
Setelah selesai melakukan fitting baju pengantin untuk Summer, keduanya memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang menjadi rekomendasi Summer karena wanita itu mengatakan jika mereka tidak akan pernah kecewa dengan rasa yang ditawarkan Bentley Restaurant. Restoran yang terletak di jalan O’Connell
ini adalah tempat dimana Summer pertama kali bertemu Max ketika mereka sedang memiliki sebuah perjanjian kerja dengan beberapa brand besar di Australia. Siang ini mereka akan makan siang bersama dengan Sarah Brook dan juga Andrew, karena hanya dua orang itulah yang memiliki waktu luang untuk makan siang bersama dengan Eden dan Summer.
“Apa kau tahu jika tempat ini adalah tempat yang sangat penting untukku dan Max?”
“Benarkah? Biar kutebak, kau pertama kali bertemu dengan Max di sini, apa aku benar?” tanya Eden antusias pada Summer. Summer menganggukan kepalanya dua kali, terlihat sedikit tidak fokus karena baru saja Summer mendapatkan pesan dari Andrew dan ia sedang membacanya sekarang.
“Maaf Ed, ada pesan masuk. Jadi kau ingin pesan apa?” tanya Summer ketika mereka sudah berada di dalam restoran dan siap untuk memesan. Seorang pelayan wanita menhampiri mereka dengan sebuah buku menu di tangan yang ingin ia berikan pada Eden, namun hal itu langsung dicegah Summer saat wanita itu menawarkan diri untuk memesankan menu favoritnya di restoran itu.
“Burger ekstra keju dua dan dua lemonade, serta kentang goreng ekstra.” pesan Summer pada seorang pelayan yang terlihat sangat ramah pada mereka. Tak henti-hentinya pelayan yang bernama Kate itu memberikan senyum pada Eden dan juga Summer.
“Baiklah, pesanan anda akan siap dalam dua puluh menit.”
Setelah pelayan itu pergi, Summer kembali membuka ponselnya untuk melihat pesan balasan yang baru saja dikirimkan oleh kakaknya. “Sepertinya Sarah dan Andrew sudah datang.” scap Summer sambil melambaikan tangannya pada dua orang manusia yang tanpa sengaja telah datang ke Bentley Restaurant secara bersamaan.
“Hai Ed, long time no see.” sapa Sarah heboh sambil memeluk tubuh Eden dengan erat. Keduanya tampak senang sekali karena setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu, sekarang mereka dipertemukan lagi di Kota Sydney.
“Sarah, you look so beautifull. Kau terlihat lebih dewasa sekarang.” puji Eden pada Sarah dengan wajah takjub. Ia tak menyangkan jika Sarah benar-benar akan berubah menjadi wanita yang anggun seperti ini. Dulu Sarah adalah seorang wanita yang sederhana dan jauh dari kata glamour. Kehidupannya yang serba kekurangan membuat Sarah tidak bisa membeli barang-barang bermerek seperti kebanyakan temannya. Tapi sekarang Sarah terlihat sangat mengagumkan dengan setelan rok dan kemeja khas wanita kantoran dan juga tas bermerek Chanel yang saat ini tengah menggantung indah di pundaknya. Serta jangan lupakan, sepatu dengan heels lima centi keluaran Louboutin yang sangat pas dengan kakinya. Benar-benar sekarang Sarah telah berubah. Dan Eden juga merasa bahagia jika salah satu temannya sekarang telah sukses dan hidup dengan baik seperti Sarah.
“Hai calon pengantin baru, dimana Max?” goda Sarah pada Summer. Calon pengantin itu tampak kesal pada Sarah, karena lagi-lagi ia harus diingatkan tentang Max. Tadi, setelah mereka selesai melakukan sesi foto prewedding, Max langsung pergi ke kantor karena ia masih memiliki rapat penting dengan kliennya dan juga beberapa tugas kantor yang belum ia selesaikan. Padahal hari pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi. Jadilah selama semiggu ini Max harus merelakan waktu istirahatnya untuk lembur agar ia dapat melakukan bulan madu dengan tenang. Namun Summer masih saja merasa kesal dengan sikap Max yang dinilainya sok sibuk. Padahal menurut Summer, Max bisa menyerahkan tugas-tugas itu pada bawahannya. Tapi kembali lagi, seorang atasan tidak bisa melimpahkan semua pekerjaannya pada bawahannya ataupun sekertarisnya. Seandainya saja hal itu bisa terjadi, maka Eden juga akan meminta hal yang sama pada Aciel.
“Max sedang bekerja. Akhir-akhir ini ia memang bersikap sok sibuk.” gerutu Summer kesal sambil meneguk lemonadenya dengan brutal. Eden dan Sarah hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Summer yang sangat kekanakan itu.
“Sudahlah. Bukankah Max sudah menjelaskan padamu, jika ia memang harus menyelesaikan semua tugasnya sebelum hari pernikahan kalian. Jadi bersabarlah dan jangan pernah mengeluh.” ucap Eden menasehati. Summer kembali mengerucutkan bibirnya kesal pada Eden karena sahabatnya itu sama sekali tidak membelanya.
“Ed, bagaimana dengan pernikahanmu? Bukankah kau sudah menikah dengan pengusaha yang dulu sering dibicarakan oleh masyarakat seantero Vegas?” tanya Sarah pada Eden. Setelah ia sukses menggoda Summer, kini Sarah justru beralih untuk menggoda Eden. Namun Eden tidak menanggapi godaan Sarah seperti Summer menanggapi godaan Sarah. Eden terlihat lebih santai dan kalem ketika menjawab pertanyaan dari Sarah.
“Ya, aku memang menikah dengan putra mahkota keluarga Lutherford. Dan sekarang kami sudah memiliki dua orang anak.”
“Benarkah? Wah selamat untukmu dan juga putra mahkota klan Lutherford.” puji Sarah entah untuk tujuan apa, karena komentarnya barusan terdengar tidak jelas.
“Yah, begitulah. Dan aku baru saja melahirkan anak ke dua kami empat bulan yang lalu.” lanjut Eden menanggapi ucapan Sarah. Lagi-lagi wanita itu dibuat tercengang dengan kehidupan rumah tangga yang dimiliki oleh Eden. Rasanya sejak kuliah hingga sekarang Eden selalu beruntung dan tidak pernah tertimpa nasib sial sepertinya. Yah.. setidaknya itu yang Sarah tahu karena Sarah tidak pernah benar-benar dekat dengan Eden.
__ADS_1
“Lalu, dimana bayimu sekarang? Apa ia di rumah bersama Aciel?”
Kali ini Andrew membuka suaranya untuk bertanya pada Eden setelah pria itu sejak tadi hanya diam sambil memperhatikan ketiga wanita yang bercerita heboh di depannya.
“Louise dan Ciara sekarang berada di rumah bersama dengan Aciel. Sekali-sekali Aciel memang harus berada di rumah dan menjaga anak-anak kami. Karena aku sendiri sudah merasa lelah dengan dua anak sekaligus, dan terkadang aku justru harus mengurus tiga anak.” keluh Eden terdengar lelah.
“Tiga anak? Maksudmu Aciel?” tanya Summer dengan dahi berkerut. Eden menganggukan kepalanya pasti sebagai jawaban atas pertanyaan Summer.
“Terkadang Aciel lebih kekanakan daripada kedua anak kami. Dan itu cukup membuatku jengkel ketika harus menghadapi tingkah konyolnya yang kekanakan.”
“Bukankah sejak dulu Aciel memang kekanakan. Menurutmu pria normal mana yang tega merusak anak angkatnya sendiri, bahkan sampai menikahinya. Jika ia tidak kekanakan dan dibutakan oleh rasa cemburunya, ia pasti tidak akan seperti itu.”
Eden merasa apa yang dikatakan oleh Andrew telah melebihi batas. Pria itu dengan terang-terangan telah menjelek-jelekan Aciel di depan teman-temannya. Bahkan Sarah sekarang menjadi sedikit aneh karena sebenarnya ia tidak mengetahui apapun mengenai sejarah pernikahannya atau apapun yang melatarinya hingga sekarang ia berakhir bersama Aciel. Dan sialnya kata-kata Andrew tidak berhenti sampai di situ saja. Ia masih melanjutkan kata-kata yang lainnya yang berhasil membuat Eden sedikit gusar pada pria itu.
“Dia pria yang tak terduga karena dia bersembunyi dibalik wajah tampannya yang menghanyutkan. Ia selalu membuatku sengsara dengan sifat posesifnya. Dan pria itu juga yang telah merebut wanita incaranku.”
“..............”
Tiba-tiba suasana diantara mereka berempat menjadi hening setelah Andrew tanpa sengaja mengeluarkan emosinya pada Aciel. Eden yang merasa jika wanita yang dimaksud oleh Andrew adalah dirinya, hanya mampu memandangi meja tanpa berani menatap Andrew ataupun yang lainnya. Ia malu. Sangat malu hingga ia merasa telah kehilangan seluruh harga dirinya di depan Sarah.
“Tidak apa-apa. Kurasa kau memang benar, suamiku memang sangat posesif dan kekanakan.”
Eden sengaja menyebutkan kata suami sebagai ganti nama Aciel karena ia ingin memperjelas status Aciel pada Andrew dan juga teman-temannya yang lain. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada hubungan rumah tangganya dengan Aciel. Lagipula sejak dulu ia memang telah mencintai Aciel. Jika ia tidak mencintai suaminya, maka ia tidak mungkin akan luluh pada Aciel yang notabenenya telah menorehkan banyak luka di hatinya.
“Ed, kau baik-baik saja? Hello... Ed.”
Eden terperanjat kaget mendengar teriakan Summer yang begitu keras di sebelah telinganya. Buru-buru Eden mengumpulkan seluruh kesadarannya yang tadi sempat menghilang karena ia terlalu asik mengenang masa lalunya yang aneh dengan Aciel.
“Aku baik-baik saja. Kenapa kau berteriak di telingaku?”
“Kau yang kenapa. Sejak tadi kami terus bercerita dan kau tampak sedang melamun sambil tersenyum sendiri. Ada apa? Apa kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya Summer ingin tahu. Eden menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menutupi kebodohannya. Kenapa ia justru teringat masa lalunya yang pahit bersama Aciel disaat ia sedang bersama teman-temannya?
“Dia pasti sedang memikirkan suaminya. Ahh, kau memang sangat beruntung Ed. Aku iri padamu.” komentar Sarah dengan wajah berlebihan, membuat Summer merasa gemas pada wanita muda itu dan ingin menjitak kepalanya sekarang juga.
__ADS_1
“Sudahlah, lebih baik kita segera menghabiskan menu makan siang kita karena hari ini aku harus segera mengurus persiapan hotel dan katering.” ucap Andrew menengahi pertengkaran konyol mereka.
“Ya Tuhan, aku lupa. Ed, bisakah kau temani Andrew untuk mengurus menu katering dan persiapan hotel. Hari ini aku harus mengecek pesanan souvenirku di toko souvenir di dekat kantor Max. Nanti Andrew juga akan mengantarmu pulang. Apa kau mau menolongku?” mohon Summer dengan wajah penuh harap. Eden merasa bimbang untuk menolak permintaan dari Summer. Tapi jika ia menerimanya, ia takut Aciel akan berpikiran yang tidak-tidak jika ia tahu, bahwa Andrew yang mengantarkannya pulang. Tapi ia juga tidak mungkin menolak permintaan dari Summer. Akhirnya dengan berat hati, Eden menyetujui permintaan Summer dan setelah itu ia memilih untuk segera menghabiskan makanannya agar ia dapat segera pergi menyelesaikan urusan pernikahan Summer karena ia ingin segera kembali ke rumah untuk bertemu dengan anak-anaknya dan juga Aciel.
“Semoga saja tidak ada sesuatu yang buruk setelah ini.” batin Eden penuh harap.
-00-
Aciel tampak sangat bosan ketika ia harus menemani Ciara bermain di ruang keluarga. Di depannya, Louise tampak sedang tertidur dengan tenang setelah tadi ia sempat menangis karena popoknya basah. Sungguh itu adalah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan bagi Aciel Lutherford. Selama ini ia belum pernah mengganti popok Louise secara langsung. Biasanya ia hanya mengamati Eden dari jauh ketika istrinya itu sedang menggantikan popok Louise. Ia terlalu jijik jika harus berurusan dengan sesuatu yang kotor dan berbau tidak enak seperti poop. Ah... Aciel memang ayah yang payah.
“Daddy, lapar.” ucap Ciara mulai merengek-rengek. Aciel meraih sebungkus biskuit yang ia letakan di atas meja. Kemudian ia memberikan biskuit itu pada Ciara dan menyuruh gadis kecil itu untuk memakannya.
“Daddy.”
“Ada apa lagi?” tanya Aciel tidak sabar. Padahal baru kali ini ia menjaga Ciara dan Louise sendirian di rumah dalam kurun waktu yang lama, tapi sikapnya sudah sangat tidak sabaran seperti itu. Lantas bagaimana dengan Eden? Bukankah istrinya itu selama ini tidak pernah mengeluhkan apapun padanya? Benar-benar, Aciel
setelah ini harus selalu bersikap baik pada Eden dan menghargai istrinya itu.
“Susu. Ciara haus.” rengek gadis itu lucu dengan dua keping biskuit di tangan kanan dan kirinya. Dengan malas, Aciel beranjak berdiri untuk membuatkan Ciara segelas susu di dapur. Namun sebelum ia berdiri, Aciel sempat berpesan pada Ciara agar ia menjaga Louise sebentar selagi ayahnya sedang membuatkan susu.
“Sayang, tolong jaga Louise sebentar. Jangan berbuat usil pada Louise selama daddy membuatkanmu susu. Apa kau mengerti?”
Ciara menganggukan kepalanya dua kali sambil menatap daddynya dengan wajah polos bak malaikat. Ingin rasanya Aciel mencium pipi chubby itu dan mencubitnya karena ia terlalu gemas dengan gadis kecilnya. Tapi ia tidak ingin mengambil risiko jika Ciara menangis dan kemudian gadis kecil itu akan membangunkan Louise. Tidak!
Aciel lebih memilih anaknya itu tertidur dengan pulas daripada ia terbangung dan Aciel harus menimang Louise sepanjang hari. Aciel tidak mau!
Aciel berjalan ke ruang keluarga dengan segelas susu vanila di tangan kanannya. Ia berjalan dengan cepat untuk memberikan susu pada Ciara, karena tadi ia juga sempat mendengar suara tangisan Louise. Namun dalam hati Aciel berdoa semoga suara itu hanya halusinasinya saja.
“Sayang, ini susumu.”
“Daddy, aku bosan.” keluh Ciara dengan wajah lesu. Sejak kemarin mereka belum pergi kemanapun dan hanya bermalas-malasan di rumah sambil menonton televisi. Untuk Aciel, itu adalah sesuatu yang luar biasa, tapi untuk Ciara, itu adalah sesuatu yang membosankan karena hampir setiap hari ia melakukan hal itu di rumah bersama ibunya.
“Baiklah, kita pergi ke taman hiburan setelah ini. Apa kau ingin bertemu santa?” Tiba-tiba Aciel mendapatkan ide untuk membawa Ciara dan Louise ke alun-alun kota untuk melihat santa. Setiap tahun di bulan desember, Sydney selalu memiliki festival untuk menyambut natal. Dan kali ini Aciel akan pergi ke sana bersama anak-anaknya tanpa Eden untuk membuat anak-anaknya senang.
__ADS_1
“Ayo kita pergi untuk bertemu santa dan siapkan doa terbaikmu tahun ini agar santa dapat mengabulkannya.”