Black Swan

Black Swan
What Happen With Olivia? (One Hundred Twenty Four)


__ADS_3

            Scout mengerang kecil, bersorak atas pesta mengagumkan yang ia hadiri malam ini. Lampu-lampu kristal yang mahal menggantung dengan anggun di setiap sudut ballroom yang telah ditata sedemikian rupa agar menjadi arena pesta yang menyenangkan. Para pelayan dengan seragam merah dan hitam tampak sibuk berjalan hilir mudik dengan berbagai macam minuman yang mereka bawa menggunakan baki berwarna perak. Dan di tengah ruangan, Scout tidak bisa menolak pesona makanan-makanan mewah yang dihidangkan dengan begitu apik dan juga menggoda. Ini adalah pesta yang paling menakjubkab menurutnya. Setelah lebih dari lima bulan ia tidak


mendapatkan pesta semeriah ini, dan hanya sibuk dengan proyeknya bersama Ford grup, sekarang ia seperti akan melakukan apapun sepuasnya di sini. Ia tahu jika pesta ini dirancang untuk merayakan keberhasilannya dalam membuat rancangan bangunan untuk kantor baru Ford grup di Miami, Florida. Yeah, ia tidak akan menyia-nyiakan pesta ini begitu saja.


            “Kau menyukai pestanya Mr Scout Voyage?”


            “Oh tentu saja Mr Sian, terimakasih untuk pesta meriah ini. Agak berlebihan menurutku, tapi aku menyukainya.”


            “Tidak ada yang berlebihan untuk pria dengan hasil kerja yang cemerlang. Secara pribadi Aciel menitipkan salam dan meminta maaf karena tidak bisa hadir di pesta ini. Istrinya sedang mengandung anak ke tiga.” beritahu pria itu dengan senyum merekah. Scout terlihat tak ambil pusing sama sekali dengan absennya Aciel dalam pesta ini. Baginya itu bukan masalah besar. Justru tanpa Aciel, pesta ini tidak akan menguarkan aura penuh kekuasaan khas Aciel Lutherford yang kerap kali membuat bulu kuduknya merinding.


            “Kalau begitu sampaikan salamku untuknya. Katakan pada Mr Aciel jika aku sangat menyukai pesta yang dibuat olehnya di hotel ini. Hiburan yang disediakan juga tak kalah mengagumkan.” Scout melirik ke arah panggung yang sedang menampilkan tarian hula-hula dengan para penari seksi berusia muda yang sangat menawan. Andai ia tidak perlu bersikap terhormat di sini, ia pasti sudah menyeret turun salah satu penari itu dan mengajaknya ke kamar hotelnya. Well, bagaimanapun ia adalah pria normal. Tidak mungkin ia tidak tergoda dengan suguhan yang sangat istimewa itu. Penari yang hanya menggunakan bikini dan rok rumbai-rumbai dari daun kelapa, siapa yang tidak akan tergoda dengan kehalusan kulit kecoklatan mereka yang berkilauan saat lampu sorot terus menyorot setiap inci tubuh mereka.


            “Kalau begitu Mr Scout, silahkan menikmati pestanya. Selamat malam.”


            Scout menatap kepergian Sian begitu saja dan segera kembali memfokuskan pandangannya pada para penari hula-hula yang masih beraksi di atas panggung. Dalam hati Scout berpikir, apakah ia bisa mendapatkan satu penari hula-hula untuk malam ini? Tapi jika ia mendapatkannya, apakah ia tidak akan dianggap pedofil karena telah menggunakan tubuh wanita muda untuk melayaninya?


            Ditengah kekalutan Scout dengan pikiran dan juga keinginannya yang membara, tiba-tiba Scout merasakan wajahnya dibelai dengan sangat lembut. Sebuah selendang hitam menyapu wajahnya ketika seorang wanita bergaun malam panjang seksi dengan selendang yang hanya disampirkan di lehernya berjalan melewatinya. Selendang hitam itu terus melambai-lambai di belakang punggung kecil seorang wanita yang tidak menyadari jika selendang itu baru saja membuat seorang pria merasakan sengatan listrik yang begitu besar, dan membangkitkan sesuatu yang sejak tadi telah ditahan pria itu dengan begitu baik.


            Melalui matanya Scout melihat wanita itu seperti bosan. Di pesta yang sangat ramai ini, ia terlihat kesepian dan juga kesal. Beberapa kali Scout melihat wanita itu mengerutkan alisnya dan mencebik sambil menyesap champagne yang digenggamnya. Dalam hati Scout berpikir, wanita itu bisa ia dekati untuk melakukan kencan semalam dengannya. Daripada ia mengharapkan para penari hula-hula yang di bawah umur, lebih baik baginya untuk mencari wanita matang seperti wanita pemilik selendang hitam itu untuk diajak melakukan kencan semalam yang menggairahkan.


            “Hai.”


            Scout nekat menghampiri wanita itu dengan seluruh kepercayaan diri yang tertanam baik di dalam dirinya. Sudah tidak diragukan lagi jika Scout Voyage adalah pria dengan seribu satu kepercayaan diri, karena ia sudah terbiasa melakukan transaksi bisnis yang menyebabkan terasahnya kepercayaan diri yang telah tertanam pada dirinya sejak ia dilahirkan.


            “Ya?”


            Tidak seperti dugaannya, wanita itu ternyata tidak merespon sapaan Scout degan baik. Padahal Scout berpikir jika wanita itu akan sama mudahnya dengan wanita-wanita biasa yang sering ia temui di bar, tapi ternyata wanita yang satu ini memiliki tingkat penaklukan yang lebih sulit dari yang ia bayangkan.


            “Aku Scout Voyage.”


            “Oh hai, senang bertemu denganmu.”


            Scout mengerutkan keningnya, heran melihat wanita itu benar-benar tak memiliki minat padanya dan tidak terlihat akan menyebutkan namanya untuk memperkenalkan diri, meskipun ia telah memulainya dengan semangat menggebu-gebu yang tersembunyi dibalik wajah berkelasnya. Tapi tidak  apa-apa, Scout menenangkan hatinya yang berteriak keras. Hal seperti inilah yang membuat jiwa Scout semakin tertantang untuk mengenal wanita cantik berselendang hitam ini.


            “Kulihat kau satu-satunya wanita yang tidak menyukai pesta ini.”


            “Oya? Kurasa kau terlalu sok tahu.”


            Scout terkekeh menatap kegusaran yang terpancar dari wajah polos wanita itu. Ia pikir alkohol telah merubah wanita itu menjadi lebih kasar. Lihat saja champagnenya yang telah habis dari gelasnya. Wanita itu pasti bukan peminum yang baik karena ia langsung menegaknya dengan kasar ketika dirasa suasana hatinya sedang tidak baik.

__ADS_1


            “Kau ingin minuman lagi? Punchnya sangat enak, kau harus coba.”


            Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu, Scout segera memanggil salah satu pelayan yang melintas di dekatnya dan mengambil dua punch dari baki perak yang dipegang pelayan itu dengan satu tangan yang ahli.


Ting


            “Selamat menikmati.”


            Setelah membenturkan ujung gelasnya pada ujung gelas wanita itu, Scout langsung meminum punchnya dengan nikmat. Diliriknya wanita itu dari balik gelas saat ia sedang menyesap punch beraroma berry yang begitu menyengat. Wanita itu ternyata juga mengikuti gerakannya untuk menyesap punch miliknya dengan dahi berkerut. Senyum puas langsung terbit dari alis Scout, dan batinnya semakin bersorak keras untuk mendekati wanita itu lebih semangat lagi.


            “Bagaimana menurutmu?”


            “Kurasa kau benar, ini enak. Tapi efeknya membuatku tidak senang.”


            “Ada apa?” tanya Scout pura-pura tidak tahu. Tentu saja ia tahu jika punch itu telah membuat sang wanita semakin merasa pusing karena efek alkohol yang terkandung di dalam punch telah berpindah ke dalam tubuhnya. Dan jika wanita itu memang tidak ahli dalam urusan alkohol, sebentar lagi ia pasti akan mabuk.


            “Pusing. Minuman ini membuatku pusing, tapi aku menyukainya.” Dengan terkekeh wanita itu meneguk habis sisa punchnya dan melemparkan gelas itu begitu saja kearah Scout. Refleks Scout menangkap gelas itu dan meletakannya di meja terdekat agar tidak jatuh dan pecah.


            “Apa kau ingin menghirup udara di luar untuk menghilangkan efek pusingmu?”


            “Kedengarannya itu ide yang bagus. Ayo!” ajak wanita itu semangat. Dari tempatnya berdiri Scout memperhatikan wanita itu hati-hati. Rambut wanita itu berwarna coklat gelap, tampak anggun karena disanggul tinggi hingga menampakan leher jenjangnya yang mulus. Scout harus menelan ludahnya susah payah saat membayangkan bagaimana rasanya menyesap kulit halus itu menggunakan bibir panasnya yang basah. Ia bersumpah tidak akan melepaskan wanita itu begitu saja. Apapun caranya, ia harus berhasil membawa wanita itu ke ranjangnya.


            Scout terus memperhatikan wanita tanpa nama itu sambil bertopang dagu. Sudah lebih dari satu jam mereka berbicara di pinggir kolam sambil sesekali melemparkan lelucon aneh yang semata-mata hanya digunakan untuk berbasa-basi. Dari tempatnya duduk, Scout tahu jika wanita itu telah sepenuhnya mabuk. Apalagi mereka baru saja meminum whiski dari salah satu pelayan yang dengan khusus mengantarkan pesanan whiski padanya. Bukankah ia licik? Ya, ia akan menjadi sangat licik jika itu menyangkut keinginannya.


            “Apa yang akhir-akhir ini kau lakukan tuan Scout?”


            “Bukan sesuatu yang menarik. Aku sibuk menenggelamkan diri pada sketsa bangunan Ford grup yang dihargai sangat tinggi oleh CEO utamanya.”


            “Aciel Lutherford?” tebak wanita itu sambil terkekeh-kekeh. Sesekali wanita itu limbung ke kanan dan ke kiri saat tertawa karena ia merasa kini tubuhnya begitu ringan. Ia seperti manusia tanpa berat tubuh setelah meminum beberapa gelas minuman asing yang baru kali ini ia minum.


            “Yup, kau benar. Kurasa tidak ada orang yang tidak mengenal Aciel Lutherford. Setiap majalah dan pembawa acara di televisi selalu menyebut namanya paling tidak satu kali dalam dua jam. Jadi orang bodoh mana yang tidak mengenal Aciel Lutherford jika namanya sangat sering terpampang di majalah dan televisi. Pria itu adalah pria yang hebat dalam urusan bisnis. Tapi sayangnya, ia menjadi terlalu takut pada istrinya.”


            “Dia tidak takut!” bantah wanita itu keras. Sekali lagi alkohol telah mempengaruhi akal sehatnya, sehingga kini ia merasa tidak memiliki kontrol untuk seluruh kata-kata yang akan ia ucapkan. “Ia sangat mencintai istrinya.”


            “Apa menurutmu hal seperti itu ada di dunia ini? Seorang pria yang memiliki segala-galanya, tunduk pada satu wanita? Benar-benar sulit dipercaya.” balas Scout mencemooh. Ia adalah pria berusia tiga puluh sembilan tahun yang telah terjun ke dunia bisnis sejak berusia sembilan belas tahun. Selama itu ia belum pernah melihat pria-pria kaya hanya memuja satu wanita dalam hidupnya. Paling tidak mereka memiliki dua atau lebih wanita simpanan yang tersembunyi di berbagai belahan negara lain agar sewaktu-waktu saat mereka sedang berjauhan dengan istri mereka, kebutuhan biologis mereka tetap akan terpenuhi dengan lancar. Jadi cinta sejati jelas tidak akan pernah ada dalam kamus hidup Scout Voyage yang telah melihat sendiri bagaimana kehidupan cinta para pria hebat di luar sana.


            “Aciel Lutherford benar-benar melakukannya! Dia sangat mencintai istrinya!” seru wanita itu menggebu-gebu. Tangannya langsung berubah ribut, ia menunjuk-nunjuk dada Scout menggunakan jari telunjuknya yang hanya diwarnai dengan kutek sederhana berwarna nude. Scout merasa wanita di depannya ini sangat unik. Ia sederhana, namun terlihat berkelas dengan sikap menawannya.


            “Aku jadi penasaran, apa kau adalah salah satu karyawan di Ford grup?” Scout menangkap tangan wanita itu dan mencondongkan tubuhnya lebih rapat kearah wanita tanpa nama yang saat ini tengah bergerak-gerak gelisah karena hembusan napas Scout yang panas.

__ADS_1


            “Bbu bukan.” jawab wanita itu terbata. Beberapa kali ia mencoba menyingkirkan tangan Scout dari pergelangan tangannya, tapi ia selalu gagal karena Scout mencengkeramnya terlalu kuat, dan terlalu menguarkan ancaman di depannya.


            “Kalau begitu siapa namamu, young lady?”


            “Aku....”


            Belum sempat wanita itu menjawab, Scout sudah lebih dulu mendaratkan bibirnya yang basah di atas bibir seksi wanita cantik di depannya. Scout tidak bisa menahan dirinya lagi saat melihat wanita itu membuka mulutnya, terengah di depannya karena ancaman besar yang ia berikan. Lalu tanpa aba-aba ia langsung meraup bibir ranum wanita itu untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Nama sudah tidak penting lagi baginya. Mereka masih punya banyak waktu hanya untuk membahas sebuah nama dan apapun yang berkaitan dengan wanita asing itu. Sekarang yang perlu Scout lakukan hanyalah memenjara wanita seksi itu di bawah tubuhnya yang telah bergairah sejak tadi.


            “Kau manis, rasa punch.” bisik Scout serak. Akal sehatnya telah hilang akibat erangan seksi yang terdengar dari wanita teller di bawahnya. Ia merasa yakin jika wanita itu tidak akan menolaknya saat ia ingin menyentuh setiap inci tubuhnya. Dan hal itu jelas terbukti saat tangan-tangan Scout mulai meraba wajah wanita berslendang hitam itu dengan tangannya yang panas. Wanita itu langsung saja mendesis di balik ketidaksadaran yang membelenggunya. Semua yang ia rasakan terasa nikmat, tapi juga kabur karena ia tidak bisa melihat dengan jelas. Satu matanya yang sehat terasa sama lumpuhnya dengan satu matanya yang lain, yang sakit. Ia telah dikuasai oleh alkohol dan gairah yang meluap-luap karena sentuhan pria itu. Jadi pada akhirnya ia menyerah. Ia mengerang pasrah di bawah pria itu tanpa melakukan perlawanan yang berarti.


            “Hey... aku berbicara denganmu sejak tadi.”


            Runtuk wanita itu gusar saat sang lawan bicara justru asik melamun dengan pandangan kosong, namun sarat akan kesedihan.


            “Ada apa, Ed?” tanya Olivia mencoba menjaga nada suaranya agar tidak terdengar aneh di depan Eden. Rasanya mimpi buruk itu tidak akan pernah hilang dari otaknya sampai kapanpun. Sebanyak apapun ia mencoba, nyatanya ia telah melakukan kesalahan di malam itu tanpa sepengetahuan Sian.


            “Menurutmu kertas dinding mana yang cocok untuk kamar si kembar?”


            “Biru bagus.” jawab Olivia tanpa minat. Baginya semua kertas dinding itu tak ada bedanya. Tidak ada yang istimewa saat suasana hatinya sedang kacau. Awalnya ia pikir semua itu akan baik-baik saja. Ia terus mengatakan pada dirinya sendiri jika kesalahan seperti itu wajar terjadi. Bahkan suaminya juga pernah melakukannya di masa lalu. Tapi kemudian semuanya menjadi kacau saat ia mulai sadar jika ia telah melakukan kesalahan besar malam itu. Hubungannya dengan pria itu jelas salah karena ia adalah wanita yang telah menjadi istri dan juga seorang ibu. Apalagi hasil dari kesalahan satu malam itu perlahan-lahan mulai dirasakan oleh Olivia sekarang. Dan ia dalam masalah besar karena itu!


            “Biru? Bagaimana dengan hijau? Kupikir hijau bagus dan netral untuk anak kembarku.”


            “Kalau begitu hijau juga bagus. Bukankah biru telah kau gunakan untuk kamar Louise?”


            “Benar sekali! Aku akan menggunakan yang hijau. Terimakasih, Olive, kau telah membantuku memilih kertas dinding ini.” ucap Eden girang. Wanita itu langsung saja melesat mengambil ponselnya dan mulai menghubungi petugas layanan pemasangan kertas dinding agar segera memasang kertas dinding pesanannya. Satu bulan lagi bayinya akan segera hadir di tengah-tengah mereka. Jadi Eden ingin semuanya segera siap sebelum ia tidak bisa lagi menghandle semua ini sendiri karena pengaruh usia kehamilannya.


            “Ed...” panggil Olivia pelan. Tubuh Olivia seketika merasa dingin dan kaku. Kegugupan ini membuat Olivia tidak fokus hingga membuat Eden mengernyit heran kearahnya.


            “Ada apa? Jika kau memiliki masalah, ceritakan saja padaku. Kau terlihat aneh sejak di villa saat itu.” celoteh Eden tanpa memperhatikan perubahan raut wajah Olivia. Wanita itu sedang asik dengan ponselnya saat sebuah katalog dari rumah mode untuk bayi memberinya koleksi terbaru mereka yang lucu-lucu. Perhatian Eden langsung saja hanya terarah pada kumpulan foto-foto baju bayi yang terlihat sangat menggemaskan di mata Eden. Sudah bisa dipastikan jika wanita itu pasti akan membeli beberapa pasang untuk calon anaknya.


            “Aku pergi dulu ke bawah. Sudah waktunya Justice minum susu dan tidur siang.”


            Tanpa menunggu respon dari Eden yang masih asik dengan katalognya, Olivia segera berjalan ke bawah dengan kaki tertatih tatih. Terlalu lama duduk di atas lantai tanpa berganti posisi membuat Olivia didera kesemutan hebat di kaki kanannya. Jelas itu semua adalah efek dari lamunannya yang panjang, dan yang terlalu menyita pikirannya akhir-akhir ini. Andai saja Eden tidak mengungkit hal itu saat di villa, ia pasti tidak akan setakut ini dan sekhawatir ini. Apalagi semua gejalanya sama. Ia tidak bisa menyangkal pikiran-pikiran buruknya karena ia memiliki gejala yang sama dengan apa yang dulu pernah ia alami saat mengandung Justice.


            “Sayang... saatnya tidur siang dan minum susu.”


            “Yaahh aunty...” protes Ciara dan Louise kompak. Ciara baru pulang dari sekolahnya tiga puluh menit yang lalu. Jelas ia merasa belum puas untuk bermain bersama Justice yang sebenarnya telah berada di rumahnya sejak pagi.


            “Maafkan aunty sayang, tapi ini sudah saatnya Justice tidur siang. Nanti sore kalian bisa bermain lagi dengan si kecil Justice.”

__ADS_1


            “Baiklah. Bye Justice, tidurlah dengan nyenyak.” ucap Ciara melambaikan tangannya kearah Justice yang sedang bergerak-gerak lucu di dalam dekapan ibunya. Olivia lalu segera membawa Justice ke dalam kamar tamu yang biasanya ia tempati selama berkunjung ke rumah Eden. Ia harap semua pikiran buruk itu akan segera pergi saat ia bangun sore nanti.


__ADS_2