
Aciel tiba di rumah pukul setengah empat sore. Tepat ketika ia membuka pintu mobilnya, Eden sedang keluar dari dalam rumah sambil membawa Louise di dalam dekapannya. Lalu di sampingnya, Ciara terlihat mengekori Eden sambil menggenggam ujung dress Eden yang menjuntai.
“Daddy.” teriak Ciara kencang menyambut kedatangannya. Ciara lantas melepaskan genggaman tangannya pada ujung dress Eden dan berlari menghampiri ayahnya yang tampak menunggu di dekat mobil sambil merentangkan tangannya lebar-lebar.
“Ciara, hati-hati sayang.” peringat Eden sambil memperhatikan setiap langkah Ciara dengan was-was. Gadis kecilnya itu terkadang melakukan kecerobohan ketika sedang berlari seperti itu. Beberapa kali Eden mendapatkan laporan dari guru sekolah Ciara jika gadis kecilnya jatuh saat bermain bersama teman-temannya di
sekolah. Eden jadi harus selalu memperhatikan polah tingkah Ciara disamping ia memperhatikan Louise setiap berada di rumah.
“Daddy, tadi Ciara bermain boneka bersama Louise dan mommy.” cerita Ciara antusias di dalam dekapan Aciel. Eden melirik malas pada suaminya dan memilih untuk masuk ke dalam rumah untuk menghindari suaminya. Padahal tadi siang ia sudah bertekad untuk bersikap lebih dewasa ketika suaminya pulang dari kantor. Tapi saat Aciel pulang, Eden justru kembali bertingkah kekanakan dengan mendiami suaminya tanpa mau menyambut kedatangan Aciel dengan hangat seperti biasanya.
“Ed.”
Tiba-tiba saja Aciel menyentuh pundak Eden pelan dan menyusul Eden untuk duduk di atas sofa panjang di ruang keluarga. Ciara memperhatikan kedua orangtuanya dengan intens, namun ia kemudian kembali tenggelam dalam dunia khayalannya dan juga boneka barbienya.
“Kau masih marah padaku?”
“Tidak. Aku baik-baik saja. Aku tahu jika semua yang kau lakukan ini demi kebaikan kami semua. Tidak apa-apa, Ace. Aku sudah memberitahu Summer tadi siang dan meminta maaf karena aku tidak bisa datang ke pernikahannya” ucap Eden panjang lebar berusaha untuk melunak. Aciel menurunkan Ciara di atas karpet dan sedikit menggeserkan tubuhnya untuk mendekat ke arah Eden. Lalu ia mengelus puncak kepala Louise dengan sayang sambil menatap wajah Eden dengan penuh arti.
“Terimakasih karena telah mengerti, Ed.”
“Tidak masalah. Kau sudah berubah menjadi lebih baik sekarang, dan aku menyukai kau yang sekarang Ace. Terimakasih juga untuk itu. Dan...” Eden sedikit ragu untuk memberitahu Aciel.
“Ada apa?” tanya Aciel menuntut. Raut wajah Eden menunjukan sesuatu yang tidak biasa, dan ia tahu jika Eden sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Tadi siang tuan Kim mengeluh tidak enak badan, dan baru saja Mary memberitahuku jika keadaan tuan Kim semakin memburuk.”
“Kau sudah memanggil dokter?”
“Sudah, dokter Baron sedang dalam perjalanan ke sini.”
“Aku akan melihat keadaannya.” ucap Aciel terburu-buru pergi menuju kamar tuan Kim di bangunan belakang mansionnya. Eden tahu bagaimana khawatirnya Aciel saat tuan Kim sakit karen hanya pria itu yang sejak dulu selalu menemani Aciel di saat pria itu dalam masa-masa sulit. Selain itu tuan Kim divonis memiliki penyakit jantung sejak dua tahun yang lalu oleh dokter Baron setelah dulu tuan Kim pernah pingsan di dekat kebun karena nyeri dada yang menyerangnya tiba-tiba.
“Dokter, akhirnya kau datang.” Eden menyambut dokter Baron dengan perasaan lega dan segera mengantar dokter Baron menuju kamar tuan Kim di bangunan belakang.
“Apa ia mengeluh nyeri dada lagi?” tanya dokter Baron pada Eden yang berjalan di sampingnya. Dengan cepat Eden menggelengkan kepalanya. Hari ini ia tidak mendapatkan laporan apapun selain tuan Kim sakit dan tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya panas dan lemas.
“Sudah lama penyakit jantungnya tidak kambuh?”
“Emm... akhir-akhir ini sepertinya begitu, tidak pernah ada laporan atau keluhan apapun tentang kondisi kesehatannya. Semua pelayan di sini saling memperhatikan satu sama lain dokter, dan keadaan tuan Kim juga tak luput dari pengawasan mereka karena mereka menyayangi tuan Kim lebih dari apapun.”
Saat masuk ke dalam kamar tuan Kim ternyata sudah ada banyak orang yang berdiri memenuhi kamar bercahaya temaram itu. Di atas ranjang, tuan Kim tampak terbaring lemah dengan Aciel yang sedang duduk di samping tubuh kurusnya sambil menggenggam tangan keriput tuan Kim.
“Kakek Kim...” bisik Ciara di sebelah Eden. Wanita muda itu lantas memberikan kode pada Ciara agar diam menggunakan jari telunjuknya karena dokter Baron akan memerika kondisi tuan Kim.
“Apa yang kau rasakan tuan Kim?” tanya dokter Baron lembut. Dokter berkacamata itu menatap tuan Kim lama, memperhatikan kondisi lemah tuan Kim dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu mulai mengeluarkan peralatan dokternya untuk memeriksa kondisi tuan Kim.
“Berikan yang terbaik untuk tuan Kim.” pesan Aciel sebelum ia menyingkir dan mempersilahkan dokter Baron untuk memeriksa kondisi pelayan setianya. Namun tuan Kim seperti tak mau melepaskan genggaman tangan Aciel di tangan keriputnya. Ia menahan Aciel agar tetap berada di sisinya menggunakan suara
serak yang nyaris tak terdengar jika Aciel tidak benar-benar memperhatikan gerak bibir pucat tuan Kim.
“Kau ingin mengatakan sesuatu?” Aciel memberi kode pada dokter Baron untuk menunggu sebentar karena tuan Kim seperti ingin membisikan sesuatu padanya.
“Tttu tuan...” bisikan lemah tuan Kim terdengar terbata-bata. Dan Eden merasa tak bisa menyembnyikan air matanya saat melihat kondisi tuan Kim yang sangat lemah seperti itu. Perasaan takut kehilangan itu membuat dada Eden sesak dan sakit. Ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada tuan Kim.
“Katakan Kim, apa yang kau inginkan?” Aciel dengan sabar menunggu tuan Kim sambil tetap mengelus punggung tangan tuan Kim lembut.
“Tuan Aa Aciel... selamat natal.”
“Natal masih lama, tapi selamat natal juga untukmu.” balas Aciel pelan, mencoba untuk tetap tegar di hadapan semua pelayan yang saat ini sedang berkumpul di kamar tuan Kim.
“Tuan... Ssee sebenarnya aku ingin pulang...” Jeda. Napas tuan Kim yang terputus-putus membuat pria tua itu kesulitan untuk melanjutkan kata-katanya. Namun ia tetap mencoba untuk berbicara pada Aciel yang masih setia menunggu di sampingnya. “Ak aku ingin pulang, na natal tahun ini aku ingin pulang, hosh hosh... tta tapi bbu bukan ke Itali, aku ingin ke Australia.”
Aciel mengerutkan keningnya dan tampak tak mengerti dengan permintaan tuan Kim. Setahunya tuan Kim berasal dari Itali. Pria itu dulu dibawa kakeknya setelah melakukan perjalanan bisnisnya ke beberapa negara di Eropa, salah satunya Itali karena tuan Kim adalah seseorang yang menolong kakeknya ketika hampir dirampok oleh pengamen jalanan di sana. Dan karena tuan Kim menolak diberi uang, kakek Aciel akhirnya memberikan pekerjaan pada tuan Kim sebagai pelayan di rumahnya yang akhirnya terus berlanjut hingga Aciel memiliki keluarganya sendiri sekarang.
“Kau ingin pulang ke rumah siapa di Australia?”
“Ke rumah istriku.” jawab tuan Kim dengan senyuman. Seperti mendapatkan sebuah pukulan telak, Aciel merasakan tangannya dingin sekarang. Bahkan dadanya juga bergemuruh cepat seiring dengan senyuman tuan Kim yang ditunjukan padanya.
“Sydney... istriku berada di sana.” lanjut tuan Kim sebelum akhirnya melepaskan genggaman tangannya pada Aciel. Dokter Baron kemudian berjalan mendekat kearah tuan Kim dan mulai memeriksa kondisi tuan Kim yang semakin lemah. Sedangkan Aciel langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapaun pada Eden yang sempat memberikan tatapan bertanya-tanya kearahnya.
-00-
Detik ini juga Aciel merasakan ketakutan yang begitu pekat menyelimuti hatinya. Kata-kata yang diucapkan tuan Kim tiga jam yang lalu berhasil membuat Aciel takut. Takut jika ia akan merasakan kehilangan untuk yang ke sekian kalinya meskipun saat ini ia seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Dokter Baron telah memberikan infus dan obat untuk tuan Kim. Seharusnya ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Tuan Kim pasti akan segera pulih setelah beberapa hari dirawat dengan intensif oleh dokter Baron. Tapi entah kenapa kata-kata yang diucapkan tuan Kim terdengar seperti pesan terakhir untuknya.
“Ace, apa yang kau lakukan di sini?”
Eden yang melihat perubahan sikap suaminya sejak berada di kamar tuan Kim memutuskan untuk mencari Aciel di taman belakang setelah berhasil membuat dua anaknya tertidur dengan nyenyak. Sejak tadi Aciel terlihat bungkam dan enggan mengatakan apapun pada Eden, bahkan Aciel cenderung menghindari Eden dari pertanyaan apapun yang akan diarahkan wanita itu padanya.
“Anak-anak sudah tidur?” seperti tak memperhatikan pertanyaan Eden sebelumnya, Aciel justru menanyakan hal lain dengan tatapan sendu.
“Sudah, mereka sudah tidur. Sekarang saatnya aku membuatmu tidur juga seperti mereka.” ucap Eden terkekeh. Ia tidak bermaksud apapun, hanya ingin menghibur Aciel yang terus saja menunjukan wajah muram di hadapannya.
“Kau duluan saja.”
“Aku tidak bisa tidur jika tidak kau peluk.” jawab Eden dengan senyuman. Ia lalu mengelus punggung Aciel lembut dan memutuskan untuk duduk di samping suaminya.
“Jika kau ingin melihat keadaan tuan Kim lagi, aku akan menemanimu.”
“Hmm... aku pikir Kim akan meninggalkanku.”
“Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Eden dengan dahi berkerut. Aciel hanya diam dengan pertanyaan yang dilontarkan Eden, ia justru mendongakan kepalanya ke atas, kearah langit hitam tanpa bintang yang terlihat sama kelabunya dengan hatinya.
“Istrinya adalah orang Australia, dan istrinya dimakamkan di Australia saat meninggal.”
“Kau telah menceritakan padaku tentang kematian istri tuan Kim sepuluh tahun yang lalu.”
“Kim tidak ingin menghabiskan natal di Italia, Ed.” desah Aciel berat. Sekarang Eden mulai dapat memahami arah pembicaraan Aciel yang mengarah pada kata-kata tuan Kim sore tadi.
“Jadi apa yang diinginkan tuan Kim darimu?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada?” ulang Eden lagi tak habis pikir. Bukankah tadi tuan Kim jelas-jelas sedang membisikan sesuatu pada Aciel?
__ADS_1
“Ia tidak meminta apapun dariku Ed, ia hanya mengatakan jika ia ingin menghabiskan natal di Australia.”
“Apakah ini berhubungan dengan kata-kataku yang memintanya untuk mengambil cuti lebih awal agar ia bisa menghabiskan natal bersama keluarganya?”
“Mungkin. Tapi ia tidak ingin pulang ke Itali, ia ingin pulang ke Australia.”
“Mungkin tuan Kim hanya merindukan istrinya dan ia ingin pergi ke makam istrinya saat natal nanti. Sudahlah Ace, jangan terlalu berpikiran buruk. Jika tuan Kim memang ingin pulang ke Australi, kita bisa mengabulkan keinginannya dengan mengantarnya ke Australia menggunakan jet pribadimu, hmm?”
Aciel menggenggam tangan Eden erat, dan ia mengecupi jari itu satu persatu untuk mengalihkan seluruh rasa frustrasi yang saat ini sedang menghantam hatinya. Ia sangat bersyukur saat ini ia memiliki Eden di sisinya. Wanita itu selalu bisa membuat hatinya lebih tenang dan juga hangat. Perasaan takut yang melingkupi hatinya juga perlahan-lahan hilang, digantikan perasaan tenang dan yakin jika ia tidak akan pernah sendiri di dunia ini. Ia memiliki Eden, Ciara, dan juga Louise. Keluarga kecilnya tidak akan pernah membuatnya merasa sendiri di dunia yang kejam ini.
“Aku ingin melihat kondisi Kim.”
Eden tersenyum lembut di sebelah Aciel, ia lalu menggenggam tangan Aciel dan bersama-sama berjalan menuju kamar tuan Kim di bangunan belakang.
“Kau tidak akan pernah sendiri Ace, kau memiliki aku dan anak-anak.” bisik Eden ketika mereka telah berada di depan kamar tuan Kim. Suasana bangunan yang sepi karena para pelayan sudah tertidur di kamar mereka masing-masing membuat Eden bisa melakukan apapun, termasuk mencium pipi suaminya lembut dan menuntun tangan Aciel agar mendorong pintu kamar tuan Kim yang tak tertutup rapat di depannya.
“Kim...” panggil Aciel pelan. Suasana temaram di kamar tuan Kim membuat pria tua itu terlihat semakin mengerikan dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya.
“Dia sudah tidur.” bisik Eden mengingatkan Aciel agar tidak memanggil tuan Kim terlalu keras. Namun saat Eden merasa jika pegangan tangan Aciel di tangannya telah berubah menjadi cengkraman, Eden mulai sadar jika keadaannya tidak sedang baik-baik saja saat ini.
“Tidak! Ed...”
Dengan langkah kaku Aciel berjalan menghampiri tuan Kim dan menangis dalam diam di samping tubuh kaku tuan Kim. Pria itu meneteskan satu air matanya di atas wajah keriput tuan Kim yang telah tertidur dengan damai untuk selamanya.
“Dia sudah pergi Ed.” bisik Aciela parau. Eden langsung terisak pelan di sebelah Aciel sambil memeluk tubuh suaminya dari samping. Ia tidak mengira jika pelayan yang telah mengabdikan dirinya bertahun-tahun bersama keluarga Aciel akan pergi dengan begitu cepat. Dedikasinya untuk keluarga Lutheford benar-benar besar
hingga Eden merasa jika tuan Kim telah menjadi lebih dari sekedar pelayan di rumahnya. Tuan Kim adalah sosok ayah untuknya, kakek untuk anak-anaknya, dan penyelamat bagi jiwa rapuh Aciel yang berkali-kali mengalami guncangan saat dunia sedang tidak berpihak padanya.
“Panggil dokter Baron, sekarang!”
-00-
Pagi ini kediaman Aciel sedang berkabung atas kematian tuan Kim. Pelayan senior yang telah menjadi ayah bagi semua pelayan di rumah Aciel itu pergi dengan senyuman damai yang menghiasi wajah tuanya yang telah dipenuhi oleh keriput. Eden yang melihat suaminya hanya diam sejak semalam menjadi khawatir pada kondisi kesehatan Aciel karena sejak semalam pria itu tidak tidur sama sekali. Eden tahu saat Aciel menyelinap keluar dari kamar mereka setelah berkali-kali mencoba untuk memejamkan matanya namun tidak berhasil, sehingga pada akhirnya Aciel memilih untuk pergi ke ruang kerjanya. Pria itu meneguk berbotol-botol alkohol di sana hingga pagi. Eden yang melihat itu hanya mampu meringis perih karena ia sendiri merasa tidak berdaya dengan kematian tuan Kim. Ia juga merasakan sakit yang teramat besar. Ini lebih sakit dari ditinggal pergi oleh ayahnya sendiri karena waktunya untuk hidup bersama tuan Kim jauh lebih lama dibandingkan waktu hidupnya dengan sang ayah. Terlebih lagi selama ini tuan Kim selalu ada bersamanya, melindunginya dari kediktatoran Aciel yang dulu, dan selalu memposisikan dirinya sebagai kakek untuk Ciara dan Louise. Eden merasa tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan setelah tuan Kim meninggalkannya. Satu-satunya orang yang selalu ada disaat ia bermasalah dengan Aciel adalah tuan Kim.
“Kau tidak ingin keluar dan mandi, hmm?” tanya Eden lembut pada Aciel yang sedang melamun di ruang kerjanya. Sejak tadi pria itu sadar jika Eden telah berada di ruang kerjanya, namun ia hanya enggan untuk berbicara dengan siapapun sekarang. Ia masih merasa syok dengan kepergian tuan Kim yang begitu cepat disaat ia masih membutuhkan pria itu di rumahnya.
“Ace... semua orang menunggumu di luar. Kau harus mengantarkan tuan Kim pulang pada istrinya.” ucap Eden lagi dengan suara tercekat karena banyaknya luapan emosi yang ingin dikeluarkan oleh wanita itu, namun sekuat tenaga ia tahan agar ia tidak memperburuk kondisi Aciel di depannya.
“Kenapa Kim harus pergi secepat ini? Ia bahkan baru delapan puluh tiga tahun.”
“Tidak ada yang pernah tahu dengan usia yang telah diberikan Tuhan, Ace.”
“Kakekku bahkan mampu bertahan hingga sembilan puluh tahun, padahal kakekku bukan pria suci yang baik. Kenapa Tuhan justru mengambil Kim yang sangat baik dengan cepat?!”
Eden tahu jika saat ini Aciel sedang dilingkupi emosi akibat kepergian tuan Kim, jadi ia tidak bisa menyalahkan sikap penuh emosi Aciel yang saat ini kembali muncul seperti dulu.
“Karena Tuhan sangat menyayangi tuan Kim. Tuhan tidak ingin tuan Kim menderita terlalu lama dengan penyakitnya. Ace, kau hanya akan menghambat perjalanan tuan Kim ke surga jika seperti ini. Ikhlaskan kepergian tuan Kim.” ucap Eden lembut dengan elusan ringan di puncak kepala Aciel. Pria itu lalu berbalik kearah Eden dan
memeluk perut Eden erat untuk menyembunyikan air matanya yang kembali tumpah. Dengan lembut Eden mengelus puncak kepala Aciel berkali-kali agar Aciel bisa benar-benar tenang.
“Ed...”
Tiba-tiba pintu ruang kerja Aciel terbuka, memunculkan sosok Sian yang sedang melongokan kepalanya dengan wajah berduka yang tidak lebih baik dari wajah Aciel.
“Petugas gereja datang dan telah membawakan peti untuk tuan Kim, aku lalu mengatakan pada petugas gereja jika jasad tuan Kim akan dibawa ke pemakaman istrinya di Australia.”
“Ya, berikan yang terbaik untuk tuan Kim. Setelah ini aku akan menyusul bersama Aciel.”
Sian mengangguk mengerti dan segera keluar dari ruang kerja Aciel. Pria itu melihat Aciel yang tampak hancur di dalam dekapan Eden, dan ia tak bisa lagi menyembunyikan tangisnya saat berada di depan ruang kerja Aciel yang sepi.
“Sayang....”
Olivia langsung memeluk suaminya saat ia melihat suaminya yang begitu rapuh sedang menangis sendirian di depan ruang kerja Aciel. Meskipun ia belum mengenal tuan Kim dengan baik, tapi ia yakin jika pria tua itu adalah sosok yang sangat berharga untuk suaminya dan sahabatnya.
“Tuan Kim sudah tenang bersama Tuhan.”
-00-
Aciel telah siap di kamarnya dengan pakaian berduka yang semuanya didominasi warna hitam. Pria itu masih merasa berat untuk turun ke bawah dan mengikuti semua proses pengurusan jasad tuan Kim yang sore nanti akan diterbangkan ke Australia. Dalam bayangannya Aciel menganggap tuan Kim masih sehat, masih bekerja di rumahnya, dan masih bercanda dengan Ciara yang sering berlari-lari di kebun sayur miliknya. Ia tahu jika manusia memang tidak bisa hidup selamanya di dunia ini, tapi tuan Kim adalah orang yang ia harapkan akan hidup lebih lama untuk menemaninya bersama keluarga kecilnya.
“Ace...”
Eden menyentuh pundak Aciel lembut dan membuat pria itu segera tersadar dari lamunanya.
“Anak-anak tuan Kim memasrahkan semuanya pada kita karena mereka tidak bisa datang ke sini. Anak tertua tuan Kim sangat berterimakasih padamu karena telah mengabulkan keinginan terakhir ayahnya.”
“Hmm... apa semuanya sudah siap?”
“Semuanya hanya tinggal menunggumu di bawah.”
“Kau tahu, ini seperti dejavu.”
“Apa kau pernah mengalami hal yang lebih buruk dari ini?”
“Saat orangtuaku berpisah dan ibuku kecelakaan bersama kekasihnya.”
Aciel seperti terlempar ke masa lalu, ketika ia untuk pertama kali ditinggalkan oleh ibunya. Wanita yang meskipun telah menorehkan luka karena perselingkuhannya, tapi juga merupakan wanita yang tidak akan pernah ia benci sampai kapanpun karena ibunya tidak pernah bersalah atas perselingkuhan itu.
Flashback
“Tuan, apa yang anda lakukan di sini?”
“Dia jahat!”
Aciel kecil menatap penuh permusuhan pada pria berjas hitam yang sedang berdiri di sebelah peti berisi jasad ibunya yang telah terbujur kaku. Tuan Kim yang berdiri di sebelah Aciel kecil hanya dapat mendesah pelan, merasa prihatin dengan kondisi tuan mudanya yang semakin hancur setelah kematian ibunya yang tragis.
“Memangnya apa yang telah tuan Carl lakukan?”
“Ayahku pembunuh.” Aciel kecil berteriak dengan seluruh emosi yang ia miliki. Beruntung saat ini mereka sedang berada di sudut lain dari rumah Carl Lutherford yang sangat megah bak istana. Tidak ada satupun yang menyadari keberadaan Aciel di sana. Hanya tuan Kim yang menyadari keberadaan Aciel yang sejak tadi memilih untuk menghindar dari keramaian karena pria itu sangat membenci ayahnya yang sejak tadi begitu sibuk menerima ucapan bela sungkawa dari rekan-rekan bisnisnya.
“Tuan tidak ingin bergabung dengan ayah tuan muda? Berikan penghormatan terakhir untuk mendiang ibu anda.” bujuk tuan Kim sekali lagi pada Aciel kecil. Tapi pria muda itu tetap bergeming di tempatnya tanpa ingin sedikitpun menghampiri sang ayah yang tampak sibuk dengan tamu-tamunya. Sejak awal Aciel tahu jika sang ayahlah yang telah menyebabkan ibunya pergi bersama cinta pertamanya. Jika saja ayahnya tidak otoriter, jika saja ayahnya tidak terlalu sibuk untuk menumpuk uang-uangnya, dan jika saja ayahnya tidak tergoda oleh seorang ******, ibunya pasti masih akan tetap di sini. Menemaninya hingga ia menua dan memiliki keluarganya sendiri.
“Ayahku pembunuh Kim, ia yang membuat ibuku tidak bahagia dengan pernikahannya, padahal
__ADS_1
ibuku sangat mencintai pria brengsek itu.” Aciel seakan-akan tak sudi memberikan embel-embel “ayah” pada seseorang yang telah membuatnya berada di dunia ini. Ini terlalu menyakitkan untuk Aciel kecil yang selama ini tidak pernah mengetahui kejamnya dunia.
“Terkadang hidup itu memang tidak mudah, ada banyak rintangan yang harus dilalui demi mendapatkan sebuah kebahagaiaan. Dan apa yang anda lakukan saat ini, itu akan sangat berpengaruh pada masa depan anda. Apakah anda benar-benar tidak ingin memberikan penghormatan terakhir untuk mendiang ibu anda? Terakhir kali sebelum anda tidak akan pernah bisa melihat wajah cantiknya lagi.” ucap tuan Kim sambil mengelus puncak kepala Aciel sayang. Sebenarnya tak banyak yang diharapkan tuan Kim dari Aciel muda. Ia hanya berharap semoga tuan mudanya itu dapat bertahan dalam lingkungan keluarga yang kacau ini selama yang ia bisa. Bahkan tuan Kim juga berharap, kelak Aciel dapat menemukan kebahagaiaannya sendiri bersama orang-orang yang ia cintai. Lalu Aciel akan memiliki keluarga bahagia yang selama ini selalu diinginkan Aciel semenjak orangtuanya mulai sering berteriak satu sama lain.
“Aku akan ke sana, demi ibuku.” ucap Aciel pelan dan segera berjalan meninggalkan tuan Kim yang tampak tersenyum lega di samping pilar. Doa pria itu selalu menyertai Aciel. Kapanpun dan dimanapun, tuan Kim selalu mendoakan yang terbaik untuk kehidupan Aciel.
-00-
Hari ini adalah satu minggu setelah kepergiann Vero Lutherford, istri dari Carl Lutherford yang meninggal karena kecelakaan mobil bersama kekasihnya. Semua
berita telah menyiarkan kabar duka tersebut, lengkap dengan gosip buruk yang ikut menyertai kepergian Vero Lutherford. Aciel rasanya begitu muak setiap kali melihat berita di televisi, koran, bahkan bisik-bisik teman sekelasnya yang sibuk membicarakan keluarganya. Ingin rasanya Aciel menjahit mulut-mulut lancang yang berani menjelek-jelekan ibunya di belakangnya. Dan muara dari semua kemarahan Aciel itu tentu saja terarah pada ayahnya. Satu-satunya orang yang menjadi penyebab rusaknya keluarga bahagia yang selama ini ia bangga-banggakan di depan teman-temannya. Setidaknya itu dulu, sebelum semua malapetaka menghancurkan keluarga manis miliknya.
“Ayah mendapatkan laporan dari guru sekolahmu jika kau menghajar dua seniormu hingga mereka harus dilarikan ke rumah sakit karena keningnya terluka cukup parah, sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini di luar sana, hah? Kau ingin menjadi berandal yang tak berpendidikan?!” maki ayahnya keras di suatu pagi ketika
Aciel sedang memakan sarapannya dalam diam. Tuan Kim yang baru saja datang untuk membawakan segelas susu hanya dapat menghela napas prihatin menyaksikan tuan mudanya yang lagi-lagi mendapatkan amarah dari ayahnya.
“Jawab ayah, Ace!” teriak Carl lagi. Aciel hanya menatap sekilas kearah ayahnya yang murka, lalu dengan santainya ia kembali melanjutkan sarapannya tanpa ingin mengeluarkan pembelaan sedikitpun.
Brak!
Kesabaran Carl telah habis, ia langsung saja menggebrak meja yang ada di depannya hingga membuat susu putih yang baru saja diletakan tuan Kim sedikit terciprat kearah seragam sekolah yang dikenakan Aciel.
“Aku memukulnya dan membenturkan kepalanya ke meja.” jawab Aciel apa adanya masih dengan wajah datar yang membuat ayahnya semakin murka. Carl lalu menumpukan tangannya di atas meja, menatap anak laki-lakinya semakin marah, namun ia sendiri sadar jika amarahnya sama sekali tidak membuat Aciel takut. Anaknya
justru semakin membencinya dan memberinya label ayah paling jahat sedunia.
“Kenapa kau melakukan hal itu, jelaskan padaku, Ace.” geram Carl tertahan. Sebisa mungkin Carl menahan emosinya agar ia tidak sampai berteriak di hadapan Aciel.
“Mereka menghina ibuku. Dan aku tidak suka ketika orang lain terus saja membicarakan kematian ibu tanpa pernah tahu kebenaran dibaliknya. Bukankah ibu pergi dengan kekasihnya karena ayah mencampakan ibu? Ayah memiliki wanita lain di luar sana.” desis Aciel penuh amarah. Carl tampak terpaku di tempat. Lidahnya tiba-tiba kelu saat melihat anaknya memberikan tatapan kebencian yang begitu pekat padanya karena ia telah membuat seorang wanita yang paling disayangi oleh anaknya pergi dengan banyak keburukan yang menyertainya.
“Ibumu pergi dengan kekasihnya.” Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan Carl untuk menutupi keburukannya sendiri.
“Ibu seperti itu karena ayah tidak bisa membuat ibu bahagia. Setiap malam ibu menangis karena ayah lebih memilih ****** itu daripada keluarga ayah sendiri. Ayah egois!” teriak Aciel marah dan segera berlalu pergi dari meja makan. Dari kejauhan tuan Kim merasa miris melihat kehidupan tuan mudanya yang berubah semakin kacau dari hari ke hari. Perkelahian, tugas-tugas yang tidak pernah dikerjakan, membolos, semua itu dilakukan Aciel setelah ia tidak lagi memiliki keluarga yang mengharapkannya. Namun tuan Kim tahu jika sebenarnya Carl Lutherford sangat menyayangi anaknya. Terbukti dengan sorot wajah Carl yang kini berubah memucat seiring dengan bentakan Aciel kepadanya beberapa detik yang lalu. Perasaan menyesal dan sakit seorang ayah yang gagal dalam memimpin keluarganya tercetak jelas di wajah aristokrat milik Carl Lutherford yang kini hanya mampu mematung di tempatnya tanpa bisa melakukan apapun untuk membuat putranya kembali melihat kearahnya sebagai seorang ayah, bukan sebagai seorang musuh.
-00-
“Kim, bersiaplah!”
Tuan Kim yang sedang membuat teh di dapur langsung mengernyit bingung dengan perintah mutlak milik tuan mudanya yang memintanya untuk bersiap. Ia lalu mendongak, mengalihkan atensinya pada Aciel yang masih berdiri di ujung pintu sambil bersedekap. “Bersiap untuk apa, tuan muda?”
“Hari ini kita pindah ke rumah kakek.”
“Anda ingin pindah ke rumah tuan Luciano?” tanya tuan Kim memastikan. Sedikit bingung karena setahunya Aciel tidak pernah dekat dengan kakeknya. Sejak kecil Aciel tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali ibunya.
“Ya, aku tidak mau lagi tinggal bersama pembunuh itu.”
“Tapi saya bahkan baru tinggal di sini selama satu bulan. Tuan Luciano sendiri yang meminta saya untuk bekerja di sini dan mengurus rumah ini.”
“Sekarang tidak lagi. Kau itu pelayanku, jadi kau harus mengikuti perintahku. Kakek sendiri yang secara khusus memberikanmu untuk menjadi pelayanku.” ucap Aciel ponggah. Ia kesal pada tuan Kim yang terlalu banyak bertanya.
“Baiklah
kalai begitu, saya akan berkemas.” Akhirnya tidak ada yang bisa tuan Kim
lakukan selain menuruti keinginan mutlak tuan mudanya. Saat ini tidak ada lagi
yang dimiliki Aciel selain dirinya, dan ia telah bersumpah pada dirinya sendiri
untuk selalu memastikan kebahagiaan pria muda itu.
“Kimmi... kau tidak akan meninggalkanku kan?”
“Meninggalkan anda?” tuan Kim mengernyit. “Tidak tuan.”
“Kau janji?” tanya Aciel lagi lebih menuntut.
“Ya saya janji. Kenapa anda tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Hanya ingin. Tapi jika kau meninggalkanku, aku akan membencimu selamanya.” ucap Aciel datar sebelum ia berlalu pergi meninggalkan dapur.
Flashback end
Semuanya seperti baru terjadi kemarin. Percakapannya dengan tuan Kim, kenakalannya, sikap kasarnya, rasanya Aciel masih tak percaya jika pria tua itu akhirnya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Padahal selama ini hanya tuan Kim yang menjadi penguatnya ketika ia mengalami masa-masa sulit akibat kehancuran keluarganya.
“Ace... aku tahu kau sangat terpukul atas kematian tuan Kim, tapi kau tidak bisa seperti ini. Kau harus memikirkan perasaan tuan Kim yang tidak bisa pergi
dengan tenang karena kau terus menahannya di sini.”
“Lalu aku harus apa Ed?” tanya Aciel lemah. Pertama kalinya Eden melihat Aciel yang selemah ini. Bahkan setelah kepergian ayahnya, Aciel tidak sampai seperti ini. Mungkin Aciel justru sedang bersorak saat itu karena pria yang ia yakini sebagai penyebab kematian ibunya akhirnya juga mati untuk membusuk di neraka.
“Biarkan tuan Kim pergi. Biarkan tuan Kim bertemu dengan istri yang sangat ia cintai di surga.” Kali ini Eden terpaksa sedikit keras pada Aciel karena ia sendiri sudah kehabisan kesabaran untuk menghadapi sikap Aciel yang seperti ini. Seharusnya Aciel sadar jika ia bukanlah satu-satunya yang bersedih di sini. Pikirkan kondisinya yang merasa terguncang karena sekarang ia harus menghadapi kenyataan jika ia akan sendiri ketika mereka sedang bertengkar. Tidak ada lagi yang akan menenangkannya sambil memberikan nasihat-nasihat bijak jika ia sedang berkonflik dengan Aciel. Lalu kedua anaknya, kali ini mereka tidak akan
memiliki sosok kakek lagi yang akan memberikan cinta sepenuh hati pada mereka.
“Ayo... kau benar Ed, ini bukan yang Kim inginkan. Ia akan sedih jika aku seperti ini.”
Eden mengangguk kecil ketika Aciel menggenggam tangannya dan mengajaknya untuk turun ke bawah. Semua orang telah menunggunya di sana untuk memberikan satu penghormatan terakhir pada tuan Kim. Meskipun berat, kali ini Aciel akan berusaha untuk mengikhlaskan kepergiannya karena ia pernah berjanji satu hal pada pria itu.
Tuan, kau akan membenciku jika aku meninggalkanmu.”
“Ya, jadi jangan pernah sekalipun meninggalkanku.”
“Kalau begitu saya ingin anda berjanji pada saya.”
“Apa? Aku harus berjanji apa untukmu?”
“Biarkan saya pergi ketika Tuhan telah memberikan pengganti saya untuk anda?”
“Heh, jangan bercanda Kim. Tuhan tidak akan pernah sebaik itu padaku. Kau yang terbaik Kim.”
“Suatu saat anda pasti akan mendapatkan orang-orang yang lebih baik dari saya. Jadi berjanjilah untuk membiarkan saya pergi dan jangan pernah menahan saya untuk selalu bersama anda, karena saya tidak akan selamanya seperti ini.”
“Ck, baiklah, akan kulakukan. Tapi aku tidak yakin.”
__ADS_1
Sekarang Aciel tahu jika Tuhan benar-benar telah mengirimkan pengganti tuan Kim padanya. Eden dan kedua anaknya adalah orang-orang yang akan menggantikan posisi tuan Kim untuk menenangkannya disaat ia membutuhkan ketenangan, bahkan juga cinta.