Black Swan

Black Swan
Reunion (Eighty Nine)


__ADS_3

            Eden berjalan dengan tenang ke arah ruang tamu dan memberikan senyum lembutnya pada Andrew kala pria itu menyapanya dengan hangat.


            “Hai, apa aku mengganggumu?” tanya Andrew dengan senyum manisnya yang khas. Eden menggelengkan kepala ringan dan mempersilahkan Andrew untuk duduk.


            “Sama sekali tidak. Kami sedang bersantai dan setelah ini kami akan mengantarkan Ciara untuk melihat gajah di kebun binatang.” jawab Eden apa adanya. Ciara berlari dari arah ruang keluarga dan langsung menubruk kaki Eden ketika ia sudah berada di dalam ruang tamu. Gadis itu kemudian tersenyum malu-malu ke arah Andrew sambil menenggelamkan kepalanya ke dalam paha ibunya yang nyaman.


            “Sayang, kau sudah memberi salam pada paman Andrew?” tanya Eden lembut. Ia menarik tangan anaknya agar gadis kecil itu tidak terus-menerus bersembunyi di balik pahanya.


            “Halo gadis manis, kau belum berkenalan secara resmi dengan paman.” sapa Andrew ramah. Terlihat sekali jika ia sedang  menarik simpati dari Ciara. Gadis kecil itu kemudian berjalan mendekat ke arah Andrew dan mengulurkan tangannya dengan malu-malu.


            “Halo paman, namaku Ciara.” ucap Ciara dengan bibir kecilnya. Andrew tergelak dengan tingkah polos Ciara yang menurutnya sangat menggemaskan. Seketika Andrew merasa Ciara adalah sosok gadis yang cantik dan menarik, sama seperti ibunya.


            “Halo, nama paman Andrew Osborn. Selama ini Summer sering menceritakanmu padaku. Nah, karena kau sudah bersikap dengan manis, paman akan memberikanmu hadiah.” Andrew mengambil sebuah paper bag yang ia letakan di samping tubuhnya. Dengan senyum merekah Andrew memberikan paper bag itu pada Ciara dan langsung disambut dengan antusias oleh gadis kecil itu.


            “Wah, terimakasih paman.” ucap Ciara girang ketika ia menemukan sebuah boneka barbie keluaran terbaru dengan rambut berwarna pirang. Ciara begitu menyukai boneka barbienya hingga ia terus-menerus memeluk boneka barbie itu dengan sayang.


            “Ah, kau tidak perlu repot-repot seperti itu.” ucap Eden berbasa-basi. Rasanya ia sangat tidak enak sekarang, karena nyatanya, suaminya, Aciel pasti tidak akan menyukai hal ini. Pria itu pasti akan semakin memasang wajah muram jika ia mengetahui jika Andrew telah berhasil menarik simpati Ciara.


            “Tidak masalah, itu hanya hadiah kecil untuk Ciara karena dia adalah gadis yang manis. Oh iya, ini untuk Louise. Semoga baju ini pas di tubuh Louise karena aku sendiri tidak tahu pasti mengenai ukuran tubuh Louise.”


            Andrew mengulurkan paper bag berwarna biru muda ke arah Eden dan tersenyum manis setelahnya sambil melirik Louise yang sedang memainkan jari-jarinya dengan lucu.


            “Terimakasih banyak. Kau sungguh baik pada anak-anakku.” ucap Eden dengan tulus. Dipandangnya Ciara yang sedang bermain boneka barbie dengan asik di sebelahnya. Jujur, Eden merasa kikuk sekarang, karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan Andrew. Selagi ia memikirkan topik pembicaraan apa yang ia ingin bahas bersama Andrew, tiba-tiba Aciel datang dengan rambut yang setengah basah dan wangi aftershave beraroma citrus. Ia terlihat begitu segar dan mempesona, membuat Eden merasa tidak bisa mengalihkan atensinya dari sang suami yang sangat mempesona hari ini.


            “Sudah lama sekali sejak hari itu. Kau terlihat baik” Aciel sama sekali tak perlu basa basi pada Andrew. Pria yang dulu pernah ia hajar karena berani mendekati Eden nyatanya masih berani memunculkan batang hidungnya lagi setelah bertahun-tahun pria itu menghilang dari hidup wanitanya.


            “Aku baik dan akan selalu baik.” jawab Andrew dengan senyum cerah. Tak sekalipun tatapan tak bersahabat Aciel mempengaruhi mentalnya yang kali ini telah ia bentuk agar sekuat baja untuk menghadapi Aciel yang mengerikan. “Aku hanya mampir sebentar. Kebetulan aku sedang ingin memberikan kado kecil untuk Ciara dan Louise. Setidaknya, aku juga ingin lebih dekat dengan mereka.” tambah Andrew masih dengan senyum menawannya. Aciel mendengus tidak suka dengan jawaban Andrew. Kentara sekali jika pria itu sedang mencari simpati dari Ciara dan Louise. Namun setidaknya Louise masih tidak bisa dipengaruhi oleh pria itu, karena Louise masih tidak tahu apa-apa. Berbeda dengan Ciara, gadis itu justru terlihat sangat senang sekali dengan Andrew dan terus memainkan boneka barbienya dengan antusias di depan Andrew. Aciel sekarang benar-benar meruntuki


kelakukan Ciara yang sama sekali tidak bisa diajak berkompromi. Padahal tadi mereka sudah sepakat untuk menjauhkan Eden dari Andrew, namun gadis itu sendiri yang terbawa arus oleh pesona Andrew.


            “Ace, bisa kau gendong Louise sebentar? Aku akan membuatkan Andrew minuman.” pinta Eden sambil berdiri dari duduknya. Wanita itu sudah bersiap untuk mengangsurkan Louise ke dalam dekapan ayahnya, namun tiba-tiba Andrew menyela dan menawarkan diri untuk menggendong Louise, membuat kedua orang itu hanya  dapat mematung aneh di hadapan Andrew.


            “Bolehkah aku menggendong Louise? Bayi itu terlihat lucu dan menggemaskan.” Andrew menyela gerakan Eden, setengah memohon agar dirinya diijinkan untuk menggendong Louise barang sebentar. Aciel menggelapkan matanya tak suka. Tapi karena Eden merasa tidak enak pada Andrew, akhirnya ia menyuruh suaminya mengalah dan membiarkan Louise di gendong oleh Andrew.


            “Aku titip Louise sebentar. Jika ia rewel, berikan saja pada daddynya.” pesan Eden dengan nada tidak enak. Andrew mengangguk mengerti dan segera menimang Louise di dalam dekapannya. Sekilas Andrew terlihat seperti seorang ayah sesungguhnya yang sedang menimang anaknya. Dan itu cukup membuat Aciel merasa kesal.


            “Anakmu sangat lucu, mereka manis seperti Eden.” puji Andrew tulus. Namun entah mengapa itu terdengar seperti sedang memuji Eden.


            “Oh, tentu saja. Ciara dan Louise adalah perpaduan antara kami berdua.” balas Aciel datar. Tiba-tiba Ciara berjalan menghampiri ayahnya dan mengajak ayahnya untuk bermain barbie bersama.


            “Daddy, ayo kita bermain barbie bersama. Ciara punya boneka barbie baru.” pamer Ciara dengan bangga. Aciel tersenyum tipis pada Ciara sambil mengusap rambut panjang Ciara dengan lembut.


            “Sayang, kenapa mommymu lama sekali? Tolong panggilkan mommymu di belakang. Kasihan paman Andrew yang terlihat lelah menggendong Louise.” ucap Aciel mengalihkan perhatian. Sejujurnya ia merasa tidak sudi jika harus bermain apalagi memegang boneka barbie pemberian dari Andrew. Kekanakan sekali bukan?


            “Mommy? Tapi Ciara ingin bermain boneka barbie.” tolak Ciara acuh sambil tetap memainkan bonekanya. Andrew menghampiri Ciara dan mencoba berinteraksi dengan gadis kecil tersebut.


            “Bagaimana jika paman menemani Ciara bermain?”


            “Paman mau? Asiikkk.” teriak Ciara girang. Kedua orang itu terlihat sangat bahagia sambil menyusun beberapa mainan milik Ciara di atas meja. Sepertinya mereka ingin bermain rumah-rumahan. Aciel lantas berdiri dan menghampiri Andrew untuk meminta Louise. Setidaknya ia tidak ingin terlihat kikuk di depan Andrew dengan hanya memandangi kedekatan Andrew dengan Ciara.


            “Biar aku saja yang menggendong Louise. Kau ingin bermain dengan Ciara kan?”


            Dengan senyum merekah, Andrew mengangsurkan Louise pada ayahnya dan setelah itu ia mulai terlarut dengan Ciara sambil menemani gadis itu bermain. Tiba-tiba saja Aciel merasa marah pada dirinya sendiri. Ia merasa kalah dengan Andrew, padahal dulu ia selalu unggul dari Andrew dalam segala hal. Terutama dalam hal menaklukan wanita. Tapi kenapa kini pria itu terlihat lebih mahir dalam mendekati wanita yang diincarnya? Mungkinkah pengalamannya di masa lalu membuat Andrew lebih hebat sekarang?


            “Wah, apa yang sedang kalian lakukan? Andrew, silahkan diminum.”


            Eden berjalan dari dapur sambil membawa makanan ringan dan segelas minuman. Setelah Eden meletakan nampan yang dibawanya ke atas meja, Andrew segera menggumamkan kata terimakasih dengan senyum manis yang merekah, membuat Aciel merasa panas.


            “Mommy, kapan kita akan melihat gajah?” tanya Ciara pada Eden. Tiba-tiba gadis itu menjadi ingat akan rencana mereka sebelumnya. Namun, karena kedatangan Andrew, Eden menjadi lupa akan rencana awal mereka.


            “Nanti sayang. Sekarang kau bermain dulu dengan paman Andrew.” ucap Eden lembut. Ia tidak ingin terlihat seakan-akan sedang mengusir Andrew. Bagaimanapun Andrew sudah datang dan berniat baik kepada keluarganya. Jadi Eden tidak ingin bersikap seolah-olah ia adalah wanita yang jahat dengan mengusir Andrew pergi begitu saja. Walau sebenarnya dalam hati Eden merasa was-was, takut jika Aciel akan mengamuk seperti dulu.


            “Bagaimana jika kita pergi sekarang? Aku khawatir kebun binatang central akan segera tutup jika kita berangkat terlalu siang.”


            Entah apa maksud Aciel dengan mengatakan hal itu. Eden sendiri hanya bisa meniup ubun-ubunnya sabar untuk menghadapi kelakukan suaminya yang sedang terbakar api cemburu itu. Lantas ia cepat-cepat memutar otak untuk memikirkan tanggapan apa yang harus ia lontarkan pada suaminya. Setidaknya ia harus membuat suasana diantara mereka menjadi netral dan tidak terlalu aneh seperti ini.


            “Kukira masih ada waktu jika kita berangkat sedikit lebih siang. Kau tenang saja, salah satu temanku bekerja di sana. Ia berjanji tidak akan menutup kebun binatang central hingga kita datang.” ucap Eden dengan kekehan. Aciel menatap Eden dengan dahi berkerut tidak suka. Ia merasa istrinya sekarang terlihat aneh dan konyol.

__ADS_1


            “Ah, sepertinya aku akan kembali ke kantor. Maaf karena telah mengganggu waktu kalian. Ciara, paman pulang dulu ya. Kapan-kapan kita bermain lagi.” pamit Andrew sambil mengelus kepala Ciara pelan. Eden menatap Andrew dengan perasaan tidak enak, kemudian ia menjabat tangan Andrew sebagai salam perpisahan. Namun


lagi-lagi Andrew justru menariknya ke dalam pelukannya yang hangat di depan Aciel. Seakan-akan ia tidak peduli dengan keberadaan Aciel di sana yang sedang menahan geram dengan tingkah menyebalkan Andrew.


            “Sampai jumpa, aku pulang. Maaf atas ketidaknyamanannya.” ucap Andrew sambil


menganggukan kepalanya pada Aciel. Kemudian pria itu segera berjalan pergi dengan Ciara yang melambaikan tangan di belakang Andrew.


           “Sampai jumpa paman.” teriak Ciara nyaring mengantarkan kepergian Andrew. Setelah Andrew menghilang dari balik pintu, Aciel segera berjalan pergi meninggalkan Eden dan Ciara di ruang tamu. Sepertinya mood pria itu berubah menjadi buruk. Sekarang Eden harus merayu pria itu lagi dan mengeluarkan berbagai macam bujukan agar ia berhenti merajuk seperti bayi.


            “Sayang, sepertinya kita tidak akan pergi melihat gajah hari ini.” ucap Eden frustrasi pada Ciara yang dibalas dengan kerutan sedih di wajah Ciara.


-00-


            Tidak ada acara pergi kemanapun, semuanya batal karena mood Aciel yang berubah buruk sejak kedatangan Andrew ke rumahnya. Eden yang menyadari kesalahannya hanya mampu berdiam pasrah sambil berusaha bersikap sebiasa mungkin di depan kedua anaknya. Ia tidak mau membuat Ciara semakin sedih karena nyatanya gadis itu batal untuk melihat gajah di kebun binatang. Helaan napas tipis keluar begitu saja dari bibir Eden. Lusa adalah pesta pernikahan Summer. Ia sendiri masih tidak tahu apakah ia akan datang atau tidak. Ia takut Aciel akan melarangnya untuk datang dengan alasan Andrew yang pasti juga akan berkeliaran di pesta itu. Hmm.. seburuk inikah nasib liburan natalnya? batin Eden gusar.


Ting tong


            “Mom!” Ciara yang sibuk mewarnai berteriak nyaring.


            “Iya, mom tahu.” balas Eden yang langsung beranjak berdiri untuk membukakan pintu bagi sang tamu. Sedikit aneh, Eden melirik jam dinding yang telah menunjukan pukul sembilan malam. Rasanya aneh jika ia memiliki tamu ketika ia sedang berada di sebuah negara asing yang tidak ada satupun yang mengenalnya di sini.


            “Hai...”


            Eden mematung di tempat, sedikit tidak percaya jika pria itu yang malam ini datang ke rumahnya. Hatinya langsung berdebar seketika saat Andrew masih menunggunya di depan pintu untuk membalas sapaan pria itu.


            “Hai, ada apa?” balas Eden setenang mungkin. Sedikit menoleh kikuk ke dalam rumahnya, Eden mencoba memastikan jika Aciel masih sibuk dengan ponselnya di kamar mereka tanpa sedikitpun melangkahkan kakinya ke bawah untuk membuat semuanya menjadi lebih kacau.


            “Bukan apa-apa, hanya kebetulan lewat.”


            “Oh.. oke.” balas Eden canggung, tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan pada Andrew. Rasanya kebersamaan mereka beberapa waktu lalu sudah lebih dari cukup untuk Andrew mengetahui kehidupan rumah tangganya sekarang.


            “Maaf, Ciara dan Louise masih bermain, jadi ruang tamuku sedikit berantakan, kau tidak keberatan jika kita duduk di teras kan?” Eden mencoba beralasan agae Andrew tidak perlu masuk ke rumahnya.


            “Tentu, tidak masalah.” balas Andrew ringan. Dimanapun ia akan duduk, Andrew rasanya tidak keberatan, asalkan ia dapat mengobrol bersama Eden untuk mengobati kerinduannya pada wanita itu.


            “Akan kuusahakan.”


            “Kau berniat untuk tidak datang?” tanya Andrew penuh selidik. Eden langsung menggelengkan kepalanya, berniat untuk tidak membuat Andrew berspekulasi terlalu jauh untuk sesuatu yang belum bisa ia pastikan.


            “Maksudnya aku akan mengusahakannya, tapi jika Aciel memiliki pekerjaan mendadak yang membuat kami harus kembali ke Vegas, maka dengan berat hati kami tidak akan datang.”


            “Aku berharap kau akan datang Ed. Sekali ini saja, atau mungkin ini akan menjadi yang terakhir aku melihatmu dalam sebuah acara pesta pernikahan. Kurasa setelah bertahun-tahun aku belum bisa melupakanmu.” kekeh Andrew getir. Eden sendiri tidak terkejut dengan pengakuan Andrew, ia masih terlihat tenang dengan wajah


datarnya. Pada akhirnya ia memang harus menyelesaikan semua cerita cinta masa lalunya yang dulu ia biarkan menggantung karena ia pikir mereka tidak akan mengusik ketenangannya di masa depan. Namun belajar dari kasus Anthony, ia tidak ingin Andrew juga berakhir seperti itu. Rasanya sakit melihat mereka yang dulu hanya ia jadikan sebagai mainan, kini masih memiliki harapan yang terlampau besar padanya meskupun ia telah memiliki keluarga bahagianya sendiri.


            “Terimakasih untuk itu, aku menghargainya. Apa kau tahu, semua yang terjadi di masa lalu, itu hanya akan menjadi masa lalu. Semuanya telah berubah sekarang.” Eden mencoba memberikan pengertian pada Andrew dengan selembut mungkin agar tidak menyakiti ego pria itu. Salahnya karena dulu pernah menjadi wanita nakal hanya untuk membalaskan dendamnya pada Aciel. Tapi setelah ia melakukan semua itu, ia sama sekali tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Justru dendam itu terus saja bercokol di hatinya hingga tanpa sadar ia telah melukai dirinya sendiri. Membuatnya kehilangan seluruh cinta yang diberikan orang-orang kepadanya, lalu membuat kehidupan putrinya nyaris terancam. Pilihan untuk berdamai dengan masa lalu adalah salah satu pilihan paling tepat yang bisa Eden lakukan sekarang agar ia dapat melindungi keluarganya dari apapun yang akan mengganggu mereka.


            “Ya aku tahu. Ini tidak akan merubah kehidupan cintaku, hanya saja aku ingin membuat hatiku sedikit lebih lega agar aku tidak lagi dibayang-bayangi oleh masa lalu.”


            “Carilah wanita lain yang tepat untukmu, Drew. Aku tidak ingin menghambat kehidupanmu. Kau harus bisa bahagia seperti Summer, ia telah menemukan pria yang tepat untuknya.” ucap Eden bijak. Andrew hanya mengangguk kecil. Sakit, tentu saja hatinya sakit karena ia tidak akan bisa mendapatkan Eden. Tapi ini jauh lebih baik daripada ia memendamnya terlalu lama.


            “Aku minta maaf untuk semua sikap buruk Aciel selama ini. Kejadian bertahun-tahun yang lalu ketika Aciel memukulimu, aku sungguh minta maaf. Dulu aku terlalu acuh dan hanya berpikir untuk mempermainkan perasaan siapapun karena rasa kesalku pada Aciel. Kau tahu jika sejak awal aku telah jatuh cinta pada pria itu, tapi kemudian ia mencampakanku, membuatku merasakan patah hati untuk pertama kalinya yang teramat sangat buruk. Lalu aku ingin membuat pembuktian pada Aciel jika ia membuangku, maka aku akan mendapatkan lebih banyak pria sebagai gantinya. Yeah, tapi semua itu tidak pernah membawa kebahagiaan untukku. Itu hanya kepuasaan sesaat.” cerita Eden mengenang masa lalu. Beruntung ingatannya tentang hal itu masih bertengger dengan manis di otaknya. Tapi ia banyak melupakan tentang Zyan, pria malang yang telah ia permainkan hidupnya hingga kematian menjemputnya.


            “Kau wanita yang angkuh saat itu, tapi aku tahu jika kau menyembunyikan banyak luka di matamu.”


            “Kau tahu?” tanya Eden terkekeh. Padahal ia pikir poker facenya bisa menipu siapa saja saat itu.


            “Tentu saja, setiap Aciel menyeretmu untuk pulang dari klub atau ketika Aciel merusak malam kita ketika kita menghabiskan malam di mansionmu, aku selalu melihatmu hampir menangis, tapi kau akan menyembunyikan semuanya dengan wajah angkuhmu, lalu kau akan bersikap acuh tak acuh untuk melupakan rasa sakit yang mendera hatimu.”


            Eden lagi-lagi terkekeh. Andrew benar, selama ini ia memang telah menyembunyikan kesakitannya dibalik sikap acuh tak acuhnya yang menyebalkan itu. Bahkan ia masih ingat beberapa kalimat sarkasnya yang sengaja ia lontarkan hanya untuk mempertegas topeng keangkuhan yang saat itu ia kenakan.


            “Kalau begitu terimakasih karena telah memahamiku dengan baik. Meskipun hubungan kita sangat singkat, tapi aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Kau pria yang baik.”


            “Wow, kau semakin membuatku tidak bisa berpaling darimu kalau begitu.” canda Andrew dengan tawa renyah. Eden tersenyum lega melihat Andrew yang bisa menerima keputusannya dengan baik. Traumanya akan Anthony nyatanya tak terbukti pada Andrew karena pada dasarnya setiap orang memiliki sifat mereka masing-masing.


            “Kalau begitu aku akan menunggumu di pesta pernikahan adikku.”

__ADS_1


            “Sudah kukatakan aku....”


Bugh


            Tiba-tiba sebuah taksi kuning berhenti di depan rumah peristirahatan Eden dan memunculkan sosok yang sangat Eden kenal sedang menutup pintu taksi. Pria berkacamata itu terlihat kepayahan membawa kopor besar yang baru saja ia tarik turun dari dalam taksi. Sedangkan seorang wanita yang baru saja turun dari sisi lain taksi terlihat begitu lelah sambil mencoba merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.


            “Siapa itu?” tanya Andrew penasaran. Eden yang sangat mengenali dua manusia itu langsung beranjak pergi meninggalkan Andrew untuk menyambut tamu tak terduganya yang hari ini berhasil membuat Eden bersorak girang.


            “Sian! Olive!” Dengan tidak sabar Eden membuka pagar besi yang menjulang di depannya, lalu segera memeluk Olivia yang tak kalah antusiasnya dengan Eden. Kedua wanita itu sebentar saja telah membuat kawasan Piper Point yang sebelumnya sepi, kini menjadi ribut hanya karena teriakan kegirangan keduanya.


            “Bagaimana mungkin kalian bisa berada di sini?” tanya Eden tak percaya. Ia terus saja menyalahkan dirinya sendiri ketika berada di pesawat karena ia telah membuat Sian saat itu marah pada Olivia akibat ia tak sengaja membocorkan berita kehamilan Olivia yang belum sepenuhnya diketahui oleh Sian.


            “Kenapa? Apa kau suka dengan kejutan kami?” Pria itu segera memeluk Eden hangat setelah wanita itu selesai dengan kehebohannya bersama Olivia.


            “Tentu saja, kalian membuatku masih tak percaya jika kalian akhirnya menyusul kami. Apa kandunganmu tidak apa-apa?” tanya Eden khawatir.


            “Tenang saja, dokter mengatakan padaku jika kandunganku sudah cukup kuat untuk bepergian jauh menggunakan pesawat, jadi kau tidak perlu khawatir Ed.”


            “Oh syukurlah. Aku benar-benar minta maaf karena telah mengacaukan semuanya.”


            “Tidak masalah, Sian tidak marah soal itu.” ucap Olivia melirik Sian. Saat mereka sedang asik bercerita, Andrew tiba-tiba mendekati Eden, membuat tiga orang yang tadinya heboh, mendadak hening karena kehadiran Andrew di tengah-tengah mereka.


              “Aku pulang. Terimakasih untuk semuanya, dan kuharap kau datang ke pesta pernikahan Summer.”


            “Hmm, sampaikan salamku untuk Summer.” balas Eden dengan senyuman. Sian yang merasa mengenal pria itu terus menatap kepergian Andrew hingga mobilnya menghilang di tikungan yang mengarah ke blok lain di kawasan Piper Point.


            “Sepertinya aku mengenalnya.” gumam Sian yang berhasil didengar oleh Eden.


            “Tentu saja, dia Andrew, kau ingat?” Eden berusaha menggali memori lama Sian mengenai Andrew yang mungkin pria itu kenal karena Sian pernah melihat Aciel menghajar Andrew dulu.


            “Ahh... yayaya, aku tahu sekarang.” Eden tersenyum simpul melihat Sian yang telah mendapatkan ingatannya kembali mengenai Andrew. Di sebelahnya Olivia terlihat begitu penasaran dengan siapa Andrew itu sebenarnya, namun dengan menyebalkannya Sian dan Eden justru membuatnya terus bertanya-tanya dalam hati


tanpa ingin menjelaskan yang sebenarnya.


            “Apa hanya aku satu-satunya di sini yang tidak mengetahui siapa itu Andrew?”


            “Ceritanya panjang, dan kau tidak perlu memikirkannya sayang.” ucap Sian sambil merangkul bahu istrinya hangat. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah Aciel untuk segera beristirahat karena hari ini Sian dan Olivia telah menempuh perjalana yang sangat panjang dari Vegas.


            Sampai di ruang keluarga, Eden melihat Aciel baru saja turun dengan kaos hitam dan celana pendek yang selalu berhasil mengingatkan Eden jika Aciel masihlah manusia biasa. Maksudnya Aciel yang terlihat menggunakan baju rumahan terlihat lebih manusiawi di mata Eden daripada Aciel yang selalu menggunakan setelah jas yang terlihat formal.


            “Akhirnya kau sampai juga, kupikir kau tersesat.” Aciel melemparkan pertanyaan pada Sian yang saat ini sedang bergabung bersama Ciara untuk menonton televisi. Dengan lelah pria itu meluruskan kakinya di atas lantai sambil bersandar pada sofa coklat di belakangnya.


            “Kau sudah tahu jika mereka akan datang?” tanya Eden saat ia hendak ke dapur untuk membuatkan minuman hangat.


            “Menurutmu siapa yang memberitahu alamat rumahku jika bukan aku sendiri?”


            “Kau tidak mengatakannya padaku.” balas Eden mendengus. Aciel lalu mengikuti Eden menuju dapur dan duduk di atas kursi tinggi yang terletak di depan pantry.


            “Hanya ingin membuatmu terkejut, lagipula aku merasa bersyukur dengan kedatangan mereka. Aku jadi memiliki alasan untuk tetap menahanmu di rumah.”


            “Maksudmu?” tanya Eden tak mengerti. Dua buah cangkir kini telah disiapkan Eden untuk membuatkan coklat panas. Aciel yang melihat istrinya hanya menyiapkan dua gelas, lantas memprotes karena dirinya tidak ikut dibuatkan juga. “Kenapa kau tidak membuatkannya untukku?” Pria itu berdiri dari duduknya, mengambil gelas dari dalam lemari lalu menjejerkannya dengan milik Sian dan Olivia.


            “Kukira kau ingin dibuatkan kopi. Jadi apa maksudmu dengan menahanku di rumah?” tanya Eden mengulang pertanyaannya.


            “Jika kau ingin pergi ke luar lagi dengan si brengsek Andrew, aku akan menggunakan Olivia untuk menahanmu. Kau tidak mungkin akan meninggalkan Olivia begitu saja untuk bersenang-senang dengan si brengsek itu kan?” selidik Aciel menyebalkan. Eden hanya memutar bola matanya malas, dan saat Aciel dirasa cukup mengganggu, Eden langsung mendorong dada bidang Aciel agar menyingkir dari jalannya.


            “Aku ingin mengambil gula, kau jangan menghalangi jalanku. Dan ngomong-ngomong, pria yang kau panggil si brengsek itu memiliki nama.” peringat Eden galak. Ia hanya tak suka saat Aciel terlihat kasar seperti dulu.


            “Kau mati-matian membela pria itu, sebenarnya apa yang ia lakukan padamu?” dengus Aciel kesal. Sejak tadi sepertinya moodnya sudah terlalu buruk karena kehadiran Andrew di liburan natal mereka yang tak terencana ini. Meninggalnya tuan Kim membuat Aciel terpaksa mendatangi negara yang paling dihindarinya ini karena


sekarang semua teman-teman Eden, bahkan masa lalunya, sedang berada di sini untuk merayakan pesta pernikahan Summer. Tunggu hingga Eden bertemu dengan Tranz, maka wanita itu akan semakin sulit untuk dikendalikan.


            “Tidak ada. Kau saja yang kekanakan, Ace.” jawab Eden cepat. Ia telah selesai membuat minuman hangat untuk Sian dan Olivia. Dua buah coklat panas kini telah berada di tangan Eden, siap untuk diberikan pada dua tamunya. Tapi Eden meninggalkan satu gelas tetap berada di pantry, dan hal itu membuat Aciel semakin uring-uringan karena diacuhkan oleh istrinya.


            “Ed, kenapa kau tidak membawakan punyaku juga?”


            “Ck, kau bisa membawanya sendiri. Jangan manja Ace.” balas Eden telak dan berhasil membuat Aciel semakin dibuat kesal oleh istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2