Black Swan

Black Swan
Come Back Home (Thirty One)


__ADS_3

            “Mommy.... kapan kita akan melihat daddy?” tanya Ciara tidak sabar sambil melongokan kepalanya ke dalam kamar ibunya. Sang ibu yang sedang bersiap-siap lantas memberikan isyarat pada Ciara untuk menunggu karena ia hanya tinggal membubuhkan sedikit bedak di wajahnya yang cantik. Keterlambatannya hari ini disebabkan oleh staffnya yang menghubunginya untuk melaporkan segala persiapan yang telah selesai mereka lakukan hari ini.


            “Tunggu mommy di depan. Pakai sepatumu yang telah mommy siapkan di depan pintu kamarmu.” perintah Eden sambil berjalan kesana kemari untuk memasukan barang-barang keperluannya ke dalam tas. Rencananya ia akan berada di California selama dua hari. Malam ini ia akan menginap di rumah orang tua Zyan, dan mungkin baru akan kembali besok siang. Ia merasa harus memberikan waktu yang sedikit banyak untuk orang tua Zyan bercengkrama bersama Ciara karena mereka sudah lama tidak bertemu Ciara. Padahal saat Ciara masih bayi, orang tua Zyan sangat berjasa dan selalu menjaga Ciara saat ia sedang sibuk mengurus kepindahannya ke Perancis.


            “Mommy... mommy....”


            “Hmm, kenapa berteriak sayang?” tanya Eden yang sedang sibuk memakai sepatu flat shoesnya di depan pintu.


            “Fany aunty tidak ikut?”


            “Tidak sayang. Fany aunty harus bekerja hari ini. Ayo, kereta kita sudah menunggu di stasiun.”


               Ciara langsung berseru girang sambil menggandeng tangan ibunya untuk segera masuk ke dalam lift. Gadis kecil itu hari ini terlihat begitu bersemangat untuk pergi mengunjungi ayahnya di negara bagian California. Bahkan sejak pagi-pagi sekali, Ciara telah menghebohkan Eden dengan suara teriakannya yang cempreng sambil melompat-lompat di atas ranjang saat wanita itu sedang tertidur lelap.


                “Mommy, kenapa kita tidak memiliki foto daddy di rumah?”


                “Mommy lupa membawanya saat pergi ke Perancis.” ucap Eden beralasan. Padahal bukan itu. Ia sengaja tidak membawanya karena ia tidak mau mengingat semua kesedihannya di masa lalu. Zyan adalah pria yang baik. Bahkan terlalu baik untuknya, hingga Tuhan memutuskan untuk mengambil Zyan setelah satu tahun mereka menikah. Ia memang tidak pantas bersanding dengan pria sebaik Zyan. Terlalu banyak dosa yang ia lakukan di masa lalu, hingga akhirnya Tuhan memberikan hidup yang sangat sulit seperti ini untuknya. Memang kesulitan itu bukan dalam materi, tapi baginya kesulitan afeksi jauh lebih menyiksa daripada kesulitan materi yang dapat dicari dengan mudah.


            “Mommy... aku lapar.” rengek Ciara ketika mereka melewati toko roti di seberang apartemen.


            “Oh, mommy juga.” balas Eden terkikik. Putrinya ini memang sangat mirip dengannya dalam hal makan. Hampir semua makanan dapat dimakan oleh putrinya tanpa pilih-pilih. Tapi dalam hal kemauan dan fisik, Ciara cukup banyak mewarisi sifat ayahnya. Entahlah, Eden sendiri sampai tak habis pikir, mengapa Ciara sangat mirip dengan pria itu. Terutama senyumnya dan juga mata coklatnya. Terkadang ia merasa was-was ketika


terlalu lama menatap mata coklat milik Ciara, ia seperti dejavu, kembali ke masa itu, lalu ia sedang berdiri di hadapan pria itu untuk melakukan sebuah konfrontasi seperti biasa.


            “Mommy, Ciara ingin roti coklat dan cake strawberry.” tunjuk Ciara menggemaskan pada deretan kue strawberry yang menggiurkan. Kue dengan lelehan selai strawberry disela-sela potongan buah strawberry itu nyatanya juga berhasil mengalihkan atensi Eden sejak ia memasuki toko bernuansa klasik itu. Dan lagi-lagi ia merasa dejavu, ingatannya dengan lancang memutar kenangannya bersama Aciel saat pria itu memaksanya untuk memakan buah strawberry dengan caranya. Eww... Eden tiba-tiba merasa mual dan ia tidak ingin lagi mengingat hal itu di dalam kepalanya.


            “Baiklah, kau akan mendapatkannya princess.”


            Eden tersenyum geli kearah Ciara dan segera mendekati gadis kecil itu untuk membelikan apa yang menjadi keinginan putri kecilnya. Namun sejurus kemudian Eden terpaku di tempat ketika sebuah suara yang terdengar tak asing di telinganya tiba-tiba mengalun dengan halus di belakangnya.


            “Tolong berikan aku dua croissant.”


            Dengan kaku Eden tetap bertahan di depan etalase roti tanpa berani menoleh ke belakang, meskipun Ciara telah berlari entah kemana. Pria itu... Sian, saat ini sedang berdiri tepat di sampingnya untuk memesan roti.


            "Mommy! mommy!”


              Eden mendengar Ciara sedang memanggilnya dari ujung pintu, namun ia tidak berani menoleh kesana karena Sian belum juga beranjak dari sebelahnya. Bahkan setelah pelayan itu memberikan pesanannya, ia masih berdiri kaku di depan etalase roti, seolah-olah ia masih ingin membeli roti lagi.


            “Maaf, putrimu sejak tadi memanggilmu.”


            Sian menegur pelan wanita di sampingnya sambil memandang iba gadis kecil yang terlihat kesal di ujung pintu. Sejak tadi gadis itu berteriak-teriak, dan ibunya justru berdiri kaku seperti patung tanpa menghiraukannya.


            “Hey, putrimu....”


            Sian mengerutkan dahinya kesal ketika wanita itu justru berbalik begitu saja sambil menundukan wajahnya tanpa mengindahkan tegurannya.


               “Dasar wanita sombong!” umpat Sian kesal. Pelayan yang berdiri di depannya tampak terkekeh melihat aksi bersungut-sungut Sian yang cukup lucu.

__ADS_1


                “Siapa wanita itu? Dia terlihat sangat tidak sopan.”


                “Sepertinya orang baru, saya baru melihatnya hari ini tuan.” ucap petugas kasir itu sambil memasukan dua roti pesanan Sian ke dalam kantong kertas.


                “Pantas saja ia tidak sopan seperti itu. Tapi anaknya cukup menggemaskan.” ucap Sian menimpali sambil menatap kearah Ciara yang sedang menempelkan tubuh mungilnya di depan kaca jendela yang mengarah tepat ke jalan raya yang padat.


                Setelah membayar semua rotinya, Sian segera keluar dari toko roti itu untuk kembali ke kantor. Namun saat ia hendak masuk kedalam mobilnya, ia melihat wanita tidak sopan itu sedang duduk di kursi panjang yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri. Dari kejauhan ia melihat wanita itu sedang menyuapi anaknya dengan telaten, dan sesekali mereka terlihat tertawa bersama-sama, entah menertawakan apa. Dan saat melihat itu kegusaran Sian seketika menguap. Entah mengapa ia merasa jika wanita itu sebenarnya baik. Hanya saja ia tidak mengerti dengan sikap wanita itu yang cukup acuh beberapa saat yang lalu.


            “Huh, untuk apa aku mencampuri urusannya?” gumam Sian sambil lalu dan segera masuk ke dalam mobilnya.


-00-


              Selama kurang lebih empat jam, akhirnya Eden dan Ciara tiba di stasiun California dengan selamat. Mereka berdua tampak lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Apalagi ini adalah perjalanan kereta pertama Ciara. Sebelumnya Ciara tidak pernah naik kereta ketika di Perancis, karena Eden selalu menyetir sendiri kemanapun ia pergi.


            “Mommy, dimana rumah daddy Zy?” tanya Ciara pelan sambil mengucek-ngucek matanya. Ia baru saja bangun tidur ketika ibunya mengatakan jika mereka telah sampai.


            “Sebentar, kita harus naik taksi dulu sebelum tiba di rumah nenek.” ucap Eden sambil menarik tas kopornya. Dua orang itu kemudian berjalan beriringin menuju pintu keluar stasiun untuk mencari taksi umum yang telah berjejer di depan pintu. Namun lagi-lagi Eden mendapatkan sial siang ini. Tak sengaja ekor matanya melihat siluet tubuh Aciel dari kejauhan. Entah kenapa Tuhan justru membuatnya harus bertemu dengan orang-orang yang sangat ia hindari di California.


            “Kenapa pria itu ada di sini?” gumam Eden kesal. Ia tidak tahu mengapa pria sekaya Aciel bisa berada di stasiun California. Seharusnya pria arogan itu hanya pergi menggunakan mobil pribadinya atau mungkin jet pribadinya. Sangat mustahil bagi seorang Aciel untuk ikut berdesak-desakan bersama para penumpang lain di dalam kereta.


            “Mommy... ayo, kenapa berhenti?”


            Tanpa sadar Eden telah mengabaikan Ciara hanya untuk menatap Aciel dari kejauhan. Ia yakin pria itu tidak akan mungkin melihatnya karena saat ini suasana stasiun terlihat sangat padat. Tapi tetap saja ia harus waspada karena anak buah Aciel pasti telah berkeliaran di sekitar stasiun ini. Lagi-lagi jantung Eden berdetak kencang, ia merasa keringat dingin tengah membanjiri kening dan tengkuknya. Entah sejak kapan ia menjadi memiliki rasa takut yang teramat berlebihan pada Aciel, padahal sebelumnya ia merasa baik-baik saja. Serpihan memori dari masa lalu


seperti membawa dampak buruk bagi kehidupannya bersama Ciara saat ini.


            “Mommy kenapa?” tanya Ciara ingin tahu. Ia merasa sakit karena Eden terus menarik-narik tangannya dengan kasar.


            “Eee.. mommy tidak apa-apa sayang. Mommy hanya ingin segera bertemu nenekmu.” bohong Eden sambil


melirik ke luar jendela taksi yang dipenuhi oleh banyak pejalan kaki. Di seberang sana ia dapat melihat Aciel sedang berjalan bersama dengan para pengikutnya yang terlihat kaku dan tegap. Keberadaan mereka di stasiun itu membuat para penumpang menoleh kearah mereka, namun dengan gaya arogannya yang biasa, Aciel terlihat santai sambil mendongakan kepalanya tak peduli pada tatapan orang-orang yang mengarah padanya.


            “Hari ini stasiun sangat ramai karena kedatangan tuan Lutherford.”


            Tiba-tiba petugas taksi itu berseru pelan setelah mendudukan dirinya di atas kursi kemudi. Eden yang awalnya sedang menatap kepergian rombongan Aciel di luar stasiun langsung mengalihkan perhatiannya pada sang supir taksi.


            “Oh begitu.” jawab Eden pendek. Ia malas membicarakan Aciel. Tapi ia juga cukup penasaran dengan pria itu. Bodoh memang!


            “Tuan Lutherford berencana akan memasang billboard besar di stasiun ini untuk mempromosikan produk barunya. Ck, pria itu benar-benar sempurna dan sangat kaya. Aku tidak pernah melihat seorang pengusaha yang sangat berkarisma seperti tuan Lutherford.”


                Eden rasanya ingin muntah mendengar pujian itu. Tunggu sampai dia tahu bagaimana sikap brengsek seorang Aciel Lutherford. Ia pasti akan langsung mengganti pujiannya menjadi sumpah serapah yang kasar.


                “Kau terlalu berlebihan menilai pria itu tuan.” ucap Eden terdengar tidak senang. Supir taksi itu


melirik sekilas wajah Eden dari kaca spion, dan ia langsung tahu jika penumpangnya itu tidak terlalu menyukai Aciel.


            “Apa kau tinggal di California?”

__ADS_1


            “Tidak, aku hanya ingin mengunjungi makam suamiku dan mengunjungi ibu mertuaku.” Jawab Eden apa adanya. Mengingat tentang Zyan selalu membuatnya sedih dan ingin menangis. Betapa baiknya Zyan selama ini padanya, namun ia tidak pernah bisa membalas kebaikan pria itu. Mungkin satu-satunya kebaikan yang ia berikan pada Zyan hanyalah hubungan pernikahan mereka yang ternyata hanya mampu bertahan selama satu tahun.


               “Maaf nona, saya tidak bermaksud membuat nona bersedih.”


               “Oh tidak, aku baik-baik saja. Suamiku sudah lama meninggal karena kecelakaan.”


               Eden tanpa sadar mengelus rambut Ciara lembut saat menceritakan bagaimana kematian Zyan pada


supir taksi itu. Selama satu tahun hidup bersama Zyan, pria itu banyak membantunya. Bahkan Zyan juga memainkan perannya sebagai seorang ayah yang baik, meskipun Ciara bukan putri kandungnya. Kehidupan mereka selama satu tahun benar-benar indah dan sangat bermakna bagi Eden. Terutama kehidupannya saat


bersama orang tua Zyan. Mereka selalu memperlaukannya seperti anak kandungnya sendiri, dan mereka juga sangat menyayangi Ciara. Sayang saat Zyan meninggal, mereka berdua memilih untuk hidup tenang di California dan meninggalkan semua kenangan mereka bersama Zyan di Las Vegas. Terlalu menyakitkan bagi mereka


untuk terus hidup bersama bayang-bayang Zyan yang sebenarnya tidak akan pernah hilang sampai kapanpun di benak mereka. Kepindahan mereka hanya sekedar untuk menghindari masa lalu mereka yang menyedihkan.


               “Mommy, apa kita sudah sampai?”


                “Sebentar lagi sayang.” jawab Eden lembut. Dari kejauhan ia dapat melihat pagar coklat milik rumah orang tua Zyan yang terbuka lebar. Tranz pasti telah memberitahu mereka tentang


kedatangannya siang ini.


-00-


            “Aku benar-benar tidak menyangka kau akan datang nak.”


            Nyonya Angela menghidangkan secangkir teh yang masih hangat di atas meja sambil mendudukan dirinya di sebelah Eden. Semalam ia telah mendapatkan kabar tentang kedatangan Eden dari Tranz, tapi ia tidak menyangka jika Eden akan datang siang ini bersama Ciara.  Ia pikir Eden akan datang setelah menyelesaikan acara fashion shownya di Las Vegas.


            “Ciara ingin sekali bertemu ibu dan Zyan.”


            “Kau mengatakan padanya jika Zyan adalah ayahnya?”


            Eden mengangguk kecil sambil menyesap teh hangatnya canggung. Ia tahu, nyonya Angela sebenarnya tidak bermaksud untuk menyinggungnya, tapi ia merasa tertohok dengan kalimat pertanyaan itu.


            “Eden, apa tidak sebaiknya kau berkata jujur pada Ciara? Lagipula Zyan juga telah pergi, kau tidak bisa terus membohongi putrimu. Ia berhak mengetahui siapa ayah kandungnya. Lagipula saat ini kau sudah sangat dekat dengannya.” nasihat nyonya Angela bijak. Namun Eden justru merasa sebaliknya. Ia merasa ibu Zyan terlalu ikut campur dengan urusannya dan terlalu menyalahkannya atas status Ciara yang tidak jelas.


            “Aku tidak ingin terlibat dengannya lagi ibu. Itu terlalu menyakitkan. Susah payah aku melepaskan diri darinya dan menikah dengan Zyan. Lalu sekarang aku harus kembali untuk menjelaskan status Ciara? Itu hanya akan kembali menghambat hidupku.” desah Eden sedikit emosi. Topik mengenai masa lalu dan Aciel pasti selalu membuat emosi Eden menjadi meluap-luap seperti ini. Kebenciannya pada pria itu sudah terlalu mendarah daging di dalam dirinya, namun cinta untuk pria itu juga belum sepenuhnya hilang dari hatinya.


            “Tapi kau sebenarnya tidak pernah mencintai Zyan bukan? Kau hanya sekedar


mengasihaninya yang sudah lama memiliki perasaan untukmu.” ucap nyonya Angela telak. Wanita paruh baya itu terlihat menyembunyikan senyum kemenangannya setelah berhasil membuat Eden bungkam dengan jawabannya. Tentu ia bukan ibu yang bodoh, ia tahu dengan pasti bagaimana perasaan Eden untuk putranya. Sayang


putranya terlanjur mencintai Eden terlalu dalam hingga tidak ada pilihan lain selain membiarkan mereka bersama meskipun Eden sebenarnya tak sepenuhnya memiliki cinta untuk putranya.


            “Ibu...”


            Eden berseru tidak suka ketika ibu Zyan justru menganggapnya sepicik itu. Jujur, ia memang belum memiliki cinta untuk Zyan. Tapi ia sedang berusaha untuk mengalihkan hatinya agar hanya tertuju pada Zyan, meskipun pria itu sudah lama meninggalkannya.


            “Maafkan aku Eden, aku hanya tidak ingin melihatmu terus seperti ini. Aku tahu bagaimana sulitnya hidup sendiri sambil mengurus Ciara yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kau harus ingat Eden, hidup Ciara masih panjang. Semakin besar usia Ciara, ia pasti akan terus menanyakan tentang ayahnya, asal usul ayahnya, dan keluarganya. Ada kalanya kau tidak akan bisa berbohong pada Ciara lagi seperti saat ini. Jadi sebelum semuanya menjadi rumit, lebih baik kau mengatakan yang sejujurnya pada Ciara sekarang.”

__ADS_1


            “Tapi ibu, dia tidak tahu jika Ciara adalah putrinya. Yang ia tahu Ciara adalah anak dari Anthony. Apa jadinya jika aku tiba-tiba muncul di hadapannya sambil membawa Ciara yang tidak pernah tahu apa-apa. Aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri ibu. Lagipula kematian Zyan tidak pernah terekspos oleh media manapun, dia tidak tahu jika sekarang aku adalah seorang single parent yang sedang membesarkan anaknya sendiri.” jawab Eden memelas. Rona di wajahnya kini telah sepenuhnya hilang, digantikan dengan wajah lesu yang terlihat kesal karena ibu Zyan terus menyerangnya dengan topik seputar Aciel. Ia lalu berdecak kesal sambil mencoba menormalkan emosinya. Sungguh ia tidak pernah berpikir jika kunjungannya ke California akan membawanya pada perdebatan dengan ibu mertuanya. Ia pikir semuanya masih akan tetap sama seperti saat Zyan masih hidup. Mereka akan memperlakukannya dengan baik, seperti putri kandungnya sendiri. Tapi ia tetap tidak bisa melupakan jasa baik mereka saat ia melahirkan Ciara empat tahun yang lalu.


__ADS_2