
Brukk
“Ck, kau.....”
“Hwaaa....”
Aciel menatap malas pria kecil yang sedang menangis di depannya sambil melirik pada lalu lalang pejalan kaki yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan menuduh. Sore ini sepertinya ia sedang sial karena harus bertabrakan dengan seorang anak kecil yang tiba-tiba justru menangis di depannya.
“Heyy... diamlah, jangan menangis.”
Aciel berusaha membujuk anak laki-laki itu agar berhenti menangis sambil berjongkok di depan anak itu. Tubuhnya yang menjulang tinggi membuat Aciel cukup kesulitan untuk mengajak anak kecil itu berbicara, sehingga ia harus berjongkok untuk mensjajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil anak laki-laki itu.
“Mama....”
Teriak anak itu keras. Orang-orang yang kebetulan melintas di sekitar taman terus menatap Aciel aneh hingga membuat Aciel risih dan juga geram. Ia bahkan tidak menyentuh seujungpun kulit anak itu. Tiba-tiba saja anak itu menabraknya saat ia sedang melintasi taman untuk mengambil mobilnya yang terparkir di seberang taman.
“Ssshhh... tenanglah, aku akan membantumu menemukan ibumu.”
Dengan gusar Aciel segera menggendong anak itu ke tepi dan berusaha menenangkan anak
itu agar tidak menangis. Untung saja ia pernah membaca buku-buku mengenai anak-anak ketika ia hampir menjadi seorang ayah empat tahun yang lalu. Dan sedikit banyak ilmu-ilmu itu cukup berguna untuk menenangkan pria kecil yang berangsur-angsur mulai tenang di dalam dekapannya.
“Kau ingin es krim?”
Pria kecil itu menganggukan kepalanya dua kali, lantas sedikit menyeka air matanya saat ibu jari Aciel mulai mengusap pipi kananya yang penuh dengan air mata.
“Aku akan membelikannya, tapi kau tidak boleh menangis.”
Setelah anak kecil itu benar-benar diam, Aciel segera membawa anak kecil itu menuju kedai es krim terdekat untuk membeli es krim. Satu-satunya ide yang ia miliki saat ini untuk menyumpal mulut berisik anak itu hanyalah dengan menggunakan es krim. Untung saja saat ini ia berada di taman dengan berbagai macam penjual es krim di sepanjang jalan setapak taman.
“Kau tinggal dimana?”
Anak kecil itu menggeleng pelan sambil menjilati es krimnya pelan-pelan. Bodoh memang ia menanyakan hal itu pada seorang anak kecil berusia tiga tahun. Ia jelas tidak akan tahu dimana letak rumahnya ataupun jalan menuju rumahnya.
“Bagaimana kau bisa tersesat?” tanya Aciel sambil mengusap wajahnya, anatar kesal dan juga bingung. Ia masih memiliki banyak pekerjaan di kantor. Niat awal hanya ingin membeli rokok di mini market justru berakhir dengan seorang anak kecil tersesat yang merepotkan. Sial!
“Eee... aku sedang berjalan dengan mama, la lalu....”
Anak itu sedikit memelankan suaranya ketika melihat ekspresi wajah Aciel yang terlihat sinis. Nyalinya tiba-tiba menciut dan ia ingin menangis lagi.
“Lalu? Jangan menangis, aku tidak bisa membantumu mencari ibumu jika kau menangis.” ucap Aciel berusaha lembut. Ia tidak tahu bagaimana caranya membuat anak laki-laki itu menjadi lebih nyaman dengannya. Namun ia merasa kasihan saat melihat anak laki-laki itu karena secara tidak langsung anak itu telah mengingatkannya pada anak Eden, yang mungkin juga sudah sebesar anak laki-laki itu.
“Mama hilang di sana, aku takut.” tunjuk anak itu pada sekumpulan pejalan kaki yang terlihat di pinggir taman. Aciel menghembuskan napasnya pelan, dan memilih untuk menunggui anak itu untuk menyelesaikan makan es krimnya. Jika dalam tiga puluh menit ibu dari anak itu tidak mencari anaknya juga, maka ia akan langsung membawanya ke kantor polisi.
“Paman... siapa naman paman?”
“Aciel. Siapa namamu?” tanya Aciel pendek. Entahlah, ia merasa tidak bisa berbasa basi dengan seorang anak kecil. Gaya angkuhnya memang sudah mengakar kuat di dalam jiwanya yang kosong ini.
“Skylar.” jawab anak itu pendek. Aciel seketika teringat pada kenangan masa lalunya, saat Eden memintanya untuk memberikan nama untuk bayinya. Saat itu ia juga memberikan nama Skaylar jika bayi itu laki-laki. Tapi tidak mungkin jika pria kecil di depannya ini adalah putranya karena wajah mereka benar-benar tidak mirip. Anak itu jauh lebih manis dengan rambut pendek yang disisir berponi, sangat kontras dengannya yang memiliki rambut sedikit panjang dengan tatanan acak-acakan serupa bad boy.
“Paman mau?”
Aciel menggeleng pelan sambil merogoh saku celananya untuk mengambil rokok. Pria dewasa sepertinya tentu saja tidak memakan es krim, ia lebih menyukai rokok untuk menenangkan pikirannya yang kacau dan untuk mengalihkan rasa bosannya karena ibu dari anak kecil itu tak kunjung datang juga untuk mencari anaknya.
__ADS_1
“Kata mama rokok itu tidak baik.”
Aciel menghembuskan pelan asap rokok itu ke udara sambil melirik anak kecil itu malas. Baru kali ini ia mendapatkan teguran dari seorang anak kecil karena perilaku merokoknya. Huh, mereka benar-benar makhluk kecil yang berisik. Beruntung ia gagal menjadi seorang ayah, dengan begitu ia tidak perlu mendengarkan celotehan berisik dari mereka yang menyebalkan.
“Kau masih anak-anak, suatu saat kau pasti juga akan menghisapnya sepertiku.”
Dengan sengaja Aciel menghembuskan asap rokok itu kearah Skaylar hingga anak kecil itu terbatuk-batuk sekali.
“Paman! Uhukk uhukk....”
Seketika Aciel merasa bersalah pada Skaylar, dan ia langsung membuang sisa rokoknya yang masih cukup banyak ke atas tanah.
Puk puk puk
Aciel menepuk punggung Skaylar pelan dan meminta anak itu untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengeluarkan sisa asap yang berhasil dihirup oleh anak itu beberapa saat yang lalu.
“Jangan merokok lagi paman...” Ucap anak itu sedikit terengah-engah. Aciel hanya diam menanggapi ucapan anak itu, dan memilih untuk mengamati lalu lalang pejalan kaki di depannya. Ini sudah lebih dari tiga puluh menit, dan ibu dari anak itu belum mencari anak itu juga. Ia harus segera menyerahkan Skaylar ke kantor polisi.
“Ayo kita ke kantor polisi, ibumu mungkin di sana.”
“Paman, bagaimana jika mama ternyata sedang bekerja?”
“Tidak mugkin, ibumu pasti mencarimu. Jika ibumu bekerja, ayahmu yang akan mencarimu.”
“Aku tidak memiliki ayah....” Jawab anak kecil itu sendu. Aciel seketika menolehkan kepalanya kearah Skaylar sambil mengernyitkan dahinya dalam. Bahkan anak sekecil Skaylar telah merasakan rasa sedih yang seharusnya tidak dimiliki oleh anak seusianya. Beruntung dulu ia pernah merasakan kasih sayang seorang ayah,
meskipun pada akhirnya hubungan mereka menjadi tidak baik dan ayahnya mati dalam keadaan mereka yang saling membenci.
“Dimana ayahmu?”
Seketika Aciel teringat pada Eden yang mungkin juga sedang membesarkan bayinya sendiri. Tapi bayangan Zyan yang empat tahun lalu memeluk Eden di depan rumahnya membuat Aciel langsung membuang jauh-jauh semua pikirannya tentang Eden. Mereka pasti telah menjadi keluarga yang bahagia....
“Kau pasti akan menjadi pria yang hebat meskipun kau tidak memiliki ayah. Aku sudah membuktikannya sendiri.” Ucap Aciel datar seperti sedang berbicara dengan
dirinya sendiri. Ia yakin Skaylar bisa menjadi sepertinya yang kaya dan sukses tanpa kehadiran seorang ayah di sisinya. Tapi tetap saja kehadiran seorang ayah dan ibu akan membuat kehidupan jauh lebih lengkap. Ia mungkin memang tumbuh menjadi pria yang sukses, namun dibalik itu ia terkadang juga merindukan keluarganya yang lengkap. Bodoh! Kenapa ia bisa menjadi sangat melankolis seperti ini?
“Paman, aku mengantuk.” Ucap Skaylar polos sambil meletakan kepalanya di atas paha Aciel. Skaylar tampak menguap beberapa kali, dan setelah itu ia langsung memejamkan matanya di atas paha Aciel dengan nyaman.
“Shit! Apa-apaan anak ini.” Runtuk Aciel geram. Dengan malas ia segera menggendong Skaylar dan membawa anak itu menuju kantor polisi terdekat. Berurusan dengan anak kecil memang sangat merepotkan. Bahkan ia harus merelakan waktu berharganya hanya untuk menemani anak kecil ini mengobrol dan menggendongnya menuju kantor polisi. Huh, seharusnya ia tidak perlu mempedulikan anak kecil itu dan meninggalkannya sendiri di taman hingga ibunya datang menjemputnya.
“Skaylarrr....”
Aciel mengetatkan rahangnya geram ketika seorang wanita berusia pertengahan dua puluhan sedang berlari-lari panik kearahnya yang sedang menggendong Skaylar. Dia benar-benar ibu yang tak bertanggungjawab dan ceroboh, pikir Aciel.
“Skaylar! Tuan terimakasih, kau telah menemukan putraku.”
“Lain kali awasi putramu dengan baik.” ucap Aciel datar. Wanita muda itu hanya menganggukan kepalanya bersalah dan segera mengambil alih Skaylar dari gendongan Aciel. Ia rasanya hampir gila karena sejak tadi tak kunjung menemukan Skaylar yang tiba-tiba terlepas dari genggamannya.
“Ma maafkan aku. Sekali lagi kuucapkan terimakasih tuan.”
Setelah memberikan Skaylar pada ibunya, Aciel langsung berjalan pergi begitu saja dengan wajah datarnya yang terlihat menakutkan. Dalam sekejap perasaanya berhasil diaduk-aduk oleh Skaylar dengan sikap polosnya yang menggemaskan itu. Sungguh, sekarang pikirannya menjadi kacau hanya karena Skaylar dan ibunya.
Mereka berdua benar-benar membuatnya kembali mengingat Eden, dan membuatnya semakin berambisi untuk menemukan Eden.
__ADS_1
-00-
“Kau tidak pulang?”
Seketika Aciel mendongakan wajahnya kearah Sian sambil menatap pria bergusi pink itu heran.
“Kau masih di sini?”
“Aku lembur. Kau tahu, kau memberikanku banyak pekerjaan.” gerutu Sian kesal. Ia pikir ia hanyalah satu-satunya manusia yang tersisa di dalam gedung pencakar langit itu bersama dengan beberapa petugas keamanan yang berjaga di post keamanan.
“Kau terus mengeluh seolah-olah hanya kau yang memiliki banyak pekerjaan. Lihatlah, bahkan tugasku jauh lebih banyak dari tugasmu.”
“Ck, tentu saja. Kau pemimpin di sini. Oh, aku punya kabar baik untukmu.”
“Apa?” tanya Aciel tanpa minat. Informasi yang disampaikan Sian terkadang hanya sebuah omong kosong yang sama sekali tidak penting. Dan ia merasa telah membuang banyak waktunya jika mendengarkan omong kosong dari mulut lebar Sian.
“Akan ada fashion show di hotel Ritz Carlton minggu depan.”
“Lalu? Aku tidak tertarik Sian, lebih baik kau pergi.” usir Aciel kasar. Ia lantas kembali menekuni mac booknya untuk membaca pesan-pesan dari kliennya yang jumlahnya telah mencapai ratusan hanya dalam waktu beberapa menit.
“Jessica akan menjadi salah satu desainer yang berpartisipasi dalam acara itu. Dia memintaku untuk mengajakmu datang.”
“Hmm, akan kupikirkan.”
“Kau harus datang. Acara itu berskala internasional, mungkin saja kau akan menemukan partner bisnis baru atau menemukan wanita cantik yang bisa menggantikan posisi Eden di hatimu.”
Ck! Eden Eden Eden! Bisakah nama itu hilang dari kepalaku sekarang juga!
“Katakan pada Jessica jika aku mungkin akan datang, tapi jangan terlalu berharap karena jadwalku bisa berubah kapan saja. Sudah lama Jessica tidak mengunjungiku, apa ia sudah menemukan mangsa baru?” Tanya Aciel mengganti topik pembicaraan. Lebih baik mereka membicarakan Jessica dan kehidupannya daripada harus membicarakan Eden yang tak tahu entah dimana.
“Kudengar ia akan menikah dengan seorang pengusaha asal China, Kris Wu namanya.”
“Oh, baguslah. Ia tidak akan menempel lagi padaku seperti lintah dan meminta perhatian seperti dulu.”
“Tunggu, kupikir kau tidak pernah risih dengan sikap Jessica yang berisik dan manja itu.” ucap Sian takjub. Aciel yang selama ini ia lihat selalu terlihat baik di hadapan Jessica. Bahkan cenderung memperlakukan Jessica lebih istimewa dibandingkan wanita manapun, termasuk Eden.
“Aku hanya tidak ingin mengecewakannya. Kau, aku, Jessica, kita hampir-hampir memiliki jalan hidup yang nyaris sama. Saat melihatnya merengek-rengek padaku, aku merasa ia tidak akan memiliki orang lain untuk mendengarkan rengekannya.”
“Bagaimana dengan Eden?”
“Sian!”
Aciel memperingatkan Sian keras agar pria itu tidak lagi membahas Eden. Susah payah ia mencoba mengalihkan Sian dari Eden, tapi pria keras kepala itu tetap membuatnya harus selalu mengingat Eden.
“Aku sedang tidak ingin memikirkannya. Keluarlah, akan kuusahakan untuk datang di acara Sica.”
Sian mengedikan bahunya acuh tak acuh dan tampak tak bersalah sedikitpun pada Aciel. Menurutnya Aciel terlalu pengecut untuk mencari Eden atau berurusan lagi dengan wanita itu. Tapi jauh di lubuk hati Aciel paling dalam, pria itu sebenarnya masih menginginkan Eden. Bahkan satu-satunya cinta yang dimiliki oleh Aciel hanyalah untuk Eden. Tolol memang pria itu! Dan Sian sangat geram melihat sahabatnya yang bodoh itu.
-00-
“Mommy! Mommy! Kita akan bertemu daddy di Las Vegas?”
“Iya sayang. Ayo, cepat bantu mommy memasukan baju-bajumu, besok kita akan berangkat ke Las Vegas dan California untuk bertemu daddy.” ucap wanita itu lembut sambil mengelus puncak kepala putrinya sayang.
__ADS_1
Akhirnya kali ini ia akan kembali ke negara kelahirannya setelah melalui banyak hal yang memilukan dalam hidupnya. Bersama Ciara ia akan bertemu Zyan dan memberikan kejutan untuk kedua orang tua Zyan yang sudah lama memilih untuk meninggalkan hingar bingar Las Vegas yang berisik. Namun ada satu hal yang membuat Eden merasa berat untuk kembali ke Nevada, ia takut akan bertemu Aciel. Negara seluas Nevada rasanya belum terlalu luas untuk seorang Aciel. Entah kenapa perasaanya mengatakan jika ia pasti akan bertemu Aciel, cepat atau lambat. Dan yang lebih parah lagi, mungkin pria itu akan kembali menghancurkan hatinya yang hingga detik ini belum berubah sedikitpun. Apa aku akan mengulangi cerita yang sama? Dengan skenario yang dibuat oleh pria itu? Atau aku sudah benar-benar lepas dari pria brengsek itu?