Black Swan

Black Swan
Lies and Truth (Thirty Eight)


__ADS_3

        “Sayang, kenapa suhu tubuhmu justru semakin tinggi seperti ini? Ck, jangan membuat mommy khawatir nak.”


            Eden bergumam pelan sambil terus menatap prihatin wajah pucat Ciara. Pagi ini gadis kecil itu terbangun dengan tubuh gemetar menahan dingin, dan wajah sepucat mayat yang tampak mengkhawatirkan. Sudah dua kali Eden meminumkan obat untuk Ciara, pagi dan siang agar suhu tubuh gadis kecilnya segera stabil. Sayangnya kondisi Ciara justru semakin parah dan memprihatinkan. Ditambah lagi sejak tadi gadis kecil itu menolak makan atau minum, membuat Eden semakin frustrasi melihat keadaanya.


            “Halo, Jensen bisa kau bantu aku? Putriku demam, suhu tubuhnya tidak turun sejak tadi pagi.”


            “Kau dimana Eden?”


            Eden mendesah kecil dan memutuskan untuk memberitahukan alamat apartemennya pada Jensen. Tidak ada pilihan lain selain memberitahu Jensen dimana alamat apartemennya agar pria itu dapat segera menangani Ciara.


            “Aku akan mengirimkan alamat apartemenmu setelah ini. Tapi, apa menurutmu putriku harus dirawat di rumah sakit?” tanya Eden cemas. Sejak tadi pandangan matanya tak lepas sedikitpun dari wajah pucat Ciara yang saat ini sedang tertidur damai. Sesekali Ciara tampak mengerutkan alisnya seperti sedang bermimpi buruk, dan kadang gadis kecil itu juga terlihat mengigau sambil memanggil-manggil ayahnya. Oh God, Eden benar-benar tidak tega melihat putrinya seperti itu.


            “Aku akan memeriksanya sebelum memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.”


            “Baiklah Jensen, terimakasih banyak atas bantuanmu.”


            Setelah menghubungi Jensen, Eden tampak menimbang-nimbang untuk menghubungi Aciel atau


tidak. Sebagian hati kecilnya mengatakan ia perlu menghubungi Aciel, karena pria itu adalah ayahnya. Namun sebagian hatinya yang lain tidak menginginkan hal itu, dan hanya membiarkan Aciel tidak terlalu dekat pada putrinya. Terkadang perasaan was-was, bahwa Aciel akan mengambil Ciara saat pria itu mengetahui kebenarannya membuat Eden takut. Ia takut pria itu akan memisahkannya dari Ciara, lalu membuangnya begitu saja tanpa belas kasihan seperti dulu.


            “Mommy.... daddy...”


            Lamunan Eden seketika buyar saat suara lemah Ciara sedang memanggil-manggilnya dengan lirih. Gadis kecil itu pasti sangat membutuhkan keberadaan kedua orang tuanya di sampingnya hingga ia mengigau seperti itu dalam tidurnya. Dan Eden hanya mampu tersenyum getir sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali pada Ciara


karena ia tidak bisa membawa ayah anak itu untuk melihat bagaimana keadaan putrinya.


            “Maafkan mommy nak, mommy tidak bisa membawa daddymu ke sini. Ia akan curiga pada mommy dan membuat kita terjebak di sini selamanya. Cepatlah sembuh, mommy menyayangimu Ciara.” bisik Eden parau di samping Ciara.


-00-


            Detik jam itu terasa begitu lambat untuk Eden. Sudah tiga puluh menit Jensen masuk ke dalam ruang rawat Ciara dan menyuruh Eden untuk menunggunya di luar selagi ia memeriksa putri kecilnya. Pada akhirnya Ciara memang harus dibawa ke rumah sakit karena dehidrasi dan kekurangan asupan gizi yang menyebabkan tekanan darahnya sangat rendah. Ditambah lagi sikap diam Ciara hari ini benar-benar membuat Eden stress. Ia tidak tahu apa yang salah dengannya hingga Ciara bisa berakhir terkapar tak berdaya di rumah sakit. Seingatnya ia telah merawat Ciara dengan baik. Ia telah memberi gadis kecilnya makanan sehat yang selalu dimasaknya dengan bahan-bahan terbaik. Selain itu ia juga tidak pernah absen memberikan Ciara susu bergizi tinggi yang dapat menambah asupan gizinya. Lalu bagaimana bisa Jensen mendiagnosis putri kecilnya mengalami kekurangan gizi? Ini sungguh sesuatu yang sangat konyol untuk Eden, tapi juga mengkhawatirkan.


            “Bagaimana kondisi Ciara? Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya?” tanya Eden heboh ketika Jensen baru saja melangkah keluar dari ruang rawat Ciara, diikuti oleh seorang perawat yang tampak sedang menulis beberapa hal-hal penting di lembar rekam medis.


            “Eden tenanglah, aku akan menjelaskannya.”


            Jensen menghalau tubuh Eden agar kembali duduk di kursi panjang di depan kamar rawat putrinya, lalu ia juga mengambil tempat di samping Eden dengan gerakan kalem yang terlihat menenangkan.


            “Putrimu terserang demam berdarah Eden. Saat ini penyakit itu memang sedang mewabah di negara bagian Nevada, tapi kau jangan panik. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu memulihkan kondisinya.”


            “Ba bagaimana bisa? Kami baru satu minggu di sini.” ucap Eden tak percaya. Ditambah lagi ia jarang melihat nyamuk beterbangan di apartemennya, bagaimana mungkin penyakit itu bisa menyerang putrinya?


            “Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan penyakit demam berdarah, mungkin kau tidak menyadari salah satunya. Meskipun kau dan Ciara baru satu minggu tinggal di Las Vegas, tapi kalian tidak hanya berdiam diri di apartemen? Jadi faktor apapun memang bisa mempengaruhi.”


            Eden kemudian teringat pada malam dimana ia dan Ciara pulang sangat larut malam setelah seharian menghabiskan waktu di mansion Aciel. Sebenarnya ia tidak ingin berlama-lama di mansion pria itu. Tapi Aciel dengan menyebalkannya justru meninggalkannya dan Ciara di rumahnya, selagi ia kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaanya. Jadi ia dan Ciara terpaksa pulang larut malam, sekitar pukul sebelas, karena harus menunggu Aciel kembali dari kantor.


            “Oh maafkan aku Jensen, aku terlalu panik dengan kondisi Ciara.”


            “Tidak masalah, seorang ibu wajar jika panik dan khawatir pada putrinya yang sakit. Apa aku boleh tahu siapa ayahnya? Maaf jika itu mengganggumu, tapi aku tidak pernah mendengar berita pernikahanmu selama ini.”


            Eden tiba-tiba merasa bingung untuk menjawab pertanyaan Jensen. Selama ini ia selalu dilema, antara harus memberitahukan ayah biologis Ciara atau ayah tirinya setelah ia menikah dengan Zyan. Semua itu terlalu rumit untuknya. Dan inilah salah satu alasannya mengapa ia enggan kembali ke Las Vegas. Negara ini penuh


dengan kenangan masa lalunya, hitam dan putih. Semakin banyak orang yang tahu tentang masa lalunya, maka akan semakin banyak pula yang ingin mengetahui kehidupan pribadinya.


            “Aciel Lutherford. Ayah Ciara adalah Aciel jika itu yang ingin kau tahu. Tapi aku menikah dengan Zyan, dan saat ini Zyan telah meninggal karena kecelakaan tiga tahun yang lalu.” ucap Eden akhirnya dalam satu kali tarikan nafas. Kebimbangan itu rasanya terus mencekiknya selama bertahun-tahun, dan sekarang ia akan mencoba untuk berkata jujur di hadapan Jensen. Setidaknya Jensen tidak ada kaitannya dengan Aciel atau apapun yang berhubungan dengan pria itu.


            “Aku turut berdua atas kehilanganmu Eden. Jadi rumor itu benar?” tanya Jensen seperti menerawang ke masa lalu.


            “Rumor? Rumor apa?”


            “Rumor kau yang memiliki hubungan dengan Aciel, ayah angkatmu sendiri.”


            Hati Eden tiba-tiba terasa sakit. Seperti ada tangan-tangan tak kasat mata yang meremasnya kuat, hingga ia merasa sesak. Dulu ia mungkin terlalu acuh dengan image-nya yang selalu dianggap sebagai wanita liar. Tapi sekarang, ia merasa image itu sangat buruk dan dapat mempengaruhi masa depan Ciara. Bagaimanapun ia tidak ingin Ciara terkena dampak buruk dari apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Dan jika ia bisa, ia ingin sekali mengulang kehidupannya di masa lalu agar ia memiliki masa depan yang lebih baik. Sayang, ia tidak pernah  bisa mendapatkan kesempatan ke dua untuk memperbaiki kesalahannya. Justru apa yang ia lakukan sering membawanya pada jurang permasalahan yang tak bertepi.


            “Sejak awal aku memang menjalin hubungan dengan pria itu. Kau pasti tahu, cinta membutakan segalanya. Aku yang selama ini sangat lugu, berhasil dipengaruhi oleh pria itu hingga akhirnya aku benar-benar mencintainya. Tapi ternyata ia hanya mempermainkanku. Eee... lebih tepatnya ia tidak mau berkomitmen denganku. Padahal seperti wanita-wanita lain di luar sana, aku selalu mendambakan sebuah keluarga utuh yang bahagia. Perceraian kedua orang tuaku, dan kematian ayahku membuat aku tidak ingin mengulangi kegagalan orang tuaku. Tapi sialnya, aku justru jatuh cinta pada pria yang salah. Pria yang sampai kapanpun tidak akan memberikan apapun padaku, selain rasa sakit dan kekecewaan.”

__ADS_1


            Jensen refleks memberikan belaian pelan di pundak Eden untuk menguatkan wanita itu. Rasanya sangat miris mendengarkan cerita Eden yang sangat menyedihkan seperti itu. Selama ini yang ia tahu Eden adalah seorang wanita angkuh yang selalu mematahkan hati setiap pria yang mendekatinya. Bahkan ia pun pernah menjadi korban dari sikap angkuh Eden di masa lalu. Dan tak bisa dipungkiri jika Eden adalah wanita menarik yang sangat diinginkan oleh pria-pria di luar sana. Hanya pria bodoh seperti Aciel yang tega menyia-nyiakan wanita semenarik Eden.


            “Maaf, aku tidak bermaksud untuk membagi masalahku padamu. Tapi akhir-akhir ini aku cukup stress dengan hidupku. Sebagai ibu aku selalu menginginkan yang terbaik untuk masa depan Ciara. Tapi aku selalu gagal untuk melakukannya. Aku tidak bisa memberikan keluarga yang sempurna untuk Ciara, dan aku juga tidak bisa menjaga Ciara dengan baik.”


            Eden tanpa sadar telah terisak-isak di hadapan Jensen sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya yang mungil. Hal itu tak pelak membuat Jensen merasa kasihan pada wanita malang itu. Rasa kesalnya karena pernah dipermainkan oleh Eden hilang begitu saja setelah mendengar semua pengakuan Eden mengenai masa lalunya yang rumit. Sebagai teman ia hanya mampu mendoakan yang terbaik untuk Eden agar ia segera menemukan kebahagaiaanya dan bebas dari semua penderitaan yang selama ini selalu melingkupi langkahnya.


-00-


            “Sayang, ayolah buka mulutmu. Kau harus makan.” desah Eden frustrasi sambil mencoba


memaksa Ciara untuk makan sekali lagi. Ia sudah benar-benar lelah dan kalut dengan sakitnya Ciara. Dan sekarang Ciara justru membuatnya semakin lelah dengan sikapnya yang tidak mau makan. Padahal ia sudah membawakan makanan kesukaan Ciara, sepaket ayam goreng krispi dengan saus keju yang sangat menggiurkan. Ciara hampir tidak pernah menolak makanan kesukaannya selama ini. Bahkan meskipun perutnya telah kenyang sekalipun, ia tidak pernah menolaknya seperti saat ini.


            “Mommy tenggorokanku sakit, tulangku juga sakit.” rengek Ciara dengan tubuh lemas. Wajahnya juga masih pucat, sama seperti tadi pagi. Dan sekarang justru terlihat lebih parah karena beberapa saat yang lalu Ciara sempat mimisan.


            “Kalau begitu sekarang kau minum susumu.”


            Akhirnya Eden menyerah  dan memilih untuk membuatkan Ciara susu. Setidaknya meskipun tidak mau memakan makanannya, Ciara masih bisa sedikit mendapatkan asupan gizi dari susunya.


            “Kau harus menghabiskannya.”


            Eden lagi-lagi dibuat gemas oleh Ciara yang hanya menyeruput sedikit susunya, setelah itu ia kembali berbaring dan memejamkan matanya dengan damai.


            “Ya Tuhan, kau membuat mommy khawatir nak. Cepatlah sembuh. Mommy menyayangimu.” gumam Eden pelan sambil mengecup kening lebar Ciara lembut. Dirasakannya suhu tubuh Ciara yang masih saja tinggi meskipun Jensen telah memberikan obat penurun panas. Dan terakhir kali Jensen mengecek, jumlah trombosit Ciara tampak mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hanya sekitar seratus lima ribu, dan itu sangat jauh dari batas normal.


            “Apa kau ingin sesuatu? Kenapa kau tiba-tiba terserang demam seperti ini?”


            “Daddy... daddy...”


            Eden lagi-lagi mendesah berat saat mendengar suara mengigau Ciara yang hanya memanggil ayahnya. Padahal selama ini Ciara tidak pernah mengenal Zyan sedikitpun. Gadis kecil itu hanya mengetahuinya melalui foto Zyan yang terpasang di ruang tamu rumahnya. Sedangkan untuk figur ayah sendiri, Ciara belum pernah merasakannya karena saat itu usianya masih sangat kecil. Melihat Ciara yang hanya memanggil-manggil ayahnya disetiap tidurnya membuat Eden bingung. Sebenarnya ayah seperti apa yang selalu diimpikan Ciara? Apakah itu Zyan atau Aciel.


Tok tok tok


            Eden mendongakan kepalanya kearah pintu dan langsung tersenyum sumringah saat ia mendapati Jensen sedang berdiri di depan pintu, siap untuk masuk ke dalam ruang perawatan Ciara.


            “Hai, apa aku mengganggumu?”


            Eden segera menarik salah satu kursi kayu yang teronggok di sampingnya, lalu mempersilahkan Jensen untuk duduk di sebelahnya.


            “Bagaimana kondisi Ciara?”


            “Masih seperti sebelumnya. Suhu tubuhnya sangat panas, dan ia sempat mimisan.” jelas Eden. Jensen lalu mengecek suhu tubuh Ciara sebentar dan mengecek pergerakan pupil mata Ciara yang tampak lemah.


            “Suhu tubuhnya yang sangat tinggi membuat pembuluh darahnya pecah dan mimisan. Ed, kurasa kondisi Ciara cukup kritis. Bagaimana jika kita pindahkan Ciara ke ruang ICU. Kuharap kau tidak panik atau berpikiran macam-macam, karena dengan dipindahkannya ke ruang ICU tim medis dapat memantau kondisi Ciara lebih maksimal. Dan aku khawatir Ciara akan mengalami kejang jika aku tetap membiarkannya di sini tanpa pengawasan tim medis. Bagaimana?”


            “Lakukan apapun untuk Ciara. Tolong selamatkan Ciara.”


            Eden akhirnya tetap saja menangis meskipun Jensen telah memintanya untuk tenang. Sebagai seorang ibu perasaanya benar-benar sakit saat melihat putrinya terbaring tak berdaya seperti ini. Ia merasa benar-benar tak berguna sebagai seorang ibu dan hanya bisa memberikan penderitaan untuk Ciara.


            “Ssshh.... tenanglah, Ciara akan baik-baik saja.”


            Jensen memeluk Eden erat dan mencoba menenangkan Eden dari isak tangisnya saat beberapa perawat mulai memindahkan Ciara yang tak sadarkan diri ke ruang ICU.


            “Kenapa kondisinya semakin memburuk? Padahal ia baru saja meminum susunya.” isak Eden sedih. Ia sudah tak bisa berpikir jernih lagi saat ini dan hanya menyandarkan semuanya pada Jensen. Setidaknya ia butuh seseorang untuk mendampinginya agar ia lebih kuat.


            “Kondisinya sudah tidak stabil sejak ia masuk ke rumah sakit, jadi apapun dapat terjadi padanya. Trombositnya juga kembali turun, hanya sekitar delapan puluh ribu saat ini. Jika hingga besok pagi jumlah trombositnya tidak mengalami peningkatan, kita harus melakukan transfusi darah untuk Ciara.”


            “Apa Ciara akan baik-baik saja? Ia tidak akan meninggalkanku bukan? Aku takut kehilangannya Jen.” isak Eden pilu di dalam pelukan Jensen.


            “Tenanglah, Ciara pasti akan segera sembuh. Ia pasti akan kembali tertawa untukmu dan untuk semua orang yang mencintainya.”


-00-


            Jam menunjukan pukul tiga, dan suara jam kuno yang menjulang tinggi di ruang tamu terdengar cukup nyaring hingga ke dalam ruang kerja Aciel. Namun pria itu terlihat sama sekali tidak terusik dengan suara berisik itu dan hanya menatap puluhan email yang baru kali ini benar-benar ia buka. Ia lupa, atau lebih tepatnya ia melupakan email-email itu begitu saja saat melihat nama sang pengirim email yang tak lain adalah Zyan. Dan baru kali ini ia benar-benar membuka seluruh email itu setelah ia tak sengaja membuka salah satunya hingga ia merasa penasaran dengan seluruh email-email yang tak pernah disentuhnya selama ini.


Hai, aku Zyan.

__ADS_1


            Itu adalah isi dari email pertama yang diterima Aciel. Setelah itu Zyan kembali mengirimkan pesan lain yang isinya jauh lebih panjang dari pesan pertama.


            Selamat, kau sekarang telah menjadi seorang ayah untuk putri yang sangat cantik. Namanya Ciara. Dia sangat mirip denganmu saat membuka mata.


            Kemudian pesan berikutnya, tidak ada satupun gambar di dalamnya. Di pesan itu hanya berisi kata-kata yang cukup panjang dari Zyan yang isinya sungguh sangat mengejutkan untuk Aciel.


            Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu karena aku telah terlibat dalam permainan licik Eden. Aku tahu aku salah, tapi aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa melihat Eden sedih dengan pikiran balas dendamnya, jadi aku terpaksa melakukan ini. Tapi percayalah bahwa aku juga ditipu oleh Eden, pada awalnya. Ia mengatakan padaku jika ia sedang mengandung janin dari pria lain, bukan milikmu. Tapi setelah Ciara lahir, semuanya semakin jelas. Bayi itu adalah milikmu, bukan milik Anthony, seperti yang ia katakan selama ini. Eden hanya ingin membuatmu merasakan rasa kehilangan dan sakit seperti yang ia rasakan selama ini. Dan kau pasti bingung, untuk apa aku memberitahumu soal ini. Tapi aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya tiba-tiba tergerak untuk melakukannya karena aku merasa bersalah denganmu. Hey, aku tahu Eden sangat mencintaimu, dan mungkin kau juga. Jadi aku sedikit berharap kau akan merebut Eden dariku. Hahahaa... bukankah aku bodoh? Susah payah aku mendapatkan Eden hingga harus terseret ke dalam permainannya seperti ini. Tapi aku tidak peduli! Aku mencintai Eden, dan aku ingin Eden bahagia. Jadi jika merelakan Eden untukmu adalah satu-satunya cara untuk membuatnya bahagia, maka aku akan melakukannya. Ambil Eden! Ambil putrimu sekarang juga brengsek!


            Aciel membaca pesan itu dengan wajah datar dan emosi yang tak terbaca. Sejak tadi ia hanya diam sambil membuka satu persatu isi pesan Zyan yang ternyata cukup banyak. Namun pria itu sempat berhenti mengiriminya pesan selama dua minggu. Entahlah, mungkin pria itu kesal padanya karena ia tidak pernah datang untuk merebut Eden darinya. Bahkan ia tak pernah membaca pesan-pesan itu selama ini.



            Lihatlah putrimu yang menggemaskan. ini adalah pagi ke dua puluh setelah ia keluar dari rahim Eden. Ciara memiliki mata bulat seperti Eden, namun tatapan matanya sepertimu, sendu. Kalian benar-benar perpaduan yang sangat unik. Apa kau tidak ingin menyapa putrimu secara langsung dan menggendongnya? Ia sangat merindukan ayahnya. Ayah kandungnya yang selama ini selalu membuat ibunya menangis, namun juga membuat ibunya merasakan sebuah cinta untuk pertama kali.


            Akhir-akhir ini kondisi Eden tidak terlalu baik. Ia sakit karena terlalu lelah merawat Ciara. Sebagai ibu muda, ia sangat rajin dan cekatan. Ia tidak pernah meminta bantuan siapapun untuk mengurus Ciara atau mengerjakan tugas rumah tangga. Aku benar-benar beruntung memiliki isteri seperti Eden. Sayang, hatinya tidak untukku. Kau seharusnya menyesal karena telah menyia-nyiakan wanita cantik sebaik Eden. Kau bahkan telah merusak kelembutannya hingga kini ia diselimuti oleh kabut dendam yang begitu pekat. Beruntung sekarang ia telah memiliki Ciara, jadi ia bisa sedikit melupakan dendamnya dan hanya fokus mengurus putri kecil kalian yang menggemaskan. Datanglah ke rumah kami, aku masih menunggumu untuk merebut Eden dariku.


        Untuk kali ini Aciel merasa jantungnya sedang diremas-remas kuat oleh tangan-tangan yang tak kasat


mata. Rasanya sakit melihat putrinya yang terlahir dalam kondisi yang buruk di tengah-tengah konflik yang terjadi antara dirinya dan Eden. Padahal dulu ia selalu berjanji pada dirinya sendiri untuk memberikan tempat yang paling aman bagi anaknya. Tapi ternyata realita tak seindah harapannya. Ia bahkan langsung menyerah hanya dengan selembar kertas yang saat itu terlihat nyata untuknya. Ia benar-benar tak berpikir untuk membuktikan kebenarannya, dan hanya menuruti semua keinginan Eden untuk menikah dengan Zyan. Saat itu ia terlalu syok dengan kenyataan yang menamparnya hingga ia tidak bisa berpikir jernih untuk kehidupan keturunannya. Ia menyesal.


 



        Hari ini ia tersenyum sangat manis. Sekarang usianya tiga bulan. Bukankah waktu sangat cepat berlalu, dan kau sepertinya memang tidak ingin mengambilnya. Ayah macam apa kau ini? Atau jangan-jangan kau tidak pernah membaca pesanku? Terserah! Aku tidak peduli. Aku akan tetap mengirimkan gambar-gambar pertumbuhan putrimu agar kau semakin ingin mengambilnya dariku.


            Aku tidak tega pada Eden. Setiap malam ia terisak. Tidak, sebenarnya sejak ia menikah denganku, ia sering menangis saat tengah malam. Namun ia tidak pernah mengaku padaku dan hanya bersikap semuanya seolah baik-baik saja. Dan hari ini ia menciumku. Untuk pertama kalinya ia mencium bibirku dengan inisiatifnya sendiri saat aku sedang bermain bersama Ciara di taman belakang. Kurasa suasana hatinya sedang senang sekarang, karena ini adalah tanggal lima belas Oktober. Kau pasti tahu ada apa di tanggal lima belas. Hmm... aku sebenarnya sangat iri padamu. Bagaimana bisa kau tetap memenangkan hati Eden, meskipun kau telah banyak menyakitinya?


        “Aku juga tidak tahu.”


Tiba-tiba Aciel berseru pelan sambil mengamati wajah putrinya yang sangat menggemaskan. Ada setitik penyesalan di hatinya yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Selebihnya ia merasa tidak perlu menyesalinya, karena ini sudah terlalu terlambat untuk sebuah penyesalan.



        Hari ini Ciara belajar tengkurap. Kau harus lihat bagaimana senangnya Eden saat putrinya dapat tengkurap untuk pertama kali, bahkan Eden sampai menitikan air matanya haru ketika melihat Ciara mulai aktif dan lebih banyak merespon setiap kata-kata yang ia katakan. Tak jarang aku melihat Eden terlihat berkeluh kesah pada Ciara, seperti bayi itu mengerti apa yang sedang dibicarakannya. Tapi aku selalu membiarkannya seperti itu, karena kurasa itu bisa mengurangi rasa sedihnya karena memendam perasaan yang terlalu besar untukmu. Sebesar apapun kemarahan Eden padamu atau rasa dendamnya padam, tapi itu semua tidak akan pernah bisa mengalahkan rasa cintanya untukmu.


Wanita bodoh!


Itu adalah sebutan dariku untuk Eden karena telah mencintaimu dengan sangat besar. Dan untukmu, kau adalah pria paling brengsek yang tak tahu diri. Aku bahkan sudah lelah untuk menunggumu datang. Kau harus tahu, sekarang kehidupan rumah tangga kami sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak bisa memberikan kemewahan


pada Eden seperti yang selalu kau berikan padanya. Setiap bulan aku selalu mencari pekerjaan baru dengan gaji yang lebih tinggi agar aku dapat memberikan Eden fasilitas yang sepadan denganmu. Tapi aku ini bodoh! Aku tidak bisa mendapatkan jabatan yang bagus di perusahaan, dan sehari-hari aku harus menahan malu karena


Eden selalu memberikan sedikit dari tabungannya selama ini untuk kehidupan kami.


            Hingga sepuluh pesan yang ia baca dari Zyan, ia masih tidak percaya jika ia akhirnya memiliki seorang anak yang sangat manis seperti Ciara. Ini seperti sebuah keajaiban yang menjadi kenyataan. Saat Eden pergi membawa seluruh angan-angannya untuk menjadi seorang ayah, ia sudah tidak memiliki gairah lagi untuk melanjutkan mimpi-mimpinya tentang memiliki sebuah keluarga. Ia merasa telah gagal, dan ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia lalu melanjutkan membaca pesan lainnya dari Zyan. Meskipun sekarang kedua matanya terasa perih dan lelah, tapi ia benar-benar ingin membaca semuanya hingga tidak ada satupun yang terlewatkan.



            Hari ini Ciara belajar duduk sendiri. Lihatlah, ia sangat manis saat sedang duduk sendiri dengan tawanya yang tak pernah hilang dari wajahnya. Eden bahkan sangat gemas dengan pipi chubbynya dan mengeluh berkali-kali padaku jika ia ingin menggigitnya. Bagaimana? Ciara kecil memang penuh karisma seperti ayahnya bukan? Hahhh... kapan kau akan mengambil anakmu Aciel! Aku bosan menulis pesan seperti ini. Aku tampak seperti wanita kesepian yang terus mengharapkan balasan pesan dari seorang pria sibuk sepertimu. Ah yaa... Ciara beberapa hari yang lalu juga sakit, gigi depannya akan tumbuh, dan ia tidak berhenti merengek sepanjang malam. Untung saja Eden adalah ibu yang sabar, selama dua hari ia benar-benar tidak tidur dan hanya menemani Ciara yang sebentar-sebentar merengek saat tidur. Aku salut padanya, dia ibu yang luar biasa.


            Asal kau tahu, aku tidak pernah melebih-lebihkan ceritaku. Semua yang kutulis di sini adalah kenyataan, dan berdasarkan pengalamanku selama ini. Anggap saja aku pria gila yang sangat terobsesi pada Eden, tapi memang itulah kenyataanya. Hanya satu hal yang sangat kusayangkan darinya, ia selalu menyembunyikan banyak hal dari orang-orang disekitarnya. Aku yakin, hingga detik inipun ia masih menyembunyikan banyak hal dariku. Ia seperti tidak ingin membebani orang lain, dan hanya ingin memikulnya sendiri. Jika suatu saat kau akan mengambil Eden dariku, ingatlah untuk selalu memaksanya agar berbagi kesulitan karena ia tidak akan pernah mau membaginya jika ia tidak benar-benar dipaksa. Yahh... begitulah menurutku, semoga kau segera memberikan balasan untuk puluhan pesanku ini.


        “Tipikal keturunan Brexton, pria itu juga tidak pernah mau berbagi jika memiliki masalah. Kecuali saat ia hampir mati malam itu. Ia dengan terang-terangan memintaku untuk merawat putrinya hingga akhirnya hidupku menjadi seperti ini.”


        Aciel berbicara sendiri pada udara kosong, seakan-akan Zyan sedang duduk di depanya dan mendengarkan


seluruh celotehannya. Lucu memang. Pria sesempurna Aciel ternyata juga memiliki sisi lain yang menjadi kelemahannya. Sisi lain yang membuatnya tidak akan pernah menjadi pria sempurna untuk selamanya.


Brakkk


            “Aciel...”


            Aciel mendongakan kepalanya terkejut sambil memandang aneh Eden yang saat ini sedang berdiri di depan pintu ruang kerjanya dengan nafas memburu dan tubuh basah yang masih meneteskan titik-titik air dari ujung kepala hingga ujung celana jeans yang ia gunakan. Aciel lalu melirik jam dindingnya, mengecek jika wanita itu tidak salah datang di jam empat pagi seperti ini.


            “Apa yang kau lakukan di rumahku sepagi ini? Kau basah.” ucap Aciel sambil berjalan menghampiri Eden. Saat langkahnya semakin dekat, ia mulai menyadari adanya titik-titik air mata yang juga ikut turun membasahi wajahnya, menyatu dengan tetesan air yang berasal dari air hujan. Dan saat tubuhnya telah berada tepat di hadapan Eden, wanita itu langsung menubruknya, memeluknya dengan erat, dan menangis sejadi-jadinya di atas pundak tegapnya dengan nama Ciara yang terus berdengung di telinganya dengan berisik.

__ADS_1


            “Ciara... Ciara membutuhkan darahmu.”


__ADS_2