Black Swan

Black Swan
Reunion (Eighty Three)


__ADS_3

            “Terimakasih.”


            Setelah mengucapkan terimakasih, Eden segera masuk ke dalam rumah dan sedikit bernapas lega saat ia telah berhasil terlepas dari cengkraman Andrew. Tentu saja pria itu masih halus seperti dulu, tapi dia menyebalkan dibalik sikap halusnya. Ia bahkan terus memaksa untuk mengantarnya pulang hingga ia terpaksa mengiyakan tawaran pria itu meskipun dengan setengah hati.


            “Hai, apa aku pergi terlalu lama?” Eden menyapa suami dan anak-anaknya yang sedang bermain di ruang tengah. Melihat kedua anaknya yang telah rapi, membuat Eden menyadari kesalahannya hari ini. Ia pergi terlalu lama!


            “Kupikir kau tersesat, Ed.” ucap Aciel datar. Tidak ada emosi di wajah Aciel, tapi Eden merasa takut pada Aciel.


            “Ya memang, aku lupa jalan pulang.” jawab Eden dengan cengiran.


            “Kau terlalu naif karena memaksa pergi sendiri tanpa Mike.”


            “Aku hanya ingin berjalan-kalan sebentar Ace. Lagipula sekarang aku sudah kembali, jadi aku akan memasak sekarang. Kau ingin makan apa? pasta? daging panggang dengan saus jamur?”


            “Terserah, apapun yang kau masak pasti akan kumakan.”


            “Aww.. manis sekali suamiku.” ucap Eden gemas sambil mencubit pipi Aciel. Ia lalu beranjak menuju bungkusan lain yang ia bawa dan mulai mengeluarkan snack untuk Ciara.


            “Sayang, ini cemilanmu.”


            “Biskuit coklat!” Ciara langsung melompat-lompat senang saat Eden mengangsurkan sekotak biskuit coklat rekomendasi Andrew padanya. Sedangkan Aciel tiba-tiba berjalan kearahnya sambil memincingkan matanya curiga.


            “Kau membawa semua ini sendiri?” tunjuk Aciel pada tiga kantong belanja yang diletakan Eden di atas meja. Aciel merasa itu sedikit tidak mungkin untuk Eden karena jelas wanita itu akan kesulitan dengan semua bungkusan itu, termasuk diapers milik Louise yang berukuran sangat besar.


            “Baiklah, aku mengaku.” Eden tahu jika ia tidak mungkin bisa membodohi Aciel dengan semua hal yang telah terbukti di depannya.     Insting Aciel selalu lebih tajam untuk mengorek apapun yang berhubungan dengannya.


            “Aku akhirnya pulang menggunakan taksi setelah tersesat dan merasa lelah membawa semua barang itu sendirian. Maafkan aku karena terlalu lama meninggalkan kalian.” bisik Eden lembut dan mengecup pipi Aciel ringan. Pria itu terlihat diam setelah Eden menjelaskan semuanya untuk meredakan kecurigaan yang sejak tadi bersarang di otaknya.


            “Ponselmu terus berbunyi sejak tadi. Telfon dari Summer.”


            Sambil


membelakangi Aciel, Eden tampak memejamkan matanya sebentar, lalu ia berbalik sambil menampakan senyum cerah pada suaminya. “Mungkin ia hanya ingin mengatakan sesuatu soal pernikahannya.” ucap Eden terdengar sebiasa mungkin. Padahal dalam hati Eden yakin jika sebenarnya Summer mungkin ingin menanyakan sesuatu mengenai kedatangannya ke sini.


            “Kukira seperti itu. Masaklah Ed, aku sudah lapar.” ucap Aciel akhirnya dan berjalan pergi meninggalkan Eden yang langsung bernapas lega di belakangnya. Sungguh ia seperti hendak dikuliti oleh Aciel dengan tatapan matanya yang tajam itu. Masalah Anthony tentu belum bisa dilupakan Eden dengan mudah. Dan ia takut jika kejadian seperti itu akan terulang lagi pada Andrew.


-00-


            “Ace, bangunlah. Ini sudah pagi.” ucap Eden pada Aciel sambil membuka tirai kamar mereka lebar-lebar. Aciel yang merasa silau dengan sinar matahari yang masuk ke kamarnya hanya bergerak sebentar ke kiri untuk meraih bantal dan setelah itu ia kembali tertidur dengan bantal yang menutupi seluruh wajahnya. Eden berdecak kesal melihat kelakukan suaminya yang sangat malas ketika sedang libur, tapi jika ia sudah bekerja, maka suaminya itu akan benar-benar rajin hingga ia lupa pulang ke rumah dan lupa pada anak dan istrinya.


            “Ace, hey. Ayo bangun. Ini sudah siang. Kenapa kau masih saja bermalas-malasan?” tanya Eden gusar sambil merebut bantal besar itu dari wajah Aciel. Namun Aciel tetap bersikeras mempertahankan bantal itu di wajahnya.


            “Hmm, jangan ganggu aku. Aku masih mengantuk. Sekarang aku sedang libur. Jadi jangan pernah mengusik kesenanganku disaat aku sedang libur.” ucap Aciel kekanakan. Eden memutar bola matanya malas pada suaminya. Selalu saja seperti ini ketika sedang libur.

__ADS_1


            “Ya Tuhan, ini sudah pukul delapan. Pukul sembilan aku akan pergi dengan Summer, jadi kau harus menjaga Ciara dan Louise di rumah.”


            “Kau akan pergi?” tanya Aciel tiba-tiba membuka matanya nyalang.


            “Kau sudah memberiku ijin kemarin Ace, apa kau lupa?” tanya Eden mengingatkan. Semalam saat Summer menelponnya dan memohon-mohon padanya untuk mengantarnya mencoba gaun di butik langganannya, Aciel telah memberikan ijin dengan syarat wanita itu tidak akan pergi terlalu lama.


            “Aku ingat, hanya tidak menyangka jika kau akan pergi sepagi ini.”


            “Jangan bilang kau telah berubah pikiran?” Eden berteriak kesal pada suaminya sambil berusaha merebut bantal besar yang digunakan Aciel untuk menutupi seluruh wajahnya lagi. Mereka tampak berguling ke sana ke mari dengan Eden yang terus berusaha untuk merebut bantal itu dari Aciel, tapi Aciel sendiri juga memiliki tenaga yang sangat kuat. Ia terlihat tidak mau mengalah dengan istrinya dan tetap mempertahankan posisi bantal itu pada wajahnya karena ia hanya ingin tidur lagi.


            “Ed, kau ini kenapa?” teriak Aciel keras karena Eden terus mengusiknya dengan brutal.


            “Aku ingin kau segera bangun dan mandi. Setelah ini aku harus pergi. Jika kau tetap tidur seperti ini, Ciara dan Louise tidak ada yang menjaga.” ucap Eden gemas sambil tetap menarik-narik bantal itu dari wajah suaminya.


            “Kau akan pergi dengan Summer?”


            Tiba-tiba Aciel melepaskan pegangan tangannya dan membuat Eden hampir terjungkal ke belakang karena sebelumnya ia terus menarik bantal besar itu dengan kuat. Tapi untungnya Aciel dapat menarik istrinya ke depan sebelum sang istri terjungkal dan terjatuh di atas lantai yang dingin. Kini posisi mereka terlihat saling menindih, dimana Eden berada di atas tubuh Aciel dengan sebuah bantal di tengah-tengah tubuh mereka.


            “Kau akan pergi dengan Summer?”


            “Ya, jadi kau harus segera bangun sekarang. Aku perlu bantuanmu untuk menyiapkan Ciara susu, selagi aku akan memandikan Ciara dan Louise.”


            “Itu artinya kau akan bertemu dengan Andrew.” ucap Aciel terdengar tidak sesuai dengan ucapan Eden sebelumnya. Eden mengernyitkan dahinya bingung ke arah Aciel dengan wajah penuh tanya.


            “Andrew? itu belum tentu karena Andrew adalah orang yang sibuk. Jangan katakan jika kau merasa cemburu pada Andrew? Oh, ayolah. Sekarang bukan saatnya untuk cemburu pada pria lain. Lihatlah, kita sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Bukankah...”


            “Kau berisik.” bisik Aciel datar pada Eden setelah ia melepaskan tautan bibirnya dari bibir tipis Eden yang menggoda. Lihat, sekarang bibir merah milik Eden semakin mengkilat merah karena tautan bibir Aciel sebelumnya, dan sepertinya itu bukan pertanda yang baik bagi Eden.


            “Ace, kau menyebalkan.”


            “Hmm, yah, aku memang tampan. Sayang, bibirmu terasa sangat menggoda.” ucap Aciel pelan di telinga Eden. Salah satu tangannya tampak terangkat untuk mengusap bibir tipis milik Eden dengan lembut.


            “Hmm, lebih baik aku segera pergi dari sini, sebelum... kau semakin menggila.” balas Eden datar pada suaminya dan bersiap untuk berdiri dari tubuh Aciel, namun tangan kekar itu justru menahannya dengan menekan punggung Eden kuat-kuat agar istrinya tidak bisa pergi kemanapun.


            “Lepaskan! Aku ingin memandikan Ciara dan Louise.” teriak Eden galak pada Aciel, namun pria itu hanya tersenyum separuh sambil memandangi kedua mata indah Eden dengan intens.


            “Hmm, mereka masih tidur sayang. Jadi kau jangan berteriak terlalu keras, atau mereka berdua akan terbangun setelah ini.”


            “Biarkan saja mereka bangun. Ini memang sudah siang dan sudah waktuya bagi mereka untuk bangun.”


            “Ya Tuhan Ed, kenapa kau begitu terburu-buru untuk pergi dan meninggalkanku sendirian dengan mereka? Kau ingin segera bertemu dengan Andrew?”


            “Andrew? Kenapa kau takut sekali pada Andrew. Dia sudah memiliki kekasih. Untuk apa kau cemburu pada Andrew. Lagipula aku akan bertemu Summer bukan Andrew. Jadi jangan pernah berpikiran yang tidak-tidak.”

__ADS_1


            “Lalu bagaimana dengan mereka? Aku tidak bisa mengurus dua balita sekaligus.” rengek Aciel seperti anak kecil. Eden memutar kedua bola matanya malas pada Aciel. Ini pasti hanya akal-akalannya saja untuk menahan Eden agar ia tetap berada di rumah dan tidak pergi kemanapun dengan Summer. Karena Aciel sangat cemburu pada Andrew.


            “Kau bisa. Aku akan menyiapkan semua keperluan mereka. Aku sudah memompa ASIku untuk Louise, jadi kau tinggal mengambilnya dari chiller dan memanaskannya sebentar sebelum kau memberikannya pada Louise. Untuk Ciara, aku sudah menyiapkan susu dan juga makanannya di sana, jadi kau hanya perlu mencampur susu itu dengan sedikit air hangat sesuai takarannya dan kemudian berikan susu itu pada Ciara. Bukankah itu sangat mudah?”


            “Itu sulit sekali Ed. Lebih sulit daripada berdebat alot untuk memenangkan tender."


            “Ck, kau terlalu berlebihan. Sekarang lepaskan tanganmu dari punggungku karena aku harus segera memandikan Ciara dan Louise sebelum Summer datang menjemputku.”


            “Tidak! Kau harus di rumah bersamaku dan juga anak-anak.” ucap Aciel kekanakan sambil mengencangkan pegangannya pada pinggang Eden.


            “Ace, kau menyebalkan. Cepat lepaskan tanganmu dari pinggangku.” ucap Eden terdengar tidak sabar sambil berguling ke sisi kanan. Sekarang justru Aciel yang berada di atas tubuh Eden sambil tetap memerangkap tubuh istrinya agar ia tidak bisa pergi kemanapun.


            “Aku tidak mau.”


            Mereka berdua tampak saling berguling ke sana ke mari hingga seprai yang membungkus ranjang king size mereka terlihat sangat berantakan dan kacau, beberapa bantal dan guling juga saling berjatuhan ke sana ke mari. Hingga tanpa sadar, mereka telah melewati batas. Eden tanpa sengaja menyenggol tubuh kecil Ciara yang


sedang tertidur di ujung ranjang. Entah bagaimana ceritanya, putri kecil mereka itu sudah berada di ujung ranjang dan sekarang justru sudah terjatuh ke bawah ranjang dengan suara tangis yang sangat keras dan memekakan telinga.


            “Ya Tuhan, anakku jatuh. Ace!”


            Aciel segera melepaskan tubuh Eden dari belitan tubuhnya sambil cepat-cepat berlari ke bawah ranjang untuk menggendong Ciara yang masih menangis di sana karena ia baru saja terjatuh dari atas ranjang milik ayah dan ibunya. Walaupun mereka menggunakan karpet yang cukup tebal di bawahnya, tapi tetap saja Ciara merasa


kesakitan dan juga terkejut karena tiba-tiba ia sudah jatuh di bawah ranjang dengan suara teriakan kedua orangtuanya yang berisik.


            “Hwaaa, mommy. Hwaaaa...”


            Eden mengambil alih Ciara dari dekapan ayahnya sambil berusaha menenangkan Ciara yang terus menangis.


            “Sssttt, sayang maafkan mommy ya. Ssstt, sudah sudah. Ciara mau minum?”


            Aciel menyodorkan segelas air putih pada Ciara, gadis kecil itu segera meminum air putih yang diberikan oleh ayahnya walaupun dirinya masih dalam keadaan menangis dan juga sesenggukan.


Oekk oekk


            “Ya Tuhan, Louise juga ikut menangis. Ia pasti terkejut setelah mendengar jeritan Ciara.”


            “Daddy.” rengek Ciara manja pada ayahnya. Aciel segera mengambil alih Ciara dari gendongan Eden, kemudian ia menyuruh Eden untuk menenangkan Louise.


            “Kau angkat Louise, aku akan mengajak Ciara ke bawah.”


            “Baiklah. Setelah ia berhenti menangis, aku akan memandikan Ciara.”


            Setelah itu Aciel benar-benar keluar dari dalam kamarnya dengan Ciara yang masih menangis sesenggukan di atas bahunya. Gadis kecil itu terlihat masih syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Aciel mengelus rambut panjang Ciara dengan lembut dan berusaha sebisa mungkin untuk membuat Ciara berhenti menangis.

__ADS_1


            “Sssttt, maafkan daddy ya. Mana yang sakit? Beritahu daddy.”


            “Hiks ta ta hiks tangan hiks Ha hiks Ciara.” ucap gadis kecil itu terbata-bata sambil menunjukan kedua tangannya yang merasa sakit. Aciel mendekap Ciara hangat sambil mengelus-elus kedua tangan Ciara yang sakit. Sungguh ia merasa bersalah sekarang. Akibat dari kelakukan kekanak-kanakannya, Ciara menjadi jatuh dan sakit. Padahal tadi ia hanya bermaksud untuk menggoda Eden, namun sepertinya ia sudah terlalu berlebihan. Hhh, benar-benar sangat kekanakan.


__ADS_2