
Di depan pintu kamar yang akan digunakannya malam ini untuk tidur, Olivia tampak ragu. Ia ingin masuk ke dalam kamar untuk tidur, namun ia sadar jika Sian saat ini berada di dalam sana. Tadi ia melihat Sian masuk ke dalam kamar saat ia baru saja berjalan di tangga. Tampaknya ia baru saja mengambil minum dari dapur lalu membawanya ke kamar. Dan mengetahui hal itu ia menjadi ragu untuk masuk ke dalam kamar ini. Ia takut akan mengganggu Sian yang malam ini mungkin ingin dibiarkan sendiri tanpa gangguan darinya.
“Sebaiknya aku tidur di ruang tamu.”
Ia baru saja akan berjalan pergi meninggalkan kamar itu, tapi suara tangis Scout seketika mengejutkannya. Bayi itu terdengar menangis keras di dalam sana, dan ia justru masih berdiri terpaku di depan pintu. Ragu-ragu antara masuk ke dalam kamar atau membiarkan Scout menangis karena itu sepertinya hanya mimpi buruk.
Tapi setelah cukup lama berperang dengan batinnya, ia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Ia telah menyiapkan alasan pada Sian untuk mengambil bayinya dan membawanya untuk tidur di ruang tamu. Jadi ia langsung memberanikan diri untuk membuka kenop pintu lalu melangkah masuk ke dalamnya. Namun hal berikutnya yang ia temukan di dalam sana sangat mengejutkan. Ia menemukan Sian sedang menggendong Scout di dekat baby cribnya sambil mengguncangnya lembut untuk menghentikan tangisnya.
“Sian...”
“Dia menangis. Kukira kau masih mengobrol bersama yang lainnya di bawah.”
“Kami semua sudah sangat lelah dan memutuskan untuk tidur. Kau bisa beristirahat sekarang. Aku akan membawa Scout ke bawah bersamaku.”
“Kenapa harus membawanya ke bawah?” Sian menatapnya heran setelah ia berhasil membuat Scout diam.
Bayi itu terlihat sangat nyaman berada di dalam pelukan Sian, sesuatu yang tak pernah dibayangkan Olivia selama ini.
“Karena... karena kami mungkin akan mengganggumu.”
“Tidak. Tentu saja tidak. Kenapa kau berpikir seperti itu?”
Mengabaikan pertanyaan Sian, ia segera melangkah ke depan dan mengulurkan tangannya agar Sian memberikan Scout padanya.
“Jawab pertanyaanku Olivia. Kenapa kau berpikir aku lebih senang berada di kamar ini sendirian?”
Perlahan-lahan ia menarik tangannya yang terulur lalu menghembuskan nafas berat di depan Sian yang masih menunggunya memberikan jawaban.
“Bukankah itu sudah jelas? Selama ini bahkan kau menghindari kami. Kau tidak mau berada di satu ruangan bersama kami. Jadi kali ini kupikir juga begitu.”
“Kau salah kalau begitu. Aku bukannya tidak mau, aku hanya butuh ruang untuk berpikir. Itu saja. Aku perlu menjernihkan pikiranku dari bayangan Scout. Pendahulu Scout ** tentu saja. Kau sudah salah sangka mengartikan sikapku selama ini.”
Tidak mau kalah dan dipersalahkan, ia segera membela dengan argumen yang sudah sejak lama bersarang di otaknya. “Itu memang benar. Tapi aku menjadi seperti ini karena kau terus mengacuhkanku. Kau tidak terbuka padaku dan memendam sendiri semua perasaanmu.”
Mereka hanya bertatapan selama kurang lebih satu menit tanpa suara. Sian yang kemudian mengakhiri kontak mata diantara mereka untuk meletakan Scout kembali ke baby cribnya setelah bayi itu lebih tenang.
“Selamat malam. Kau tidurlah Olive.”
Sebelum Sian benar-benar melangkahkan kakinya melewati pintu, Olivia segera menahan lengannya dan menariknya dengan sedikit kasar agar kembali ke tempatnya.
__ADS_1
“Tidak ada lagi jalan keluar. Hadapi aku Sian. Lawan ketakutanmu. Buat aku mengerti dengan sikapmu selama ini.”
Dia sungguh terpana dengan ketegasan yang ditunjukan Olivia saat ini. Belum pernah ia melihat Olivia begitu galak dan terlihat sangat berani di saat bersamaan.
“Kurasa ini efek dari tinggal bersama Scout terlalu lama. Kau menjadi lebih galak.”
“Itu benar. Kau harus tahu Sian, aku melakukan hal ini hampir setiap hari di bulan pertama aku diculik oleh Scout. Hingga bulan ke delapan kami bahkan masih bertengkar. Lebih tepatnya aku yang membuat keributan karena Scout tidak mau mengembalikanku padamu. Sejujurnya selama itu aku tidak hanya pasrah menerima begitu saja perlakuan Scout padaku. Aku mencoba melawan pada awalnya, tapi kemudian aku lelah dan memilih untuk mengikuti arus permainannya.”
“Dia membawa perubahan yang sangat drastis padamu.”
“Kuakui ya.” Ia tidak suka diabaikan saat bicara, jadi ketika Sian mulai mengalihkan tatapannya ke arah lain, ia langsung bereaksi dengan menyentuh pipi Sian dan memakunya di tempat. “Lihat aku. Dengarkan semua penjelasanku.”
“Aku mendengarkan.”
“Tidak. Kau menyangkalnya setiap kali aku mencoba menjelaskan padamu. Kau tidak pernah benar-benar mendengarkanku Sian.”
Air mata Olivia tumpah seiring dengan luapan emosi yang ia rasakan di dadanya. Ia sekarang benar-benar merasa bahagia dapat menyentuh kulit wajah Sian lagi dan merasakan kehangatannya.
“Aku tidak pernah berniat untuk menggantimu dengan pria lain. Sama sekali tidak pernah. Tapi saat itu aku hanya berpikir untuk menerima Scout karena dia adalah ayah dari bayiku. Selama berbulan-bulan merenung, memikirkan nasib masa depanku yang menjadi suram. Namun aku segera sadar bahwa bayiku tidak bersalah. Aku yang bersalah, dan aku mencoba melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanku. Dan perasaanku pada Scout, itu mungkin cinta. Tapi itu terjadi karena selama berbulan-bulan aku hanya bergantung padanya. Dia pria yang setiap pagi menyiapkan susu untukku lalu memaksaku untuk menerima bayi itu. Dia membuatku menjadi wanita yang sangat jahat karena bahkan pria jahat sepertinya masih memiliki hati untuk seorang makhluk kecil suci yang saat itu masih meringkuk dengan nyaman di dalam perutku, sedangkan aku pernah hampir mengaborsinya jika saja saat itu Scout tidak datang ke klinik untuk menyeretku pulang.”
Sian terkejut mengetahui fakta bahwa Olivia pernah berencana mengaborsi bayinya, namun ia segera mengendalikan dirinya agar tidak bereaksi berlebihan di hadapan Olivia.
“Sian... kalian berdua memiliki dua hal yang berbeda. Kau lebih lembut, sedangkan Scout kasar. Saat bersama Scout, aku belajar menjadi Olivia yang pemberani. Sedangkan saat bersamamu aku belajar menjadi Olivia yang anggun. Kalian berdua sama-sama memberikan pengaruh padaku.”
“Karena Scout sekarang aku tahu jika kau tidak selembut itu.” Sian terkekeh pelan. “Kau bisa menjadi sangat galak seperti induk anjing dan menggigit orang-orang yang akan mengganggumu. Itu bagus. Tapi sekarang Scout sudah pergi. Tidak ada yang menghalangiku untuk memilikimu. Kau milikku seutuhnya.”
Tawa Sian sumbang seiring dengan langkahnya yang semakin dekat untuk menjangkau tubuh Olivia.
Sementara itu Olivia tidak bergerak seincipun dari tempatnya berdiri. Ia membiarkan Sian maju untuk mendekatinya. Bahkan itu adalah hal yang paling diinginkannya selama dua bulan terakhir ini. ia ingin Sian mendekat kepadanya dan bukanya menjauh.
“Aciel benar. Aku ini seorang pecundang. Aku melakukan hal-hal yang sangat konyol dengan meratapi nasibku. Padahal jelas-jelas sumber kehancuran rumah tangga kita sudah pergi. Maafkan aku Olive. Aku menyia-nyiakanmu selama dua bulan ini. Aku terus berpikir bahwa Scout masih berada diantara kita, padahal dia tidak.”
Sian mengamati wajahnya intens dan memaku matanya agar hanya menatap tepat ke arahnya.
“Saat kau duduk bersama teman-temanku, aku mulai sadar bahwa ketakutanku itu sangat bodoh. Jelas-jelas kau sekarang milikku. Kau telah berada di lingkaran hidupku bersama teman-temanku. Scout hanyalah masa lalu. Kenangan pahit yang seharusnya dilupakan. Maukah kau memaafkanku Olive?”
Olivia menghembuskan nafasnya keras. Ia benar-benar lega mendapati Sian telah kembali seperti Sian
yang selama ini ia kenal. Selama dua bulan ini ia telah ragu bahwa orang yang membawanya kembali ke Vegas adalah Sian. Tapi sekarang semua keraguan itu lenyap, benar-benar hilang dari hatinya dan hanya digantikan oleh perasaan membuncah di dadanya yang begitu gembira karena Siannya telah kembali.
__ADS_1
“Tidak ada alasan untuk tidak memaafkanm, sayang,” bisik Olivia malu-malu sebelum ia berjinjit di depan Sian untuk meraih bibir pria itu.
Awalnya Sian terkejut mendapatkan ciuman tiba-tiba dari Olivia. Namun sedetik kemudian ia sudah bergabung bersama ******* lembut bibir Olivia di bibirnya. Ia membalas setiap gerakan yang dilakukan bibir Olivia di atas bibirnya dan tak lupa tangannya juga bekerja untuk membelai setiap lekuk tubuh Olivia yang sudah lama tak ia rasakan.
Erangan lembut terdengar dari bibir Olivia setiap kali ia berhasil menyentuhkan telapak tangannya yang panas ke atas permukaan tubuh Olivia yang sensitif.
Refleks mereka mengikuti dorongan naluriah mereka sebagai sepasang manusia yang membutuhkan belaian dan kehangatan.
Ketika Sian menurunkan tangannya dari gerakan mengeksplorasi seluruh tubuh Olivia, ia langsung menggunakan kesempatan itu untuk menggendong Olivia ke arah tempat tidur mereka.
“Kau tidak keberatan?” bisik Sian parau. Gairah sudah sepenuhnya menguasai tubuhnya. Ia tak akan bisa bertahan lebih lama dari ini.
“Sama sekali tidak,” jawab Olivia malu-malu sambil mengalungkan lengannya di leher Sian.
“Tapi...” Kata-kata Olivia yang menggantung di udara segera menghentikan gerakan Sian saat kakinya hendak membawa mereka ke tempat tidur.
“Ada permintaan khusus nona?”
Pipi Olivia bersemu merah. Ia tersipu malu menanggapi kerlingan nakal yang baru saja dilakukan Sian dengan sangat seksi.
“Bagaimana dengan besok? Apakah... apakah ini adalah sebuah perpisahan?”
Sian memiringkan kepalanya, tersenyum jenaka ke arah wajah Olivia yang begitu gugup.
“Sebenarnya aku ingin menyimpan ini untuk kejutan besok. Tapi aku tidak mau pasanganku gelisah saat bercinta denganku. Jadi aku akan memberitahumu sekarang.”
Olivia menunggu kata-kata Sian selanjutnya dengan penuh antisipasi. Jantungnya bergemuruh kencang dan seperti akan melompat keluar dari rongga dadanya jika Sian tidak segera memberitahunya sesuatu yang ia anggap sebagai kejutan.
“Aku membatalkannya. Alasanku sore ini datang terlambat ke pesta ulangtahun si kembar karena aku harus mencabut semua berkas-berkasku di pengadilan dan membatalkan semua omong kosong itu. Olive, aku tidak ingin bercerai denganmu. Sungguh aku mencintaimu.”
“Oh Sian...” Olivia semakin memeluk leher Sian erat dan menangis di sana.
“Aku juga tidak ingin bercerai darimu. Aku mencintaimu.”
“Well, kalau begitu tak ada alasan lagi kan?”
Olivia langsung terkikik melihat arah tatapan Sian yang kini berganti-ganti dari wajahnya menuju ke tempat tidur lalu ke wajahnya lagi.
“Lakukan Sian. Puaskan dirimu dan juga diriku,” bisik Olivia manja sebelum Sian menjatuhkan tubuh mereka bersama-sama ke tempat tidur. Dan setelah itu mereka tertawa bersama dalam kebahagiaan.
__ADS_1