima bulan kemarin untuk memulihkan kondisiku. Eh tunggu sebentar, aku akan meminta Miranda membawakan kalian makanan dan minuman.”
“Tidak perlu repot-repot Lai.”
“Sama sekali tidak. Tunggu di sini. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu.”
Eden terkekeh melihat tingkah Laila yang sama sekali tidak menunjukan perbedaan setelah bed-rest selama lima bulan penuh di rumahnya. Laila masihlah wanita yang heboh dan suka kegaduhan.
Lihat saja kondisi rumahnya sekarang. Ia sengaja menyuruh Hyena untuk mengeluarkan semua koleksi mainannya dan mengajak teman-temannya bermain bersama selagi ibunya ingin mengobrol tanpa gangguan. Tapi karena hal itu, semua mainan Hyena sekarang berserakan di atas lantai. Anak-anak juga semakin ribut berteriak-teriak sesuka hati mereka sambil memainkan mainan-mainan milik Hyena yang sangat banyak.
“Kuharap kau suka jus mangga.”
“Itu minuman favoritku. Terimakasih.”
Seperti biasa, Louise merebut gelas yang akan diberikan Jesslyn pada Justice. Anak itu bersikeras ingin minum jus mangga dari gelas yang seharusnya menjadi milik Justice.
Dengan sebal Eden menarik pundaknya dan memelototinya agar ia bergenti mengganggu Justice yang kini matanya terlihat berkaca-kaca dan hampir menangis.
“Kau minum milik mommy. Jangan ganggua Justice.”
Tampak tak peduli, Louise meneguk jus mangga milik ibunya sedikit lalu kembali bermain bersama Hyena yang baru saja mengajaknya menuju taman belakang untuk memameran koleksi ikan hias miliknya.
“Maaf ya, Louise memang pengacau yang sering membuatku dan Aciel geram. Kuharap Lean tidak akan seperti Louise. Aku pusing melihat anak itu setiap kali mengganggu Ciara atau Justice.”
“Tenang Ed. Kurasa dia hanya jahil. Anak-anak memang senang bersikap seperti itu agar mendapatkan perhatian dari orangtuanya.”
“Kau benar. Setiap kali dia membuat keonaran, aku dan Aciel pasti akan langsung memperhatikannya. Dia sepertinya sama sekali tidak peduli apakah akan dimarahi atau dibelai-belai dengan lembut. Asalkan kami memperhatikannya, ia akan menunjukan sikap manis.”
“Nah, kurasa harimu sangat berwarna dan menyenangkan. Kehadiran si kembar pasti melengkapi segalanya.”
Laila menatap ke arah Lean dan Theo dengan tatapan sedih. Dalam hatinya Eden tahu jika Laila sangat ingin memiliki anak lagi agar rumahnya tidak terlalu sepi. Sayangnya Tuhan belum mengizinkannya sekarang untuk memiliki bayi.
“Mereka yang selalu menjadi obat penawar untuk kejengkelan kami pada Louise. Bahkan Aciel selalu menyempatkan pergi ke kamar si kembar setelah bekerja seharian di kantor untuk mengamati wajah si kembar yang sangat meggemaskan saat tertidur.”
“Tidak diragukan sama sekali. Aku bahkan jatuh cinta pada mereka, Ed. Ya ampun sayang kau lucu sekali.”
Dengan gemas Laila mengangkat Lean yang terlihat sangat antusias dengan Laila. Tangannya teracung
berulang kali, seperti ia sedang memamerkan biskuit yang telah berlumuran dengan air liurnya pada Laila.
“Lean menyukaimu. Akhir-akhir dia agak rewel, giginya tumbuh lagi.”
__ADS_1
“Oh sayang, itu pasti sakit sekali ya.”
Laila berceloteh dengan Lean, seolah-olah bayi itu bisa memahaminya dan mereka sedang saling mengobrol seperti sepasang teman akrab.
“Jia dia rewel Aciel tidak bisa mendekatiku sedikitpun. Katanya Leander adalah anaknya yang paling manja. Dia menyita seluruh perhatianku dan sama sekali tidak mau digendong oleh pengasuhnya jika sedang rewel.”
Laila tertawa keras mendengarkan cerita Eden. “Seandainya aku bisa melihat ekspresi kesal Aciel saat sedang kesal. Akhirnya dia memiliki rival yang sangat sulit untuk dikalahkan.”
“Dia menggerutu sepanjang malam setelah Leander tertidur. Dia kesal luar biasa tapi tidak bisa melakukan apapun. Dan kalau dia menggerutu aku akan langsung mengingatkannya pada ambisinya untuk memiliki banyak anak.”
“Dan apa yang akan dia lakukan?” Laila mengerling dengan wajah menggoda.
“Dia akan merajuk! Astaga dia benar-benar merajuk seperti bayi. Dia akan tidur memunggungiku dan membuatku berhadapan dengan punggung telanjangnya sepanjang malam. Sungguh konyol.”
Laila tertawa terbahak-bahak. Merasa sangat terhibur dengan kunjungan Eden siang ini bersama anak-anaknya yang berisik. Ia memang lebih menyukai suasana rumahnya yang ramai dengan suara anak-anak daripada suasana sepi yang sangat membosankan.
Selama lima bulan lebih beristirahat di rumah karena cedera tulang punggung, ia nyaris ingin mati jika hanya ditinggalkan sendiri di rumah ketika Nathan sibuk di rumah sakit, sedangkan Hyena berada di sekolahnya dan terkadang pulang ke rumah orangtua Nathan untuk tinggal di sana sepanjang hari karena ibu Nathan ingin dia benar-benar istirahat selama masa pemulihan.
“Kau tahu Ed, aku bersyukur ka datang hari ini. Aku agak trauma berada di rumah dalam suasana sepi. Dulu aku harus tinggal di rumah dan tidak bisa melakukan apapun. Bahkan selama satu bulan pertama, ketika aku belum melakukan fisioterapi, aku tidak bisa melakukan apapun Ed. Aku lumpuh dan tidak berguna.”
Seperti biasa Laila selalu terlihat heboh. Ia bahkan tidak bisa membayangkan Laila yang dipaksa harus menjadi diam di atas tempat tidur karena cedera yang dia alami.
“Kau dibantu oleh terapis selama masa pemulihan kan?”
“Ya ampun Ed, rasanya sangat buruk. Setiap hari aku diperlakukan seperti anak seusia Hyena oleh terapisku. Setiap aku buang air, pintu toilet harus dibiarkan terbuka. Terapisku selalu memastikan aku berada dalam jarak pengawasannya. Benar-benar gila!”
Meskipun tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh ibunya dan bibi yang sedang memangkunya, Lean tetap senang melihat tingkah heboh Laila hingga ia berkali-kali bertepuk tangan dan berusaha berdiri di atas paha Laila.
“Lean bahkan senang mendengarmu bercerita. Apa yang terjadi pada terapismu setelah itu?”
“Dia pergi setelah satu bulan bekerja di sini.” Laila tertawa mengingat kenangannya bersama si terapis berkulit hitam yang sangat menyayanginya.
“Namanya Loti. Dia sangat sabar menghadapiku yang sangat cerewet. Kau pasti tahu kan jika tetap suka bicara meskipu separuh tubuhku tidak bisa digerakan. Nah Loti ini selama sebulan selalu setia mendengarkan teriakan dan keluhan kesakitanku selama membantuku pulih dari cedera punggung itu.”
Perpisahannya dengan Loti sebenanarnya sangat menyedihkan. Mereka bahkan saling berpelukan dan berurai air mata. Tapi ia harus melepaskan Loti untuk pergi sebelum waktu yang telah disepakati.
Malam itu Loti menghampirinya dengan perasaan gelisah. Ia baru saja mendapatkan telepon dari tetangga ibunya yang menjaga ibunya di rumah, katanya ia harus pulang karena ibunya sakit stroke di rumah sakit. Sudah dua hari ibunya dirawat dan selama itu ibunya hanya ingin bertemu dengan anaknya.
Merasa tidak tega dengan kondisi ibunya yang menyedihkan, Loti merasa tidak memiliki pilihan selain meminta izin pada Laila agar ia diizinkan pulang ke kampung halamannya sebelum waktu yang telah disepakati.
“Itu luar biasa. Kau berjuang selama itu dengan berbagai macam hal yang tidak menyenangkan. Tapi... bagaimana kondisimu sekarang, Lai?”
Seakan mengerti dengan arti pertanyaan Eden, seketika keceriaan di wajahnya meredup, digantikan dengan mimik sedih yang selama ini selalu ia sembunyikan dari siapapun.
“Nathan sebenarnya tidak pernah menuntut apapun dariku. Asalkan aku sehat, dia bilang itu sudah cukup. Tapi aku tahu jika dia sebenarnya sangat ingin memiliki anak lagi. Nathan iri pada Aciel. Keluarga kalian terlihat sangat bahagia.”
“Lai, untuk saat ini yang terpenting adalah kesehatanmu. Masih ada waktu...”
“Tidak ada waktu lagi, Ed,” potong Laila cepat dengan mimik frustrasi.
“Tidak ada waktu lagi karena salah satu indung telurku sudah diangkat. Kesempatanku untuk memiliki anak sudah tidak ada lagi. Kemarin aku berkonsultasi pada temanku, dokter kandungan yang menggantikanku selama aku sakit. Katanya jumlah sel telurku sudah tidak memungkinkan untuk memiliki anak lagi.
“Aku mungkin akan menjalani prosedur pemanenan sel telur untuk menyelamatkan sedikit sel telurku yang masih tersisa. Tapi aku tidak tahu apakah sel telurku bisa digunakan untuk menjalani prosedur fertilisasi di laboratorium atau tidak.”
Wajahnya menyiratkan kefrustrasian yang mendalam. Eden benar-benar merasa prihatin melihat Laila yang tampak hancur dan rapuh, seakan-akan wanita yang saat ini sedang memangku Lean bukanlah Laila yang ia kenal.
Selama ini Laila selalu terkenal optimis. Ia memiliki banyak pasien karena pembawaannya yang sangat menyenangkan. Ia selalu bisa meyakinkan pasiennya yang pesimis dan memberi mereka sebuah harapan yang mampu membuat semangat hidup di wajah mereka kembali berkobar. Tapi kali ini Laila tampak seperti seorang pesakitan yang membutuhkan pertolongan. Jika Eden melihatnya lebih cermat, Laila sepertinya telah kehilangan bobot tubuhnya lebih banyak. Pipinya tampak tirus sekarang. Kulit di bawah matanya cekung dan agak hitam. Mungkin jika Laila tidak menggunakan makeup dan perona pipi, semua tanda kefrustrasiannya akan sangat terlihat dengan jelas di wajahnya.
“Aku yakin kau bisa melaluinya, Lai. Aku tahu bagaimana rasanya. Dan sejauh ini aku bisa melaluinya, jadi kurasa kau pasti juga bisa. Meskipun begitu nanti pasti kau akan melewati banyak kesulitan yang tidak pernah bisa kau bayangkan. Jadi tetaplah semangat selalu ada jalan keluar dalam setiap kesulitan.”
“Terimakasih Ed. Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan para pasienku ketika mereka telah kehilangan harapan dalam hidup mereka. Saat ini aku mengalaminya. Dan rasanya benar-benar buruk. Setiap malam aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Selalu ada ketakutan yang menghantuiku.”
“Mommy, boleh aku makan es krim?”
Tiba-tiba Hyena berteriak dari arah dapur. Pria itu membawa sekotak es krim ukuran jumbo di tangannya dan tampak memohon pada Laila agar diizinkan memakan es krim coklat favoritnya.
Sementara itu di sebelahnya Louise ikut menunjukan wajah memohon pada Laila yang kini tampak sedikit linglung menatap wajah anak-anak itu.
“Kau boleh. Jangan lupa berbagi dengan yang lain.”
“Itu yang juga dilakukan Louise di rumah. Jika teman-temannya datang, ia akan mengambil kesempatan untuk memakan makanan yang sering kularang untuk dimakan setiap hari.”
__ADS_1
“Apa es krim oke?”
“Tidak apa-apa untuk dia. Hanya saja Louise suka menghabiskan sekotak es krim ukuran jumbo sekaligus jika aku lupa menyembunyikannya. Dia bisanya akan muntah-muntah dan demam jika terlalu banyak makan es krim. Tapi jika sudah sembuh, dia seperti lupa.” Eden menggerutu dengan lucu, dan itu sangat menghibur Laila.
“Nah, sampai dimana kita tadi?”
Laila mengangkat bahunya sekilas. “Sekarang aku sudah merasa lebih baik. Maksudku saat aku sudah kembali lagi ke rumah sakit, aku menjadi sedikit lupa pada masalahku. Salah satu temanku menyarankan untuk melakukan surogasi untuk memperkecil risiko.”
“Menggunakan ibu pengganti maksudmu?” Eden membelalakan mata terkejut.
“Begitulah. Itu pilihan terakhir jika aku tidak bisa hamil karena kondisi tubuhku tak memungkin untuk itu. Aku pernah membicarakan hal itu pada Nathan dan dia setuju. Apapun yang bisa membuatku bahagia, dia akan menyetujuinya.”
“Berbeda dengan Aciel, dia sangat menentang hal itu. Dulu sebelum aku hamil si kembar, Aciel selalu merengek untuk punya bayi. Lalu aku dengan bercanda pernah menyarankannya agar melakukan surogasi. Tapi reaksinya setelah itu menjadi luar biasa marah. Dia menentang keras hal itu. Katanya aku akan menodai sebuah proses kehamilan yang suci dan sakral. Sejujurnya aku agak terkejut dengan jalan pikirannya. Aciel bilang sebuah kehamilan akan menciptakan ikatan batin yang kuat antara ibu dan anak. Bila kami melakukan surogasi, itu seperti ia sedang berselingkuh dengan wanita lain. Pokoknya dia benar-benar memiliki pikiran yang sangat rumit dan sangat menentang hal itu.”
“Mommy! Baju Justice kotor terkena es krim.”
Ciara berlari dari arah dapur sambil menarik lengan Justice yang wajahnya telah dipenuhi oleh noda es krim coklat.
“Hmm... bantu Justice membersihkan wajahnya dengan tisu. Nanti bajunya harus segera dicuci setelah tiba di rumah.”
“Mommy, Louise yang melakukannya.”
“Oke sayang, nanti mommy akan memarahi Louise. Ciara, jangan lupa buang tisu kotor ini ke tempat sampah.”
“Oke mommy. Justice ayo kita melihat kucing Hyena di kebun belakang.”
Kedua anak perempuan itu segera menghilang di balik pintu ganda yang menghubungkan antara ruang depan dengan dapur.
Laila yang melihat itu menunjukan senyum prihatinnya ke arah Justice. Selama sakit, ia tahu tentang kondisi rumah tangga orangtua Justice yang tidak baik-baik saja. Nathan selalu menceritakan padanya perkembangan pencarian Olivia ketika dia diculik dulu. Dan sekarang ia sangat yakin bahwa kondisi orangtua Justice belum membaik dan tidak pernah sama lagi seperti dulu.
“Bagaimana Olivia? Aku belum bertemu dengannya sejak Nathan memberitahuku jika Olivia sudah kembali bersama Sian.”
Mendengar pertanyaan Laila, Eden refleks menghembuskan nafas berat.
“Buruk. Dia mengalami banyak masalah sejak Scout masuk ke dalam hidupnya. Meskipun sekarang pria itu
telah mati, tapi penderitaan Olivia masih terus berlanjut. Sian tidak bisa menerima kehadiran anak Scout. Padahal dulu Sian berjanji akan menganggap bayi itu seperti anaknya sendiri, tapi selama ini kulihat Sian belum bisa. Hal-hal seperti itu tidak mudah untuk dilakukan.”
“Sejujurnya aku merasa prihatin dengan kondisi Olivia. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuknya. Kondisiku juga sama buruknya dengannya. Bisa dikatakan saat ini hanya kau yang memiliki kondisi yang stabil.”
Eden tersenyum dengan lembut sambil meletakan telapak tangannya di paha Laila. “Aku bersyukur atas hal itu. Sungguh ini sangat menakjubkan untukku.”
Dia sudah melewati terlalu banyak masalah sejak ayahnya meninggal. Ia tidak membutuhkan masalah rumit lagi saat ini dan hanya ingin ketenangan. Ia ingin memiliki kebahagiaan yang sudah lama hilang dari hidupnya. Dan saat inilah waktunya ia mendapatkan kebahagiaan itu bersama suami serta anak-anaknya yang menggemaskan.
“Jika saatnya tiba, kau akan menemukan kebahagiaanmu, Lai. Itu hanya soal waktu. Kau diberi masalah ini karena Tuhan tahu kau bisa melewatinya.”
“Thanks Ed. Kau sangat menghiburku. Sejujurnya aku merasa sangat depresi dengan kondisiku akhir-akhir
ini. Aku hampir lupa pada teman-temanku yang sedang menghadapi masalah. Kudengar Jessica juga bermasalah dengan pakaian rancangannya.”
“Sudah teratasi dengan baik. Semalam Aciel memberitahuku. Kasus itu dimenangkan oleh Jessica meskipun uang yang dikeluarkan untuk kasus itu juga sangat banyak. Tapi setidaknya itu terbayar dengan kemenangan yang didapatkan Jessica.”
Laila mengangkat bahu sekilas.
“Kurasa kita sudah lama tidak berkumpul. Yeah, kenangan liburan kita yang paling berkesan adalah saat Justice berulangtahun di villa itu. Astaga, aku benar-benar merindukan moment itu. Kau tahu, saat itu semua orang berbahagia tanpa harus dibebani dengan masalah-masalah yang rumit ini.”
Eden memasang wajah prihatin. Tak bisa dipungkiri jika ia juga sangat merindukan berkumpul bersama teman-temannya.
“Ngomong-ngomong soal pesta, kami memiliki pesta ulangtahun si kembar dua minggu lagi. Bagaimana menurutmu?”
“Kenapa?” tanya Laila tak mengerti.
Saat ia menoleh ke bawah, ke arah Lean yang sudah tidak seaktif sebelumnya, ia langsung memekik kecil ketika melihat bayi itu sudah jatuh tertidur di pangkuannya tanpa ia sadari.
“Ya ampun, dia tertidur mendengarkan dongeng milik kita yang sangat panjang.”
“Berikan padaku. Akan kuletakan di stroller bersama Theo. Ini memang sudah saatnya dia tidur siang.”
Eden berdiri untuk meletakan Lean dengan sangat hati-hati ke dalam strollernya agar bayi tampan itu tidak terbangun. Sambil menunduk untuk mengecup pipi putranya, Eden bertanya pada Laila, “Jadi bagaimana?”
“Aku sangat setuju. Itu ide yang sangat brilian. Kurasa kita memang membutuhkan waktu untuk saling berbicara dan keluar dari rutinitas kita yang sangat memuakan.”
__ADS_1
Setelah Eden selesai dengan urusan Lean, ia segera berdiri di sebelah Laila. Wajahnya menunjukan senyum merekah yang tampak berbinar-binar. Lalu beberapa detik kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan segera terlibat dalam pembicaraan serius dengan Aciel.
“Hi Aciel, aku berubah pikiran. Kita akan mengadakan pesta ulangtahun untuk si kembar.”