Black Swan

Black Swan
16


__ADS_3

"aku sudah lama tidak melihat taylor. dimana dia sekarang?" tanya selena setengah berteriak, karena suara tembakan dari pistol mereka lebih mendominasi di ruangan ini.


"aku memberinya sebuah pekerjaan."


"benarkah? sejak kapan dia mau terlibat dalam bisnismu?" tanya selena menghentikan tembakannya. ia menoleh ke samping menatap tyler tertarik.


"entahlah. sepertinya kali ini dia menyukai misi yang aku berikan." balas tyler yang mengisi pistolnya dengan amunisi sebelum kembali mengakat tangannya untuk menembak sasaran.


"tidak biasanya dia mau melakukan itu." heran selena yang juga kembali ke posisinya menembak ke arah sasaran. "kau tau sendiri dia tidak pernah mau ikut campur dan berurusan dengan organisasi."


ia mengerutkan alis mencerna sendiri ucapannya barusan, "soal itu ku pikir kau terlalu memanjakan putramu." kesal selena kini, taylor harusnya menjadi penerus bisnis mereka tapi bocah laki-laki itu justru sama sekali tidak mau terlibat didalamnya. dia menjalani kehidupan bermain dan bersekolah layaknya remaja normal pada umumnya.


"putraku bukan iblis sepertiku." kata tyler menaruh pistolnya. dia berbalik dan mendapati luna tengah berdiri tidak jauh dari mereka.


"kau disini?"


"menurutmu siapa yang menyuruhku datang kesini!" sentak kesal luna yang merasa kehadirannya dari tadi terabaikan. jika bukan karena rasa penasaran mendengar obrolan tyler dan selena dia sudah memilih pergi dari tempat ini.


"kemarilah." tyler menghampiri luna, sementara selena yang sudah selesai berlatih bergerak meninggalkan tempat itu setelah memberikan tatapan sinisnya pada luna.


dasar wanita gila! bagaiaman bisa dia berlatih menembak disaat sedang hamil besar seperti itu. sinis luna dalam hati sebelum selena menghilang dari balik pintu sambil mengusap perutnya yang membesar.


"pegang ini." tyler menyerahkan sebuah pistol untuk luna.


"untuk apa kau memberikan benda ini padaku?" tanyanya enggan memegang pistol itu.


"aku ingin mengajarimu cara menembak."


"ck! aku tidak butuh." kesal luna mengembalikan pistol itu pada tyler lalu bergerak untuk pergi dari sana.


"ini penting. kau harus belajar cara menembak setidaknya untuk melindungi dirimu sendiri." balas tyler mencegahnya untuk pergi.


luna menghela nafas kesal, apa laki-laki ini tidak merasakan kecanggungan diantara mereka setelah apa yang terjadi kemarin malam?apa dia sedang pura-pura bodoh sekarang? kenapa dia bertingkah seolah olah tidak pernah terjadi apa-apa? padahal luna sangat terganggu dengan apa yang terjadi kemarin. luna tidak habis pikir, bakat akting tyler sungguh luar biasa, harusnya luna ikut menirunya.

__ADS_1


"kemari." dengan sedikit paksaan tyler mulai memakaikan peralatan menembak pada luna, mulai dari rompi, kacamata dan headphone, alat pelindung telinga.


ada sedikit perasaan tertarik dalam diri luna setelah mengenakan beberapa peralatan menembak yang sangat pas di tubuhnya. sedikit pede tapi dia terlihat keren.


"pistol ini jenis revolver yang didesain untuk pemula. kau harus memegangnya seperti ini." luna mengikuti arahan tyler memegang pistol itu seperti apa yang tyler contohkan.


"angkat tanganmu." luna mengangkat dua tangannya yang sudah memegang pistol. meski samar samar, dia masih bisa mendengar suara tyler yang memberikan instruksi.



"lebarkan kakimu sebatas bahu lalu tegakkan punggungmu." luna mengikuti merilekskan tubuhnya sebelum membuka kakinya selebar bahu dan menegakkan punggungnya.


"pastikan tanganmu tetap lurus mengarah ke depan pada target." tyler menjelaskan dengan pelan-pelan dan sabar. agar luna bisa mencerna dan memahami perkataannya dengan mudah.


"sebelum menembak, pastikan larasnya mengarah ke bawah." tyler bergerak mengajari luna menurunkan laras di pistolnya dengan ibu jari.


"setelah itu kau bisa menarik pelatuknya."


luna menarik pelatuknya dan cukup terkejut dengan peluru yang keluar dari dalam pistol yang menyentak kebelakang. luna kembali mencoba menembak papan target, sambil membidik sasaran dengan matanya.


tidak terasa peluru yang ada di dalam pistol sudah habis, luna menurunkan tangannya untuk melihat papan monitor kecil di sebelah kanannya yang memperlihatkan papan target. sial, dia tidak mengenai target satupun.


tyler yang dari tadi memperhatikan luna sedikit menarik senyumnya gemas, "kau kesal karena tidak menembak sasaran."


luna mengangguk dengan mengerucutkan bibirnya lucu. "sini ganti pistolmu." tyler mengambil pistol lain yang sudah penuh terisi amunisi.


"pastikan tanganmu tetap stabil saat menembak dan jangan ragu untuk menarik pelatuknya." tyler bergerak memegang tangan luna yang menggenggam pistol. dari belakang mereka terlihat seperti sedang berpelukan.


punggung luna menempel rapat pada dada bidang tyler, sedekat ini luna bisa merasakan hawa panas hembusan nafas tyler di lehernya. lagi-lagi jantung luna tiba-tiba berdebar dengan kencang. aroma citrus bercampur mint sangat menyegarkan masuk ke indra penciumannya.


"sasaran yang tepat untuk musuhmu ada di dada sebelah kiri, jadi pastikan kau bisa menembak jantungnya dengan tepat." tyler masih menjelaskan dan tidak menyadari luna menatapnya dengan sangat intens.


"buka matamu lebar-lebar." ucap tyler seketika membuat luna langsung kembali menghadap ke depan papan target. "kau sudah melihat sasarannya?" luna menangguk berusaha mengendalikan dirinya yang sedikit salah tingkah untuk kembali fokus pada target di depannya.

__ADS_1


"konsentrasi dan fokus pada sasaranmu lalu tarik pelatuknya."


dor dor dor!


hanya dengan tiga kali tembakan luna berhasil menembak tepat di jantung papan target itu. meski peran tyler lebih besar daripada luna, gadis itu tetap memekik senang bisa menembak tepat pada sasaran untuk pertama kalinya.


luna kembali mencoba beberapa tembakan sendirian. meski awalnya sedikit sulit, dirinya sudah mulai terbiasa dengan tekanan yang ada pada pistol. tidak buruk untuk seorang pemula setidaknya dia bisa mengenai badan target.


"bagaimana menurutmu?" tanya luna beberapa menit kemudian setelah berkali kali menembaki papan target.


"lumayan." kata yang sedikit lebih baik yang bisa tyler katakan.


bibir luna berdecih senis, "pembohong."


tyler mengangkat dua alisnya, "kau ingin mendengar jawaban jujur? kupikir sepertinya kau harus banyak berlatih lagi untuk bisa seperti ini."


dengan gerakan cepat tyler mengambil sebuah pistol dari rompinya dan tanpa melihat papan target dia menarik pelatuk pistolnya.


tiga tembakannya membuat luna terpanah. keren, dia menatap ke arah monitor dan benar semua tembakan tyler mengarah tepat ke sasaran. ish! meski sempat terperangah sesaat luna merasa sedikit jengkel. "apa kau berniat untuk pamer?"


pundak tyler terangkat, "kau tidak ada apa-apanya dibanding diriku." sombongnya.


"itu karena aku baru pertama kali memegang benda ini. dasar kau sok jagoan!"


tyler tersenyum tipis mendekat ke wajah luna hingga hidung mereka saling menempel. "aku memang ahli dalam hal ini baby girl. jadi jangan main-main denganku apalagi masalah senjata karena aku penguasanya." ucapnya lalu berjalan pergi meninggalkan luna yang masih mematung, kenapa reaksi tubuhnya menjadi seperti ini hanya karena tatapan dari tyler. luna tidak mengerti.


dia menatap punggung tyler yang semakin menjauh, semakin hari dan semakin lama luna menganalnya luna menyadari banyak sisi lain dari laki-laki itu yang sangat menarik membuat luna semakin penasaran dengannya.


terkadang dia sangat hangat dan tenang, terkada terlihat menyeramkan dan berbahaya. namun setiap kali berada didekatnya jantung luna tidak berhenti berdebar kencang. pengaruh tyler dalam dirinya tidak biaa luna kendalikan. apa luna sudah gila! kenapa dia menjadi sangat penasaran pada tyler?


"nona, tuan evan dan nona selena akan kembali ke ameika. apa anda akan turun untuk menemui mereka?" tanya margaret memecah lamunan luna.


"mereka kembali hari ini?" tanya luna menatap margaret penuh tanya.

__ADS_1


__ADS_2