
Mematikan sambungan teleponnya yang membuat telinganya panas, Aciel kemudian mendengus sambil melemparkan ponselnya ke atas meja. Hal-hal yang diinginkan oleh Eden selalu tidak boleh terlewatkan sedikitpun. Ia akan menjadi cerewet dalam beberapa waktu yang panjang dan kemudian mengakibatkan telinganya sangat panas. Katanya dia tidak boleh melewatkan satupun keinginan seorang istri. Hell.
“Ada apa dengan Eden?”
“Pesta ulangtahun untuk si kembar dua minggu lagi. Awalnya dia menolak, tapi mendadak ia memiliki rencana untuk mengadakan pesta di rumah dengan konsep camping party. Entahlah, Eden agak gila akhir-akhir ini.” Sambil mengusapkan tangannya ke wajahnya yang lelah, Aciel berkata, “Dia sangat khawatir dengan kehidupan kalian. Olivia baik-baik saja?”
Sian tidak langsung menjawab. Hatinya bimbang untuk membahas masalah rumah tangganya dengan Aciel.
Dua bulan ini ia mungkin telah berhasil menghindari topik pembicaraan itu untuk dibicarakan bersama Aciel, tapi kali ini sepertinya tidak.
“Kurasa dia baik-baik saja. Tidak ada keluhan apapun setelah kembali dari Dallas.”
“Untuk masalah fisik, aku tidak meragukannya.” Aciel mengangkat bahu singkat. “Tapi aku meragukan kondisi hatinya. Apakah dia bahagia selama ini?”
Tidak! Itulah jawaban yang ingin dilontarkan oleh Sian, tapi hanya terhenti sampai di ujung lidah.
Dia tahu selama ini kondisi Olivia tidak baik-baik saja. Wanita itu hancur karena ia mendiaminya selama dua bulan ini. Tapi bukan tanpa alasan ia melakukan hal itu. Ia hanya tidak bisa melihat bayi itu dan juga Olivia bersama sama. Seperti ada sesuatu yang salah melihat pemandangan itu setiap kali ia berada di rumah dan hatinya selalu meronta dengan sangat menyakitkan.
“Aku bukan psikolog, Ace. Mana mungkin aku tahu apakah dia bahagia atau tidak. Sejauh ini aku melihat hidupnya baik-baik saja bersama—” agak tercekat untuk mengeja nama bayi itu di hadapan Aciel. “— bersama bayinya. Scout **.”
Butuh perjuangan besar agar tidak muntah di hadapan Aciel karena ia memaksa dirinya untuk mengucapkan nama laknat itu setelah selama berminggu-minggu ia melarang dirinya sendiri untuk mengatakan nama itu di rumahnya.
“Sejak kapan Sian yang kukenal menjadi bodoh seperti ini? Kau bukan laki-laki tanggung yang tidak bisa memahami hati wanita, bung. Kau pikir aku percaya dengan jawabanmu? Katakan padaku, apa hubunganmu dengan Olivia tidak berjalan mulus?”
Yeah, dia tahu dia tidak akan pernah berhasil mengecoh Aciel agar keluar dari topik yang ingin dibicarakan oleh pria itu. Well... ini jalan buntu.
“Sebenarnya hubungan kami agak tegang akhir-akhir ini.”
“Dasar pembohong sialan!” Aciel mendengus jijik. Ia berjalan ke arah rak minuman di sisi kanan ruang kerjanya, lalu menuangkan untuk dirinya sendiri whiskey.
“Layani dirimu sendiri jika kau menginginkannya. Kembali ke topik, kau sudah tegang sejak dua bulan
yang lalu.” Aciel menyesap minumannya sambil melirik ke arah wajah Sian melalui celah di mulut gelasnya.
“Memangnya apa yang bisa kau harapkan dari hubungan rumah tangga kami yang kacau, Ace? Sejak awal
aku sudah tidak yakin dengan semua ini, tapi setidaknya aku mencoba. Aku masih memikirkan Justice, asal kau tahu. Aku tidak ingin masa depannya rusak karena kami.”
“Sebenarnya itu sudah rusak sejak bajingan itu menculik Olivia. Sekarang lihatlah bagaimana Justice, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di rumahku. Dan dia bahagia.”
“Ya aku tahu. Keluarga kalian terlihat sangat ideal di mata Justice. Karena itu aku justru senang jika ia menghabiskan waktunya lebih banyak di rumah kalian. Ngomong-ngomong aku berterimakasih pada Eden dan juga padamu, kalian menjaga Justice dengan baik.”
“Hal bodoh macam apa itu? Justice sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Bahkan jika hubungan kalian tetap buruk seperti ini, aku dan Eden sepakat untuk mengadopsi Justice sebagai anak kami.”
Sian sama sekali tidak marah degan kata-kata Aciel. Justu sebaliknya, ia lega luar biasa mengetahui rencana Aciel pada putrinya.
“Jika memang itu diperlukan, aku tidak masalah. Rumah tanggaku sudah tidak bisa dipertahankan lagi.”
Dari tempatnya bersandar di dekat meja bar, Aciel mengumpat-ngumpat dengan kasar. Ia lalu meletakan gelas whiskeynya begitu saja dan berjalan tergesa-gesar ke arah Sian dengan marah.
“Hey pecundang, kau tidak bisa melupakan tanggungjawabmu begitu saja. Kau harus bangkit! Kau harus menyelesaikan permasalahanmu dengan Olivia sebelum kau membuat hidup seorang gadis kecil yang tak berdosa menjadi menderita.”
Aciel sangat geram melihat Sian yang begitu pasif, bahkan terkesan tanpa gairah hidup. Kesabarannya telah habis setelah selama berminggu-minggu ia membiarkan Sian menjalani kehidupannya sesukanya, tanpa campur tangan darinya. Tapi itu hanya membuktikan bahwa Sian tidak bisa melakukan apapun tanpa ia terlibat di dalamnya. Sama seperti ketika Olivia diculik. Keacuhannya hanya membuat Olivia bergerak semakin jauh meninggalkan Sian, sementara itu sekarang ia tidak ingin hal itu terjadi lagi di keluarga Sian karena ia cukup memprihatinkan kondisi Justice.
“Itu bukan urusanmu, Ace. Aku mengizinkanmu mengintervensiku selama ini. Tapi maaf, kali ini tidak. Biarkan aku memutuskan sendiri apa yang akan kuambil.”
Aciel mengepalkan tangannya geram. Keputusannya untuk berbicara dengan Sian di ruang kerjanya siang ini memang sangat salah. Seharusnya ia tidak membuang-buang waktu memanggil pria itu ke sini hanya untuk menahan geram agar tidak meninju wajah keledai itu sekarang juga.
“Kalau begitu semoga beruntung. Kita lihat apa yang akan terjadi pada keluargamu tanpa campur tangan dariku,” ucap Aciel sinis sebelum ia membanting pintu ruang kerjanya keras dan menimbulkan getaran di dinding-dinding di sekitarnya.
-00-
Tepat satu jam yang lalu Olivia baru saja menyelesaikan acara berbincangnya dengan Eden. Wanita itu ingin mengetahui kondisinya sekaligus membicarakan tentang Justice.
Dengan suara tenang dan pikiran yang dibuat sepolos mungkin, ia membicarakan Justice bersama Eden seperti ia seorang ibu yang baik, yang sangat mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak perempuannya. Ia tidak ingin Eden tahu tentang masalahnya dengan Sian. Meskipun ia yakin Eden mengetahuinya dan hanya berpura-pura tidak tahu untuk menjaga perasaannya, tapi dia memilih berbohong. Ia bersandiwara sebagai seorang ibu yang baik. Lalu dalam perbincangan mereka yang terkesan sangat seru namun terasa hambar baginya, ia diberitahu jika malam ini Justice akan menginap di rumah Eden.
Sian ternyata memberitahu Eden bahwa malam ini ia tidak akan menjemput gadis kecil itu. Tapi sangat disayangkan karena Sian bahkan tidak memberitahunya jika Justice akan menginap di rumah Eden.
Rasanya sangat menyakitkan mengingat hubungannya dengan Sian yang bagaikan neraka. Kehidupan pernikahan mereka yang sudah sangat sakit. Dan ia sudah bertekad pada dirinya sendiri bahwa ia akan menyelesaikan semua ini secepatnya.
Selesai dengan urusannya menyusui Scout hingga bayi itu tertidur sangat nyenyak di baby cribnya, ia segera berjalan ke arah kamar tamu yang letaknya berada di dekat tangga. Ia perlu berbicara dengan Sian malam ini. Tadi ia sudah mendengar suara mesin mobil Sian di halaman rumahnya. Dan saat ia mengintip dari jendela kamarnya beberapa saat yang lalu, ia bisa melihat mobil SUV putih milik Sian terparkir di bawah sana.
Hanya ada dua tempat di rumah ini yang akan didatangi Sian, kamar tamu dan ruang kerjanya di lantai bawah.
Tapi untuk membuktikan hipotesanya, pertama-tama ia mendatangi kamar tamu yang dari luar tampak gelap dan sepi. Meskipun begitu bukan berarti Sian tidak berada di sana. Bisa saja pria itu sedang beristirahat dan ingin menenangkan pikirannya yang kacau dalam ruangan gelap.
__ADS_1
“Sian... bisa aku masuk?” Olivia bertanya dengan suara pelan yang terdengar bergetar. Jantungnya memukul-mukul rongganya dengan sangat keras. Ia begitu gugup dengan rencananya sendiri malam ini. Tapi sudah terlambat untuk mundur.
“Sian... ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”
Saat tak ada jawaban apapun, ia memberanikan diri untuk menarik kenop pintu dan melangkah ke dalam kamar Sian yang gelap.
Tak ada tanda-tanda kehidupan di kamar itu. Tempat tidur berukuran besar di tengah ruangan masih sangat rapi. Seprainya bahkan belum bergeser seincipun, yang menunjukan bahwa Sian belum mendatangi kamarnya.
Menghela nafas, Olivia mundur dari kamar itu dan menutup pintunya pelan.
Sian sepertinya belum masuk ke kamarnya sama sekali. Ia langsung pergi ke ruang kerjanya setelah tiba di rumah beberapa saat yang lalu. Itu bisa jadi memiliki dua kemungkinan, Sian sedang bekerja atau ia sedang memiliki banyak masalah.
Kembali merasakan ketakutan yang sama saat berdiri di depan kerja ruang kerja Sian, Olivia tak membiarkan ketakutan itu menguasainya lebih lama. Jadi sebelum kakinya yang gemetaran melangkah mundur dan berlari menjauh menuju kamarnya, ia segera menarik kenop pintu ruang kerja Sian dan melongokan kepalanya ke dalam ruang kerja Sian yang temaram.
“Apa kau keberatan jika aku masuk? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”
Sekilas Olivia terkejut melihat penampilan Sian malam ini. Sepertinya ia sudah lama tidak mengurus pria itu dan memperhatikan pria itu hingga ia benar-benar terkejut melihat cambang di wajah Sian sudah tumbuh dengan sangat tebal. Kantung mata di bawah matanya sangat hitam. Pipi pria itu sangat tirus hingga tulang-tulang pipinya terlihat menonjol dengan memprihatinkan. Selain itu binar-binar kebahagiaan di kedua mata Sian kini telah hilang. Binar-binar kebahagiaan itu bukan hanya meredup, sekarang bahkan sudah hilang sepenuhnya dan hanya menyisakan sepasang mata lelah yang sangat mengerikan.
Oh Tuhan! Olivia mengerang dalam hati, sudah sejauh apa ia menyakiti pria itu hingga menjadi seperti ini?
“Kau bisa masuk jika kau mau.”
Di tangannya Sian memegang gelas berisi brandy. Ia sepertinya sudah lama menegak isi minuman itu. Botol besar berisi brandy di atas mejanya hanya tersisa beberapa teguk lagi. Malam ini Sian terlihat sangat ingin mabuk untuk melupakan semua masalahnya sejenak.
“Aku bisa kembali lain waktu jika kau tidak ingin...”
“Masuklah Olive. Aku telah menunggu datangnya hari ini sejak lama. Kita harus bicara untuk kejelasan rumah tangga kita yang semakin mendekati kehancuran.”
Untuk pertama kalinya Olivia mendengar Sian ingin membicarakan tentang kejelasan hubungan rumah tangga mereka. Kali ini pria itu bertekad dan tidak ingin menghindar seperti biasanya. Apa karena brandy yang ia teguk? Mungkin. Apapun itu Olivia merasa bersyukur. Ia sudah tidak tahan dengan kebisuan yang ditunjukan selama ini.
Sikap baiknya dulu hanya bertahan dua hari setelah ia kembali dari Dallas. Setelah itu Sian mulai menghindarinya dan lebih banyak mengurung diri di kamarnya atau di ruang kerjanya yang suram.
“Kau tidak memberitahuku jika malam ini Justice menginap di rumah Eden.”
“Aku hanya tidak sempat.” Dia menjawab sambil mengangkat bahunya acuh.
Dia tahu itu bohong. Sian hanya mencoba beralasan untuk menghindari menyakitinya. Ia tahu pria itu menjadi canggung setiap kali tatapan mereka bertemu. Jadi ia tidak mungkin akan memperburuk kecanggungan itu dengan berbicara dengannya untuk membicarakan Justice.
Sambil menarik kursi kulit terdekat, Olivia memberanikan diri untuk memulai obrolan pertamanya dengan Sian. “Akhir-akhir ini dia lebih seperti Lutherford bersaudara.”
“Bukankah itu tidak bisa disangkal lagi? Justice telah sepenuhnya menjadi bagian dari Lutherford. Aku hampir tidak mengenalinya sebagai putriku sendiri sejak satu tahun yang lalu.”
Tidak kasar, tidak mengandung banyak emosi, tapi sangat efektif untuk membuat hati Olivia seperti diris oleh sebilah pedang. Ia benar-benar merasa sakit membayangkan wajah polos putrinya yang perlahan-lahan berjalan menjauh darinya.
“Kau... tidak mendampinginya selama ini?”
“Aku sudah mencoba. Atensiku terpecah untuk mencarimu. Sebenarnya Justice adalah korban yang sesungguhnya dari kebusukan rumah tangga kita.” Sian mendengus. Mulai merasakan emosi yang telah ditahannya selama lebih dari satu tahun, kini mulai berkobar menjadi bara api yang siap membumbung tinggi ke udara.
“Bukan keinginanku untuk berada di situasi itu. Aku sudah mencoba untuk berbicara denganmu sejak awal, tapi kau tidak memberiku kesempatan.”
Sian terkekeh pelan. Suaranya terdengar seperti seorang pesakitan yang sedang sekarat. Bibirnya yang
kering dan pecah-pecah, bergerak-gerak, menimbulkan suara serak dari dalam rongga mulutnya yang nyaris kering. Seolah-olah semua brandy yang telah diminumnya menguap ke udara bersama kemarahan yang sedang ia rasakan saat ini.
“Kau bisa berkata begitu karena kau tidak berada di posisiku.”
“Kau juga tidak berada di posisiku,” balas Olivia sengit. Akhirnya kemarahan yang telah ia tahan sekian lama, malam ini akan meledak ke udara.
Buku tangannya yang tergletak di atas pangkuannya mengepal kuat. Bibirnya yang terkatup rapat menyembunyikan amarah yang menggelegak dari dalam hatinya.
“Aku mengalami apa yang disebut orang-orang sebagai stress dan depresi. Semuanya terjadi hampir bersamaan
saat aku sedang sakit. Menurutmu reaksi apa yang pantas ditunjukan oleh suami yang dikhianati oleh istrinya selain reaksi marah? Apalagi jika suaminya sedang sakit, lalu tiba-tiba istrinya hamil dengan pria lain. Menurutmu apa sikapku itu berlebihan, Olive?”
Olivia membuang muka, tidak mau menatap wajah Sian yang terlihat lebih menakutkan untuk pertama kalinya semenjak mereka menikah.
“Kenapa kau tidak berani menatap wajahku Olivia?” Sian menyeringai.
“Kau terlalu mabuk untuk pembicaraan ini.”
“Tidak perlu mencari alasan untuk melarikan diri dari masalah ini, Olive. Lihat wajahku.”
Olivia tidak memiliki pilihan lain selain memalingkan wajahnya ke arah Sian.
“Toh aku tidak melakukannya dengan sengaja. Seharusnya kau bisa memaafkannya dan menolongku untuk keluar dari lubang hitam itu. Tapi kau justru meninggalkanku sendirian bersama Scout.”
__ADS_1
“Tidak perlu mencari alasan untuk membenarkan tindakanmu, Olive.”
“Aku tidak!” Olivia berseru marah. “Aku tidak pernah membenarkan tindakanku. Aku hanya memikirkan kehidupan putraku dari sisi seorang ibu. Aku tidak ingin bayi itu mendapatkan tanggapan buruk dari masyarakat. Aku ingin ia hidup dalam lingkungan yang kondusif bersama orangtua yang lengkap.”
“Kau mencintainya, iya kan? Kau mencintai bajingan busuk itu.”
Sebesar apapun usahanya untuk meminimalkan kerusakan ini, ia tidak akan pernah bisa. Mereka berdua memang ditakdirkan untuk saling merusak dan menyakiti jika menginginkan masalah ini mendapatkan kejelasan.
“Aku mencintai semua orang yang mencintaiku Sian. Bukan dalam arti yang intim,” potong Olivia cepat ketika Sian hampir membantahnya dengan ejekan.
“Saat dia menawarkan perlindungan dan menjanjikan kehidupan yang layak untuk putranya, aku tidak bisa melakukan apapun selain menerimanya. Dia pria yang awalnya menyakitiku, tapi kemudian ia bersedia untuk berkompromi terhadapkau dan berbalik menyayangiku. Sesuatu yang saat itu kuharapkan datang darimu, Sian.”
“Kau selalu memposisikan dirimu sebagai korban yang harus dibela. Cih, kau licik. Tak kusangka kepolosanmu hanya topeng. Kau tidak sepolos itu.”
Merasa geram dengan dirinya sendiri, ia langsung meneguk sisa brandy yang ia miliki dari dalam botol lalu membanting botol itu keras di atas permukaan meja hingga meja itu bergetar di bawah permukaan telapak tangan Olivia.
“Aku sekarang melihat lebih jelas.” Olivia menjawab tak kalah sengit. “Terimakasih karena kau telah berkorban sangat banyak untukku hingga sejauh ini. Mata ini, aku sangat menghargainya.”
Olivia mengusap-usap mata kanannya seperti ia sedang mengusap bongkahan emas yang sangat berharga.
Namun baginya mata itu jauh lebih berharga dari seluruh hartanya yang ia miliki. Dengan satu mata pemberian Sian, ia bisa melihat segalanya lebih jelas. Keduanya, yang dipermukaan maupun yang tersembunyi.
“Aku tidak pernah menyesal telah mendonorkan mataku, jika kau ingin tahu. Bahkan dengan pengkhianatan itu, aku tidak pernah menyesalinya. Yang kusesali adalah tindakanmu dan pilihanmu. Bagaimana mungkin kau bisa memberikan hatimu untuk pria itu, Olive? Bagaimana mungkin?”
Tatapan mata Sian mengendur. Ketegangan itu sudah pergi dari dirinya, digantikan dengan kesedihan yang begitu banyak menguar dari setiap pori-pori tubuhnya.
“Scout menunjukanku hal-hal baru yang selama ini tidak kudapatkan darimu. Maafkan aku Sian, bukan karena aku ingin membandingkan kalian, tapi aku merasakan perbedaan yang mencolok diantara kalian.”
“Kau sudah melakukannya. Kau membuat perbedaan untuk kami. Yang kupertanyakan, apa yang akan kau lakukan seandainya Scout tidak mati? Siapa diantara kami yang akan kau pilih?”
Olivia termenung dengan pertanyaan itu. Siapa yang akan ia pilih? Itu adalah pertanyaan yang pernah muncul di otaknya berbulan-bulan yang lalu. Saat ia merasa bimbang dengan hatinya, ia mencoba meyakinkan hatinya tentang siapa pria yang tepat untuknya. Namun saat ia koma dan Scout meninggal, ia mulai melupakan pertanyaan itu dan memilih untuk kembali bersama Sian. Tapi sekarang pertanyaan itu tiba-tiba mengganggunya lagi.
“Siapa, Olive? Kau tidak bisa menjawab huh?”
Menatap kedua mata Sian bersungguh-sungguh, ia berkata dengan lantang, “Kalian berdua sangat berarti
untukku. Kalian ayah dari anak-anakku. Dan kau adalah pria yang kupilih secara sadar untuk menjadi ayah dari anakku. Sedangkan Scout, aku tidak pernah memilihnya, keadaan yang membuatku harus memilihnya. Apa kau mengerti sekarang?”
Sian terkekeh, masih tidak bisa mengerti jalan pikiran Olivia yang begitu serakah. Wanita itu bahkan bisa menolak pernikahannya dengan Scout, tapi kenapa dia harus melakukannya? Toh anak itu tetap akan lahir tanpa adanya ikatan pernikahan.
Berkali-kali ia menyangkal hal itu dari kepalanya. Namun berkali-kali itu juga ia mendapatkan rasa sakit yang sangat menyiksa. Pikiran bahwa Olivia sengaja menerima lamaran pria itu untuk menjadi istrinya, itu sudah menjadi bukti kuat yang tak terelakan jika Olivia telah mencintai Scout dan perlahan-lahan mulai melupakannya.
“Kau mencintai Scout.”
Olivia diam. Tak ada gunanya menyangkal jika apa yang dikatakan Sian adalah kebenaran. Dia memang mencintai Scout, tapi ia juga mencintai Sian.
“Aku mencintaimu Sian.”
“Karena kau merasa harus membalas kebaikanku. Tidak perlu memaksakan diri jika kau hanya ingin berpura-pura.”
Ia merasa sakit melihat Sian yang mencemoohnya dengan begitu kejam. Sambil mengepalkan telapak tangannya di bawah meja, ia menatap manik mata Sian sungguh-sungguh, lalu melayangkan sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan. Bahkan untuk dirinya sendiri. Itu seperti bukan dirinya yang mengatakannya. Tapi ia melakukannya.
“Apa kau ingin perceraian? Kurasa sudah saatnya kita memutuskan.”
“Itu yang kau inginkan, bukan aku.”
“Itu jelas-jelas kau!” balas Olivia geram. “Kau bersikap dingin padaku selama dua bulan ini. Kau mengabaikanku, kau tidur terpisah denganku dan kau menghindari segala hal yang berhubungan denganku. Bukankah itu sudah cukup membuktikan jika kau memang menginginkan perceraian?”
Olivia terengah-engah setelah mengatakan segala hal yang telah mengganggunya selama ini. Andai saja Sian tidak bersikap seperti ini, ia tidak mungkin akan mengartikan semua perbutannya sebagai indikasi untuk melakukan perceraian.
“Jika kau ingin melakukannya. Aku tidak akan menghalanginya sama sekali. Ayo kita bercerai.”
Tak ia sangka kalimat itu akan meluncur dengan mudah dari bibir Sian. Pria itu bahkan tak mau repot-repot menyangkalnya. Ia menerima begitu saja semua tuduhan yang ia berikan pada pria itu, lalu membuatnya menjadi sebuah alasan untuk melakukan perceraian.
“Kau tidak bahagia hidup denganku. Aku juga tidak bahagia dengan keadaan kita. Kau berubah semenjak jahanam itu menculikmu. Rasa cintamu untukku sudah hilang. Kurasa perceraian memang jalan terbaik.”
Air mata menggenang di pelupuk matanya. Hatinya sakit memikirkan perpisahan itu sebentar lagi akan terjadi padanya dan Sian. Lalu bagaimana dengan Justice? Apa yang akan terjadi pada masa depan gadis kecil itu jika orangtuanya bercerai?
“Justice? Kau tidak memikirkan perasannya?”
“Tentu saja aku memikirkannya. Tapi aku tidak bisa memaksa seorang wanita yang tidak mencintaiku untuk berada di sisiku. Tidurlah Olive, malam ini kita berdua sama-sama lelah,” ucap Sian datar sambil berjalan pergi meninggalkan ruang kerjanya.
Itu merupakan cara terbaik untuk menghindari melebarnya masalah ini lebih jauh. Ia tidak ingin harga dirinya semakin dikuliti oleh Olivia hingga akhirnya ia sepenuhnya telanjang di hadapan wanita itu.
“Kau pengecut Sian! Kau bersikap seperti pecundang dan tidak berani menghadapi kenyataan! Kau takut pada dirimu sendiri karena kau merasa telah kalah dari Scout.”
__ADS_1
Sian sama sekali tidak menoleh ketika Olivia berteriak-teriak dengan seluruh emosi yang melingkupinya. Lebih baik ia menulikan pendengarannya. Ia tidak akan berbalik untuk melihat wajah wanita itu lagi atau mungkin ia akan goyah dan menyesali perbuatannya untuk berpisah dari wanita itu.