
Leticia Crowford, wanita matang berusia empat puluh satu tahun yang bekerja sebagai penyanyi di sebuah bar kumuh di pinggiran Las Vegas. Rambut Leticia dicat merah menyala, dan ia selalu menggunakan lipstik merah yang menjadi ciri khasnya ketika sedang menyanyi di atas panggung reyot yang lantainya sering berderit saat ia menginjaknya dengan sepatu bertumit tinggi.
Leticia jelas bukan dari kalangan atas, ayahnya seorang pemabuk dan penjudi, tapi pemimpin sebuah genk brandal di daerah kumuh di pinggir Vegas. Sejak kecil Leticia tidak memiliki ibu. Ibunya kabur setelah melahirkannya karen tidak tahan dengan sikap kasar suaminya saat sedang mabuk. Namun ajaibnya, mr. Crowford mampu membesarkan putrinya sendiri dengan penuh kasih sayang.
Leticia tidak pernah membenci ayahnya, sekalipun ayahnya tukang mabuk dan berjudi. Bagi Leticia ayahnya adalah sosok penyayang yang sering memanjakannya. Apapun yang diinginkan Leticia selalu dipenuhi oleh ayahnya. Dan Leticia tidak pernah peduli darimana ayahnya mendapatkan barang-barang yang ia inginkan. Terkadang Leticia mendapatkan ponsel baru dari hasil mencuri, uang saku yang banyak dari hasil berjudi, dan berbagai macam barang-barang lain yang terkadang tidak didapatkan mr. Crowford dengan cara yang benar.
Sebagai anak, Leticia mengidolakan ayahnya sama seperti jutaan anak perempuan di luar sana. Bagi Leticia, ayahnya adalah segalanya. Ditambah lagi karena ayahnya seorang pemimpin genk yang cukup disegani, hal itu menjadi nilai plus untuk Letica yang gemar membuat kerusuhan di luar sana. Tidak ada satupun yang bisa
menyentuh Leticia selama ayahnya masih menjadi pemimpin genk. Dan karena hal itulah Leticia memiliki hak istimewa di daerahnya. Ia bebas berlaku semena-mena pada siapapun. Ia sering melecehkan teman-teman wanitanya yang lemah dan memilih salah satu teman prianya yang tampan untuk menjadi kekasihnya. Sekalipun pria itu tidak menyukai Leticia, tapi karena ia takut, maka pria itu terpaksa menjadi kekasih Leticia hingga wanita itu bosan.
Sayangnya dari sekian banyak pria yang bisa menjadi kekasihnya, Leticia justru tertarik pada Sian. Sudah bertahun-tahun rumah mereka bersebelahan. Ayah Sian adalah salah satu anak buah ayahnya, namun Leticia jarang melihat Sian berkeliaran bersama ayahnya. Terkadang Leticia melihat Sian pergi menggunakan tas besar dan berpakaian rapi. Dugaanya saat itu, Sian akan pergi ke sekolah, dan pria itu tidak pernah sekalipun meliriknya.
Sekali dua kali, Leticia belum tertarik pada Sian. Ia hanya penasaran pada sosok Sian yang jarang bergaul dengan teman-teman seusianya di kelab murahan yang letaknya tak jauh dari komplek kumuh mereka. Padahal hampir semua pemuda di komplek itu akan menghabiskan waktunya di kelab untuk bersenang-senang ataupun sekedar melihat para pria dewasa melakukan tarung bebas. Tapi Sian tidak pernah terlihat di sana. Bahkan ayahnya juga tidak peduli pada kehidupan putranya yang selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam dengan kondisi lelah.
Akhirnya Leticia memberanikan diri untuk menghampiri Sian. Di pagi yang dingin, Leticia sengaja menunggu Sian di depan rumahnya. Dengan menggunakan pakaian seksi yang belum ia ganti sejak semalam, Leticia menyilangkan kakinya dan sengaja membuat senyuman menggoda saat Sian melintas di depannya.
“Hey Sian...”
Pria itu hanya menoleh sedikit ke arahnya dan tidak terlihat ada tanda-tanda akan menjawab panggilannya.
“Kau Sian bukan?”
“Wanita bodoh.” maki Sian dan segera berlalu pergi meninggalkan Leticia yang merasa murka.
“Berani-beraninya dia mengataiku!” geram Leticia kesal. Ia lalu segera berlari ke dalam rumah dan mengadukan perbuatan Sian pada ayahnya. Leticia remaja yang saat itu berusia delapan belas tahun, berpura-pura menangis di depan ayahnya agar pria itu menaruh simpati padanya. Dan seperti dugaannya, mr. Crowford begitu mudah dipengaruhi. Ia dengan kemarahan yang meluap-luap berjalan menuju rumah Sian di sampingnya dan langsung menyerbu masuk begitu saja untuk menghajar ayah Sian.
“Katakan pada anakmu untuk jangan terlalu sombong dan menghina anakku!” bentak mr. Crowford pada ayah Sian yang masih teller akibat mabuk-mabukan semalam. Pria itu terlihat tidak bisa berdiri dengan benar setelah mendapatkan satu tinjuan keras di perut dan wajahnya. Saat mr. Crowford terus membentak-bentaknya tanpa ampun, mr. Markle hanya mampu menggaruk-garuk rambutnya bingung sambil sesekali terbantuk pelan karena sensasi sesak dari tinjuan yang diarahkan di perutnya.
“Sudahlah dad, kau hanya membuang waktumu dengan si dungu ini.” Leticia yang gemas melihat sikap dua pria itu akhirnya memutuskan untuk menarik tangan ayahnya pergi dari rumah Sian. Percuma saja mereka memarahi ayahnya, sedangkan ayahnya tidak pernah memiliki ikatan apapun pada anaknya. Sian jelas tidak peduli jika ayahnya dipukuli hingga mati. Ia memiliki kehidupannya sendiri yang jauh lebih penting daripada kehidupan kacau ayahnya.
“Kita harus menghadangnya saat ia pulang nanti.”
“Jam berapa ia pulang?”
“Sepuluh mungkin.” jawab Leticia asal. Selama ini ia tidak pernah melihat jam jika Sian mulai melewati portal di ujung komplek mereka. Hanya saja Sian selalu pulang ketika semua orang sudah keluar dari rumah mereka untuk berkumpul di kelab. “Pokoknya ia selalu pulang larut malam, aku tidak tahu kapan tepatnya. Tapi pukul sepuluh, dad dan teman-teman dad harus sudah siap di ujung komplek.”
Dalam hati Leticia tertawa senang. Kali ini ia pasti dapat membuat Sian tunduk di bawah kakinya. Saat pria itu memohon-mohon untuk dilepaskan karena teman-teman ayahnya akan memukulinya, Leticia akan berdiri dengan angkuh di hadapan pria itu dan memaksa pria itu untuk mencium kakinya sebelum ia meminta ayahnya untuk melepaskan Sian pergi.
-00-
Seperti yang sudah direncanakan, pukul sepuluh malam ayah Leticia dan anak buahnya telah berjaga di ujung komplek untuk menghadang Sian. Di tengah-tengah gerombolan para pria dewasa itu, terselip Leticia dengan pakaian mini super ketat yang membungkus tubuh rampingnya yang bagus. Tak lupa lipstik merah juga ditambahkan ke atas bibirnya yang sensual untuk membuat penampilannya semakin menonjol.
“Kapan si brengsek itu pulang?”
“Sebentar lagi, dad. Tunggu saja.” balas Leticia gusar. Sejak tadi ayahnya begitu tak sabar untuk memukuli Sian. Mungkin ayahnya juga penasaran dengan sosok Sian yang jarang sekali terlihat berada di kelab untuk bersenang-senang seperti yang lainnya.
“Kenapa dad hanya membawa lima teman dad saja?”
__ADS_1
“Tidak perlu banyak orang, lima sudah cukup untuk menggertak pria dungu itu. Nanti ayah sendiri yang akan menghajarnya.”
“Nah itu dia datang!” tunjuk Leticia girang saat melihat Sian baru saja turun dari sebuah mobil mewah yang mengantarnya. Sian turun dari mobil itu setelah melakukan tos terlebihdahulu pada seseorang di bangku kemudi. Dan setelah itu Sian segera berjalan tenang menuju rumahnya tanpa pernah berpikir jika segerombolan pria yang berdiri di dekat portal adalah orang-orang yang akan menghajarnya malam ini.
“Hey bodoh!” panggil Leticia sengit. Sian hanya menatap wanita itu sekilas, dan kembali berjalan dengan tenang tanpa menghiraukan kegusaran yang ditunjukan Leticia.
“Lihat dad, dia mengabaikanku.” rengek Leticia berpura-pura menangis. Melihat putrinya yang diacuhkan seperti itu, mr. Crowford langsung menarik baju belakang Sian dan mendorongnya keras hingga menghantam tembok. Bunyi debuman keras terdengar begitu jelas saat mr. Crowford langsung melayangkan satu tinjuan di wajah Sian.
“Ini balasan untuk pria sombong sepertimu.”
“Leticia putrimu?” tanya Sian mencemooh. Tak dihiraukannya rasa perih yang menjalar di sekitar bibirnya. Ia tak peduli, dan ia sama sekali tidak takut dengan mr. Crowford.
“Aku tidak memiliki urusan apapun dengannya.”
“Hey, kau harus minta maaf padaku karena telah mengataiku pagi tadi.” seru Leticia cepat dengan gaya angkuh yang memuakan. Namun Sian sama sekali tidak ingin mengalah untuk wanita ingusan manja seperti Leticia.
“Putrimu memang bodoh, jadi aku merasa tidak salah jika mengatakannya bodoh.”
“Berani-beraninya kau!”
Plak
Satu tamparan lolos begitu saja di pipi kanan Sian, meninggalkan bekas merah berbentuk telapak tangan yang terlihat sangat dramatis.
“Minta maaf sekarang atau kau akan merasakan lebih sakit daripada ini.” ancam mr. Crowford geram. Namun Sian sama sekali tidak ingin meminta maaf. Ia terus saja bertahan pada egonya. Dan saat mr. Crowford akan menghajarnya lagi, suara letusan yang begitu nyaring mengagetkan mereka semua dari peristiwa yang terlalu cepat di dekat mereka.
Darah menetes-netes dengan deras di atas tanah berdebu yang dipijak mr. Crowford. Pria itu mengerang keras sambil memegang lengan kirinya yang terasa sangat sakit karena sebuah peluru baru saja menembus masuk ke dalam kulitnya yang tebal.
“Ayo pergi.”
Mereka semua langsung berlari pergi meninggalkan Sian yang masih terlihat tenang di tempatnya berdiri. Dari jauh ia menyunggingkan senyum ke arah seseorang di dalam mobil yang beberapa detik yang lalu telah menolongnya dari amukan ayah Leticia. Dan setelah itu Sian melihat mobil hitam itu pergi meninggalkannya yang masih berdiri di sana untuk beberapa saat.
Sejak kejadian itu, tidak ada satupun penghuni komplek yang berani mengganggu Sian. Bahkan ayah Leticia sekalipun, pria itu tidak mau lagi berurusan dengan Sian yang menyebabkannya mendapatkan lima belas jahitan di lengannya karena goresan peluru yang merobek kulitnya cukup panjang.
“Halo tampan, akhirnya kau bangun juga. Kopi?” tawar Leticia sambil berjalan ringan ke arah Sian menggunakan kemeja longgar sebatas paha yang terlihat begitu seksi. Jelas wanita itu ingin menggoda Sian, namun sayangnya Sian sama sekali tidak tergoda dengan tubuh ****** Leticia.
“Kopi dan roti panggang, aku lapar.”
“Ck, kau pikir ini di rumahmu? Aku tidak memiliki roti panggang, aku hanya memiliki ini.”
Leticia melemparkan sebungkus biskuit yang terlihat sudah hancur isinya karena tak sengaja terinjak Leticia beberapa jam yang lalu. Namun Sian tetap menerima bungkusan itu dan memakannya dalam diam.
“Ini tidak buruk.”
“Yeah, walaupun ada sedikit rasa kaki di sana.” balas Leticia acuh tak acuh. Setelah ia meletakan secangkir kopi di meja kecil di samping Sian, ia segera mengambil tempat untuk duduk di sebelah pria itu.
“Untuk pertama kalinya dalam sejarah seorang Sian Markle, kau akhirnya mendatangiku? Kenapa?”
__ADS_1
“Tidak kenapa-kenapa.” balas Sian acuh. Ia akhirnya dapat menghabiskan remah-remah biskuit itu hingga ke butiran terakhir setelah menjumputinya satu persatu dengan sabar. Memang ia tidak seharusnya mengandalkan Leticia dalam hal makanan karena wanita itu jarang menghabiskan waktunya untuk memasak di rumah. Jelas ia
tak akan menemukan persediaan makanan sebijipun di kulkas Leticia kecuali berbotol-botol beer dan soda diet.
“Pernikahanmu sedang terguncang?”
“Kenapa kau bisa menebak seperti itu?” tanya Sian sambil menyesap kopinya nikmat. Tidak buruk juga meminum kopi buatan Leticia. Meskipun harus ia akui jika wanita itu membuatnya dengan tanpa perasaan sama sekali. Berbeda dengan Olivia yang selalu membuatkannya kopi dengan penuh cinta.
“Karena kau tidak mungkin akan mendatangiku jika kehidupan pernikahanmu baik-baik saja.” jawab Leticia jengah. “Aku melihat foto istrimu beberapa kali di media saat kalian menikah dan saat anak pertamamu lahir. Ia bukan jenis wanita liar. Bahkan ia terlalu manis dan keibuan.”
“Memang. Olivia adalah wanita polos dan juga lembut yang tak akan pernah kutemukan disini.” ucap Sian mencemooh. Namun Letician hanya mengendikan bahunya pelan, tanda jika ia tak peduli sama sekali dengan cemoohan itu. Ia tahu sejak dulu Sian memang sudah tidak cocok berada di lingkungan kumuh ini. Terlebih saat pria itu berteman dengan seorang milyarder kaya, namun berhati dingin, kehidupan Sian praktis menjadi lebih condong pada pria itu.
Setelah malam dimana ayahnya tertembak di lengan, Sian menjadi jarang terlihat di sekitar rumahnya. Leticia yang keram dengan sengaja menunggu kemunculan Sian menjadi merasa aneh karena ketidakhadiran pria itu. Ia kemudian melakukan tindakan nekat saat suatu hari Sian melewati rumahnya di siang hari. Diam-diam ia mengikuti pria itu saat keluar meninggalkan rumah dengan tas besar di punggungnya.
Tidak ada yang peduli pada kepergian Sian. Hanya Leticia yang terus mengikuti kepergian Sian dengan dahi berkerut. Wanita itu merasa aneh karena tidak biasanya Sian pergi dari rumah di siang hari dengan tas besar di punggungnya. Tapi ketika ia telah mengikuti Sian ke ujung jalan besar, ia melihat pria itu telah ditunggu oleh sebuah mobil putih berjenis sedan yang pengemudinya hanya terlihat samar di mata Leticia. Dan setelah Sian naik ke dalam mobil itu, Leticia tak pernah lagi melihat Sian masuk ke dalam rumah ayahnya. Pria itu telah sepenuhnya pergi meninggalkan kehidupan ayahnya yang kacau. Dan Leticia sendiri juga makin disibukan dengan pekerjaannya sebagai penyanyi bar. Hanya itu pekerjaan yang bisa didapatkan Leticia dari penampilannya yang seksi, namun otak kosong seperti cangkang yang telah ditinggal mati oleh sang siput.
“Yeah, dan sejak aku bertemu denganmu lima tahun yang lalu, aku selalu mendapatkan penolakan darimu. Kau tidak mau menggunakanku untuk bersenang-senang. Kau hanya menyelipkan uang di tanganku setiap kali aku mencoba untuk menjadi pelacurmu, kenapa?”
Sian tersenyum kecil menatap Leticia. Sebenarnya tidak ada alasan khusus apapun selain karena rasa kasihan yang ia tanamkan di otaknya untuk Leticia. “Aku tahu kau sejak kecil bosan dengan kehidupanmu. Dan kau terus saja mencari gara-gara agar kehidupanmu bersama ayahmu menjadi lebih berwarna. Jadi aku merasa kasihan padamu.”
“Sialan! Aku tidak butuh rasa kasihanmu.” Namun kendati begitu, Leticia tidak akan pernah bisa mengembalikan uang pemberian Sian yang telah habis ia gunakan untuk berobat ayahnya sebelum meninggal dua tahun yang lalu.
“Selain itu, aku sebenarnya menganggapmu sebagai temanku.”
“Teman?” cicit Leticia tidak percaya. “Aku tidak pernah berpikir akan menjadi temanmu.”
“Tapi aku memikirkannya. Terimakasih karena kau tidak melanggar peraturan yang ku buat.”
Leticia mendengus gusar ke arah Sian, ia kemudian bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil ponsel milik Sian yang ia charge di atas lemarinya.
“Aku sudah cukup puas dengan meraba setiap inci tubuh berototmu. Ini ponselmu.” ucap Leticia sambil melemparkan ponsel biru itu ke arah Sian. “Seseorang dengan nama Damn Ford menghubungimu dua jam yang lalu. Ia menyuruhku untuk memberitahumu jika dia mencarimu dan istrinya baru saja melahirkan bayi kembar mereka.”
Sian mengernyit melihat ponselnya yang baru ia nyalakan. Ada begitu banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab. “Kau memberitahunya dimana aku berada sekarang?”
“Dia tidak bertanya.” jawab Leticia acuh.
“Kau memberitahu namamu padanya?”
“Tidak, dia juga tidak bertanya. Ia terdengar tidak terkejut sama sekali saat aku mengangkat panggilannya. Dan ia hanya menitipkan pesan itu padaku.”
“Aciel pasti sudah menduga jika aku akan berada di salah satu rumah wanita dalam keadaan mabuk dan kacau.” gumam Sian pada dirinya sendiri. Setelah itu ia segera bangkit dan membenahi letak piyamanya yang sudah sangat kusut sejak semalam. Ia akan pulang untuk melihat keadaan rumah.
“Apakah itu darah?” tanya Leticia saat melihat noda coklat yang tersebar cukup banyak di permukaan piyama Sian.
“Kau melakukan kekerasan pada istrimu?” jerit Leticia heboh. Tangan dengn kuku panjang berwarna merah itu menutup sempurna bibirnya yang menganga lebar. Ia menunjukan ekspresi terkejut yang tampak dibuat-buat di mata Sian, tapi hal itu sama sekali tidak membuat Sian ingin memberikan jawaban atas tuduhan Leticia padanya.
“Gunakan uang ini dengan bijak. Jangan menghambur-hamburkannya untuk minuman murahan di bar.” Sian menarik tangan Leticia dari mulutnya dan meletakan uang seribu dollar di atas tangan Leticia yang halus. Wanita itu cepat-cepat mengganggam uang itu dan tersenyum genit ke arah Sian yang tampak tak peduli
__ADS_1
“Andai saja semua pria sebaik dirimu.”
“Hmm... kurasa sekarang aku ingin menjadi pria yang jahat agar tidak dimanfaatkan oleh orang-orang sepertimu.” gumam Sian sambil lalu sebelum ia melangkah keluar dari apartemen kumuh Leticia yang kotor.