Black Swan

Black Swan
22


__ADS_3

guyuran hujan deras dan gelapnya malam menenggelamkan luna dalam ketakutan. dia terus berlari berharap semakin jauh dari kejaran seseorang. meski dadanya sesak dan tubuhnya lemah dia tidak berhenti.


"sejauh apapun kau berlari aku pasti bisa menangkapmu." gema suara dari hutan tiba tiba terdengar semakin mendekat membuat luna ketakutan, dengan sisak kekuatannya dia berusaha berlari lebih jauh, walaupun langkah kakinya perlahan lahan mulai melambat.


"siapa kau? jangan sakiti aku." teriak kuna histeris, suara orang tanpa wujud itu terdengar tertawa.


"kumohon. jangan sakiti aku." minta luna memohon dengan air mata yang tersapu oleh derasnya hujan. luna mengedarkan pandangannya tapi tidak ada satupun orang disana. hanya ada kegelapan dan gemericik suara hujan, serta suara hewan malam.


bugh. luna tersandung ranting kayu membuat lututnya terluka. dengan panik luna mengedarkan pandangannya ke sekitar. siluet seseorang berpakaian serba hitam berjalan ke arahnya dari kejauhan.


tubuh luna bergetar, dia berusaha merangsek mundur untuk melarikan diri namun seseorang berpakaian serba hitam tadi tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya. luna terus merangsek mundur, "jangan sakiti aku, kumohon.." tangisnya.


suara tawa kembali bergema seakan akan menikmati wajah ketakutan dari korbannya, dengan takut-takut luna memberanikan diri meningkat perlahan lahan kepalanya terangkat untuk melihat wajah orang yang mengejarnya.


namun begitu luna mendongak sebuah pistol telah tertodong tepat di kepalanya. "selamat tinggal."


dor!


"akkhh!" teriak luna terbangun dengan nafas memburu dan jantung yang berdebar kencang, keringat dingin mengalir di pelipis dahinya.


mimpi apa itu tadi? luna mengusap wajahnya kasar. mimpi itu terasa begitu nyata. siapa pria itu? dia seperti malaikat maut dengan pakaian serba hitam yang mengerikan. kenapa dia berniat membunuh luna? pertanyaan pertanyaan itu muncul dibenak luna. meski dia tidak akan pernah menemukan jawaban, tapi mimpi buruk itu lagi-lagi terlintas di pikirannya.


belum hilang ketakutan dalam dirinya, luna dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya dengan mengacungkan sebuah pisau.


"diam disana!"


luna yang masih setengah sadar, menatap bingung sekaligus heran, "apa yang sedang kau lakukan malam malam begini?" tanya luna tidak sadar.


wanita itu adalah salah satu pelayan di mansion ini. luna mengenalnya meski dia tidak tahu siapa nama pelayan itu, "jangan bergerak!" ancamnya mendekat.



luna yang baru sadar pelayan itu memburunya berubah panik, pelayan itu mengacungkan pisau ke arahnya. "apa yang kau lakukan? singkirkan pisau itu!" teriak luna bangkit dari ranjang sambil berusaha menjauh.


"diam kau manusia tidak tahu diri!!" bentak pelayan itu yang kini hanya berjarak lima langkah dari luna. "seharusnya merasa beruntung dicintai oleh tuanku tapi kau malah berlagak seperti ratu dengan segala prinsip konyolmu dan menolaknya."


"selama bertahun tahun akulah yang ada di sisinya, aku selalu ada untuknya. aku yang terus menemaninya kemanapun dia pergi. hanya dengan melihatnya dari kejauhan aku merasa bahagia. tapi semua itu jauh sebelum kau datang!"

__ADS_1


"kau menghancurkan segala usahaku untuk mendapatkannya. kau merebutnya dariku. dia tidak lagi sama seperti dulu. aku tidak suka melihatnya dekat denganmu. aku benci melihatnya menatapmu dengan cinta. dan segala tentangmu yang menjadi penyebab dia celaka. aku benci semuanya!".


"apa karena itu kau ingin membunuhku.." lirih luna dengan tatapan kosong.


dia paham perasaan itu. bukan pertama kalinya luna mendengarnya. tyler memang mengorbankannya segalanya untuk luna. tyler melindunginya. tyler yang memperlakukannya bagai tuan putri. tyler yang selalu berusaha membuatnya bahagia karena bagi tyler, luna adalah dunianya. kebahagian luna adalah prioritasnya. luna menyadari hal itu hanya saja dia selalu tutup mata dan mengenyahkan perasaan ini.


luna meringis, rasa sesak tiba tiba memenuhi dadanya. kenapa dia baru sadar akan semua itu? Sosok tyler kini sudah memenuhi hatinya. luna tidak bisa mengelak lagi. dia telah mencintai laki-laki lebih dari yang ia bayangkan.


"seharusnya kau mati saja dia yacht hari itu tapi sialnya kau malah selamat. Aku sangat bodoh dengan mengandalakan bajingan- bajiang itu untuk membunuhmu. mereka tidak berguna!"


Ucapan pelayan barusan membuat luna mengalihkan pandangannya ke depan, tatapannya tidak percaya,  "jadi kau dalang dibalik kejadian itu?"


Senyum sinis terbit dari wajah sang pelayan, "bukankah kau yang ingin kembali pada keluargamu. pada edward, kekasih sempurnamu itu. aku berusaha membantu." katanya tanpa sedikitpun rasa bersalah.


"kau gila?! kami semua celaka karena mu! tega sekali kau mengorbankan banyak nyawa hanya karena keserakahan bodohmu." marah luna dengan wajah memerah.


"kau pikir tyler akan mencintai gadis sepertimu? jangan berharap kau membuatku jijik."


"sialan kau." emosi sang pelayan memuncak hingga melayangkan pisaunya ke arah luna beruntung dia cepat bergerak mundur, tapi langkah luna terhenti ketika menyadari tubuhnya menabrak tembok, luna tersudut sementara pelayan itu semakin mendekat. "sebelum mereka tahu aku dalang dibalik kejadian itu. aku akan membunuhmu, karena pada akhirnya tidak ada diantara kita yang bisa mendapatkannya." ucapnya dengan senyum khas psikopat, menyeramkan.


luna menutup matanya sebelum suara tembakan terdengar di detik berikutnya dia merasakan cipratan darah mengenai wajahnya. lalu suara sang pelayan yang meringis kesakitan memegangi tangannya yang tertembak peluru .  gerakannya yang akan menikam luna terhenti. bahkan pisau yang tadi dipeganya telah tergeletak tak berdaya.



kamar luna yang semula tamaran kini berubah menjadi sangat terang. beberapa pengawal masuk sambil menodongkan pistol ke arah pelayan itu, margaret dan para pelayan yang baru saja masuk terlihat sangat terkejut dan tak menyangka sophia adalah dalang dari penculikan luna.


melihat tyler berdiri di depannya membuat luna menghela nafas lega, dia kira dia yang akan mendapat sebuah tikaman.


dari jarak yang sangat dekat bisa terlihat jelas tatapan marah dari sorot mata tyler menatap pelayan itu yang sedang berusaha bersimpuh di bawah kakinya. "beraninya kau mencoba menyakitinya."


"setelah apa yang aku lakukan padamu ini balasan yang aku terima." tyler menendang pelayan itu agar menyingkir dari kakinya.


"maafkan aku tuan. kumohon maafkan aku..." mohonnya dengan bersujud di depan tyler.


"penghianat sepertimu tidak pantas untuk hidup." desis tyler, dia mendongak angkuh, sama sekali tidak terpengaruh dengan tangis dan permohonan dari pelayan ini. beberapa detik keheningan melanda ruangan ini, tidak ada yang berani bersuara kecuali tangis permohonan dari sang pelayan.


cukup lama tyler terdiam membuat semua orang yang ada disana memekik kaget, "perkosa dia!" dua kata dari tyler cukup membuat kedua bola mata luna hampir keluar. apa katanya? dia bercanda bukan? tidak mungkin dia tega—"

__ADS_1


pemikiran luna terpotong ketika melihat victor bergerak mendekati pelayan itu sambil melepas ikat pinggangnya. luna berbalik tidak ingin melihat kejadian selanjutnya yang membuat tubuhnya lemas dan ngilu. teriakan sang pelayan bahkan terdengar memilukan, dan tidak hanya victor yang melakukan kejahatan keji itu tapi semua anak buah tyler yang ada di ruangan ini bergantian memperkosanya.


"apa yang kau lakukan?" lirih luna tidak tahan, 


"lepaskan dia!" mohonnya lagi mengengam tangan tyler, air matanya mengalir deras dia tidak tega melihat pelayan itu yang tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah di tangannya dan juga cairan mani yang berlumuran di sekitar pahanya.


tidak ada yang berani membantah perintah dai tyler atau menghentikan perbuatan keji itu. orang orang yang ada dikamar ini hanya bisa menunduk dan menangis melihat pergaulan massal yang dilakukan didepan mereka.


"jangan ikut campur luna." desis tyler menatap lurus lurus anak buahnya yang sedang menggauli pelayan itu.


"lepaskan dia. kumohon... bagaimana bisa kau melakukan hal rendahan seperti ini."


"dia seorang penghianat dan ini hukumanku. apa aku perlu membuatnya lebih buruk lagi?" tanya tyler menoleh menatap luna yang sedang menangis hingga berlutut memohon pada tyler sambil menggenggam tangannya.


untuk sesaat tyler terdiam, sorot mata tajamnya perlahan –lahan berubah menjadi lembut. Ia meremas tangan luna yang menggenggamnya membawanya untuk bangkit berdiri. jemari tyler mengusap air mata luna dengan lembut, dia tidak bisa melihat luna menderita apalagi penyebab penderitaan itu adalah dirinya. miris bukan? ketika dia berharap luna akan bahagia berada disisinya, dia malah tidak bisa melindunginya dan membuat luna berkali-kali berada dalam bahaya.


Hanya luna yang mampu memberi pengaruh sebesar ini pada laki-laki iblis itu. Kemarahannya seketika menghilang terbawa angin. Sorot matanya menatap luna lembut dan hangat. sudah sejauh itu dia jatuh pada wanita ini.


"aku tidak tahan melihatnya." lirih luna menatap tyler memohon, pandangannya buram karena air mata membanjiri kelopak mata nya. pelayan itu sekarat, bahkan untuk menjerit pun dia sudah tidak kuat, luna benar- benar tidak sanggup lagi berada disini, dia ingin pergi dari tempat ini.


"beresakan dia." perintah tyler pada viktor yang telah kembali berpakaian lengkap. lalu berbalik menatap luna, "ikut aku!" perintahnya tegas, luna yang tidak punya tenaga lagi hanya berjalan lambat mengikuti, ada baik nya tyler membawanya pergi karena luna sudah tidak sanggup berlama lama disini.


tidak ada yang membuka suara sepanjang lorong perjalanan tyler membawa luna sampai ke dalam kamarnya, lalu mendudukannya di salah satu sofa untuknya menenangkan diri.


"tempat ini sudah tidak aman lagi untukmu. karena itu kita akan berangkat ke texas besok pagi."


luna mendongak, menebak luna keberatan tyler kembali membuka suara. "aku tidak ingin mendengar bantahan. ini semua demi keselamatanmu."


jeda sejenak, tyler tidak lagi membuka suara sementara luna hanya duduk diam. mereka sama sama larut dalam pikiran masih-masing. tyler menatap luna lama, melihat seperti orang yang ketakutan, mungkin dia masih memikirkan kejadian tadi.


tak lama tyler berjalan mendekati luna, dia duduk bersimpuh di depan luna, tangan laki-laki itu menggenggam erat tangan luna. "aku minta maaf. maaf karena telah membahayakanmu berkali kali."


suara itu begitu lembut, syarat akan penyesalan didalamnya, bahkan ketika luna menatap manik mata sebiru samudra itu, terpancar kekecewaan yang mendalam.



luna diam cukup lama, mereka hanya saling menatap, "sepertinya aku telah jatuh padamu."

__ADS_1


__ADS_2