
Brakk
Lagi-lagi Eden membanting nampan makanannya dan membuat seluruh lantai kamarnya kotor karena makanan-makanan yang selalu dibantingnya selama ini. Wanita itu dengan wajah dinginnya menatap pelayan Aciel dan menyuruh wanita itu pergi karena ia tidak akan pernah mau makan jika makanan itu berasal dari Aciel.
“Jangan pernah beri aku makan, karena aku tidak akan pernah mau memakannya.”
“Tapi nyonya, anda harus makan untuk memulihkan kondisi anda.” bujuk pelayan itu halus dengan raut wajah ketakutan. Ia mencoba untuk memberikan sepiring buah pada Eden yang berhasil ia selamatkan ketika Eden membanting piring-piring itu ke atas lantai, namun lagi-lagi Eden menolaknya dan hampir saja membuang mangkuk berisi buah itu ke atas lantai, sebelum seorang pria dengan wajah aristokratnya masuk ke dalam kamar dan menyuruh pelayan itu pergi.
“Keluarlah, aku yang akan membujuknya untuk makan. Tolong kau bersihkan saja sisa makanan yang berceceran ini.” suruh pria itu bijak. Pelayan itu segera mengangguk dalam pada pria itu dan segera pamit undur diri untuk mengambil peralatan kebersihan.
“Ed, kenapa kau berubah menjadi seperti ini?” tanya pria itu pelan sambil mendudukan dirinya di sebelah Eden. Eden memalingkan wajahnya kearah lain dan terlihat enggan untuk menatap sang lawan bicara.
“Aku tidak pernah berubah sedikitpun, inilah diriku yang sesungguhnya. Lepaskan aku Aciel.” ucap Eden dingin. Aciel membalik bahu Eden sedikit kasar dan memaksa wanita itu untuk menatap matanya yang sudah dipenuhi kabut pekat kemarahan.
“Tempatmu di sini! Kau istriku, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu. Suka atau tidak suka kau harus menerima hal itu. Lagipula kita sudah menikah satu tahun yang lalu, jadi kemanapun kau pergi kau tetap akan menjadi istriku.”
“Tidak! Aku tidak mau menjadi istrimu. Kau yang memaksaku dan mengancamku menggunakan orang orang yang kusayangi. Sekarang kau telah membuatku kehilangan anthony, bahkan kau juga mengancamku menggunakan Tranz dan Zyan. Lalu....” Eden menjeda kalimatnya sejenak, tampak ragu untuk mengatakan yang sejujurnya pada Aciel. Ia lalu menundukan kepalanya dengan sedih sambil mengusap perutnya yang terlihat rata. Dengan wajah sendu, ia lalu menatap Aciel dengan penuh permohonan, “Tolong lepaskan aku sekarang juga! Aku akan menikah dengan Anthony.”
Aciel merasa jantungnya sekarang sedang terbakar oleh kobaran api yang begitu besar hingga rasanya kobaran api itu dapat membuatnya tenggelam ke dalam kemarahan yang tak terbendung. Setelah lima tahun ia hidup damai tanpa mendengar nama pengganggu itu, kini ia harus kembali dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa istrinya itu hanya mengingat kekasihnya di masa lalu, dan sama sekali tidak mengingat kenangan manis diantara mereka yang terjadi satu tahun ini. Dulu seharusnya ia langsung membunuh keparat itu agar Eden tak bisa bertemu dengannya lagi. Namun saat itu ia memutuskan untuk membiarkan Anthony hidup, karena ia pikir Eden tidak benar-benar mencintai pria itu. Tapi mungkin ada sesuatu yang ia lewatkan, mengenai masa lalu Eden dengan Anthony yang sekarang justru lebih banyak mengendap di dalam ingatan Eden daripada masa lalu mereka yang manis akhir-akhir ini.
“Lupakan pria keparat itu karena kau hanya akan hidup bersamaku. Dan terimalah takdirmu sekarang, karena kau adalah istriku serta ibu dari anak-anakku.”
“Aku tidak mau, aku tidak mau hidup bersamamu! Kau telah menghancurkan hidupku, seharusnya kau membebaskanku agar aku bisa hidup bahagia bersama Anthony!”
“Tapi kebahagiaanmu di sini!” bentak Aciel keras dengan nafas memburu. Pria itu menatap Eden tajam dan mencengkeram bahu wanita itu kuat untuk membuat Eden sadar jika kehidupan wanita itu yang sebenarnya adalah di sisinya. Satu tahun yang lalu saat ia terbaring sakit karena penyakit lambungnya, wanita itu telah berjanji akan menerima semua pernikahan ini dan akan membesarkan Ciara dengan sepenuh hati. Hari-hari setelah pernikahan mereka dan saat Eden mengandung Louise adalah saat-saat yang paling manis untuk mereka, karena saat itu Eden mulai menerima kehidupannya sebagai istri dari Aciel Lutherford, dan Acielpun mulai belajar menjadi suami dan juga ayah yang lebih hangat untuk keluarga kecilnya. Selama satu tahun ini banyak sekali hal-hal yang berubah dari dirinya karena Eden. Mulai dari rasa cinta yang selama ini hampir tak pernah ia rasakan, hingga akhirnya ia mampu menghancurkan egonya sendiri demi kebahagiaan keluarganya. Ia rela membatalkan kontrak berharga milyaran dollar ketika Ciara berulang tahun dan Eden memintanya untuk pulang lebih awal. Dan masih banyak
lagi hal-hal yang ia korbankan untuk kebahagiaan keluarganya, ia jelas tidak mau melepaskan Eden begitu saja hanya karena Eden amnesia dan tidak mengingat keluarga bahagianya. Apapun yang terjadi ia akan tetap mempertahankan Eden, meskipun Eden akan sangat sulit untuk dijinakan.
“Omong kosong! Aku tidak pernah bahagia di sini. Bahkan aku sama sekali tidak ingat hal bahagia apa yang telah kau lakukan padaku selama satu tahun ini jika memang kau membahagiakanku. Justru aku merasa muak setiap kali melihatmu karena kau telah menghancurkan hidupku dengan sangat dalam.”
“Mommy...”
Kedua manusia dewasa itu langsung menoleh kearah pintu kayu yang saat ini sedikit terbuka dan menampilkan sosok gadis kecil dengan mata bulat yang sedang menatap Eden dengan penuh kerinduan.
“Mommy...”
“Ciara.”
Mary memanggil Ciara agar tidak masuk ke dalam kamar kedua orangtuanya, namun gadis kecil itu sudah terlebihdulu berlari ke dalam kamar orangtuanya sambil berteriak heboh memanggil ibunya.
“Mommy... Ciara merindukan mommy.”
__ADS_1
Eden mematung di tempat sambil menatap gadis kecil yang saat ini sedang bergelung di atas pangkuannya dengan wajah pias. Tubuh wanita itu tiba-tiba berubah kaku, hingga hanya untuk menggerakan tangannya yang kesemutan saja, ia tidak bisa. Kemunculan Ciara sore ini begitu mengejutkannya karena selama ini tidak ada seorangpun yang pernah menjelaskan padanya jika ia memiliki seorang anak yang juga hidup di dalam mansion mewah milik Aciel. Tapi apakah gadis kecil itu memang anaknya?
“Ciara, kau tidak boleh berada di sini. Keluar dan bermainlah bersama Mary.”
“Tapi Ciara merindukan mommy, daddy selalu melarang Ciara bertemu mommy!” protes Ciara keras dan membuat Eden lagi-lagi tercengang karena Ciara terlihat sangat keras kepala, sama seperti dirinya. Apalagi mata bulat Ciara juga sangat mirip dengan mata bulat miliknya. Tapi jika gadis kecil itu memanggil Aciel daddy, itu berarti Aciel adalah ayah dari anak itu. Lalu bagaimana mungkin ia melahirkan gadis kecil itu jika ia sangat membenci pria brengsek ini? Lagipula bukankah ia keguguran saat itu? Ia sangat ingat ketika dokter memberitahunya jika rahimnya sangat lemah, sehingga janin itu gugur ketika ia hampir melakukan percobaan bunuh diri dengan menabrakan dirinya pada mobil yang melintas kencang di jalan raya.
“Mommy, mommy sudah sembuh? Kita bisa bermain lagi dan mommy bisa menemaniku tidur lagi. Dan nanti kita juga akan mengajak adik Louise untuk bermain bersama. Adik Louise sangat ingin bertemu mommy.” celoteh Ciara lucu tanpa memperhatikan raut bingung Eden yang berubah pucat. Belum selesai keterkejutannya dengan
kemunculan Ciara, Eden harus kembali menelan kegetiran dengan adanya satu nama yang berhasil membuat kepalanya semakin pusing. Siapa itu Louise?
Lamunan Eden buyar ketika Ciara mulai memeluk tubuhnya erat sambil menempelkan kepalanya dengan manja di dadanya. Ia dengan kaku mulai mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Ciara yang begitu erat di tubuhnya. Hal itu tak luput dari tatapan mata Aciel dan membuat pria itu bisa menyimpulkan jika Eden sangat tidak nyaman dengan keberadaan Ciara di sini karena wanita itu belum bisa menerima hal-hal mengejutkan yang terjadi selama satu tahun ini.
“Ciara, hari ini mommy harus beristirahat. Nanti setelah mommy benar-benar sembuh, kau bisa bermain lagi bersama mommy.”
Gadis kecil itu terlihat cukup kecewa dengan pengusiran halus yang dilakukan oleh Aciel. Namun akhirnya gadis kecil itu lebih memilih untuk mematuhi perintah ayahnya dan membiarkan ibunya beristirahat dengan tenang.
“Baiklah Ciara akan keluar, semoga mommy cepat sembuh. Sampai jumpa mommy.”
Cup
Gadis itu memberikan satu kecupan singkat di pipi Eden sebelum berlari keluar menggunakan kaki kecilnya yang menggemaskan.
Sementara itu, Eden justru masih mematung di tempat seperti orang linglung karena ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jujur saja saat melihat Ciara hatinya memang terasa menghangat. Tapi ketika ia mengingat siapa ayah Ciara, perasaan marah itu tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam dadanya dan membuatnya tidak sudi untuk mengakui Ciara sebagai anaknya. Ia pasti telah dijebak oleh pria itu hingga ia bisa memiliki Ciara.
“Anakku, anakmu, anak kita. Kau sedang mengandung Louise ketika kecelakaan itu terjadi, dan untungnya Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk membesarkan anak ke dua kita, meskipun kecelakaan itu membuat ingatanmu tentang kami terhapus.”
Aciel menjawab tenang dengan penuh penekanan disetiap katanya. Ia tidak mau Eden mengira jika Ciara dan Louise hanya anaknya saja karena pada dasarnya Ciara adalah anak mereka berdua, meskipun saat itu memang dengan paksaan. Namun tidak dengan Louise, anak itu ada dengan banyak limpahan cinta yang mereka miliki untuk putra mereka.
“Tidak mungkin! Aku tidak mungkin memiliki anak darimu.” jerit Eden histeris sambil menjambak rambutnya frustasi. Wanita itu terlihat hampir saja kehilangan akal sehatnya karena berbagai macam fakta mengerikan yang tidak bisa dibayangkannya. Bahkan ia tak habis pikir, bagaimana mungkin ia bisa berakhir bersama Aciel dan
memiliki dua orang anak dari pria itu. Lebih baik ia mati daripada harus terikat dengan pria itu, apalagi memiliki anak darinya.
“Tidak mungkin? Huh, tapi itulah yang terjadi. Kita bermain sangat panas saat itu, sayangnya kau tidak mengingatnya.” bisik Aciel sensual di telinga Eden. Mendengar itu Eden tampak pucat dan segera menjauh sambil menghalau wajah Aciel yang begitu dekat dengannya, hingga ia bisa merasakan hembusan hangat nafas Aciel yang terasa menggelitik di telinganya.
“Aku tidak mungkin melakukan hal itu denganmu, kau pasti bohong! Kau pasti bohong Aciel! Aku tidak percaya padamu.” tuduh Eden keras hingga membuat Aciel geram. Diusapnya wajahnya gusar sambil menyugar rambutnya kesal karena istrinya yang sedang amnesia itu sangat menyusahkannya.
“Sekarang lihat aku.”
Aciel berseru tegas sambil menarik dagu Eden mendekat. Awalnya Eden menolak dan mencoba memundurkan wajahnya dari Aciel, tapi tekanan tangan Aciel yang kuat di tengkuknya membuat ia tak bisa mundur ataupun memalingkan wajahnya barang sedikitpun dari pria berwajah angkuh itu. Mau tak mau ia harus menatap manik legam Aciel yang menghunus tajam tepat di manik matanya.
“Camkan baik-baik di dalam otakmu sayang, kau adalah istriku dan sampai kapanpun akan tetap begitu. Meskipun kau berusaha lari dariku, aku akan tetap mengejarmu. Selain itu Ciara dan Louise membutuhkanmu karena kau adalah ibunya, kau tidak ingin anak kita merasa sedih bukan, hmm?”
__ADS_1
“Lebih baik aku mati daripada harus menjadi istrimu!” sembur Eden keras dengan wajah penuh amarah. Aciel berusaha bersikap sabar dengan kelakuan Eden yang sangat menjengkelkan itu, namun ia takut suatu saat nanti ia akan kehilangan kesabaran itu karena dokter tidak bisa memastikan sampai kapan Eden akan kehilangan
ingatannya. Bahkan menurut dokter Billy, Eden bisa saja kehilangan ingatannya untuk selamanya.
“Aku tidak menerima penolakan. Mau tidak mau, suka tidak suka, kau akan tetap menjadi istriku! Ibu dari Ciara, Louise dan juga anak-anakku yang lain.”
Mendengar kata anak-anak yang diucapkan oleh Aciel membuat Eden bergidik ngeri dengan
pikirannya sendiri. Bahkan ia tidak berani membayangkan bagaimana kehidupannya setelah ini, setelah semua fakta mengerikan yang diungkapkan padanya. Ia tidak bisa menerima penjelasan dari pria itu begitu saja. Ia harus mendengarkan penjelasan orang lain yang benar-benar akan berkata jujur padanya. Ia membutuhkan penjelasan dari Zyan atau Tranz, teman-temannya pasti akan mengatakan yang sebenarnya mengenai Aciel. Segala kebusukan Aciel yang disembunyikan pria itu darinya.
“Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?”
Tiba-tiba saja suara Aciel berubah melembut. Posisi mereka saat ini masih tetap sama, berhadap-hadapan di atas ranjang dengan tangan Aciel yang masih menahan tengkuk Eden agar Eden tidak bisa menghindar darinya. Ia perlu membawa kembali ingatan Eden mengenai masa lalu mereka yang manis. Dan kemungkinan cara yang paling ampuh dengan melakukan kembali hal-hal yang dulu pernah mereka lakukan.
“Jangan terlalu banyak berpikir jika kau tidak ingin pusing memikirkannya Ed. Tanyakan saja padaku apa yang ingin kau ketahui, karena aku pasti akan menjawabnya dengan jujur.”
“Apa yang terjadi padaku sebelum aku berada di tempat sialan ini?”
“Ssshhh... jangan katakan tempat ini sebagai tempat sialan karena tempat ini adalah tempat dimana kita membangun keluarga bahagia kita selama kurang lebih satu tahun ini. Bahkan di ranjang ini, kita sering melakukan hal-hal panas yang menakjubkan.” bisik Aciel dengan seringaian licik di wajahnya. Eden manatap Aciel dengan tatapan penuh kebencian dan memberikan ancaman pada pria itu agar ia tidak macam-macam dengannya.
“Yang kubutuhkan adalah penjelasan mengapa aku bisa berada di sini, bukan semua bualan konyol yang kau karang itu tuan Aciel Lutherford yang terhormat. Aku ingin bertemu Zyan dan Tranz” desis Eden jengah.
“Zyan sudah lama mati, tiga tahun yang lalu ia mengalami kecelakaan...” kemudian Aciel berhenti sejenak untuk berpikir. Ia tidak mau menceritakan bagian dimana Eden sudah pernah menikah dengan Zyan sebelumnya. Selain karena ia merasa muak akan fakta itu, ia juga tidak ingin membuat Eden semakin pusing dengan hidupnya
saat ini. Ia bahkan tidak tahu sampai dimana ingatan Eden membawa wanita itu hidup di dunia ini. “Zyan kecelakaan tiga tahun yang lalu, sedangkan kau kecelakaan satu minggu yang lalu. Sebuah mobil sialan menabrakmu dan membuatmu melupakanku. Andai saja aku tidak membiarkanmu pergi ke supermarket saat itu,
mungkin aku tidak akan melihatmu koma dan terbangun dengan seluruh ingatan tentangku dan Ciara yang terhapus dari kepalamu. Bahkan kau lupa jika saat itu kau sedang mengandung Louise”
“Itu tandanya Tuhan memang tidak mengijinkanmu untuk memilikiku. Tuhan tahu kau adalah orang jahat, jadi Tuhan ingin memberikan balasan untukmu melalui orang-orang yang kau anggap berarti di hidupmu.”
Aciel menyeringai mengerikan setelah Eden menyelesaikan kata-katanya. Wanita itu tahu jika Aciel pasti akan sangat marah dengan ucapannya, namun Eden tidak tahu jika ucapannya itu mungkin akan membahayakan dirinya sendiri dan mungkin orang yang dicintainya di luar sana.
“Jika Tuhan memang ingin menghukumku, maka kau juga harus merasakannya karena kau sudah menikmati hidupmu selama satu tahun ini bersama orang jahat sepertiku, bahkan sebelum itu kau telah hidup bersamaku selama lebih dari sepuluh tahun. Kau harus ingat jika aku yang membebaskanmu dari panti asuhan terkutuk itu, dan jika kau berani menentangku atau berencana kabur, maka kali ini aku tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh Anthony, bahkan Tranz juga!”
Tanpa menunggu ijin dari Eden, Aciel langsung ******* bibir pucat itu penuh nafsu dan kemarahan. Sudah lebih dari satu minggu ia tidak bisa merasakan kehangatan bibir lembut wanita itu. Dan sekarang ia ingin melampiaskan kerinduan itu dengan ******* bibir Eden sepuasnya. Tak peduli seberapa marah wanita itu saat ia menciumnya, yang pasti ia akan selalu berusaha untuk mengembalikan ingatan Eden tentangnya.
“Brengsek! Jangan pernah menyentuhku sesukamu!”
“Huh, tapi aku akan melakukannya sesuka hatiku karena kau adalah istriku.” bentak Aciel telak sebelum pria itu berjalan pergi meninggalkan istrinya sendiri dengan amarah yang bergumul di ubun-ubunnya.
“Awasi dia, jangan pernah sedikitpun lengah karena Eden pasti akan berusaha untuk kabur.” perintah
__ADS_1
Aciel pada salah satu bawahannya dan segera berlalu menuju ruang kerjanya untuk mengerjakan laporan-laporan yang sedikit terbengkalai karena sakitnya Eden beberapa hari yang lalu.