Black Swan

Black Swan
Don't Leave Me (One Hundred Ten)


__ADS_3

            “Bukankah ini menyenangkan?”


            “Apa?” tanya Olivia kalem seperti biasanya. Sedangkan Eden yang sedang menyetir di sebelahnya tampak begitu riang dengan senyum merekah yang terus menghiasi wajah cantiknya semenjak mereka keluar dari gedung pencakar langit milik Aciel. Dan Angin hangat kota Vegas yang berdesir halus terlihat menerbangkan rambut


bergelombang milik Eden serta Olivia yang kini sedang berkendara di jalanan luas kota Vegas dengan mobil sport yang telah dibuka atapnya oleh Eden.


            “Kita seperti gadis muda yang akan pergi berkencan. Ya Tuhan!” Eden memekik senang saat gambaran wajah suaminya yang baik hati sedang menari-nari di dalam kepalanya. “Aku benar-benar tak menyangka jika Aciel hari ini memberiku ijin untuk pergi bersenang-senang bersamamu. Ini sungguh mukjizat!” pekik Eden sekali lagi. Wanita hamil itu terlihat sangat ceria dengan dress kuning cerah yang membalut tubuhnya dengan indah. Meskipun perutnya terlihat sedikit membuncit dibalik terusan yang ia kenakan, itu sama sekali tak menyurutkan jiwa muda Eden yang sedang bergelora.


            “Tapi kau tetap harus menjaga diri dengan baik, Ed.” nasihat Olivia bijak. Selalu saja wanita itu menjadi malaikat yang baik hati untuk Eden karena sifat bijak dan lembutnya. “Aciel bisa memarahiku jika sesuatu yang buruk terjadi padamu lagi.”


            “Tentu saja, aku tidak akan membuat kita berdua berada dalam masalah. Kau pikir apa yang bisa dilakukan seorang wanita hamil sepertiku? Aku hanya ingin berjalan-jalan, mengobrol sepanjang hari denganmu di kafe dan melakukan banyak hal tanpa anak-anak. Yah... walaupun sejujurnya tanpa mereka aku merasa sedikit kesepian.”


            Olivia terkekeh pelan melihat ekspresi wajah Eden yang lucu. Masih jelas diingatannya bagaimana mereka hari ini terus membujuk suami mereka agar dapat membiarkan mereka bebas untuk satu hari ini. Sejujurnya Sian bukanlah suami pengekang yang akan mempersulitnya untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Meminta ijin pada


Sian tentu bukan perkara sulit. Tapi untuk Eden? Ia tahu jika Aciel bukan pria yang mudah untuk dibujuk. Jadi ia sangat maklum jika hari ini Eden terlihat begitu senang seperti baru saja mendapatkan lotre senilai milyaran dollar.


            “Jadi dimana Laila menunggu kita?” tanya Eden sambil melirik kaca spionnya ketika ia hendak membelokan mobilnya kearah kiri. Deretan gedung-gedung cassino megah dan hotel-hotel bintang lima langsung memanjakan mata mereka saat mereka mulai berkendara di kawasan Las Vegas Valley.


            “Laila memintaku untuk bertemu di restoran The Cosmopolitan. Letaknya...” Olivia terlihat sedang mencari-cari gedung yang bertuliskan The Cosmopolitan diantara jajaran gedung-gedung mewah yang berdiri di sepanjang kanan dan kiri jalan yang mereka lewati. Siang ini ternyata ada begitu banyak pengunjung yang ingin menghabiskan waktu mereka untuk bersenang-senang di Las Vegas Valley.


            “Disana!” tunjuk Olivia pada bangunan megah yang berdiri tiga ratus meter di depan mereka. Melihat itu Eden segera memperlambat laju mobilnya dan mulai menepikan mobilnya ke kanan untuk bersiap berbelok kearah tempat parkir The Cosmopolitan.


            “Selera yang bagus.” komentar Eden saat ia melihat interior restoran pilihan Laila yang begitu klasik. Sejak dulu ia menyukai sesuatu yang klasik dan juga berkelas. Menurutnya itu sangat indah, namun tidak menampakan kesan yang berlebihan.


            “Apa Olivia sudah di dalam?” Eden melangkahkan kakinya hati-hati keluar dari mobil sambil sesekali mengelus perutnya yang memang sudah terlihat menonjol, meskipun ia mencoba menyamarkan tonjolannya dengan terusan kuning yang ia kenakan saat ini.


            “Itu dia. Lihatlah! Dia sudah melanbai-lambai sejak tadi.” Olivia terkikik pelan melihat Laila dari kejauhan yang begitu antusias menyambut mereka.


            “Ahh... wanita eksotis itu, aku selalu iri dengan kulit kecoklatannya yang seksi.” bisik Eden sambil berjalan di sebelah Olivia.


            “Tentu saja itu bagian dari gen yang diturunkan dari orangtua Laila. Bersyukurlah dengan apapun yang kau miliki saat ini, Ed.” balas Olivia kalem di sebelahnya. Eden baru saja ingin menanggapi kata-kata Olivia, namun niatnya terhenti karena sekarang mereka telah berdiri di depan Laila yang terlihat begitu heboh saat menyambut mereka.


            “Hey moms! Ya Tuhan, akhirnya kita para mommy muda bisa memiliki waktu kita sendiri untuk bersenang-senang tanpa gangguan dari anak-anak.”


            Secara bergantian Laila memberikan pelukan pada Eden dan Olivia sambil mencium pipi mereka satu persatu.

__ADS_1


            “Kau sudah lama?” tanya Eden yang baru saja mendaratkan tubuhnya dengan nyaman di atas kursi kayu berplitur emas yang begitu klasik di tempat yang telah dipesan oleh Laila.


            “Tidak juga. Lima menit yang lalu. Kalian ingin pesan apa?”


            “Apapun, sesuatu yang manis dan segar.” jawab Eden tanpa melihat buku menu yang disodorkan oleh Laila. Rasanya ia benar-benar bersyukur karena ia tidak mendapatkan gangguan apapun pada kehamilannya yang ke tiga ini.


            “Bagaimana kabar anak-anak kalian?”


            “Aman bersama ayah mereka.” kali ini Olivia tak bisa menyembunyikan tawanya saat ia mengingat wajah kesal Sian dan Aciel yang siang ini mendapatkan kejutan dari anak-anak mereka di kantor. Secara sengaja Eden dan Olivia mengirim anak-anak mereka ke kantor dengan dalih jika mereka perlu mengenal seluk beluk tempat


kerja ayahnya yang super sibuk. Padahal mereka melakukan itu karena ingin membuat kerusuhan di kantor Aciel hari ini.


            “Pasti mereka sekarang sedang sibuk menggerutu karena Justice dan Louise yang sedang mengacau. Jika Ciara, aku percaya ia akan menjadi gadis yang manis untuk Aciel. Tapi kedua balita itu, kuyakin mereka tidak akan berhenti merengek pada ayah mereka.”


            Eden tertawa terbahak-bahak membayangkan wajah cemberut Aciel yang terlihat enggan untuk mengurus anak-anak mereka di kantor. Tapi pada akhirnya pria itu tak bisa berkutik karena semalam Aciel telah mengijinkannya untuk pergi bersenang-senang bersama Olivia dan Laila.


            “Kurasa itu bagus. Sesekali para pria memang harus merasakan betapa sulitnya mengurus anak. Hyenaku juga selalu membuat Nath berteriak frustrasi saat ia mulai membuat kekacauan di sekitar Nath.”


            “Kau menamai anakmu Hyena?” tanya Eden tak habis pikir. Selama ini ia memang jarang membicarakan masalah kehidupan keluarga Laila jika mereka bertemu di rumah sakit untuk cek-up karena biasanya Eden tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengobrol bersama Laila.


            “Nathan memang selalu aneh sejak dulu.” ucap Olivia membenarkan.


            “Lalu dimana Hyena sekarang? Apa bersama ayahnya?”


            “Hmm.. aku meninggalkan mereka di rumah karena hari ini ibu Nathan juga ada di rumah untuk menengok cucunya. Nathan jelas tidak akan sabar jika ditinggalkan hanya berdua dengan Hyena karena anak itu sangat aktif.”


            “Berapa umurnya?” tanya Eden penasaran. Lain waktu mungkin mereka bertiga harus bertemu sambil membawa serta keluarga mereka masing-masing.


            “Tiga tahun. Dia anak yang sangat aktif. Aku saja sampai harus berganti-ganti babysitter, karena babysitter yang merawatnya tidak pernah bertahan lebih dari enam bulan bersamanya.” keluh Laila terlihat lelah. Melihat itu Eden merasa maklum karena Laila adalah seorang dokter yang sibuk. Keberadaan seorang babysitter akan sangat membantunya disaat ia sedang disibukan dengan pasien-pasiennya.


            “Bagaimana kau mendapatkan Hyena? Pasti itu sesuatu yang manis. Mengingat bagaimana manisnya Nath selama ini. Setidaknya ia selalu menunjukan senyum manisnya saat aku berpapasan dengannya di lift.” ucap Olivia berkomentar.


            “Huh, manis?” tanya Laila sangsi. Rasanya ia ingin tertawa keras sekarang setelah mendengar komentar polos Olivia. “Aku menikah dua kali dengannya.” ucap Laila santai dengan senyum sombongnya. Eden dan Olivia kompak saling berpandangan dengan raut bingung yang tercetak jelas di wajah mereka.


            “Apa itu karena kalian menikah dengan adat yang berbeda?”

__ADS_1


            “Bukan. Sama sekali bukan itu. Kami memang menikah dua kali karena sebelumnya kami pernah menikah, lalu kami bercerai karena aku tidak tahan dengan sikapnya. Dan setelah itu kami menikah lagi.” jawab Laila sambil terbahak.


            “Ceritakan pada kami!” seru Eden bersemangat. Rasanya cuaca kali ini begitu mendukung untuknya dan Olivia untuk mendengarkan kisah cinta aneh milik Laila dan Nathan. “Ayolah, kau belum pernah membagi kehidupan percintaanmu pada kami.” bujuk Eden tidak sabar. Olivia yang berada di sebelahnya pun tak jauh berbeda dari Eden karena ia sendiri belum pernah mendengar cerita masa lalu Nathan dan Laila yang ternyata menyimpan sesuatu yang unik.


            “Haha...” Laila terkekeh hambar. “Kuharap kalian tidak akan tertidur mendengar ceritaku yang panjang.” lanjut Laila sambil menerawang jauh ke masa lalunya.


              “Jadi kita akan memulai acara pemberkatannya sekarang...”


            “Tunggu!! Hentikan! Dokter Stanford.. dokter Stanford, seseorang  membutuhkan anda di ruang UGD, ini menyangkut nyawa seseorang, dokter Stanford, anda harus segera ke rumah sakit.”


            Laila menoleh kesal pada seorang pria yang saat ini sedang berlari-lari di sepanjang karpet merah di belakangnya. Baru saja ia akan melangsungkan janji suci dengan pria yang dicintainya, namun pria itu justru merusak segala rencana pernikahannya hari ini.


            “Lucas, apa yang kau lakukan? Aku akan melakukan pemberkatan pernikahan?” bisik Laila kesal ketika Lucas telah berdiri di sebelahnya. Namun seakan tuli dengan peringatan Laila, pria bergusi pink itu segera menarik tangan Laila sambil meminta maaf pada sang pastur dan para hadirin yang berada di sana.


            “Tolong maafkan saya, ini benar-benar gawat dan tidak bisa ditunda-tunda. Dokter Stanford harus segera ke rumah sakit untuk menyelamatkan seorang pasien yang sedang sekarat.”


            “Hey, apa yang kau lakukan pada calon istriku?”


            Mack mencekal tangan Lucas yang sudah bertengger di lengan Laila dan hampir menarik wanitanya pergi. Dengan gusar Lucas menoleh pada Mack sambil menatap pria itu dengan pandangan menantang.


            “Saat ini ada seorang pasien yang sangat membutuhkannya, ia hampir mati di ruang UGD jika dokter Stanford tidak datang dan segera menyelamatkannya.”


            “Suruh dokter yang lain untuk menangani pasien itu, jangan ganggu Lailaku. Kami akan menikah hari ini.” ucap Mack gusar. Sang pastur yang masih setia berdiri di podium hanya mampu menatap bingung pada dua orag pria yang sedang memperebutkan sang mempelai wanita. Sementara itu ibu dari Mack langsung bangkit berdiri untuk membantu anak semata wayangnya yang sedang berdebat dengan seorang pria asing.


            “Yakk siapa kau, berani-beraninya kau mengacaukan acara pernikahan putraku. Kau ingin kulaporkan pada polisi atas perilakumu yang tidak sopan ini?” marah nyonya Beatrice Bertinolli pada Lucas. Lucas menghembuskan napas gusar pada dua orang bermarga Bertinolli yang saat ini sedang menghalangi langkahnya. Tak tahukah mereka jika ia sedang berpacu melawan waktu untuk menyelamatkan nyawa seseorang.


            “Huh, polisi? Justru kalian yang akan kulaporkan pada polisi jika pasien itu sampai mati karena kalian menghalangi dokter Stanford untuk memeriksanya. Asal kalian tahu, dokter Stanford adalah dokter yang paling hebat di rumah sakit pusat Las Vegas, hanya ia yang bisa menolong pasien itu karena ia menderita penyakit komplikasi yang serius. Sekarang aku akan membawa dokter Stanford, dengan atau tanpa persetujuan dari kalian.”


            Setelah mengatakan hal itu, Lucas langsung menarik tangan Laila turun dari altar untuk pergi ke rumah sakit. Di belakangnya, Mack hanya mampu menatap Laila nanar sambil meratapai nasibnya karena pernikahan yang sudah lama ia idam-idamkan harus dibatalkan karena pekerjaan Laila yang menuntut wanita itu untuk segera datang ke rumah sakit.


            “Mack, maafkan aku.” teriak Laila dari ujung pintu gereja sebelum Lucas kembali menarik tangannya lagi dan membawa wanita itu ke dalam mobilnya yang sudah terparkir di depan pintu gereja.


            “Ck, mom suruh para tamu undangan ini pulang. Dan jangan lupa katakan pada mereka jika aku akan mengundang mereka lagi jika Laila telah siap untuk menikah denganku.” perintah Mack gusar dan segera melangkah pergi keluar dari gereja. Sedangkan sang pastur yang berada di atas altar hanya mampu menatap aneh pada pasangan yang akan ia nikahkan hari ini.


            “Ya Tuhan... sial sekali nasib putraku yang tampan itu.” keluh nyonya Beatrice sambil membubarkan para tamu undangan yang saat ini sedang asik bergosip membicarakan pasangan aneh yang baru saja membatalkan pernikahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2