Black Swan

Black Swan
Special Chapter Epilog : Morning Sickness! (Louise Pregnancy) (Sixty Seven)


__ADS_3

          “Hahhhh... hahhhh... hahhh... Ini benar-benar buruk.”


            Eden terengah-engah di dalam kamar mandi sambil membasuh bibirnya yang baru saja


memuntahkan seluruh makanannya akibat morning sickness yang menderanya sejak dua minggu yang lalu. Memasuki bulan ke lima kehamilannya, ia mulai merasakan serangan morning sickness yang sangat mengerikan hingga rasanya ia nyaris pingsan karena tidak bisa menahan semua gejolak perasaan tidak enak yang terus menghinggapinya sepanjang hari. Bahkan kondisi itu semakin terasa parah sejak kepergian Aciel minggu lalu. Sejak Aciel melakukan perjalanan bisnis ke Chester, ia merasa morning sickness-nya semakin parah. Ia tidak bisa makan apapun selain biskuit. Semua makanan yang diberikan oleh pelayan Aciel hanya akan membuatnya merasa mual. Terlebih lagi setiap saat ia selalu merindukan Aciel, entah karena apa. Padahal dulu ia teramat sangat


membenci pria itu. Tapi kini semuanya seperti berbalik. Janinnya sungguh sangat menyukai ayahnya hingga ia dibuat kerepotan dengan semua perasaan rindu yang terus saja bergejolak sejak ia mengandung anak ke duanya.


            “Bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik?”’


            Sian muncul dari balik pintu sambil menggendong Ciara yang sedang bermain-main dengan boneka kuda poninya. Pria bergusi pink itu masih menggunakan pakaian kantor lengkap dan tampak baru saja kembali dari kantor.


            “Tidak, aku justru merasa semakin buruk. Kapan Aciel pulang?”


            Sian menaikan alisnya heran dan sedikit terkekeh geli melihat ekspresi wajah Eden yang terlihat seperti remaja kasmaran yang sudah ditinggalkan kekasihnya selama berbulan-bulan.


            “Bahkan Aciel baru pergi selama seminggu Ed. Bukankah kau senang jika Aciel pergi? Siapa dulu yang mengatakan jika ia sangat membenci pria keparat seperti Aciel Lutherford?” sindir Sian yang berhasil membuat Eden gusar. Jika saat ini ia tidak sedang mengalami morning sickness, ia pasti akan bersorak girang dengan kepergian Aciel. Terlebih lagi selama Aciel pergi ia akan terbebas dari olahraga malam yang sangat melelahkan bersama Aciel. Tapi entah kenapa sekarang semuanya terasa berbeda. Kepergian Aciel justru membuatnya sedih dan terkadang membuatnya menangis tanpa sebab. Bahkan beberapa jam yang lalu ia baru saja menangis setelah melihat foto pernikahannya dan Aciel satu bulan lalu yang terpajang di dinding kamarnya. Benar-benar aneh!


            “Ciara, lihatlah ibumu yang sedang terjangkit virus rindu.” ucap Sian sambil mencolek pipi Ciara yang chubby. Gadis kecil itu lantas menoleh pada ibunya dan meminta pada sang paman untuk menurunkannya karena ia ingin berada di dekat ibunya.


            “Mommy.. Ciara mau susu.” rengek Ciara mulai manja. Eden menarik nafas panjang di depan Ciara sambil mengelus kepala Ciara lembut agar gadis kecil itu tidak merengek-rengek di depannya. Saat ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Perutnya masih terasa mual, dan sejak tadi ia ingin sekali makan masakan buatan Aciel yang


dulu pernah pria itu buatkan untuknya. Benar-benar ia sedang stress sekarang. Semua hal yang ia inginkan tidak ada di depannya, sedangkan saat ini ia sangat lapar dan hanya ingin memakan masakan buatan Aciel. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Kemarin ia sempat menghubungi Aciel untuk menanyakan jadwal kepulangannya. Tapi sayangnya ia harus menelan kekecewaan karena Aciel paling tidak baru akan pulang minggu depan. Itupun jika urusannya di Chester berjalan lancar, jika tidak maka ia akan tinggal di Chester lebih lama lagi. Mendengar itu rasanya Eden ingin berteriak dan menyusul Aciel ke Chester karena ia sudah tidak tahan lagi dengan semua serangan morning sickness yang menderanya. Ia  tidak ingin mengalami kehamilan yang merepotkan seperti ini, dan jika ia bisa ia ingin segera melahirkan agar tidak perlu melewati masa-masa morning sickness yang menyiksanya.

__ADS_1


            “Sian, kau bisa buatkan Ciara susu?”


            “Ia baru saja menghabiskan segelas susu Ed. Ia pasti hanya ingin bermanja-manja dengnmu.” ucap Sian memberitahu. Eden menatap Ciara prihatin sambil mencubit pipi Ciara lembut. Sejak ia mengalami morning sickness dan Aciel melakukan perjalanan bisnis, ia jadi jarang mengurus Ciara. Semua yang berkaitan dengan Ciara ia serahkan pada para pelayannya dan juga Sian karena ia benar-benar sudah tidak sanggup untuk mengurus Ciara. Tapi, terkadang ia juga merasa kasihan pada Ciara karena sesekali gadis kecil itu juga ingin menghabiskan waktunya dengan bermain bersama sang ibu. Sayangnya hal itu tidak bisa dilakukan Eden karena semua hal yang ia lakukan justru memicu serangan morning sicknessnya menjadi semakin parah.


            “Apa yang harus kulakukan? Aku semakin merasa frustrasi dengan serangan morning sickness ini.” keluh Eden lesu. Sian tersenyum menenangkan pada istri sahabatnya dan mengambil tempat di sebelah Ciara untuk mengelus puncak kepala Eden lembut. Sebagai satu-satunya keluarga yang dimiliki Eden selain Aciel dan Ciara, ia selalu berusaha untuk memberikan masukan-masukan yang positif untuk Eden. Meskipun ia bukanlah manusia yang benar-benar sempurna, tapi setidaknya ia bisa memberikan sedikit nasihat untuk istri sahabatnya yang sedang dilanda kerinduan akibat ditinggalkan sang sahabat yang sedang memperbesar kerajaan bisnis mereka di benua Eropa.


            “Kau sudah menghubungi Aciel? Video call mungkin bisa membantu.”


            “Sudah, tapi tidak ada perubahan apapun. Aku tetap mengalami morning sickness dan mengalami perubahan mood yang sangat menyebalkan. Apa kau tahu, aku baru saja menangis hanya karena melihat foto pernikahanku dan Aciel di ujung sana. Selain itu, kemarin aku juga menangis sampai kedua mataku bengkak hanya karena melihat tumpukan kemejanya di lemari. Kupikir semakin lama aku akan semakin gila karena hormon kehamilan ini.”


            Sian tertawa terbahak-bahak menertawakan cerita konyol Eden yang sangat tidak masuk akal. Bahkan dulu saat mengandung Ciara istri sahabatnya itu tidak separah ini. Ia juga mengalami morning sickness yang cukup parah selama mengandung Ciara, namun tidak sampai menangis hanya karena melihat kemeja milik Aciel yang berada di dalam lemari, justru dulu mereka sering mengumpat satu sama lain dengan berisik. Mungkin dua manusia itu memang sudah sama-sama gila. Jika Aciel selama ini terlalu gila pada Eden hingga nekat melakukan apapun untuk menahan wanita itu di sisinya. Eden justru gila karena sekarang tidak bisa berpisah dengan pria itu barang sedetikpun!


            “Kurasa kau sudah gila Ed. Lihatlah penampilanmu, semakin lusuh dan kusut semenjak Aciel pergi. Mungkin ini karma untukmu karena dulu kau menyia-nyiakan Aciel.”


            “Padahal dulu kau tidak seperti ini.” kekeh Sian penuh misteri. “Mau mendengar kesan pertamaku saat bertemu denganmu Ed?” Eden terlihat tertarik dengan ucapan Sian dan berharap pria itu mau memberitahunya lebih. Ia ingin tahu bagaimana dirinya dimata sahabat dekat suaminya sekaligus teman dekat ayahnya juga. Pasti akan sangat lucu jika mendengar cerita dari Sian yang selalu melemparkan cerita-cerita konyol padanya.


            “Kenapa? Ceritakan padaku.” tuntut Eden tidak sabar.


            “Kau yakin ingin mendengarnya? Ini bukan cerita yang menyenangkan untuk didengar. Tapi... baiklah jika kau memaksa, aku akan menceritakannya.”


            Eden mulai mengatur posisi duduknya agar lebih nyaman sambil mengelus puncak kepala Ciara yang ternyata sudah terlelap di sebelahnya dengan boneka kuda poni di pelukannya. Eden lalu mengecup pipi chubby Ciara sekilas sebelum akhirnya ia terhanyut dalam cerita Sian yang akan sangat panjang untuk menemani waktu sorenya yang membosankan.


Flashback

__ADS_1


Prangg! Brukkk


            “Brengsek! Kau Iblis!”


            Sian menghela nafas pelan ketika melewati kamar bercat coklat milik putri Brexton yang sejak menjadi anak angkat dari sahabatnya itu tidak pernah sekalipun terlihat baik-baik saja. Setiap harinya ia selalu mendengar suara makian, suara barang pecah, dan suara-suara keras lainnya yang sangat mengganggu indera pendengarannya. Padahal mereka sudah cukup lama tinggal bersama hingga sering berbagi ranjang berdua di malam-malam yang dingin, tapi tetap saja saat pagi datang, suara-suara makian itu akan terdengar nyaring di seluruh penjuru mansion ini. Hubungan mereka bahkan semakin buruk setelah Eden mengalami keguguran sekaligus patah hati karena sikap brengsek Aciel. Terkadang ia merasa menyesal, mengapa dulu ia tidak memperhatikan Eden dengan lebih intens agar putri Brexton itu tidak kehilangan calon bayinya karena ulah nekat Eden yang saat itu memang berencana untuk melakukan bunuh diri. Ia benar-benar sangat menyayangkan keputusan sepihak Eden yang dengan gegabah ingin melenyapkan bayi tak berdosa itu.


            “Apa yang kali ini ia lakukan?”


            Seperti sudah hafal dengan kebiasaan Eden, Sian bertanya dengan santai sambil melongokan sedikit kepalanya ke dalam kamar yang selama ini selalu menjadi tempat untuk mengamankan putri Brexton jika ia mulai mengamuk.


            “Ia pergi bersama salah satu hamanya dan baru pulang pukul dua dini hari, lalu aku menghajar pria itu dan dia marah.” ucap Aciel gusar sambil menggulung lengan kemejanya sebatas siku. Berurusan dengan Eden yang sangat keras kepala membuatnya harus mengeluarkan banyak tenaga ekstra hingga membuatnya gerah. Memiliki wanita yang harus dilindungi ternyata tidak mudah. Setiap saat ia harus selalu waspada karena Eden adalah tipe wanita nekat yang pembangkang. Dua hari yang lalu wanita itu juga membuat dengan menyiram salah satu klien wanitanya yang memang sedang bertingkah mesum di depannya dengan segelas kopi yang dihidangkan asistennya. Lalu di hari sebelumnya Eden juga pergi ke club dengan pakaian minim yang berhasil membuat Aciel menggeram marah dari kejauhan sambil memperhatikan sikap ****** Eden yang sangat menjijikan. Dan kini setelah


serangkaian sikap menyebalkan yang dilakukan Eden, Aciel mulai mengambil langkah tegas dengan memperlakukan Eden seperti tahanan. Wanita itu dikurung di dalam kamar tanpa fentilasi yang di dalamnya hanya tersedia satu ranjang king size dan kamar mandi. Selain itu Aciel juga membuang seluruh kaca dan barang-barang tajam di kamar itu agar Eden tidak coba-coba untuk melakukan bunuh diri. Setiap pergerakan yang dilakukan Eden terus ia awasi menggunakan beberapa cctv yang ia letakan di tempat-tempat tersembunyi di kamar itu. Dan


jika Eden ingin mandi atau mengganti pakaian, maka Aciel menugaskan satu pelayannya untuk berada di sana dan mengawasi Eden. Tentu saja hal itu tidak dilakukan Aciel terlalu lama, ia hanya ingin sedikit memberikan efek jera pada Eden setelah cara-cara lembut tidak bisa melunakan sikap Eden yang terlampau melebihi batas.


            “Sudah kubilang jika ini akan merepotkan, tapi kenapa kau tetap mencari gara-gara dengannya? Biarkan saja ia mencari hiburan di luar sana. Eden sudah besar Ace, kau tidak bisa lagi mengekangnya untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Atau kau sebenarnya cemburu dengan kedekatan Eden dan hama-hamanya?” goda Sian menyebalkan.


           “Diamlah, kau tidak tahu apa-apa!” bentak Aciel galak dan segera berlalu pergi meninggalkan Sian sendiri. Melihat itu Sian hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Cinta memang dapat merubah segalanya. Bahkan pria dingin dan mengerikan seperti Aciel dapat berubah menjadi pria lemah hanya karena cinta, sebuah emosi yang dulu tidak pernah ada di dalam kamus hidup sahabatnya itu. Tapi sebenarnya cukup menyenangkan ketika melihat sahabatnya itu mulai kalang kabut setiap Eden mulai membuat masalah. Ia seperti sedang menonton sebuah drama penuh intrik yang sangat seru di rumah mereka. Bahkan ia selalu


tidak sabar untuk menonton adegan-adegan yang akan diperankan oleh sahabat dan juga putri angkatnya itu setiap harinya.


            “Hmm.. aku benar-benar tidak sabar untuk menonton adegan berikutnya.” seringai Sian licik pada pintu kayu yang berdiri kokoh di depannya.

__ADS_1


__ADS_2