Black Swan

Black Swan
MEMBUJUK SIAN


__ADS_3

Mendadak semua orang menjadi mengucilkannya. Ia seperti hidup di sebuah tempat asing tanpa orang-orang yang menyayanginya.


Seminggu berlalu sejak hari yang sangat terkutuk itu. Dalam sehari ia membuat masalah dengan dua orang yang selama ini sangat berarti dalam hidupnya.


Aciel menunjukan sikap yang sangat berbeda sejak siang itu. Ia menjadi dingin padanya dan hubungan mereka terkesan kaku, hanya sebatas bos dan karyawan. Tidak ada lagi obrolan saat jam makan siang atau candaan mesum khas pria yang biasanya saling mereka lemparkan saat kebetulan sedang sama-sama memiliki pekerjaan di ruang meeting untuk diskusi.


Dulu dia dan Aciel sering mengambil waktu satu jam sebelum makan siang atau sesudah makan siang, pokoknya dalam satu hari mereka harus memiliki waktu satu jam untuk membicarakan hal-hal penting yang berkaitan dengan kemajuan perusahaan. Mereka mendiskusikan masalah keuangan, masalah pemasaran, masalah produksi, dan semua hal yang bisa mereka bicarakan untuk kemajuan perusahaan Aciel. Ia dan Aciel selalu menganalisis semua hal itu bersama sebelum membicarakannya dengan manajer lain atau pihak-pihak lain yang berkaitan dengan projek mereka.


Namun setelah pertengkaran yang diakibatkan oleh keangkuhannya siang itu, hubungannya dengan Aciel menjadi renggang. Aciel tidak lagi memanggilnya untuk melakukan diskusi di ruangannya dan pria itu justru memanggil orang lain— kepala divisi atau siapapun yang diinginkan olehnya untuk berbicara di kantornya. Fakta itu cukup


mengejutkan baginya karena ternyata ia merasa terganggu melihat ada orang lain yang bisa menggantikan posisinya di dekat Aciel. Padahal selama ini ia tidak pernah absen untuk mendampingi Aciel dimanapun dan kapanpun mereka memiliki projek. Jadi... ini cukup menyakitkan baginya.


Akhir-akhir ini ia merasa uring-uringan. Pekerjaannya menjadi sangat buruk. Ia berulang kali melakukan kesalahan yang membuat Aciel harus menugaskan dua orang staffnya untuk meneliti ulang setiap pekerjaan yang ia lakukan.


Sesungguhnya itu seperti sebuah penghinaan baginya. Kridibilitasnya telah diragukan oleh Aciel. Dan ia merasa semakin lama hal itu membuat hidupnya semakin kacau. Rasa takut dan tidak aman. Itu mengerdilkan dirinya hingga ke level yang sangat parah. Ia bahkan nyaris tidak yakin apakah dia mampu bangkit lagi dari keterpurukan ini.


Namun yang patut disyukuri, ia tidak melampiaskan kehancurannya dengan minum-minum hingga mabuk. Ia hanya minum sewajarnya di malam hari sebelum tidur untuk membantunya agar bisa segera memejamkan mata.


Masalah tentang perceraiannya memberikan kontribusi lain dalam kehancuran hidupnya selain masalahnya dengan Aciel. Dan hal itu semakin parah jika ia berada di rumah. Rasanya tidak ada lagi tempat yang mampu membuatnya tenang setelah kantor dan rumah menjadi dua tempat yang paling memberikan rasa sakit bagi tubuhnya.


Tapi masalah tentang perceraiannya dengan Olivia akan segera teratasi. Ia telah meminta kuasa hukumnya untuk mengurus semua berkas-berkasnya, dan rencananya minggu depan berkas-berkas itu akan dikirim ke pengadilan. Lalu tidak lama lagi ia akan bisa terbebas dari salah satu hal dari dua hal yang mengganggunya. Yeay, selamat untukmu pecundang!


Tidak ada satupun gambaran kebahagiaan di benaknya setiap kali ia memikirkan tentang akhir dari perceraiannya dengan Olivia. Ia praktis akan kembali menjadi Sian yang kesepian seperti dulu. Lalu apa?


Itu pertanyaan yang terus menerus menghantuinya akhir-akhir ini. Lalu apa? Apakah ia bisa menjalani kesendirian itu seumur hidup. Anak gadisnya sepertinya tidak akan memihaknya sama sekali dan akan memilih Olivia. Akhir-akhir ini mereka jarang menghabiskan waktu bersama setelah ia menjemputnya dari rumah Eden malam itu.


Sekarang ia tak bisa bercanda lagi dengan Justice seperti dulu. Ada sekat yang membatasi mereka. Rasa bersalah dalam dirinya membuatnya merasa tidak pantas berada di dekat gadis itu. Ia selalu merasa berdosa setiap kalI melihat Justice menjalani hari-harinya sebagai seorang gadis kecil yang penuh semangat. Tapi gadis itu agak tidak bahagia saat di rumah. Ia sering mendengar Justice merengek untuk diantar ke rumah Eden atau membicarakan Lutherford bersaudara dengan antusias. Hatinya benar-benar telah berada di rumah itu, bukan di rumahnya sendiri.


Miris rasanya membayangkan semua itu terjadi pada keluarganya. Pada hidup putrinya yang berharga. Dan sialnya semua itu terjadi karena dirinya sendiri yang dengan sangat memalukannya merasa kalah dari Scout Voyage, sehingga ia memilih menutupi sikap pengecutnya dengan lari dari tanggungjawab.


Semua itu berawal ketika Olivia diculik namun ia tidak pernah mendapatkan pesan apapun dari wanita itu yang menyuruhnya untuk menolongnya. Seketika saat itu ia merasa telah menjadi seseorang yang tidak lagi dibutuhkan oleh Olivia. Padahal dulu saat gadis itu kehilangan rumahnya, Olivia tampak begitu rapuh dan hanya mengandalkannya sebagai satu-satunya orang yang ia inginkan untuk menolongnya. Tapi saat itu Olivia sama sekali tidak terlihat membutuhkan pertolongannya. Sebaliknya, wanita itu justru menikmati kebersamaannya bersama Scout hingga ia memutuskan menikah dengan pria itu.


“Sian... Sian Markle?”


Pria itu segera terkesiap mendengar suara teriakan yang terdengar begitu dekat dengannya. Refleks ia mendongak dan menemukan Eden sedang berdiri di depan meja kerjanya sambil menunjukan raut khawatir di wajahnya.


“Aku masuk atas izin sekretarismu.” Dia berbicara dengan kikuk. “Tapi kau terus melamun saat aku memanggilmu di dekat pintu. Kurasa aku mengejutkanmu ya.”


Dia memang terkejut. Sangat terkejut hingga ia nyaris melompat dari kursinya. Namun ia tidak akan mengakui hal itu. Sebaliknya, ia berpura-pura bersikap tenang dengan berdiri dan berjalan mengitari meja untuk memeluk Eden.


“Apa yang membawamu kemari? Kau pasti bisa mendengar isi hatiku. Aku sangat merindukanmu sejak seminggu yang lalu.”


Eden segera mendengus setelah Sian melepaskan pelukannya. Ia tahu itu hanya kata-kata karangannya yang tidak benar-benar menggambarkan perasannya saat ini.

__ADS_1


“Aku sudah kebal dengan pembohong sepertimu. Bahkan Aciel si tukang merayu itu tidak bisa membodohiku lagi dengan kata-kata manisnya.”


Sian meringis kecil lalu memberi isyarat pada Eden agar duduk di sofa.


“Kau tidak memberitahuku jika kau akan datang? Ada masalah?”


“Satu-satunya masalah yang kudapatkan sekarang adalah tidak ada orang yang mau memberikan undangan ini padamu.”


Eden mengulurkan selembar kertas bergambar fancy khas balita. Di permukaannya tertulis dengan jelas bahwa itu merupakan undangan pesta ulang tahun.


“Ulang tahun?”


“Si kembar.”


Sian segera meraih kartu undangan kecil itu dan membacanya sekilas. Isinya mengenai acara makan malam untuk merayakan hari ulang tahu Leander dan Theodora.


“Kenapa kau tidak menghubungiku? Kau tidak perlu repot-repot datang ke kantor di saat kau memiliki begitu banyak pekerjaan untuk mengurus anak-anakmu.”


“Tidak, semua orang mendapatkan undangan Sian. Meskipun hanya makan malam untuk beberapa rekan Aciel, itu tetap datang dengan undangan. Kau termasuk dalam daftar tamu undangan, tapi Aciel tidak mau memberikannya padamu. Kenapa?”


Sudah berhari-hari ia melihat tingkah Aciel di rumah sangat aneh. Ia begitu mudah marah, uring-uringan, dan terlihat lebih lelah dari biasanya. Sebelum ini ia pikir Aciel sedang memiliki masalah dengan pekerjaannya, namun pagi ini ia segera mendapatkan jawabannya saat ia untuk pertama kalinya melihat Aciel begitu enggan untuk menyerahkan kartu undangan itu pada Sian.


“Mungkin Aciel terlalu sibuk untuk memberikan kartu undangan ini padaku. Ngomong-ngomong terimakasih. Aku pasti akan datang.”


“Aku memberikan undangan itu pada Olivia juga tadi pagi. Nah, ada sesuatu yang aneh diantara kalian. Apa kalian baik-baik saja?”


“Pembohong. Kau dan Aciel tidak baik-baik saja begitu juga dengan hubunganmu dan Olivia. Sian, kumohon jangan membohongiku. Kau sudah kuanggap seperti saudara laki-lakiku sendiri,” ucap Eden dengan mimik wajah khawatir.


Ia tidak mungkin mempercayai bualan Sian yang sangat payah itu. Tidak ada yang baik-baik saja sejak hari penculikan Olivia. Lalu semuanya semakin parah dari hari ke hari hingga detik ini.


“Baiklah,” jawab Sian pasrah. “Aciel dan aku hanya sedang berselisih. Itu sebenarnya hal yang wajar, Ed. Mungkin waktunya saja yang kali ini tidak tepat. Biasanya kami berselisih selama satu hingga dua hari, setelah itu kami akan baik-baik saja lagi. Sedangkan Olivia, itu hanya masalah hubungan rumah tangga. Kami berselisih untuk menentukan hal yang baik untuk Justice dan yang tidak. Bukankah itu wajar terjadi?”


Eden tampak menimbang-nimbang sejenak. Merasa tidak yakin dengan apa yang terlontar dari mulut Sian. Kelihatannya masalah yang dialaminya tidak sesederhana itu. Sian terlihat lebih menderita dari biasanya. Pipinya sangat tirus, kantong matanya sangat hitam. Hal-hal seperti itu biasanya hanya terjadi pada orang-orang dengan masalah super berat.


“Oke, anggap saja aku percaya. Bagaimana hubunganmu dengan Olivia?”


“Tidak ada masalah. Sudah kubilang...”


“Aku melihat kalian tidak seperti itu,” Eden memotong kata-katanya dengan cepat. “Ada masalah besar diantara kalian. Oh ayolah Sian, kau ini seorang pembohong yang buruk.”


Sian diam saja. Ia tidak membenarkan, tapi juga tidak menyalahkan tebakan Eden. Ia sekarang justru menunduk, berpura-pura sibuk dengan kartu undangan yang diberikan oleh Eden agar ia tidak perlu menatap mata Eden yang terus menatap ke arahnya untuk mencari kebohongan yang ia sembunyikan.


“Hey, lihat aku Sian. Ceritakan padaku apa yang terjadi, hmm.”

__ADS_1


Sentuhan lembut Eden di pundaknya meluluhkan semua pertahanannya yang sangat payah. Sejak awal ia sudah yakin jika Eden tidak bisa dibohongi dengan mudah. Dan wanita itu semakin tidak bisa dihindari dengan taktiknya yang selalu ampuh untuk meluluhkannya.


“Kurasa aku tidak bisa hidup dengan bayangan Scout diantara kami. Aku sudah mencobanya Ed, tapi itu gagal,” ucapnya nyaris seperti gumaman. Ia sengaja melihat ke arah lain, takut dengan tatapan mata Eden yang seakan akan mengasihaninya.


“Itu hal yang normal. Justru aku akan heran jika kau bisa melakukannya dengan mudah. Sudah kuduga jika keputusannya untuk menerima Olivia kembali tidak akan berjalan dengan mudah. Tapi aku mengagumi keberanianmu. Sungguh, itu hal terhebat yang pernah kulihat diantara orang-orang dengan masalah yang sama. Kau mentolerir pasanganmu. Itu hebat Sian.”


“Tidak lagi sekarang. Aku sudah mengurus perceraianku dengan Olivia.”


Ia sangka Eden akan memekik terkejut atau menunjukan reaksi yang akan membuatnya kerepotan dengan tingkahnya. Tapi nyatanya itu tidak terjadi. Eden hanya diam, memberinya senyum lembut lalu mengusap bahunya beberapa kali.


“Itu pasti keputusan yang sulit ya. Kau yakin akan melakukannya? Sudah berapa lama kau memikirkan hal itu?”


“Sangat sulit. Aku sangat mencintai Olivia, Ed. Dia wanita pertama setelah Tiffany yang berhasil membuat hatiku bergetar. Tapi tindakannya bersama Scout menyakitiku. Selama berbulan-bulan ketika dia diculik, aku terus memikirkanya. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi padanya selama dia diculik. Tapi tak pernah sekalipun terlintas di pikiranku bahwa mereka akan menikah. Oh ****! Aku dikhianati!”


Emosinya meluap. Bagaikan gunung api yang sudah lama menahan diri untuk menyemburkan lava panas. Ia juga


melakukan hal yang sama seperti gunung api. Ia mengeluarkan seluruh amarahnya dan juga kekecewaannya pada Eden selama ini. Karena sejauh ini hanya Eden yang bisa memahami dirinya. Aciel bahkan tidak bisa bersikap sebijak Eden dan justru memusuhinya selama beberapa hari.


“Kusangka ini yang membuat kalian berselisih. Kau dan Aciel. Yeah... dia terbiasa mengendalikan orang-orang di sekelilingnya. Dan sekarang dia gusar karena kau tidak bisa bekerja sesuai dengan kehendaknya. Tolong  maafkan perbuatan Aciel. Aku sudah menasihatinya agar tidak terlalu banyak mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi agaknya itu sulit untuk dilakukan karena ia sudah terbiasa terlibat dalam setiap aspek hidupmu.”


Tersenyum samar Sian mengangguk. “Kau benar. Dia sudah terbiasa mengendalikan hidupku. Dan selama ini aku tidak pernah mempermasalahkannya sampai masalah rumah tangga ini datang. Maksudku kali ini aku ingin dibiarkan untuk menyelesaikan masalah ini sendiri dengan caraku. Aku tidak akan menuduh caranya buruk atau tidak baik. Hanya saja sekarang cara itu sedikit tidak cocok dengan masalahku.”


“Aku tahu. Aciel sangat impulsif. Dia memiliki trauma dengan perceraian orangtuanya. Jadi kusangka tindakannya padamu menjadi agak keras, iya kan?”


“Dia mengutukku habis-habisan. Baru kali ini aku melihat Aciel semarah itu padaku. Biasanya ia tidak pernah seperti itu.”


“Aciel yang sekarang berbeda dengan Aciel yang dulu. Keterlibatannya dalam mengasuh Justice serta sikapnya yang menjadi family man membuatnya merasa Justice tidak berhak menjadi korban dari pertikaian kedua orangtuanya. Aciel menjadi lebih sentimentil dari hari ke hari. Aku bahkan sampai heran dengan perubahan sikapnya. Tapi itu bagus menurut sisiku. Sekarang dia sangat mengutamakan keluarganya daripada apapun.”


Sian tersenyum menanggapi ucapan Eden. Dulu ia pikir ia juga akan menjadi seperti Aciel. Setelah bertahun-tahun dihabiskan dengan hidup sebagai pria brengsek, lalu perlahan-lahan ia akan berubah menjadi pria baik yang sangat menyayangi keluarganya berkat sentuhan seorang wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Tapi ia memang tidak setangguh Aciel. Ia bahkan sudah menyatakan kalah hanya dalam satu kali hantaman badai.


“Aku tidak setangguh Aciel. Dia pria yang nekat, dia kejam dan sangat impulsif untuk apa yang menjadi haknya. Aciel memiliki tekad yang sangat kuat untuk mempertahankan wanita yang ia cintai. Sedangkan aku... entahlah, mungkin benar kata Aciel. Aku seorang pecundang.”


“Hey, kenapa kau menjadi lemah seperti ini? Setahuku kau juga tangguh, tapi kau memang sangat berbeda dengan Aciel. Kau lebih lembut. Kau memiliki perasaan yang sangat halus, yang sekarang menjadi kelemahanmu. Saranku, jika kau sangat mencintai Olivia seperti yang kau katakan, kau harus menanamkan pada dirimu sendiri untuk memaafkan. Kau tahu jika semua orang pernah membuat kesalahan dan tidak sempurna. Kau harus memaafkan tindakan Olivia di masa lalu dan hanya memikirkan tentang hidup kalian. Lagipula Scout telah mati, kau tidak bisa menghadirkan Scout di tengah kehidupan rumah tangga kalian karena dia tidak nyata. Pria itu tidak akan bisa merebut Olivia darimu, Sian. Tolong pikirkan kata-kataku.”


“Terimakasih Ed. Itu adalah saran terbaik yang pernah kudengar. Kau yang terbaik.”


Eden tersenyum simpul menatap Sian. “Ngomong-ngomong kau dulu juga pernah berada di posisiku, sedangkan aku berada di posisimu. Ingat saat kau membujukku di balkon?”


“Ah... ya. Aku tak menyangka jika jauh di masa depan aku akan berada di posisimu saat itu. Rasanya sudah lama sekali.”


“Tapi itu bagus untuk dikenang. Itu lebih bisa membuatku memahami perasaanmu. Ketika aku sedang marah pada Aciel dan merasa tidak memiliki harapan untuk pria itu, sulit rasanya untuk memutuskan sesuatu dengan benar. Jadi sekarang aku juga tidak akan memaksamu untuk melakukannya dengan buru-buru. Lakukan semuanya perlahan-lahan, lalu kau akan menemukan jawabannya di detik terakhir ketika kau merasa sudah tidak ada lagi harapan untuk masa depanmu.”


“Kata-kata yang bagus. Akan terus kuingat sampai kapanpun.”

__ADS_1


“Hmm... aku harus pulang.” Eden melirik jam tangannya dan segera bangkit meraih tas tangannya yang tergletak di atas meja kerja Sian. “Saatnya si kembar makan snack. Selain itu Ciara dan Louise pasti heboh mencariku di rumah jika aku tidak ada di rumah setelah mereka kembali dari sekolah. Sampai jumpa Sian. Jangan lupa pesta ulang tahun si kembar minggu depan. Jika kau beralasan tidak hadir, aku tidak akan pernah memaafkamu seumur hidupku.”


“Oh ****! Ancaman yang sangat mengerikan.” Sian meraih Eden untuk pelukan perpisahan, lalu ia berkata sambil memeluk Eden. “Kau tahu aku tidak akan mengambil risiko itu. Jadi aku pasti akan datang. Terimakasih banyak Ed. Kau selalu menjadi yang terbaik.”


__ADS_2