Black Swan

Black Swan
Rescue Me (One Hundred Eight)


__ADS_3

Malam itu keluarga Eden benar-benar pergi menuju kediaman Sian dan juga Olivia. Namun tentu saja kepergian mereka ke rumah Sian dan Olivia berawal dari rengekan berisik Ciara yang sangat ingin bertemu dengan aunty baik hatinya itu


            “Ini Ed, kau harus mencicipi kue fenomenal ini. Aku yang membuatnya sore tadi.”


            Olivia meletakan sepiring kue bolu beraneka warna di atas meja dengan tampilan yang lumayan menggiurkan. Ciara yang melihat kue itu pertama kali langsung terlihat antusias untuk memasukan kue cantik itu ke dalam mulutnya.


            “Louise juga mau.”


            Tiba-tiba


bocah laki-laki berusia hampir dua tahun itu muncul diantara para wanita yang sedang berbincang di ruang tengah. Tak berapa lama setelah Louise masuk, Justice juga ikut membuntuti pria kecil itu sambil berlari-lari membawa boneka kelincinya yang cukup besar.


            “Sayang, dimana daddymu?” Tanya Eden pada Louise sambil menyodorkan seiris kue buatan Olivia. Mendapatkan kue dari ibunya, Louise langsung menerimanya dengan girang sambil berlari keluar untuk menyusul sang ayah yang sedang berbincang dengan pamannya di halaman depan.


            “Huh, anak-anak memang sangat aktif di jam-jam seperti ini. Rasanya aku lelah melihat tingkah Justice yang seharian ini terus berlari kesana kemari.” keluh Olivia sambil menatap putrinya yang sudah hilang dibalik pintu utama. Sedangkan Eden yang melihat hal itu hanya mampu tersenyum kecil karena ia sudah begitu terbiasa dengan sikap heboh Ciara dan Louise di rumah. Bahkan mereka berdua jauh lebih aktif daripada Justice yang baru bisa berjalan. Terkadang Eden merasa ingin mengunci kedua anaknya di kamar agar tidak terus menerus berkeliaran di dalam rumah dan membuat kotor.


            “Nikmati saja tingkah nakal atau tingkah menggemaskan mereka, suatu saat kau pasti akan merindukan saat-saat ini. Oya, siang tadi aku menyusulmu ke rumah sakit, tapi kau justru sudah pulang.”


            “Oh maaf, Justice sedikit rewel saat bersama pengasuhnya, jadi aku memutuskan untuk pulang. Apa karena itu kau akhirnya memutuskan untuk datang ke rumahku malam


ini?”


            Olivia terlihat tidak enak pada Eden karena ia sudah membuat wanita itu repot malam ini karena harus datang ke rumahnya yang cukup jauh jaraknya dari rumahnya.


            “Tidak masalah, justru karena aku menyusulmu ke rumah sakit, aku bisa melakukan cek-up papsmear.”


            “Kau melakukannya? Itu bagus, dengan begitu kau bisa melakukan deteksi dini penyakit kanker. Lalu kapan hasilnya keluar?”


            “Sekitar tiga hari. Tapi suster Yasmine mengatakan padaku jika aku tidak bisa mengambilnya, ia akan menitipkannya pada Laila.”


            “Kalau begitu kau tak perlu khawatir lagi, Laila bisa memberikannya pada saat pulang dari rumah sakit karena rumahnya tidak begitu jauh dari rumahmu. Tapi untuk apa kau menggunakan tes papsmear seperti itu jika suamimu selalu memastikanmu kau dalam keadaan sehat dengan menjejalimu lusinan vitamin mahal.” goda Olivia dengan wajah menyebalkan yang sedang menahan tawa. Eden melemparkan bantal sofa yang berada di sampingnya dan mengenainya tepat di depan wajah Olivia.


            “Aku tahu apa yang kau pikirkan, Olive. Kau mengolok-olokku.” tambah Eden kesal. Namun Olivia justru menanggapi kekesalan sahabatnya dengan suara tawa menggelegarnya yang begitu mengerikan hingga Eden rasanya ingin menyumpal mulut lebar Olivia dengan bantal sofa lainnya yang berada di runag tamu rumah wanita itu.


            “Aku hanya bercanda Ed, kenapa kau terlihat gusar seperti itu. Atau jangan-jangan kalian....”


            “Yakk, apa yang kau pikirkan dokter Olive! Bersihkan otakmu sekarang juga atau aku akan mengadukan otak kotormu pada Sian.” teriak Eden yang berhasil membuat dua orang yang baru saja masuk ke dalam ruang keluarga di rumah itu menjadi bingung.


            “Siapa yang berpikiran kotor, Ed?”


            Tiba-tiba Aciel sudah duduk di sebelah istrinya sambil memandang dua wanita dewasa di ruangan itu dengan aneh. Pasalnya beberapa menit yang lalu mereka mendengar suara teriakan yang begitu keras dari dua wanita dewasa yang sebelumnya masih terlihat kalem di sana.


            “Ah bukan apa-apa, hanya candaan konyol ibu-ibu muda.” jawab Eden asal. Namun Olivia


justru masih tertawa terbahak-bahak di depannya, dan membuat Aciel semakin dibuat bingung dengan sikap wanita itu.


            “Sudahlah Ace, ibu-ibu muda seperti mereka memang aneh. Justru kau akan terlihat seperti keledai bodoh jika ikut ke dalam pembicaraan mereka.”


Brukk


            Olivia melemparkan bantal sofa yang sebelumnya digunakan Eden untuk melemparkannya ke arah Sian.


            “Jangan berkata seolah-olah kami ini aneh!” ucap Olivia galak.


            Merasa mendapat amukan dari istrinya, Sianepun memutuskan untuk menyerah sambil mengangkat tangannya ke udara tinggi-tinggi.


            “Aku menyerah nyonya, jangan makan aku.”


            Dan ucapan Sian itu berhasil membuat ketiga anak kecil yang sedang bermain-main di dalam ruangan itu tertawa terbahak-bahak dengan tingkah lucu Sian.


            “Lihat, tingkah konyolmu berhasil membuat putriku menertawakanmu. Bersikaplah sedikit berwibawa di depan anak-anak.” ejek Aciel sadis. Namun Sian hanya menanggapi ejekan itu sambil lalu tanpa merasa tersinggung sedikitpun.


            “Lebih baik seperti ini daripada aku menyakiti istriku dan hampir membunuhnya.” sindir Sian yang berhasil membuat suasana diantara mereka menjadi canggung karena nyatanya Aciel tidak terlalu suka jika kejadian mengerikan di masa lalu itu


kembali diungkit.


            “Eee... apa kalian ingin mencicipi kue buatanku?”


            Akhirnya Olivia mengambil inisiatif untuk mencairkan suasana kaku diantara mereka dengan cara bodoh, yaitu dengan menyodorkan kue itu tepat di depan wajah Aciel.

__ADS_1


            “Terimakasih Olive, kuemu pasti enak.”


            Eden sedikit bernapas lega ketika melihat Aciel yang untungnya mampu mengontrol emosinya yang hampir meledak itu. Tak bisa ia bayangkan jika Aciel ikut terpancing dengan ucapan Sian yang memang cukup sensitif untuk suaminya itu.


            “Sepertinya ini sudah larut, kami harus pulang sekarang.”


            Aciel beranjak berdiri sambil menatap Eden agar isterinya itu juga ikut berdiri. Eden sendiri terlihat begitu tidak enak pada Olivia karena sejujurnya ini belum terlalu larut. Tapi Aciel sepertinya memang sengaja menggunakan alasan itu untuk membawanya pulang karena suasana hatinya yang tiba-tiba memburuk karena sindirian Sian.


            “Ciara, Louise, ucapkan salam pada paman Sian dan aunty Olive.”


            Kedua bocah kecil itu dengan tidak rela segera memeluk Sian dan Olivia yang saat ini terlihat tidak enak pada pasangan Eden dan Aciel.


            “Maaf, aku sudah menyinggungmu.”


            Sian meminta maaf pada Aciel ketika Aciel menjabat tangannya untuk berpamitan. Namun


karena suasana hati Aciel yang masih buruk, pria itu hanya membalas permintaan maaf itu sekenanya tanpa mempedulikan ekspresi tidak enak Sian padanya.


            “Sampai jumpa. Main-mainlah ke rumah jika kau merasa bosan di ruma. Kurasa kita bisa bergosip bersama sambil membuat kue.” ucap Eden pada Olivia sebelum ia berjalan menyusul suaminya yang telah menunggunya di dalam mobil.


           “Ed, aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud untuk membuka luka lama itu. Aku hanya ingin bercanda, tapi sepertinya ucapanku terlalu berlebihan hingga membuat Aciel justru marah padaku.”


            “Tidak apa-apa, Aciel mungkin hanya kelelahan hingga ia mudah tersinggung seperti itu. Besok ia pasti sudah baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menjinakan Aciel yang sedang mengamuk.” bisik Eden jenaka sebelum ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobilnya dalam sekali hentakan.


-00-


            Eden berjalan keluar mengendap-endap dari kamar Louise dan mematikan lampu kamar anak itu perlahan agar sang jagoan tidak terbangun karena suara berisik yang diciptakannya. Ia kemudian menutup pintu itu perlahan sambil menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan untuk mengurangi rasa pegal yang menderanya. Ibu muda itu lantas beranjak menuju kamarnya sendiri yang berada di lantai yang sama dengan milik anak-anaknya, untuk menyusul sang suami yang mungkin saja sudah terlelap karena semenjak mereka pulang dari rumah keluarga Sian, suaminya itu hanya diam dan langsung masuk ke dalam kamar mereka tanpa mengucapkan apapun padanya.


            “Ace...”


            Eden melongokan kepalanya ke dalam kamar dan mendapati Aciel sedang membaca buku di atas ranjang mereka. Pria itu terlihat begitu serius dengan buku super tebal yang berisi ulasan mengenai strategi bisnis yang menurut Eden sangat membosankan.


            “Hey, kau lama sekali, Ed.”


            Eden mengernyitkan keningnya sambil melangkah santai mendekati suaminya. Jadi ia menungguku?


            Eden meringsek masuk ke dalam selimut dan langsung berbaring dengan nyaman di sebelah Aciel. Wanita itu terlihat sudah sangat lelah, namun ia jika Aciel sedang menunggunya untuk membicarakan sesuatu, sehingga mau tidak mau ia harus menunda waktu tidurnya sejenak untuk menemani sang suami berkeluh kesah.


            “Tidurlah, hari ini kau terlihat lelah dan pucat.”


            “Benarkah? Aku tidak merasa terlihat pucat.” Eden sambil meraba-raba wajahnya sendiri. Wanita itu bersikap konyol dengan menggembungkan pipinya kesana kemari dan melakukan sedikit pergerakan wajah yang justru membuat Aciel menjadi gemas pada istrinya.


            “Hentikan Ed! Kau membuatku ingin mencubit pipimu.


            Pria itu meletakan bukunya di atas nakas dan bergabung untuk masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya ke kiri, sambil menatap wajah Eden lekat dan dalam.


            “Apa akhir-akhir ini aku terlihat aneh?”


            “Bahkan setiap hari ini kau ini aneh.” jawab Eden spontan yang langsung dihadiahi Aciel dengan cubitan gemas di hidung.


            “Aciel sakit!”


            “Aku bertanya dengan serius, Ed. Akhir-akhir ini aku merasa moodku tidak stabil, kadang aku merasa begitu bersemangat, dan kadang aku merasa sangat-sangat sensitif.”


            “Ya, seperti saat di rumah Sian.” sambar Eden cepat pada suaminya. Pria berusia empat puluh tiga tahun itu mengangguk setuju sambil menerawang langit-langit kamarnya yang kosong.


            “Aku tidak tahu kenapa aku merasa sangat marah dengan ucapan Sian, tapi sejujurnya aku tidak bermaksud untuk seperti itu. Aku hanya tidak suka dengan nada ucapan Sian yang seolah-olah ia sangat menyalahkanku atas kejadian yang menimpamu delapan bulan yang lalu, meskipun semua itu memang salahku. Ed, apa kau membenciku


sekarang?”


            Eden menaikan kedua alisnya bingung dengan suaminya. Bukankah dulu mereka telah membahas hal ini dan ia sudah memaafkan suaminya itu. Lalu kenapa malam ini sang suami kembali meminta maaf padanya?


            “Aku sudah memaafkanmu, Ace. Lagipula aku sudah tidak memikirkan masalah itu, biarlah itu menjadi warna dalam kehidupan rumah tangga kita. Bukankah kehidupan rumah tangga memang seharusnya seperti itu? Senang, susah, bahagia, akan selalu hadir dalam setiap hubungan, jadi jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kau


minta maaf pada Sian, karena ia terlihat begitu menyesal dengan kata-katanya


padamu.”


Aciel

__ADS_1


kemudian merapatkan tubuhnya sambil menenggelamkan Eden ke dalam kehangatan


dadanya yang bidang. Mungkin ia memang terlalu lelah hingga rasanya ia terlalu


sensitif terhadap hal-hal remeh dan sepele seperti itu.


“Selamat


tidur Ace, jangan terlalu lelah dan jadilah Acielku yang baik setiap hari.”


“Selamat


tidur juga nyonya Eden.”


Kemudian


 ucapan selamat tidur itu ditutup dengan sebuah ciuman manis yang tidak terlalu


menggebu dan setelahnya mereka berdua sama-sama memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah karena aktivitas mereka seharian ini. Besok mereka akan kembali berkutat dengan kegiatan mereka, dan sekarang mereka terlihat sudah tertidur lelap sambil memeluk satu sama lain dengan hangat.


-00-


            Siang hari yang begitu terik di Vegas, Eden terlihat sedang berjalan masuk ke dalam rumah sakit pusat yang terlihat sangat ramai seperti biasanya. Wanita itu dengan anggun berjalan melewati beberapa pasien yang sedang mengantre di loby untuk menunggu giliran priksa mereka. Seorang penjaga keamanan yang sudah sangat mengenal Eden, lantas menunduk hormat pada istri salah satu pemilik saham di rumah sakit itu.


            “Selamat siang nyonya.”


            “Selamat siang, Bernard.” balas Eden tak kalah ramah. Beberapa pengunjung yang melihat kesopanan penjaga keamanan itu pada Eden terlihat mencuri-curi pandang dengan penuh ingin tahu pada Eden. Namun Eden terlihat tak terlalu ambil pusing dengan tatapan menelisik mereka, yang sejujurnya sedikit tidak nyaman untuknya.


Ting


Saat pintu lift terbuka Eden segera masuk ke dalam kotak elektrik yang akan membawanya menuju ruangan Laila. Hari ini ia akan mengambil hasil pemeriksaan papsmear miliknya yang seharusnya ia ambil kemarin, namun karena ia memiliki urusan lain, maka ia baru sempat mengambilnya hari ini.


            “Laila.”


            Eden memanggil Laila yang ternyata sedang berdiri di depan pintu lift sambil membawa beberapa map di tangannya. Wanita berwajah manis itu langsung tersenyum cerah pada Eden dan menarik Eden untuk sekedar menepi dari para pengunjung yang hendak keluar dari lift.


            “Kau akan mengambil hasil pemeriksaan papsmearmu?”


            “Ya, aku akan mengambilnya. Apa kau membawa hasilnya?”


            “Aku meletakannya di atas meja kerjaku. Seharusnya kemarin aku mengantarnya padamu saat aku pulang, tapi kertas itu justru tertinggal di mejaku. Kau bisa mengambilnya sendiri Ed, hari ini aku sedikit sibuk karena aku harus mengurusi tiga persalinan, dan setelah ini aku harus menangani persalinan yang ke tiga. Tidak apa-apa kan jika kau mengambilnya sementara aku pergi ke ruang operasi?”


            Eden mengibaskan tangannya di depan wajah, tanda ia tidak masalah jika harus mengambil hasil labnya sendiri di ruang praktik milik Laila.


            “Kalau begitu sampai jumpa.”


            Laila memeluk Eden sekilas dan segera menghilang dibalik pintu lift yang hampir menutup di belakangnya. Wanita muda bermata bulat itu kemudian bergegas menuju ruangan milik Laila yang terletak di sebelah meja informasi.


            “Permisi, aku ingin mengambil hasil labku di ruangan dokter Laila.” ucap Eden pada salah satu suster yang merupakan asisten Laila. Suster yang bernama Anastasia itu langsung mempersilahkan Eden masuk ke dalam ruangan Laila karena sebelumnya Laila juga sudah berpesan padanya jika Eden akan datang untuk mengambil hasil pemeriksaan papsmearnya.


            “Hmm... pasti itu.” gumam Eden pelan sambil meraih amplop putih berukuran sedang yang terletak di atas meja milik Laila. Di sudut kiri itu tercetak cukup besar namanya dan juga usianya. Karena merasa penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk membuka langsung amplop itu dan membacanya.


            Pada lembar pertama, Eden merasa tidak terlalu mengerti dengan istilah-istialah kedokteran yang tercetak di sana. Ia kemudian segera beralih pada lembar ke dua yang mungkin saja akan langsung memberitahukan hasilnya tanpa perlu menjabarkan istilah kedokteran yang cukup rumit itu.


            “Ah ini benar-benar tidak berguna, seharusnya mereka tidak perlu mencantumkan istilah-istilah kedokteran yang memusingkan ini. Sepertinya aku harus meminta Laila untuk...”


            Eden menggantung kalimatnya sambil menatap tak percaya tulisan bercetak tebal yang tertera di bagian paling bawah kertas yang sedang ia genggam.


            “Positif kanker?” ucap Eden tidak percaya. Seketika ia merasa dunianya berputar dan ia merasa ingin pingsan saat ini juga. Ia pikir selama ini ia tidak memiliki penyakit itu karena Aciel selalu mengatakan jika ia baik-baik saja. Namun tiba-tiba ia mendapati dirinya dalam keadaan mengidap kanker. Bagaimana bisa?


            Eden


masih terlihat linglung di dalam ruangan Laila dan memutuskan untuk mendudukan dirinya di atas kursi pasien milik Laila. Wanita muda itu terlihat pucat seketika dengan tangan bergetar sambil terus membaca hasil pemeriksaannya berkali-kali untuk memastikan jika ia tidak salah membaca. Tapi nyatanya sebanyak apapun ia membaca kertas itu, hasil yang ditunjukan tetap sama, ia positif mengidap kanker serviks setadium tiga.


            “Kenapa aku tidak pernah merasakan apapun selama ini?”


            Eden berbisik lirih pada udara dengan air mata yang mulai menetes dari pelupuk matanya. Padahal hari ini ia berencana memberikan amplop itu pada Aciel sebagai bukti bahwa ia mendukung gerakan anti kanker serviks yang dicetuskan oleh pemerintah sejak dua minggu yang lalu. Tapi jika hasilnya sangat buruk seperti itu, ia jelas tidak berani menunjukannya pada Aciel. Ia takut Aciel akan sedih dan anak-anaknya pasti juga akan ikut bersedih jika sebentar lagi ibunya akan pergi meninggalkan mereka.


            “Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?” bisik Eden lirih sambil memasukan amplop putih itu ke dalam tasnya dan mulai berjalan lesu meninggalkan ruangan praktik milik Laila. Wanita itu kemudian bertekad tidak akan menunjukan hasil pemeriksaan papsmear itu pada Aciel agar suaminya tidak bersedih. Ia akan mencoba menjalani hari-harinya dengan penyakit itu hingga nanti ia benar-benar sudah tidak berdaya untuk menahannya.

__ADS_1


__ADS_2