Black Swan

Black Swan
Reunion (Seventy Nine)


__ADS_3

        Pagi ini Eden kembali melakukan aktivitasnya seperti ibu rumah tangga pada umumnya. Setelah beberapa hari


kemarin ia direpotkan dengan Louise yang rewel karena baru saja diimunisasi, dan Ciara yang sakit setelah bermain hujan bersama ayahnya di musim gugur seperti ini. Ia kini telah kembali pada rutinitasnya untuk menyiapkan Ciara sekolah dan juga menyiapkan beberapa keperluan Aciel. Dimulai dengan menggulung rambutnya tinggi-tinggi, lalu melihat bayi mungilnya yang sedang tertidur pulas di dalam box bayinya, ia mengecup pipi Louise lembut, dan ritual terakhir adalah menjabak rambut suaminya agar pria tampan itu segera bangun dari tidur nyenyaknya.


            “Ed, itu sakit.” gerutu Aciel dengan mata setengah terpejam. Eden terkikik geli di samping suaminya, lalu ia memberikan sebuah ciuman kilat di bibir suaminya, sebelum pada akhirnya ia benar-benar pergi dari kamarnya yang cukup nyaman itu. Setibanya ia di lantai satu, Eden langsung berpapasan dengan para pelayannya yang sedang sibuk membersihkan ruang tamu yang penuh dengan mainan Ciara dan bekas crayon Ciara yang mengotori lantai.


            “Selamat pagi semuanya, maaf karena Ciara mengotori lantainya.”


            “Selamat pagi nyonya.” balas tuan Kim dengan senyuman. Eden tersenyum lebar pada tuan Kim, dan untuk sesaat Eden berhenti untuk mengamati wajah penuh keriput milik tuan Kim yang semakin mempertegas usia tuan Kim yang sudah tidak lagi muda. Tapi semangatnya untuk melayani keluarganya, terutama Aciel, benar-benar membuat Eden terharu.


            “Tuan Kim, apa keluargamu masih berada di Italia?”


            “Begitulah, ada apa nyonya?”


            “Emm... bukan apa-apa. Hanya natal tahun ini kau bisa mengambil cuti lebih awal untuk pulang ke rumahmu. Aku ingin kau menghabiskan natal bersama cucu dan anak-anakmu di rumah.” ucap Eden lembut. Sudah beberapa tahun terakhir ini tuan Kim tidak pernah pulang saat natal. Itu Eden tahu dari Aciel yang menceritakannya kemarin malam saat mereka hendak tidur. Semalam Aciel bercerita jika hanya tuan Kim yang tetap menemaninya selama natal di rumah, sedangkan pelayannya yang lain tetap mengambil cuti untuk merayakan natal bersama keluarganya. Menurut Aciel salah satu alasan tuan Kim tidak pulang karena tuan Kim terlalu khawatir pada kondisi Aciel yang saat itu sering tidak stabil karena telah ditinggalkan oleh Eden. Selain itu tuan Kim juga merasa natal di rumahnya tidak lagi terasa spesial setelah kematian istrinya sepuluh tahun yang lalu.


            “Saya tidak apa-apa menghabiskan natal di sini seperti biasanya.”


            “Pulanglah tuan Kim, cucumu pasti sangat merindukan kakeknya. Kali ini Aciel tidak akan sendiri untuk menghabiskan natal, ia memiliki aku dan anak-anak. Jadi kau tenang saja. Aciel aman bersamaku.”


            “Baiklah nyonya, saya akan pulang untuk menghabiskan natal tahun ini di rumah. Terimakasih banyak atas kebaikan nyonya” ucap tuan Kim haru. Sebelum pergi ke dapur, Eden sempat melihat kedua mata tuan Kim tampak berkaca-kaca dan terlihat hampir meneteskan air mata, tapi tuan Kim cepat-cepat pergi menuju dapur agar Eden tidak bisa melihat air mata itu turun di pipinya. Rasanya Eden juga sedih saat melihat kondisi tuan Kim yang justru lebih banyak menghabiskan waktunya di sini hingga setua itu. Dedikasi yang diberikan tuan Kim sungguh luar biasa, dan Eden bertekad akan meminta Aciel menyiapkan pesawat pribadinya untuk mengantar tuan Kim pulang ke Itali nanti.


            “Ed, mana kopiku?”  Aciel datang dari arah kamarnya dengan masih berbalut piyama berwarna biru garis-garis putih. Pria itu tampak sangat lelah dengan rambut acak-acakan dan mata yang masih setengah mengantuk. Semalam ia harus menemani Louise yang tidak bisa tidur karena putranya itu masih ingin bermain dengan orangtuanya. Namun Eden dengan teganya melimpahkan Louise pada Aciel yang baru saja pulang dari kantor. Akhirnya mau tidak mau Aciel harus menggendong Louise sepanjang malam sambil menimang-nimang bayi tampan itu agar ia segera tertidur.


            “Kenapa kau langsung minum kopi? Bukankah kopi tidak baik untuk kesehatan. Minumlah susu atau air putih dulu sebelum minum kopi?” omel Eden panjang lebar. Aciel menghembuskan napasnya kasar dan lebih memilih untuk mengambil kopinya sendiri daripada harus mendengarkan omelan Eden yang sangat berisik.


            “Bilang saja jika kau tidak mau mengambilkannya, karena aku bisa mengambilnya sendiri.” ucap Aciel gusar. Eden yang sebelumnya sedang menyiapkan sereal untuk Ciara segera menghentikan aktivitasnya dan balas menatap Aciel sebal sambil berkacak pinggang.


            “Aku hanya mengingatkan jika kopi itu tidak baik. Kenapa kau justru memarahiku seperti itu? Kau ingin jatuh sakit karena terlalu banyak mengonsumsi kopi, hah?” sembur Eden penuh emosi. Aciel menolehkan kepalanya sekilas ke arah Eden, dan setelah itu ia kembali mengacuhkannya sambil menyeruput kopi hitamnya sedikit. Jika saja ia menanggapi omelan Eden, maka paginya yang cukup tenang ini pasti akan berakhir dengan buruk. Lebih baik ia diam saja dan mengalah untuk Eden. Yahh, mengalah untuk istri cantiknya.


            “Aku hanya perlu kopi untuk menghilangkan kantukku. Nanti pukul sembilan aku ada rapat dengan orang Brazil berisik yang kemarin hampir mengobrak-abrik bisnisku. Jadi jangan sampai aku mengantuk disaat sedang melakukan negosiasi dengannya.” terang Aciel kalem. Eden menghembuskan napasnya gusar dan kembali menyibukan dirinya dengan makanan Ciara yang hampir siap. Padahal tadi ia begitu bersemangat untuk melakukan berbagai macam hal di dapur, termasuk menyiapkan bento seperti yang diinginkan Ciara kemarin setelah gadis itu melihat serial memasak di youtube,  tapi mood memasaknya tiba-tiba hilang setelah ia sedikit melakukan pertengkaran dengan suaminya. Hmm, benar-benar wanita yang moody dan labil.


            “Ace, apa Louise sudah bangun?”


             “Sepertinya belum. Entahlah, saat aku turun dia masih terlelap di dalam box bayinya.” jawab Aciel sambil meraih apapun yang ada di depannya untuk dimakan. Tampaknya pria itu sedang sangat kelaparan. Lihatlah, ia memakan biskuit bayi Louise yang Eden letakan di atas meja dengan rakus. Padahal Eden sengaja menyiapkan biskuit itu untuk diberikan pada Louise saat putra kecilnya itu bangun nanti. Tapi, justru ayahnyalah yang menemukan biskuit bayi milik Louise.


            “Ace, itu makanan Louise.” tegur Eden sambil mengelap meja setelah ia baru saja menumpahkan susu yang hendak ia tuang ke dalam gelas. Aciel mengedikan bahunya acuh, sambil tetap melanjutkan kegiatannya memakan biskuit bayi Louise yang terasa sangat luar biasa untuk perut kelaparannya.


            “Aku lapar dan hanya menemukan ini di atas meja. Tapi kau sungguh akan memberi bayi kita biskuit ini? Louise bahkan baru berusia empat bulan, Ed.”


            “Itu aman untuk bayi seperti Louise karena aku akan mencampurnya dengan susu.”


            "Kalau begitu biarkan aku mencicipinya sedikit. Lagipula kenapa belum ada makanan di jam segini?”


            “Sebentar lagi. Lebih baik kau segera mandi dan bersiap untuk ke kantor.” ucap Eden tanpa beralih pada Aciel. Ia terlihat begitu kesulitan saat hendak menuang jus apel ke dalam botol minum Ciara. Lalu tiba-tiba Aciel datang dan menawarkan diri untuk membantu Eden.


            “Aku bantu, kau tidak harus melakukan semuanya sendiri, Ed.”


            “Kau tidak mandi?” tanya Eden heran. Biasanya Aciel selalu terlihat rapi dan wangi saat sarapan, namun sepertinya kali ini Aciel sudah benar-benar kelaparan.


            “Aku lapar. Seharusnya semalam aku mengikuti ajakan Sian untuk makan-makan bersama rekan-rekan divisinya. Tapi aku memilih untuk segera pulang dan pada akhirnya aku justru harus menimang Louise hingga bayi itu tertidur. Padahal aku berencana untuk memintamu membuatkan semangkuk kari ayam untuk makan malam.” terang Aciel panjang lebar. Eden terlihat sedikit merasa bersalah pada suaminya. Seharusnya semalam ia memang menjaga Louise hingga tidur, tapi ia sendiri juga sudah sangat lelah dan pada akhirnya ia langsung memberikan Louise begitu saja pada suaminya.


            “Maafkan aku. Aku benar-benar lelah semalam. Bagaimana jika aku memasakanmu semangkuk kari ayam untuk makan siang.”


Cup


            Aciel mencium pipi Eden gemas lantaran istrinya tengah bergelayut manja di pundaknya dengan wajah bersalah yang sangat kentara.


            “Tidak perlu. Nanti siang aku harus memimpin rapat untuk proyek di Florida. Aku sungguh tidak apa-apa. Lagipula, Louise adalah anakku, jadi sudah sepantasnya jika aku turut serta dalam merawatnya dan mengamati tumbuh kembangnya.” ucap Aciel dengan senyum menenangkan. Eden tersenyum simpul menanggapi ucapan suaminya dan menghadiahi Aciel dengan sebuah ciuman lembut yang singkat.


            “Kenapa sebentar?” protes Aciel tidak terima ketika Eden segera melepas tautan bibir mereka. Eden memutar bola matanya malas sambil mendekatkan kembali bibirnya untuk mencium suaminya. Terkadang Aciel memang sangat manja dan sangat rakus. Ia tidak mau hanya diberikan kecupan singkat oleh istrinya, karena bibir tipis milik Eden memang sudah menjadi candu bagi Aciel Lutherford. Lihat saja, sekarang Aciel justru memerangkap istrinya di dalam tubuh kokohnya yang besar. Bahkan Eden sudah berkali-kali memberikan kode pada suaminya agar ia berhenti menciumnya, namun Aciel seakan-akan menulikan diri dan enggan untuk melepaskan istrinya.


            “Ace, ini sudah terlalu lama.” protes Eden di sela-sela ciuman mereka. Lee Aciel mengedikan bahunya acuh dan kembali ******* bibir istrinya dengan rakus.


            “Pukul berapa ini?” tanya Aciel setelah ia melepaskan tautan bibirnya pada sang istri. Eden menolehkan kepalanya pada jam dinding yang terpasang di atas meja dapur “Pukul tujuh. Ada apa?”

__ADS_1


            “Hmm, masih ada waktu dua jam sebelum rapat dimulai. Bagaimana jika kita..”


            “Tidak! Kau pikir aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan padaku. Lebih baik kau makan saja di meja makan, dan aku akan menjemur Louise di taman belakang. sepertinya kita memang tidak boleh berciuman terlalu lama.” ucap Eden galak dan sengit. Setelah itu ia segera meninggalkan dapur dengan Aciel yang terus menggerutu sebal di belakangnya.


            “Memangnya aku salah jika meminta **** di pagi hari. Huh, dasar wanita galak.” gerutu Aciel sambil mengunyah biskuit bayi di depannya kesal.


-00-


            Eden berjalan perlahan menuju kamarnya sambil melihat dari kejauhan, apakah putra kecilnya sudah bangun atau belum. Samar-samar Eden melihat pergerakan kecil dari dalam box bayi, disusul dengan suara rengekan kecil yang menunjukan jika Louise memang sudah bangun dari tidur nyenyaknya. Namun, ketika ia melewati ranjang king sizenya, Ciara ternyata sudah berada di sana dan sedang bemalas-malasan di atas ranjang milik orangtuanya.


            “Mom.” panggil Ciara pelan. Eden tersenyum lembut kearah Ciara dan menarik tangan putri kecilnya agar segera bangun untuk pergi ke sekolah.


Oekk oekk


            “Ciara, Louise menangis, mommy akan mengangkat adikmu sebentar.”


            “Tapi, Ciara ingin mommy.” rengek Ciara manja. Beginilah kelakuan Ciara akhir-akhir ini pada Eden karena merasa ibunya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Louise. Terkadang Ciara akan berulah, sengaja merengek-rengek meminta ini itu agar Eden tidak bisa segera mengurus Louise.


            “Sebentar sayang, adikmu menangis, kau tidak ingin daddy memarahimu kan? Mommy sudah menyiapkan cerealmu di bawah dan jus apel untuk dibawa ke sekolah.” Eden berusaha membujuk Ciara agar tidak menahannya karena Louise sudah menangis dengan keras di dalam box bayinya.


            “Baiklah. Kenapa Louise menangis mom?” tanya Ciara ingin tahu sambil melongok ke dalam box bayi Louise. Di sana bayi mungil itu sedang menangis dengan keras hingga seluruh wajahnya berubah menjadi merah. Eden segera mengangkat Louise dari dalam box bayinya dan ia lantas membuka sedikit bajunya untuk memberikan Louise ASI.


            “Adikmu haus sayang.” jawab Eden dengan sabar. Tangan-tangan mungil Ciara bergerak dengan pelan untuk menyentuh rambut-rambut halus di kepala Louise yang tumbuh dengan subur. Melihat Ciara yang tampak sangat menyayangi Louise, membuat Eden merasa tersentuh dan terharu. Ternyata Ciara memiliki pola pikir yang sangat dewasa. Bahkan, Aciel pun masih sering bersikap manja dan kekanakan melebihi Ciara.


            “Mom, dimana Daddy?”


            “Daddy sedang makan di bawah. Kau ingin bersama daddy?”


            Ciara lantas mengangguk dua kali sebagai jawaban atas pertanyaan Eden. Gadis kecil itu kemudian berjalan perlahan menuju pintu kamar Eden sambil berpegangan pada handle pintu.


            “Daddy.” teriak Ciara dari ujung tangga teratas. Mendengar suara Ciara yang nyaring sedang memanggil namanya, membuat Aciel segera melipat koran paginya asal-asalan dan bergegas untuk menghampiri putrinya yang terus menerus berteriak dari atas tangga.


            “Ya, sayang. Tunggu sebentar, daddy akan datang.”


            “Ace, kau makan bersama Ciara, aku akan mengurus Louise dulu. Sepertinya ia masih mengantuk.” ucap Eden tampak kerepotan. Tanpa menunggu lama, Aciel segera meraih Ciara ke dalam gendongannya, lantas ia memutar-mutarkan Ciara layaknya sebuah pesawat terbang.


            “Daddy, Ciara takut.” teriak Ciara ketakutan, namun dengan tawa yang renyah pula. Aciel tergelak gemas dengan tingkah Ciara sambil menaik turunkan tubuh Ciara ke atas dan ke bawah.


            “Ciara tidak perlu takut, karena Daddy akan selalu menjaga Ciara.”


            “Mommy dan Louise juga?”


            “Tentu saja. Daddy akan selalu menjaga kalian semua. Sekarang ayo kita turun. Ciara ingin susu?”


            “Ciara mau susu. Ciara haus.” ucap Ciara lucu dengan aksen anak-anaknya. Aciel kemudian menggendong Ciara turun, tapi ia berhenti saat Eden justru ikut turun dan tidak kembali ke kamar untuk menyusui Louise.


            “Kenapa turun?”


            “Masih ada beberapa hal yang harus kusiapkan untuk dibawa Ciara ke sekolah. Aku lupa jika hari ini ada kegiatan makan bersama setelah kegiatan membersihkan kelas karena besok Ciara sudah libur natal.”


            “Kau ingin memasak untuk Ciara?”


            “Hmm.. mungkin, ia ingin dibuatkan bento kemarin. Tapi aku hanya tinggal menyusunnya karena Larson dan yang lainnya sudah memasak di dapur.”


            “Hati-hati, Ed.” peringat Aciel pada Eden yang sedang menuruni tangga sambil mendekap Louise yang sedang menyusu padanya. Ia kemudian merangkul pundak Eden pelan sambil menuntunnya untuk menuruni tangga satu persatu.


            “Terimakasih.” ucap Eden tulus ketika mereka sudah sampai di lantai satu. Eden kemudian melakukan rutinitas paginya untuk menjemur Louise di taman belakang. Hal itu banyak ia pelajari dulu ia menjadi single parent saat Ciara baru lahir. Melalui Ciara ia semakin belajar banyak untuk menjadi ibu yang baik dan juga ibu yang


ideal. Sekarang ia sudah tidak merasa malas lagi untuk menjemur Louise karena ternyata sinar matahari pagi sangat bagus untuk perkembangan bayi seusia Louise. Bahkan Eden sekarang sudah memiliki cara tersendiri untuk menghilangi kejenuhannya ketika sedang menjemur bayi, ia akan mengajak Louise mengobrol atau menyanyikan Louise sebuah lagu untuk menghilangkan kejenuhannya ketika menjemur Louise dan juga untuk membangun ikatan batin dengan bayinya.


            “Nah, sekarang saatnya Louise berjemur.” kata Eden lembut sambil mencium pipi merah Louise. Bayi mungil itu tampak menggeliat di dalam dekapan ibunya sambil memejamkan matanya rapat karena ia merasa silau dengan teriknya sinar matahari yang menimpa kulit wajahnya.


            “Hmm, kau merasa silau? Ya ampun, kau sangat menggemaskan sekali.” bisik Eden gemas ketika ia melihat Louise melakukan gerakan-gerakan perenggangan di dalam dekapannya.


            “Mommy.” teriak Ciara keras dari dalam rumah.

__ADS_1


            “Mommy di sini sayang.” teriak Eden dari arah taman belakang. Tak lama Aciel sudah berada di taman belakang sambil menggendong Ciara di atas kepalanya. Gadis kecil itu tampak riang sekali ketika ayahnya sesekali menggodanya seakan-akan Aciel akan menjatuhkan Ciara dari atas kepalanya.


            “Aww. Ciara, jangan menarik rambut daddy.” teriak Aciel keras karena tiba-tiba putrinya menarik rambutnya dengan keras.


            “Daddy nakal. Daddy ingin menjatuhkan Ciara.” celoteh Ciara acuh seakan ia tidak peduli jika ayahnya terus berteriak kesakitan karena ulahnya.


            “Ciara, minta maaf pada daddy. Lihat, daddy merasa kesakitan nak.” kata Eden tegas pada Ciara. Ciara kemudian menundukan kepalanya dalam sambil menenggelamkan wajahnya pada rambut-rambut coklat Aciel yang berantakan. Rupanya Eden memang sengaja memarahi Ciara agar putrinya tumbuh menjadi wanita yang baik dan juga selalu menghormati kedua orangtuanya. Walaupun Eden terkadang merasa kesal pada Aciel dan bersikap galak pada suaminya lantaran terlalu memanjakan Ciara, tapi ia tidak ingin putrinya tidak menghormati ayahnya. Ia ingin Ciara tetap menghormati Aciel meskipun ia juga sering berlaku tidak sopan pada suaminya.


            “Maafkan Ciara, dad.” ucap Ciara pelan dan tampak menyesal. Aciel tersenyum pelan ke arah Eden dan mengelus puncak kepala Ciara dengan lembut.


            “Daddy tidak apa-apa. Sekarang Ciara siap-siap ke sekolah bersama mommy ya. Kau berangkat bersama daddy sebentar lagi. Ed, kau bisa tinggalkan Louise sebentar dengan babysitternya.” Aciel memberikan kode pada Eden agar segera membantu Ciara bersiap-siap ke sekolah karena ia juga harus pergi ke kantor sebentar lagi.


            “Daddy akan bertemu dengan paman Sian dan paman tampan?”


            “Paman tampan?” tanya Aciel tak mengerti. Eden terkikik geli sambil mencubit pipi Ciara gemas. Putrinya itu sudah benar-benar terinfeksi virus genit miliknya. Bahkan, sekarang Ciara sudah bisa menilai seorang pria berdasarkan paras wajahnya, benar-benar sangat mirip dengan Eden.


            “Kau yang mengajarinya?” tanya Aciel dengan tatapan menyelidik. Eden tersenyum lebar tanpa dosa sambil menganggukan kepalanya beberapa kali.


            “Aku tidak pernah mengajari Ciara tentang seorang pria. Aku hanya menunjukan gambar Tranz yang sedang menggendongnya kemarin, lalu Ciara mengatakan jika paman itu sangat tampan, dan ia menyebut Tranz sebagai paman tampan.”


            “Ya Tuhan, kau menodai kepolosan anakku.”


            “Aku tidak pernah mengajarinya hal-hal aneh. Ciara sendiri yang memiliki panggilan itu untuk Tranz.”


            “Huh, itu pasti hanya akal-akalanmu saja. Kau pasti selalu mengajak Ciara bergosip dan menonton infotainment, hingga sekarang Ciara terlihat begitu dewasa sebelum waktunya.”


            “Tidak, aku tidak penah melakukannya. Kenapa kau menuduhku seperti itu?” protes Eden tidak terima.


            “Karena Ciara langsung melihat chanel infotainment saat ia menyalakan televisi.”


            “Aku tidak..”


           “Mommy, daddy, kapan Ciara akan bertemu dengan paman tampan?” potong Ciara gusar ketika ia justru melihat orangtuanya betengkar tidak jelas di hadapannya. Dan sepertinya Louise juga cukup terganggu dengan teriakan-teriakan berisik ayah ibunya yang tak tahu malu itu.


            “Sayang, paman Tranz tidak berada di sini. Paman Tranz sedang berada di Australia. Jadi Ciara tidak bisa bertemu dengan paman Tranz sekarang. Tapi jika Ciara ingin bertemu dengan paman Sian, sebentar lagi paman Sian akan datang untuk mengambil kertas-kertas pekerjaannya di ruang kerja daddy.”


            “Yahh.. Ciara tidak mau bertemu dengan paman Sian. Ciara ingin bertemu dengan paman tampan.” ucap Ciara terdengar gusar. Ayahnya itu memang sangat tidak peka dengan keinginan putrinya.


            “Ciara tenang saja. Minggu depan Ciara pasti akan bertemu dengan paman Tranz.” ucap Eden menenangkan dengan senyum ceria yang tersungging di wajahnya. Sepertinya ini memang waktu yang tepat bagi Eden untuk mengatakannya pada Aciel. Beberapa hari yang lalu, Eden mendapatkan telepon dari Tranz. Entah ada angin apa pria itu tiba-tiba teringat padanya dan mengundangnya untuk datang ke Australia. Pria itu menawarkan liburan natal yang menggiurkan untuk Eden dan keluarganya. Apalagi Eden juga sudah lama tidak bertemu Tranz, ia ingin datang memenuhi undangan Tranz agar dapat bertemu dengan anak laki-laki Tranz berusia satu tahun yang bernama Austin dan juga istrinya, Zara.


            “Ace, aku ingin pergi ke Australia untuk mengunjungi Tranz. Akan ada reuni kecil-kecilan di sana karena Tiffany dan Summer juga akan ada di sana. Kau masih ingat dengan mereka kan? Teman-temanku yang dulu sering menemaniku di club” tambah Eden lagi antusias. Tapi keceriaan di wajahnya tak bertahan lama, wajah mendung Aciel yang terpampang jelas di depannya membuat Eden merasa was-was seketika. Kedua matanya tampak tidak berani untuk menatap kedua mata Aciel secara langsung. Eden justru menyibukan dirinya dengan menciumi pipi Louise dan memainkan tangan mungil Louise secara bergantian.


            “Australi? Reuni kecil-kecilan kau bilang?”


            “Ya. Beberapa hari yang lalu Summer menghubungiku dan mengundangku untuk datang ke acara reuni itu. Kudengar Summer juga akan menikah minggu depan. Jadi kita bisa sekaligus menghadiri pesta pernikahan Summer di sana.”


            “Tapi, kau baru saja pulih, dan usia Louise masih sangat kecil untuk diajak bepergian jauh. Apa kau menyadari hal itu?” tanya Aciel dengan nada suara yang horor. Seketika keberanian Eden langsung menurun dan digantikan dengan aura ketakutan yang begitu besar dari dalam dirinya. Padahal beberapa menit yang lalu ia tampak sangat percaya diri untuk menyampaikan berita itu pada Aciel, namun sekarang kepercayaan dirinya tiba-tiba menghilang dan digantikan dengan sebuah ketakutan karena aura mengintimidasi yang dikeluarkan oleh Aciel.


            “Iya aku tahu. Tapi aku benar-benar ingin datang, karena sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan teman-temanku. Ayolah Ace, kukira Louise juga akan baik-baik saja selama berada di dalam pesawat.” bujuk Eden dengan wajah memelas dan kedua mata yang berkaca-kaca. Namun sepertinya Aciel sama sekali tidak ingin ambil


peduli dengan perasaan Eden saat ini. Ia pikir Eden memang sangat egois jika ia ingin memaksakan kehendaknya untuk datang ke acara reuni di Australi. Bayangkan saja, usia Louise masih sangat kecil untuk bepergian menggunakan pesawat. Suara bising pesawat dan efek-efek yang ditimbulkan setelah naik pesawat, seperti jet-lag sangat tidak baik untuk bayi seusia Louise.


            “Suara bising pesawat dan atmosfir di dalam pesawat sangat tidak baik untuk Louise. Apa kau tega membiarkan Louise sakit demi kesenanganmu?” tanya Aciel tegas di depan Eden. Eden menggelengkan kepalanya lemah sambil menyeka bulir-bulir air mata yang turun membasahi kedua pipinya. Ia merasa sakit karena Aciel tidak


mengijinkannya untuk datang ke acara itu. Tapi di sisi lain, ia juga sangat paham dengan tujuan suaminya yang melarang dirinya untuk datang ke acara reuni itu. Karena tidak mungkin bagi Eden untuk datang sendiri ke Australi tanpa Ciara dan juga Louise, mereka berdua masih sangat membutuhkannya.


            “Baiklah, kita akan membicarakan hal ini nanti. Sekarang aku harus segera pergi ke kantor untuk melakukan rapat.”


            Setelah mengatakan hal itu, Aciel segera menurunkan Ciara dari atas kepalanya dan beranjak masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap. Ciara tampak kebingungan melihat wajah sembab ibunya yang terus menundukan kepalanya sambil memainkan jari-jari mungil milik Louise.


            “Mommy, daddy marah?” tanya Ciara tidak mengerti. Eden mengelus puncak kepala Ciara pelan, lantas membimbing Ciara untuk masuk ke dalam rumah.


            “Ayo kita masuk. Sudah saatnya kau dan Louise mandi.”


             "Nyonya..." panggil babysitter Louise pelan, berniat untuk menghentikan Eden agar ia saja yang mengurus Louise. Tapi Eden langsung menggeleng, memberikan seulas senyum untuk menunjukan jika ia baik-baik saja, dan setelah itu ia segera mengajak kedua anaknya untuk masuk ke dalam. Pada akhirnya Eden lebih memilih untuk mengalihkan kesedihannya dengan banyak-banyak berinteraksi dengan kedua anaknya. Karena untuk saat ini, hanya kedua anak-anaknyalah yang dapat mengobati rasa sedih dan rasa kecewa Eden pada Aciel.

__ADS_1


__ADS_2