
Malam harinya Eden merasa gelisah. Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak dan hanya terus memikirkan kata-kata Aciel siang tadi. Dengan wajah bersungguh-sungguh Aciel mengatakan hal itu tepat di depan wajahnya, dan kemudian pria itu menciumnya.
“Sial! Pergilah dari kepalaku!”
Eden merasa seperti seorang remaja yang tengah dilanda kasmaran. Sejak tadi pikirannya hanya terisi adegan ciumannya dengan Aciel yang telah terjadi sebanyak dua kali sejak mereka bertemu. Gila! Ini memang gila dan sangat tidak sehat untuk perasaan Eden yang sudah lama kosong tanpa sentuhan pria. Sejak Zyan
meninggal, dan statusnya berubah menjadi single parent, ia tidak pernah berpikir lagi untuk bermain-main dengan berbagai pria seperti dulu. Tujuannya saat itu menjadi wanita liar adalah untuk membalaskan rasa sakitnya pada Aciel. Dan setelah semua rencananya terlaksana, ia tidak mau lagi hidup seperti itu. Terlalu berisiko menjalankan kehidupan yang liar. Bahkan ia tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika Ciara benar-benar bukan putrinya bersama Aciel, itu sungguh mengerikan. Meskipun Aciel memang bukan pria baik-baik yang hanya menyentuh satu wanita, tapi setidaknya dari awal hingga detik ini tubuhnya hanya pernah disentuh oleh satu pria, yaitu Aciel Lutherford. Saat bersama Zyan, pria itu benar-benar menghormatinya. Mereka selama ini hanya pernah melakukan ciuman sebagai salah satu kegiatan yang paling intim menurut mereka. Selebihnya mereka tidak melakukan apapun, dan hanya tidur bersama. Memang di tahun pertama kehidupan rumah tangga mereka, Eden meminta Zyan untuk tidak melangkah ke hal-hal yang lebih jauh, seperti hubungan suami isteri karena ia ingin kehidupan rumah tangganya bukan hanya sekedar emosi sesaat dan akan bertahan lama hingga mereka tua nanti. Sayangnya sebelum semua angan-angannya tercapai, Tuhan sudah lebih dulu mengambil Zyan dan
membuatnya lagi-lagi harus hidup sebatang kara. Untung saja sekarang ia telah memiliki Ciara yang pada akhirnya akan menjadi satu-satunya harta paling berharga yang akan menemaninya hingga akhir. Betapa meyesalnya ia dulu saat ia sempat berpikir untuk menggugurkan kandungannya. Dan mungkin jika saat itu ia berhasil melakukannya, sekarang ia pasti masih menjadi wanita liar penghuni klub yang hanya pergi dari satu pria ke pria lain tanpa memiliki komitmen apapun. Sama seperti Aciel.
Drrt drrtt
Eden merasakan ponselnya bergetar cukup keras di atas nakas. Dengan gerakan pelan, ia mencoba meraih benda persegi itu dari atas nakas agar ia tidak membangunkan Ciara.
“Eden...”
Ck... pria ini! Untuk apa ia menelponku? Eden menggerutu sebal ketika suara pria yang baru saja dipikirkannya mengalun dingin melalui ponselnya. Ini bahkan sudah sangat larut malam, pukul setengah dua belas. Untuk apa pria itu menghubunginya?
“Bisakah kau bersikap lebih sopan dan tidak menggangguku di jam-jam istirahat seperti ini? Setelah seharian ini kau mengacaukan hidupku, kau masih ingin mengacaukan waktu istirahatku juga? Benar benar keterlaluan.”
Tanpa memberikan kesempatan untuk Aciel berbicara, Eden terus memonopoli sambungan telepon itu untuk menunjukan pada Aciel betapa kesalnya ia pada pria itu. Ia tidak mengharapkan pria itu muncul secara nyata di dunianya setelah selama beberapa jam yang lalu pria itu meracuni otaknya dengan kenangan ciuman mereka yang memuakan.
“Kau sudah selesai? Kenapa kau mengangkat panggilanku jika kau tidak ingin diganggu?”
“Aku tidak bisa tidur, dan itu semua karena.....”
Eden menggantungkan kalimatnya di udara sambil meruntuki kebodohannya sendiri. Ia hampir saja mempermalukan dirinya sendiri dengan membuat Aciel berpikir jika ia tidak bisa tidur karena memikirkan pria itu. Dasar bodoh! Ia akan membuat Aciel merasa di atas angin.
“Aku bisa menghangatkanmu jika kau tidak bisa tidur.”
“Brengsek sialan! Pergi saja kau ke neraka Aciel, kau sudah melakukan pelanggaran sejak kita bertemu. Ingat, aku ini wanita bersuami.” tegas Eden penuh tekanan dan hampir membuat gendang telinga Aciel pecah karena suara Eden yang sangat dahsyat. Wanita yang dilingkupi emosi seperti Eden memang sangat berbahaya, setidaknya seperti itulah isi kepala Aciel saat ini melihat sikap defensif Eden yang sulit untuk ditaklukan. Namun sepintar-pintarnya seorang wanita menyembunyikan emosinya, mereka pasti akan tetap jatuh juga pada kelicikan seorang pria.
“Bagiku kau tetap Edenku yang dulu. Kau seharusnya tidak membuat semua ini menjadi rumit Eden. Bukankah berciuman itu wajar terjadi di dunia barat? Itu sama sekali bukan suatu pelanggaran. Kecuali jika aku menidurimu dengan paksa, itu jelas melanggar hak asasi manusia.”
“Terserah apa katamu, yang jelas aku sudah benar-benar bosan berdebat denganmu.” dengus Eden akhirnya dengan wajah kusut yang ditekuk-tekuk. Ia benar-benar benci mendapatkan panggilan dari Aciel di tengah malam seperti ini, karena pria itu justru memperparah insomnianya. Ia yakin, ia pasti tidak akan bisa tidur hingga esok pagi karena memikirkan berbagai masalahnya dengan Aciel. Great!
“Apa Ciara sudah tidur?”
“Ya, dia baru saja tidur. Mungkin dia akan terserang flu, suhu tubuhnya sedikit hangat.” jawab Eden sambil meraba kening Ciara. Ia sendiri baru menyadarinya beberapa saat yang lalu ketika ia mendekat tubuh putri kecilnya. Dan ternyata suhu tubuhnya sedikit hangat. Semoga saja esok pagi gadis kecil itu akan baik-baik saja.
__ADS_1
“Apa kita perlu membawanya ke rumah sakit?”
Kita?
Eden tak kuasa menahan debar jantungnya saat pria itu mengatakan sebuah kalimat yang sedikit sentimentil untuknya. Andai mereka adalah sebuah keluarga, saat ini Aciel terlihat seperti seorang ayah yang sedang mengkhawatirkan putrinya. Tapi bukankah pria itu tidak pernah mengetahui apapun? Semoga saja memang Aciel belum mengetahuinya karena Eden masih bimbang dengan kehidupannya yang rumit ini. Setidaknya hingga Ciara benar-benar dewasa dan dapat memahami posisinya, ia baru akan memberitahukan kebenaran itu pada Ciara, dan mungkin juga Aciel. Ia tidak mau disalahkan oleh Ciara seumur hidup karena dengan terang-terangan
ingin memisahkannya dengan sang ayah. Tapi bukan itu masalahnya, ada masalah lain yang akan menjadi rumit jika Ciara mengetahui kebenarannya saat ini. Lagipula Ciara masih terlalu kecil untuk memahami masalah orang dewasa.
“Tidak perlu. Jika suhu tubuhnya masih tinggi, aku akan meminta Jensen untuk memeriksanya.”
“Siapa Jensen? Salah satu hama-hamamu?”
Eden hampir saja tergelak saat mendengar suara penuh kesinisan milik Aciel. Pria itu rupanya masih mengingat dengan jelas koleksi-koleksi pria tampannya. Dan jangan lupakan panggilan “sayang” Aciel untuk mereka yang sangat lucu. Ya ampun, Eden rasanya ingin tertawa terbahak bahak sekarang jika ia tidak mengingat Aciel yang masih berdiri dengan wajah gusar di seberang sana.
“Kau masih mengingatnya? Kami bertemu dengannya saat sedang makan bersama Summer. Kebetulan Jensen adalah dokter anak yang cukup berkompeten di rumah sakit pusat. Tidak ada salahnya jika aku membawa Ciara ke sana jika demamnya tidak turun malam ini. Lagipula itu akan lebih mudah karena aku sudah mengenalnya.”
“Apa aku harus menjelaskan padamu jika aku sangat cemburu dengan siapapun para hamamu itu.” geram Aciel jengkel di seberang sana. Pria itu terlihat sama sekali tidak malu untuk mengakui perasaanya. Mungkin ia telah belajar dari pengalaman masa lalunya yang cukup menyiksa. Menyimpan sebuah perasaan itu... sungguh sangat mengganggu. Namun untuk Eden hal itu justru hanya ditanggapinya sebagai lelucon karena pria sepicik Aciel tidak mungkin benar-benar menyimpan kecemburan padanya. Mungkin jika hal itu disebut sebagai sebuah keposesifan akan lebih tepat daripada menganggapnya sebagai sebuah kecemburuan.
“Huh, aku tidak mau mendengar apapun omong kosong darimu tuan Aciel. Sekarang pergilah tidur, dan jangan ganggu aku lagi.”
Eden memilih untuk tidak menganggap serius ucapan Aciel. Lagipula pria seperti Aciel memang selalu seperti itu. Ia telah memahami bagaimana karakter pria itu selama ini, dan ia sangat yakin jika Aciel sama sekali tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Eden hampir saja melempar ponselnya kesal dengan segala gombalan yang pria itu layangkan kepadanya. Bisakah pria itu menghentikan sikap player-nya? Ia benar-benar muak mendengarnya.
“Aku bukan wanita muda yang polos seperti tujuh tahun yang lalu. Cari saja ******-****** di klub yang bersedia untuk melayanimu. Oh... atau mungkin Jessica, bukankah kalian adalah sepasang sahabat baik? Kuyakin Jessica akan dengan senang hati merentangkan tangannya untuk memelukmu dan menghangatkanmu.”
“Jessica telah bertunangan dengan Kriss, aku tidak bisa mengganggunya lagi.”
“Lalu apa bedanya denganku? Aku sudah menikah! Aku adalah wanita bersuami.” teriak Eden jengkel. Meskipun Zyan telah meninggalkannya, tapi tetap saja Zyan adalah suaminya karena pria itu telah menikahinya secara sah dihadapan Tuhan. Dan mengenai Jessica yang telah memiliki tunangan, itu bukan urusannya! Bahkan jika Jessica telah resmi menikahpun, ia juga tidak akan peduli.
“Kurasa Zyan tidak akan keberatan jika aku menyentuhmu. Bukankah selama ini ia juga hanya mendapatkan bekas wanita milikku. Hmm... ayolah Eden, tidak perlu berpura-pura menolaknya jika kau sebenarnya juga menginginkannya.”
“Kau pria gila sialan menyebalkan Aciel! Pergi saja ke neraka!”
Bugh
Eden mematikan sambungan teleponnya kasar, dan segera membanting ponsel putihnya itu ke atas ranjang, hingga menciptakan sebuah getaran cukup keras yang ditimbulkan karena pukulan kerasnya. Sungguh, pria itu benar-benar menguji kesabarannya. Selain mulutnya yang manis penuh dengan gombalan, Aciel juga sangat ahli untuk melecehkannya. Harga dirinya benar-benar telah dipandang rendah oleh pria itu. Dan selamanya ia hanya akan dianggap sebagai pemuas nafsu yang tidak memiliki nilai sedikitpun di matanya.
“Sayang, maafkan mommy. Tapi mommy sangat membenci ayah brengsekmu itu.”
__ADS_1
-00-
“Bagaimana hasilnya?”
“Tidak ada yang kutemukan, sebenarnya belum. Tapi kau harus lihat ini.”
Sian memberikan sebuah koran lama yang tampak lusuh pada Aciel sambil menunjuk sebuah gambar korban kecelakaan yang terlihat samar. Kernyitan dalam langsung tercipta di kening Aciel ketika kedua matanya mulai menelusuri baris demi baris kalimat yang tercetak sedikit pudar di dalam koran lama itu.
“Apa ini?”
“Kecelakaan mobil yang terjadi di California menimpa seorang pegawai di sebuah perusahaan makanan kaleng. Kau lihat headingnya, dan kau lihat wajah pria ini. Bukankah terlihat seperti Zyan? Aku baru menyadarinya saat melihat potongan koran ini di meja resepsionis tadi pagi.”
“Bagaimana kau bisa menyimpulkan ini Zyan hanya karena gambar ini mirip dengannya. Lagipula gambar ini tampak tidak jelas, kau akan dituntut bila melakukan analisis yang sangat asal-asalan seperti ini.” dengus Aciel kesal. Ia lantas melemparkan potongan koran itu ke atas lantai, dan kembali pada pekerjaannya yang sempat tertunda. Hampir saja tangannya terangkat untuk mencekik leher Sian karena pria itu hampir membuatnya berpikiran jika apa yang dikatakan oleh pria itu benar. Setidaknya ia berharap jika pria di dalam koran itu adalah Zyan. Jika Zyan memang telah mati, maka ia akan dengan bebas memiliki Eden untuk dirinya sendiri. Ia juga tidak perlu mengotori tangannya untuk menyingkirkan pria kesayangan Eden itu.
“Tapi aku tidak bisa menemukan data mengenai Zyan dimanapun. Salah satu rekanku yang sangat ahli dalam peretasan komputer justru menemukan berita itu sebagai satu-satunya informasi yang berkaitan dengan Zyan. Itupun setelah rekanku menggunakan kata kunci kota California. Jadi apa kau pikir selama ini Eden telah membohongi kita?”
“Aku tidak tahu. Itu mungkin saja terjadi karena ia tidak ingin dikasihani oleh orang lain jika ternyata Zyan memang telah meninggal. Selidiki lagi kasus itu, bila perlu suap petugas kepolisian yang pernah menangani kasus kecelakaan itu. Buat semua misteri ini terpecahkan Sian, karena aku sudah benar-benar penasaran dengan asal-usul Ciara dan kehidupan Eden selama empat tahun ini.”
Sekarang semua dugaannya mulai terlihat masuk akal. Sikap aneh Eden selama ini, dan ketidakmunculan Zyan yang cukup janggal akan segera terungkap jika Sian berhasil menguak kasus kecelakaan itu. Dan di dalam hatinya ia sungguh berharap jika berita itu benar. Ia tidak akan munafik jika sebenarnya ia sangat menginginkan Eden. Ia ingin memiliki wanita itu untuk dirinya sendiri, dan tidak akan memberikan pria lain untuk memiliki Eden lagi.
“Jika berita itu benar, jika Zyan sebenarnya telah mati, apa kau ingin menikahi Eden?”
“Sepertinya begitu.”
“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu Ace. Kau terus menarik ulur Eden seperti itu, kenapa?” tanya Sian tak habis pikir. Seharusnya Aciel sedikit berlapang hati dan tidak terus menerus mengganggu hidup Eden. Wanita malang itu sudah lebih dari cukup merasakan berbagai macam penderitaan di sepanjang kehidupannya selama ini.
“Kau tidak perlu mengetahui jalan pikiranku Sian, urusa saja masalahmu sendiri. Aku tahu kau sekarang sedang terlibat masalah serius dengan penari striptis itu bukan?”
“Darimana kau tahu?” tanya Sian sedikit terkejut. Sepertinya selama ini ia tidak menceritakan masalah apapun pada Aciel. Ia selalu menyimpan sendiri masalahnya dan lebih suka menyelesaikannya sendiri tanpa campur tangan orang lain, terutama Aciel.
“Aku diam, bukan berarti aku tidak tahu. Aku memiliki lebih dari dua mata, asal kau tahu Sian.” ucap Aciel cepat untuk membungkamm mulut Sian dari kata-kata pembelaannya.
“Jadi kau juga mengawasiku? Kupikir itu hanya berlaku untuk Eden?” dengus Sian kesal. Ternyata ia juga tak luput dari sikap posesif Aciel yang mengerikan. Apa pria kaya selalu seperti itu? Menghambur-hamburkan uangnya hanya untuk sesuatu yang sama sekali tidak penting. Mencampuri hidup orang lain? Damn it, Sian rasanya ingin mengumpati Aciel saat ini juga.
“Tidak, apa kau pikir kau sepenting itu? Wanita itu datang ke kantorku, menggodaku, lalu mengadukan perbuatan kasarmu padaku beberapa hari yang lalu. Jauhi penari striptis itu, aku tidak mau terseret ke dalam masalah kalian disaat aku sedang berusaha untuk menarik Eden agar kembali padaku.”
Sian menghembuskan napasnya berat, lalu ia mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia akan segera mengakhiri masalahnya dengan wanita itu, dan mulai menyusun rencana untuk membantu Aciel mengungkap segalanya. Lagipula wanita itu hanya sebuah selingan di tengah-tengah rasa bosan yang akhir-akhir ini mengganggunya. Entah kenapa sejak Aciel mengungkit-ungkit masalah anak di hadapan Jessica beberapa
minggu yang lalu, ia mulai memikirkan anak-anaknya yang saat ini entah berada dimana. Hati kecilnya tiba-tiba meronta ketika ia membandingkan kehidupan Aciel dan juga kehidupannya sendiri. Jika ia selama ini mengumpati Aciel karena telah merusak kehidupan Eden, lalu apa bedanya semua itu dengan dirinya? Bukankah ia juga sama? Ia telah menghancurkan kehidupan beberapa wanita di luar sana, meskipun dengan dalih jika hal itu terjadi untuk kesenangannya semata.
__ADS_1