
Malam hari, disaat Eden dan anak-anaknya berkumpul di ruang keluarga untuk menonton film kartun kesukaan Ciara, Aciel justru terlihat enggan untuk turun dan lebih memilih untuk membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia memang sengaja melakukan hal itu, sebagai bentuk protes pada Eden, karena istrinya sejak tadi terus bertingkah biasa dan sama sekali tidak terlihat menyesal setelah membuat dirinya merasa cemas dan juga cemburu. Aciel kembali meringsekan tubuhnya ke dalam selimut kala ia mendengar suara decitan pintu yang dibuka dari luar. Tebakannya, itu adalah Eden. Dan benar saja, tak berapa lama, Eden segera berjalan masuk ke dalam kamar mereka dengan Louise yang berada di gendongannya. Kedua manusia berbeda generasi itu tampak saling bercanda, lebih tepatnya, Eden yang sedang menncoba berkomunikasi dengan Louise, dan kemudian bayi itu akan menggeliat-geliat kecil sambil tersenyum dan tertawa. Ah, benar-benar sangat menggemaskan. Sayang sekali Aciel sedang marah, andai saja ia tidak sedang dalam mode merajuk pada Eden, pasti ia juga akan bergabung dengan anak istrinya itu dan bercanda bersama. Terkadang marah itu memang menyusahkan.
“Louise sayang, anak mommy yang tampan, saatnya tidur. Kenapa kau terlihat enggan untuk tidur, hmm?” tanya Eden pada Louise sambil membaringkan bayi itu di sebelah ayahnya. Aciel yang sedang berpura-pura tidur membelakangi Eden, hanya mendengarkan semua pembicaraan ibu dan anak itu dengan perasaan hangat, yang
entah mengapa menyusup begitu saja ke dalam hatinya.
“Sayang, sepertinya daddymu sedang marah.” bisik Eden di telinga Louise, namun Eden memang sengaja mengatakannya dengan volume keras, karena ia yakin, Aciel belum tidur, dan pria itu masih sadar sepenuhnya.
“Hmm, dan daddymu sepertinya juga sedang sakit. Tapi, tidak apa-apa. Jika daddy sakit, besok kita bertiga bisa jalan-jalan bersama ke kebun binatang bersama paman Andrew. Kau pasti juga ingin pergi bersama paman Andrew kan? Dia sebenarnya adalah pria yang tampan. Tapi sayangnya mommy tidak mencintainya sebesar mommy mencintai daddymu. Andai saja dulu mommy tidak benar-benar mencintai daddymu, mommy tidak mungkin akan bertahan hingga sejauh ini, menerima apapun yang dilakukan daddymu, hingga akhirnya mommy berakhir di pelukan daddymu lagi. Bukankah mommy sangat setia?” tanya Eden pada Louise, namun maksud dari semua perkataannya tadi adalah untuk menyindir suaminya, Aciel. Pria itu sekarang memang lebih aneh. Aciel jarang berteriak saat marah seperti dulu, ia lebih senang merajuk seperti ini, mengeluarkan sikap kekanakannya yang terlalu terlambat untuk dikeluarkan. Bahkan sifat itu justru semakin menjadi-jadi ketika ia telah memiliki dua orang anak seperti ini. Dan hal itu bisa terlihat dari sikap Aciel saat ini. Jika ia sedang dalam mode baik-baik saja, ia tidak mungkin melakukan aksi protes pada Eden sambil menggulung-gulung tubuhnya sendiri seperti sosis. Jika ia pria gentle yang dewasa, ia pasti akan memilih untuk bangun dan berusaha membicarakan masalahnya secara baik-baik pada Eden, bukan dengan merajuk seperti itu. Kekanakan sekali memang.
“Kau sedang membicarakanku di depan Louise?” tanya Aciel yang sudah tidak tahan dengan semua ucapan yang dilontarkan oleh Eden pada putranya. Eden tersenyum penuh kemenangan ketika akhirnya sang suami mau meresponnya dan tidak mendiaminya seperti tadi. Ia sendiri sejak dulu hingga sekarang masih saja selalu kesulitan menangani suaminya, jika suaminya itu sudah mulai marah atau merajuk. Karena suaminya itu akan bertingkah dengan sangat manja layaknya balita berumur dua tahun yang tidak dibelikan es krim oleh ibunya. Dan satu-satunya cara untuk memperbaiki hubungan mereka adalah dengan bersikap sama kekanakannya seperti Aciel.
“Tidak. Aku hanya sedang mengobrol dengan Louise. Lagipula, kenapa kau tidak turun untuk makan malam? Aku dan Ciara menunggumu di bawah sejak tadi.”
“Aku tidak lapar. Lagipula, aku merasa sedang demam sekarang.” ucap Aciel terdengar berbohong. menurut Eden, orang yang sedang sakit tidak akan bersikap sangat sinis kepadanya seperti ini. Seperti yang dulu dilakukannnya, ketika untuk pertama kalinya Aciel sakit setelah ia menikah dengan Eden.
“Ace, kau kenapa?” tanya Eden heran melihat sikap Aciel yang sangat aneh. Pria itu sekarang tengah menarik-narik rambutnya dengan frustasi sambil mendesah gusar. Membuat Eden merasa terganggu dengan sikap suaminya yang sangat aneh itu.
“Arghh, aku sedang frustrasi.”
“Ace, kau ini kenapa? Louise baru saja tidur. Tolong jangan berteriak-teriak seperti itu?” bisik Eden galak. Aciel kemudian kembali menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut dan merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Eden. Ia sedang kesal sekarang. Dan parahnya, ia tidak bisa mengungkapkan alasan kekesalannya pada sang istri. Ia ingin mengatakan jika ia cemburu dan ingin menyentuh istrinya. Tapi... Eden pasti tidak akan menanggapinya dan lebih memilih untuk menemani Louise hingga tidur. Aciel terus menggerutu kesal sepanjang malam sambil bergerak-gerak seperti cacing kepanasan. Sedangkan istrinya, Eden, memilih untuk tidak terlalu peduli pada suaminya dan ia justru segera memejamkan matanya di sebelah Louise. Seharian ini ia terlalu lelah berjalan ke sana ke mari bersama Osborn bersaudara. Malam ini ia ingin beristirahat dengan tenang tanpa gangguan dari siapapun, tak terkecuali suaminya yang tampan itu. Besok ia masih harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan bekal dan juga keperluan milik Ciara dan Louise. Karena besok, ia ingin mengajak Ciara dan Louise untuk berjalan-jalan ke kebun binatang. Yah, walaupun Louise juga tidak akan mengerti. Tapi anggap saja jika itu merupakan ajang refreshing bagi Eden. Karena ibu dua anak itu sesungguhnya juga menginginkan liburan yang menyenangkan dengan keluarga kecilnya.
-00-
Pagi-pagi sekali, Eden sudah bangun dari tidurnya untuk menyiapkan berbgai macam makanan dan juga bekal yang akan mereka bawa menuju kebun binatang. Kemudian saat jam sudah menunjukan pukul setengah delapan tepat, Eden segera membangunkan Ciara dan Louise untuk memandikan mereka berdua. Bahkan, Eden memandikan kedua anaknya secara bersamaan agar lebih efisien. Dan ketika semuanya sudah siap, justru masih tersisa satu orang yang masih bergulung dengan malas-malasan di bawah selimut. Aciel, pria kekanakan itu sejak pagi sama sekali tidak mau bangun dan membantu Eden untuk mempersiapkan semua keperluan piknik mereka. Pria yang masih dalam mode merajuk itu tetap keras kepala untuk tidur dan menenggelamkan dirinya dibalik tebalnya selimut yang hangat. Ciara yang melihat daddynya masih terlelap dibalik selimut hanya dapat bertanya pada mommynya sambil memasang wajah gusar. Tentu saja gadis kecil itu gusar karena ayahnya masih betah bermalas-malasan di atas ranjang, sedangkan dirinya dan juga Louise sudah terlihat rapi dan wangi.
“Mommy, kenapa daddy masih tidur?” tanya Ciara pada Eden ketika ibunya itu sedang memberi Louise ASI. Eden mengendikan bahu malas ke arah Aciel, lalu ia menatap Ciara lembut.
“Sayang, apa kau bisa membangunkan daddymu? Suruh daddy mandi dan mengantarkan kita berjalan-jalan ke kebun binatang. Mommy sudah mencoba membangunkan daddymu sejak tadi, tapi ia tetap bergelung dengan selimut seperti itu. Mungkin jika kau yang membangunkannya, daddymu akan langsung bangun.” terang Eden dengan senyum lembut. Ciara menganggukan kepalanya kecil sambil bersiap untuk naik ke atas ranjang. Gadis kecil itu kemudian memanjat ke atas tubuh ayahnya dan mulai menginjak-injak tubuh Aciel dengan kakinya.
“Daddy daddy, ayo bangun.” teriak Ciara kencang di atas tubuh daddynya. Aciel menurunkan sedikit selimutnya untuk mengintip Ciara yang masih dengan setia mengguncang-guncang tubuhnya. Pria itu meraih Ciara ke dalam pelukannya dan justru mengajak Ciara untuk tidur bersama.
“Sssttt, jangan berisik sayang. Daddy masih ingin tidur.” bisik Aciel di telinga Ciara sambil mendekap tubuh mungil Ciara dengan erat. Gadis kecil itu tampak meronta-ronta di dalam dekapan ayahnya. Ia tidak mau diajak tidur oleh ayahnya. Ciara ingin ke kebun binatang!
“Ace, Ciara sudah rapi. Kenapa kau membuat penampilannya berantakan lagi.” omel Eden sambil meletakan Louise di atas ranjang. Wanita beranak dua itu lantas melepaskan Ciara dari dekapan ayahnya dan segera mendorong Aciel agar menjauh dari anaknya.
“Mommy, daddy nakal!” tunjuk Ciara pada Aciel marah. Ia kesal sekali pada ayahnya karena ayahnya itu tidak mau bangun dan mengantarkan mereka bertiga ke kebun binatang..
“Ayo kita turun ke bawah, mommy tetap akan mengantarkan Ciara menuju kebun binatang. Jika daddy memang tidak mau mengantarkan kita ke kebun binatang, mommy sendiri yang akan mengantar Ciara. Kita bertiga akan pergi tanpa daddy, bagaimana?”
“Mommy akan mengantarkan Ciara ke kebun binatang? Asiikkk, Ciara akan menunggu di bawah.”
Cup
“Ciara sayang mommy.” teriak Ciara girang sambil mencium pipi Eden dengan sayang. Kemudian gadis kecil itu segera turun dari gendongan ibunya dan melesat pergi keluar dari kamar ayah dan ibunya. Eden kemudian merapikan ranjangnya yang sedikit berantakan karena ulah Ciara dan suaminya tadi. Ia melipat selimut
tebal yang tadi sempat terjatuh di atas lantai karena kelakuan Ciara. Tiba-tiba lengan kokoh Aciel memeluk pinggang Eden dengan erat dan menahan Eden agar istrinya itu tidak dapat pergi kemanapun.
“Siapa yang mengijinkanmu untuk pergi ke kebun binatang sendiri?” tanya Aciel dengan suara serak. Eden memutar bola matanya malas dan melepaskan lengan kokoh itu dengan paksa.
__ADS_1
“Kau sendiri yang tidak mau mengantarkan kami. Jika kau memang ingin tidur, maka aku tidak akan mengganggumu. Tapi aku akan tetap mengantarkan Ciara ke kebun binatang karena gadis kecil itu sangat ingin melihat gajah. Jadi walaupun kau tidak mengijinkannya, kami bertiga akan tetap pergi. Dan mungkin aku akan mengajak Andrew untuk menemani kami. Dia pasti akan sangat senang jika aku mengajaknya untuk mengantarkan anak-anak ke kebun binatang.” oceh Eden sambil memanas-manasi Aciel. Ia tahu, suaminya itu pasti tidak akan tahan jika ia menyebut nama Andrew Osborn di hadapannya. Tinggal menunggu sedikit waktu hingga Aciel merasa terbakar api cemburu dan mau mengantarkan mereka berdua.
“Andrew? Untuk apa kau meminta bantuan pada pria menyebalkan itu?” sembur Aciel sinis. Eden tersenyum senang di dalam hati karena ternyata siasatnya berhasil. Aciel terbakar cemburu, dan sebentar lagi mungkin suaminya itu akan lebih bersemangat untuk mengantarkannya ke kebun binatang bersama anak-anak.
“Tentu
saja aku meminta bantuan padanya, karena suamiku sendiri tidak mau mengantarkan
kami ke kebun binatang.” ucap Eden penuh sindiran. Aciel menatap Eden tajam dan
menarik wanita itu mendekat untuk dipeluk. Eden yang merasa kesal pada suaminya
itu terus meronta tidak suka saat Aciel justru menariknya untuk berbaring ke
atas ranjang.
“Ace, kau ini kenapa? Cepat lepaskan tanganmu dari pinggangku! Aku ingin bersiap-siap.” omel Eden galak. Aciel sama sekali tidak peduli dengan omelan istrinya dan lebih memilih untuk menenggelamkan wajahnya ke dalam cerukan leher Eden.
“Ed, aku marah padamu. Kenapa kau selalu bersama Andrew selama kita berada di Australia? Apa kau tidak memikirkan perasaanku?”
Eden memutar kedua matanya malas mendengar kata-kata berlebihan suaminya. Apa yang diucapka oleh Aciel itu sama sekali tidak terbukti. Sejak kemarin, Eden sudah mencoba untuk menjaga perasaan suaminya itu. Tapi Aciel justru terus bersikap menjengkelkan dan membuat Eden merasa tidak sabar. Ia jadi malas untuk bersikap
lembut pada suaminya dan mengabaikan segala permintaan suaminya semalam.
“Kau sendiri yang membuatku tidak bersimpatik padamu. Jika kau ingin aku memikirkanmu, maka kau juga harus memikirkan perasaan kami. Ciara ingin berjalan-jalan melihat gajah. Setidaknya kita berikan kenangan yang indah untuk Ciara selama kita berada di Australia.” ucap Eden terdengar halus. Pada akhirnya wanita itu memilih menurunkan nada suaranya dan bersikap dengan sangat lembut pada suaminya. Toh tidak ada gunanya jika ia bersikap kasar dan marah-marah pada suaminya, Aciel bukanya akan mengabulkan permintaanya, pria itu pasti akan semakin merajuk dan sama sekali tidak akan mengantarkan mereka bertiga untuk berjalan-jalan.
“Baiklah baiklah, aku akan mengantarkan kalian bertiga melihat gajah.” ucap Aciel akhirnya mengalah. Pria itu tampak berpikir sebentar sambil bergumam tidak jelas.
suaminya. Sebenarnya Eden sudah ingin meminta maaf pada Aciel sejak kemarin, hanya saja pria itu justru bersikap menyebalkan dan kekanakan, membuat niatnya untuk meminta maaf justru menguar dan tergantikan dengan rasa jengkel sepanjang malam. Namun pagi ini suaminya telah kembali normal, meski dengan usaha yang sedikit keras, tapi Eden benar-benar bersyukur karena sekarang semuanya telah kembali normal seperti sebelumnya, keluarga yang harmonis dan penuh dengan kehangatan.
“Tidak apa-apa. Aku hanya menginginkan hadiah darimu karena aku sudah bersedia untuk mengantarkan kalian berjalan-jalan.”
“Baiklah, apa yang kau inginkan? Kali ini aku akan mengabulkan apapun permintaanmu sebagai bentuk penyesalanku karena kemarin sudah menelantarkanmu dan anak-anak.” ucap Eden terdengar lembut. Kedua manusia itu saling menatap dalam satu sama lain dengan posisi yang saling berpelukan di atas ranjang. Aciel tampak berpikir sejenak untuk memutuskan hadiah apa yang seharusnya ia dapat dari Eden. Ia tidak mungkin meminta hadiah materi dari Eden karena ia sendiri sudah memilikinya dan ia sudah merasa cukup dengan semua materi yang ada. Ia benar-benar harus memikirkannya dengan keras, karena hadiah yang diberikan oleh Eden harus benar-benar berasal dari Eden dan tidak akan ada seorangpun yang bisa memberikan hadiah itu padanya selain Eden.
“Kau benar-benar akan memberikan hadiah itu padaku?” tanya Aciel memastikan. Merasa ragu dengan ucapan istrinya yang sebelumnya.
“Tentu saja aku benar-benar akan memberikannya padamu. Apa yang kau inginkan? Apa kau ingin kemeja Giordano keluaran terbaru? Jam tangan keluaran Channel? Sepatu
keluaran terbaru dari Nike? Ayo, sebutkan saja.”
“Ssstt, aku tidak memerlukan semua itu. Bukankah semua materi yang kudapatkan selama ini sudah cukup.” ucap Aciel sambil membungkam bibir istrinya dengan jari telunjuknya. Eden menaikan alisnya bingung mendengar perkataan suaminya. Ia pikir sekarang suaminya sedang berubah menjadi pria dewasa yang bijak.
“Lalu apa? Apa yang paling kau inginkan dariku?” tanya Eden lagi dengan mata rusanya yang bulat, wanita itu menatap suaminya dengan intens, seakan-akan ia ingin menyelami keinginan suaminya melalui mata sendu yang menenangkan itu.
“Aku ingin sesuatu yang hanya bisa kudapat darimu. Sesuatu yang sifatnya abadi dan tidak akan pernah rusak.” ucap Aciel misterius. Lagi-lagi Eden menaikan alis matanya bingung dengan permintaan suaminya yang terdengar bertele-tele itu. Sekarang ia merasa sedikit menyesal karena telah menjanjikan sesuatu yang pastinya akan sedikit sulit untuk ia kabulkan.
“Baiklah, apa yang kau inginkan? Kau terlalu lama dan bertele-tele, Ace.” dengus Eden tidak sabar. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan tepat. Jika Aciel tak kunjung menyuarakan keinginannya, maka bereka berempat akan kesiangan untuk pergi ke kebun binatang.
“Aku ingin kesetiaan darimu, rasa cinta sepenuh hati darimu, dan jadilah sosok wanita yang baik bagi kami bertiga.”
__ADS_1
Eden menatap mata teduh suaminya dengan berkaca-kaca. Kali ini ia merasa tercubit karena ternyata suaminya itu hanya menginginkan tiga hal yang menurut Eden walaupun terkesan sepele, tapi memang sangat penting untuk kelangsungan rumah tangga mereka kedepannya. Eden memeluk tubuh suaminya dengan erat dan menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang suaminya yang hangat. Ini sudah hampir dua tahun sejak mereka menikah, dan baru kali ini Aciel meminta sesuatu yang manis dari Eden, rasanya itu sungguh sangat mengharukan.
“Tentu, aku akan mengabulkan semua keinginanmu. Aku akan berusaha menjadi isteri dan ibu yang baik bagi kalian. Aku... benar-benar akan berusaha.” ucap Eden bersungguh-sungguh. Aciel mengelus puncak kepala Eden dengan lembut dan menikmati momen romantis mereka dengan hati senang. Ada percikan kelegaan di matanya melihat Eden yang tampak bersungguh-sungguh ketika ia mengucapkan janjinya. Sekian lama ia menikah, baru kali ini ia benar-benar merasa terancam dengan hadirnya Andrew. Padahal selama ini ia selalu percaya diri dengan hubungan rumah tangganya yang tidak akan mungkin pernah goyah dengan adanya orang ke tiga. Namun melihat sikap Andrew yang terang-terangan ingin mengambil Eden darinya, membuat Aciel menjadi waspada dan ia merasa perlu untuk memastikan pada Eden, jika istrinya itu belum berpaling darinya dan masih menaruh rasa yang lebih padanya.
“Hmm, tapi aku masih memiliki satu keinginan lagi. Keinginan ini benar-benar sangat kuat dan ingin segera kurealisasikan. Namun, sayangnya keinginan ini tidak mungkin kurealisasikan dalam waktu dekat.”
“Apa itu? Kenapa kau hari ini bertingkah bertele-tele seperti ini? Seharusnya kau cepat-cepat mengatakan semua keinginanmu agar kita bisa segera berangkat.” ucap Eden terkesan tidak sabar. Aciel mendekatkan wajahnya pada Eden dan mengalirkan napas hangat dari hidungnya. Udara itu terasa hangat menjalari wajah Eden yang hanya berjarak beberapa inci.
“Apa kau mau berjanji kepadaku, bahwa kau akan mengabulkan keinginanku?”
“Hmm, aku akan mengabulkan keinginanmu karena kau sudah sangat baik hari ini.” ucap Eden mantap. Aciel tersenyum puas mendengar jawaban dari Eden. Pria itu kemudian memajukan wajahnya pada Eden dan ******* bibir tipis itu dengan lembut. Keduanya sama-sama menyalurkan rasa cinta dan sayang mereka dari pertautan dua bibir itu. Tak berapa lama Aciel segera melepaskan tautan bibir mereka dan memandang Eden dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Baiklah, keinginanku yang terakhir adalah... aku ingin memiliki anak lagi.”
“Apa? Aciel!” teriak Eden kesal karena mendengar permintaan jebakan itu. Sekarang mau tidak mau Eden harus selalu ingat jika ia masih memiliki satu hutang dengan suaminya itu untuk melahirkan anak lagi. Padahal ia pikir sudah cukup dengan memiliki dua anak, Ciara dan Louise. Tapi sepertinya Aciel masih ingin menambah anak lagi untuk kejayaan perusahaannya kelak. Setidaknya ia akan memberikan setiap anak satu perusahaan untuk dikelola, sehingga anak-anaknya tidak harus merasakan beban berat seperti dirinya.
“Kau sudah berjanji, jadi kau tidak bisa mundur sekarang.” ucap Aciel penuh kemenangan. Sekarang ia merasa puas karena sudah memiliki jaminan. Paling tidak, satu tahun lagi ia akan menagih janji itu pada Eden. Saat Louise sudah berusia satu tahun, maka anak itu sudah siap untuk memiliki adik lagi.
“Sebenarnya kau ingin berapa anak lagi? Bukankah Ciara dan Louise sudah cukup?” tanya Eden gusar. Aciel menggelengkan kepalanya keras sambil menatap wajah Eden.
“Mereka berdua belum cukup untuk meneruskan bisnis keluarga Lutherford. Setidaknya kita harus memiliki lima anak, sehingga setiap anak akan mendapatkan bagian dua perusahaanku, itupun jika aku tidak memutuskan untuk mendirikan beberapa anak perusahaan lagi di beberapa negara.” ucap Aciel santai. Mendengar jawaban suaminya yang sangat menyebalkan itu, membuat Eden hanya mampu melebarkan matanya karena kesal dan ia sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk menolak keinginan suaminya.
“Oh ya, jika kau ingin sedikit ringan, kau bisa melahirkan seorang anak kembar sekaligus, sehingga kau tidak perlu hamil sebanyak tiga kali lagi.” tambah Aciel santai, seakan-akan permintaanya itu sama sekali tidak berat dan sangat mudah untuk dilakukan. Tak tahukah ia jika perjuangan seorang wanita untuk mengandung dan melahirkan anak itu sangat susah. Sesekali Eden ingin Aciel yang merasakan bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan. Andai saja seorang pria bisa mengandung, maka Eden dengan senang hati akan melimpahkan kewajiban itu pada suaminya yang menyebalkan itu.
“Ace, mengandung dan mekahirkan anak itu tidak mudah. Bagaimana jika aku mati saat proses melahirkan anak kita?” tanya Eden dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Tentu saja ia ingin membuat suaminya itu sedikit mengasihaninya dan tidak meminta permintaan yang aneh-aneh kepadanya.
“Mati? Hmm, aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku dan anak-anak dengan mudah. Aku akan menyediakan dokter terbaik untuk menolongmu, kau tidak usah mencemaskan apapun, dan laluilah semua itu dengan lapang dada, karena tugasmu adalah melahirkan keturunan Lutherford yang sehat dan juga cerdas.”
“Ya Tuhan, kau pikir aku barang yang hanya difungsikan untuk melahirkan anak-anakmu? Dasar menyebalkan!” maki Eden marah sambil mendorong tubuh Aciel menjauh dari tubuhnya. Aciel menahan tangan Eden di dadanya dan mencium jari-jari lentik itu dengan lembut.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Aku akan selalu di sampingmu, di saat susah ataupun senang. Kau bukan barang yang hanya kugunakan untuk melahirkan anak-anakku. Kedudukanmu justru lebih tinggi dari itu. Kau adalah ibu dan istriku. Kau adalah wanita mulia yang akan melahirkan generasi penerus keluarga Lutherford yang cerdas dan juga sehat, jadi jangan pernah menilai dirimu sendiri sebagai alat atau barang untuk melahirkan anak-anakku. Apa kau mengerti?” tanya Aciel serius dengan sorot mata tajam. Eden hanya dapat mengangguk lemah sebagai jawaban atas pertanyaan dari suaminya. Toh ia sendiri tidak mungkin membantah dan mendebat suaminya lagi, pria itu terlalu sulit untuk dibantah.
“Baiklah, sekarang saatnya kau untuk memenuhi janjimu untuk mengantarkan kami ke kebun binatang. Sekarang sudah pukul setengah sepuluh. Aku harap kita tidak terlalu kesiangan untuk berangkat menuju kebun binatang. Lagipula, setelah dari kebun binatang aku ingin berjalan-jalan sebentar ke Paddys Market atau Pitt Street Mall. Aku ingin membeli oleh-oleh untuk Sian, Olivia dan semua pelayan di di rumah. Jadi, kau cepatlah mandi dan bersiap-siap.” ucap Eden galak di akhir kalimat. Aciel terkekeh geli melihat ekspresi kesal Eden yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Sebelum pria itu beranjak dari ranjang, ia menyempatkan diri untuk mengecup ujung hidung Eden dan menjepitnya pelan hingga istrinya itu meronta-ronta ribut minta dilepaskan.
“Ace lepaskan, itu sakit.”
“Mommy......”
Tiba-tiba Ciara berteriak dari arah pintu sambil berlari menuju ke arah orangtuanya. Hampir saja ia tersandung karpet bulu yang berada di dalam kamar orangtuanya, namun dengan sigap Aciel segera menggendong Ciara dan mengangkat Ciara tinggi-tinggi ke udara, seolah-olah Ciara adalah pesawat terbang.
“Kenapa Ciara tiba-tiba berteriak?” Aciel segera mendaratkan beberapa kecupan di pipi chubby Ciara karena terlalu gemas dengan ekspresi wajah Ciara yang menggemaskan.
“Ada seorang paman yang mencari mommy, namanya paman Andrew.” ucap Ciara ringan pada kedua orangtuanya. Aciel tiba-tiba membeku dan menguarkan aura gelap di sekeliling tubuhnya. Matanya yang semula memancarkan kegembiraan, kini berubah menjadi hitam dan gelap. Mungkin sebentar lagi ia akan menjadi galak dan uring-uringan sepanjang hari.
“Andrew? Kau mengundang Andrew untuk datang ke sini?” tanya Aciel menggelap. Eden cepat-cepat menggelengkan kepalanya ke arah Aciel karena pada dasarnya ia memang tidak memiliki janji apapun atau pernah mengundang Andrew ke rumahnya. Pria itu saja yang mencari masalah dengan datang ke rumahnya dan membuat suasana hati Aciel menjadi gelap bak awan mendung seperti itu.
“Aku akan menemuinya. Kau cepatlah bersiap dan turun ke bawah.”
Eden beranjak berdiri sambil menggendong Louise di dalam dekapannya. Setelah ia terbangun karena suara Ciara yang keras, kini bayi mungil itu tidak mau tidur kembali dan justru memandangi wajah ibunya dengan tatapan lucu khas bayi. Seakan-akan ia sedang merekam wajah Eden di dalam otaknya yang mungil dan mengingat wajah Eden sebagai ibunya.
__ADS_1
“Ciara, tolong awasi mommymu ya. Jika paman itu berbuat nakal pada mommy, maka daddy mengijinkanmu untuk menggigitnya.” ucap Aciel dengan nada penuh dendam. Ciara mengangguk patuh pada ayahnya dan segera melangkahkan kaki mungilnya untuk menyusul ibunya di bawah. Sedangkan Aciel, pria itu hanya dapat mendengus kesal di atas ranjang sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi. Mungkin setelah ini ia akan memberikan kartu merah pada Andrew dan melarang Andrew untuk datang ke rumahnya atau mendekati istrinya. “Arghhh. Dasar pria tidak tahu diri.” umpat Aciel keras sebelum ia berjalan memasuki kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi itu keras-keras.