Black Swan

Black Swan
Perhaps Love (Sixty Three)


__ADS_3

            “Mommy... mommy...”


            Eden mengerutkan dahinya pelan sambil menggeliat beberapa kali di atas ranjangnya. Sentuhan-sentuhan menggelikan dari tangan mungil Ciara di pipinya membuat Eden mau tak mau membuka matanya untuk menyapa putri cantiknya. Meskipun sebenarnya ia masih ingin terlelap karena tubuhnya terasa remuk pagi ini. Entah apa yang dilakukan Aciel padanya semalam. Yang jelas pria itu memaksanya untuk menirukan setiap adegan yang dipertontonkan di dalam televisi hingga rasanya ia benar-benar mual saat mengingatnya sekarang.


            “Mommy.. mommy sakit? Ada Jessica aunty di bawah.”


            Ciara menciumi wajah Eden berkali-kali dengan bekas bibirnya yang terasa lengket di pipi Eden. Namun Eden senang saat Ciara melakukannya karena gadis kecil itu terlihat sangat memperhatikannya.


            “Tidak sayang, mommy baik-baik saja. Jessica aunty? Jessica teman ti...” Eden langsung menghentikan kalimatnya saat dirasa Ciara tampak begitu bersemangat mendengarkan ucapannya. Ia lupa jika ia sedang berhadapan dengan Ciara saat ini.


            “Kenapa moms?”


            “Bukan apa-apa sayang.” ucap Eden cepat sambil mengelus surai lembut milik Ciara. Ia lalu beranjak dari ranjangnya dan segera mencuci wajahnya di dalam kamar mandi. Setelah itu ia kembali lagi pada Ciara sambil membawa sisir di tangannya.


            “Untuk apa Jessica aunty ke sini?” Sambil menyisir rambutnya yang kusut, Eden berbicara sambil menunjukan wajah gusarnya pada Ciara. Ia pikir Jessica sudah pergi dan tidak akan mengganggu kehidupannya bersama Aciel, tapi nyatanya wanita itu masih saja menempeli Aciel seperti lintah.


            “Sudah lama aunty Jess tidak datang bersama Kris uncle. Aunty Jess juga akan memiliki bayi moms.” cerita Ciara antusias. Seketika Eden mengerutkan alisnya, dan menolehkan kepalanya penuh tanda tanya kearah Ciara.


            “Sebenarnya apa saja yang telah mommy lewatkan selama ini?” erang Eden frustrasi. Ia yakin jika ia telah melupakan banyak hal selama ia mengalami koma dan amnesia.


            “Kalau begitu ayo kita turun dan menemui Aunty Jessmu sayang, sebelum mommy pergi ke kantor polisi.”


            Hari ini ia harus pergi ke kantor polisi untuk melanjutkan proses hukuman Anthony. Hari ini setidaknya ia harus bertemu Anthony dan membantu pria itu untuk mencari pengacara yang tepat agar kasus percobaan pembunuhannya ia lakukan segera diproses.


            “Mommy... Ciara ingin bermain bersama mommy..” ucap Ciara manja. Sebentar saja gadis itu sudah bergelayut di lengan Eden saat mereka sedang menuruni anak tangga berbentuk melingkar di mansion Aciel. Melihat Ciara yang begitu manja padanya membuat hati Eden seketika menghangat. Kini ia merasa ikatan batinya dengan Ciara telah berkembang lebih kuat. Sekarang ia benar-benar bisa menerima Ciara sebagai putrinya karena mereka memiliki kemiripan dalam beberapa hal. Seperti dua hari yang lalu saat akan membuatkan sandwich untuk Ciara, salah satu maid di rumah itu memperingatkan Eden agar tidak menggunakan selai kacang karena Ciara memiliki alergi pada kacang. Selain kacang, Ciara juga tidak suka minum teh, sama sepertinya yang hanya menyukai satu jenis teh, yaitu teh hijau. Dan semakin lama ia semakin menemukan banyak kesamaan pada Ciara. Hal itulah yang akhirnya membuat Eden yakin jika Ciara benar-benar putrinya yang telah ia lahirkan dari rahimnya. Tapi yang masih menjadi ganjalan untuk Eden adalah masalah untuk menerima Aciel. Andai Aciel bukan pria dengan berbagai masalah yang kompleks, mungkin ia akan lebih mudah menerima pria itu. Tapi sayangnya Aciel adalah pria yang masih terasa asing untuk Eden. Bahkan ia tidak tahu bagaimana latar belakang Aciel sebelumnya, lebih tepatnya ia kehilangan semua informasi mengenai Aciel. Sehingga ia benar-benar harus memulainya lagi dari awal. Ia harus memperhatikan setiap perilaku yang ditunjukan oleh pria itu. Tapi sayangnya mereka lebih sering terlibat pertengkaran, sehingga ia tidak pernah bisa memperhatikan Aciel dengan baik.


            “Ciara sayang, apa daddymu sudah pergi ke kantor?”


            “Sudah mom.” jawab Ciara cepat bersamaan dengan suara berisik yang terdengar begitu melengking dari arah ruang tengah. Dari tempatnya berdiri Eden dapat melihat seorang wanita berperut cukup buncit yang sedang menggendong Louise sambil berbicara cukup keras pada Sian dan satu orang pria yang Eden tebak sebagai Kris. Eden lalu hanya memutar bola matanya malas karena akhirnya ia harus bertemu dengan Jessica lagi setelah entah berapa lama ia tidak bertemu dengan wanita itu.


            “Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika Aciel mengalami penyerangan kemarin dan Eden mengalami kecelakaan? Teman macam apa kau ini Sian.”


            Jessica terus saja berteriak-teriak dengan gaya galaknya tanpa menyadari keberadaan Eden yang telah berdiri di belakangnya. Eden yang melihat Jessica mengagetkan anaknya yang sedang tertidur di dalam dekapan wanita itu tampak ingin segera merebut Louise untuk ia amankan, namun ia merasa sedikit sungkan karena saat


ini dua pria itu sedang bergantian menatap kearahnya.


            “Hai Eden.” akhirnya seorang pria yang Eden tebak sebagai Kriss menyapanya dan membuat Jessica seketika berbalik sambil membelalakan matanya lucu.


            “Eden! Ya ampun sayang, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja setelah kecelakaan itu?” Jessica terlihat ingin memeluknya atau melakukan sesuatu pada Eden, namun gerakannya langsung terhenti saat ia sadar jika ia sedang menggendong Louise yang mulai bergerak rewel.


            “Dia amnesia Jess, mungkin ia sedikit lupa padamu dan Kris. Eden, ini suami Jessica, Kriss.” Sian yang mengetahui kebingungan yang tercetak jelas di wajah Eden mencoba mengurainya agar wanita itu tidak merasa pusing karena kemunculan orang baru di hadapannya.


            “Kau melupakanku Ed?”


            “Emm... sedikit. Aku tidak ingat jika kau sudah menikah. Tapi selamat untuk pernikahan dan juga kehamilanmu.” ucap Eden berusaha tegas sambil melirik perut buncit Jessica. “Sudah berapa bulan?” tanya Eden ramah. Ia yang melihat Jessica mulai kewalahan dengan gerakan-gerakan Louise yang rewel segera mengambil alih bayi mungilnya dari gendongan Jessica.


            “Oh, sudah memasuki bulan ke delapan. Eden maaf, aku tidak tahu jika kau baru saja mengalami kecelakaan dan amnesia.”


            “Aku tidak apa-apa, hanya perlu sedikit menyesuaikan diri dengan keadaan yang sedikit asing ini. Ssshh ssshhh....” Dengan naluri ibunya Eden mencoba menenangkan Louise sambil beberapa kali menimang bayi itu agar diam. Eden lalu bertanya pada pengasuh Louise yang kebetulan lewat di ruang tengah. “Apa Louise sudah meminum susunya?”


            “Pagi ini sudah nyonya, tapi tuan muda Louise mungkin masih lapar.”


            “Baiklah, nanti aku akan memberinya ASI lagi.”


            “Mommy...”


            “Ada apa sayang? Apa kau ingin mommy memasakan sesuatu untukmu? Kau sudah makan?” tanya Eden lembut pada Ciara yang sedang menarik-narik ujung bajunya. Eden sudah bertekad untuk menjadi ibu yang sempurna untuk Ciara. Dan ini adalah salah satu bentuk tanggungjawabnya pada Ciara. Ia akan memastikan jika putrinya makan dengan makanan bergizi hasil masakannya, bukan masakan dari para pelayan.


            “Ciara ingin omellet dengan taburan keju.” pinta Ciara dengan wajah berbinar-binar.


            “Baiklah, setelah mommy memberi adik kecilmu ini makan, mommy akan membuatkan omellet untukmu. Sekarang kau  bermain dulu bersama paman-paman dan juga aunty Jessmu yang cantik. Emm.. aku akan pergi sebentar untuk menidurkan Louise lagi, aku titip Ciara bersama kalian.” pamit Eden sebelum berjalan pergi meninggalkan ruang tengah.


            Setelah Eden benar-benar pergi, Jessica langsung berbalik pada Sian sambil berkacak pinggang dengan tampang galak. “Kenapa kau tidak pernah menceritakan apapun padaku Sian?”


            “Aku sibuk Jess, ada terlalu banyak masalah akhir-akhir ini.” desah Sian lelah. Ia bahkan hari ini meminta ijin pada Aciel untuk libur karena ia sudah terlalu lelah dengan masalahnya.


            “Kau juga kenapa? Ada yang tidak beres denganmu.” selidik Jessica curiga. Sian hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia merasa belum saatnya menceritakan soal Olivia pada Jessica. Apalagi dengan sikap heboh wanita itu, ia hanya akan menjadi lebih pusing karena suara melengking Jessica.


            “Aku baik-baik saja. Lebih baik kau duduk dan temani Ciara bermain. Tidak baik wanita hamil berteriak-teriak seperti itu, apalagi marah-marah. Kau ingin anakmu memiliki sifat galakmu?”


            “Aku tahu kau sedang mengalihkan pembicaraan Sian. Tapi apapun itu masalahmu, aku selalu siap untuk mendengarkannya jika kau membutuhkan teman berbagi.”


            “Ck, lebih baik aku tidak bercerita padamu. Kau berisik Sica.” balas Sian menyebalkan sambil berlalu pergi begitu saja. Tak ia hiraukan suara melengking Jessica yang terdengar gusar, Sian akhirnya menghilang dibalik kamarnya dan memutuskan untuk tidur.


-00-


            Siang menjelang sore itu sebuah mobil mewah terlihat terparkir dengan rapi di halaman luas kantor kepolisian pusat Vegas. Seorang pria dengan stelan jas hitamnya dan dasi hitam yang terpasang sempurna di lehernya terlihat menuruni mobil itu sambil memandang bangunan di depannya cukup lama. Sebenarnya ia tidak ingin mendatangi kantor polisi ini, apalagi untuk mengurusi masalah dari seseorang yang sangat dibencinya. Tapi jika ia tidak turun tangan untuk masalah itu, ia tidak yakin Eden dapat mengatasinya. Eden terlalu lambat dan ia tidak tahu prosedur apapun untuk memproses kasus kejahatan seperti yang dilakukan Anthony padanya. Dan jika ia membiarkan Eden yang mengurus semuanya, ia tidak yakin Anthony akan mendapatkan hukuman yang tepat karena wanita itu masih memiliki rasa pada hama menyebalkan itu.


            “Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?”

__ADS_1


            Seorang opsir polisi menyapa Aciel sambil tersenyum ramah padanya. Aciel menatap opsir itu sekilas dan segera mengatakan maksud dan tujuannya datang ke kantor polisi.


            “Baiklah, mari ikut saya, saya akan...”


            “Tidak perlu.” potong Aciel cepat. Opsir polisi itu seketika menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Aciel dengan wajah bingung.


            “Katakan saja apa Stacie berada di ruangannya atau tidak? Aku bisa pergi ke sana sendiri.” ucap Aciel dengan gaya angkuhnya. Opsir polisi yang belum mengetahui siapa Aciel sebenarnya tampak jengkel dan menilai Aciel sebagai pria sombong.


            “Tapi lebih baik saya mengantarkan anda tuan.” ucap opsir polisi itu lembut namun terdengar seperti dipaksakan karena ia memang sedang menahan rasa jengkel di hatinya.


            “Pangkatmu di sini hanya polisi rendahan, seharusnya kau tidak bersikap sombong seperti ini dengan menantang perintahku. Jika Komisaris Edburg mengetahuinya, kau akan segera dipecat.”


            Opsir polisi itu terlihat terkejut dengan ucapan Aciel. Ia merasa pria itulah yang sombong karena ia hanya melaksanakan perintah yang tertulis dalam protokol kepolisian. Ingin rasanya ia membentak Aciel yang telah berlaku semena-mena di hadapannya. Tapi sayangnya Aciel bukan orang sembarangan, ia mengenal komisaris


Edburg, dan jika ia memenuhi egonya hanya untuk membalas perilaku sombong di depannya, ia bisa-bisa kehilangan pangkat yang susah payah ia dapatkan dari camp pelatihan.


            “Selamat siang tuan Lutherford.”


            Seorang polisi dengan pangkat yang lebih tinggi tiba-tiba datang untuk memecah ketegangan diantara rekan kerjanya dan juga Aciel. Pria itu tersenyum ramah pada Aciel, lalu mengusir opsir polisi itu dengan gerakan tangannya dan suara bibir yang disamarkan.


            “Pergilah, aku saja yang tangani dia.” bisik polisi itu sambil mendorong Tyler pergi.


            “Ada apa senior? Siapa sebenarnya pria sombong ini?” bisik Tyler di telinga Dodge. Dodge lantas kembali berbisik pelan di samping Jinri agar juniornya itu paham dan tidak terus menerus membahayakan pekerjaanya karena menantang Aciel.


            “Ssstt... dia adalah pengusahan kaya di Vegas, mantan kekasih kapten Stacie.”


            “Apa? Kenapa kapten Stacie memiliki kekasih seperti dia?” bisik Tyler lagi. Dua polisi itu justru sibuk bergosip tanpa mengindahkan Aciel yang terlihat sudah jengah di depannya. Apalagi dua polisi itu jelas-jelas sedang membicarakan dirinya dengan suara bisikan mereka yang terasa sangat keras di telinganya.


            “Kalian seperti wanita, suka bergosip! Kalian tidak pantas menjadi polisi.”


            Aciel kemudian berlalu begitu saja tanpa mempedulikan raut terluka dari dua polisi yang sejak tadi membicarakannya. Tyler yang memiliki emosi yang menggebu-gebu terlihat marah dan ingin mengejar Aciel untuk memprotes ucapan pria itu. Namun gerakannya segera dicegah oleh Dodge karena jika ia nekat mengusik seorang


Aciel, maka ia akan mendapatkan balasan yang sangat mengerikan.


            “Sudahlah! Jangan pernah mencari masalah dengan Aciel jika kau masih ingin hidup tenang dengan keluargamu. Kau tidak ingin bernasib sama bukan seperti tahanan kita yang bernama Anthony.”


            “Memangnya ada apa dengan Anthony? Aku baru saja dipindahkan ke kantor pusat tiga hari yang lalu, jadi aku belum mengetahui apapun yang terjadi di kantor ini.”


            “Dia mendapatkan siksaan yang sangat mengerikan. Itulah kenapa hingga saat ini Anthony belum mendapatkan keadilan, karena tuan Lutherford belum menghendakinya. Pria itu sepertinya baru akan mengurus masalah hukuman untuk Anthony setelah memastikan jika pria itu cukup tersiksa berada di penjara ini.”


            Tyler melongo tak percaya dengan cerita Dodge. Sekarang ia sadar jika ia baru saja menantang seorang lawan yang tidak sebanding dengannya.


-00-


            “Aciel... masuklah.”


            Aciel tersenyum manis pada Stacie dan melangkah dengan tenang ke dalam ruangan milik wanita itu.


            “Tumben kau datang ke kantorku? Apa kau ingin membahas masalah Anthony?” tebak Stacie sambil menutup pintu ruangannya. Wanita itu kemudian berjalan ke sudut ruangan kantornya untuk mengambil sekaleng bir dari dalam kulkas mininya.


            “Bagaimana proses hukumnya? Eden belum datang untuk membahas masalah pengacara?” tanya Aciel. Stacie menggeleng dan mendudukan dirinya di sebelah pria itu.


            “Istrimu belum datang lagi sejak kau terakhir kali mengajaknya ke sini. Tapi kami telah memberikan hukuman yang berat pada tahanan itu. Beberapa hari yang lalu kami memasukannya ke dalam ruangan dengan suhu minus sepuluh derajat. Dan baru pagi ini ia keluar dalam keadaan hipotermia. Apa kau masih ingin memberikan hukuman padanya lagi?”


            Aciel terdiam sejenak. Ia tentu ingin pria itu mati selama ia memberikan hukuman. Tapi sayangnya Tuhan masih menyayangi pria itu, hingga pria itu masih bisa bertahan hidup sejauh ini. Ia tidak bisa lagi memberikan hukuman pada Anthony karena Eden akan kembali membencinya jika wanita itu tahu jika Anthony diperlakukan dengan tidak baik di dalam penjara.


            “Hentikan penyiksaannya. Sembuhkan saja dia agar ia terlihat baik-baik saja saat bertemu Eden.” perintah Aciel tegas. Stacie mengangguk mengerti. Wanita itu kemudian menatap Aciel serius sambil memegang pundak Aciel agar pria itu juga menghadap kearahnya.


            “Apa kau sangat mencintai istrimu?”


            Aciel melihat adanya sorot kesedihan di mata Stacie. Ia tahu jika Stacie sangat mencintainya, bahkan wanita itu sempat menentang keputusan ayahnya untuk berkuliah di luar negeri karena ia ingin terus bersamanya di Vegas. Tapi berakhirnya hubungan mereka bukan karena Stacie harus melanjutkan studinya ke Colombia. Ia jelas bukan jenis pria seperti itu, jika ia benar-benar menginginkannya, ia akan terus berusaha untuk mendapatkannya. Tidak peduli jika keinginannya itu akan membuat orang lain terluka. Sayangnya Stacie selalu menganggap kepergiannya ke Colombialah yang membuat ia memutuskan hubungan mereka.


            “Tentu saja, untuk apa aku menikahinya jika aku tidak mencintainya.” ucap Aciel apa adanya. Stacie tampak menghembuskan napas berat di sebelahnya sambil menunduk sedih.


            “Seharusnya dulu aku tidak meninggalkanmu ke Colombia. Aku menyesal telah menuruti


permintaan ayah karena aku masih sangat mencintaimu Ace.”


            “Ini bukan karena masalah itu, jadi jangan mengungkit-ungkit masa lalu lagi. Berbahagialah dan carilah pria yang benar-benar mencintaimu.”


            “Tapi aku tidak bisa. Aku selalu memikirkanmu Ace. Jika ini bukan karena kepergianku ke Colombia, lalu karena apa? Aku tahu kau tidak benar-benar mencintai istrimu. Aku tahu bagaimana tipe wanitamu selama ini. Kau pasti hanya kasihan padanya karena ia mengemis-ngemis cinta padamu, bukan begitu?”


           Aciel tampak tak terkejut sama sekali ketika Stacie sengaja menjelek-jelekan Eden di depannya. Stacie adalah wanita penuh ambisi, jadi ia pasti akan melakukan segala hal untuk mendapatkan keinginannya. Apalagi ia adalah seorang kapten di markas kepolisian pusat Vegas, ia memiliki banyak anak buah yang bisa ia manfaatkan untuk memenuhi ambisinya.


            “Karena aku tidak mencintaimu.”


            “Sejak kapan pria sepertimu mengedepankan cinta? Aku yakin kau bertahan dengan istrimu bukan hanya karena cinta. Sekarang lihat aku, aku memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bagus. Aku yakin, aku bisa memuaskanmu lebih dari apa yang isterimu berikan padamu.” ucap Stacie penuh emosi. Kini tangan yang sebelumnya bertengger di bahu Aciel telah berpindah ke sisi dada Aciel. Wanita itu sengaja membelai dada Aciel dengan gerakan provokatif agar Aciel bergairah padanya. Ia tidak peduli jika saat ini mereka sedang berada di dalam markas kepolisian. Ia hanya ingin memiliki Aciel untuk dirinya.


            “Stacie, kita sedang berada di markasmu.” peringat Aciel tajam sambil menatap mata Stacie yang sejak tadi terus menggodanya.

__ADS_1


            “Aku tidak peduli Ace, aku hanya ingin memilikimu untuk diriku sendiri.”


Brukk


            Aciel mendorong tubuh Stacie ke belakang dan menindih tubuh mungil Stacie di bawahnya. Melihat Aciel yang menyambut godaanya, Stacie semakin bersemangat untuk menjerat Aciel ke dalam pelukannya. Jari-jari lentik Stacie kini mulai menjalar ke permukaan wajah Aciel dan membelainya dengan gerakan lembut.


            “Aku mencintaimu Ace, sangat.”


             Stacie menarik kepala Aciel semakin mendekat kearahnya untuk menggapai bibir tipis Aciel yang terlihat seksi itu. Namun Aciel menghentikan gerakan kepalanya tepat di depan bibir Stacie. Pria itu menyeringai dan berbisik pelan di depan wajah Stacie hingga membuat tubuh Stacie menegang setelah mendengarnya.


-00-


            Dilain tempat, Eden tampak terkejut ketika melihat adegan yang sangat tidak pantas itu di depannya. Wanita itu mematung di depan pintu dan langsung menutup pintunya dengan pelan. Niat awalnya untuk bertemu Stacie ia batalkan karena ia tidak ingin mengganggu kebersamaan suaminya dengan wanita itu.


            Suaminya....


            Eden merasa sakit ketika melihat Aciel sedang bersama Stacie di dalam ruangan wanita itu. Apalagi posisi mereka berdua benar-benar sangat intim. Hal itu tidak bisa diabaikan oleh Eden begitu saja. Ia marah! Saat ini ia marah. Tapi ia tidak tahu, untuk siapa ia marah. Bukankah seharusnya ia tidak marah jika ia tidak mencintai Aciel. Untuk apa ia marah ketika pria itu sedang bersama mantan kekasihnya. Bukankah ia dapat menggugat cerai pria itu dengan alasan ini? Tapi nyatanya saat ini hatinya sakit. Dan ia merasa ingin menangis saat ini karena hatinya sesak.


            “Ed, kenapa kau sudah kembali?”


            Sian yang siang ini ia seret untuk mengantarkannya ke kantor polisi menatap Eden heran karena wanita itu baru saja masuk untuk bertemu dengan Stacie, tapi sekarang wanita itu sudah berdiri lagi di samping mobilnya dengan wajah menunduk.


            “Kapten itu sedang memiliki urusan.”


            Eden mendongakan wajahnya sambil memasang wajah seceria mungkin agar Sian tidak curiga. Ia tidak mau Sian tahu jika saat ini ia sedang patah hati.


            “Kenapa kau tidak menunggunya? Dan Aciel sepertinya juga ada di dalam.”


            Sian menunjuk mobil milik Aciel yang terparkir rapi di halaman parkir markas. Melihat itu Eden langsung mencari-cari alasan di dalam kepalanya untuk mengatasi kecerewetan Sian. Tidak mungkin ia mengtakan pada Sian jika urusan yang sedang dilakukan oleh Stacie adalah bercinta dengan Aciel.


            “Aku tidak bertemu Aciel di dalam, mungkin ia sedang memiliki urusan dengan komisaris Edburg. Bukankah Aciel dan komisaris Edburg juga dekat?”


            Eden cepat-cepat masuk ke dalam mobil milik Sian dan menyuruh pria itu untuk segera pulang dengan alasan ia sudah terlalu lama meninggalkan Ciara di rumah.


            “Kau benar ingin pulang? Tidak ingin menjenguk Anthony?”


            Eden menggelengkan kepala cepat tanpa menoleh kearah Sian. Bahkan saat ini ia merasa tidak berminat untuk bertemu Anthony. Hatinya terlanjur sakit karena melihat kedekatan suaminya dengan Stacie. Rasanya ia sangat membenci dirinya sendiri sekarang. Seharusnya ia tidak perlu berdamai dengan hatinya dan mengijinkan


pria itu masuk ke dalam hatinya terlalu jauh. Sekarang saat ia sudah memberikan celah bagi Aciel untuk mengisi hatinya, pria itu justru kembali berhubungan dengan mantan kekasihnya yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan dirinya. Ini salahnya. Ia terlalu menganggap tinggi dirinya hingga ia tidak sadar jika ]ia sama sekali tidak sebanding dengan Aciel. Aciel memang lebih pantas mendapatkan Stacie Edburg, bukan dirinya!


            “Ed... Sepertinya kau sedikit aneh sejak keluar dari kantor polisi, ada apa?”


            Sian tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia tahu ada yang tidak beres dengan istri sahabatnya itu. Tapi Eden memiliki harga diri yang terlalu tinggi hanya untuk mengungkapkan rasa sedihnya.


            “Hah? Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya memikirkan kehidupanku.” bohong Eden. Sian mengerutkan alisnya dan menoleh sekilas kearah Eden.


            “Apa lagi yang kau pikirkan? Bersenang-senanglah, manfaatkan semua fasilitas yang Aciel berikan padamu. Jangan membuat hidupmu sulit karena itu akan memperlambat proses pengembalian ingatanmu.”


            Eden mendecih kesal dalam hati tanpa berniat untuk menanggapi ucapan Sian. Baginya lebih baik ingatan itu tidak kembali karena jik ingatan itu kembali, ia akan menjadi Eden yang mencintai Aciel. Ia pasti akan menjadi wanita bodoh yang mempercayai semua ucapan suaminya tanpa tahu jika di luar sana Aciel memiliki banyak wanita simpanan yang siap untuk memberikan kepuasan pada pria itu.


-00-


            Stacie mematung di tempat dan menghentikan niatnya untuk mencium bibir Aciel.


            “Kau tidak memiliki tatapan ketakutan seperti Eden. Tatapan matamu sama seperti *******-******* yang dulu pernah bersamaku. Jadi kau tidak pantas untuk bersanding bersamaku.”


            Setelah mengucapkan kata-kata menyakitkan itu, Aciel segera bangkit sambil merapikan letak dasinya yang sedikit miring akibat perbuatan Stacie.


            “Selama ini aku hanya diam dan membiarkanmu berpikir sesuka hatimu karena aku tidak ingin kau terluka. Aku cukup menghormatimu sebagai putri dari komisaris Edburg. Tapi apa yang kau lakukan hari ini benar-benar membuatku menyesal karena telah bersikap baik padamu. Sebenarnya jika aku mau, aku bisa saja menikahimu tanpa mempermasalahkan proses studi yang akan kau tempuh di Colombia. Tapi kemudian aku sadar jika aku tidak membutuhkan istri sempurna yang berpendidikan, kaya, ataupun memiliki latar belakang keluarga yang baik. Aku membutuhkan istri yang dapat melengkapi kekuranganku.”


            “Aku bisa melakukannya.” ucap Stacie lirih dengan air mata yang mulai membanjiri kedua matanya. Wanita itu tampak hancur dengan kata-kata pedas Aciel yang sangat menyakitkan itu. Tapi Aciel tak memiliki pilihan lain. Sikapnya yang tidak tegas justru membuat Stacie berpikiran salah tentangnya.


            “Tidak, kau tidak bisa. Awalnya aku memang merasa nyaman ketika berada di dekatmu. Kau memahami duniaku dan kita bisa menjadi partner mengobrol yang cocok. Tapi semakin lama aku merasa bosan. Kehadiranmu di sisiku tak ada bedanya dengan rekan-rekan bisnisku di luar sana. Kau dan aku tak ubahnya seperti sepasang sahabat. Dan dalam kehidupan rumah tangga aku memerlukan seseorang yang kedudukannya lebih dari sahabat. Seseorang yang berbeda denganku agar kami saling melengkapi. Eden memang bukan berasal dari keluarga yang sempurna seperti milikmu, bahkan ibunya pergi meninggalkannya bersama pria lain disaat Eden masih sangat kecil. Tapi ia memiliki sisi keibuan yang lembut, ia menyayangiku dengan tulus, dan ia tidak memiliki tatapan menggoda yang menjijikan sepertimu. Jadi jika kau sama sekali tidak sebanding dengan Eden, karena kau lebih rendah dari Eden. Mulai besok aku akan meminta komisaris Edburg untuk mengurus masalah Anthony, jadi jangan coba-coba mengambil alih tugas itu karena aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”


            Setelah mengatakan kata-kata menyakitkan itu Aciel segera melangkah pergi dari ruangan Stacie tanpa mempedulikan perasaan sakit yang ia torehkan di hati wanita lembut itu. Rasanya ia sangat muak karena keputusannya untuk menjaga perasaan Stacie justru disalahartikan oleh wanita itu.


            “Komisaris Edburg, aku ingin kau yang melanjutkan proses hukuman untuk tersangka Anthony. Berikan sidang pembelaan untuknya besok, dan aku akan datang bersama istriku.”


            Komisaris Edburg terlihat terkejut dengan kedatangan Aciel ke ruangannya yang tiba-tiba.


Apalagi pria itu datang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Seluruh tubuhnya terasa dilingkupi oleh aura kemarahan yang sangat pekat hingga rasanya tuan Edburg tidak berani membantah permintaan Aciel untuk segera memproses hukuman untuk Anthony. Merasa tidak mengerti dengan situasi yang terjadi pada Aciel, tuan Edburg


meminta Aciel untuk duduk terlebihdahulu di sofa nyaman yang tersedia di dalam ruangannya. Namun hal itu langsung ditolak Aciel mentah-mentah dengan alasan ia


sedang sibuk.


            “Aku datang hanya untuk menyampaikan hal ini. Aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan di kantor. Tolong kau lakukan saja apa yang kuinginkan. Dan jangan alihkan tugas ini pada Stacie.” pesan Aciel sebelum meninggalkan ruangan besar milik komisaris Edburg. Pria Angkuh itu berjalan dengan dagu


terangkat dan langkah ponggah yang membuat beberapa polisi menoleh kearahnya dengan tatapan kagum dan juga kesal karena sikap sombong Aciel. Sedangkan Aciel tampak tak peduli dan langsung mengenakan kembali kacamata hitamnya untuk menutupi aura kemarahan yang masih memancar dari kedua mata sendunya.

__ADS_1


__ADS_2