
Semalaman Eden terus menunggu Aciel pulang sambil mengusap bulir-bulir air mata yang membasahi kedua pipinya. Setelah ia menemani Ciara dan Louise tidur di kamarnya, wanita itu langsung turun ke bawah untuk menunggu Aciel pulang di ruang tamu. Kilasan pertengkarannya dengan Aciel terus berputar di kepala Eden, menyisakan penyesalan yang begitu dalam di benak wanita itu. Andai saja ia tidak membohongi suaminya dan berterus terang pada suaminya, maka pertengkaran ini tidak akan terjadi. Ia sekarang merasa begitu bersalah dan menyesal atas semua hal yang terjadi padanya dan juga pada suaminya hari ini. Berkali-kali Eden terus memukul dadanya yang terasa sesak akibat kesedihan mendalam yang dialami oleh ibu muda itu.
Beberapa saat yang lalu Sian juga telah menghubunginya dan mengucapkan permintaan maafnya karena ia tidak berhasil membujuk Aciel untuk pulang. Pria itu sepertinya begitu marah dan membenci istrinya hingga ia merasa enggan untuk pulang. Padahal jika Aciel pulang sekarang juga, maka wanita itu dengan senang hati akan bersujud di kaki pria itu untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang telah diperbuatnya. Tapi sayangnya Aciel memutuskan untuk tidak pulang dan membiarkannya terus dihantui oleh rasa bersalah yang terus menggelayuti hatinya. Eden kemudian berusaha untuk menenangkan hatinya yang sedang kalut ini dengan terus menghembuskan napas lelahnya ke udara. Bayangan Ciara dan Louise yang juga ikut bersedih tiba-tiba muncul di dalam kepalanya, membuatnya semakin merasa bersalah dan juga menyesal. Tadi sebelum tidur mereka sempat menyanyakan dimana keberadaan ayah mereka. Namun dengan sedih Eden hanya dapat menjawab jika sang ayah saat ini sedang menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Untung saja setelah itu mereka tidak menanyakan lebih lanjut perihal sikap Aciel sore ini yang begitu mengerikan. Meskipun begitu, Eden sangat yakin jika sebenarnya Ciara dan Louise menyimpan rasa trauma di dalam benak mereka setelah melihat ayah mereka marah-marah dengan begitu kasarnya di depan mereka.
Lagi-lagi Eden menangis dalam diam sambil memejamkan matanya yang terasa begitu perih akibat terus menerus menangis. Tapi meskipun ia merasa lelah untuk menangis, rongga dadanya yang sesak itu masih terus menuntutnya untuk mengeluarkan cairan bening itu lagi dan lagi tanpa henti. Seakan-akan ratusan bulir air mata yang telah ia kelurkan sejak tadi belum cukup untuk mengungkapkan rasa sesal dan sesak yang saat ini sedang bergumul di hatinya.
Samar-samar Eden mendengar suara tangis yang bersal dari kamarnya. Cepat-cepat wanita itu segera
menghapus air matanya dan langsung berlari menuju kamarnya. Anak bungsunya itu terkadang memang terbangun di tengah malam untuk meminta susu atau saat sedang bermimpi buruk, sehingga Eden harus selalu siap sedia jika Louise sudah mulai merengek di malam hari.
Ketika ia sampai di kamarnya, Eden segera menenangkan Louise dengan menepuk-nepuk paha balita itu pelan. Rupanya bocah kecil itu sedang bermimpi buruk, sehingga Eden tidak perlu membuatkan segelas susu untuk Louise agar anak bungsunya itu kembali tertidur. Tapi tanpa diduga, Ciara justru terbangun dari tidurnya sambil mengucek-ucek matanya perlahan. Padahal gadis itu baru saja tidur satu setengah jam yang lalu, tapi sekarang ia justru terbangun lagi sambil menatap Eden dengan sorot mata teduhnya. Membuat Eden mati-matian berusaha untuk menahan buliran air matanya agar tidak jatuh di depan putri kecilnya yang masih polos itu.
“Mommy, dimana Daddy?”
Deg
Pertanyaan gadis kecil itu tiba-tiba membuat hati Eden menjadi sakit dan diliputi perasaan bersalah lagi. Eden kemudian mencoba tersenyum pada Ciara sambil mengelus puncak kepala gadis itu lembut. Ia tidak ingin Ciara mengetahui masalahnya dengan Aciel. Cukup ia saja yang merasakan rasa sakit ini. Ia tidak ingin pertumbuhan dua malaikatnya terganggu hanya karena pertengkaran orangtuanya yang sama-sama egois ini. Biarlah kali ini Eden berbohong pada Ciara. Yang terpenting kedua malaikatnya dapat hidup dengan normal, meskipun saat ini kedua orangtuanya sedang diambang perceraian.
“Daddy sedang bekerja di kantor. Apa Ciara ingin susu?”
Gadis kecil itu menggeleng pelan sambil merangkak menghampiri ibunya untuk memeluk perut ibunya dan mencari kenyamanan di sana. Eden kemudian mengelus rambut Ciara lembut agar gadis kecil itu kembali memejamkan matanya dan tertidur. Tapi Ciara rupanya sedang tidak mengantuk dan hanya ingin berbagi kehangatan bersama ibunya yang sedang bersedih itu,
“Mommy, Ciara ingin mengajak daddy pergi ke pantai. Tadi daddy berjanji akan mengajak kita semua berlibur ke pantai jika pekerjaan daddy sudah selesai. Apa mommy menyukai pantai?”
Eden mengepalkan tangannya kuat-kuat di udara untuk menahan buliran air mata yang hampir saja terjatuh membasahi kepala Ciara yang saat ini tepat berada di bawahnya. Ia merasa begitu bersalah pada Ciara karena ia telah membuat gadis kecilnya itu kehilangan kesempatan untuk berlibur bersama ayahnya ke pantai. Cepat-cepat Eden mengusap matanya dengan kasar agar Ciara tidak curiga dengan wajahnya yang tampak kacau. Meskipun usia Ciara masih sangat kecil, tapi gadis itu memiliki perasaan yang begitu peka. Ia kerap kali menunjukan rasa simpatinya pada sang ibu jika ibunya itu tengah merasa sedih dan juga galau. Mungkin itu semua terjadi karena Ciara adalah bagiannya. Gadis kecil itu pernah tinggal di dalam rahimnya selama sembilan bulan sepuluh hari, sehingga ikatan batin yang tercipta diantara keduanya begitu kaut dan tak terpisahkan.
“Sayang, apa kau tidak ingin tidur? Ini sudah malam nak.” ucap Eden lembut, berusaha untuk membujuk Ciara agar kembali memejamkan matanya. Namun gadis kecil itu masih enggan untuk menutup matanya dan justru terlonjak bangun sambil meraih sepasang sepatu barunya yang berada di bawah tempat tidurnya.
“Mommy, apa sepatu Ciara bagus?”
“Sangat bagus. Ciara menyukainya?”
“Tentu saja. Daddy yang memilihkan ini untuk Ciara. Kata daddy, Ciara harus memakainya untuk menghadiri pesta penikahan paman Andrew dan aunty Tiffany. Apa Ciara boleh memakainya?”
“Tentu sayang, kau boleh memakainya. Daddymu... pasti akan senang jika kau memakainya saat pesta pernikahan paman Andrew.” ucap Eden terbata-bata karena tenggorokannya terasa tercekat dan sakit. Hampir saja ia mengeluarkan suara isakannya di hadapan Ciara. Tapi wanita itu langsung menahan gejolak batinnya yang menggelegak hingga tenggorokannya justru tercekat dan terasa perih. Dielusnya puncak kepala Ciara dengan sayang sambil mencoba untuk melupakan kesedihannya sejenak. Malam ini ia hanya ingin menenangkan hatinya dengan memandangi Ciara dan Louise semalaman. Besok, saat hari telah berganti, ia akan kembali memikirkan jalan keluarnya untuk memperbaiki keadaan rumah tangganya yang hampir hancur.
-00-
Matahari tampak bersinar begitu terik menembus tirai tipis yang menutupi sebuah jendela besar di kawasan apartemen elite di kota Vegas. Aciel yang merasa terganggu dengan sorot matahari yang terik itu langsung menggeliat pelan sambil meraih bantal untuk menutupi wajahnya yang terasa silau. Pria itu kemudian mengerang pelan sambil beranjak bangkit dari posisi tidurnya yang tidak nyaman.
“Ed, tolong tutup tirainya.” teriak pria itu refleks tanpa menyadari kondisi ruangan
__ADS_1
tempatnya tidur yang tampak berbeda dari biasanya. Dengan malas, Aciel mulai menjatuhkan tubuhnya lagi di atas ranjang sambil bersiap untuk memejamkan matanya lagi. Kehangatan yang melingkupi Aciel karena selimut tebal yang terpasang hingga sebatas dagunya membuat Aciel terbuai. Rasanya ia begitu enggan untuk membuka matanya dan ingin terus merasakan hangat selimut yang melilit tubuhnya. Namun tiba-tiba ia mulai teringat akan seluruh pertengkarannya kemarin dengan Eden dan seluruh percakapannya dengan Sian di dalam klub. Cepat-cepat Aciel menyibak selimut putih yang membungkus tubuhnya dengan curiga dan was-was.
‘Tidak mungkin’
“Oh, akhirnya kau bangun juga.” sapa seorang wanita berusia matang dengan kemeja kebesaran berwarna putih sambil membawa segelas teh camomile untuk Aciel. Pria itu sedikit menyipitkan matanya gusar sambil memandang seluruh sudut kamar asing itu dengan tatapan curiga dan was-was.
‘Apa yang telah ia lakukan semalam? Kenapa ia bisa berakhir di sini? Di kamar asing ini, tanpa mengenakan bajunya dan hanya topless.’
“Semalam kau mabuk, jadi aku membawamu ke sini. Apa kau masih merasa sakit? Semalam kau muntah hebat di ranjangku.” terang wanita itu tenang, seakan-akan ia tahu apa yang sedang dipikirkan Aciel tentang keadaanya yang tanpa busana dan sedang bersama dengan seorang wanita asing di sebuah kamar apartemen.
“Maaf jika aku telah merepotkanmu. Dimana pakaianku? Aku harus segera pergi.” ucap Aciel datar dan tanpa ekspresi. Cleo kemudian tersenyum kecil ke arah Aciel sambil menyodorkan cangkir teh yang dibawanya. Ia yakin jika sekarang Aciel telah melupakannya. Dilihat dari gelagat pria itu yang cukup dingin, ia yakin jika saat ini Aciel bukan lagi seorang pria lajang yang bebas. Aciel pasti telah memiliki seorang kekasih atau.... istri.
“Apa kau sudah melupakanku?” tanya Cleo dengan nada sedih. Aciel kemudian memandang Cleo dalam sambil mencoba untuk mengingat-ingat wajah wanita yang saat ini tengah berdiri di depannya. Tapi semakin ia mencoba untuk mengingatnya, pikirannya justru semakin buntu dan tidak dapat menemukan apapun, hingga akhirnya Aciel menyerah dan memutuskan untuk menggelengkan kepalanya pelan.
“Maaf, tapi sepertinya aku sama sekali tidak mengenalmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Ya Tuhan, apa kau benar-benar telah melupakanku? Ck, menyedihkan. Aku kecewa padamu.” decak Cleo marah, namun terselip nada manja di akhir kalimatnya, membuat Aciel semakin bingung dengan wanita yang saat ini berada di depannya. Lalu sedetik kemudian, wanita itu langsung maju ke depan dan menubruk tubuhnya hingga ia hampir saja menumpahkan teh panasnya di atas tubuh wanita itu. Tapi dengan sigap Aciel berhasil menahan tubuh wanita itu di dalam dekapannya, sehingga meraka berdua saling berpelukan satu sama lain dengan Aciel yang merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Ia merasa ini terlalu aneh dan sedikit melanggar batas.
“Aciel, aku merindukanmu. Bertahun-tahun kita berpisah, dan akhirnya Tuhan mempertemukan kita lagi di negara yang menakjubkan ini. Apa kau benar-benar tidak mengenaliku?”
Sekali lagi Aciel menggelengkan kepalanya sambil menggantungkan kedua tangannya di udara, karena ia tidak ingin membalas pelukan wanita asing yang baru saja dikenalnya.
Cukup lama Aciel terhenyak dalam pikirannya sendiri sebelum akhirnya ia bergumam pelan dan langsung membalas pelukan wanita cantik yang saat ini sedang berada di dalam pelukannya. Keduanya pun saling berpelukan lama untuk megobati rasa rindu mereka masing-masing, karena mereka sudah sangat lama tidak bertemu. Bahkan Aciel sendiri benar-benar telah melupakan sosok wanita yang dulu pernah mengisi hari-harinya saat ia berada di Madrid.
“Cleo, aku benar-benar tidak menyangka jika sekarang kau telah berubah menjadi seorang wanita dewasa yang cantik.” ucap Aciel heboh sambil memutar-mutar tubuh Cleo kesana kemari. Sesaat ia melupakan kondisi tubuhnya sendiri yang sudah topless di depan Cleo. Tapi sepertinya ia sama sekali tidak peduli dan lebih memilih untuk terhanyut dalam kegembiranya bertemu Cleo.
“Aku baik-baik saja. Sekarang aku sedang meneruskan cabang perusahaan ayahku yang berada di Vegas. Bagaimana dengan dirimu? Biar kutebak, apa kau sekarang telah menjadi seorang pengusaha yang sukses seperti apa yang selalu kau cita-citakan selama ini? Ck, aku bahkan sering melihat wajahmu terpampang di baliho jalan.”
Cleo memukul pelan lengan kekar Aciel dan dibalas pria itu dengan kekehan.
Aciel kemudian menarik tangan Cleo untuk duduk di sebuah sofa yang ada di kamar itu. Ada banyak hal yang ingin ia dengar dari wanita itu dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini untuk mengintrogasi Cleo.
“Duduklah, ada banyak hal yang ingin kudengar darimu.” perintah Aciel dengan gaya arogannya yang biasa, membuat Cleo terkekeh geli dengan watak pria yang saat ini sedang menantinya untuk duduk di sebelahnya. Cleo kemudian melemparkan sebuah kaus biru pada Aciel sebelum wanita itu memutuskan untuk duduk di sebelah Aciel.
“Terimakasih.” ucap Aciel tulus setelah ia berhasil mengenakan kaus biru yang sangat pas di
tubuhnya itu. Entah darimana Cleo mendapatkan kaus biru itu. Yang jelas ia cukup merasa bersyukur karena wanita yang membawanya dari klub itu adalah Cleo, bukan wanita lain. Setidaknya Cleo tidak akan berbuat hal yang tidak pantas padanya, selain membuka seluruh pakaiannya karena semalam ia mabuk berat dan muntah-muntah di kamar wanita itu.
“Jadi bagaimana dengan kehidupanmu selama tiga puluh tahun...” Aciel mengerutkan dahinya, sedikit tidak yakin dengan perhitungannya saat pertama kali ia bertemu Cleo. “Yah... anggap saja tiga puluh tahun. Aku lupa kapan tepatnya. Jadi bagaimana dengan hidupmu selama ini?” tanya Aciel sambil menghitung banyaknya waktu yang telah mereka lewatkan selama ini. Cleo dengan santai merangkul lengan Aciel dan menjatuhkan kepalanya di pundak kanan Aciel untuk mencari kenyamanan. Selama lebih dari tiga puluh tahun terakhir ini ia telah melewatkan
banyak hal sulit dan juga menyedihkan, sehingga ia merasa membutuhkan sebuah sandaran untuk berbagi keluh kesah.
__ADS_1
“Banyak hal yang terjadi padaku selama tiga puluh tahun terakhir ini, sepertinya akan sangat panjang untuk diceritakan.” jawab Cleo pelan sambil menerawang jauh ke masa lalunya yang kelam. Aciel menoleh sekilas pada Cleo, dan membalas rangkulan wanita itu untuk memberikan kenyamana pada wanita yang dulu pernah
menjadi bagian dari dirinya saat ia di Madrid. Seketika ia juga mengingat Eden dan masalah keluarganya yang belum terselesaikan. Sepertinya saat ini mereka dua tampak sangat klop satu sama lain karena mereka sama-sama sedang memiliki masalah. Dua orang manusia berbeda jenis itu kemudian langsung terhanyut dalam kisah masa lalu mereka masing-masing yang sudah lama terkubur rapat dan hampir tak tersentuh oleh mereka berdua.
-00-
Di dalam rumahnya, Eden sedang membungkuk kesakitan di dalam kamar mandi sambil mencengkeram ujung westafel dengan erat. Pagi ini ia terbangun dengan rasa sakit yang begitu menusuk di perutnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya, tapi perutnya benar-benar sangat sakit, dan ia merasa sudah tidak
tahan. Sembari memegang perutnya yang terasa sakit, Eden mulai berjalan keluar dari kamarnya untuk memanggil salah satu pelayannya. Tapi baru beberapa langkah Eden menuruni anak tangga, tiba-tiba kepalanya merasa berputar dan ia merasa kehilangan seluruh keseimbangannya. Dari arah ruang tamu, Olivia tampak berlari menghampirinya dengan wajah panik dan setelah itu ia tidak mendengar suara apapun lagi selain suara teriakan Olivia yang begitu nyaring memanggili namanya dari ujung tangga.
“Eden!”
Olivia menjerit histeris dari arah ruang tamu sambil berlari cepat untuk menangkap tubuh Eden yang tampak lemas di undakan tangga ke lima. Dari jauh Olivia melihat Eden sedang merintih kesakitan dan memgangi kepalanya yang berdenyut. Samar-samar Eden masih dapat melihat Olivia yang berlari panik ke arahnya sambil menepuk-nepuk pipinya agar ia tetap sadar. Kemudian suara Sian menyusul dari ujung tangga sambil menggendong Justice yang tampak bingung memandangi kedua orangtuanya yang heboh.
“Sian, sebaiknya kita bawa Eden ke rumah sakit. Denyut nadinya melemah dan wajahnya pucat. Jane, tolong jaga Ciara dan Louise sebentar, kami akan segera membawa Eden ke rumah sakit.” teriak Olivia pada Jane yang sedang berdiri di ujung tangga. Satu persatu pelayan yang lain kemudian datang untuk melihat kondisi nyonya muda mereka yang sedang tergletak tak sadarkan diri dengan darah yang merembes mengotori dress kuning yang digunakan Eden.
“Eden pendarahan?” tanya Sian yang ikut panik ketika seluruh tangannya bersimbah darah ketika ia mencoba untuk mengangkat Eden. Olivia kemudian meraba denyut nadi Eden lagi dan langsung mendorong tubuh suaminya untuk segera keluar.
“Dugaanku Eden saat ini sedang keguguran. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit sebelum ia kehabisan banyak darah.”
“Darimana kau tahu?” Sian mengerutkan keningnya bingung kearah istrinya yang tiba-tiba terlihat seperti seorang dokter yang handal.
“Laila menceritakan semuanya padaku kemarin. Bagaimana kondisi Eden sebelum wanita itu meminum obat yang ia berikan. Jadi mungkin saja dugaanku benar.” jawab Olivia cepat.
“Bagaimana dengan suaminya?” tanya Sian yang sama-sama panik di sebelah Olivia. Meskipun adalah
kerabat dekat Eden dan Aciel, tapi ia merasa dilema saat harus membawa Eden ke rumah sakit tanpa persetujuan Aciel. Apalagi sejak semalam Aciel juga tidak pulang, membuat Sian geram pada pria sialan yang telah membuat istrinya menjadi seperti ini.
“Justice sayang, kau tinggal di sini bersama Ciara dan Louise ya. Jane, atau siapapun diantara kalian tolong jaga Justice juga. Kami akan segera membawa Eden di rumah sakit.”
“Baik, nyonya. Tolong selamatkan nyonya Eden.” angguk pelayan-pelayan itu serempak. Salah satu pelayan yang berdiri di sana lantas mengambil alih Justice dari gendongan Olivia dan segera membawa Justice menuju ruang bermain milik Ciara dan Louise.
Sian dan Olivia bertindak cepat setelah anak mereka benar-benar dijaga oleh orang yang tepat. Dengan langkah terburu-buru, Sian segera menggendong Eden yang tak sadarkan diri menuju mobilnya diikuti Olivia di belakangnya yang sedang sibuk menghubungi Laila.
“Eden pendarahan di rumahnya dan tak sadarkan diri. Tolong siapkan ruangan untuk Eden, karena kami akan tiba lima belas menit lagi.” beritahu Olivia melalui ponselnya. Sembari berbicara dengan Laila, Olivia terus meremas pundak Eden untuk memberikan kekuatan pada wanita itu. Sesekali Olivia juga menyeka keringat yang membasahi kening Eden menggunakan salah satu tangannya yang bebas.
Entah apa yang terjadi pada Eden semalam, hingga wanita itu langsung berubah menjadi wanita yang sangat lemah dan pucat seperti ini. Dari sudut matanya, Olivia dapat melihat bekas-bekas air mata yang telah mengering dan berubah menjadi sebuah bercak putih yang tak kasat mata. Dengan lembut, Olivia terus mengelus kepala Eden sambil terus berdoa pada Tuhan agar Tuhan menyelamatkan sahabat baiknya itu. Ia sungguh takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Eden. Padahal pagi ini ia berniat datang ke rumah Eden untuk meminta maaf pada wanita itu dan juga menghiburnya. Tapi saat ia tiba, ia justru melihat Eden dengan keadaan yang jauh dari kata baik. Terlihat sekali jika Eden sangat tertekan dengan pertengkarannya dengan Aciel.
“Sian cepatlah, denyut nadinya terus melemah.” teriak Olivia frustrasi dari bangku
penumpang. Sian menengok istrinya sekilas dari kaca spion sambil mengusap bulir-bulir keringat dinginnya yang terus turun membasahi dahinya. Saat ini perasaanya juga sama-sama kalut seperti Olivia. Ia takut kehilangan Eden. Dan ia cukup merasa bersalah pada wanita itu karena semalam ia tidak berhasil membujuk Aciel untuk pulang ke rumah dan menyelesaikan masalahnya dengan Eden. Kedua tangannya kini semakin erat menggenggam kemudi mobilnya sambil menginjak pedal gasnya dalam, hingga deru mesin mobil miliknya langsung berbunyi nyaring di tengah suasana kota Vegas yang padat.
__ADS_1