
Eden menghentakan kakinya kesal di atas lantai sambil memukul-mukulkan bantal yang tak berdosa pada ranjang king size miliknya dengan brutal. Lagi-lagi Aciel merusak kesenangannya dengan mengurunya di kamar ini setelah kemarin-kemarin ia terus membuat masalah dengan pria itu. Padahal semua itu ia lakukan karena ia sudah muak dengan sikap brengsek Aciel yang selalu sok mengaturnya, sedangkan pria itu dengan seenaknya dapat hidup di luar sana tanpa memikirkan perasaannya yang selalu dilanda sakit hati. Ia membenci dirinya, ia membenci hidupnya, ia membenci perasaan bodoh yang tumbuh di hatinya, dan yang paling penting ia membenci Aciel Lutherford, pria yang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Bahkan pria itu hampir saja membunuh karirnya
dengan membatalkan beberapa tawaran iklan yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan ternama di Vegas. Sial!
“Aku ingin mati! Aku ingin mati! Lepaskan aku pria sialan!” teriak Eden sekeras-kerasnya pada udara kosong. Ia terduduk di samping ranjangnya dengan nafas memburu sambil menatap nyalang pada seluruh isi kamarnya yang nyaris seperti sebuah penjara untuknya. Pintu yang selalu terkunci rapat, jendela yang ditutup menggunakan kayu, makanan yang disajikan menggunakan piring plastik dan sendok plastik, semuanya membuat ia merasa seperti seekor hewan rendahan yang tidak berguna. Eden lalu teringat pada peristiwa tadi pagi saat ia sedang bercermin di depan kaca, di dalam kamar mandinya. Entah kenapa pria itu seperti penyihir yang sangat tahu semua jalan pikirannya. Setiap kali ia hendak bunuh diri, pria itu akan datang di saat yang tepat dan menyelamatkannya. Selain itu setiap malam, saat pria itu akan memperkosanya, ia dapat menceritakan banyak hal tentang kesehariannya selama di dalam kamar.
Jangan-jangan.....
Eden langsung bangkit dan berjalan tergesa-gesa ke dalam kamar mandi. Dibukanya pintu bercat putih
itu lebar-lebar sambil menatap nyalang seluruh isi kamar mandinya. Ia yakin jika pria itu pasti telah menempatkan banyak kamera pengintai di dalam kamarnya. Tidak mungkin pria itu memiliki kekuatan sihir seperti dugaanya,
karena hal itu jelas tidak mungkin terjadi di zaman serba canggih seperti saat ini.
“Pria sialan itu pasti telah menyembunyikan kameranya di sekitar sini.”
Eden mulai mencari barang-barang yang terlihat cukup mencurigakan di dalam kamar mandinya. Melihat vas bunga plastik yang tergletak di atas wastafel membuat Eden curiga dan memutuskan untuk mengangkatnya.
Prangg
Eden melemparkan vas bunga itu ke atas lantai hingga sebuah kamera kecil terlempar keluar dari dalam vas bunga yang sebelumnya tertutup rapat. Eden lalu mulai mencari kamera-kamera milik Aciel yang masih tersembunyi di dalam kamar mandinya. Ia yakin pria itu telah menempatkan banyak kamera di dalam kamarnya yang jumlahnya kemungkinan lebih dari sepuluh.
“Sialan!”
Eden mengumpat kesal ketika lagi-lagi ia menemukan kamera pengintai di dalam kotak obat di dalam kamar mandinya. Bahkan di dalam kotak obat itu ia menemukan dua kamera sekaligus yang digunakan Aciel untuk memata-matainya ketika ia sedang mandi. Pantas pria itu bisa menghafal dengan detail setiap inci tubuhnya karena
pria itu selama ini selalu menontonya ketika mandi.
Setelah puas menyusuri kamar mandi dan menemukan enam kamera di sana, Eden mulai beralih menuju kamarnya. Ia yakin Aciel masih menyimpan banyak kamera di kamarnya yang luas ini.
Brakk
Eden menjatuhkan satu lampu tidur yang sebelumnya terpasang apik di sebelah ranjangnya. Ternyata lampu tidur itu juga merupakan kamera pengintai yang selama ini dipasang Aciel untuk memata-matanya. Lalu ia mengecek di bawah kolong tempat tidurnya dan di balik lukisan yang terpasang cukup besar di kamarnya. Di sana ia menemukan beberapa kamera pengintai milik Aciel dalam keadaan aktif. Ia menghancurkan semua kamera-kmaera itu satu persatu hingga tak ada satupun yang tersisa. Ia tiba-tiba merasa menyesal pada dirinya sendiri. Seharusnya ia menyadarinya sejak dulu jika Aciel pasti akan meletakan banyak kamera pengintai di kamarnya dan menghancurkan kamera-kamera kecil itu sejak dulu agar ia tidak menjadi tontonan gratis untuk pria itu.
-00-
“Hallo princess.”
Eden terkesiap kaget sambil menatap Aciel yang sedang menyeringai kearahnya. Indikator bahaya di dalam kepalanya langsung menyala, dan ia mulai bersiap memasang wajah angkuhnya yang menantang untuk melawan Aciel. Pria itu pasti akan memperkosanya lagi malam ini.
“Sepertinya kau sudah menemukan mainan-mainanku.” ucap Aciel geli sambil melirik serpihan kamera pengintainya yang hancur berkeping-keping di atas lantai. Pria itu kemudian menyapukan seluruh pandangannya ke seluruh sudut kamar Eden yang benar-benar berantakan. Wanita itu ternyata cukup marah setelah mengetahui kebiasaannya yang gemar menonton Eden dari ruangannya.
“Jadi kau menghancurkan kamarmu lagi sayang? Hmm... Kalau begitu malam ini kau akan tidur dalam keadaan kamar yang kacau seperti ini.”
“Apa yang kau lakukan di sini? Pergi!” usir Eden ketus. Rasanya ia begitu muak melihat wajah Aciel yang selalu menunjukan aura mengintimidasi di depannya.
“Aku ingin mengunjungimu sayang, memastikan jika kau jera dengan hukumanmu. Tapi melihat bagaimana kasarnya sikapmu malam ini, aku yakin kau belum juga jera. Kau ingin aku menambah masa hukumanmu?”
Aciel berjalan perlahan mendekati Eden, dan refleks Eden langsung melangkah mundur untuk menghindari Aciel. Kaki-kakinya yang tidak tertutup alas kaki beberapa kali menginjak serpihan kamera pengintai yang dirusaknya hingga terasa nyeri. Namun ia harus tetap melangkah mundur, demi menghindari pergerakan Aciel yang terus mendekat.
“Ada apa sayang? Kau takut padaku?”
Dengan langkah pasti Aciel terus berjalan maju untuk mendekati Eden. Diliriknya sedikit kaki Eden yang sejak tadi terus menginjak serpihan kamera pengintainya yang sudah hancur berkeping-keping di atas lantai. Eden sepertinya kesakitan, namun wanita itu dengan keras kepala terus memaksakan dirinya untuk berjalan mundur.
“Baiklah, aku tidak akan mendekat. Tapi kau yang harus mendekatiku.”
Eden mendecih jijik sambil membuang wajahnya ke samping ketika Aciel dengan santainya menyuruhnya untuk mendekat. Bahkan hingga kiamatpun ia tidak akan pernah mau untuk mendekat kearah pria itu.
__ADS_1
“Lebih baik kakiku menginjak serpihan-serpihan ini daripada mendekat kearahmu.”
“Hmm, mencoba membangkang sayang?” tanya Aciel pelan penuh peringatan. Pria itu dengan gerakan cepat segera menghampiri Eden dan merengkuh tubuh ringkih Eden ke dalam pelukannya. Meskipun berkali-kali Eden memberontak dan memukulnya, Aciel tetap memeluk tubuh rapuh itu hingga Eden lelah dan akhirnya menyerah di dalam pelukannya.
“Aku benar-benar sangat menyukai saat-saat seperti ini. Saat dimana tubuh kita saling menempel dan menguarkan kehangatan yang menentramkan. Eden, kenapa kau tidak memilih untuk menyerah saja? Kau sudah tidak berdaya. Kau tidak punya apapun lagi di dunia ini. Hanya aku yang kau punya. Bahkan ayahmu dengan sengaja memberikanmu padak, jadi terima saja takdirmu sebagai wanitaku di sini Ed.”
“Cih! Aku bukan wanita ******* yang bisa dengan mudah kau beli dengan harta dan juga ketampananmu!” balas Eden sengit yang langsung disambut Aciel dengan kekehan. Pria itu merasa geli dengan kalimat bernada sinis yang diucapkan Eden karena secara tidak langsung kalimat itu sebenarnya merujuk pada dirinya sendiri.
“Ingat Eden, aku yang membebaskanmu dari panti asuhan kumuh itu. Dan aku juga yang menampungmu di sini selama bertahun-tahun. Sudah sepantasnya kau melakukan sesuatu untuk berterimakasih padaku.” bisik Aciel sensual. Eden mulai bergerak tidak nyaman dan berusaha menyingkirkan tubuh Aciel dari tubuhnya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pria itu pasti akan memperkosanya lagi seperti dulu. Memainkan tubuhnya sesuka hati, lalu meninggalkannya begitu saja dalam kekacauan.
“Jangan coba-coba untuk memperkosaku lagi. Pergi dari hadapanku!” bentak Eden sambil memukul punggung Aciel. Aciel yang merasa jengah dengan sikap keras kepala Eden lantas menangkap kedua tangan kurus itu, dan ia menguncinya di belakang tubuh kecilnya.
“Memperkosa kau bilang? Kau bahkan juga menikmatinya saat aku melakukannya. Bagaimanapun aku masih memperlakukanmu dengan lembut daripada ******-****** di luar sana.”
“Tapi kau tidak memperlakukanku sebagai putrimu atau setidaknya anggota keluargamu setelah kau memungutku dari panti asuhan. Kau memperlakukanku seperti binatang rendahan yang dengan sesuka hati dapat kau gunakan kapanpun kau membutuhkannya!”
“ITU SEMUA KARENA KEMAUANMU SENDIRI EDEN!” teriak Aciel penuh emosi di depan Eden. Ia tidak mungkin memperlakukan Eden seperti seorang narapidana jika wanita itu tidak menantangnya. Sejak wanita itu tersakiti karena memiliki angan-angan konyol mengenai keluarga bahagia yang sempurna, Eden mulai berubah menjadi wanita liar yang sulit dikendalikan. Wanita itu selalu saja membantahnya dan hampir melakukan ha-hal bodoh yang sangat mengerikan. Pria mana yang tidak khawatir jika melihat wanita kesayangannya hampir melukai dirinya sendiri? Ia yakin, pria manapun pasti akan melakukan hal yang sama jika memiliki wanita keras kepala dan pembangkang seperti Eden.
“Jika kau tidak menghancurkan kehidupanku, aku juga tidak akan menjadi seperti ini, bertingkah bar-bar dan menjadi wanita liar penghuni club.” balas Eden tak mau kalah. Kedua manusia itu untuk beberapa saat hanya saling bertatapan dengan aura-aura kemarahan yang melingkupi kedua mata mereka masing-masing. Dua orang egois itu sama sekali tidak mau mengalah. Mereka memilih bertahan dengan ego mereka hingga salah diantara mereka yang benar-benar harus mengalah demi kebaikan rumah tangga mereka yang rumit.
“Aku tidak peduli. Sejak aku membebaskanmu dari panti asuhan, hidupmu sepenuhnya adalah milikku. Aku berhak melakukan apapun padamu, karena ayahmu sendiri yang memberikan kuasa penuh untukku atas hidupmu Ed.” seringai Aciel tepat di depan bibir Eden. Eden tiba-tiba saja merasa tercekat dengan tatapan Aciel yang terlihat mengerikan. Ia dengan susah payah mencoba menelan salivanya yang terasa pahit untuk membalas kata-kata penuh intimidasi Aciel. Sayangnya sekeras apapun ia berusaha, pita suaranya seperti sedang terjebak di dalam pusara riak yang begitu menyesakan rongga lehernya. Ia lagi-lagi akan kalah di bawah kuasa Aciel.
“Tenanglah, malam ini aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin kau menemaniku makan malam di meja makan.”
Eden terlihat cukup terkejut ketika Aciel tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membawanya keluar dari kamar penjara yang telah ia tempati sejak kemarin. Perlahan-lahan tubuhnya terayun penuh irama di dalam dekapan Aciel. Tanpa sadar kedua lengannya telah melingkar di leher kokoh Aciel agar ia tidak jatuh. Ketika melewati tangga, Eden sedikit menutup matanya takut saat melewati undakan demi undakan tangga yang begitu tinggi. Di dalam kepalanya ia membayangkan jika Aciel tiba-tiba melemparnya begitu saja dari atas tangga dan akan membuat tubuh ringkihnya jatuh berguling-guling di atas tangga. Ia pasti akan langsung mati saat itu juga.
“Kenapa? Kau takut aku melemparmu dari atas sini?”
Seperti dapat membaca pikirannya, Aciel langsung mengetahui apa yang sejak tadi bersarang di dalam kepala cantik Eden. Pria muda berwajah tegas itu lalu mendecih dan mencibir pada sikap Eden yang terlihat cukup ketakutan di balik dada bidangnya.
Eden refleks mendongakan kepalanya kearah Aciel dan menemukan iris kelam itu juga sedang menatapnya. Entah kenapa saat ini tatapan Aciel sedikit berbeda. Pria itu terlihat lebih lunak dan tidak seperti Aciel yang selama ini ia kenal. Malam ini pria itu terlihat lebih manusiawi dan juga lembut. Dua sisi yang sangat jarang ditunjukan Aciel selama ini.
“Kenapa? Lemparkan saja aku ke bawah.” tantang Eden dengan gaya angkuh. Ia pikir Aciel akan membalas sikap angkuhnya seperti biasa, dengan kata-kata sinisnya. Namun diluar dugaan, Aciel justru tersenyum manis kearahnya sambil mengecup dahinya lembut hingga membuatnya terpaku.
“Aku tidak mungkin melakukan hal itu pada putri sahabat baikku.”
Setitik perasaan hangat tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya dan membuatnya terenyuh. Seorang Aciel yang terkenal jahat dan dingin tiba-tiba bersikap begitu lembut di hadapannya? Sungguh itu adalah sebuah kejadian yang sangat langka. Dan Eden merasa seperti sedang bermimpi. Berkali-kali otaknya menyerukan jika itu tidaknya nyata. Sikap lembut Aciel hanyalah ilusi yang tidak seharusnya ia percaya.
“Makanlah, aku menyiapkannya untukmu.”
Aciel mendudukan Eden dengan hati-hati di atas kursi meja makan yang sudah di tata rapi untuk acara makan malam. Di atas meja tersaji dua buah piring lebar yang berisi pasta keju yang masih mengepulkan asap tipis dan menguarkan aroma yang sangat menggoda. Melihat itu seketika perut Eden merasa lapar. Sejak tadi ia terus menolak menu makanan yang dibawakan oleh pelayan-pelayan di rumah Aciel. Tapi entah kenapa saat melihat pasta-pasta itu, nafsu makannya menjadi meningkat drastis dan ia merasa tidak sabar untuk segera melahap pasta keju yang sangat menggiurkan di depannya.
“Makanlah. Kau pasti lapar.”
Tanpa diperintah dua kali, Eden langsung meraih garpunya dan segera memakan pasta itu dengan lahap. Cita rasa keju yang begitu lembut terasa begitu pas saat dipadukan dengan kenyalnya pasta berjenis fettucini yang di atasnya telah ditambahkan beberapa jumput rempah-rempah khas eropa. Tanpa sadar Eden telah memejamkan matanya sambil menikmati setiap sensasi keju yang terasa meleleh di dalam mulutnya. Apa yang dilakukan oleh Eden, semuanya tidak luput dari pandangan Aciel. Pria itu sejak tadi terus mengamati raut wajah Eden yang sedikit berubah setelah mencicipi pasta buatannya. Ia pikir kali ini ia berhasil mengesankan Eden. Ternyata apa yang dikatakan Sian benar. Sesekali ia memang perlu menyentuh Eden dengan hal-hal romantis agar wanita itu luluh.
“Bagaimana, apa kau suka?”
Eden refleks membuka matanya dan langsung menunjukan ekspresi wajah senormal mungkin di hadapan Aciel. Sambil berdeham ia mulai memakan pastanya pelan-pelan dan sesekali melirik Aciel yang sedang tersenyum kecil di depannya.
“Ii ini... biasa saja.” kilah Eden terbata-bata. Ia dengan susah payah mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar tidak membuat Aciel terlalu percaya diri.
“Benarkah? Aku yang memasaknya sendiri untukmu. Kuharap kita bisa melakukan ini setiap hari.”
Eden terdiam di tempatnya tanpa menanggapi ucapan Aciel. Namun ia tidak bodoh untuk mengartikan maksud dari perkataan Aciel yang menginginkan hubungan mereka membaik. Sayangnya ia tidak akan mungkin menuruti keinginan pria itu. Selamanya ia akan tetap mempertahankan kekeraskepalaanya hingga pria itu suatu saat membebaskannya.
Flashback end
__ADS_1
“Ternyata dulu kau kejam juga. Kau bahkan senang melihatku terus bertengkar dengan Aciel. Dasar!” cibir Eden kesal setelah sesi mendongeng yang cukup panjang dari Sian. Pria itu terkekeh kecil di depannya sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
“Maaf, tapi itu karena kalian lucu. Sudahlah saatnya tidur. Kau pasti lelah sejak tadi terus mendengarkanku mendongeng. Jangan lupa untuk berdoa agar Aciel cepat kembali, mungkin saja kali ini Tuhan akan langsung mendengar doa wanita hamil yang menyedihkan sepertimu.” cibir Sian yang langsung berlari keluar dari kamar Eden sebelum ibu muda itu mengamuk dan melemparkan seluruh bantal-bantalnya kearahnya.
“Dasar menyebalkan. Awas saja, aku akan membalasnya besok.” gumam Eden geram sambil menata bantal-bantalnya untuk tidur. Ia lalu merebahkan dirinya dengan nyaman di sebelah Ciara dan sedikit memiringkan tubuhnya ke kiri untuk memeluk tubuh Ciara yang berisi.
“Maafkan mommy karena dulu hampir membunuhmu. Mommy mencintaimu.”
Eden mengcup pipi Ciara lembut dan mulai memejamkan matanya untuk menyusul putrinya ke alam mimpi. Tanpa Eden sadari, sepasang mata yang terlihat misterus sedang mengintip kegiatan Eden dari celah-celah pintu yang tidak ditutup sempurna. Melihat Eden yang sedang tertidur nyenyak bersama Ciara, membuat sang pengintip itu tersenyum dan berjalan pergi menjauhi kamar Eden untuk kembali berkutat dengan pekerjaanya yang menumpuk.
-00-
Eden membuka matanya, mengerjap-ngerjapkan sebanyak tiga kali sebelum akhirnya kedua matanya terbuka sempurna karena merasa silau dengan gorden kamarnya yang telah terbuka sempurna. Cahaya matahari yang cukup terik menembus masuk ke dalam kamarnya hingga menciptakan kesan hangat yang sebelumnya terasa dingin karena pendingin ruangan. Eden lalu turun dari ranjangnya sambil mengikat tinggi-tinggi rambutnya yang panjang agar tidak basah terkena air. Dengan sedikit malas ia mulai menyalakan keran air dan membasuh wajahnya dengan air dingin agar rasa kantuknya menghilang. Ditengah kegiatan mencuci wajahnya, samar-samar Eden mencium aroma pasta keju yang begitu menggiur dari dalam kamarnya. Namun cepat-cepat ia menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya karena ia tahu jika aroma pasta keju itu hanya halusinanya saja. Tidak mungkin Aciel tiba-tiba hari ini pulang dan membuatkan pasta keju untuknya karena pria itu masih sangat sibuk dengan urusan pekerjaanya yang sangat menyebalkan itu.
“Hikss hikss.. mommy..”
Eden memutar bola matanya malas ketika suara tangisan Ciara mulai terdengar di telinganya. Putri kecilnya itu pasti ingin dibuatkan susu ditengah-tengah kesadarannya yang belum terkumpul sempurna.
“Sebentar sayang, mommy akan membuatkanmu susu.” teriak Eden dari dalam kamar mandi. Secepat kilat ia meraih handuk yang tergantung di samping pintu dan mengelap wajahnya dengan gerakan terburu-buru. Sementara itu suara tangisam Ciara semakin terdengar berisik di luar.
“Ssshhh... Jangan menangis Ciara, mommy akan membuatkanmu susu di bawah.”
“Mommy..”
Ciara merangkak mendekati Eden dan bergelayut manja di perut ibunya sambil terus mengeluarkan suara rengekan yang sangat berisik. Eden lalu menggendong Ciara dan berencana untuk membawanya turun ke bawah. Namun ekor matanya tak sengaja menatap sepiring pasta keju yang terlihat begitu menggiurkan di atas meja kecil di kamarnya. Dengan wajah sumringah, ia segera menghampiri pasta itu dan mengangkat tinggi-tinggi pirinya untuk mencium aroma pasta yang harum.
“Siapa yang memasak ini Ciara?” tanya Eden yang dijawab gelengan oleh Ciara. Rengeken gadis kecil itu terdengar semakin berisik seiring dengan sang ibu yang tampak tak peduli padanya karena perhatian Eden justru terfokus pada sepiring pasta keju yang sangat meggiurkan di tangannya.
“Mommy.. susu!”
“Sebentar sayang.” omel Eden kesal. Ia hendak meletakan piring pastanya kembali ke atas meja, namun terhenti ketika sebuah tangan terulur dari belakang dengan membawa segelas susu.
“Aciel!” Teriak Eden girang. Tanpa mempedulikan gelas susu yang dipegang Aciel, Eden langsung memeluk Aciel erat hingga Ciara terhimpit diantara mereka.
“Eden, kau membuat putri kita terhimpit. Ahh.. susunya tumpah.” pekik Aciel kesal ketika susu putih yang dipegangnya tumpah mengotori bagian depan kemejanya. Eden yang melihat itu langsung menjauh dan mengambil sisa susu yang masih bertahan di dalam gelas untuk diberikan pada Ciara yang semakin menangis kencang akibat ulah bar-barnya.
“Hai, aku pulang. Kau pasti merindukanku.”
“Sangat!” ucap Eden sambil bersiap untuk memeluk Aciel lagi, tapi langsung ditahan Aciel karena Ciara sedang minum susu.
“Awas, Ciara sedang minum susu.”
“Ahh, gadis kecil ini memang sangat diktator seperti ayahnya.”
“Berikan Ciara padaku. Makanlah sarapanmu, aku sudah membuatkannya untuk memenuhi keinginan bayi kita.” ucap Aciel lembut sambil mengusap perut buncit isterinya. Seketika Eden merasa malu dan pipinya bersemu merah. Akhirnya keinginan ngidamnya terpenuhi juga. Dan yang paling membuatnya bahagia adalah saat
melihat Aciel pulang, berdiri di depannya, dan menatapnya dengan tatapan teduhnya yang menenangkan. Ohh... ia ingin memeluk Aciel lagi.
“Aciel, terimakasih.”
“Terkadang aku merindukan sisi galakmu sayang, kau terlihat mengerikan dengan sikap manjamu yang kelewatan ini.” canda Aciel. Eden mengerucutkan bibirnya tidak terima dan mulai berjalan menjauh meninggalkan Aciel. Namun gerakannya segera terhenti ketika Aciel menarik tangannya dan menghimpit tubuh kecilnya dengan tubuh kekar Aciel lalu ******* bibir merah muda itu lembut.
“Semanja apapun dirimu, tapi aku tetap mencintaimu.” bisik Aciel mesra. Pasangan itu hampir saja menautkan bibirnya kembali untuk saling melepas rindu sebelum Sian menginterupis kegiatan mereka sambil menarik Ciara lepas dari dekapan Aciel.
“Jangan nodai mata suci keponakanku dengan perbuatan tidak senonoh yang kalian lakukan. Ciara, ayo ikut paman. Orangtuamu ini benar-benar sudah gila.” omel Sian seperti nenek-nenek yang berhasil membuat Eden tergelak.
“Terimakasih Sian. Tolong bawa Ciara keluar sebentar, karena kami... mungkin akan melepas rindu sedikit lebih lama.” kekeh Eden pelan yang semakin membuat Sian kesal karena sikap dua sepupunya yang benar-benar gila semenjak mereka akur.
__ADS_1