Black Swan

Black Swan
Daddy Aciel (Fourty)


__ADS_3

            Aciel tiba-tiba mengerang pelan dan sedikit menggerakan kepalanya yang terasa berat. Kedua matanya yang masih sedikit terpejam, perlahan-lahan mulai membuka pelan untuk menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang terus menusuk-nusuk retinanya. Dan perlahan tapi pasti, Aciel mulai bisa menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang terpasang di ruang perawatannya sambil mengernyit heran kearah tangannya yang telah dihiasi oleh jarum infus.


            “Istirahatlah, jangan terlalu banyak bergerak.”


            Suara itu membuat Aciel segera menoleh kearah kanan, dan langsung menemukan Eden yang sedang mengambil sebuah gelas berisi air putih.


            “Minumlah, kau pasti haus.”


            Dengan bantuan Eden, Aciel meminum air putih itu hingga tandas sambil sesekali melirik kearah Eden yang tampak serius.


            “Apa yang terjadi padaku?”


            “Kelelahan, kurang tidur? Terlalu banyak bekerja... hmm, apalagi yaa? Kau masih saja hidup dengan pola yang tidak sehat seperti itu? Apa kau selama ini makan dengan teratur?” omel Eden berisik dan menyebalkan. Namun Aciel tidak menganggap terlalu serius omelan Eden, ia hanya menganggapnya sebagai salah satu bentuk perhatian Eden padanya. Jauh di lubuk hati Eden yang paling dalam Aciel tahu jika wanita itu sebenarnya masih sangat memperhatikannya.


            “Sejak kau pergi, hidupku sebenarnya telah berubah menjadi sedikit lebih sehat. Tapi semalam aku memang tidak tidur.”


            “Jadi kau terus berada di ruanganmu sepanjang malam hingga aku datang? Lembur?” tebak Eden asal. Setelah memberikan Aciel air putih, ia berniat untuk menyuapi Aciel makanan, namun Aciel langsung menolaknya dan hanya ingin dikupaskan apel. Benar-benar manja!


            “Sebelumnya aku memang lembur, mengerjakan banyak laporan perusahaan yang banyak kuterima dari anak perusahaanku di berbagai kota. Tapi aku kemudian terlalu larut dalam pesan-pesan yang dikirimkan Zyan padaku.”


            “Pesan? Tidak mungkin.” ucap Eden tiba-tiba dengan wajah memucat. Zyan sudah lama pergi, tidak mungkin pria itu hidup kembali untuk mengirimi Aciel sebuah pesan. Atau mungkin seseorang sedang berpura-pura menjadi Zyan?


            “Pesan apa?”


            “Kau sepertinya sangat terkejut, apa kau menyembunyikan sesuatu?”


            Aciel bereaksi sebaliknya dengan mengatakan sesuatu yang membuat Eden mati kutu. Eden kemudian berusaha menghindari tatapan menelisik Aciel dengan menyibukan diri dengan kegiatan mengupas apelnya.


            “Hah, ap apa? Kenapa kau berpikiran seperti itu?”


            “Sikapmu yang aneh itu menjelaskan semuanya. Mengakulah Eden, aku tidak akan marah.”


            “Kau yakin? Terkadang mengaku padamu itu justru akan menyusahkanku. Sudahlah, makan saja apel-apelmu ini, lalu tidur. Darahmu masih diperlukan oleh Ciara.” dengus Eden sambil meletakan sepiring apel di pangkuan Aciel. Tak ada niatan sedikitpun untuk menyuapi Aciel, atau setidaknya bertingkah manis di depan pria itu karena ia selalu membenci kemunafikan. Namun tak jarang ia sendiri juga bersikap munafik di hadapan orang lain.


            “Seberapa besar cintamu untuk Ciara?”


            “Sangat besar.”


            “Mana yang lebih kau cintai, aku atau Ciara?”


            “Ciara.” jawab Eden tegas, dan Aciel langsung merubah mimik wajahnya menjadi lebih mendung. Sepertinya ia memang terlalu kekanakan untuk menanyakan hal itu pada Eden karena jelas jawaban wanita itu pasti akan mengarah pada Ciara, bukan pada dirinya. Meskipun jika Aciel memang ingin melakukan konfrontasi, ia bisa saja menyerang Eden dengan mengungkit kisah percobaan bunuh diri yang pernah dilakukan Eden bertahun-tahun yang lalu untuk menyingkirkan Ciara dari rahimnya.


            “Jadi aku sudah tidak memiliki tempat di hatimu?”


            “Apa aku mengatakan hal itu?”


            “Lalu?”


            “Jangan memaksaku untuk memilih, itu sangat sulit asal kau tahu. Diantara kau dan Ciara, aku sebenarnya tidak tahu mana yang lebih berarti diantara kalian karena kalian memiliki pola yang sama. Ciara adalah putrimu, ia memiliki sebagian darimu. Mencintai Ciara, itu juga sama saja dengan mencintaimu. Tapi jika hanya mencintaimu, itu belum tentu mencintai Ciara. Jadi bukankah itu adil? Sudahlah, kenapa kau lebih cerewet hari ini?” balas Eden gusar. Aciel tanpa sadar menyembunyikan senyum lega di bibirnya sambil mengambil salah satu buah apel


yang telah dipotong Eden di piringnya. Ia sejujurnya sedikit lapar sekarang, namun ia sama sekali tidak berselera dengan makanan rumah sakit yang terlihat seperti makanan narapidana itu, terlihat menjijikan di mata Aciel.


            “Bagaimana kondisi Ciara?”


            “Ciara sudah melewati masa kritisnya satu jam yang lalu. Hanya perlu mendonorkan sedikit lagi darahmu padanya, maka kondisinya akan semakin stabil. Aku... aku sangat merindukannya.” Eden berseru lirih dari tempatnya duduk. Wanita itu jelas sekali terlihat begitu mengkhawatirkan putri cantiknya, dan saat ini harapan terbesarnya hanya pada Aciel. Jika pria itu mau sekali lagi berbaik hati memberikan darahnya untuk Ciara, maka Eden akan sangat bersyukur sekali akan hal itu.


            “Aku tahu kau sangat mencintai Ciara lebih dari apapun. Zyan telah menceritakan semuanya padaku.”


            “Kapan?”


            Eden seketika teringat pada cerita Aciel mengenai Zyan. Sedikit janggal memang karena Zyan tidak mungkin mengirimkan pesan pada Aciel. Dan jika sebelum meninggal Zyan telah mengirimkan pesan pada Aciel, maka Aciel yang terlalu kelewatan karena tidak pernah membaca pesan-pesan itu sekalipun.

__ADS_1


            “Selama ini Zyan selalu mengirimkan pesan melalui email. Ada banyak foto Ciara di setiap pesan yang ia tulis. Sayangnya aku tidak pernah membuka pesan-pesan itu. Mungkin jika aku membukanya lebih awal, aku akan segera tahu jika Ciara sebenarnya adalah putriku.”


            “Tunggu... sebenarnya kapan Zyan mengirimkan pesan-pesan itu?” tanya Eden menginterupsi. Ia terlihat tidak terlalu paham dengan arah pembicaraan Aciel, namun ia berusaha untuk melakukannya dengan menghubung-hubungkan setiap cerita Aciel dengan bagaimana keseharian Zyan sebelum pria itu meninggal.


            “Sudah lama, saat Ciara masih sangat kecil. Setiap bulan ia selalu mengirimkan pesan dan juga foto perkembangan Ciara. Ia juga memintaku untuk merebutmu darinya karena ia merasa tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Apa kau bahagia menikah bersama Zyan?”


            Eden diam. Ia tidak tahu apakah ia bahagia atau tidak, tapi yang ia tahu ia merasa nyaman saat hidup bersama Zyan. Saat itu Zyan tidak terlihat seperti suaminya, tapi ia lebih terlihat seperti kakak laki-laki yang selalu memberikan perlindungan untuknya dan juga Ciara. Cinta dan kenyamanan itu jelas dua hal yang berbeda.


            “Aku bahagia. Zyan memperlakukanku dengan baik.”


            Aciel kemudian hanya diam. Ia tidak lagi melanjutkan percakapannya mengenai Zyan dan hanya membiarkan keheningan melingkupi mereka. Perasaan sakit dan cemburu yang dulu tidak pernah ia rasakan, kini ia mulai merasakannya. Dua perasaan sentimentil berhasil menggoyahkan akal sehatnya hingga ia merasa aneh saat ini. Ia merasa lemah, tak berdaya, dan kalah. Ia kalah oleh Zyan meskipun pria itu mengatakan padanya jika Eden tidak bahagia bersamanya.


            “Pergilah melihat Ciara, kurasa aku ingin memejamkan mata sebentar.”


            Eden merasa hatinya mencelos saat Aciel memberikan usiran halus padanya. Pria itu kini terlihat benar benar memejamkan matanya tanpa mengindahkan tatapan terluka yang terpancar dari matanya. Dalam hati Eden kemudian mengumpati dirinya sendiri, memangnya apa yang harus kuharapkan dari pria menyebalkan ini! Ck, kau bodoh Eden, sangat bodoh! maki Eden kesal.


-00-


            Empat hari berlalu, dan Ciara telah melewati masa kritisnya. Di hari ke tiga, ia sudah sadar sepenuhnya, namun masih sedikit lemah. Lalu di hari ke empat, Ciara telah dipindahkan ke ruang perawatan biasa dan kondisinya berangsur-angsur juga mulai membaik karena darah yang diberikan Aciel padanya.


            “Mommy... minum.”


            Ciara menunjuk segelas jus jeruk di meja di sebelah ranjangnya sambil memajukan bibirnya lucu. Tingkah menggemaskan Ciara itu tak pelak membuat hati Eden merasa hangat dan juga dilingkupi oleh beribu-ribu rasa syukur karena Tuhan akhirnya mengabulkan doanya untuk menyelamatkan Ciara.


            “Ini, minumlah. Kau harus sehat dan kuat agar kau dapat bertemu dengan daddy.” janji Eden bersungguh-sungguh. Ciara langsung berseru girang di depan Eden, dan ia segera menghabiskan jus jeruknya hingga benar-benar tandas.


            “Mommy, memangnya dimana daddy sekarang?” tanya Ciara ingin tahu. Setelah mendapatkan istirahat yang cukup dan melakukan pengambilan darah sekali lagi, Aciel memang belum bertemu dengan Ciara. Pria itu memiliki urusan bisnis yang cukup penting di Canada, sehingga ia tidak bisa menunggu Ciara di rumah sakit hingga Ciara sadar. Sebagai gantinya, Aciel mengirim Sian untuk menemani Eden selama di rumah sakit selagi ia menyelesaikan urusannya di Canada.


            “Daddy sedang bekerja. Kenapa Ciara sangat ingin bertemu daddy?”


            “Karena Ciara ingin memeluk daddy.”


            “Mommy, apa daddy Ciara itu paman Aciel?”


            “Darimana kau tahu nak?” tanya Eden sedikit terkejut. Seingatnya ia belum mengatakan apapun mengenai Aciel pada Ciara.


            “Paman Sian yang mengatakannya. Kata paman Sian aku cantik karena daddy tampan. Lalu paman Sian mengatakan padaku jika daddyku adalah paman Aciel.”


            “Ahh... itu...”


            Eden seketika kehilangan kata-kata. Ia bingung, harus dari titik mana ia menjelaskan masa lalunya yang rumit pada Ciara? Ia tidak yakin gadis sekecil Ciara dapat memahami permasalahan pelik yang dialami oleh orang tuanya yang aneh ini. Dan Sian, pria itu selalu menjadi pengacau di tengah masalahnya. Dimulai dengan


masalah kegugurannya di masa lalu yang akhirnya terdengar oleh Aciel, lalu sekarang masalah Aciel yang merupakan ayah biologisnya Ciara juga harus bocor ke telinga putrinya disaat ia belum siap untuk menjelaskan semuanya pada gadis cantiknya.


            “Lalu bagaimana dengan daddy yang berada di foto?” tanya Ciara polos. Eden seketika benar-benar lemas dan tidak bisa menjelaskan apapun.


            “Eee... itu, paman Zyan juga ayah Ciara. Tapi sekarang ayah Ciara adalah paman Aciel.”


            “Apa karena paman Zyan telah meninggal?”


            “Emm... ya.” jawab Eden tidak yakin. Biarlah untuk kali ini Ciara menganggapnya demikian. Seiring berjalannya waktu ia kan menjelaskannya pada Ciara perlahan-lahan. Tapi sekarang ia masih memiliki satu kebohongan yang belum ia ungkapkan. Mengenai kematian Zyan... ia belum sempat mengakuinya di depan Aciel. Ia tidak yakin Aciel mendengarkan ucapannya saat pria itu tidak sadar. Dan sepertinya Aciel memang belum mengetahui berita kematian Zyan.


Tok tok tok


            “Halo princess...”


            “Paman Sian!!”


            Eden memutar matanya malas saat menyaksikan kehebohan putrinya dan Sian di depannya. Dua orang itu entah kenapa sangat kompak, meskipun mereka baru bertemu beberapa kali. Mungkin karena pribadi Sian yang ramah dan penuh ketulusan, sehingga siapapun merasa nyaman saat berdekatan dengannya. Bahkan iapun demikian, ia sangat menyayangi Sian seperti kakak laki-lakinya sendiri, meskipun sebenarnya usia mereka terpaut sangat jauh, dan mereka lebih mirip seperti paman dan keponakan.


            “Paman membawakan hadiah untukmu.”

__ADS_1


            Eden menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada Sian yang berlebihan. Pria itu membawakan sebuah rumah barbie yang berukuran cukup besar, lengkap dengan peralatan perabotan rumahnya yang sangat banyak. Ia yakin setelah ini Ciara akan semakin lengket pada Sian dan menjadikan Sian sebagai salah satu paman kesayangannya.


            “Horeee... rumah barbie!”


            “Ya ampun, kau berlebihan Sian.”


            “Tidak Ed, aku senang melihat keponakan cantikku tertawa bahagia seperti ini. Apa Aciel sudah mengunjungi kalian?”


            “Aciel? Bukankah ia masih berada di Canada?” tanya Eden bingung. Sejak Ciara masih berada di ruang ICU, Aciel sama sekali belum memunculkan batang hidungnya di sana.


            “Ia sudah pulang sejak kemarin.” beritahu Sian. Eden langsung mengedikan bahunya tak mengerti dan memilih untuk tidak membahas Aciel. Tapi di dalam hatinya Eden sibuk memikirkan Aciel dan berbagai spekulasi mengapa pria itu tidak datang untuk menjenguk anaknya? Bukankah pria itu menyayangi Ciara dan ingin mendengar Ciara memanggilnya daddy? Tapi kenapa pria itu belum datang? Atau... Aciel sebenarnya masih marah padanya, karena siang itu setelah pengambilan darah terakhir, Aciel langsung pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.


            Ia ingat jika mereka sempat berselisih siang itu. Entahlah, mereka berdua selalu saja berakhir dengan berselisih paham meskipun sejujurnya Eden tidak menginginkan itu semuanya. Dan lucunya semua itu terjadi karena sebuah masalah sepele mengenai keinginan Aciel untuk membawa Ciara tinggal di rumahnya. Tentu itu bukanlah masalah besar yang dapat diputuskan dengan kemarahan, tapi saat itu Eden langsung saja merasa emosi karena Aciel dengan seenaknya menentukan kehendaknya begitu saja pada kehidupan Ciara. Ingat, ia yang mengandung Ciara selama sembilan bulan, dan selama ini ia juga yang bekerja keras untuk membesarkan Ciara, jadi salahkah jika ia marah pada pria itu saat dirinya diminta untuk membawa Ciara ke rumahnya.


-00-


            Ditengah suara berisik dan menghentak itu, Aciel termenung sendiri sambil menyesap vodkanya pelan. Seharian ini ia cukup pusing dengan berbagai pekerjaan yang selalu menyita waktunya. Namun sebenarnya bukan itu poin utama masalahnya, tapi hatinya. Sejak ia kembali dari Canada, ia belum sedikitpun mengunjungi Eden. Ia


masih... entahlah apa namanya, seperti cemburu pada kedekatan Eden dan Jensen atau cerita kehidupan Eden bersama Zyan. Sepertinya apa yang dikatakan Zyan selama ini adalah kebohongan. Jika Eden tidak bahagia, tidak mungkin wanita itu tersenyum lebar saat menceritakan masalah Zyan. Meskipun hatinya memang tertaut padanya, namun kebahagiaan itu sebenarnya diciptakan oleh Zyan.


            “Hai, kau hanya sendiri? Boleh aku bergabung?”


            “Silahkah.”


            Seorang wanita cantik dengan gaun mini di atas lutut mendudukan dirinya dengan kaku di hadapan Aciel. Entah karena ia wanita lugu atau merasa tidak nyaman dengan suasana berisik di sekitarnya, tapi wanita itu terlihat sekali sangat tidak nyaman dengan keadaanya saat ini.


            “Kau ingin minum?” tawar Aciel sambil menunjuk botol-botol minuman di atas meja dengan dagunya. Untuk beberapa waktu Aciel masih bersikap acuh tak acuh pada wanita itu karena ia sedang tidak ingin bermain-main dengan mereka. Sejujurnya ia bosan, mereka sekarang terasa membosankan di atas ranjangnya.


            “Aa ah.. tidak perlu, aku hanya ingin melihat-lihat suasana di sini.”


            Wanita itu menjawab gugup sambil sesekali melirik takut kearah seseorang yang berada tak jauh darinya. Jari-jarinya tanpa sadar telah ia remas di atas pangkuannya, dan ia sesekali juga mengusap wajahnya dengan gerakan kaku yang berhasil membuat atensi Aciel teralih pada wanita itu. Sepertinya ia sedang berada di bawah tekanan seseorang.


            “Kau kenapa? Kau seperti ketakutan.”


            “Aa aku....”


            Wanita itu tiba-tiba mengulurkan tangannya dan membelai paha Aciel dengan kaku. Dengan gerakan yang cukup provokatif, ia kemudian menempelkan tubuhnya kearah Aciel sambil berbisik manja yang dipaksakan.


            “Tolong aku...” bisik wanita itu lirih. Seketika Aciel paham dan hanya membiarkan wanita itu melakukan tugasnya. Ia pasti seorang wanita baru yang dipekerjakan oleh salah satu mucikari di klub itu. Yah... malam ini ia mungkin akan berbaik hati dengan menolong wanita itu. Tidak ada salahnya juga ia melakukan hal ini, toh ia juga sedang penat dengan seluruh emosinya yang tak menentu seperti ini. Sekarang ia tak ubahnya seperti pria ingusan yang sedang merasakan jatuh cinta untuk pertama kali. Menjijikan!


            “Jadi kau wanita baru?”


            “Ya, begitulah. Maaf karena harus melakukan hal ini padamu, tapi kau satu-satunya harapanku. Kulihat kau tidak seperti pria-pria lain yang terlihat brengsek di sini.” ucap wanita itu sambil tetap menempelkan tubuhnya pada Aciel. Aciel tanpa sadar tertawa sumbang dengan penilaian wanita itu  padanya. Tidak seperti pria-pria lain


katanya? Namun meskipun sebenarnya mereka tidak melakukan apapun, orang lain pasti mengira mereka sedang melakukan hal-hal tak senonoh di sana. Apalagi dengan posisi wanita itu yang kini tengah duduk di atas paha Aciel, orang lain pasti akan salah paham hanya dengan melihatnya.


            “Darimana asalmu?”


            “Carson City. Aku terpaksa mengambil pekerjaan ini karena ayahku sakit. Tapi aku sekarang berubah pikiran, aku ingin pulang dan bekerja di toko buah, meskipun dengan gaji sedikit. Apa kau bisa menolongku tuan? Maafkan aku yang telah merepotkanmu seperti ini. Dan... apa kau telah beristri?”


            “Belum, aku belum menikah.” jawab Aciel tenang. Ia lalu meminta wanita itu turun dari pangkuannya, dan berdiri untuk menghampiri sang bos mucikari yang mengintai dari lantai atas. Anggap saja hari ini Aciel sedang ingin berbaik hati dengan menebus wanita itu dari sang mucikari yang sejak tadi mengintai mereka.


            “Ayo, kita temui bosmu.”


            “Aciel....”


            Dan saat Aciel berbalik, ia menemukan Eden sedang menatapnya dengan tatapan terkejut, terluka, atau tatapan apapun yang menurut Aciel bukanlah jenis tatapan biasa sambil melihat tangan kanan Aciel yang masih bertengger di pundak wanita seksi yang baru ditemuinya beberapa saat yang lalu. Tanpa mengatakan apapun, Eden segera pergi dari tempat itu dengan wajah muram semendung langit Las Vegas yang sedang kelabu malam ini.


            “Ttu tuan, apa itu kekasih anda?"


            “Bukan. Dia bukan siapa-siapa.” jawab Aciel dingin sambil mengahalau wanita itu pergi untuk bertemu dengan bos mucikarinya.

__ADS_1


__ADS_2