Black Swan

Black Swan
Mad Man (One Hundred Thirty Four)


__ADS_3

            “Aku akan kembali lagi nanti.”


            Olivia diam saja dan tetap memunggungi Scout saat pria itu dengan tak tahu malunya mengecup pipinya dan mengelus kepalanya pelan. Ia tak menyangka Scout akan menunggunya di sini berjam-jam setelah ia dilumpukan dengan obat bius. Pria itu pasti takut ia akan membunuh anaknya, sehingga ia sengaja berlama-lama di kamarnya selama ia tak sadarkan diri.


            “Huh, akhirnya.” Olivia mendesah lega setelah ia mendengar suara pintu tertutup di belakangnya dan suara langkah kaki Scout yang menjauh. Sungguh ia sangat tersiksa selama pria itu di sini. Saat ia sadar tadi, ia langsung menegang kaku karena Scout masih berada di samping blangkarnya sambil memainkan ponsel. Lalu saat ia melakukan gerakan kecil karena pinggangnya pegal, pria itu tiba-tiba telah beralih menatapnya sambil tersenyum manis menatap perutnya yang datar. Wajah pria itu terlihat sangat berbinar-binar dengan sorot mata aneh yang membuat Olivia bergidik ngeri saat membayangkannya. Ia rasa pikiran mengenai Scout cukup sampai sini saja. Ia tidak mau lagi membebani otaknya dengan Scout yang notabenenya adalah pria gila brengsek yang begitu tersobsesi padanya setelah malam ketikdasengajaan itu. Ya Tuhan, Olivia benar-benar muak pada pria bernama Scout Voyage.


            Berlama-lama berbaring membuat Olivia pegal dan bosan. Ia kemudian mendudukan dirinya perlahan sambil menata bantalnya di belakang punggungnya agar dapat menopang pinggang dan pinggulnya.


            “Hmm.. ini lebih baik.”


            “Olive.”


            Saat Olivia sedang memejamkan matanya untuk merasakan sensasi empuk dari bantal yang menyangga pinggulnya, Nathan tiba-tiba masuk ke kamarnya sambil memamerkan cengiran lebarnya.


            “Kau sudah lebih baik?”


            “Kurasa ya.” jawab Olivia malas.


            “Aku mendapatkan laporan dari para perawat jika kau baru saja akan melakukan bunuh diri?”


            “Sebenarnya tidak, aku hanya ingin menggertak.” Olivia rasanya malas jika harus diingatkan pada peristiwa itu. Tadinya ia tidak berpikir akan menusuk perutnya sendiri dengan pisau buah. Yang ia inginkan adalah Scout pergi dari kamarnya saat ia menggertak pria itu. Namun segerombolan perawat justru salah paham dan memberinya obat bius untuk melumpuhkannya dari ide nekat yang sedang ia lakukan.


           “Tetap saja itu berbahaya, Olive.” tegur Nathan jengkel. Ia mendekati Olivia segera dan meletakan tangannya di atas dahi Olivia untuk mengecek suhu tubuh wanita itu.


            “Aku tidak demam.”


            “Hanya ingin memastikan. Kau belum memakan makananmu?”


            “Aku belum lapar.”


            “Tapi kau harus makan. Aku akan menyuapimu.”


            “Ck Nathan...” decak Olivia kesal saat Nathan memaksanya untuk membuka mulut saat ia menyendokan kuah sup daging ke arah mulutnya. “Kenapa kau terus berkeliaran di sini? Bukankah seharusnya Laila yang berkeliaran di bangsal ibu dan anak?”


            “Laila sedang mengurus bayi kembar Eden.”


            “Bagaimana keadaannya?” tanya Olivia antusias. Ia akhirnya membuka mulutnya pasrah saat Nathan menyodorkan sesendok sup dan daging ke dalam mulutnya. Ia sedang lelah untuk menantang Nathan berdebat.


            “Baik, Eden melahirkan secara caesar karena bayinya besar. Sekarang si kembar sedang menyusu pada ibunya di kamar mereka.”


            “Pasti Aciel dan Eden bahagia sekali sekarang.”


            “Tentu saja. Laila bahkan mengaku iri pada kebahagiaan mereka. Ia tadi mengatakan ingin memiliki bayi lagi.”


            “Itu ide yang bagus.” jawab Olivia lesu. Seharusnya mereka memang tidak menunda-nunda untuk memiliki anak karena mereka dalam kapasitas untuk itu. Tidak sepertinya dan Sian.


            “Ya, kami sedang mendikusikan hal itu. Ngomong-ngomong, aku melihat seorang pria keluar dari ruangan ini. Dia...” Nathan langsung menghentikan kalimatnya saat melihat raut wajah Olivia berubah menjadi mendung. Tiba-tiba saja air mata menggenang di pelupuk mata wanita itu, dan menetes saat Olivia tidak bisa menahannya lagi lebih lama.


            “Itu ayah dari bayi ini.”


            Nathan tidak bereaksi apa-apa untuk beberapa saat. Menurutnya itu tidak adil jika ia menghakimi Olivia untuk sesuatu yang ia sendiri tidak tahu akar permasalahannya.


            “Bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi, Liv?”


            “Aku hamil bayi pria lain.”


            Olivia sudah terlalu lelah untuk menceritakan semua rentetan kejadian itu. Semua cerita itu hanya membawa pada ingatannya ke malam itu dan membuatnya dilingkupi rasa bersalah yang besar pada Sian.


            “Apa kau sudah tahu dimana Sian sekarang?”


            Olivia memutuskan untuk membelokan topik pembicaraan mereka menjadi Sian. Setidaknya jawaban singkatnya itu sudah mewakili keadaannya saat ini yang sedang kalut. Dan ia harap Nathan dapat memahami masalahnya saat ini.


            “Kata Aciel kau tidak perlu khawatir, ia berada di tempat yang aman.”


            “Begitu ya. Aku senang jika ia baik-baik saja.” ucap Olivia nanar. “Aku sudah kenyang, Nath. Bisa kau jauhkan makanan itu dariku? Aku ingin muntah.” pinta Olivia memelas. Ia tidak berbohong mengenai keadaan perutnya yang tiba-tiba terasa mual. Ia sendiri sebenarnya masih enggan untuk makan jika Nathan tidak memaksanya seperti tadi.


            “Apa kau ingin keluar? Melihat bayi kembar Eden dan Aciel?”

__ADS_1


            Olivia tidak langsung menjawab ajakan Nathan. Sejujurnya ia ingin sekali ke sana, tapi ia takut akan mengganggu pasangan yang tengah berbahagia itu. Bagaimanapun Eden telah mengetahui semuanya. Kemunculannya di sana pasti akan membuat Eden merasa bersimpati padanya.


            “Eden pasti akan senang jika kau mengunjunginya. Ada Laila juga di sana.”


            “Baiklah, antar aku ke ruangan Eden.” ucap Olivia akhirnya. Mungkin dengan kepergiannya menjenguk Eden, hal itu dapat membuat hatinya sedikit terhibur.


            “Apa pria itu mengusikmu? Mengancammu?” tanya Nathan ketika mereka sedang berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit yang lenggang. Dengan kikuk Nathan mengusap rambut belakangnya kaku, dan sedikit salah tingkah karena pertanyaannya yang terlalu ingin tahu, seperti sedang mengintrogasi.


            “Sedikit. Dia menjadi semakin mengganggu sejak ia tahu jika aku sedang mengandung anaknya.”


            “Darimana ia mengetahui hal itu?”


            “Sian. Mereka adalah rekan bisnis. Scout adalah arsitek yang merancang bangunan pabrik baru Ford Company.”


            “Dunia ini sungguh sempit ya.” komentar Nathan getir. Selanjutnya ia tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan pada Olivia. Perjalanan mereka ke ruangan Eden praktis menjadi kaku dan aneh. Nathan menjadi canggung di samping Olivia, sedangkan Olivia sendiri memilih untuk diam di sepanjang perjalanan karena ia tidak ingin lagi membicarakan apapun mengeai masalahnya.


            “Ini ruangannya.” beritahu Nathan saat mereka berhenti di depan ruangan khusus milik Eden.


            “Jangan khawatirkan aku.” Olivia menunjukan senyum tipisnya di hadapan Nathan. “Aku akan bersandiwara dengan baik di hadapan mereka.” lanjut Olivia sebelum ia mendorong pelan pintu ruang rawat Eden yang dari luar terdengar begitu ramai.


            “Aunty Olive!” pekik Ciara bersamaan dengan Louise. Mereka berduam kompak berlari menghampiri Olivia dan memeluk wanita itu sebatas pinggang.


            “Kata mommy aunty sakit karena sedang membawa adik bayi. Ciara senang karena Justice juga akan memiliki adik bayi seperti Ciara.” ucap gadis kecil itu riang. Eden tampak tersenyum getir dari atas blangkarnya. Ingin rasanya ia menghampiri Olivia, namun ia belum diizinkan untuk terlalu banyak bergerak pasca operasi caesar.


            “Hai, selamat ya.”


            Meskipun Olivia mengatakan pada Nathan jika ia akan bersandiwara dengan baik, namun nyatanya Olivia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya di depan Eden.


            “Kemari, duduk di sebelahku.”


            “Aku ingin melihat si kembar.”


            Sebelum Olivia memutuskan untuk duduk di sebelah Eden, ia terlebih dahulu menyeret tiang infusnya ke arah dua box bayi yang diletakan di dekat jendela. Di dalam box bayi itu Olivia dapat melihat dua bayi mungil yang terlihat begitu lucu dengan jari-jari mereka yang saling mengepal. Hati kecil Olivia seketika terenyuh. Ia membayangkan bagaimana bayinya sendiri yang saat ini sedang tumbuh di dalam rahimnya. Jika bayi itu lahir, ia pasti akan sama lucunya dengan bayi-bayi milik Eden. Ia kemudian teringat jika bayi itu tidak pernah berdosa sama sekali. Ia yang berdosa pada bayi itu jika ia sampai melakukan hal bodoh yang dapat membahayakan nyawa bayinya.


            “Si tampan ini sangat mirip dengan Aciel. Bibirnya dan kerutan di wajahnya.” komentar Olivia tanpa sedikitpun berbalik ke arah Eden. Ia sengaja tetap memunggungi Eden dan Aciel agar kedua orang itu tidak bisa melihat matanya yang berkaca-kaca.


            “Oya, kau tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan Sian. Dia di rumah sekarang.” beritahu Aciel lugas.  Meskipun terbersit perasaan kasihan pada Olivia, namun Aciel mencoba bersikap biasa, seperti tidak pernah ada masalah yang menimpa mereka berdua.


            “Terimakasih kau sudah ikut mencarinya.”


            “Tentu. Sian adalah sahabatku, aku tidak akan diam saja jika ia sedang dalam masalah.”


            Sadar atau tidak, Aciel sebenarnya ingin memberitahu Olivia jika ia tidak akan berdiam diri dengan masalah mereka. Jika diperlukan, ia akan mengambil langkah tegas untuk memukul mundur Scout yang sudah kelewat batas pada keluarga Sian.


            Olivia berdiri di depan box bayi itu selama lima belas menit. Selama itu tak ada satupun yang mengajaknya berbicara. Olivia dibiarkan diam sambil memandangi bayi-bayi Eden yang lucu. Mereka sangat berharap hal itu dapat sedikit menghibur hati Olivia yang sedang kacau.


            “Bagaimana menurutmu? Bukankah mereka lucu?”


            “Sangat lucu. Apalagi pipi Theo, aku ingin sekali menggigitnya.” ucap Olivia lebih ceria. Eden diam-diam merasa lega saat melihat senyum manis Olivia yang tersunggung di wajah pucatnya.


            “Begitulah bayi. Mereka adalah makhluk kecil yang sangat lucu. Melihat mereka yang begitu mungil dan suci, seperti mampu membuat perasaan kita menjadi menghangat. Beban di pundak kita akan terasa lebih ringan setelah melihat wajah menggemaskan mereka. Sebisa mungkin kami akan membesarkan mereka dengan kasih sayang tulus, dan tidak membiarkan siapapun menyakiti mereka.”


            Olivia merasa tertampar oleh kata-kata Eden. Meskipun ia tahu jika kata-kata itu tidak serta merta diucapkan untuk menyindirnya, tapi hati kecinya langsung saja menudingkan sebagai pihak antagonis yang jahat. Ia dengan kejinya pernah berpikir untuk membunuh bayi di dalam kandungannya, padahal bayi itu sama sekali tidak bersalah dalam masalah ini. Bukankah ia ibu yang kejam?


            “Kurasa aku harus kembali ke kamar. Aku sedikit pusing.”


            Eden yang sebelumnya sedang mengobrol dengan Laila, tiba-tiba menghentikan obrolannya sambil menatap nanar ke arah Olivia.


            “Akan kutemani kau ke kamar.”


            “Tidak perlu. Kau di sini saja bersama mereka, Nath.”


            Olivia mati-matian menahan Nathan agar tetap diam di posisi duduknya. Ia segera berpamitan dengan yang lainnya, dan berjalan keluar dari ruang rawat Eden dengan wajah menunduk yang terasa memilukan untuk Eden.


            “Apa aku salah bicara?”


            “Sudahlah, ia sedang membutuhkan waktu untuk merenung.” hibur Aciel sambil menarik Eden ke dalam pelukannya.

__ADS_1


            “Ada apa dengan aunty Olivia?” tanya Ciara heran.


            “Aunty sedang sakit, jadi aunty harus kembali ke kamar secepatnya.” beritahu Nathan yang kebetulan duduk di sebelah gadis kecil itu.


            “Semoga saja mereka segera menyelesaikan masalah mereka secara baik-baik.”


            “Yah kuharap begitu. Kasihan Olive, ia sedang mengandung, tapi pikirannya justru terbebani oleh masalah dari lingkungannya.”


-00-


            Sian menggenggam sebuket bunga mawar sambil menghela napas berkali-kali di ujung lorong ruang perawatan milik Olivia. Jantungnya kini sedang berdetak kuat, membuktikan ia sedang dilanda kegugupan parah sebelum bertemu dengan istrinya. Cukup lama ia membuat keputusan untuk menemui Olivia malam ini. Sebelumnya ia telah mendapatkan ceramah panjang lebar dari Aciel saat ia menyempatkan diri untuk menengok Eden dan keponakan kembarnya. Kata Aciel, ia seharusnya tidak menjadi pria pengecut yang pergi begitu saja untuk lari dari masalahnya. Sebagai pria dewasa dan seorang ayah, ia diharapkan dapat membawa keharmonisan di keluarganya. Meskipun Aciel juga mengakui di depannya, jika berdamai dengan diri sendiri itu memang sangat sulit. Ia selalu marah setiap kali membayangkan apa yang dilakukan Olivia sebelum ini. Wanita itu mengandung bayi pria lain, itu sungguh fakta yang sangat menyakitkan untuknya. Tapi ia tidak bisa membiarkan semua masalah itu berlarut menjadi tumpukan kemarahan yang semakin menyiksa hatinya. Perlahan-lahan ia harus berkompromi dengan Olivia dan membicarakan nasib bayi itu nantinya.


            Sian melangkah dengan langkah berat di sepanjang lorong rumah sakit yang sepi. Jelas tak banyak pasien atau keluarga pasien yang berlalu lalang di jam setengah sepuluh seperti ini. Hanya orang bodoh sepertinya yang memutuskan untuk berkunjung ke kamar Olivia selarut ini dengan harapan saat ia datang wanita itu sedang tidur, jadi ia akan memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri sambil menunggu wanita itu bangun.


            Sian berhenti di kamar milik Olivia yang pintunya tidak tertutup rapat. Dengan perlahan Sian mendorong pintu itu dan mengintipnya sebentar dari luar, berharap Olivia memang sedang tidur di dalam sana. Namun saat ia mengintip ke dalam kamar itu, ia justru dikejutkan dengan adegan yang sangat merusak mata. Seorang pria yang berdiri membelakangi pintu, sedang mengusap rambut Olivia lembut dan sesekali menciumi pipi Olivia pelan. Tak terlihat tanda-tanda Olivia memberotntak di sana. Olivia justru terlihat menikmati semua itu sambil berbaring membelakangi pria itu. Dengan marah, Sian menyeruak masuk ke dalam kamar dan melempar bunga itu asal hingga menyebabkan bunyi srak nyaring saat bunga itu mengantam dinding. Refleks pria yang tadi memunggungi Sian membalikan tubuhnya, dan membuat Sian seketika terkejut pada kemunculan pria itu.


            “Scout?”


            Olivia yang sebelumnya telah tertidur, segera membalikan tubuhnya saat telinganya menangkap suara ribut ribut di kamarnya. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, Olivia melihat Sian dan Scout saling berhadapan di kamarnya sambil menguarkan aura permusuhan yang begitu kental.


            “Jadi kau pria sialan itu?” desis Sian murka. Perasaan terkhianati kembali menyusup ke hatinya. Dan saat pandangannya bertemu dengan mata berkaca-kaca Olivia, Sian tiba-tiba merasa marah dan jijik pada wanita itu.


            “Kau diam saja saat ia mencium pipimu!” tuduh Sian telak dengan wajah merah padam. Olivia yang baru bangun dari tidurnya merasa bingung dengan tuduhan Sian.


            “Ap apa yang terjadi?” tanya Olivia dengan suara bergetar. Air mata kepedihan terus saja turun membanjiri wajahnya yang pucat. Hal itu sebenarnya tidak luput sedikitpun dari pengawasan Sian. Pria itu sebenarnya menaruh iba pada Olivia, namun rasa sakit hatinya karena dikhianati jauh lebih besar dari rasa ibanya pada wanita itu.


            “Halo Sian. Terimakasih untuk informasi yang kau berikan padaku. Dengan begitu, sekarang aku tahu jika sekarang aku akan memiliki seorang anak.”


            “Brengsek!”


Bugh


            Scout jatuh tersungkur di bawah kaki blangkar Olivia. Darah segar langsung merembes keluar dari sudut bibir Scout dan menciptakan lebam kebiruan yang pekat di sana.


            “Sian, jangan...” mohon Olivia terisak-isak. Ia bukan bermaksud ingin membela Scout sama sekali. Ia hanya tidak ingin ada keributan di kamarnya. Hari ini ia sudah melewatkan terlalu banyak hal-hal sulit. Dan ia membutuhkan istirahat untuk memulihkan kondisinya yang terus drop.


            “Kau lebih membela pria sialan ini.”


            Lagi-lagi Sian menuduhnya dengan tuduhan keji. Tak tahukah pria itu jika ia sangat sakit saat mendengar semua tuduhan keji yang dilontarkan Sian padanya sejak kemarin.


            Scout segera bangkit berdiri setelah menyeka sedikit darah di sudut bibirnya. Pukulan yang dilayangkan Sian sesungguhnya mengirimkan denyutan yang sangat menyakitkan di sudut bibir Scout. Tapi sebagai seorang pria sejati, ia harus berdiri dengan tegap di depan lawannya agar ia dapat mempertahankan harga dirinya yang setinggi langit.


            “Kau yang salah, kau menelantarkan istrimu dan menyakitinya.”


            “Kau sialan!”


            Kali ini Scout menahan pukulan Sian dan mendorong pria itu keras ke belakang. Dorongan itu membuat Sian hampir jatuh, namun ia berhasil megendalikan dirinya agar tetap berdiri.


            “Kumohon jangan bertengkar di sini.” mohon Olivia penuh dengan air mata. Suaranya terdengar lirih, hampir seperti suara ayam tercekik yang hampir mati. Seluruh tubuh Olivi kini bergetar ketakutan karena kemarahan dua orang pria itu.


            “Kenapa kau tidak mengatakan padaku, Olive? Jika aku tahu pria ini yang telah menyentuhmu, aku pasti akan membunuhnya.”


            “Sian plis, jangan memperkeruh masalah ini. Aku hanya tidak ingin keluarga kita hancur.”


            “Huh, kau justru semakin membuat keluarga ini hancur dengan kediamanmu itu. Apa kau senang sekarang? Kau berhasil memperdaya semua orang dengan wajah polosmu yang menipu itu!”


            “Berhenti! Jangan sakiti Olivia lagi.” belas Scout berang. Ia sungguh tidak suka melihat drama keluarga yang sangat memuakan ini. Mereka berdua tak ubahnya seperti dua tokoh utama dalam drama sabun yang sedang mempertahankan ego mereka masing-masing.


            “Scout, bisakah kau keluar? Pulanglah. Aku ingin menyelesaikan masalah ini dengan suamiku.”


            Olivia sengaja menakan kata suami dalam kalimatnya untuk mempertegas statusnya. Dan Olivia dapat melihat raut kesal yang tercetak di wajah Scout saat ia sengaja mempertegas status Sian di sini.


            “Kau juga masih memiliki masalah denganku. Besok aku akan ke sini lagi untuk membicarakan status anak itu.” Scout dengan terang-terangan melirik perut datar Olivia yang tersembunyi di balik selimut. Jika tadi wanita itu sengaja menyakitinya dengan menyebut kata suami dengan jelas, maka sekarang ia juga akan menyakiti Sian dengan memperjelas status anaknya.


            “Terimakasih Scout. Aku tahu kau pria yang baik.”


            Sebelum keluar dari ruangan Olivia, Scout tertegun dengan kalimat itu. Ia pria yang baik? Scout rasanya meragukan hal itu. Tidak ada pria baik yang berambisi untuk merebut istri pria lain.

__ADS_1


__ADS_2