
“Hahh... hosh hosh hosh!”
Olivia tersentak kaget dari mimpi buruknya dan segera bangun dari posisi tidurnya. Suara sirine yang terdengar begitu berisik di luar rumah Sian membuatnya merasa was-was dan segera berjalan menuju jendela untuk mengintip apa yang sedang terjadi. Sayangnya hanya kegelapan yang tersaji di depannya selain suara sirine
yang terus meraung-raung melewati jalanan di depannya. Ia pun memutuskan untuk turun dan membasahi kerongkongannya dengan segelas air. Mimpi buruk yang datang ke dalam tidurnya berhasil membuatnya terjaga dan tidak bisa lagi tidur karena ketakutan. Di dalam mimpinya ia melihat kedua orangtuanya dan juga Sian
perlahan-lahan menjauh darinya. Mereka semua pergi dari kehidupannya dan meninggalkannya sendiri yang sibuk meraung-raung memanggil mereka semua untuk kembali. Entah apa arti dari mimpi itu, Olivia tak ingin memikirkannya. Yang ia inginkan saat ini adalah menenangkan perasaanya yang terasa was-was dan membasahi kerongkongannya yang cukup tercekat akibat mimpi buruk yang telah mengusik ketentraman tidurnya.
Ting Tong
Olivia mengernyitkan keningnya heran dan segera berjalan menuju pintu depan sambil menyeret tongkat almuniumnya. Suara ketukan tongkat yang berirama terdengar begitu kontras dengan suara bel rumah Sian yang terus menerus dibunyikan dengan brutal hingga rasanya Olivia ingin membentak siapapun yang telah berlaku tidak sopan dan mengganggu ketenangannya malam ini.
“Sebentar.” teriak Olivia sedikit keras sambil memutar kunci logam yang menggantung di slot kunci. Dalam sekali tarikan ia berhasil membuka pintu itu lebar-lebar dan membuat dua orang tamu yang berdiri di depannya mengernyit heran.
“Apa benar ini rumah tuan Sian?”
“Ya benar, maaf ada perlu apa anda datang malam-malam seperti ini?” tanya Olivia heran. Setitik perasaan takut tiba-tiba menyusup ke hatinya ketika pria yang mengetuk pintu rumah Sian itu tak kunjung mengatakan apapun dan justru berbisik-bisik mengenai keadaanya yang buta.
“Tuan, apa anda masih di sana?”
Olivia terlihat geram karena pria itu tak kunjung mengatakan maksud tujuannya datang ke rumah Sian hanya karena melihatnya buta. Memang ia tidak bisa melihat bagaimana rupa dari tamu yang berkunjung ke rumah Sian malam-malam seperti ini. Tapi ia bisa merasakan jika tamu itu datang karena memiliki tujuan penting.
“Maaf, kami hanya ingin mengabarkan jika tuan Sian mengalami kecelakaan.”
Tiba-tiba jantung Olivia terasa diremas dan secara spontan ia berpegangan pada daun pintu
di depannya karena kedua kakinya yang terasa lemas seketika. Kabar yang dibawa oleh pria di depannya berhasil membuat dunianya terasa berputar dan membuatnya pening. Tapi cepat-cepat ia mengembalikan kesadarannya dan mencoba untuk mengontrol dirinya agar tidak jatuh pingsan di depan tamu yang tidak dikenalnya itu.
“Ssi siapa kalian?” tanya Olivia tergagap. Dua tamu itu saling berpandangan dan dengan tegas mengatakan jika mereka adalah polisi lalu lintas yang menangani kecelakaan yang menimpa Sian.
“Saat ini keadaan tuan Sian cukup kritis di rumah sakit. Apakah anda bisa ikut kami sebagai salah satu anggota keluarga dari tuan Sian?”
“Tte tentu. Tunggu sebentar.”
Olivia segera berlari menuju kamarnya dan menyambar jaket miliknya yang tergantung di belakang pintu. Perasaan takut dan was-was terus menghantuinya hingga beberapa kali ia terantuk kursi karena tidak bisa mengendalikan laju larinya yang memburu.
“Ayo kita pergi tuan. Tolong antarkan aku pada Sian.”
Mereka bertiga lantas berjalan tergesa-gesa menuju mobil patroli yang terparkir di depan rumah Sian. Suara sirine yang terdengar nyaring ketika mobil itu perlahan-lahan melaju meninggalkan rumah Sian dan membuat hati Olivia terasa semakin diremas. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Sian. Apalagi ia baru saja bermimpi buruk mengenai Sian yang akan pergi meninggalkannya bersama kedua orangtuanya. Ia tidak mau kehilangan Sian. Ia menyukai pria itu. Dan ia juga belum sempat membalas kebaikan pria itu selama ini. Ia lalu memohon pada Tuhan
agar menyelamatkan Sian dan memberikan kesempatan padanya untuk membalas semua kebaikan Sian yang belum pernah ia lakukan selama ini.
-00-
Empat hari di rumah sakit, Olivia merasa tubuhnya cukup lelah. Namun ia tetap harus berada di sana untuk membantu Sian mengurus dirinya yang mengalami patah tulang kaki dan beberapa tulang rusuk sebelah kanannya. Kini mereka berdua terlihat begitu kompak dan saling melengkapi satu sama lain. Jika Olivia tidak memiliki
mata, maka Sian yang akan menjadi mata untuk Olivia. Sedangkan Olivia yang akan menjadi kaki untuk Sian selama Sian harus berada di atas kursi roda akibat kecelakaan yang dialaminya.
“Sian saatnya makan.”
Olivia meraba-raba meja kecil di sebelahnya dan mulai mengangkat sepiring nasi yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit. Dengan enggan Sian mendudukan sedikit tubuhnya dan bersiap menerima setiap suapan nasi yang akan diberikan Olivia padanya.
“Aku merindukan masakanmu.” ucap Sian pelan ketika makanan itu sudah berada di dalam mulutnya. Berada di rumah sakit selama empat hari dan terus menerus mendapatkan makanan rumah sakit yang terasa hambar membuatnya jengah. Ia ingin memakan masakan Olivia yang lezat dan segera terbebas dari kursi roda yang membelenggunya.
“Kau sedang sakit, jangan menginginkan hal-hal yang aneh-aneh. Lagipula makanan rumah sakit sudah sesuai dengan kondisi tubuhmu yang memang sangat memerlukan asupan gizi yang sehat. Bersabarlah, jika kau sembuh nanti aku akan memasakan makanan apapun yang kau inginkan.”
“Janji?”
__ADS_1
“Hmm.. aku janji.”
Olivia mengangguk antusias dan tersenyum cerah di depan Sian. Sebersit perasaan hangatpun perlahan-lahan juga ikut menyusup ke dalam hati Sian setelah ia melihat senyum Olivia yang manis di depannya. Apalagi wanita itu selalu menemaninya sejak ia sakit, dan menyempurnakan kecacatan yang dialaminya akibat kecelakaan nahas itu.
“Olivia, apa kau ingin melihat lagi?”
“Apa? Tentu saja, tapi aku harus sabar karena belum ada donor kornea yang tersedia untukku.” jawab Olivia apa adanya. Sian tertegun dan menatap Olivia dalam. Ia kemudian menatap kedua kakinya yang ditutup gips dan juga tubuhnya yang harus menggunakan penyangga akibat patah tulang rusuk yang dialaminya. Ia cacat. Meskipun dokter mengatakan jika semua itu bisa disembuhkan tapi tetap saja ia akan cacat. Setidaknya hingga berbulan-bulan yang akan datang ia akan terus menggunakan kursi roda dan akan tergantung pada Olivia. Rasanya tidak ada gunanya lagi ia hidup. Memang sebuah keajaiban ia bisa tetap selamat dan melewati masa kritisnya dengan cepat setelah dokter melakukan tindakan. Tapi hidup dengan banyak alat-alat yang menempel di tubuhnya membuat ia frustrasi dan juga sress. Ia tidak terbiasa dengan semua kekurangan yang ia miliki saat ini. Baginya sekarang ia hanyalah seorang pria tak berguna yang sangat menyusahkan.
“Sian, kenapa diam? Ayo makan lagi.”
Olivia menahan sendoknya di udara ketika Sian tak kunjung menyambut makanan yang diberikannya. Ia kemudian meletakan sendok itu lagi ke dalam piring dan membelai wajah Sian dengan lembut.
“Ada apa? Ceritakan padaku.” ucap Olivia lembut. Sian tersenyum tipis dan membawa telapak tangan Olivia ke bibirnya dan mengecupnya dengan lembut.
“Tidak apa-apa. Hanya bosan.” jawab Sian terdengar meragukan. Namun Olivia berusaha mengenyahkan semua prasangka buruk yang memenuhi pikirannya dengan memikirkan hal-hal menyenangkan yang bisa ia lakukan bersama Sian selama Sian sakit.
“Sian, apa kau ingin jalan-jalan? Aku akan mendorong kursi rodamu ke taman.” tawar Olivia
bersemangat. Melihat Olivia yang begitu ceria dan dapat menjalani hari-harinya dengan tegar membuat Sian iri. Padahal jika dibandingkan dengan Olivia, penderitaannya sama sekali tidak sebanding. Olivia, wanita itu kehilangan
fungsi penglihatannya disaat kedua orangtuanya telah meninggal dan ia tidak memiliki siapapun untuk mengeluh. Seharusnya ia bisa bekajar dari ketegaran yang diciptakan oleh Olivia. Sayangnya itu benar-benar tidak mudah. Menerima apa yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam hidupnya benar-benar sulit. Apalagi selama ini ia telah terbiasa dengan kemudahan yang diberikan Tuhan padanya, ia tidak bisa melewati cobaan ini dengan mudah. Ia tidak bisa menjadi seperti Olivia yang bisa tegar menghadapi kepahitan hidup yang terasa begitu getir baginya. Ia ingin memberikan hadiah untuk Olivia. Untuk ketegaran yang selama ini dilakukan oleh wanita itu. Dan untuk rasa terimakasih karena wanita itu telah menemaninya selama ini. Menyelamatkannya dari kehampaan yang selama ini membelenggu jiwanya.
“Baiklah. Buat aku terhibur hari ini.”
-00-
“Dokter, apa ini nyata?”
Olivia tersenyum sumringah ketika siang ini dokter Hermes mengatakan padanya jika ia telah mendapatkan seorang pendonor yang akan memberikan kornea mata padanya. Dokter paruh baya itu tersenyum senang melihat Olivia dan menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
“Jadwal operasimu adalah lusa. Kau harus benar-benar sehat sebelum melakukan operasi. Jangan terlalu lelah.” pesan dokter Hermes pada Olivia. Olivia mengangguk mengiyakan dan segera pamit undur diri untuk kembali ke kamar rawat Sian. Hari ini ia akan memberitahu Sian jika ia sebentar lagi dapat melihat wajah rupawan
“Sian!”
Olivia berteriak dari ambang pintu dan langsung mengejutkan Sian yang sedang membaca buku. Pria bermata teduh itu menatap Olivia heran dan segera menyuruh Olivia masuk ke dalam kamarnya.
“Sian, aku punya kabar gembira.” ucap Olivia semangat. Ia terlihat sudah tidak sabar untuk mengatakan kabar gembira yang didapatkannya dari dokter Hermes hingga ia hampir saja tersungkur karena tersandung kursi.
“Hati-hati Olive. Kau hampir saja melukai dirimu sendiri.” tegur Sian khawatir. Ia lalu membantu Olivia menyingkirkan kursi kayu yang sedikit menghalangi tongkat panjang milik Olivia.
“Jadi ada apa? Kau terlihat sangat bahagia.”
“Sian!! Aku mendapatkan donor kornea.” ucap Olivia girang. Wanita itu melompat-lompat senang di depan Sian dan membuat Sian terbahak karena tingkah kekanakan Olivia.
“Hey, kau bisa jatuh dan menimpa kakiku yang patah.” peringat Sian ketika melihat yang terus melompat-lompat tanpa mengindahkan keadaan di sekitarnya. Seketika Olivia berhenti melompat dan langsung mencari kursi kosong untuk ia duduk.
“Sian aku benar-benar bahagia. Akhirnya setelah sekian lama aku menunggu, aku bisa mendapatkan donor kornea itu juga.”
“Syukurlah kalau begitu. Setelah ini kau bisa melihat wajah tampanku dengan mata bulatmu yang jernih.”
“Kau benar. Sudah sejak lama aku ingin melihat wajah tampanmu ini.”
Olivia membelai wajah Sian dan tersenyum sumringah di depan Sian. Melihat itu Sian juga ikut tersenyum dan sedikit menarik tubuh Olivia agar mendekat kearahnya.
“Jika kau sudah mendapatkannya, kau harus menjaganya dengan baik.”
“Tentu saja, aku pasti akan menjaganya dengan sangat baik.”
__ADS_1
“Jangan menggunakannya untuk melihat hal-hal yang tidak tidak.” kekeh Sian. Olivia langsung mempoutkan bibirnya dan menunjukan wajah cemberut di depan Sian. Hal itu membuat Sian tidak bisa menahan diri untuk mencium bibir merah muda Olivia yang siang ini terlihat benar-benar menggoda di matanya.
Cup
“Kupegang janjimu.”
Olivia ternganga tak percaya sambil menatap kosong kearah Sian. Baru saja ia merasakan sesutu yang lembut menempel di bibirnya. Dan ia yakin jika itu adalah bibir Sian karena beberapa detik yang lalu saat benda kenyal itu menempel di bibirnya, ia bisa merasakan napas Sian yang hangat berhembus di wajahnya.
“Sssi Sian...”
“Aku mencintaimu Olivia. Kuharap kau juga memiliki perasaan yang sama untukku karena aku tidak suka penolakan.”
“Ssi Sian.. tapi aku...”
Olivia tampak tak bisa berkata-kata dan hanya mematung di tempat dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan sekarang pada Sian karena ia sendiri sebenarnya masih cukup syok dengan semua hal tiba-tiba yang terjadi padanya hari ini. Namun tak bisa dipungkiri jika ia memang menyukai Sian, mencintai malaikat penyelamatnya yang selama ini hanya ia dengar suaranya tanpa pernah melihat wajahnya. Jika boleh, ia ingin memberikan jawaban pada Sian setelah ia mendapatkan penglihatannya kembali. Ia ingin momen itu menjadi momen yang paling berkesan untuknya karena di hari itu selain ia akan memberikan jawaban dari pernyataan cinta malaikat penolongnya, ia juga akan melihat wajah malaikat penolongnya untuk pertama kali.
“Berikan aku waktu. Aku janji akan segera memberikan jawabannya untukmu.”
“Tidak masalah. Karena aku akan menunggu.”
-00-
Akhirnya hari yang ditunggu Olivia tiba. Setelah ia melakukan operasi cangkok kornea dan beristirahat selama dua hari untuk menunggu kondisinya stabil, kini dokter akan membuka perban di matanya. Sejak terbangun dari tidurnya pagi ini, Olivia sudah tidak sabar untuk menyambut kehidupan barunya setelah ini. Kehidupan dengan
dunia yang akan terasa lebih berwarna untuknya. Ia tidak akan lagi hanya melihat kegelapan dalam hidupnya.
“Kau sudah siap?”
Olivia mengangguk antusias sambil menahan debaran yang semakin menggila di jantungnya. Suara gunting yang perlahan-lahan merobek perban yang menutupi matanya terdengar seperti suara terompet pesta yang terasa begitu menggembirakan untuknya. Sebentar lagi ia akan melihat dunia. Sebentar lagi ia akan melihat malaikatnya.
“Nah, bukan matamu perlahan.”
Olivia mulai mengerjapkan matanya perlahan dan mulai menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang terasa menyilaukan untuk mata barunya.
“Olivia...”
Olivia merasa familiar dengan suara itu dan langsung menoleh ke samping. Dengan dahi berkerut ia menatap Sian sambil menitikan air matanya sedih kearah pria itu.
“Sian... kau...”
Sian tersenyum. Menatap Olivia dari atas kursi rodanya sambil merentangkan kedua tangannya ke samping.
“Peluk aku.”
Sambil menyeka air matanya, Olivia langsung melompat turun dari ranjangnya dan menyambut tubuh kekar Sian yang terasa begitu hangat untuknya.
“Sian, kenapa kau melakukan ini untukku?”
Olivia terisak-isak di dalam pelukan Sian dengan air mata yang semakin deras membanjiri wajahnya. Sekarang ia bisa melihat bagaimana wajah tampan malaikatnya yang rupawan. Bahkan selain memiliki ketampanan fisik, malaikatnya juga memiliki ketampanan hati karena ia mau mendonorkan kornea matanya untuk kebahagiaanya.
“Sekarang kita sama dan dapat saling melengkapi. Tolong gunakan satu kornea mataku dengan baik. Maaf aku tidak bisa memberikan keduanya untukmu.”
“Tidak Sian, ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih karena kau telah membuatku dapat melihat indahnya dunia. Aku janji, aku akan selalu menjaganya dengan baik.”
“Dan bagaimana dengan jawabanmu? Setelah kau melihatku yang penuh kekurangan seperti ini, apa kau masih mau menerimaku?”
Olivia menutup mulutnya yang mengeluarkan isakan semakin keras lalu memeluk Sian lebih erat lagi. Di dalam pelukan Sian ia menganggukan kepalanya berkali-kali dan bersusah payah mencoba mengatakan ya dengan suara sesenggukan yang lebih mendominasi.
__ADS_1
“Aak aaku menerimamu Sian. Aku mencintaimu. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Aku pun juga tidak sempurna. Tapi meskipun begitu kau memiliki hati yang sempurna. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu malaikatku.”
Bersama-sama mereka akan saling melengkapi satu sama lain untuk menghadapi setiap rintangan kehidupan yang akan mereka hadapi di masa depan. Meski hidup dengan hanya satu kornea dan dengan kursi roda, tidak masalah. Asalkan mereka bersama, semuanya akan terasa lengkap dan saling melengkapi satu sama lain.