
Pria itu bernama Smith. Seorang pria bertubuh tegap dengan kulit kecoklatan hasil dari menunggang kuda setiap waktu di bawah sinar matahari tanpa pelindung. Wajahnya lonjong dibawah topi koboi yang tidak bisa menutupi rambut panjangnya yang berwarna coklat keemasan. Pakaiannya bukan pakaian yang bagus. Bisa dikatakan Smith tidak pernah memiliki pakaian yang bagus untuk mengurus kuda-kudanya. Ia lebih suka menggunakan celana jeans kumal yang telah penuh dengan tambalan. Lalu pakaiannya, ia hanya menggunakan kaus kusam dengan rompi hitam yang warnanya telah berubah keabu-abuan karena pudar.
“Suatu kehormatan untukku karena bisa menyambut para orang kaya dari kota seperti kalian.” Smith terlihat tidak ingin menyinggung dengan kata-katanya, ia hanya ingin melucu diantara wajah serius empat pria di depannya dan satu orang wanita hamil. Ah tentu saja dengan anak-anak mereka yang ribut, yang sudah tidak sabar untuk menunggang kuda.
“Halo Smith, kami juga senang dapat bertemu denganmu.”
“Oh lady, terimakasih. Apa keempat pria ini adalah...."
“Bukan!” jawab Eden spontan dengan sedikit geraman. Bukannya ia bodoh dan tidak bisa mengartikan tatapan menelisik Smith yang terheran-heran saat melihatnya sebagai satu-satunya wanita di tengah empat pria dengan anak di genggaman mereka masing-masing. Pria itu jelas berpikir jika ia adalah istri dari keempat pria itu karena hanya dirinyalah satu-satunya wanita dewasa yang terlihat di sana.
“Ini suamiku.” ucap Eden sambil menarik lengan Aciel posesif. Dan pria itu otomatis tertawa melihat sikap Eden yang terus saja terlihat membara seperti obor pasca kehamilannya yang ke tiga ini.
“Oh, maafkan aku. Lalu dimana lady-lady yang lain?”
“Bergosip di rumah.”
“Smith, apa kau bisa menyewakan kudamu pada kami?” tanya Sian menginterupsi. Jika ia membiarkan pria koboi itu terus berbicara dengan Eden, bisa-bisa anak-anak mereka akan semakin berisik karena sudah tidak sabar untuk menunggang kuda.
“Tentu. Peternakan ini memiliki sepuluh kuda, kalian bisa menyewanya untuk berkeliling area ini.”
“Asyik! Ayo kita berkuda, dad!” teriak Louise antusias. Sejak tadi hanya anak itu yang menunjukan minat berlebih terhadap berkuda. Sedangkan yang lainnya hanya ikut-ikutan sikap antusias Louise. Lihatlah kelakuan Hyena, ia lebih tertarik untuk mengganggu kuda-kuda itu hingga mengeluarkan suara meringkik yang nyaring. Cepat-cepat Smith menarik Hyena menjauh dari kudanya karena anak itu bisa terkena tendangan kuda karena sikap usilnya.
“Awasi terus anakmu, Nath. Bisa-bisa tubuh kecilnya terinjak kuda.” peringat Aciel saat ia sedang memilih kuda yang bagus untuk berkuda. Adrenalinnya seperti terpompa sempurna saat melihat jajaran kuda milik Smith yang terlihat begitu gagah dan mengagumkan. Ini semua seperti dejavu untuknya. Pria dengan sejuta kenakalan dan pengalaman yang tak bisa dibilang biasa. Terkadang jika ia mengingat kembali masa lalunya, ia merasa benar-benar sosok pria yang brengsek dulu. Bahkan ia juga tidak takut mati. Berbeda dengan sekarang, ia mengaku takut akan banyak hal setelah memiliki Eden dan keluarga kecilnya.
“Bagaimana dengan Ciara?”
“Berkuda denganmu.” balas Aciel sambil melihat satu persatu kuda yang berjajar di depannya. Sesekali kuda itu mengeluarkan suara ringkikan saat ia menggunakan tangannya untuk membela kepala mereka beberapa kali.
“Dengan perut sebesar ini? Oh, kau bercanda, Ace.” geram Eden kesal saat Aciel tidak memikirkan bagaimana keadaannya yang terlihat sangat kepayahan.
“Ciara bisa menunggang kuda poni bersama Smith. Aku akan pergi bersama Louise.”
__ADS_1
“Apa kau yakin?”
“Smith, bisa kau temani putriku menunggang kuda?” tanya Aciel pada Smith yang entah bagaimana telah berada di tengah-tengah mereka.
“Tentu saja. Kuda poni sangat cocok untuk anak perempuan. Ayo manis, kita berkuda bersama gadis manis.” Smith langsung berlalu begitu saja ke dalam kandang kuda poninya yang berada di barisan paling ujung.
“Kau ikut paman Smith, oke?” ucap Eden sambil membungkuk kearah putrinya yang gugup. “Tidak apa-apa.” Eden mengelus puncak kepala Ciara lembut untuk menenangkan gadis kecilnya.
“Apa kudanya baik, mom?”
“Tentu. Dia tidak akan menyakitimu.”
Akhirnya Ciara luluh juga dan segera berjalan menghampiri Smith yang telah siap dengan kudanya. Sementara itu Aciel masih sibuk memilah-milah kuda mana yang cocok dengannya, padahal Louise seja tadi sudah ribut di belakangnya dengan wajah konyol.
“Daddy kapan? Hyena dan Marc sudah pergi menunggang kuda.” teriak bocah itu kesal.
“Sebentar, kiddo. Daddy harus memilih kuda yang benar-benar bagus untuk kita.”
“Kuda yang ini kurasa bagus.”
Aciel berhenti pada kuda berwarna hitam legam dengan surai panjang yang begitu gagah. Kaki-kakinya yang kuat menghentak di atas lantai kandang yang terkotori oleh ceceran pakan kuda. Lalu punggungnya yang tegap terasa begitu kokoh di tangan Aciel saat pria itu mengusapnya sekali. Dengan penuh keyakinan, akhirnya Aciel memilih kuda itu sebagai kuda yang akan ditungganginya untuk berkuda.
“Kau bisa mengeluarkannya dari kandang?” tanya Eden khawatir. Dilihatnya Smith masih sibuk menyiapkan kuda untuk Ciara dan Sian. Sedangkan suaminya dengan santainya justru membuka pagar kandang itu dan menarik kudanya sendiri tanpa bantuan Smith.
“Aku bisa sayang, jangan terlalu khawatir. Lebih baik kau mencari tempat untuk beristirahat. Aku tahu kau lelah.” bisik Aciel lembut sambil mengelus perut buncit Eden beberapa kali. Dan seperti terhipnotis, Eden langsung mengangguk begitu saja tanpa kata dengan dada berdebar yang terasa aneh. Ia akui Aciel bukanlah pria yang romantis, tapi jika pria itu sudah mulai mengeluarkan sisi lembutnya, Eden tidak akan pernah bisa mengelak setiap pesona yang dipancarkan oleh Aciel. Ia pasti akan berubah seperti anak remaja yang sedang kasmaran dengan wajah merah yang tersipu-sipu.
“Dahh mommy.”
“Hati-hati, baby.” balas Eden sambil melambai kearah Louise. Anak dan ayah itu terlihat kompak untuk mendadani kuda mereka dengan peralatan berkuda yang telah disiapkan oleh Smith. Tanpa menunggu Smith, Aciel langsung memasang sendiri pelana kudanya dan sanggurdi, dan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk menunggang kuda hingga kuda itu siap dan aman untuk dinaiki.
“Ayo kiddo, kita berkuda!”
__ADS_1
-00-
Sebagai satu-satunya wanita dewasa di sana, Eden hanya duduk dengan bosan di bawah pohon yang paling besar sambil mengamati keempat pria-pria itu berkuda. Sejak tadi ia mendengar suara teriakan Louise yang girang dan suara ketakutan Marc yang begitu kontras dengan milik anaknya. Kemampuan Aciel dalam berkuda memang tidak diragukan lagi. Sejak tadi ia melihat hanya Aciel yang bisa berkuda dengan tenang, sedangkan Sian, Kriss, dan juga Nathan, mereka hanya sibuk berteriak-teriak jika kuda yang mereka naiki mulai menunjukan gelagat aneh bagi mereka.
“Sialan! Dia berjalan kearah kupu-kupu terbang!” maki Nathan konyol saat ia tidak bisa mengarahkan kudanya ke jalur yang tepat. Justru tali kekang yang ditarik Nathan membuat kuda itu berlari semakin kencang kearah kawanan kupa-kupu yang sedang terbang bebas di sekitar peternakan. Tentu saja wajah Nathan menjadi pucat pasi, namun ia tidak bisa berteriak meminta tolong karena terlalu gengsi dengan rekan-rekan prianya.
“Kuda Nathan sepertinya bermasalah.” tunjuk Sian yang sadar pada keanehan yang ditunjukan oleh Nathan.
“Mau kemana dia?” gumam Aciel yang juga ikut menatap kepergian kuda Nathan yang justru hampir masuk kearah hutan.
“Sebaiknya kau kejar dia. Kurasa dia tidak bisa menunggang kuda. Dan di sini hanya kau dan
Smith yang bisa menunggang kuda dengan benar, Ace.” perintah Sian cepat ketika ia mulai panik melihat laju kuda Nathan yang semakin jauh. Acielpun dengan cekatan segera menyentakan tali kekang kudanya keras dan membuat kuda itu berlari mengejar kuda Nathan sebelum pria itu tersesat di hutan.
Sementara itu Louise yang berada di depan ayahnya, terlihat begitu gembira dengan laju kudanya yang semakin kencang. Tadi ketika mereka masih berada di dalam arena berkuda, Louise merasa kudanya hanya berjalan pelan kesana kemari dan tidak benar-benar berlari seperti apa yang sering ia lihat di televisi. Dan sekarang kudanya telah berlari kencang membelah jalanan terjal di dekat hutan yang menyebabkan rambut coklatnya yang panjang bergerak-gerak tak karuan tertiup angin.
“Lebih kencang dad!” teriak Louise girang. Pria itu mulai melihat kuda yang ditunggangi Hyne di depanya. Seketika ia menjadi lebih bersemangat dan terus berteriak-teriak menyemangati ayahnya agar memecut sang kuda untuk berlari lebih kencang, mendahului kuda coklat yang ditunggangi Nathan.
“Ace! Bagaimana cara menghentikan kuda ini? Dia terus saja berlari mengejar kupu-kupu sialan itu.”
Segera setelah Nathan sadar jika kuda Aciel berlari di belakangnya, Nathan segera berteriak sekeras yang ia bisa untuk meminta tolong. Degup jantungnya kini terasa memukul-mukul rongga dadanya dengan keras karena ia gugup. Ia belum pernah benar-benar mengendarai kuda seperti ini. Biasanya ia hanya sekedar berjalan-jalan dengan kuda jinak di sekitar peternakan.
“Tarik tali kekangnya perlahan, jangan membuatnya terkejut.” Aciel berucap tenang di sebelah Nathan begitu kudanya dapat mensejajarkan laju kuda milik Nathan. Menurutnya ini tidak terlalu berbahaya jika Nathan mampu menghandlenya dengan benar. Sejauh ini kuda yang ditunggangi oleh Nathan bukan dari jenis yang agresif. Dulu ia pernah hampir mati terinjak kuda sehari sebelum pacuan diadakan karena ia menunggangi kuda baru yang agresif. Saat itu ia terlalu percaya diri memang, mengabaikan peringatan dari orang-orang yang sudah memperingatinya sebelum melompat naik di atas kuda bersurai putih itu. Dan setelah ia menyentak tali kekangnya, kuda itu langsung melompat tak beraturan karena tidak siap dengan kehadiran manusia baru di atas punggungnya. Beberapa kali Aciel melambung ke udara karena kuda itu sulit di tenangkan. Ia sudah seperti anak kecil yang sedang dilambung-lambungkan ayahnya ke udara, namun kala itu ia tidak terjamin akan selamat seperti apa yang terjamin pada anak-anak saat berada di dalam dekapannya. Jadi singkat cerita kuda itu terus bergerak-gerak brutal mengitari arena pacuan yang digunakan untuk latihan sore itu. Dan ia tetap dilambung-lambungkan di atas punggung kuda itu hingga menderita pusing hebat dan mual-mual. Lalu puncaknya saat ada seorang petugas yang mencoba menjinakan kuda itu dengan menutupkan kain di depan wajah sang kuda, ia langsung saja melepaskan tali kekangnya dan memilih untuk terpelanting di atas tanah coklat yang berdebu. Ia nyaris saja diinjak oleh si putih agresif yang saat itu menghentakan kaki depannya tepat satu meter di sisi kanannya. Andai saja ia terguling ke arah yang salah, sudah bisa dipastikan ia akan mati karena tulang-tulangnya remuk terinjak kaki kuda.
“Ace! Aku berhasil.” teriak Nathan bangga. Sekarang pria itu sudah bisa mengendalikan kudanya dengan lebih santai.
“Daddy, kenapa kudanya tidak berlari lagi?” protes Hyena cemberut. Ayahnya langsung melayangkan tatapan horor kearah Hyena karena bocah itu belum tahu bahaya apa yang hampir membunuh mereka.
“Santai, dude. Anak-anak memang seperti itu.”
“Ck, aku bahkan tidak mengerti kenapa ia memiliki sikap bar-bar seperti ini. Pasti karena Laila.” balas Nathan dengan nada mencemooh. Aciel hanya tertawa menanggapi ucapan Nathan. Pria itu dan istrinya kadang memang lucu. Mereka sering sekali melemparkan kesalahan satu sama lain tanpa ada yang mau mengalah. Padahal jika ia mendengar sekilas cerita Laila kemarin, jelas yang memiliki sikap bar-bar adalah Nathan.
__ADS_1
“Ayo kita kembali. Mereka pasti mencemaskanmu.”