Black Swan

Black Swan
I Love You From My Deepest Heart (Fourty Eight)


__ADS_3

Kenapa rasanya sulit memberikan cinta untukmu. Tapi... hatiku selalu berdebar setiap kali berada di dekatmu. Mungkinkah aku pernah mencintaimu? –Eden –


Meskipun kau melupakan cintamu untukku, tapi aku yakin jika suatu saat kau akan kembali padaku. Karena jantungmu hanya berdetak untukku. –Aciel –


            Pria itu terduduk kaku di sudut ruangan sambil mengamati setiap pergerakan yang akan ditimbulkan wanitanya di atas ranjang. Namun sayangnya hingga hari ke tujuh sejak kejadian mengerikan yang menimpa wanitanya, pria itu belum juga melihat adanya tanda-tanda wanita itu akan membuka mata dan menyambutnya penuh cinta. Ia merindukan pelukan hangat istrinya...


            “Eunghh..”


            Suara lenguhan yang tiba-tiba terdengar dari atas ranjang membuat Aciel bersiaga dan menatap was-was pada sang objek pemandangan yang saat ini mulai membuat gerakan-gerakan kecil di atas ranjang. Dengan penuh antipati, Aciel menunggu istrinya membuka mata sambil mengepalkan tangannya penuh emosi dibalik saku celana kerjanya yang sudah terlihat kusut di beberapa sisinya karena ia terlalu lama duduk di atas sofa untuk menunggu istrinya membuka mata.


            Sudah hampir seminggu Aciel menunggu Eden untuk membuka mata pasca istrinya mengalami kecelakaan saat sedang berbelanja di supermarket. Istrinya tertabrak mobil. Saat itu ia yang sedang sibuk seperti biasa membiarkan istrinya pergi ke supermarket bersama dengan supir pribadi mereka, karena memang Eden sudah terbiasa melakukannya sendiri tanpa pernah ia menemani. Tapi tiba-tiba di suatu sore yang menenangkan, ia mendapatkan kabar jika Eden tertabrak mobil dan mengalami luka yang cukup serius di bagian kepala, ditambah lagi saat itu Eden sedang hamil besar. Mendengar laporan dari bawahannya, Aciel langsung bergegas untuk melihat kondisi Eden di rumah sakit. Namun saat ia tiba di sana dokter mengatakan jika kemungkinan Eden akan mengalami koma karena ia mendapatkan cedera kepala yang cukup berat serta harus melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya. Sungguh itu adalah saat-saat paling berat untuk Aciel karena ia harus mengalami keadaan paling mencekam sepanjang hidupnya. Melihat Eden yang tak sadarkan diri di ruang operasi dan suara bayi laki lakinya yang menangis kencang membuat Aciel merasa hatinya berdenyut sakit seketika. Percakapan demi percakapan mengenai calon bayi mereka membuat kegetiran hati Aciel semakin bertambah parah ketika sang dokter memberikan bayi laki-laki itu kepadanya. Ia akhirnya dapat menemani Eden selama proses persalinan, bahkan menggendong bayi mereka yang masih berlumuran darah untuk pertama kalinya. Namun bukan itu yang


diinginkan Aciel, ia ingin menyambut kelahiran bayi mereka bersama-sama dengan senyuman penuh cinta milik Eden yang selalu berhasil membuat dadanya menghangat. Akhirnya dengan perasaan yang tak menentu Aciel memutuskan untuk memindahkan perawatan Eden ke rumah. Berbagai peralatan canggih yang berada di


rumah sakit dipindahkan secara serentak ke dalam mansionnya yang mewah itu. Apapun ia lakukan demi keselamatan sang istri. Dan setiap hari, sekembalinya ia dari kantor, ia pasti akan selalu berada di samping istrinya untuk memberikan kekuatan agar sang istri mampu bertahan untuknya, untuk keluarga kecil mereka.


            “Eden...”


            Aciel menatap istrinya pias sambil berdiri di sebelah ranjang berukuran besar yang kini telah dipenuhi selang-selang dan juga kabel yang terhubung di tubuh istrinya. Pria itu terlihat cukup tak sabar melihat detik-detik terbangunnya sang istri dari tidur panjangnya, tapi meskipun begitu ia tetap mencoba bersabar untuk menunggu Eden membuka mata sepenuhnya dan melihatnya dengan penuh cinta, sama seperti biasanya.


            “Eden, apa yang kau rasakan? Apa kau merasa sakit?”


            Eden masih mencoba menyesuaikan cahaya lampu yang menyorot matanya dengan begitu


terang sambil membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Tertidur selama tujuh hari rasanya seperti ia baru saja bangkit dari kematian. Seluruh tubuhnya terasa kaku, dan ia belum bisa menggerakan sendi-sendinya dengan mudah. Namun perlahan-lahan ia terus berusaha demi melihat sang pemanggil yang sejak tadi terus bersuara di dekatnya.


            “Eden... Apa yang kau rasakan?”


            Tiba-tiba jantung Eden seakan berhenti berdetak ketika lambat laun ia mulai mengenali suara sang pemanggil yang terdengar begitu tak asing di telinganya. Ia kemudian mulai membuka mata sepenuhnya dengan perasaan cemas yang tiba-tiba melingkupi jantungnya hingga membuatnya merasa berdebar-debar.

__ADS_1


            “Katakan apa yang kau rasakan padaku, aku akan memanggilkan dokter.”


            Jemari Aciel terulur untuk menyingkirkan anak-anak rambut yang menjuntai disekitar perban yang membalut kepala Eden. Namun dengan cepat tangan kecil itu mencekal pergelangan tangan berotot Aciel dengan cengkeraman kuat yang membuat Aciel mengerutkan dahinya tidak suka.


            “Jangan sentuh aku!”


            Kata-kata yang lemah namun menusuk itu berhasil membuat Aciel cukup terkejut dengan reaksi istrinya padanya. Pria itu kemudian membalas tatapan tajam istrinya dengan sorot mata dingin menusuknya yang biasanya berhasil membuat siapapun gentar padanya. Namun kali ini tatapan mata menusuknya sama sekali tidak berlaku pada Eden, karena wanita itu justru semakin terlihat berani, seolah-olah sedang menantangnya.


            “Jangan pernah sentuh aku brengsek! Lepaskan aku, kau bahkan baru saja menghajar Anthony kemarin.”


            Aciel mengernyit tidak mengerti dengan ucapan istrinya dan mulai menurunkan tangannya yang sejak tadi masih menggantung di udara akibat cekalan tangan istrinya. Namun lebih dari itu, ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh wanita itu. Terlebih lagi Anthony yang dimaksud oleh wanita itu telah lama meninggalkan kehidupan istrinya sejak lima tahun yang lalu karena pria itu patah hati. Dan sebelumnya, Aciel mengaku jika ia pernah menghajar Anthony. Jauh sebelum ia akhirnya menemukan kebahagiaan bersama Eden karena pernikahan mereka. Tapi mengapa setelah lima tahun berlalu, wanita itu kembali bersikap kontra padanya?


            “Anthony sudah lama pergi dari hidupmu setelah kau memutuskan untuk menikah denganku.” jawab Aciel akhirnya setelah cukup lama mereka terdiam satu sama lain dengan tatapan tajam menusuk Eden yang terus mengarah padanya.


            “Brengsek! Apa yang kau lakukan pada Anthony? Kau menghajarnya dengan brutal hingga hampir membunuhnya malam itu. Kau jahat! Kau brengsek sialan yang harusnya pergi dari hidupku!”


            “Alex! Charles! Panggil dokter!"


            Tak berapa lama seorang pria dengan jas putih dan juga beberapa perawat masuk ke


dalam ruangan tempat Eden dirawat sambil menggenggam sebuah jarum suntik. Melihat Eden yang terus meronta ronta di dalam cekalan Aciel membuat dokter itu tidak memiliki pilihan selain harus memberikan obat bius pada pasiennya. Dan beberapa saat kemudian kesadaran Eden mulai meluruh, dan wanita itu terkulai lemah di dalam dekapan Aciel yang hangat.


            “Ada apa dengannya dokter? Mengapa ia terlihat seperti isteriku lima tahun yang lalu?” tanya Aciel gusar sambil membaringkan Eden kembali di atas ranjangnya. Pria tua itu kemudian mulai melakukan pengecekan pada kondisi Eden dan juga denyut jantungnya yang terlihat mulai stabil setelah sebelumnya menunjukan lonjakan yang mencolok pada monitor yang terletak di sisi ranjang yang ditempati oleh wanita itu.


            “Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apa yang terjadi pada nyonya Eden, tapi kemungkinan besar saat ini nyonya Eden sedang mengalami amnesia. Ingatannya terperangkap di masa lalu dan membuatnya bersikap brutal pada anda. Mungkin saat kecelakaan ia mengalami benturan yang membuat


ingatannya di masa sekarang terhapus.”


            Aciel mengerutkan dahinya tidak suka dengan penjelasan yang diberikan oleh dokter itu padanya. Ia benci mendengar fakta bahwa istrinya akan kembali bersikap brutal seperti dulu dan akan kembali merepotkannya dengan segala tingkah lakunya yang bar-bar. Bahkan ia tidak ingat berapa kali Eden saat itu menentangnya dan

__ADS_1


hampir melakukan bunuh diri karena ia tidak mau melepaskan wanita itu meskipun ia telah mencoba menawarkan kompromi yang menggiurkan untuk Eden. Kini ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia takut akan kehilangan kebahagiaan yang baru ia rasakan selama satu tahun belakangan bersama Eden. Bahkan ia mulai menggantungkan harapan tinggi pada keluarga kecilnya dan tidak ingin membuka  apapun kenangan pahit di masa


lalu. Tapi kecelakaan sialan itu berhasil menjungkirbalikan kehidupan manisnya bersama Eden dan keluarga kecilnya. Entah siapa pelaku yang menabrak Eden di luar sana, ia telah berhasil merenggut satu-satunya harta paling berharga yang pernah dimiliki oleh Aciel di dunia ini.


            “Daddy...”


            Aciel menoleh cepat pada pintu sambil tersenyum hangat pada seorang gadis kecil berusia empat setengah tahun. Gadis itu terihat baru bangun tidur dengan piyama bergambar kuda pony berwarna pink yang terlihat begitu menggemaskan di tubuhnya yang mungil.


            “Apa yang kau lakukan di sini sayang, hmm?”


            Aciel berjalan menghampiri putrinya dan berjongkok tepat di depan tubuh mungil gadis kecil itu sambil mengelus puncak kepalanya lembut.


            “Ciara ingin mommy.” ucap anak itu polos. Aciel menengok ke belakang sekilas dengan tatapan sendu, lalu kembali menatap wajah putrinya yang masih menunggu jawabannya dengan mata bulat yang sangat mirip dengan milik Eden.


            “Mary!! Mary!”


            Tanpa diduga Aciel justru memanggil asisten rumah tangganya untuk membawa Ciara pergi dari kamar Eden.


            “Iiiya tuan?”


            “Bawa Ciara pergi, ia tidak boleh mendekati Eden untuk sementara waktu, dia bukan ibunya.


            “Daddy!!!”


            Ciara menjerit-jerit histeris di dalam dekapan Mary yang hendak membawanya pergi. Namun tatapan tajam Aciel pada asisten rumah tangga itu membuatnya gentar dan terpaksa menulikan telinganya terhadap teriakan Ciara yang cukup nyaring sambil menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya. Sebagai asisten rumah tangga, ia


cukup bingung dengan setiap perubahan sikap yang ditunjukan oleh tuannya selama ini. Namun semenjak Eden hadir ke dalam mansion ini, tuannya itu lebih terlihat manusiawi dan juga sedikit lembut. Namun sejak nyonyanya terbaring lemah karena kecelakaan yang terjadi satu minggu yang lalu, perlahan-lahan tuannya berubah menjadi pria dingin dan kaku seperti dulu. Bahkan sehari setelah nyonyanya dinyatakan koma, tuannya itu langsung mengamuk tidak jelas pada semua bawahannya yang mungkin saat itu sedang sial. Namun yang paling membuatnya prihatin adalah kondisi Ciara dan juga baby Louise. Sejak ibunya koma, gadis itu sedikit terabaikan oleh ayahnya, pun dengan baby Louise yang sekarang sedang diasuh oleh bibi May. Tuannya itu jelas sangat mengkhawatirkan keadaanya istrinya, sehingga hampir seluruh perhatiaannya hanya tersita untuk nyonyanya dan juga urusan perusahaan yang tak ada habisnya. Terkadang saat tuannya pergi ke kantor, ia sengaja membawa Ciara ke kamar ibunya untuk sekedar menyapa dan mengobati kerinduan anak itu pada ibunya. Meskipun mungkin orang lain akan menganggap Ciara belum mengerti mengenai keadaan ibunya, tapi ia yakin jika Ciara lebih dari mengerti mengenai kondisi ibunya. Bahkan tak jarang ia melihat Ciara berjalan menuju kamar ibunya untuk mengelus tangan ibunya atau mencium kening ibunya.


           “Ciara, aku pasti akan membawamu untuk bertemu ibumu.” janji Mary penuh tekad pada gadis kecil yang saat ini masih menangis sesenggukan di dalam dekapannya.

__ADS_1


__ADS_2