
Pukul setengah satu siang, Aciel dan Eden tiba di rumah setelah melewati sesi sidang yang cukup alot di pengadilan. Namun untungnya hari ini Aciel cukup baik. Ia tidak mengajukan tuntutan untuk menjatuhi Anthony dengan hukuman mati, Aciel hanya menuntut untuk dijatuhi hukuman penjara selama dua puluh lima tahun tanpa denda, sehingga pada akhirnya hakim memutuskan menjatuhi hukuman penjara untuk Anthony. Namun meskipun begitu suasana hati Eden juga tak kunjung membaik. Bahkan Eden langsung berlalu begitu saja ke kamar mereka tanpa mengindahkan sapaan hangat Sian di ruang tamu ketika mereka berdua telah menginjakan kaki mereka di mansion mewah milik keluarga Lutherford.
“Ada apa dengannya? Apa persidangan hari ini tidak berjalan lancar?” tanya Sian penasaran. Tidak biasanya Eden mengabaikannya seperti itu setelah mereka mengikrarkan diri untuk menjadi saudara yang saling menyayangi satu sama lain.
“Entahlah, tiba-tiba saja ia marah dan bersikap seperti itu. Mungkin ia sedang kesal pada Stacie karena ia sempat membawa-bawa nama Stacie dalam pembicaraan kami.”
“Apa itu ada hubungannya dengan sikap aneh Eden kemarin?” tanya Sian tidak yakin. Pasalnya Eden sendiri juga tidak mau mengaku padanya. Wanita itu tiba-tiba saja bersikap aneh setelah mereka datang ke markas kepolisian tanpa berhasil menemui Stacie kemarin siang.
“Ada apa dengannya kemarin?”
“Kemarin kami datang ke kantor polisi untuk bertemu Stacie, tapi tak berapa lama setelah masuk Eden kembali keluar dan mengajakku untuk segera pergi. Ia mengatakan padaku jika Stacie sedang memiliki urusan penting sehingga ia tidak bisa menemuinya untuk mengurus masalah Anthony. Apa kau kemarin bertemu dengan Stacie? Kemarin kau juga datang kan?”
Aciel berpikir sejenak dan mulai mengambil kesimpulan jika Eden telah salah paham. Ia yakin kemarin siang Eden melihat dirinya sedang bersama Stacie di dalam ruangan wanita itu. Dan sialnya kemarin Stacie sedang menggodanya hingga ia terpaksa memberikan pelajaran pada wanita itu dengan cara-cara yang bisa membuat siapapun menjadi salah paham hanya dengan melihatnya.
“Eden pasti salah paham.”
“Apa maksudmu?”
“Kemarin aku bertemu dengan Stacie, lalu ia menggodaku dan membuatku harus memberikan sedikit pelajaran padanya. Mungkin Eden berpikir aku sedang berciuman dengan Stacie dan melakukan hal-hal intim lainnya. Yah, sekarang aku tahu apa masalahnya.” ucap Aciel santai. Meskipun ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada Eden nanti agar Eden tidak salah paham, namun setidaknya masalah itu bukan masalah serius.
Masalah mereka tentang Anthony telah berhasil ia selesaikan, dan ia akan segera menyelesaikan masalah kesalahpahaman itu juga.
“Aku senang mendengarnya kalau begitu.” ucap Sian tiba-tiba sambil terkekeh kecil. Aciel menaikan alisnya tidak mengerti. Semakin lama ia semakin tidak bisa menebak jalan pikiran sepupunya yang aneh itu.
“Eden cemburu pada Stacie. Bukankah itu bagus? Itu berarti ia sudah menerimamu Ace. Kau harus berbangga diri sekarang.” ucap Sian santai sambil menepuk pundak Aciel pelan. Aciel tersenyum kecil menanggapi ucapan Sian dan mulai merasakan dadanya menghangat. Ia tahu cepat atau lambat Eden akan menyadari perasaanya padanya karena perasaan itu tidak akan mungkin hilang bersama memorinya. Perasaan itu akan tetap tersimpan di dalam hatinya.
“Sian bantu aku.”
Tiba-tiba Aciel mendapatkan ide untuk meredakan kemarahan Eden. Ia dengan wajah penuh misteri segera mengambil ponselnya dan menghubungi beberapa orang yang dapat membantu mewujudkan rencananya.
“Apa yang harus kulakukan untukmu bung?”
“Bantu aku meluluhkan hati Eden.” ucap Aciel sambil menerawang jauh ke depan. Malam ini akan menjadi awal dari segalanya. Eden, Ciara, Louise dan dirinya.
-00-
Tok tok tok
Eden mengangkat kepalanya dari bantal dan mulai melirik jam besar yang tergantung di dinding kamarnya. Pukul lima sore. Ia telah tertidur cukup lama sejak ia pulang dari pengadilan untuk menghadiri persidangan Anthony.
Dengan malas Eden segera beranjak dari ranjangnya yang nyaman dan sedikit menyugar rambut berantakannya agar tidak mengganggu pandangan matanya yang masih sedikit kabur.
“Ya... tunggu sebentar.”
Eden membuka pintu kamarnya dan langsung menemukan salah satu pelayannya sedang membawa bungkusan besar di tangannya.
“Nyonya, tuan Aciel berpesan pada anda untuk menggunakan gaun ini.”
“Gaun? Untuk apa?”
Eden menerima gaun itu sambil memikirkan apa yang akan dilakukan Aciel malam ini. Sejujurnya ia masih kesal pada pria itu, namun Aciel sendiri juga tidak memberikan penjelasan apapun padanya hingga membuatnya merasa dongkol hingga detik ini. Dugaanya, jika Aciel tidak ingin menjelaskan apapun maka apa yang dilakukan suaminya kemarin bersama Stacie benar-benar nyata. Mereka melakukan hal menjijikan yang tidak pantas di kantor wanita itu.
“Tuan tidak mengatakan apapun nyonya, tapi anda diminta untuk mengenakannya malam ini. Kalau begitu saya permisi.”
Eden membawa masuk gaun putih panjang dengan potongan dada rendah itu ke dalam kamarnya dan melemparnya begitu saja ke atas ranjang. Ia merasa malas untuk menggunakan gaun panjang yang terlihat sangat ribet itu. Apa Aciel pikir ia bisa diluluhkan begitu saja hanya dengan sebuah gaun? Eden mendecih kesal tanpa sadar sambil berkacak pinggang di depan gaun cantik yang terhampar di atas ranjangnya.
“Untuk apa pria menyebalkan itu memberikanku gaun? Hahh, aku benar-benar kesal padanya!” racau Eden seperti orang gila. Ia pun memutuskan untuk mandi agar tubuhnya terasa lebih segar. Dan yang lebih penting ia ingin menyegarkan pikirannya dari rasa cemburu bodoh yang ia rasakan sejak kemarin.
-00-
“Eden, kenapa kau masih menggunakan pakaian santai seperti itu?”
Sian yang hendak masuk ke dalam kamarnya segera menghentikan Eden yang hendak turun ke bawah. Pria itu menahan tubuh Eden dan mengamati Eden dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan menelisik yang membuat Eden risih.
“Memangnya kenapa Sian? Aku tidak akan pergi kemanapun hari ini.”
“Tapi
Aciel menyuruhmu untuk menggunakan gaun yang diberikan padamu sore tadi. Ayo
cepat ganti bajumu!”
Sian mendorong tubuh Eden masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan suara melengking Eden yang terus berteriak-teriak agar pria itu menjauh darinya.
__ADS_1
“Sian! Lepaskan!”
“Kau harus menggunakan gaun itu sekarang dan berdandan dengan cantik!”
Sian berkacak pinggang dengan galak di depan Eden sambil mengangsurkan gaun putih yang sebelumnya diletakan begitu saja di atas ranjang. Dengan gusar Eden
merampas gaun putih itu dan segera membukanya dari plastik bening yang membungkusnya.
“Apa kau ingin melihatku berganti pakaian? Cepat keluar!” usir Eden galak. Sian tertawa kecil sambil mengangkat kedua tangannya di udara.
“Yahh... sebenarnya aku ingin melakukannya, tapi aku masih sayang pada nyawaku Ed. Aciel akan langsung membunuhku jika aku melihatmu berganti pakain.”
“Dasar kalian menyebalkan! Keluar Sian!”
Eden mendorong tubuh Sian kasar dan membanting pintu kamarnya dengan keras tepat di depan wajah Sian. Melihat itu Sian hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil meraba dadanya tak habis pikir.
“Benar-benar pasangan yang mengerikan.” gumam Sian sambil lalu.
-00-
Di taman belakang Aciel telah siap dengan sebuah meja bulat dan berbagai hidangan yang tertata di atasnya. Malam ini ia ingin melakukan dinner bersama Eden. Dan ini adalah dinner pertama yang ia lakukan semenjak Eden kehilangan ingatannya. Dulu ia sempat membuat pesta untuk menyambut kembalinya Eden dari masa komanya, tapi Eden justru kabur dan membat semua rencananya menjadi kacau. Padahal malam itu ia ingin memperkenalkan Eden pada semua relasi bisnisnya yang ia undang secara khusus ke rumahnya. Tapi sudahlah, itu hanya masa lalu yang pahit. Ia tidak perlu lagi mengingatnya dan hanya menjalani hari-harinya saat ini untuk masa depan yang lebih baik.
“Hai...”
Aciel menoleh sekilas dan menemukan Stacie sedang menyapanya dengan senyum manis. Wanita itu melirik sekilas berbagai hidangan yang tersaji di atas meja sambil membatin senang karena ia pikir Aciel akan mengajaknya untuk makan malam bersama.
“Apa aku terlambat?” tanya Stacie sambil berjalan mendekati Aciel, hendak menarik sebuah kursi yang paling dekat dengannya. Namun Aciel segera mencekal tangan itu dan menahannya agar tidak duduk di atas kursi
yang ia persiapkan untuk Eden. Malam ini ia jelas tidak akan mengajak Stacie untuk makan malam bersama Eden.
“Tunggu, kau tetap berdiri.”
Stacie dengan kikuk menarik tangannya kembali dan tetap berdiri dengan kaku di sebelah Aciel. Sejujurnya ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Aciel, namun beberapa jam yang lalu pria itu menghubunginya dan menyuruhnya untuk datang ke rumahnya. Tentu saja ia dengan senang hati segera datang karena hal ini memang yang telah ditunggunya. Ia pikir Aciel telah berubah pikiran mengenai tawarannya kemarin.
“Ehem..”
Suara
dehaman Eden membuat Aciel refleks berbalik dan menatap Eden dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wanita itu tampak begitu menawan dengan gaun putih pemberiannya dan rambut panjang yang ia gerai dengan anggun. Aciel benar-benar tak bisa melepaskan tatapannya dari Eden hingga Eden berjalan kearahnya dan meminta penjelasan atas kedatangan Stacie di rumah mereka.
Eden masih terlihat dingin seperti sebelumnya. Namun wanita itu sebisa mungkin mengontrol emosinya agar tidak meledak di hadapan dua manusia menjijikan yang sangat dibencinya sejak kemarin.
“Kita akan makan malam sayang.”
“Bersama mantan kekasihmu?” tanya Eden sakarstik. Aciel tersenyum samar dibalik wajah dinginnya dan segera menarik pinggang Eden agar mendekat kepadanya. Malam ini ia memiliki rencana untuk menyadarkan Stacie sekaligus untuk menjelaskan pada Eden jika ia telah salah paham dengan apa yang ia lihat kemarin. Rencananya hari ini bisa dibilang cukup efektif. Dalam sekali eksekusi, dua wanita akan mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.
“Tidak, tentu saja tidak sayang. Kita hanya akan makan malam berdua, tapi malam ini aku memang mengundang Stacie datang untuk menjelaskan semua kesalahpahaman yang telah terjadi antara kau dan aku. Stacie, cepat jelaskan apa yang terjadi kemarin siang di kantormu!”
Eden refleks menoleh kearah Aciel dengan mimik bingung yang tercetak jelas di wajahnya. Ia pikir Aciel tidak tahu penyebab dari kemarahannya hari ini, tapi ternyata Aciel tahu segalanya dan sengaja mengundang Stacie untuk mengakui semua perbuatannya karena pria itu sadar jika semua penjelasannya hanya akan
menjadi omong kosong jika ia tidak mendatangkan pihak lain yang juga terlibat dalam kegiatan mereka kemarin siang di kantor wanita itu. Tapi yang menjadi pertanyaanya adalah apakah Stacie benar-benar akan mengakuinya atau justru akan semakin memperumit keadaan diantara mereka bertiga?
“Aap apa? Apa maksudmu Ace?”
Aciel menggeram kesal. Stacie benar-benar menguji kesabarannya sejak kemarin. Ia tidak tahu bahwa wanita itu semakin lama semakin berubah menjadi wanita bodoh yang tidak berguna. Bahkan ia juga murahan.
“Jelaskan pada Eden apa yang telah kau lakukan padaku kemarin! Jangan coba-coba untuk berbohong atau mengarang cerita Ahn Stacie karena aku tidak segan-segan untuk membeberkan kebusukanmu yang telah menerima suap dari salah satu anggota parlemen.”
Seketika wajah polos tanpa dosa itu berubah menjadi pucat. Aciel telah mengetahui rahasianya yang sudah ia tutup sangat rapat sejak berbulan-bulan yang lalu. Tapi sayangnya Aciel adalah pria penuh kuasa yang akan dengan mudah mendapatkan apapun yang ia inginkan, termasuk informasi remeh mengenai kejahatan para anggota dewan yang sebenarnya sudah lama menjadi rahasia umum.
“Kau licik! Kenapa kau mengancamku seperti itu?” tanya Stacie tidak terima. Eden terlihat cukup bosan dan ingin segera pergi karena dua manusia yang sedang bersitegang di depannya justru membahas hal-hal tak penting yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirinya.
“Aku tidak akan menggunakan cara licik jika kau tidak menjebakku. Sekarang cepat katakan yang sebenarnya pada Eden atau rahasiamu akan segera diketahui oleh ayahmu dan seluruh rakya Amerika!”
“Baik baik baik! Aku akan mengakui semuanya! Eden, aku mengaku salah. Aciel dan aku tidak pernah melakukan apapun. Aku yang menggodanya agar ia mengkhianatimu. Tapi Aciel justru menolakku mentah-mentah dan membuat harga diriku tertampar! Aku mengaku masih memiliki perasaan untuk Aciel, namun Aciel tidak pernah
memiliki perasaan apapun padaku. Aciel hanya mencintaimu, jadi aku minta maaf atas semua sikap menjijikanku kemarin.”
Stacie menyelesaikan kalimat panjangnya dalam satu tarikan napas dan segera berlalu pergi tanpa menunggu persetujuan dari Aciel maupun Eden. Padahal Eden ingin sekali melakukan sesuatu pada wanita itu karena ia telah membuatnya uring-uringan sejak kemarin dan terlihat seperti remaja bodoh yang baru saja patah hati.
“See, kau telah mendengar semuanya Ed. Aku tidak melakukan apapun dengannya.” ucap Aciel santai dengan wajah khasnya yang sombong seperti biasa. Eden mendecih sebal dan menyilangkan tangannya di depan dada. Ia tidak menyangka jika dulu ia pernah bahagia dan memuja pria sombong di depannya. Tapi mengingat bagaimana Anthony menjelaskan masa lalunya yang rumit itu membuatnya percaya jika dulu maupun sekarang perasaannya untuk Aciel masihlah sama, ia mencintai pria itu. Hanya saja ingatannya tentang keburukan pria itu lebih dominan dan membuatnya membenci pria itu untuk semua kejahatan yang diingatnya.
“Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang? Makan?” tanya Eden sangsi. Sungguh ia masih belum bisa menghilangkan sikap sakarstiknya pada Aciel meskipun pria itu telah mengklarifikasi masalah kesalahanpahamannya. Ia masih terlalu dongkol karena pria itu membuatnya menahan kesal semalaman dan membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
“Bisakah sekali saja kau membuang sikap aroganmu itu? Aku sudah berusaha melunakan sikapku untukmu malam ini. Aku ingin berdamai denganmu dan memulai semuanya dari awal. Tidak peduli apakah ingatanmu telah kembali atau mungkin tidak akan pernah kembali. Yang terpenting adalah kehidupan kita saat ini dan kehidupan kita di masa depan. Biarlah masa lalu menjadi sebuah kenangan yang akan menjadi bagian dari perjalanan cinta kita.”
Eden menganga. Ia benar-benar menganga mendengarkan sederet kalimat panjang Aciel yang sarat akan nada frustrasi dan juga kegusaran. Pria itu pasti telah bekerja keras untuk berdamai dengan egonya karena ia tahu Aciel bukan tipe pria romantis yang gemar mengumbar kata-kata seperti tadi.
“Apa aku harus terharu?”
Aciel berdecak dan memilih untuk duduk di kursi yang berada di depannya. Tidak ada gunanya membalas setiap ucapan sengit Eden karena wanita itu masih dipenuhi aura kemarahan karena kesalahpahamannya. Lebih baik ia mempersiapkan kejutan berikutnya untuk Eden.
“Duduklah, kita makan sekarang.”
Eden menarik kursi di depannya dan segera duduk dengan manis. Wanita itu mengambil gelas tinggi di depannya yang berisi wine lalu menyesapnya. Sementara itu Aciel memilih untuk segera memulai acara makan malamnya karena ia lapar. Persetan dengan dinner romantis yang direncanakannya karena Eden pun sepertinya juga tidak terlalu menyukainya. Terbukti dengan sikap Eden malam ini yang justru bersikap arogan padanya meskipun ia sudah berusah untuk mengklarifikasi kesalahpahaman diantara mereka.
“Makanlah.”
Eden membuka penutup makannya dan ia langsung dibuat bertanya-tanya dengan sebuah kotak beludru merah yang terletak di tengah-tengah piringnya.
“Ini apa?”
Aciel menyambar kotak beludru itu cepat dan dengan gerakan tiba-tiba pula ia sudah berlutut di depan tubuh istrinya sambil memegang kotak merah itu dengan gaya yang sangat kaku.
“Jangan tertawa, aku tahu ini sama sekali tidak romantis.”
Seketika tawa Eden pecah. Ucapan pria itu justru membuatnya tertawa hingga air matanya mengalir turun dari sudut matanya karena tawanya yang terlalu keras.
“Apa kau sedang ingin melucu? Bangunlah Ace, aku tahu kau bukan pria romantis.”
Ingin rasanya Aciel membanting kotak beludru itu dan membentak Eden karena wanita itu sama sekali tidak menghargai usahanya. Ia telah berguru pada Sian selama satu jam agar ia bisa melakukan satu hal romantis di depan Eden. Tapi hasilnya, ia justru terlihat seperti seorang badut di depan Eden daripada seorang gentleman.
“Eden, aku sedang berusaha memperbaiki segalanya.”
Takk!
Aciel tak tahan lagi dan langsung membanting kotak merah itu di atas meja. Harga dirinya benar-benar hancur malam ini karena ia mengikuti saran konyol Sian untuk menjadi pria romantis. Sampai matipun ia tidak akan pernah bisa menjadi pria romantis seperti sahabatnya.
“Jadi ini apa?”
Eden mulai membuka kotak beludru itu setelah ia berhasil mengendalikan tawanya yang keras. Entah mengapa setelah Stacie mengakui segalanya, hatinya terasa lebih ringan. Ia lega jika ternyata Aciel tidak berselingkuh dengan wanita itu. Ia bahkan semalam nyaris mencekik Aciel saat pria itu tertidur pulas di sebelahnya. Ia kesal pada Aciel yang bisa tidur dengan mudahnya di sebelahnya, sedangkan dirinya tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun karena terus dihantui bayangan perselingkuhan Aciel dan Stacie.
“Aaapa maksudnya ini?” tanya Eden bingung. Ia menemukan sebuah cincin berlian yang begitu indah di dalam kotak beludru itu. Aciel lalu mengambilnya dan menarik tangan kanan Eden untuk menyematkan cincin itu di jari manis istrinya.
“Cincin pernikahan kita. Aku ingin memulainya dari awal lagi. Dulu aku memasangkannya dengan buru-buru di jari manismu hingga jarimu sedikit lecet. Dan sekarang aku akan memasangnya dengan hati-hati agar jari-jarimu ini tidak lecet.”
Aciel memasangkan cincin itu pelahan lalu mengecup punggung tangan istrinya lembut. Eden yang melihat itu hanya mampu terdiam sambil menahan setiap gejolak haru yang berdesakan di dalam dadanya. Meskipun ia tidak bisa mengingat apapun, namun hatinya mengingatnya. Ia merasakan kelembutan dan perasaan tulus itu di hatinya. Sekarang ia benar-benar yakin jika hatinya hanya untuk pria itu, begitu juga sebaliknya.
“Maafkan aku karena pernah menjadi pria brengsek dalam hidupmu. Tapi kau harus tahu jika kau adalah satu-satunya wanita yang bisa memenangkan hatiku. Aku telah bersumpah di hadapan Tuhan satu tahun yang lalu untuk selalu setia kepadamu, dan sekarang aku kembali bersumpah di depanmu jika aku akan selalu setia kepadamu. Aku tidak akan tidak akan pernah menduakanmu Eden, kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil mengubah hidupku yang semula suram menjadi penuh warna. Terlebih saat kau melahirkan Ciara, aku benar-benar merasa menjadi pria paling bahagia dan juga beruntung saat kau melahirkan Ciara untuk melengkapi kehidupan rumah tangga kita. Sekarang aku tidak peduli lagi dengan ingatanmu atau apapun yang terjadi di masa lalu, yang terpenting adalah sekarang dan masa depan. Ed, jadilah wanitaku untuk selama-lamanya. Hingga aku tidak bernafas lagi dan tidak bisa menggenggam jemari ini.”
Sekarang Eden benar-benar menitikan air mata haru. Ia tidak menyangka Aciel bisa melakukan hal seromantis ini padanya. Kesan galak maupun dingin yang biasanya ditunjukan pria itu seketika hilang entah kemana. Yang ia lihat saat ini adalah Aciel yang lembut dan penuh dengan keromantisan. Tanpa dapat mengatakan apapun, Eden langsung menarik kerah kemeja Aciel dan mencium pria itu. Melumatnya dan menyalurkan seluruh perasaan cinta yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia harap dengan ciuman itu Aciel dapat memahami perasaanya yang juga sangat mencintai pria itu.
“Katakan kau mencintaiku Ed.”
“Aku mencintaimu Aciel. Maaf karena pernah melupakanmu, tapi hatiku mengingat seluruh cintamu.” bisik Eden parau di depan bibir Aciel. Aciel tersenyum lembut pada Eden dan kembali ******* bibir merah muda itu. Ia tidak mau kehilangan barang sedikitpun kesempatan untuk menyalurkan rasa cintanya pada Eden, terlebih lagi wanita itu kini telah menerimanya. Menerima kehadirannya seutuhnya seperti satu tahun yang lalu saat ia menikahinya.
“Jadi sekarang kau benar-benar mencintaiku? Aku tidak mau dikecewakan seperti dulu Ed. Kau hadir di dalam mimpiku dan mengatakan jika kau mencintaiku, tapi ternyata itu hanya sebuah mimpi.”
“Mimpi? Tidak Ace, aku pernah mengatakannya. Setelah dokter mengobati lukamu, aku pernah mengatakannya. Hanya saja saat itu aku mengatakannya dengan ragu-ragu. Lalu kau jatuh tertidur setelahnya karena pengaruh obat yang sebelumnya kau minum. Jadi itu bukan mimpi.”
Aciel memandangi senyum itu lekat-lekat dan merekamnya dengan sungguh-sungguh di dalam memorinya. Dulu ia pernah merasa sangat buruk karena ia telah membuat Eden menderita. Dan setelah itu ia selalu bertekad pada dirinya sendiri untuk membuat Eden selalu tersenyum dan merasa bahagia dengan pernikahan mereka.
“Berjanjilah untuk selalu tersenyum di depanku Ed, karena aku juga akan berusaha untuk membuatmu tersenyum. Seperti saat ini.”
Eden tersenyum manis di depan Aciel dan Aciel tidak bisa mengabaikannya dengan tidak mencium bibir Eden yang seksi.
“Ahh aku bosan dengan akhir yang penuh ciuman.” gumam Eden yang langsung membuat Aciel menghentikan gerakan tubuhnya. Saat ini mereka masih saling mencondongkan tubuhnya dengan sebuah meja yang berukuran sedang di tengah-tengah mereka. Mungkin jika mereka tidak sedang dimabuk cinta, punggung keduanya sudah terasa pegal.
“Kalau begitu kita tutup makan malam ini dengan sebuah rencana untuk masa depan kita. Menambah satu kehidupan baru di rumah ini, hmm?” tanya Aciel menggoda. Eden membalas godaan Aciel dengan kerlingan nakal sambil berbisik penuh nada sensual yang di depan pria itu.
“Tawaran yang menarik. Sian sepertinya sudah memiliki persediaan film yang baru.”
Namun pada akhirnya Aciel tetap mencium bibir Eden dan membawa Eden ke dalam pelukannya. Ia menyapu bersih seluruh hidangan mahal yang tersaji di atas meja agar ia bisa dengan mudah menjelajahi setiap inci tubuh Eden yang sejak tadi memanggil-manggilnya untuk mendekat.
-00-
“Ciara, kenapa pamanmu ini selalu menjadi bagian yang paling menyedihkan?” tanya Sian lesu sambil menatap nanar pasangan yang tengah kasmaran di bawah sana. Saat ini ia tengah mengintip kegiatan dinner yang dilakukan oleh sahabatnya dari balkon kediaman mereka di lantai dua. Sementara itu Ciara tampak tak peduli dan terlihat sibuk memainkan boneka barbienya yang baru saja dibelikan oleh Aciel.
__ADS_1
“Paman, temani Ciara bermain barbie.” rengek Ciara dengan wajah memelasnya yang membuat Sian gemas. Pria itu segera membawa keponakannya masuk ke dalam rumah dan meninggalkan kegiatannya untuk mengintip sang sahabat yang sudah mulai panas di bawah sana.
“Baiklah, kita bermain barbie sekarang. Paman pastikan kau akan segera mendapatkan adik lagi setelah ini.” ucap Sian girang sambil mengecup pipi Ciara gemas.