Black Swan

Black Swan
Engagement (Fourty Four)


__ADS_3

Malam ini suasana di rumah Aciel terlihat lebih hidup dan ramai. Secara khusus Aciel mengundang Jessica dan tunangannya, serta Sian untuk makan malam di rumahnya. Dan kali ini suasana makan malam di rumahnya menjadi lebih spesial karena di lingkaran orang dewasa itu terdapat satu orang gadis kecil yang sedang menikmati daging steaknya dengan lahap.


            “Ya ampun.. dia mengotori gaun putihnya dengan saus barbeque!” seru Jessica heboh. Ia yang seorang desainer selalu memandang pakaian adalah segalanya. Dan melihat pakaian Ciara yang telah dipenuhi oleh saus steak membuat Jessica ngeri. Ia dengan gerakan refleks melempar serbet putihnya kearah Ciara yang tepat duduk


di seberangnya, namun sayang, serbet itu justru hanya mendarat di tengah-tengah meja makan yang luas. Eden yang melihat itu langsung mengambil serbet yang dilemparkan Jessica sambil berucap lembut pada putrinya, “Sayang, makan pelan-pelan. Paman Sian tidak akan merebutnya darimu.” goda Eden sambil mengelap sisa-sisa saus di mulut Ciara. Ia sendiri merasa menyesal telah memakaikan Ciara gaun putih itu karena gaun itu pasti tidak akan dipakai lagi oleh Ciara.


            “Ya ampun... apa kau tidak pernah memberinya makan Ed? Selera makannya sepertimu.” komentar Sian jahil. Eden hanya tersenyum kecil menanggapi seruan Sian dan kembali melanjutkan makannya. Ia sebenarnya cukup canggung berada di meja ini bersama Jessica dan Aciel. Dua orang itu entah mengapa membuatnya tidak bisa tidak membuatnya gugup seperti ini. Apalagi sejak tadi Aciel terus mengawasinya dengan mata coklatnya yang sangat tajam itu, mata yang selalu menjadi bayang-bayang Eden kemanapun ia pergi.


            “Bisa kau ambilkan aku salad.”


            Aciel tiba-tiba menyodorkan piring kosongnya kearah Eden dan meminta Eden untuk mengambilkan salad yang letaknya memang cukup dekat dari posisi Eden. Hal itu mau tidak mau membuat Eden semakin canggung dan juga kikuk. Rasanya ia seperti sedang mengambilkan makanan untuk suaminya.


            “Daddy... daddy... Ciara mau itu.”


            Ciara tiba-tiba berteriak, menarik beberapa kali ujung kemeja Aciel sambil menunjuk sebuah cup cake yang letaknya berada di tengah meja. Eden yang merasa cup cake itu cukup dekat dengan posisinya berinisiatif untuk mengambilnya untuk Ciara. Dan saat ia mengulurkan tangannya untuk mengambil cup cake itu tanpa sengaja


ujung jarinya bersentuhan dengan Aciel. Ternyata pria itu juga sedang menggapai cup cake yang sama untuk Ciara. Seketika tubuh Eden seperti tersengat ribuat volt listrik yang membuatnya langsung gemetar. Tubuhnya hanya kaku di tempat dengan tangan yang masih terjulur di atas piring cup cake, meskipun Aciel telah menyingkirkan tangannya sejak tadi.


            “Apa kau juga menginginkan cup cake?” goda Sian heboh. Ia tahu saat ini Eden sedang gugup karena sentuhan Aciel di tangannya. Dan hal itu membuat Sian tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda Eden.


            “Jangan menggoda Eden, kasihan dia Sian.” Timpal Kris tiba-tiba dengan senyum anehnya. Jessica yang melihat itu langsung melirik Aciel yang sejak tadi tampak tenang dengan segala keributan yang diciptakan Sian dan sesekali Kris. Sayangnya ia harus menahan kecewa karena pria itu lagi-lagi berhasil menyembunyikan emosinya dibalik wajah datarnya.


           “Ahh... daddy, baju daddy kotor.”


            Ciara berseru takut sambil menunjuk kearah lengan kemeja Aciel yang terkena cipratan saus. Semua orang yang berada di sana langsung menatap Aciel dan Ciara bergantian dengan tatapan intens yang cukup mengkhawatirkan. Sedangkan Eden, ia sendiri mulai terlihat was-was dan akan benar-benar maju untuk mengamankan Ciara jika Aciel berani membentak anaknya. Tapi di luar dugaan, Aciel ternyata tidak melakukan apapun. Ia hanya tersenyum kecil sambil mengelus kepala Ciara pelan.


            “Tidak apa-apa princess, ini tidak akan terlalu terlihat di baju daddy yang hitam. Lanjutkan makanmu, hmm?”


            Sontak semua orang langsung saling menatap satu sama lain dengan raut terkejut yang tak bisa mereka sembunyikan sedikitpun. Untuk pertama kalinya seorang Aciel tidak melakukan kekerasan pada seseorang yang telah merugikannya. Tapi untuk seorang Ciara Lutherford, tentu hal itu adalah pengecualian.


            “Sayang, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?”


            Eden memberi kode pada Ciara untuk bertanggungjawab pada perbuatannya. Dan gadis kecil itu seketika langsung turun dari kursinya untuk mengambil selembar tisu yang berada di meja kecil di sebelah meja makan. Lalu dengan gerakan yang sedikit kaku, Ciara membersihkan kemeja Aciel dari cipratan saus barbeque yang dimakannya.


            “Sudah. Baju daddy sudah bersih.” seru Ciara girang sambil berjalan menuju kursinya. Orang-orang yang berada di sana langsung dibuat terpana dengan cara didik Eden dan juga sikap bertanggungjawab Ciara. Mereka tidak menyangka jika Ciara akan memiliki sifat yang sangat bertanggungjawab, yang jarang dimiliki oleh kebanyakan anak pada umumnya. Dan saat melihat itu, Aciel seperti merasa tertohok karena putrinya sendiri saja bisa melakukan sesuatu yang tak pernah bisa ia lakukan selama ini. Bertanggungjawab, sesuatu yang terlihat mudah, namun sebenarnya sangat berat untuk dilakukan. Apalagi untuk pria brengsek sepertinya yang selalu mengandalkan kekayaannya untuk menutupi segala kesalahannya.


            “Terimakasih sayang, sekarang baju daddy sudah bersih.” ucap Aciel kaku sambil mengecup pipi chuby Ciara pelan.


            Eden yang melihat itu merasakan dadanya bergemuruh, penuh emosi yang meluap-luap hingga ia merasa ingin menangis. Ini adalah interaksi antara ayah dan anak yang begitu mengharukan untuknya. Entah karena apa. Mungkin karena ia hampir tidak pernah melihat Aciel selembut itu pada seseorang. Bahkan saat bersamanya, Aciel


 selalu menunjukan sikap dingin penuh intimidasi yang menjengkelkan.


            “Putrimu sangat manis. Kau mengajarinya dengan sangat baik Ed.” puji Sian tulus. Eden hanya tersenyum kecil menanggapi Sian sambil menundukan kepalanya untuk menyembunyikan berbagai macam kebanggaan dan rasa harunya untuk Ciara.


            “Kau beruntung Ace memiliki Eden dan Ciara. Cepat nikahi Eden, jika kau tidak ingin orang lain mengambilnya lagi.”

__ADS_1


            “Dia tidak mau.


            Tanpa diduga Aciel kali ini menanggapi celotehan Sian dan membuat Eden tersedak seketika. Bahkan pria itu mengucapkannya tanpa ekspresi dan benar-benar terlihat spontan hingga berhasil membuat Sian mendelik kearahnya.


            “Minumlah, jangan terlalu gugup.” ucap Jessica kalem. Kali ini mereka sudah lebih bersahabat dan tidak saling memaki seperti dulu. Meskipun awalnya Eden sedikit menunjukan sikap sinisnya pada Jessica, namun pada akhirnya ia memilih untuk melupakan semuaya dan menganggap Jessica seperti seorang teman.


            “Terimakasih. Ada makanan yang tiba-tiba tertelan.” ucap Eden terdengar konyol.di Rasanya ia ingin menyikut pinggang Aciel keras jika saja pria itu duduk di sebelahnya, tapi sayangnya pria itu memilih untuk duduk di sebelah kiri Ciara sambil sesekali mengamati putri kecilnya yang sibuk memakan makanannya sendiri.


            “Jadi kau tidak mau Ed, kenapa? Apa kau sudah memiliki calon untuk ayah Ciara?”


            “Sian! Kita sedang makan, jangan membicarakan hal-hal aneh seperti itu.”


            “Jika kau tidak memiliki calon kenapa kau tidak menerima Aciel? Pria brengsek itu sangat mencintaimu.”


            “Sian, jangan berkata kasar di depan anakku.” Peringat Aciel galak. Seketika Sian langsung membungkam bibirnya rapat sambil berbisik maaf pada Eden.


            “Aku pasti akan menikahi Eden suatu saat nanti. Kupastikan kali ini tidak akan ada hama pengganggu lagi di dalam hidupnya.” ucap Aciel penuh tekad dengan mimik bersungguh-sungguh yang seketika membuat Eden was-was.


-00-


            “Di sini dingin, kau bisa sakit.”


            Eden merasakan sebuah selimut tersampir di pundaknya dan disusul dengan kemunculan Aciel di sisinya. Setelah makan malam yang cukup ribut dan memalukan, akhirnya mereka semua pulang dan meninggalkan keheningan diantara Aciel dan Eden yang masih canggung. Sebenarnya hanya Eden yang merasakannya, Aciel terlihat seperti biasa dengan wajah datarnya yang tak terbaca.


            “Kau tidak tidur?”


            “Kalau begitu pergilah, kembalilah pada pekerjaan-pekerjaanmu.” Eden berseru sinis pada Aciel sambil tangannya bergerak merapatkan selimut yang baru saja disampirkan Aciel di pundaknya. Sedikit banyak ia tersentuh dengan sikap Aciel yang masih memperhatikan hal-hal kecil seperti ini.


            “Aku sedang tidak ingin mengerjakan apapun. Ciara, bagaimana perkembangannya selama ini?”


            Eden menoleh singkat kearah Aciel, lalu ia kembali mengarahkan pandangannya pada pemandangan malam di atas balkon kamarnya.


            “Baik-baik saja. Ciara adalah anak yang cerdas dan penuh ketulusan. Kuharap kau tidak memberikan pengaruh buruk pada Ciara.”


            “Aku sedang mencobanya. Kau belum menceritakan padaku bagaimana kehidupanmu selama ini.”


            “Apa itu penting?” Lagi-lagi Eden berseru sinis tanpa menatap kearah Aciel sedikitpun. Pandangan mata Eden hanya lurus ke depan dengan tubuh tegang yang terlihat kaku. Entah kenapa Eden belum bisa sepenuhnya bersikap santai jika berada terlalu dekat dengan Aciel.


            “Penting, dan aku ingin mengetahuinya.” jawab Aciel tegas. Eden tampak mendesah pelan, lalu ia mulai menceritakan bagaimana kehidupannya selama ini di Perancis.


            “Aku hidup seperti biasa, aku memulai karirku sebagai seorang desainer karena aku mulai bosan dengan kehidupan modelling. Aku ingin mencoba sesuatu yang baru.” tambah Eden.


            “Sejak kapan kau tinggal di Perancis?”


            “Sejak Ciara belum genap satu tahun. Setelah Zyan meninggal, aku memutuskan unuk keluar dari rumah orang tua Zyan. Meskipun sebenarnya berat, karena aku telah menganggap mereka seperti orang tuaku sendiri.” ucap Eden sedih. Ia masih ingat bagaimana sikap orangtua Zyan yang berubah segera setelah Zyan meninggal. Hal itu tentu menjadi pertimbangan utama Eden untuk pergi meninggalkan rumah orangtua Zyan.

__ADS_1


            “Apa yang terjadi pada Zyan?”


            “Entahlah. Polisi hanya mengatakan jika ada sebuah truk yang melaju kencang dan menabrak badan depan mobil yang digunakan Zyan. Lalu mobil Zyan berguling-guling beberapa kali di atas aspal hingga terbalik. Kau tahu, itu adalah berita yang sangat mengejutkan, sekaligus menyedihkan. Saat itu aku tak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri atas kematiannya. Aku merasa menjadi pembawa sial di keluarga Zyan, karena selain membuat anak mereka menikahiku, mereka juga harus kehilangan Zyan dengan cara yang tragis.” kenang Eden sedih. Hatinya kembali sesak setiap ia mengingat kematian Zyan. Pria itu terlalu tulus mencintainya dan menganggapnya sebagai wanita yang berharga.


            “Itu sudah menjadi takdirnya, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Apa Ciara tahu tentang Zyan?”


            “Ciara belum terlalu mengenal Zyan sebagai ayahnya, usianya masih sangat kecil saat itu.”


            Aciel mengangguk kecil dan sedikit menyugar rambutnya ke samping. Ia merasa bingung dengan sikapnya sendiri. Ia ingin mendekati Eden dengan cara yang lembut, tapi ia merasa itu tidak bekerja untuknya. Semua nasihat yang diberikan Sian hanya akan menjadi sebuah pelajaran yang tak berguna tanpa hasil yang berarti.


            “Aku ingin menjadi ayahnya.”


            “Bukankah itu sudah?”


            Aciel tanpa sadar mengepalkan tangannya gusar dibalik saku celana bahannya tampak kusut. Sampai kapan ia harus bersabar menghadapi sikap defensif Eden yang menganggapnya sebagai musuh. Ia lalu mencoba sekali lagi bersikap lunak pada Eden dengan menyuarakan niat hatinya yang begitu tulus untuk wanita itu. “Ayo kita menikah.”


            “Hahh... Apa kau tidak memiliki kata-kata lain selain itu?” tanya Eden jengah. Ia bosan mendengar kata-kata itu dari Aciel. Dan yang lebih memuakan, ia harus melihat wajah datar Aciel yang seakan-akan tanpa ketulusan di depannya. Bagaimana mungkin pria itu memintanya untuk menikah namun dengan mimik wajah yang sama sekali tidak terdengar meyakinkan.


            “Besok kita menikah.” ucap Aciel tak terduga. Eden semakin mendesah malas di samping Aciel sambil menatap pria itu penuh permusuhan.


            “Menikah itu mudah, asal kau tahu. Tapi bukan itu inti dari pernikahan, semua proses di dalamnya yang membuat pernikahan menjadi lebih berarti. Bahkan kehidupan setelah pernikahan yang akan lebih sulit dari semua prosesnya, jadi jangan terlalu gegabah jika ingin memutuskan sebuah pernikahan.”


            “Aku tidak tahu apa yang membuatmu sangat sulit menerimaku.” ucap Aciel dengan mimik wajah datar, namun jika dilihat lebih jauh, akan terlihat begitu banyak kefrustrasian dibalik mata coklatnya yang sendu.


            “Tentu saja semua hal yang berkaitan denganmu. Apa kau sedang mencoba menjadi bodoh? Sudahlah Ace, lupakan saja angan-angan omong kosongmu itu. Hiduplah seperti Aciel yang biasanya, yang angkuh dan tanpa komitmen. Lalu lepaskan aku. Aku tidak bisa hidup seperti ini terus menerus. Suatu saat Ciara akan dewasa dan membuat semuanya menjadi rumit. Jadi sebelum semua itu terjadi, mari kita selesaikan ini.”


            “Apa kau sedang memaksaku untuk berpisah dari putriku sendiri? Kau egois.” desis Aciel penuh emosi. Eden tiba-tiba merasa bingung dengan pria di sampingnya karena seketika emosi Aciel menjadi meledak-ledak seperti ini. Pria itu bahkan dengan terang-terangan melayangkan tinju pada pagar pembatas balkon hingga membuat Eden tertegun seketika. Namun Eden tak membiarkan hal itu berlarut-larut terlalu lama, ia langsung meluruskan kesalahpahaman ini pada Aciel agar pria itu tidak mengira jika ia akan menjauhkan Ciara dari ayahnya sendiri.


            “Kau tetap akan menjadi ayahnya sampai kapanpun, tapi biarkan aku pergi. Bukankah kau sudah mendapatkan bayaran untuk tiga kantong darahmu? Aku sudah melayanimu beberapa hari yang lalu.” ucap Eden pelan sambil memalingkan wajahnya kearah lain. Ia sendiri yang mendoktrin dirinya sebagai budak **** milik Aciel, dan ia sendiri juga yang akan merasa tersinggung dengan ucapannya.


            “Kalau begitu tubuhmu terlalu murah untuk tiga kantong darahku.”


            “Kalau begitu kau bisa menyentuhku hingga kau puas. Lakukan sekarang! Lakukan sekarang jika kau memang menginginkannya!” tantang Eden penuh emosi. Seketika Aciel menghimpit tubuh Eden dantara tubuhnya dan pagar pembatas balkon hingga Eden merasa sesak karena sulit bernafas.


            “Bukan ini yang kuinginkan darimu. Meskipun tubuhmu menggiurkan, tapi aku bukan pria picik yang hanya memanfaatkan tubuh wanita. Setidaknya sekali dalam hidupku, aku ingin melakukan sesuatu yang benar. Aku ingin memperlakukan wanita dengan lebih baik, dan menjadi ayah yang layak untuk putriku. Asal kau tahu Eden, aku hidup dengan rasa bersalah yang begitu besar karena telah merusakmu. Memang ayahmu mengijinkanku untuk melakukan apapun padamu agar kau menjadi wanita yang kuat. Tapi pada akhirnya aku sadar jika aku telah melebihi batas. Dan aku juga telah melibatkan nafsuku sendiri untuk mendidikmu. Itu adalah sesuatu yang


salah, yang seharusnya tidak kulakukan. Lihatlah Ciara, kau seharusnya tidak menjadi ibu yang seegois ini! Semua orang memiliki masa lalu, tapi kau tidak hanya hidup dengan masa lalu. Ada banyak kebahagiaan di masa depan yang perlu kau lihat, dan masa depan Ciara tergantung padamu.”


            Eden membisu di tempat setelah Aciel menamparnya dengan sebuah kalimat panjang penuh emosi yang baru kali ini dilontarkan Aciel. Apakah pria itu selama ini juga menderita dengan penyesalannya?


            “Ya aku memang egois, bahkan kejam. Aku yang membuatmu memaki-maki ayahmu sendiri, aku yang meracuni Jessica, dan aku telah menipu banyak orang untuk melakukan balas dendam padamu. Asal kau tahu, aku juga tidak ingin seperti ini. Aku ingi kehidupan normalku kembali, dan aku hanya ingin menjauhi berbagai masalah denganmu. Aku lelah Ace! Sangat lelah!”


            Aciel mendorong tubuh Eden begitu saja hingga membentur dinding pembatas balkon setelah wanita itu juga mengeluarkan emosi yang sama dengannya. Mungkin ini memang bukan saatnya untuk membicarakan masalah mereka yang belum selesai di masa lalu. Kali ini ia akan mundur, memberikan ruang untuk Eden dan membiarkan wanita itu berpikir dengan akal sehatnya.


            “Pikirkanlah semua baik-baik Eden. Kau ingin kelembutan, atau kekerasan. Kau pasti tahu jika aku tidak pernah menerima penolakan, jadi apapun yang terjadi kau suatu saat akan tetap menikah denganku. Hanya saja kasar atau lembut, itu tergantung padamu.”

__ADS_1


            Aciel meninggalkan Eden begitu saja dalam kebisuan yang mencekam. Eden merasa seluruh pikirannya kosong, dan ia tidak bisa memikirkan apapun setelah Aciel mengancamnya. Pada akhirnya Aciel pasti akan memaksanya, tapi kali ini ia cukup puas karena akhirnya ia bisa meneriakan sendiri semua kesalahanya di depan Aciel, dan membuat pria itu tahu jika selama ini ia menyesal karena telah melakukan hal jahat itu di masa lalu.


__ADS_2