Black Swan

Black Swan
Sian Wedlock (Seventy Seven)


__ADS_3

            “Iya tunggu sebentar!”


            Olivia berlari-lari dari dapur dengan apron yang masih membungkus tubuh rampingnya untuk menyambut seseorang yang dengan berisik telah membunyikan bel di rumahnya berkali-kali hingga membuatnya risih.


            “Siapa sih yang memencet bel seperti itu.” gerutu Olivia kesal. Sian yang baru saja muncul dari kamarnya sambil mendorong kursi roda terlihat sama gusarnya dengan Olivia yang saat ini sedang memutar pengunci pintu di lubang kunci.


            “Sian! Oh ya ampun, ada apa denganmu sayang.”


            Sian langsung saja terdorong ke belakang saat Jessica tiba-tiba memeluknya heboh dan berteriak histeris setelah melihat kondisi Sian yang saat ini masih berada di atas kursi roda. Wanita berambut blonde itu tak kuasa menahan air matanya melihat kondisi Sian yang sangat jauh berbeda dari kondisinya ketika terakhir kali mereka bertemu.


            “Sica, kecilkan suaramu dan cepatlah minggir.” ucap Sian gusar. Kedua lengan kokohnya segera mendorong tubuh Jessica yang sebelumnya masih menempel padanya dengan dramatis.


            “Kenapa kau tidak pernah menghubungiku, Sian? Kau benar-benar kejam.”


            “Aku hanya malas melihat reaksimu yang akan menjadi seperti ini.” balas Sian apa adanya. Pria itu lalu mempersilahkan Jessica beserta suami dan anaknya untuk


masuk ke dalam rumah.


            “Aku bahkan memberitahumu saat aku akan melahirkan waktu itu, tapi kau sama sekali tidak memberitahuku apapun.” Jessica masih saja menggerutu di dalam ruang tamu rumah Sian meskipun pria itu telah meminta maaf berkali-kali. Dan kehebohan Jessica semakin bertambah parah saat ia bertemu dengan Olivia untuk pertama kalinya. Kris yang berada di sebelahnya pun sampai dibuat malu dengan kelakuan istrinya yang semakin ajaib dari hari ke hari.


            “Ya ampun, kau pasti Olivia.” teriak Jessica heboh sambil memberikan pelukan yang terlampau hangat untuk Olivia. “Kemarin Eden memberitahuku tentang kondisimu, dan untung saja aku memang sedang berada di Vegas setelah melahirkan Marc.” lanjut Jessica di depan Olivia. Olivia hanya tersenyum samar dibalik wajah bingungnya. Ia memberikan kode berkali-kali pada Sian untuk menjelaskan semuanya karena ia belum mengenal Jessica seperti ia mengenal Eden atau Aciel.


            “Ini Jessica, wanita berisik ini adalah sahabatku dan Aciel saat kami masih sama-sama remaja. Dan Sica, ini Olivia.”


            “Aku tahu, Eden sudah menceritakan banyak tentang kalian kemarin. Ya ampun, padahal aku berada di Vegas, tapi tidak ada satupun yang memberitahuku jika Sian mengalami kecelakaan dan telah menyembunyikan seorang gadis cantik di rumahnya.”


            “Ehem..” Kris langsung berdeham ketika dirasa ucapan istrinya sudah terlalu melebihi batas. Dan syukurlah Jessica segera sadar dengan sikapnya yang memang terlalu blak-blakan pada Olivia.


            “Oh maafkan aku, yaahh... beginilah aku. Apa Sian tidak pernah menceritakan tentangku padamu?” tanya Jessica pada Olivia ketika ia melihat begitu banyak kerutan yang terlihat jelas di kening Olivia saat wanita itu mulai berceloteh ini dan itu.


            “Eemmm... mungkin Sian hanya belum sempat menceritakannya.” jawab Olivia merasa tidak enak. Sejak dulu Sian hanya sering bercerita mengenai Aciel dan Eden. Sian bahkan belum pernah sekalipun menyebut nama Jessica di depannya. Padahal jika ia melihatnya sekarang, ia yakin jika Jessica pasti adalah teman yang cukup dekat dengan kekasihnya itu.


            “Apa? Kau keterlaluan sekali Sian, bahkan....”


Ting tong


            Suara bel pintu menghentikan suara berisik Jessica yang hendak menceramahi Sian. Pria itu lantas beringsut pergi menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Dan betapa bahagianya Sian saat sosok Eden dan juga anak-anaknya yang ditemukan Sian di depan pintu.


            “Paman Sian!” teriak Ciara girang. Jessica yang mendengar suara ribut-ribut dari dalam langsung keluar begitu saja setelah mendengar suara dari keponakan cantiknya yang menggemaskan.


            “Aunty Jess!” sapa Ciara tak kalah antusias. Rumah Sian mendadak menjadi ramai setelah tamu-tamu yang tak diundang itu datang dan menghiasi rumah sunyi Sian dengan tawa berisik mereka. Olivia yang melihat Eden datang ke rumahnya tampak begitu antusias, dan ia langsung mengambil alih Louise dari gendongan Eden ketika wanita itu tengah kerepotan dengan kereta dorongnya.


            “Apa kalian merencanakan ini?” tanya Sian tak habis pikir. Ia tak menyangka jika rumahnya kali ini yang menjadi sasaran ibu-ibu berisik itu untuk bergosip ria. Padahal biasanya rumah Aciel yang selalu mereka gunakan untuk berkumpul karena memang Aciel memiliki tempat yang luas di rumahnya untuk berkumpul sambil bergosip.


            “Tidak, bahkan aku tidak tahu jika Jessica ada di sini. Ya ampun, apa itu bayimu Jess?” tanya Eden pada bayi mungil berusia satu bulan yang sedang digendong Kriss. Bayi merah yang saat ini sedang membuka matanya itu tampak begitu lucu dengan wajah yang didominasi oleh milik Kriss.


            “Tentu saja. Lihatlah, betapa miripnya Marc dengan Kriss.”


            “Ahh.. kau benar. Dan maaf karena aku belum menjengukmu setelah kau melahirkan, yah... kau tahu sendiri jika Aciel menjadi semakin ketat setelah kecelakaan itu.”


            “Tidak apa-apa Ed, aku tahu bagaimana kerasnya Aciel. Lagipula aku tidak melahirkan Marc di Vegas, aku melahirkannya saat sedang berlibur di Miami. Ya Tuhan, itu sangat gila.” desah Jessica di depan Eden dan juga Olivia. Baru saja Jessica akan membuka mulutnya untuk menceritakan pengalaman melahirkan Marcnya yang tak


terduga, tapi kata-katanya segera diinterupsi Kriss yang datang sambil menyerahkan Marc ke pangkuannya.


            “Aku akan mengobrol di luar bersama Sian.”


            “Oh baiklah, taruh saja Marc di sini bersama kami. Oh ya, sampai dimana kita tadi?” tanya Jessica pada Eden tanpa menghiraukan Kriss yang hanya menggelengkan kepalanya maklum melihat sang istri yang selalu heboh seperti itu bila bertemu dengan teman-temannya.


            “Sampai....”


            “Oh ya, Miami dan juga Marc!”


            Eden dan Olivia kompak saling bertatapan ketika Jessica kembali heboh untuk menceritakan pengalamannya ketika melahirkan Marc.


            “Jessica memang seperti ini, jangan kaget bila nanti ia akan terlihat lebih heboh dari ini.” bisik Eden pada Olivia. Wanita itu langsung terkikik geli di sebelah Eden saat melihat Jessica yang memang sangat heboh diantara teman-teman Sian yang lainnya. Tapi yang membuat Olivia sangat terhibur adalah saat ia bisa bermain-main bersama Louise yang menggemaskan. Ternyata selama ini Sian memang benar, pria itu bahkan tidak bisa berhenti menceritakan kegemasannya pada Ciara dan juga Louise setiap kali mereka membicarakan keluarga unik milik Aciel.

__ADS_1


            “Kalian tahu, Marc lahir saat usia kandunganku baru delapan bulan.”


            “Benarkah? Bukannya waktu itu kau baru saja mengunjungiku dan bermain-main bersama Louise?”


            “Ya kau benar, empat hari setelah aku mengunjungimu, aku dan Kriss pergi ke Miami. Niat hati kami ingin berlibur sebelum aku disibukan dengan kegiatan mengurus bayi. Tapi ketika kami berada di sana, tiba-tiba aku merasakan kontraksi hingga aku langsung dibawa ke rumah sakit setempat oleh orang-orang yang membantuku


saat itu.”


            “Wow....” komentar Eden singkat. Ia terlihat kehabisan kata-kata untuk mengomentari cerita Jessica sudah terlalu heboh itu.


            “Syukurlah kalian diberikan banyak berkat oleh Tuhan. Bayimu lucu sekali Jess, sangat mirip dengan Kriss.”


            “Ah iya, bahkan bayimu juga tidak seheboh dirimu.” tambah Eden dengan gelak tawa. Jessica tampak cemberut mendapatkan sindiran yang begitu keras dari Eden. Ia sadar, ia memang terlampau cerewet dan juga berisik. Tapi mau bagaimana lagi, akhir-akhir ini ia memang lebih sering menyikapi semua hal dengan heboh.


            “Tunggu sampai Aciel datang nanti, pasti rumah ini akan semakin tak terkendali.”


            “Jadi Aciel akan datang? Kupikir kali ini dia sudah memberimu ijin penuh untuk pergi keluar tanpanya.”


            “Hmm.. kurasa itu akan sangat sulit, dia semakin overprotektive saja sejak kejadian itu.” keluh Eden malas. Jari-jari lentik Eden yang sebelumnya diam, kini mulai menari di udara ketika suara rengekan Louise terdengar di sebelahnya.


            “Tidak apa-apa, Lou hanya bosan, iya kan sayang?” ucap Eden sambil tersenyum jenaka kearah Louise, membuat bayi itu mau tak mau ikut tersenyum bersama dengan ibunya yang lucu. Olivia yang sebelumnya panik, kini kembali terlihat tenang dan ia juga berusaha menghibur Louise dengan mainan-mainannya yang dibawa oleh


Eden dari rumah.


            “Ngomong-ngomong....” Olivia terlihat ragu untuk mengatakannya pada Eden dan juga Jessica. Kegugupan yang dialami Olivia itu langsung saja diketahui oleh Eden, sehingga wanita itu langsung mengelus pundak Olivia dan tersenyum kearah wanita itu untuk mengisyaratkan jika semua akan baik-baik saja jika Olivia ingin mengatakan


sesuatu.


            “Tentang pertanyaan Aciel waktu itu...”


            “Ah... Ace tidak serius waktu itu, kau tidak perlu terlalu memikirkannya.” potong Eden cepat. Ia sedikit tidak enak pada Olivia yang sepertinya merasa tertekan dengan ucapan Aciel waktu itu di rumah sakit.


            “Bukan, aku tidak apa-apa, sungguh. Tapi setelah kupikir-pikir apa yang dikatakan oleh Aciel memang benar, dan Sian beberapa hari yang lalu telah memintaku untuk menjadi istrinya. Jadi... apakah kalian mau membantuku dan Sian untuk menyiapkan pernikahan kami?” tanya Olivia malu-malu. Jessica dan Eden kompak saling bertatapan sambil menyahut dengan suara keras, “Tentu saja! Kami pasti akan membantumu mempersiapkan pesta pernikahan kalian.”


            “Ed...”


            “Pegang Marc!” Jessica tiba-tiba memindahkan Marc ke pangkuan Eden, dan ia sendiri langsung berlari ke teras depan unuk mengucapkan selamat pada Sian.


            “Yahh begitulah Jessica.” ucap Eden dengan tawa keras pada Olivia. Sikap ajaib Jessica hari ini telah membuat hubungan diantara mereka menjadi hidup dan tidak kaku. Bahkan Olivia terlihat sudah semakin terbuka pada mereka untuk menceritakan semua gajalan yang mengganggunya akhir-akhir ini. Termasuk rasa bersalahnya pada Sian yang tidak pernah ia ceritakan pada Sian karena pria itu harus mendonorkan satu korneanya untuknya. Namun hal itu langsung ditepis Eden dengan senyuman. Eden menjelaskan pada Olivia jika semua hal yang dilakukan Sian bukan semata-mata karena Sian merasa kasihan, namun karena rasa cinta Sian yang begitu besar pada Olivia hingga membuat Sian rela melakukan apapun demi Olivia. Wanita itu akhirnya mengerti dan mengucapkan banyak terimakasih pada Eden dan juga Jessica karena mereka saat ini adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki selain Sian. Dan Olivia juga menegaskan pada Eden jika ia akan selalu ada untuk Eden atau Jessica jika kedua wanita itu membutuhkan bantuannya karena mulai sekarang mereka akan menjadi sebuah keluarga yang hangat dan juga manis.


-00-


            Olivia menatap pantulan dirinya melalui cermin besar yang menjulang tinggi di depannya. Sebuah gaun putih telah terpasang dengan manis di tubuhnya lengkap dengan sebuah mahkota kecil yang menghiasi rambut ikalnya. Ini sempurna, bisik Olivia pada dirinya sendiri sambil sesekali mengibaskan ekor gaunnya ke kanan dan ke kiri. Persiapan pernikahannya yang hanya dilakukan selama dua minggu nyatanya tidak seburuk yang ia pikirkan. Sempat ia merasa khawatir dengan acara pernikahannya karena ia tidak yakin dengan rencana gila Sian yang dicetuskan saat itu. Ditambah lagi Sian juga mendapatkan dukungan penuh dari kedua sahabatnya, membuat Olivia tak berkutik untuk membantah Sian dan mengajukan perpanjangan waktu untuk mempersiapkan semua keperluan pesta pernikahannya.


Cklek


            “Olive...” Eden tiba-tiba datang dan meyembul dibalik pintu kayu besar yang menjadi pembatas antara ruang tunggu mempelai wanita dan aula gereja. Segera saja Olivia tersenyum melalui cermin yang memantulkan bayangannya, ia lalu melambai kearah Eden agar mendekat kearahnya.


            “Aku gugup.” bisik Olivia pelan. Eden tampak tersenyum maklum dan memberi penguatan pada Olivia agar melupakan demam panggungnya.


            “Hal seperti ini biasa terjadi pada calon pengantin, kau tenang saja.”


            “Benarkah? Kau juga merasakan apa yang kurasakan?”


            “Emm... mungkin iya, entahlah, aku lupa.” balas Eden terkekeh. Jangankah pesta penikahannya, suaminya sendiri saja bahkan ia lupa saat itu. Yah... beruntung Aciel memasang foto pernikahan mereka besar-besar di ruang keluarga, sehingga sampai sekarang ia cukup yakin jika ia dan Aciel telah menikah.


            “Ayo kita keluar, nyonya Han sejak tadi terus menanyakan mempelai wanitanya yang cantik ini.” goda Eden sambil mencolek ujung hidung Olivia gemas. Bersamaan dengan suara tawa Olivia, pintu kayu di belakang mereka terbuka, menampilkan tubuh tegap Aciel yang tampak begitu gagah dengan balutan tuxedo. Hari ini Aciel yang akan menjadi pendamping Olivia untuk berjalan ke altar. Anggap saja Aciel sedang ingin berbalas budi pada Sian karena dulu Sian yang menjadi pendamping Eden ketika wanita itu berjalan menuju altar.


            “Apa kau sudah siap? Sian sepertinya hampir mati karena gugup menunggumu di altar.” kelakar Aciel. Olivia hanya tersenyum malu-malu menanggapi Aciel. Dan saat Eden memberikan kode pada Aciel jika Olivia telah siap, pria itu segera memberikan lengannya untuk digandeng oleh Olivia.


            “Kau pasti bisa. Percayalah ini hanya sebentar, setelah itu kau akan dilingkupi perasaan bahagia yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Dan oh, ini bungamu, Olive.” Eden mengangsurkan sebuket bunga lili putih yang telah dirangkai dengan begitu cantik oleh nyonya Han. Itu adalah hadiah pernikahan yang diberikan nyonya Han pada Olivia sebagai tanda kasih sayang karena Olivia telah ia anggap sebagai putrinya sendiri.


            “Jaga Olive baik-baik, kau jangan berjalan terlalu cepat.” pesan Eden pada Aciel sebelum dua orang itu pergi meninggalkannya menuju altar.


            “Kau tenang saja sayang, tunggu aku di barisan paling depan.” balas Aciel mesra hingga membuat Olivia yang melihatnya tersipu malu. Setiap ia melihat kemesraan yang ditunjukan oleh Aciel dan Eden, Olivia selalu merasa iri dan membayangkan kehidupan pernikahannya nanti bersama Sian. Ia ingin kehidupan pernikahannya

__ADS_1


berjalan indah seperti milik Aciel dan Eden. Ia juga ingin diberikan anak-anak yang lucu seperti Ciara dan juga Louise yang saat ini telah resmi menjadi keponakan favoritnya.


            “Jika kau merasa ragu, kau harus selalu meyakinkan dirimu sendiri jika Sian adalah pria yang tepat untukmu. Aku telah mengenal Sian sejak lama, dan sejauh ini aku belum pernah dikecewakan oleh pria itu.” Aciel mencoba mengajak berbicara Olivia yang sejak tadi tampak gugup. Cekalan tangan wanita itu di lengannya terasa begitu kaku dan tegang seiring dengan langkah mereka yang hampir mendekat menuju altar. Dari kejauhan Aciel dapat melihat sahabatnya yang sedang menunggu Olivia di atas kursi rodanya dengan wajah yang sama pucatnya seperti Olivia. Rasanya Aciel ingin mengejek Sian yang dulu juga pernah mengejek wajah tegangnya saat akan mengucapkan janji suci bersama Eden.


            “Jaga baik-baik calon istrimu, aku percaya kau pasti bisa.” Aciel berbisik pelan pada Sian dan menyerahkan tangan Olivia untuk digenggam oleh Sian. Suasana gereja yang begitu syahdu dengan lagu-lagu klasik yang dinyanyikan oleh anak-anak penyanyi gereja membuat suasana di dalam gereja itu semakin membuat kedua pengantin gugup. Berkali-kali Sian membenarkan letak dasinya yang sama sekali tidak miring untuk mengalihkan rasa gugup yang semakin mencekiknya.


            “Acara pemberkatan pernikahan akan segera dimulai.”


            Pastur yang memimpin jalannya upacara pernikahan mulai mempersiapkan diri untuk menyatukan dua insan yang saling mencintai itu. Di bangku terdepan, Aciel dan Eden sama-sama terkikik geli dengan sikap Sian yang begitu kaku saat memegang jari-jari bergetar Olivia yang tertutupi sarung tangan.


            “Mommy... aunty Olive cantik.” komentar Ciara di sebelah Eden. Gadis kecil itu tampak sangat berkonsentrasi menyaksikan upacara pernikahan paman dan bibinya yang saat ini sedang berlangsung khidmat.


            “Sian sepertinya hampir mati karena gugup.” bisik Eden geli. Jika saja suasana di gereja ini tidak benar-benar syahdu, Eden pasti akan segera menunjukan tawa kerasnya pada semua orang. Sian yang saat ini berada di altar, tidak terlihat seperti Sian yang ia kenal.


            “Kau dulu juga seperti itu, kau bahkan mencengkeram lenganku dengan kuat hingga membuatnya lecet.”


            “Benarkah? Sepertinya kau sedang berbohong.” balas Eden tak terima. Terkadang Aciel memang sengaja memanfaatkan amnesianya untuk mengerjainya dengan menceritakan hal-hal bohong yang sebenarnya tidak benar-benar terjadi di masa lalu.


            “Kau bisa menanyakannya pada Kim kalau begitu.” ucap Aciel acuh tak acuh. Tiba-tiba saja ia merasa Eden mencubit pinggangnya, dan hal itu langsung membuat Aciel beringsut menjauh sambil memberikan tatapan tajam kearah Eden. “Jangan mencubitku.”


            “Jangan membohongiku kalau begitu. Ini, kau gendong saja Louise, ia mulai rewel.” ucap Eden menyebalkan sambil menyerahkan Louise yang baru saja ia angkat dari dalam kereta dorongnya. Aciel lalu menerima Louise begitu saja tanpa membalas Eden, dan ia mulai larut dalam upacara pernikahan Sian yang begitu sakral.


            “Akhirnya Sian tidak lagi menjadi bujang menyedihkan.”


            “Apa? Kau bilang apa?” tanya Eden di sebelahnya saat ia merasa jika telinga sensitifnya seperti mendengar suara gumaman dari bibir Aciel.


            “Bukan apa-apa, perhatikan saja Sian dan Olive.”


-00-


            Malam harinya pasangan Sian dan Olivia menggelar acara resepsi pernikahan sederhana di sebuah taman yang berada di dekat kantor milik Aciel. Taman yang sebagian besar pembangunannya didanai oleh perusahaan Aciel itu menjadi pilihan Olivia karena ia merasa jika taman itu begitu cantik jika dijadikan sebagai tempat resepsi pernikahan. Dan tentu saja keinginan itu langsung dikabulkan oleh Sian dengan bantuan Aciel karena pemerintah setempat tidak mungkin akan melarang Aciel yang notabenenya telah menjadi pemberi sumbangan terbesar untuk pembangunan taman itu untuk mengadakan resepsi pernikahan di sana.


            “Selamat bung, akhirnya kau resmi menjadi seorang suami.” Aciel memberikan pelukan hangat pada Sian yang sedang beristirahat dari kegiatannya menyalami tamu-tamu. Dengan wajah bahagia yang tercetak jelas di wajahnya, Sian mengucapkan banyak terimakasih pada Aciel dan juga Eden yang telah membantunya untuk mempersiapkan pernikahannya dalam kurun waktu yang sangat singkat.


            “Yeah, akhirnya aku tidak menjadi satu-satunya pria menyedihkan yang selalu kau buat iri dengan kemesraanmu dan Eden.”


            “Jadi... akan ada berapa Sian kecil nantinya?” goda Aciel nakal yang langsung dihadiahi dengan tinjuan kecil di lengan pria itu oleh Sian.


            “Aku akan membuat yang lebih banyak dari milikmu.”


            “Aw... Olive, bersiaplah karena Sian sangat liar.”


            Wajah Olivia langsung berubah merah padam saat Aciel terus menggodanya dengan sangat memalukan. Eden yang berada di sebelahnya langsung memukul lengan Aciel sambil memberikan tatapan galak agar pria itu tidak menggoda Olivia terus menerus.


            “Santai saja, ia pasti tidak akan bermain kasar.” ucap Aciel lagi dengan kerlingan nakal. Dan saat Eden hampir memukul lengannya lagi, pria itu langsung berlari pergi sambil menggendong Ciara yang tampak tidak mengerti dengan ucapan orang-orang dewasa di sekitarnya.


            “Abaikan saja pria nakal itu, dia sedang kehabisan obat.”


            “Tidak apa-apa, Aciel sangat lucu, ia bisa mengurangi kegugupanku.”


            “Ya ampun, apa kau masih saja gugup setelah mengucapkan janji suci dengan lancar?” tanya Eden tak habis pikir. Padahal ia pikir kegugupan Olivia akan berakhir setelah ia berhasil melewati proses pemberkatan yang memang biasanya adalah bagian yang paling menegangkan dalam setiap upacara pernikahan.


            “Ahh... ya, aku selalu gugup.”


            “Tenang saja sayang, aku tidak akan menggigitmu nanti malam.” bisik Sian yang berhasil didengar oleh Eden dengan jelas. Wanita itu hanya mampu menggelengkan kepalanya tak habis pikir pada kejahilan Sian yang sama saja dengan Aciel.


            “Sudahlah, Louiseku akan semakin teracuni oleh kata-katamu dan Aciel. Lebih baik aku pergi untuk menikmati pestanya dan mencicipi makanan-makanan yang lezat di sini. Sekali lagi selamat untukmu dan Olivia, aku bahagia untuk kalian. Dan aku juga sangat menunggu kabar gembira dari kalian setelah ini. Tuhan memberkati


kalian.” ucap Eden haru yang disusul dengan pelukan singkat yang diberikan oleh Olivia. Sambil menyeka air matanya, Eden berjalan pergi meninggalkan pasangan pengantin itu untuk mencari Ciara dan juga Aciel. Tanpa sadar semua hal yang terjadi hari ini telah membawa Eden pada sebuah ingatan buram yang entah mengapa tiba-tiba muncul di kepalanya. Sebuah bisikan seperti, aku bersumpah akan terus mencintaimu dan menjagamu sampai maut memisahkan kita¸ terus saja berputar di otaknya dan membuat Eden menyunggingkan senyum kecil saat mengetahui suara siapa yang sejak tadi terus menghantuinya.


            “Hey, aku mencarimu.”


            Eden tersenyum manis pada Aciel yang tiba-tiba muncul sambil menggendong Ciara yang sedang sibuk menjilati permen. Dengan mesra Eden melingkarkan tangannya di lengan Aciel, lalu ia sedikit berjinjit dan berbisik di telinga Aciel dengan mesra, “Terimakasih.”


            “Untuk?”

__ADS_1


            “Untuk sesuatu.” jawab Eden asal dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya. Terimakasih karena telah menjadi takdirku, Aciel Lutherford.


__ADS_2