Black Swan

Black Swan
Reunion (Ninety Two)


__ADS_3

            “Selamat pagi.”


            Jannet yang sedang menulis di buku tulisanya langsung tersenyum hangat kearah Aciel yang baru datang. Aroma Aciel yang terasa menyegarkan segera saja membuat Jannet merasa jantungnya kembali berdebar. Aciel seperti perpaduan antara wangi pepohonan basah di musim hujan dan wangi citrus yang begitu menyegarkan. Ia suka itu.


            “Kau sudah mengerjakan tugas dari profesor Walter yang harus dikumpulkan minggu depan?”


            “Hmm.. itu urusan Jason.” jawab Aciel singkat. Jannet langsung menoleh kearah Aciel, terlihat gemas dan tak habis pikir pada pria itu.


            “Kenapa kau tidak mengerjakannya sendiri? Kenapa harus Jason?”


            “Karena nerd itu menginginkannya. Sudahlah Jan, kau lanjutkan saja menulismu dan jangan pikirkan aku.”


            Entah kenapa Jannet merasa jika Aciel adalah pria yang spesial. Pria itu memiliki kharisma yang terlalu sulit


untuk ditolak, dan sikap apa adanya yang tanpa kebohongan itu membuat Jannet merasa telah jatuh hati dengan keunikan yang dimiliki oleh pria itu. Aciel berbeda dengan kebanyakan pria yang lebih suka untuk menggunakan topeng kebohongan ketika berada di depannya. Sedangkan Aciel, pria itu tetap menjadi dirinya tanpa pernah ingin terlihat baik di hadapan siapapun.


            “Apa kau bisa mengantarku pulang hari ini? Ayahku memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan.”


            “Tentu, aku akan mengantarmu pulang.” jawab Aciel tanpa keraguan. Tanpa sadar Jannet tersenyum sendiri memerhatikan Aciel yang sedang sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia mengintip kearah ponsel Aciel yang menampilkan berpuluh-puluh email yang belum dibaca oleh pria itu. Dengan sedikit keberanian yang ia miliki, Jannet mencoba bertanya pada Aciel. “Kenapa kau selalu sibuk dengan ponselmu, hingga kau tidak sempat untuk mengerjakan tugas-tugasmu.”


            “Kau akan tahu nanti.” jawab Aciel misterius sambil mengedip seksi kearah Jannet. Wanita itu seketika bungkam dan tidak lagi ingin bertanya apapun pada Aciel. Sebelah tangan Jannet terangkat begitu saja kearah dadanya, dan ia merasakan bagaimana ributnya jantung itu memukul-mukul rongga dadanya keras. Sekarang ia yakin jika pria itu perlahan-lahan telah menjeratnya ke dalam pesonanya.


-00-


            Aciel menghentikan mobilnya di tempat parkir khusus di perusahaannya dan memberi kode pada Jannet supaya segera melepas sabuk pengamannya.


            “Untuk apa kita ke sini, Ace?” tanya Jannet bingung. Saat mobil SUV milik Aciel berbelok ke kantor sebuah perusahaan otomotif terkenal di Amerika, Jannet tak henti-hentinya merasa penasaran pada pria itu. Namun tatapan Aciel yang memancarkan ketenangan membuat Jannet akhirnya mengikuti pria itu untuk turun dan masuk ke dalam bangunan megah itu.


            “Selamat pagi Mr. Aciel.”


            “Pagi Don.”


            Jannet memerhatikan tiap interaksi yang terjadi antara Aciel dan orang-orang yang berpapasan dengan mereka selama Aciel berjalan menuju lift. Sejak tadi pria itu masih setia bungkam, membiarkan Jannet terus dihantui rasa penasarannya yang sangat mengganggu.


            “Selamat datang di perusahaanku, Jan.” Akhirnya Aciel mengeluarkan suaranya juga ketika mereka telah berada di dalam lift. Tapi hal itu tidak serta merta membuat Jannet puas karena pertanyaannya berhasil terjawab dengan sempurna oleh Aciel, ia justru semakin merasa tercenangang dengan pengakuan pria itu.


            “Ap apa? Kau serius?” tanya Jannet terkejut. Aciel hanya mengendikan bahunya ringan, dan setelah itu segera melangkah keluar dari dalam lift saat kotak elektronik itu berdenting sekali.


            “Kau telah memimpin perusahaan di usiamu yang semuda ini?” tanya Jannet tak percaya. Ia tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada pria itu, dan hal ini semakin membuat Jannet terjerat semakin dalam ke dalam pesona Aciel.


            “Bukankah kau ingin mengetahui kebenaran rumor itu?”


            “Ii iya, ta tapi...” Jannet merasa telah kehilangan kata untuk menanggapi ucapan Aciel yang terlalu sulit untuk dibantah.


            “Dan ini ruanganku, masuklah.” Aciel membuka pintu kayu dengan ukiran rumit untuk Jannet, dan mempersilahkan wanita itu masuk seperti seorang gentle man. Di dalam ruangan Aciel ternyata sudah ada Sian yang sedang mengecek beberapa berkas sebelum ia meletakannya di atas meja Aciel.


            “Kukira kau tidak datang.”


            Sian masih berkutat dengan berkas-berkasnya, tidak tahu jika Aciel datang bersama Jannet.


            “Itu Sian, manajer keuangan sekaligus orang yang sering kau lihat menempel padaku ketika di kampus.” ucap Aciel yang langsung membuat Sian menoleh kearah pria itu.


            “What a surprise.” komentar Sian saat melihat Jannet yang masih setia berdiri di dekat pintu ruangan Aciel dengan wajah gugup.


            “Kemarilah Jan, kau tidak perlu gugup seperti itu.”


            “Hah? Aku tidak...” jawab Jannet kikuk. Terlihat jelas jika ia memang gugup dan tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Aciel. Dan dalam kediamannya memerhatikan Aciel, Jannet merasa jika Aciel memanglah tidak sama dengan pria-pria yang selama ini mencoba mendekatinya. Aciel adalah pria bebas yang apa adanya. Ia tidak pernah terlihat dibuat-buat dan hanya menjadi dirinya sendiri. Selain itu Aciel juga pria yang bertanggungjawab karena pria itu telah menjalankan sebuah bisnis besar di usianya yang masih sangat muda. Jannet rasanya tidak bisa tidak mengabaikan pria seunik dan seistimewa Aciel begitu saja.


-00-


            Suara hujan yang deras dan petir yang menyambar-nyambar sama sekali tak menyurutkan Aciel untuk datang ke klub tempat Alan menunggunya saat ini. Seringaian penuh kemenangan tercetak jelas di wajahnya karena malam ini ia akan mengambil hadiah yang telah dijanjikan pria itu satu minggu yang lalu padanya.


            “Jadi apa yang akan kau lakukan padanya?”

__ADS_1


            “Apa maksudmu?” tanya Aciel tak mengerti pada Sian saat mereka sedang melangkah membelah kerumunan orang-orang yang sibuk menari di lantai disko.


            “Jannet. Apa yang akan kau lakukan padanya setelah ini?”


            “Tentu saja mengabaikannya, apa lagi? Aku sudah tidak membutuhkannya lagi.” jawab Aciel terdengar keji. Tiba-tiba Sian merasa kasihan pada Jannet yang telah dipermainkan oleh Aciel hanya untuk memuaskan dahaganya pada tantangan yang diberikan Alan padanya. Wanita itu pasti akan hancur jika mengetahui semuanya setelah ini.


            “Hadiahku? Tidak ada alasan lagi untuk mengingkarinya, jerk.” ucap Aciel lambat-lambat setelah ia masuk ke dalam ruang khusus yang malam ini dipesan Alan untuk bersenang-senang. Dengan geraman tertahan Alan melemparkan kunci mobilnya pada Aciel dan segera mengusir Aciel pergi dari ruangannya.


            “Kau brengsek sialan, kau pemilik perusahaan Ford itu? Untuk apa kau masih menginginkan mobilku?”


            “Huh...” Aciel berhenti di ujung pintu. Menyeringai sinis sambil membelakangi Alan, pria itu melanjutkan kata-katanya dengan suara datar, “Tentu saja untuk bersenang-senang, apa lagi? Lagipula mobilmu setelah ini hanya akan berakhir di gudang rongsokan perusahaanku. Tapi terimakasih untuk mobilnya, kutunggu tantangan selanjutnya darimu.”


            Aciel tak akan pernah lupa kebrengsekannya di masa lalu dan bagaimana ia berhasil menyelesaikan tantangan itu dengan mudah. Tentu saja ia dapat menjerat wanita manapun dengan mudah, tak terkecuali Jannet.


            “Kau menghilang begitu saja setelah itu. Aku tidak pernah lagi melihatmu berada di kelas. Bahkan saat kelulusan.”


            Aciel diam, merasa tak perlu untuk menjawab pertanyaan wanita itu karena ia memang tidak lagi mengambil kelas yang sama di semester berikutnya agar ia tidak perlu berurusan lagi dengan Jannet.


            “Aku sibuk mengembangkan bisnisku setelah itu karena sebelumnya perusahaan itu milik kakekku, jadi aku mendirikan perusahaan lain dengan jerih payahku sendiri, Cadillac company jika kau ingin tahu.” beritahu Aciel. Aura mengintimasi terlihat begitu kuat dalam diri Aciel membuat Jannet merasa sesak dan tidak bisa lagi mengharapkan apapun dari Aciel. Harapannya telah pupus. Aciel bukan lagi pria yang ia pikir akan menjadi takdirnya.


-00-


            Kemeriahan yang terlihat jelas di pesta pernikahan Summer membuat Eden seketika menjadi lupa diri. Saat bertemu teman-temannya, Eden merasa dunia masa mudanya telah kembali dalam wujud yang lebih berkelas tentunya. Pertemuannya dengan Tranz dan juga keluarganya malam ini membuat Eden sangat senang hingga ia sendiri tidak tahu lagi bagaimana cara mengungkapkan kegembiraannya pada semua orang.


            “Putramu sangat mirip denganmu, Tranz.”


            “Tentu saja, dia putraku.” ucap Tranz bangga.


            “Tapi aku tidak berharap ia mewarisi sikap playermu. Ia harus memiliki sifat seperti Zara.”


            Istri Tranz yang berdiri di sebelah pria itu hanya tersipu malu mendengar kata-kata pujian dari Eden. Sedangkan Tranz sendiri tak terlalu ambil pusing karena setelah itu ia mulai membuat kehebohan bersama Tiffany yang baru datang.


            “Hai baby, apa kabar?” sapa Eden tak kalah heboh sambil mencium pipi Tiffany bergantian.


            “Baik, sangat baik. Ya ampun, ini Aciel kecil?!” tanya Tiffany gemas pada Louise yang masih memerhatikan kehebohan ibunya dari dalam stroller. Wanita itu lantas mengambil Louise dan mendekapnya seperti putranya sendiri. Sejak dulu Tiffany sangat ingin memiliki putra yang menggemaskan seperti ini. Sayangnya Tuhan masih belum mengizinkannya untuk memiliki seorang malaikat kecil di hidupnya.


            “Louise.” jawab Eden pendek. Ia tahu jika Tiffany sangat menginginkan seorang anak sejak lama.


            “Lalu dimana Ciara? Ia pasti sudah tumbuh semakin dewasa sekarang.”


            “Ahh... gadis itu pergi bersama Olivia.”


            “Olivia?” tanya Tiffany bingung.


            “Istri Sian. Kau ingat Sian bukan, dia baru saja menikah dengan Olivia.”


            Tiffany tampak mengangguk mengerti dan ia kembali bersama Louise yang menggemaskan.


            “Aku tidak menyangka jika akhirnya kita dapat bertemu kembali. Kau, Tranz, Summer, kalian semua yang terbaik.” ucap Eden disela-sela keriuhan para tamu undangan yang sedang mencoba mendapatkan lemparan bunga dari Summer. Keempat orang itu hanya memandangi kebahagiaan Summer dari jauh, sama sekali tidak ingin


bergabung karena mereka terlalu malas hanya untuk menjadi kekanakan dengan memperebutkan bunga.


            “Ed, maaf waktu itu aku tidak menjengukmu.”


            “Tidak apa-apa. Kau justru akan sulit karena Aciel mengurungku selama aku sakit di mansionnya.” Eden tersenyum kecil, merasa konyol saat mengingat pengalamannya yang sempat kabur dan bertingkah seperti orang gila yang mengaku belum pernah menikah dan memiliki dua orang anak.


            “Ed...” Tiffany menyenggol lengannya pelan dan memberi kode pada Eden ketika Andrew dari kejauhan sedang berjalan menghampiri mereka.


            “Dia masih mengejarmu?”


            “Andrew? Tidak.” jawab Eden pendek. Sekarang ia justru lebih seperti teman saat bersama Andrew. “Tapi dia masih memiliki tatapan memuja untukmu.” goda Tiffany sambil mengerling nakal.


            “Ck, untukmu saja.” jawab Eden spontan. Tanpa Eden sadari Tiffany sedang menatap kearah Andrew dan ia hanya terkekeh pelan setelahnya. Sedikit lucu saat membayangkan jika apa yang Eden katakan menjadi kenyataan. Dua orang yang pernah tersakiti karena cinta, mungkin akan bagus saat bersama.

__ADS_1


            “Hai ladies, aku senang kau datang Ed.” sapa Andrew lembut seperti biasa. Tatapan Andrew yang sebelumnya hanya kepada Eden seketika bergulir kearah Tiffany saat Eden menarik tangan Tiffany dan berusaha memperkenalkan Tiffany pada Andrew. Atau mungkin Andrew masih mengingat Tiffany sebagai salah satu teman baik Eden dulu.


            “Kau masih mengingatnya?”


            “Emm... tunggu, aku seperti tidak asing dengannya, tapi aku lupa namanya.” jawab Andrew tanpa basa basi. Tiffany hanya tertawa melihat kejujuran Andrew yang sangat lucu itu. Dan tanpa basa basi Tiffany mengulurkan tangannya kearah Andrew untuk berkenalan lagi.


            “Karena kau lupa, maka aku akan membuatmu ingat siapa namaku. Stephany, tapi teman-temanku biasa memanggilku Tiffany.”


            “Oh, Andrew Osborn.” balas Andrew hangat. Senyum manis Andrew terlihat sempurna di mata Tiffany. Dan untuk pertama kalinya setelah dirinya patah hati karena James, ia merasa tertarik pada seorang pria.


            “Senang bertemu denganmu, Andrew.”


            “Mommy!”


            Dari kejauhan Eden melihat Ciara sedang berlari-lari kearahnya dan terlihat begitu kesulitan karena harus menyeruak diantara para tamu undangan yang cukup banyak memadati ballroom. Di belakangnya Olivia dan Sian tampak pasrah saat melihat Ciara berlari karena Olivia sama sekali tidak bisa berlari selama kehamilannya.


Dan Sian sendiri merasa cukup sadar jika dirinya bukan lagi anak-anak yang akan terlihat aneh jika ia ikut berlarian seperti Ciara.


            “Hai sayang.” Eden berjongkok di depan putrinya, lalu mengelap butir-butir keringat yang mulai tampak di kening putrinya yang tertutupi poni.


            “Pulang...”


            Eden langsung mendengus kesal saat Ciara mulai melakukan sesuatu yang menyebalkan seperti ini, merengek-rengek! Sungguh Eden kesal saat Ciara harus mengganggu acara reuninya dengan rengekannya yang sangat berisik seperti ini. Bahkan Ciara akan semakin sulit untuk dibujuk bila ia sudah merengek-rengek seperti itu.


            “Sayang, pestanya belum selesai. Lihat, ini aunty Fanny, kau masih ingat?”


            “Hai Ciara. Kau sudah semakin besar sekarang.” sapa Tiffany lembut. Ia menyempatkan diri untuk mencubit pipi menggemaskan Ciara, tapi gadis kecil itu langsung menepis tangan Tiffany karena ia sedang dalam mode lelah sekarang.


            “Maafkan aku, Ciara memang akan menjadi seperti ini karena Aciel selalu memanjakannya.” dengus Eden kesal. Ia lalu mengambil alih Louise yang setengah tertidur dari Tiffany dan meletakannya ke dalam strollernya yang nyaman. Jika Ciara sudah merengek-rengek ingin pulang, maka mau tidak mau mereka memang harus pulang sekarang.


            “Aku harus mencari Aciel dan pulang sebelum Ciara semakin mengacau di sini. Kita lanjutkan lagi acara reuni kita saat natal. Kau masih di sini saat natal kan?” tanya Eden pada Tiffany.


            “Kau tenang saja, aku mengambil cuti hingga awal tahun.”


            “Bagus, nanti kuhubungi lagi. Bye.”


            Eden segera berjalan keluar dari ballroom bersama Ciara yang mulai terlihat rewel di sebelahnya. Sedangkan Louise yang masih tertidur tenang di dalam strollernya membuat Eden sedikit bersyukur karena jika mereka berdua menangis bersamaan, tidak tahu lagi apa yang akan Eden lakukan. Ia pasti akan dilanda kepanikan karena Aciel tidak ada bersamanya untuk menenangkan kedua anaknya yang rewel.


            “Daddymu pasti merokok di taman belakang.” Seperti telah mengetahui kebiasaan Aciel yang suka menjauh dari keramaian saat menghisap rokok, Eden segera menarik tangan Ciara menuju taman belakang. Dari kejauhan ia dapat melihat Aciel yang sedang berbicara serius dengan seorang wanita bergaun coklat gading. Sedikit memincingkan mata, Eden berusaha mengamati lebih jelas siapa wanita itu karena mungkin saja mereka pernah bertemu sebelumnya. Tapi nyatanya Eden sama sekali tidak mengenal wanita itu dan ia merasa belum pernah bertemu sebelumnya.


            “Eden!”


            Jannet refleks berbalik saat Aciel tiba-tiba memanggil seseorang dari belakangnya. Dengan senyum kakunya Jannet menatap Eden dan anak-anaknya, lalu menatap bingung kearah Aciel untuk meminta penjelasan.


            “Kenalkan ini istriku dan anak-anakku.”


            “Hai, aku Eden.” Eden mengulurkan tangannya ramah kearah Jannet, namun wanita itu tidak langsung menjabat tangan Eden seperti yang seharusnya. Cukup lama Jannet mematung sebelum deheman Aciel membuatnya tersadar dan segera mengulurkan tangannya.


            “Jannet Streusell.”


            “Hai Jannet, senang bertemu denganmu. Tapi maaf, aku dan Aciel harus pulang sekarang karena putri kami telah merengek-rengek ingin pulang. Sekali lagi maafkan aku karena mengganggu waktumu bersama Aciel.”


            “Oo oh... tidak apa-apa, kami hanya sedang mengobrol santai. Kalau begitu aku akan kembali ke dalam untuk menikmati pestanya. Selamat malam.” Dengan wajah pucat dan kaku, Jannet melangkah pergi meninggalkan Aciel yang sedang menyeringai penuh kemenangan di belakangnya. Untung saja Eden datang tepat waktu sebelum wanita itu semakin berharap terlalu jauh padanya.


            “Siapa dia?”


            “Bukan siapa-siapa, hanya kebetulan bertemu saat ia sedang kebingungan mencari toilet.” bohong Aciel terdengar lucu. Namun Eden memilih untuk tak ambil pusing karena mereka berdua harus segera pulang sebelum Ciara semakin berulah dengan rengekannya.


            “Mommy! Ayo pulang.”


            “Iya sayang, tunggu sebentar. Ya Tuhan, anakmu Ace.” ucap Eden gemas di sebelah Aciel. Sedangkan Aciel hanya tersenyum-senyum kecil melihat tingkah putrinya yang sangat keras kepalanya seperti dirinya.


            “Well, dengan begini kau tidak bisa membodohiku lagi seperti dulu.”

__ADS_1


            “Apa maksudmu?”


            “Tes DNA itu.” jawab Aciel acuh tak acuh. Sedangkan Eden sendiri memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan mereka karena semua itu nantinya hanya akan membuat malamnya yang indah ini rusak karena kemarahannya ataupun kemarahan Aciel.


__ADS_2