
Satu hari berlalu sejak kejadian menghebohkan yang menimpa Aciel. Pria itu kini masih mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit karena kondisi lambungnya yang mengalami pendarahan. Bahkan jika saja malam itu Eden tidak mendengar suara Aciel yang terdengar samar-samar, mungkin nyawa pria itu tidak akan terselamatkan.
“Pulanglah Ed, kau sudah berada di sini sejak kemarin. Lihatlah kantung matamu yang menghitam.”
Sian mencoba membujuk Eden agar wanita itu bersedia untuk pulang. Setidaknya Eden perlu beristirahat sebentar di rumah, bertemu Ciara, dan membersihkan diri agar terlihat lebih segar.
“Sian, apa dia akan baik-baik saja?”
Seperti tidak mendengar kata-kata Sian, Eden justru bertanya dengan wajah datar yang terlihat sangat frustrasi. Ketakutan demi ketakutan sedang menyeruak di dada Eden, namun ia sendiri merasa bingung bagaimana cara mengungkapkannya pada Sian.
“Aku yakin Aciel akan baik-baik saja Ed. Ini bukan kali pertama Aciel mengalami hal ini, dulu ia juga pernah mengalaminya saat ibunya baru saja meninggal.”
“Huhh.. kenapa aku harus sekhawatir ini padanya? Bukankah ini bagus? Semakin ia sakit, maka kesempatanku untuk pergi darinya akan semakin besar.” Eden tiba-tiba bermonolog sendiri dengan tawa kecut yang dibuat-buat. Namun Sian tahu jika Eden hanya berusaha untuk menghibur hatinya yang sedang kacau. Ia tahu jika Eden tidak pernah bisa benar-benar membenci Aciel.
“Aciel pasti akan marah jika mendengarmu mengatakan hal ini.” ucap Jessica terdengar jengkel sambil berjalan menghampiri Eden yang berdiri di sebelah blangkar milik Aciel.
“Pria angkuh dan bodoh ini sangat mencintaimu. Kenapa kau ingin sekali pergi meninggalkannya lagi seperti dulu?” tanya Jessica masih dengan nada jengkel. Eden lalu melirik Jessica sekilas, dan berjalan gontai menuju kursi panjang untuk mengambil tas slempangnya.
“Sepertinya aku memang harus pulang, Ciara membutuhkanku di rumah. Aku percayakan Aciel pada kalian.”
Melihat Eden keluar dari kamar rawat Aciel dengan wajah kusut membuat Sian langsung menatap Jessica penuh tuduhan. Bibir wanita itu memang sangat pedas dan menyebalkan. Bahkan di saat-saat seperti inipun ia masih saja menyakiti orang lain yang sedang kacau.
“Apa?” tanya Jessica sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kau! Apa kau tidak bisa sekali saja bersikap manis pada Eden? Wanita itu sedang kacau, dan kau memperparah keadaanya dengan kata-katamu yang menyebalkan itu.” Omel Sian gemas.
“Memangnya apa yang telah kulakukan? Bukankah aku benar? Aku justru sedang membela Aciel karena ia pasti akan tersinggung jika mendengar kata-kata Eden yang terdengar kejam itu.”
“Kau benar, tapi bukan seperti itu caranya. Sekarang kau justru membuat keadaan menjadi semakin rumit.” dengus Sian kesal sambil berjalan menuju sofa panjang di sudut ruangan. Rasanya melelahkan menunggu seseorang yang sedang sakit di rumah sakit. Apalagi Aciel belum juga membuka matanya sejak kemarin. Menurut dokter, Aciel akan segera sadar setelah melewati masa kritisnya tadi pagi. Tapi hingga malam ini, Aciel belum juga membuka matanya dan justru membuat orang-orang yang mempedulikannya menjadi khawatir.
“Apa ia akan baik-baik saja? Aku belum pernah melihat Aciel selemah ini.”
“Aciel juga manusia Sica. Ada kalanya ia menjadi lemah dan tidak berdaya seperti ini. Mungkin Aciel terlalu memaksakan dirinya untuk melakukan berbagai macam hal, tanpa memikirkan kondisi tubuhnya yang mulai menurun. Seharusnya Aciel harus melakukan pola hidup sehat sejak ia dinyatakan memiliki penyakit pencernaan yang cukup parah bertahun-tahun yang lalu. Tapi Aciel tetaplah Aciel. Ia sulit sekali mengubah pola hidupnya yang tidak sehat dan terus menerus meminum alkohol disaat ia merasa stress.”
“Bukankah ia telah mendapatkan Ciara dan Eden? Masalah apa lagi yang membebani pikirannya?”
Jessica memandang prihatin kearah Aciel yang dipenuhi oleh alat-alat penunjang kehidupan. Di samping blangkarnya, sebuah kardiograf terus terus menampilkan grafik detak jantung Aciel yang bergerak stabil. Setidaknya untuk saat ini kondisi Aciel masih cukup stabil, namun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan dan kemungkinan terburuk yang mungkin akan mereka hadapi dengan kondisi Aciel.
“Banyak. Apa kau pikir Aciel hanya memikirkan Eden dan Ciara? Masalah perusahaan juga membebaninya. Cinta memang penting, tapi orang seperti Aciel tidak akan membiarkan seluruh pikirannya hanya dikuasai oleh cinta. Aciel bukan pria semelankolis itu, meskipun sikapnya akhir-akhir ini sedikit mengarah ke sana. Tapi akhir-akhir ini memang banyak pekerjaan di kantor karena Aciel mendapatkan dua tender sekaligus di bulan ini. Dan sebenarnya kondisinya sudah tidak baik-baik saja semenjak ia pulang dari Canada.”
“Hmm.. terkadang pria seperti Aciel dapat membuat orang lain iri karena kesuksesannya dan kesempurnannya. Namun dibalik itu semua, mereka tidak tahu jika Aciel harus bekerja keras untuk meraih semuanya. Sian, kira-kira kapan Aciel akan membuka matanya? Aku sekarang merasa khawatir padanya.”
“Entahlah, semoga saja Tuhan masih berbaik hati padanya dan memberinya kesempatan untuk hidup.”
-00-
“Mommy!”
Eden memeluk putrinya sedih sambil membawa putrinya masuk ke dalam rumah. Ia hampir saja menangis di depan Ciara saat ia melihat bayangan Aciel dari kedua mata Ciara yang sangat mirip dengan mata coklat Aciel.
“Daddy dimana? Apa daddy sudah sembuh?”
“Daddy sedang tidur di rumah sakit. Apa Ciara merindukan daddy?”
“Ciara ingin bertemu daddy... Ciara menyayangi daddy.”
Eden merasa tertohok saat mendengar kalimat polos penuh nada sedih yang terlontar dari bibir Ciara. Betapa gadis kecil itu sangat membutuhkan ayahnya, tapi ia dengan jahatnya berencana untuk membawa Ciara menjauh dari hidup Aciel dan kembali menjalankan kehidupannya seperti dulu.
Kau egois...
Eden mengingat kata-kata Aciel saat mereka bertengkar, sebelum pria itu jatuh tak sadarkan diri di rumah sakit. Apakah ini hukuman karena ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan padanya? Tapi ia sedang benar-benar bimbang saat ini. Menerima Aciel menjadi suaminya dengan semua masa lalu yang menyakitkan membuat Eden trauma. Pada akhirnya hatinya akan selalu berkata mundur jika Aciel mulai mengingatkannya pada peryantaan cinta yang dilontarkan oleh pria itu beberapa hari yang lalu.
“Mommy.. apa Ciara boleh melihat daddy?”
“Emm.. mungkin nanti saat daddy sudah bangun, sekarang daddy harus tidur agar cepat sembuh.” jawab Eden lembut sambil mencolek hidung Ciara. Mereka berdua lantas bersama-sama masuk ke dalam mansion untuk makan bersama di meja makan. Sejak Aciel sakit, ia tidak pernah menyuapi Ciara dan hanya menitipkan Ciara pada pelayan-pelayan di sini. Beruntung Ciara adalah gadis mandiri yang tidak harus selalu ditemani oleh Eden.
Drrt drrtt
“Sebentar sayang, paman Sian menghubungi mommy.”
Eden menurunkan Ciara dari gendongannya, lalu ia segera meroogoh saku tas slempangnya untuk mengangkat panggilan tiba-tiba dari Sian.
“Eden, kau dimana?”
“Aku baru saja tiba di rumah, ada apa?” tanya Eden berusaha tenang. Meskipun saat ini jantungnya sedang bergemuruh karena telepon dari Sian, tapi ia terus berusaha untuk tenang dengan mengelus surai panjang Ciara berkali-kali.
“Datanglah ke rumah sakit sekarang Ed, Aciel membutuhkanmu.”
“Ada apa dengan Aciel?”
Eden mulai tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya ketika Sian mulai menyebutkan nama Aciel di seberang sana.
“Aciel mengalami kejang-kejang Ed. Saat ini tim dokter sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawanya. Cepatlah datang ke sini, suasana menjadi lebih kacau saat ini.”
Eden langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, dan segera memanggil Kathy agar menyuapi Ciara makan.
“Sayang, sepertinya mommy harus pergi sekarang, daddy mencari mommy.”
“Ciara ikut.”
“Kau tidak bisa ikut sayang. Kath, tolong kau jaga Ciara sebentar, Aciel sekarat di rumah sakit.” ucap Eden cepat pada Nara yang baru saja datang. Ia kemudian segera berlari kearah garasi untuk meminta tuan James mengantarkannya lagi ke rumah sakit.
“Aciel sekarat, tolong antarkan aku ke rumah sakit lagi.” ucap Eden terburu-buru dengan mimik wajah ketakutan yang tercetak jelas di wajahnya. Tiba-tiba bulir-bulir air matanya menetes begitu saja saat mobil yang membawanya perlahan-lahan berjalan keluar dari halaman mansion Aciel yang mewah.
Saat mendapatkan kabar dari Sian jika kondisi Aciel memburuk, mau tidak mau ingatan Eden terlempar ke peristiwa tiga tahun yang lalu saat Zyan dinyatakan kritis oleh pihak kepolisian pasca mengalami kecelakaan. Suara sirine polisi yang meraung-raung di depan rumah orang tua Zyan membuat Eden tidak bisa melupakan sedikitpun detail kejadian saat Zyan mengalami kecelakaan hingga pada akhirnya pria itu dinyatakan meninggal oleh dokter karena cedera yang cukup parah di bagian kepala dan tulang belakang.
__ADS_1
“Nona, anda baik-baik saja?”
“Tidak. Sama sekali tidak tuan James.” jawab Eden parau sambil menundukan kepalanya kalut. Seharusnya ia tidak perlu sedih seperti ini. Seharusnya ia merasa bahagia dengan sakitnya Aciel, karena dengan begitu ia tidak akan dipermainkan oleh Aciel lagi. Ia akan mendapatkan kebebasannya kembali, dan hidup dengan tenang bersama Ciara. Sayangnya apa yang terjadi saat ini tidak sesederhana pikirannya. Ia sekarang justru merasa sesak saat mengingat Aciel dan benar-benar ingin menangis meraung-raung tanpa alasan yang jelas.
“Nona, kita sudah sampai.”
Tiba-tiba tuan James menyadarkan lamunannya dan membuatnya segera melompat turun dari dalam mobil. Di hatinya sejak tadi ia terus berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja, dan pria itu masih tetap akan angkuh seperti biasa. Ia lebih baik melihat Aciel yang brengsek daripada Aciel yang lemah, yang berbaring tak berdaya dengan berbagai alat bantu kehidupan di seluruh tubuhnya.
“Bba bagaimana kondisi Aciel?” tanya Eden terbata-bata saat ia baru saja sampai di depan ruang perawatan Aciel. Di sana Sian dan Jessica telah menunggunya dengan wajah muram, yang terlihat sangat mengkhawatirkan untuk dilihat. Ia takut sesuatu yang buruk sebentar lagi akan menamparnya.
“Buruk Ed. Aciel mengalami kejang beberapa saat yang lalu, sekarang tim dokter sedang menanganinya di dalam.”
“Bagaimana bisa? Bukankah ia sudah dinyatakan stabil?”
“Ternyata selain mengalami pendarahan lambung, Aciel juga mengalami infeksi pada ususnya. Kau tahu sendiri bagaimana hidup Aciel selama ini yang cukup tidak sehat. Semua itu menyebabkan penyakit pencernaannya berkembang menjadi lebih parah.” jelas Sian sedih. Seketika ia merasakan kedua lututnya lemas dan ia hampir saja jatuh jika Jessica tidak dengan sigap menahan pundaknya. Wanita berambut blonde itu kemudian menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu sambil mengelus pundaknya beberapa kali agar ia kuat.
“Kurasa ini memang yang paling parah. Kau harus kuat untuk Aciel dan Ciara.”
“Aku tidak pernah bisa membencinya meskipun aku sangat ingin melakukannya. Dan aku menyesal kenapa aku tidak pernah menanggapi kesungguhannya saat ia ingin memperbaiki semuanya. Aciel beberapa kali melamarku, ia ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu dan menjadi ayah yang baik untuk Ciara. Tapi aku selalu menolaknya, memakinya, dan mengatakan padanya jika aku ingin bebas, karena aku merasa trauma dengan semua yang terjadi di masa lalu. Kupikir aku harus memikirkannya lagi matang-matang sebelum aku melangkah ke jenjang pernikahan.”
“Aku tahu bagaimana perasaanmu Eden. Itu normal, tapi mungkin sekarang kau harus lebih memperhatikan kesungguhan Aciel karena dia tidak pernah main-main jika ia ingin melakukan sesuatu. Sekarang lihatlah, apa kau pernah melihat Aciel pergi berkencan dengan ******-jalangnya? Sejak kau pergi, Aciel tidak bergairah lagi seperti dulu. Ia hanya sebatas menghibur dirinya di klub bersama beberapa teman-temannya, lalu ia akan pulang tanpa melakukan **** apapun bersama jalangnya.” jelas Jessica terlihat getir. Eden setelah itu hanya diam, ia tidak
tahu apa yang harus ia katakan untuk menanggapi Jessica. Baginya semua ini telah menjadi sebuah balasan yang setimpal dari Tuhan karena ia menjadi wanita yang terlalu angkuh selama ini.
“Eden, masuklah. Dokter Blemis sudah keluar dan mengijinkanmu untuk masuk.”
Eden mengangguk kecil dan segera menghampus air matanya yang terus menetes dari kedua mata bulatnya. Ia berharap, ia tidak akan menangis lagi saat masuk ke dalam dan melihat Aciel tidur dengan banyak alat-alat penunjang kehidupan di tubuhnya.
“Ace....”
Eden bergumam pelan sambil menyentuh tangan dingin Aciel yang dihiasi oleh selang infus. Ini adalah kali ke dua Eden melihat Aciel dalam keadaan tak berdaya seperti ini. Dulu saat Aciel pingsan setelah mendonorkan darah untuk Ciara, pria itu juga tampak lemah dan tak berdaya seperti ini. Namun saat itu kondisinya tidak seburuk ini. Dulu pria itu tidak tidur selama ini dan membuatnya sekhawatir ini.
“Apa kau akan mati dan meninggalkanku bersama Ciara?” gumam Eden sedih sambil menghapus air matanya yang kembali menetes mengenai punggung tangan Aciel. Ia benar-benar tak bisa menyembunyikan semua kesesakan ini saat melihat Aciel terbaring lemah di atas blangkar.
“Kau tahu, aku menyesal dengan semua yang terjadi diantara kita. Aku menyesal karena telah menipumu, membuat hubunganmu dengan ayahmu menjadi hancur hingga akhirnya ayahmu meninggal setelah kau memaki-makinya dengan kata-kata kasar. Lalu Jessica, aku meracuni sahabat baikmu karena aku kesal melihat sikapnya yang sangat posesif padamu. Jessica mendapatkan seluruh perhatian yang kau miliki. Sedangkan denganku, kau selalu membuatku terluka dan berakhir menyedihkan seperti ini. Dan untuk tes DNA itu, aku memang membohongimu karena aku tahu kau sangat menginginkan bayi itu. Perlahan-lahan kau mulai mempedulikanku dan menaruh harapan besar pada janin yang kukandung. Tapi kebencian tetaplah kebencian. Aku tidak akan pernah puas jika belum melihatmu merasakan apa yang kurasakan. Jadi aku memutuskan untuk melakukan semuanya. Aku memutuskan untuk membuatmu hancur dan membuatmu kehilangan satu persatu orang-orang yang kau sayangi. And see, aku berhasil! Aku berhasil melakukan semuanya dengan air mata penyesalan yang tidak pernah berhenti mengalir dari mataku. Bahkan karena sikap egoisku, Zyan juga harus menjadi korban dari semua ini. Ia pada akhirnya meninggal dengan sangat tragis karena harus menanggung semua dosa-dosaku yang tak termaafkan. Bangunlah Ace... kita mulai semuanya dari awal.” desah Eden frustrasi. Ia menenggelamkan
wajahnya dalam di atas punggung tangan Aciel yang sejak tadi ia genggam. Ia berharap pria ini segera membuka matanya saat ini dan memberikan senyum terbaiknya untuknya. Oh, atau mungkin tatapan sinis paling dinginnya? Ia benar-benar sangat berharap Aciel akan membuka matanya sekarang, tak peduli seburuk apapun respon Aciel nanti saat melihatnya sedang dalam keadaan kacau seperti ini.
“Eden....”
“Ed....”
Eden masih tetap menenggelamkan kepalanya di atas punggung tangan Aciel tanpa mengindahkan suara yang terus memanggilnya seperti bisikan.
“Eden Morel... apa kau mendengarku.”
Eden seketika langsung mendongakan kepalanya sambil menatap tak percaya pada Aciel yang sedang menatap dingin kearahnya. Pria itu akhirnya bangun seperti harapannya beberapa saat yang lalu. Wajah dingin dan tatapan sinis Aciel rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya menghangat, sekaligus berdebar-debar girang karena akhirnya pria itu membuka matanya juga.
“Kau... kau sadar!”
Eden tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya, dan ia langsung menubruk tubuh lemah Aciel hingga pria itu harus mengerang kesakitan beberapa kali karena tubuh kurus Eden yang menimpa tubuhnya yang dipenuhi kabel-kabel penunjang kehidupan.
“Tadinya. Tapi melihatmu yang akhirnya membuka mata membuatku senang. Jangan seperti ini lagi.”
“Kenapa?”
“Aku mengkhawatirkanmu. Kau sangat menakutkan saat tak sadarkan diri.”
“Kau menangis?”
Eden langsung menyentuh pipinya sendiri yang basah, lalu ia mengangguk pelan mengiyakan. Tidak mungkin ia mengatakan tidak jika pada kenyataanya ia menangis. Ia menangis sejak kemarin malam, dan hingga detik inipun air matanya masih mengalir untuk Aciel.
“Kau menangis karena aku? Maafkan aku, kau telah menumpahkan terlalu banyak air mata untuk pria brengsek sepertiku.”
Eden menggeleng cepat untuk menyangkal kata-kata Aciel. Ia lalu memeluk tubuh Aciel sekali lagi, namun dengan gerakan yang lebih lembut dan hati-hati.
“Kemarin aku menangis karena mengkhawatirkanmu. Dan sekarang aku menangis karena aku bahagia.
Terimakasih karena kau telah kembali Ace. Aku takut kau meninggalkanku.” bisik Eden parau masih dengan memeluk tubuh Aciel. Pria itu lalu mengangkat tangannya yang masih lemah untuk membalas pelukan Eden sambil menepuk punggung wanita itu pelan.
“Aku kembali untukmu dan Ciara. Menikahlah denganku Eden, kita mulai semuanya dari awal. Aku tahu masa lalu kita memang sangat buruk, tapi kita pasti bisa membuat masa depan menjadi lebih baik dari masa lalu.”
Aciel merasakan Eden mengangguk pelan tak lama setelah ia menyelesaikan kelimatnya. Akhirnya wanita itu bersedia untuk menikah dengannya, menjadi isterinya, dan ibu dari anak-anaknya yang lain, setelah Ciara tentunya.
“Ciara? Bagaimana dengannya?”
“Ia baik-baik saja. Tapi ia sempat menangis saat aku meninggalkannya untuk pergi ke sini. Sian mengatakan padaku jika kau kejang-kejang dan kritis, jadi aku langsung datang ke sini tanpa memikirkan apapun lagi.”
“Sian?”
Eden mengangguk sambil mengusap sisa-sisa air matanya yang terasa lengket. Ia tahu ini memalukan, namun ia tak peduli. Ia tak peduli Aciel akan menganggapnya cengeng, atau wanita penjilat yang munafik, ia tak peduli! Ia bahkan rela menangis sepanjang hari untuk Aciel asalkan pria itu bisa tetap bersamanya dan menjadi ayah untuk anaknya, Im Ciara.
-00-
Sian masuk kedalam ruang perawatan Aciel setelah Eden pulang lima menit yang lalu. Salah satu pelayan di rumah menghubungi Eden untuk pulang karena Ciara tidak mau tidur jika bukan Eden yang menemaninya. Dan akhirnya Eden terpaksa pulang di jam dua belas malam seperti ini dengan wajah kecewa yang tercetak jelas di wajahnya.
“Bagaimana? Kau sepertinya lebih bahagia sekarang.” goda Sian sambil menahan tawa. Sejak tadi ia dan Jessica tidak bisa menghentikan tawa mereka di luar ruang perawatan Aciel saat Eden masuk sambil menangis histeris di samping Aciel. Idenya untuk menipu Eden memang sangat luar biasa, bahkan Eden sepertinya belum tahu jika semua ini hanya akal-akalan Sian.
“Sialan! Kau membuat Eden menangis histeris di sini karena ide konyolmu.” maki Aciel gusar. Namun Sian masih saja tersenyum-senyum aneh sambil menggoda Aciel yang tampak risih dengan raut wajah Sian.
“Kau seharusnya berterimakasih padaku, karena ide konyolku itu sekarang Eden menerima lamaranmu. Huh, aku gemas melihat hubungan kalian yang seperti ini.” seloroh Sian menyebalkan. Andai saja tubuh Aciel tidak sedang lemah seperti ini, ia bersumpah akan menghajar Sian saat ini juga karena telah membuat Eden menangis sesenggukan di depannya.
“Tapi kau terlalu berlebihan mengarang cerita di depannya. Kau mengatakan bahwa aku kejang-kejang? Sialan! Apa kau memang berharap aku seperti itu, arghh....”
Aciel menggeram tertahan saat perutnya kembali sakit karena gerakannya yang tiba-tiba. Seharusnya ia memang tidak boleh terlalu banyak bergerak, karena lambungnya masih dalam proses pemulihan.
__ADS_1
“Ck, tidurlah lagi dan biarkan aku yang mengurus semuanya. Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba penyakitmu kambuh seperti ini? Apa kau sedang memiliki banyak masalah?”
“Masalah? Tentu saja aku selalu memilikinya, tapi mungkin karena aku sudah semakin tua.”
Sian seketika membungkam bibirnya dengan tangannya agar suara tawanya tidak pecah saat ini juga. Seorang Aciel Lutherford ternyata cukup sadar diri pada usianya yang memang tidak lagi muda saat ini. Empat puluh tiga, tentu saja itu adalah usia yang sangat matang untuk menjadi seorang pria dewasa dan juga orang tua bukan?
“Kau rupanya cukup sadar diri juga Ace. Tapi kali ini memang yang terparah. Kau tidak pernah dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan yang benar-benar tidak sadar seperti kemarin. Dan aku sempat berpikir jika nyawamu mungkin tidak akan bisa diselematkan.”
“Sialan! Kau berharap aku mati?”
“Bukan, bukan seperti itu. Aku justru mengkhawatirkan keadaanmu. Kali ini kau benar-benar lemah, dan tidak seperti Aciel yang kukenal.” ucap Sian bersungguh-sungguh. Aciel lalu menghembuskan nafasnya kecil, mengalihkan tatapannya kearah lain dan tampak sedang memikirkan sesuatu.
“Malam itu serangannya memang sangat menyakitkan dan tiba-tiba. Kupikir hidupku memang akan berakhir malam itu. Tapi ternyata tidak. Aku masih memiliki banyak urusan yang harus kuselesaikan, dan aku juga harus menebus semua sikap brengsekku selama ini pada Eden. Jika aku mati sekarang, aku akan mati dengan tidak tenang.”
“Huh, padahal aku berpikir untuk menggantikan posisimu sebagai ayah Ciara jika kau mati.”
Bugh
Tanpa diduga, Aciel melayangkan satu pukulan di perut Sian hingga pria itu meringis kecil menahan sensasi menohok yang tiba-tiba ia rasakan.
“Kenapa kau memukulku?”
“Kau berhak mendapatkannya. Pulanglah, aku ingin beristirahat.”
“Kau mengusirku? Sialan! Setelah aku membantumu, kau justru mengusirku? Awas kau Ace, aku akan merebut perhatian Ciara darimu.”
“Coba saja jika kau berani, aku akan mematahkan lehermu setelah aku bebas dari semua selang sialan ini.” balas Aciel sengit sambil membalikan tubuhnya membelakangi Sian. Pria bergusi pink itu lantas segera keluar dari ruang perawatan Aciel dengan wajah bersungut-sungut menahan kesal. Namun dibalik wajah kesalnya ia cukup bersyukur karena pada akhirnya Aciel mendapatkan kebahagiaanya setelah empat tahun menunggu kemunculan Eden. Dan sebagai sahabat ia hanya mengharapkan yang terbaik untuk Aciel dan putri sahabatnya, Brexton, agar mereka kedepannya dapat menjalankan sebuah hubungan rumah tangga yang bahagia, bebas dari pertengkaran dan tangisan seperti dulu.
-00-
“Satu... dua... tiga.....”
“Hwaaaa... itu milikku, itu milikku!”
Plukk
Aciel memandang jengah pemandangan di depannya sambil menggendong Ciara menjauh dari kerumunan orang-orang yang sedang memperebutkan sebuket bunga yang baru saja dilemparkan oleh Jessica dan Kris. Di tengah-tengah kerumunan itu tersembunyi Eden dan Sian yang sedang memperebutkan buket bunga mawar berwarna putih yang sialnya mendarat di depan kaki mereka.
“Ibu dan pamanmu memang gila.” ucap Aciel pada Ciara. Gadis kecil itu sedang bermanja-manja di dalam dekapan ayahnya sambil memandang lalu lalang orang-orang yang terus berjalan di sekitarnya.
“Aciel, aku mendapatkannya.”
Eden tiba-tiba duduk di sebelahnya, dengan deru nafas yang masih memburu sambil memamerkan buket bunga yang berhasil ia rampas dari Sian.
“Curang! Kau merebutnya dariku.”
“Ck, kau kekanakan. Lagipula kau juga tidak akan menyusul Jessica jika mendapatkan buket ini, kau bahkan tidak memiliki pasangan.” cibir Eden menohok.
“Eden benar, untuk apa kau mendapatkan buket bunga Jessica jika kau tidak memiliki pasangan. Sayang, Ciara ingin makan es krim.”
Eden seketika berdiri sambil menggandeng tangan Ciara untuk mengambil es krim di meja panjang. Dan saat ia berjalan melewati Sian, ia langsung menjulurkan lidahnya mengejek kearah Sian, dan tertawa cukup keras setelahnya dengan raut bahagia yang terlihat menyebalkan di mata Sian.
“Lihatlah kelakuan calon isterimu, dia benar-benar menyebalkan!”
“Hmm.. dia memang sangat menyebalkan. Ia bahkan membuatku harus menjadi walinya selama sepuluh tahun, menunggunya selama empat tahun, dan membuatku harus terlihat bodoh hanya untuk menjadikannya calon isteriku. Brexton benar, Eden akan tumbuh dengan sifat ibunya yang lebih mendominasi.”
“Maksudmu?” tanya Sian tak mengerti. Namun Aciel justru berdiri, dan pergi meninggalkan Sian dengan berbagai macam pertanyaan yang bersarang di dalam kepalanya.
Epilog
Srakk
Aciel mendongakan kepalanya terganggu kearah Brexton sambil menyingkirkan kertas-kertas yang baru saja dilemparkan Brexton di depannya.
“Ada apa? Kau tiba-tiba datang dan menggangguku yang sedang sibuk mengurus semua kekacauan ini?” tanya Aciel kesal. Ia baru saja akan berbicara lagi pada Brexton sebelum pria itu membungkamnya dengan serentetan kalimat bernada kasar yang sangat mengganggu untuk didengarkan.
“Jalang sialan! Berani-beraninya ia menipuku selama ini. Keparat! Eden ternyata bukan anakku, dia anak ****** itu bersama prianya yang entah siapa. Ia sengaja menjebakku dan mengatakan jika Eden adalah anakku, tapi hasil tes DNA justru menyatakan yang sebaliknya.”
Aciel mengambil selembar kertas yang baru saja dilemparkan Brexton. Ia lalu membacanya dengan teliti sambil mengernyitkan dahinya tak habis pikir pada kalimat-kalimat yang tertera di dalam sana.
“Eden bukan putrimu? Kenapa kau tiba-tiba melakukan tes DNA padanya?”
“Eden sakit. Dua minggu yang lalu Eden sakit dan harus mendapatkan transfusi darah. Dan ternyata golongan darahnya denganku tidak sama, lalu aku ingat jika ****** itu juga tidak memiliki golongan darah yang sama dengan Eden. Jadi aku memutuskan untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan dugaanku.”
“Dan ternyata Eden bukan putrimu? Hmm... luar biasa.” komentar Aciel sambil bertepuk tangan. Ia tak menyangka jika pria licik dan cerdas seperti Brexton dapat ditipu dengan mudah oleh seorang wanita yang memiliki kasta yang sama sekali tidak sebanding dengannya. Jika dipikir-pikir ini mungkin karma untuk seorang Brexton Morel yang licik.
“Ck, ****** itu pasti juga melahirkan seorang ******, sama seperti ibunya. Apa yang harus kulakukan setelah ini pada Eden? Aku menyayangi Eden, tapi aku tidak bisa bersikap sama di depannya seperti sebelum aku mengetahui fakta ini.”
“Lalu apa yang kau inginkan? Setidaknya Eden adalah calon penerusmu saat ini. Lebih baik kau mempertahankan dia.”
“Aku tidak yakin aku bisa melakukannya. Bahkan setelah seminggu ini aku mencoba menghabiskan waktu dengannya, aku justru merasa kesal setiap kali melihat wajahnya. Eden mengingatkanku pada ****** sialan itu.”
“Calm down dude, kau tidak akan mendapatkan apapun dengan emosimu yang meluap-luap seperti ini. Tetaplah menjadi ayahnya, ia tidak akan tumbuh seperti ibunya jika kau memberikan pendidikan yang tepat.”
“Kalau
begitu aku akan menitipkannya padamu.” ucap Brexton tiba-tiba. Aciel langsung mengernyitkan dahinya tidak mengerti kearah Brexton sambil menerka-nerka arti tatapan Brexton padanya.
“Aku memiliki banyak musuh, dan suatu saat mungkin aku akan mati karena musuh-musuhku. Jadi aku akan memberikan Eden padamu, didik dia agar menjadi wanita tangguh yang kuat. Ia harus belajar untuk menjadi wanita yang kuat sebelum ia mengambil alih seluruh aset-aset yang telah kusiapkan untuknya.”
“Kenapa harus aku?”
“Karena kau yang lebih pantas. Sifatmu dan sifatku tidak jauh berbeda, kau akan cocok bila menjadi ayah angkatnya dan memberikan pelajaran hidup yang keras untuknya.”
“Aku adalah pria brengsek yang tidak suka direpotkan oleh anak-anak. Kau didik saja anakmu sendiri!” balas Aciel ketus penuh penolakan. Namun Brexton langsung berseru bersungguh-sungguh d hadapannya sambil melipat kedua tangannya di
__ADS_1
depan dada.
“Kau menyukai ****** bukan? Suatu saat ia pasti juga akan tumbuh menjadi ****** juga, sama seperti ibunya. Dan saat itu tiba, kau bisa menggunakan tubuhnya sebagai imbalan dari kerja kerasmu selama ini.” seringai Brexton mengerikan dengan senyum licik yang terkembang di wajahnya.