Black Swan

Black Swan
Olivia Pregnant (One Hundred Twenty Seven)


__ADS_3

            Eden sedang menyeduh coklat panas dengan susu full cream yang terasa pas untuk menemani malamnya yang dingin saat Aciel masuk ke dalam dapur untuk menagih kopi yang dijanjikan istrinya yang cantik. Menyadari kehadiran Aciel di belakangnya, Eden langsung memberikan isyarat tanpa membalikan tubuhnya jika ia telah menyiapkan kopi hitam kesukaan pria itu di atas meja.


            “Aku heran.” ucap Eden memulai pembicaraan. Ia berbalik dengan gerakan hati-hati karena perutnya yang buncit sambil mengaduk-aduk pelan coklat panasnya yang masih mengepulkan uap tipis. “Apa kau tetap akan bisa tidur dengan nyenyak setelah minum kopi?” Itu adalah pertanyaan yang selama ini sering bersarang di benak Eden, namun baru kali ini ia bisa benar-benar menanyakannya pada Aciel.


            “Tentu, memangnya kenapa?” tanya Aciel setelah menyesap kopinya nikmat. “Ini tidak akan mempengaruhiku sama sekali. Aku sudah meminum kopi sejak berusia lima belas tahun.”


            Tepat seperti dugaan Eden jika tubuh Aciel menjadi kebal terhadap efek kafein yang terkandung di dalam kopi. Sekarang kopi itu hanya sekedar menjadi minuman wajib untuk Aciel, bukan minuman untuk menghilangkan kantuk seperti yang sering dilakukan oleh orang-orang pada umumnya.


            “Bagaimana perasaanmu hari ini?”


            “Tidak lebih buruk dan juga tidak lebih baik, semuanya terasa biasa saja menurutku.” jawab Eden acuh tak acuh. Setelah meminum coklat panasnya sedikit, Eden segera meletakan cangkir itu bersebelahan dengan cangkir kopi milik Aciel. Cangkir hadiah dari Jessica dengan tulisan Mom and Dad itu terasa begitu manis menurut Eden saat berdiri bersisian di atas meja.


            “Kau tidak merasa gugup menjelang hari persalinanmu?”


            “Tidak terlalu. Aku juga bingung.” jawab Eden sambil menyelipkan tangannya di sela-sela lengan Aciel dan tubuh berototnya. Terkadang ia merasa takut dengan pikirannya sendiri saat membayangkan Aciel memiliki wanita lain di luar sana. Bagaimanapun Aciel adalah pria kaya yang tampan dan sangat mempesona di usianya yang matang. Wanita manapun pasti tidak akan bisa menolak pesonanya, bahkan ajakannya jika pria itu ingin melakukan sesuatu yang lebih intim. Bisa dikatakan jika dasar dari pernikahan mereka adalah kepercayaan dan kasih sayang. Rasa saling percaya itu adalah satu-satunya hal yang membuat Eden dapat terus mempercayai Aciel. Dan kasih sayang yang dimiliki Aciel untuknya dan keluarganya membuat Aciel dapat bertahan menjadi pria berkomitmen di tengah badai yang kerap menerpanya di luar sana.


            “Ace, apa yang akan kau pikirkan jika kau melihat seorang wanita cantik dan seksi di luar sana?”


            “Mengaguminya, tentu saja. Dan jika aku memiliki kesempatan, mungkin aku bisa menyeretnya ke hotel terdekat.” Dari candaannya, Aciel berharap jika Eden akan bereaksi sama seperti biasanya, berteriak lalu mencubitnya dengan sangat sakit di pinggangnya. Tapi hingga lima detik berlalu dan Eden hanya diam saja sambil berpikir, hal itu tiba-tiba membuat Aciel khawatir dan segera menyingkirkan senyum menggodanya.


            “Apa yang kau pikirkan, sayang?”


            “Kau benar, Ace.” Eden tidak menanggapi kata-kata Aciel sebelumnya. Ia justru membuka percakapan baru yang lebih serius dengan Aciel. “Semua pria pasti akan berpikiran seperti itu jika melihat wanita cantik.”


            “Heey hey heey... Ada apa denganmu, sayang?”  tanya Aciel mulai panik saat mendengar kata-kata Eden yang begitu aneh. “Aku tidak seperti itu. Sungguh.”


            Eden melihat wajah sungguh-sungguh Aciel lekat-lekat, dan ia tiba-tiba mendapatkan sebuah penglihatan. Sesuatu menyeruak begitu saja ke dalam otaknya dan membuat Eden tersentak hingga limbung kearah Aciel.


            “Ed... kau baik-baik saja?” tanya Aciel khawatir. Pria itu terus memegang tubuh Eden kuat sambil menatap ekspresi wajah Eden yang berubah-ubah, sesekali terkejut, dan sesekali menunjukan wajah panik.


            “Ace, kurasa aku mendapatkan sedikit ingatanku. Saat pernikahan kita.” Eden berucap parau karena air mata yang tiba-tiba telah menyeruak di dalam pelupuk matanya. Sungguh ia tidak pernah mengira jika dalam keadaan seperti ini ia akan mendapatkan memorinya yang hilang. Dulu saat ia dilanda keragu-raguan yang


besar, ia sangat ingin mendapatkan ingatannya kembali agar ia dapat menjatuhkan kepercayaannya pada Aciel. Namun sekeras apapun ia mencoba, ingatan itu tak kunjung muncul, dan justru menguras tenaganya hingga ia lemas karena terlalu memaksakan diri untuk mengingat semuanya. Tapi sekarang, disaat ia telah pasrah pada Aciel, ingatan itu justru perlahan-lahan muncul seperti sebuah roll film yang sangat menakjubkan.


            “Aku ingat saat kau mengucapkan sumpah pernikahan di altar. Aku menangis saat itu karena terlalu terharu dengan sumpah setia yang kau ucapkan dengan suara lantang tanpa keraguan.”


            “Ohh Ya Tuhan, akhirnya.” desah Aciel penuh kelegaan dan langsung memeluk Eden erat. Walapun Aciel tidak bisa menjangkau tubuh Eden dengan lebih leluasa karena perut buncit Eden, namun Aciel tetap melakukannya dengan seluruh rasa syukur yang bisa ia panjatkan pada Tuhan. “Akhirnya hari dimana kau mengingat aku datang juga. Aku telah menantikannya sejak lama.”


            “Maafkan aku, Ace. Aku pernah menuduhmu menipuku.”


            Untuk yang kesekian kalinya Eden meminta maaf pada Aciel. Ia tahu jika kata maaf yang terucap dari bibirnya tidak akan pernah cukup untuk mengobati luka di hati Aciel karena ia pernah menuduh pria itu dengan sangat keji.


            “Kau tidak perlu meminta maaf padaku, sayang. Semua itu sebanding dengan kesalahan yang pernah kulakukan padamu dulu.”


            “Jadi kita telah impas karena telah menyakiti satu sama lain?” ucap Eden terkekeh. Ia semakin menenggelamkan dirinya ke dalam dekapan Aciel yang hangat. Sama sekali ia tidak ingin kehilangan Aciel sampai kapanpun, dan ia akan selalu berusaha untuk meletakan kepercayaannya pada Aciel. Hanya pada pria itu, dan ia juga telah bersumpah setia di hadapan Tuhan.

__ADS_1


            “Ace, apa seorang pria akan langsung tergoda pada seorang wanita cantik tanpa memikirkan kondisi wanita itu?”


            “Aku tidak mengerti maksudmu.” ucap Aciel dengan kerutan di dahinya.


            “Duduklah.” Eden mendorong tubuh Aciel lembut ke arah kursi kayu yang berada tepat di belakang tubuh Aciel. Setelah itu Eden menarik salah satu kursi terdekat dan ikut duduk di sebelah Aciel yang sejak tadi telah menatapnya dengan tatapan bingung.


            “Sebenarnya apa yang kau bicarakan sejak tadi?”


            “Sebuah hubungan. Apa pria akan mudah tergoda pada wanita cantik yang ditemuinya di pesta-pesta, lalu berambisi untuk menyeret mereka ke ranjang mereka tanpa memikirkan kondisi wanita itu yang mungkin saja telah berstatus sebagai istri pria lain.”


            “Beberapa ya, dan beberapa tidak. Kau tidak bisa memukul rata tuduhanmu jika semua pria itu brengsek. Semua itu tergantung dari seberapa besar pengendalian diri yang mereka miliki.”


            “Apa kau ingin mengatakan jika sekarang kau memiliki pengendalian diri yang baik?” tanya Eden menggoda.


            “Tentu saja. Aku sudah sangat ahli dalam mengendalikan diriku. Semakin lama kau akan merasa semakin berdosa jika kau sampai hilang kendali dan megkhianati pasanganmu.” beritahu Aciel dengan wajah bersungguh sungguh. Eden rasanya sangat lega mengetahui hal itu dari bibir Aciel karena sekarang pria itu telah benar-benar berkomitmen padanya dan juga keluarganya.


            “Baiklah, terimakasih untuk penjelasannya, tuan Lutherford. Aku akan mengajukan pertanyaan lagi.”


            Aciel terlihat mendengarkan dengan sungguh-sungguh untuk pertanyaan berikutnya yang akan dilontarkan Eden. Wanita itu sungguh membuatnya gemas malam ini.


            “Bagaimana jika seorang pria menyukai wanita yang telah menikah, lalu menidurinya?”


            “Itu haknya. Lagipula kau tidak boleh hanya menyalahkan pihak pria, bagaimanapun pihak wanita juga memiliki andil dalam hal itu.”


            “Yah... kau benar. Tapi bagaimana jika pihak wanita sedang mabuk saat itu, apakah kau tetap akan menyalahkan pihak wanita?”


            “Kenapa?” tanya Eden penasaran. Menurutnya hal-hal seperti itu tidak akan menjadi kesalahan pihak wanita karena ia sedang dalam pengaruh alkohol.


           “Karena ia mabuk dengan pria yang salah. Tentu saja seorang pria tidak akan menarik wanita yang sudah teller untuk didekati. Mereka tidak suka bebicara dengan wanita mabuk, karena itu sama saja berbicara dengan tembok. Jadi sudah jelas jika wanita itu pasti belum mabuk sebelum menjadi mabuk bersama orang yang salah.”


            Rasanya penjelasan yang diberikan Aciel sangat masuk akal. Wanita itu belum mabuk saat bersama pria yang bukan suaminya. Tapi kemudian ia mabuk saat sedang berbicara dengan pria yang salah. Lalu dari sudut mana ia harus membela Olivia? Wanita itu jelas-jelas salah karena tidak segera mencari Sian sebelum benar-benar mabuk bersama pria yang tidak dikenal.


            “Olivia hamil.” beritahu Eden tiba-tiba dengan suara pelan. Pertama-tama Eden ingin tahu bagaimana tanggapan Aciel saat tahu jika Olivia hamil. Apakah pria itu akan kegirangan sepertinya, atau justru mengernyitkan dahi seperti saat ini. Tunggu! Eden semakin mengamati raut wajah Aciel yang justru mengernyit alih-alih menunjukan wajah gembira seperti dirinya tadi.


            “Kenapa? Itu berita bagus, bukan?”


            “Seharusnya iya. Tapi setahuku Sian sedang menjalani pengobatan dan membuatnya tidak bisa menyentuh istrinya untuk beberapa lama.”


            “Kau tahu soal itu?”


            “Tentu saja. Sian memberitahuku beberapa bulan yang lalu.”


            “Dan kau tidak memberitahuku?” tanya Eden sebal. Jadi hanya dirinya yang tidak tahu apapun di sini. Hebat! Ia benar-benar merasa tersisihkan sekarang.


            “Untuk apa? Kurasa itu bukan sesuatu yang perlu dibahas. Aku sudah cukup banyak menaruh rasa kasihan pada Sian yang jelas-jelas sangat tersiksa karena penyakitnya itu. Aku tidak ingin menjadikan kesedihannya sebagai bahan pembicaraan denganmu.”

__ADS_1


            “Tapi aku istrimu.” dengus Eden kesal. Ia merasa perlu dilibatkan dalam masalah Sian karena bagaimanapun mereka adalah keluarga.


            “Justru karena kau adalah istriku, aku tidak ingin membebanimu dengan masalah-masalah yang tidak perlu kau pikirkan. Aku hanya ingin membahagiakanmu setiap waktu.” ucap Aciel dengan bumbu-bumbu manis agar dapat meluluhkan hati Eden yang sedang panas terbakar.


            Eden mendesah berat di depan Aciel. “Tapi tindakanmu itu membuatku menjadi orang yang terlihat bodoh di depan Olivia. Saat ia memberitahuku mengenai kehamilannya, ia justru menunjukan wajah muram. Padahal aku menanggapinya dengan penuh sukacita karena itu berita yang baik. Aku telah melukai Olivia.”


            “Mengapa ia tidak senang dengan kehamilannya? Apa karena itu membuatnya menyakiti Sian? Yahh... pasti sebelum ini mereka memaksakan diri dan membuat Sian kesakitan.”


            “Itu bukan bayi Sian.” beritahu Eden muram. “Bayi itu bukan milik Sian karena Sian tidak bisa menyentuh Olivia.”


            “Bagaimana mungkin? Apa Olivia berselingkuh di belakang Sian?”


            Eden bisa melihat percikan percikan kemarahan di mata Aciel karena pria itu meyakini sesuatu yang keliru. Dan sebelum semua itu menjadi sebuah kesalahpahaman, Eden harus segera meluruskannya sekarang juga.


            “Bukan, Olivia sangat mencintai Sian.”


            “Seharusnya memang begitu, setelah semua hal yang dilakukan Sian, tidak pantas jika Olivia sampai mengkhianati Sian. Lalu?”


            Eden mengerang kesal karena pria itu tiba-tiba memotong ceritanya. “Dengarkan dulu ceritaku.” ucap Eden galak. “Olivia melakukan kesalahan saat di Miami. Ia mabuk dengan pria yang salah, lalu semunya terjadi begitu saja.”


            “Jadi karena itu kau bertanya dengan berbelit-belit sejak tadi?”


            “Ya, karena aku bingung untuk memberitahunya padamu. Sekarang Olivia sedang kebingungan karena ia sedang mengandung bayi pria lain. Menurutmu apa yang harus Olivia lakukan?”


            “Mengakuinya di depan Sian.”


            “Bagaimana jika Sian marah?”


            “Itu sudah risikonya. Siapa pria brengsek yang telah memanfaatkan kepolosan Olivia?”


            “Kau berpikir jika Olivia dimanfaatkan?” tanya Eden berbinar-binar. Ia sangat bersyukur karena Aciel tidak menyalahkan Olivia sepenuhnya.


            “Sudah jelas jika Olivia hanya dimanfaatkan karena ia sangat polos. Sebelum bertemu Sian, ia tidak pernah berkencan dengan pria manapun. Tidak ada yang meliriknya ketika ia menjadi gadis buta.”


            “Kau benar. Pria itu sangat brengsek karena memanfaatkan Olivia. Dan jika Olivia sudah mengakuinya nanti, apa kita akan ikut campur dalam urusan mereka?”


            “Sebaiknya tidak.” jawab Aciel cepat. Rahangnya yang kokoh terlihat mengeras seketika, pertanda jika ia sangat menentang pemikiran Eden. “Itu masalah rumah tangga mereka. Kita tidak perlu ikut campur. Tapi kita bisa membantu mereka jika dibutuhkan. Jadi siapa pria brengsek itu? Apa Olivia memberitahumu?”


            “Tunggu.” Eden mencoba mengingat-ingat nama pria yang disebutkan Olivia siang tadi saat menceritakan masalahnya. “Scout Voyage. Kurasa itu. Apa kau kenal pria itu? Karena jika ia berada di pesta yang kau adakan di Miami, sudah pasti pria itu ada hubungannya dengan Ford Company.”


            “Sialan!” maki Aciel tiba-tiba hingga membuat Eden terjengkang kaget.


            “Kenapa mengumpat seperti itu?” gerutu Eden kesal. Kaki-kakinya dengan susah payah menyeret kursi yang dudukinya agar kembali mendekat kearah Aciel.


            “Scout Voyage, dia artsitek yang membuat desain untuk pabrik onderdil tambahan. Dan sekarang pria brengsek itu sedang berada di rumah Sian.”

__ADS_1


            Seakan ada kawat tipis yang menghubungkan mereka, kini Eden dapat merasakan setiap ketegangan yang dirasakan oleh Aciel. Bagaimanapun pria itu memiliki hubungan yang sangat erat pada perusahaan Aciel. Dan saat Sian tahu nanti, itu akan menjadi pukulan yang sangat menyakitkan untuk Sian.


__ADS_2