Black Swan

Black Swan
Beautiful Day (One Hundred Twenty One)


__ADS_3

            Tidak ada yang lebih manis untuk Eden daripada melihat pemandangan dua pria tampannya yang sedang saling memeluk di atas ranjang.



Sesekali Eden tersenyum geli menyaksikan bibir mungil Louise yang terus bergerak-gerak aktif meskipun pria kecil itu sedang tidur. Sebuah dot kecil yang terjepit diantara bibir mungil Louise dan membuat pria kecil itu lebih nyenyak tidurnya. Eden ingat betul bagaimana perjuangan pria tampannya untuk menyesuaikan diri dengan dot kecilnya, dan terpaksa berpisah dengannya. Aciel yang galak melarang Louise untuk terus menyusu padanya dengan alasan karena Louise sudah terlalu besar untuk itu. Padahal selama ini Louise terbiasa menyusu padanya sebelum jatuh tertidur. Dan sebelum ini menurut Eden hal itu tidak masalah karena itu lebih baik untuknya daripada dadanya sakit. Namun Aciel terus melarang keras ia melakukannya. Aciel berdalih jika Louise harus terbiasa tidak bergantung pada ibunya karena kelak ia akan menjadi pria dewasa yang tangguh.


            Huh, Eden tak bisa tidak tertawa saat Aciel melayangkan berbagai macam alasan untuk mencegah Louise agar menyusu padanya di malam hari. Padahal alasan utama Aciel melarang Louise menyusu padanya sebelum tidur adalah agar pria itu tidak perlu menahan desakan gairahnya tiap kali melihat tubuh bagian atas Eden yang terbuka. Sungguh konyol! Begitulah kelakuan Aciel Lutherford di usianya yang semakin tua. Ia justru semakin kekanakan pada Eden, dan terkadang ia lebih manja daripada kedua anaknya.


            “Hei, selamat pagi?”


            Eden menyapa Jessica yang baru keluar dari kamarnya dengan piyama sutra yang terlihat kusut di sana-sini. Penampilan Jessica pagi ini sangat jauh dari apa yang biasanya terlihat dari seorang Jessica yang rapi. Rambutnya yang panjang tergelung asal-asalan di atas kepalanya dan terlihat seperti tumpukan jerami yang mencuat di sana sini. Lalu wajahnya yang tanpa riasan berhasil membuat Eden menyadari betapa telah tuanya Jessica saat ini. Biasanya riasan yang digunakan Jessica berhasil menyembunyikan keriput-keriput itu dengan baik. Tapi sekarang, Eden hampir-hampir dapat melihat seluruh keriput di wajah Jessica yang mulai terlihat lebih jelas. Pantas saja jika Jessica tidak pernah bisa meninggalkan makeupnya barang sejenak, batin Eden sambil menelisik wajah Jessica diam-diam.


            “Hoamm... aku masih mengantuk, tapi Marc merengek-rengek ingin susu.” ucap Jessica parau.


            “Oh yah tentu saja.” jawab Eden sambil melirik gelas kecil yang digenggam Jessica. “Louise juga, tapi aku sudah menyiapkannya sejak semalam.”


            “Semalam aku lupa karena sudah terlalu mengantuk. Cerita kisah cinta Laila, itu sungguh racun.” erang Jessica dengan kantuk yang masih menguasai separuh tubuhnya.


            Saat tiba di dapur, Eden telah melihat Olivia berpenampilan rapi dan juga wangi. Dengan wajah berbinar-binar bak istri teladan, Olivia tengah menggunakan apron dan memasak untuk seluruh tamu-tamunya yang pemalas.


            “Lihat wanita teladan kita hari ini!” cibir Laila yang baru saja keluar dari kamarnya. Kebetulan kamarnya terletak di dekat dapur, sehingga ia pasti terusik bangun karena mencium aroma masakan Olivia yang menggugah selera.


            “Selamat pagi semuanya.”


            Olivia memang seperti malaikat yang begitu lembut. Ia bahkan tak terpengaruh sama sekali dengan cibiran yang dilayangkan oleh teman-teman pemalasnya. Dengan gerakan gemulai ia terus membolak-balik bacon, sementara di kompor yang satunya ia memperhatikan telur mata sapinya yang sedang berderak seksi.


            “Kuharap kalian tidur dengan nyaman di sini.”


            “Tentu saja, kami bahkan tidak terbangun sedikitpun jika anak-anak itu tidak mengusik kenyamanan kami.”


            Laila ikut mengangguk membenarkan ucapan Jessica yang terlihat berjalan kesana kemari seperti seorang zombie. Dengan usaha keras, Jessica menakar susu untuk Marc, lalu mengambil air putih dari teko yang baru saja disodorkan Olivia kearahnya.


            “Terimakasih.”


            “Tentu. Sebaiknya kau tidur lagi, Jess. Matamu masih terlihat lelah.”


            “Oh.... terimakasih sayang, kau memang yang terbaik. Aku memang berencana untuk tidur lagi hingga siang. Bukankah ini liburan?”


            Eden tak kuasa menahan decakan lidahnya saat menatap Jessica yang terkadang masih memposisikan diri seperti seorang gadis remaja yang gemar tidur hingga matahari sudah tinggi. Tak ingatkah wanita itu jika ia adalah yang tertua diantara mereka berempat, tapi sikapnya justru terlihat seperti yang termuda.


            “Sini, biarkan aku menata baconnya di piring.” Eden dengan gesit membantu Olivia yang terliha kesulitan untuk menata bacon-baconnya di atas piring saat salah satu tangannya ia gunakan untuk membalik telur mata sapinya yang hampir matang.


            “Kurasa aku juga akan mengikuti Jessica. Bye semua, kuakui kalian adalah istri teladan.” ucap Laila dengan ibu jari yang terangkat ke udara. Setelah itu ia menghilang dibalik pintu kamarnya yang baru saja ditutup rapat olehnya.


            “Jadi siapa yang akan menghabiskan makanan ini jika mereka akan bangun siang?” tanya Eden sambil menata piring dan juga bacon di atas meja. Rasanya sayang jika usaha Olivia untuk menyiapkan semua ini sejak pagi tidak disambut baik oleh seluruh penghuni villa ini.


            “Mereka bisa menghangatkannya di microwave saat bangun nanti. Setidaknya jika mereka lapar, mereka tidak perlu repot memasak terlebihdahulu.” balas Olivia ringan. Eden rasanya salut dengan kesabaran yang dimiliki oleh Olivia. Sungguh Sian beruntung memiliki Olivia sebagai istrinya.


            “Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”


            “Emmm... Justice pasti sebentar lagi akan bangun, dan Sian otomatis juga akan mengikuti putri kecilnya yang berisik itu. Jadi aku akan mengurus keperluan mereka. Kau sendiri?”


            “Kurasa aku juga akan begitu. Saat Louise bangun nanti, Aciel pasti juga akan bangun.”


            “Mommy...”

__ADS_1


            Tiba-tiba Ciara datang sambil menggandeng Louise yang sedang mengucek-ucek matanya dengan lucu.


            “Kenapa bangun?”


            “Louise melihat kuda katanya. Lalu dia menjadi berisik dan membuat daddy kesal.”


            “Ck, dasar Aciel!” geram Eden kesal. Suaminya itu memang tidak suka mendapatkan gangguan apapun saat sedang tidur. Jadi jangan harap ia akan bersikap lembut pada anak-anaknya di pagi jika ia belum sepenuhnya bangun dari tidurnya.


            “Apa di sekitar sini ada peternakan kuda?” tanya Eden beralih pada Olivia. Mungkin karena kamarnya terletak persis di bagian depan, maka Louise dapat melihat beberapa kuda yang sejak pagi tadi ia rasa telah berjalan hilir mudik di sekitar villa.


            “Di bagian timur villa ini ada peternakan kuda. Kira-kira lima ratus meter jaraknya. Kau ingin ke sana?”


            “Louise mau naik kuda, aunty!” teriak Louise girang. Sebentar saja pria kecil itumenjadi lebih ribut karena sedang asik menirukan gaya seorang penunggang kuda saat sedang mengendarai kudanya yang gagah. Dengan kaki yang saling dikaitkan pada sanggurdi, lalu sinar matahari keemasan yang menimpa tubuh kecoklatan mereka yang berkilat-kilat karena bercampur dengan keringat, dalam sekejap mereka akan menjadi fantasi yang menakjubkan bagi anak seusia Louise.


            “Nanti paman Sian akan mencoba meminta izin pada pemilik peternakan. Apa Louise ingin minum susu?”


            “Louise sudah minum susu, aunty. Louise lapar.” ucap pria kecil itu lucu. Eden langsung saja memberikan tatapan tak habis pikir kearah Louise yang begitu polos saat sedang meminta makanan.


            “Ayo duduk di meja makan, aunty Olivia sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Katakan apa pada aunty?”


            “Terimakasih aunty.” ucap Louise dan Ciara serempak. Mereka kemudian segera mengambil tempat


di meja makan dan mulai duduk dengan tidak sabar saat Eden mulai memberikan sepiring bacon lengkap dengan telur dan roti gandum yang baru saja keluar dari panggangan. Aroma gurih bacon yang menggugah selera itu sebentar saja telah membuat Louise berteriak-teriak heboh agar ibunya cepat-cepat memberikan sendok dan garpunya untuk makan.


            “Ck, siapa yang mengganggu daddy tadi?”


            “Tidak bisa tidur, Ace?” tanya Olivia yang terlihat geli melihat Aciel yang terlihat gusar, keluar dari kamarnya.


            “Hai Olive, selamat pagi. Yaah... begitulah. Si kecil berisik itu terus saja berteriak kuda dan menjadikanku kudanya hingga aku tidak bisa tidur.” gerutu Aciel yang sedang berjalan kearah dapur untuk menghampiri anak dan istrinya.


            Olivia kemudian tak mempedulikan Aciel yang tengah bergabung bersama keluarga manisnya dengan bertelanjang dada. Sekarang ia memiliki urusan sendiri dengan Sian yang ternyata sudah bangun di kamar mereka.


            “Dia merengek.” tunjuk Sian yang masih mencoba mengumpulkan seluruh kesadarannya. Dengan wajah lembut, Olivia segera merengkuh si kecil Justice ke dalam pelukannya dan membiarkan balita kecil itu bergelung manja di leher ibunya.


            “Kau mencari mommy, hmm?”


            “Mommy...” rengek Justice manja. Sian yang melihat itu hanya mampu memutar bola matanya malas kearah putri kecilnya yang teramat sangat manja.


            “Keluarlah, ada Aciel dan keluarganya di dapur. Sedang sarapan.” tambah Olivia mulai sibuk dengan Justice di pelukannya.


            “Kau sudah mandi?” tanya Sian sambil mengamati penampilan istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Sejak kapan?” tanya Sian lagi saat merasa ia tidak mendengar suara gemericik air saat istrinya itu mandi.


            “Sejak kau mendengkur keras di atas bantal.” balas Olivia terkekeh.


            “Ck, aku akan keluar. Ada kopi?”


            “Ada. Eden tadi membuatnya.”


            “Justice ingin ikut daddy? Sarapan bersama Louise dan Ciara?”


            Justice langsung saja melompat ke dalam pelukan Sian saat ayahnya menyebut nama Lutherford bersaudara di depannya. Bisa dikatakan jika Justice sangat mengagumi anak-anak Aciel dengan sangat gila. Apapun yang dilakukan Lutherford bersaudara di depannya, Justice pasti akan dapat menirukannya dengan mudah. Bahkan lebih antusias dari Lutherford bersaudara sendiri.


            “Nah, kau bisa menyiapkan perlengkapan mandinya selagi aku mengajaknya sarapan bersama Lutherford bersaudara. Bye mommy.” ucap Sian sambil mengangkat tangan Justice ke udara dan melambai-lambaikannya pelan kearah Olivia.


-00-

__ADS_1


            Saat Sian tiba di meja makan, suasana di sana sudah jauh lebih ricuh daripada sebelumnya karena kini di meja makan itu tidak hanya ada keluarga Aciel, tapi juga ada Hyena dan ayahnya yang sedang sibuk menyeruput kopi.


            “Hai, apa kau juga terganggu dengan suara berisik kami?” tanya Aciel menyambut Sian yang baru saja akan mengambil tempat di sebelah Nathan.


            “Tidak. Kenapa memangnya?”


            “Hyena terganggu karena suara teriakan Louise, dan ayahnya yang malang harus segera bangun dari ranjang nyamannya untuk mengawasi anaknya yang super aktif.”


            “Yeah, istriku terus menendangku agar mengikuti Hyena keluar. Dia khawatir anaknya akan mengacau lagi seperti kemarin.”


            “Hyena mau bacon?” tawar Eden lembut. Kini pekerjaan menyiapkan sarapan telah diambil alih oleh Eden karena sekarang hanya dirinyalah satu-satunya wanita dewasa di sana.


            “Hyena mau sereal dan susu.”


            “Aku lupa membawakannya sereal. Kemarin kami berangkat terburu-buru.” beritahu Nathan dengan wajah menyesal. Ia hampir saja memaksa Hyena untuk memakan bacon dan roti gandum seperti yang lainnya, tapi Eden kemudian menarik sesuatu dari kitchen set di atas kompor dan menunjukannya pada Hyena.


            “Aku membawanya untuk Louise. Tapi ia sepertinya lebih mnyukai bacon dan roti gandum. Ck, sikapnya yang sok dewasa memang seperti ayahnya.” dengus Eden sambil melirik Aciel. “Tunggu saja beberapa tahun lagi, ia pasti akan segera meniru ayahnya untuk minum kopi.”


            Aciel tiba-tiba saja tergelak melihat gaya mencibir Eden yang menurutnya lucu. Hormon kehamilankah yang menyebabkan Eden menjadi seperti itu?


            “Sudahlah Ed, Louise memang pasti akan mewarisi sikap player Aciel. Kurasa ia akan menjerat banyak wanita juga saat dewasa.” ucap Sian memanas-manasi.


            “Tidak! Tidak akan kubiarkan putraku yang manis mewarisi sikap menyebalkan ayahnya.” balas Eden keras. Ia sengaja memperhalus bahasanya karena ia cukup sadar dengan keadaannya yang sedang dikelilingi oleh anak-anak kecil.


            “Hey, terima saja jika aku ini memang memiliki kharisma yang mematikan, Ed.”


            “Aku tidak mempermasalahkan kharismamu, Ace. Tapi aku mempermasalahkan sifat burukmu saat sedang memanfaatkan kharismamu untuk menjerat para wanita. Louise akan kudidik menjadi pria setia yang penuh tanggungjawab.”


            “Nah, itu gunanya aku menikahmu, Ed. Aku suka sikap galakmu.”


Cup


            Aciel menjatuhkan satu kecupan lembut di pipi Eden, tak peduli meskipun Eden saat ini tengah bersungut-sungut padanya. Ia sangat tahu bagaimana cara menenangkan Eden yang berubah galak seperti ini.


            “Daddy kuda!” rengek Louise setelah menghabiskan sarapanya. Ia seperti baru saja diingatkan tentang kuda-kuda yang telah ia lihat pagi tadi.


            “Dude, anakku ingin naik kuda. Ada perternakan di sekitar sini?”


            “Peternakan kuda lima ratus meter dari villa ini. Kau ingin berkuda bersama Louise? Aku akan meminta izin untuk menyewa kudanya nanti.”


            “Boleh. Katakan padanya jika aku ingin membeli kuda yang terbaik untuk anakku.”


            “Ace!” peringat Eden galak. Aciel hanya mampu tergelak menanggapi sikap penuh waspada Eden yang lucu.


            “Kau bisa menunggang kuda?” tanya Nathan tiba-tiba setelah sejak tadi ia hanya menjadi pendengar diantara dua pria yang sedang sibuk berceloteh.


            “Dia adalah master penunggang kuda.” jawab Sian menyenggol lengan Aciel. “Kau tidak akan percaya jika dulu ia pernah menjuarai dua kali pacuan kuda. Yeah, semuanya semata-mata bukan untuk uang tentunya, hanya untuk menyombong diantara para wanita yang terus menjeritkan namanya di arena pacuan.”


            “Benarkah?” tanya Nathan sangsi sambil menatap Aciel tak percaya.


            “Ck, dia hanya berlebihan. Jangan pedulikan Sian. Sudah lama aku tidak menunggang kuda. Tentu saja kudaku yang sekarang sudah berubah.” ucap Aciel sambil melirik Eden jahil. Seketika dua pria dewasa itu tertawa dan Aciel langsung dihadiahi satu cubitan keras di pinggang oleh Eden.


            “Jaga bicaramu, Ace!”


            “Pantas kudamu cepat hamil, Ace.” balas Nathan jenaka. Ingin rasanya Eden memukul kepala Nathan juga karena pria itu dengan sialnya justru menanggapi kata-kata absurd Aciel yang sungguh tak pantas untuk diucapkan di meja makan.

__ADS_1


            “Awas jika kalian membahasnya lagi. Aku akan memukul kepala kalian satu persatu.” ancam Eden galak dengan spatula besar yang ia acung-acungkan dengan gaya garang.


__ADS_2