
Keputusan Alma membuat semua puas dan tersenyum senang.Namun tak berlaku bagi Lefrand.Baginya Alma ceroboh dan gegabah.
Tidak seharusnya Alma membebaskan Daniel.Biarkan saja dia disana.Kupikir vonis mati pantas untuk Daniel...Batin Lefrand berharap dan mendengus kesal.
Lefrand memang tak mengenal Daniel dan belum pernah berjumpa.Tetapi dari perlakuan Daniel pada Alma,Lefrand bisa menyimpulkan sendiri jika Daniel bukan pria yang baik.
"Baiklah,keputusan sudah diambil.Kurasa sebaiknya jangan membuang waktu lagi.Kita berangkat sekarang!.".Andika beranjak dari duduknya.
"Benar,lebih cepat lebih baik!.".Ceppy mendukungnya.
Bagaimana pun juga,Ceppy akan menghargai dan menghormati keputusan Alma.Walaupun awalnya berat hati tetapi akhirnya mencoba menerima dan berusaha berlapang dada.
"Baiklah.Ayah,ibu,aku pergi!.".Sebelum pergi Alma mencium punggung tangan orang tuanya.
"Maaf dan terima kasih untuk pengertian kalian.".Al menjabat tangan Ceppy dan lta seraya mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum pergi.
Al senang atas kebijakan dan dukungan orang tua Alma.Semasa hidupnya,Al sangat peduli dan perhatian pada orang lain selain keluarga,kerabat dan sanak saudaranya.Maka tak heran jika orang lain membalas kebaikannya.Moto hidup Al,' jangan takut dan ragu untuk berbuat kebaikan,sebab kebaikan itu akan kembali pada kita.
"Kami pergi Bu,Pak.".Anayra pamit pergi menyusul Andika,Al dan Alma.
Khaffa mengikutinya dibelakang.Sebelum menghilang dibalik pintu,Khaffa menoleh kebelakang dan menatap tajam Lefrand.
Dia seperti roh yang gentayangan dimana-mana...Pikir Khaffa dan berlalu pergi.
Cihhh,apa yang dilihatnya?.Jika saja dia bukan suami Anayra dan kakak Khaira,mungkin sudah ku hancurkan wajahnya...Lefrand memandangi Khaffa dan tersenyum kecut.
Usai kepergian mereka.Suasana menjadi hening dan sepi.Lefrand duduk termenung disofa dan memijat pelipisnya.Kacau pikirannya seperti benang kusut.Maksud hati ingin menyadarkan Alma,malah menjadi tersudut.Bahkan tak ada yang sependapat dengannya.Seakan semua berpihak pada Alma dan membela Daniel.
Sepasang suami istri,kakak beradik itu dan Alma pergi meninggalkan apartemen menuju basement dan masuk kedalam mobil berbeda.Alma satu mobil bersama Anayra dan Khaffa,sedangkan Al bersama Andika.
"Baiklah,kurasa harus pergi.Gak ada lagi yang harus kulakukan disini.".Lefrand beranjak setelah duduk lama sedari tadi.
Lefrand kecewa ternyata pendapatnya tadi tak dianggap.Orang tua Alma bahkan mendukungnya.
Ceppy menghampirinya Lefrand."Nak,jangan marah dan kecewa.Masalah Alma jangan terlalu dipikirkan dan dicemaskan.Bapak mengerti kamu peduli tapi biarkan Alma menentukan sikapnya.".Menepuk bahu Lefrand memberi pengertian layaknya seorang ayah pada anaknya.
Sebagai seorang suami dan ayah,Ceppy bisa merasakan kesedihan dan kecemasan Al.Jika posisinya terbalik,mungkin akan bertindak sama.
Ita berdiri disamping Lefrand."Benar.Biarlah Allah yang membalasnya.Allah maha adil dan maha mengetahui.Setiap dosa dan kesalahan hamba Nya,pasti akan mendapatkan konsekuensinya.".Mengelus punggung Lefrand seolah putranya sendiri.
Ita sadar dan banyak berubah.Walaupun peristiwa yang dialami Alma sangat menyesakan dadanya.Hati ibu mana yang tak sakit dan tak terluka jika kesucian anak gadisnya direnggut paksa oleh pria asing.
Namun lta berusaha tegar dan tabah,apalagi setelah tahu jika Daniel sepupu Khaffa.Maka Ita mencoba iklhlas dan bersabar.Hati nuraninya tergerak untuk mendukung keputusan Alma saat melihat Al bersimpuh dan memohon.Walaupun tak banyak bicara namun tak menentangnya.
Rasa penyesalan hinggap dihati lta sebab terlalu keras hati dan suka memaksa.Kini sikapnya lembut dan melunak untuk menebusnya.
Lefrand terpaku dan terdiam.Tak berkutik dan tak merespon juga.Walaupun bertolak belakang namun tak berani berkomentar.Tetapi tak memungkiri jika ucapan Ita masuk akal.
"Maaf!.Sikapku tadi berlebihan.Kuharap Alma gak salah langkah dan gak menyesali keputusannya.".Pendirian Lefrand keukeuh jika Alma salah tetapi dalam hatinya berharap Alma tak salah langkah dan tak menyesal dikemudian harinya.
Sebagai teman,Lefrand menyayangkan sikap Alma.Namun jika Alma sudah mengambil keputusan apa mau dikata selain berharap yang terbaik untuknya.
Ceppy mengangguk menerima permintaan maafnya."Jangan dipikirkan!.Do'akan saja yang terbaik untuk Alma.".Mengerti dan memahami sikap Lefrand yang peduli pada Alma.
Lefrand tersenyum tipis."Tentu.Baiklah,aku pergi!.Assalamu alaikum.".Mencium punggung tangan Ceppy dan lta sebelum pergi.
"Waalaikum salam.".
Bergegas pergi keluar dari unit apartemen menggunakan lift menuju basement.Masuk kedalam mobil dan melajukan kencang mobilnya meninggalkan gedung bertingkat itu dengan hati kesal dan kecewa.
Lefrand tak sependapat dan menentang keputusan Alma.Saking pedulinya pada Alma dan marahnya pada Daniel,Lefrand lebih senang jika Daniel dipenjarakan dan bahkan berharap seumur hidupnya.Jika memungkinkan divonis mati saja.
Tetapi bukan hanya itu saja alasannya.Selain harus menyaksikan drama singkat Al,harus menyimak kemesraan Anayra dan Khaffa juga didepan matanya.Entah mengapa,sekelumit rasa cemburu masih menghinggapi hatinya walaupun posisi Anayra sudah tergantikan oleh Khaira.
Benar-benar membingungkan pikiran Lefrand dan mengecoh hatinya.Masih mencintai Anayra atau Khaira dan hanya sebatas iri saja.
"Anak itu.Terlalu berapi-api tapi kurasa ada benarnya juga.".Ita berpikir sama dengan Lefrand dan membenarkan pendapatnya.
Cangkir kopi bekas minum Lefrand dan Ceppy dibawanya ke Pantry dan mencucinya dibak cuci piring.Ceppy mengekor dibelakang untuk mencuci tangan dan wajahnya diwastafel didekat Pantry.
Setelah menyeka wajahnya dengan handuk,Ceppy berdiri disampingnya."Sudahlah Bu,serahkan semuanya pada yang diatas!.Biar Allah yang mengaturnya,kita pasrahkan dan ikhlaskan.".Tandas Ceppy mengelus bahu lta.
"Baiklah,aku menurut saja!.Ayo,sebaiknya kita istirahat sambil menunggu kabar baik dari mereka.Badanku letih Pak.".Ita menggandeng lengan Ceppy setelah menyelesaikan kegiatannya.
Ceppy mengangguk dan tersenyum merangkul pinggang istrinya menuju kamar.Beberapa hari terakhir ini Ceppy dan dan lta tak bisa tidur nyenyak.Bahkan hampir tak bisa tidur sama sekali.Saking stress dan frustasi memikirkan masa depan Alma.
Lebih dari sepekan Ceppy dan lta menempati apartemen Lefrand yang ditinggali Alma.Secara bergantian keduanya bolak-balik kerumah sakit untuk merawat Alma.Entah sampai kapan akan bermalam disana.Mungkin jika Alma benar-benar sehat dan tak ada masalah lagi.
Ceppy harus meninggalkan pekerjaannya diBandung demi putrinya.Tetapi tak khawatir dan cemas soal uang.Anayra dan Khaffa banyak membantu,bahkan Lefrand dan keluarga Khaffa.Termasuk Al notabene ayah Daniel dan yang membiayai seluruh biaya perawatan Alma selama dirumah sakit.
__ADS_1
Perhatian yang diberikan semua membuat Ceppy dan lta senang dan tak berhenti mengucap syukur.Sehingga tak kesulitan dan tak kesusahan.
Dimarkas besar kepolisian.Dani menjenguk Daniel ditemani Ranu.Ini pertama kalinya bertandang kesana saking sibuknya.Setelah terdengar kabar Lefrand ditahan,Dani terkejut dan menggeleng tak percaya.Tetapi setelah ditelusuri ternyata benar.
Berita tentang Daniel tersebar luas dihotel dan menjadi trending topik pembicaraan para pegawai,staff dan para pemegang saham.Tak ayal membuat sebagian orang mencibirnya dan ada juga yang bersimpati.
Dihotel beberapa hari setelah Daniel ditahan.Para pemegang saham mengadakan rapat dadakan untuk membahas Daniel tentunya dan penggantinya.
Dani menemui Daniel diruangan khusus dan tertutup setelah melewati meja petugas terlebih dahulu untuk meminta ijin.Daniel dan Dani duduk berhadapan dan tangan saling bersidekap diatas meja.
"Maaf,aku baru sempat berkunjung kemari.Sejak anda diturunkan dari posisi Presiden Direktur,banyak hal yang terjadi dihotel dan banyak perubahan disana.Aku jadi ikut sibuk dan turun tangan membantu Pak Reyhan.".Dani menjelaskan situasi dan kondisi dihotel saat ini.
Posisi Presiden Direktur digantikan oleh Reyhan Prasetyo.Tak lain wakil PresDir hotel itu.Sudah lama Reyhan mengincar jabatan itu.Sekarang la menepuk dadanya dan tersenyum bangga.Impian dan harapannya akhirnya terlaksana dan bisa meraihnya dengan mudah tanpa harus susah payah menyingkirkan Daniel dengan cara liciknya.
Reyhan putra salah satu pemegang saham,sama seperti Daniel.Pria yang pembawaannya tenang tetapi ambisius.Usianya 3 tahun diatas Daniel dan sudah menikah.
"Tidak perlu cemas soal itu.Aku mengerti.".Daniel santai dan tak hirau,paham posisi Dani saat ini.
Dani bekerja dihotel dari masa Al masih menjabat sebagai Presiden Direktur.
"Kukira posisi anda takkan tergantikan oleh Pak Reyhan.Sepertinya dia sangat senang oleh keberadaan anda disini.Pria itu tampak tenang tapi nyatanya tak berdiam diri saja.Selalu berusaha menjatuhkan anda.".
Dani pernah memergoki orang kepercayaan Reyhan menyimpan penyadap dibawah meja kerja Daniel dan memasang kamera tersembunyi dibalik deretan buku dirak buku diruangan Daniel.Untuk mencari titik lemahnya dan mencari bukti untuk menjatuhkan Daniel.
Terkuak kabar jika Daniel pernah membawa seorang gadis kekantornya.Hal itu membuat Reyhan bersemangat dan berinsiatif untuk melakukan itu.Namun tak berhasil sebab terciduk Dani yang alhasil menggagalkan rencananya.
Akhirnya Daniel mengetahui hal itu sebab Dani melaporkannya.Daniel menjadi lebih waspada dan hati-hati.Sebelumnya kadangkala mengajak gadis yang dikencaninya ke kantor tetapi setelah peristiwa itu,Daniel tak pernah melakukannya lagi.
Daniel tersenyum smirk dan berkata."Pasti.Tentunya dia senang bisa menyingkirkan ku tanpa harus susah payah mengotori tangannya.Bukankah itu yang diinginkannya?,impiannya menjadi Presiden Direktur jadi tercapai.".Alih-alih marah atau geram,Daniel acuh saja saat posisinya direbut.
Daniel sadar itu terjadi akibat ulahnya sendiri.Jika saja peristiwa itu tak terjadi mungkin saat ini ongkang-ongkang kaki dikursinya diwaktu senggangnya.
"Benar.Selama ini dia tampak tenang tapi nyatanya tak berdiam diri saja.Dengan akal liciknya selalu berusaha menjatuhkan anda.".Dani berpihak pada Daniel tanpa pusing memikirkan soal perilaku Daniel diluar pekerjaannya.
Selama tak mengganggu kinerjanya sebagai Presiden Direktur D n D Grand City hotel.Daniel sangat handal dan cekatan dalam menangani tugasnya.Urusan pribadi tak bisa dicampur adukkan dengan pekerjaan bagi Dani.
"Biarkan dia menikmati posisinya saat ini.Kurasa tidak ada salahnya memberikannya kesempatan.".Daniel menanggapinya santai dan tenang,tak ada rasa penyesalan sedikit pun.
Sebab,sudah cukup lama juga Daniel menjabat sebagai Presiden Direktur.Terkadang Daniel bosan dan jenuh harus mengurus berkas-berkas dimeja dan bolak-balik memantau cabang hotel.
Dani mengangguk mengerti,dan mengangkat kedua alisnya."Lalu bagaimana dengan anda?.".Memikirkan nasib Daniel kedepannya saking pedulinya.
"Tapi...".
"Bagaimana pun juga,aku harus menerima hukuman ku.Benar bukan?.".Acuh saja Daniel menyela dan menggedikkan bahunya.
Dani kagum akan ketegaran Daniel dan menyikapi nya santai."Sikap anda sangat bijak dalam menghadapi masalah anda sekarang ini.Memang,buah jatuh takkan jauh dari pohonnya.Tapi ada sedikit perbedaan.".
"Julukan Don Juanku?.Kencan satu malamku bersama gadis?.ltu makksudmu?.".
"Ahhh tidak,tidak.Bukan itu maksudku.".Elak Dani melambaikan tangan untuk menyangkal praduga Daniel.
Namun tak diakui Dani pun Daniel bisa menebaknya."Mulut bisa berbohong tapi mata tidak.Bibir mengatakan tidak tapi hati mengatakan iya.Aku bisa tau itu.Terbaca jelas diwajah Pak Dani.".Daniel memicingkan matanya menatap wajah Dani dan menelisiknya namun tak marah.
Dani terkekeh saja dan menggaruk tengkuknya merasa tertangkap basah."Anda marah padaku?.".
Alih-alih menjawab,Daniel malah menggedikkan bahunya lalu berkata."Berhentilah memanggil ku anda!.Aku seperti lebih tua dari Pak Dani.".
Dani bernafas lega sebab Daniel tak marah."Maaf!...Oiya,aku ikut prihatin dengan kejadian ini dan keberadaan mu disini.".
Bibir Daniel tersenyum tipis mendengarnya."Terima kasih atas simpati anda.Ini pantas ku dapatkan dan Ini peringatan untukku supaya aku enyah dari minuman sialan itu.Anggap saja ini hukuman supaya aku sadar dan insyaf.".Tanpa merasa terbebani walaupun sedih hatinya tak bisa mendampingi ibunya yang sakit.
Namun Daniel belum tahu jika ibunya masuk rumah sakit.
Dani menepuk punggung tangan Daniel yang saling menumpuk dimeja."Yaaa,anggap saja begitu!.Kuharap ada keajaiban dan bisa cepat keluar dari sini.".
"Aku aamiinkan meskipun mustahil.".Tertunduk pasrah menerima nasibnya.
Pesimis dan tak berani berharap akan bebas.Sebab hasil visum Alma dan hasil olah penyelidikan di TKP.Memang terbukti tindak pelecehan Daniel yang didapat oleh petugas aparat dari rekaman cctv.
Dani menghela nafas berat bisa paham yang dirasakannya lalu berkata."Baiklah,kurasa waktuku cukup sampai disini.Ranu ingin bertemu jadi aku harus membagi waktu dengannya.".Melihat jam ditangannya dan waktu berkunjungannya hampir habis.
"Ranu kemari?.Dimana dia?.".Daniel celingukan mencari-cari Ranu dibalik kaca jendela ruangan itu tetapi tak tampak wujudnya.
Ranu menunggu diruang tunggu tak jauh dari sana.
"Dia menunggu diluar.Tunggu disini,biar kupanggilkan.".Dani menyuruh Daniel tetap ditempatnya lalu beranjak pergi ke luar menemui Ranu.
Diruang tunggu,Ranu berdiri saat Dani mendekatinya."Masuklah!.Waktumu 10 menit!.".Dani melihat jam ditangannya.
__ADS_1
Ranu bergegas masuk kedalam ruangan itu tanpa instruksi lagi.Ranu membuka pintu setelah melewati petugas yang berjaga didepan pintu dan tersenyum tipis saat melihat wajah pria yang selalu membuatnya jantungan.
"Apa kabar tuan Daniel?.".Menjabat tangannya lalu duduk.
"Baik,terima kasih.".Daniel menatap sayu wajah pria yang selalu setia mendampingi beberapa bulan terakhir ini.
"Maaf,aku baru sempat berkunjung kemari.Aku sibuk membantu tuan Tyo.".Panggilan Ranu pada Reyhan,atasan barunya.
Daniel mendesis."Shhh,alasan yang sama.Tak ada alasan lain lagi kah!?.".Dan menyilangkan kedua tangannya.
"Maaf!?.".Alis Ranu bertaut bingung.
"Kumaafkan dan lupakan!.".Daniel mengibaskan tangannya di udara.
"Aku semakin bingung dan tak mengerti tuan!.".Ranu menggaruk kepalanya saking bingungnya dan tak paham.
Alih-alih menjawab,Daniel malah berdecak kesal."Ckkk.Jangan memanggilku tuan,aku bukan tuanmu lagi!.".
"Lalu aku harus memanggil anda apa?.Kakak?.".Menarik satu alisnya keatas.
Ditanggapi gelengan kepala oleh Daniel dan berkata."Aku bukan kakakmu.Aku tak sudi punya adik jelek seperti mu!.".Acuh dan datar.
Ranu memutar bola matanya jengah.Kata-kata Daniel sangat menusuk jantungnya."Kata-kata anda pedas sekali.Wajah semanis dan seimut ini dikata jelek.Kurasa penglihatan anda bermasalah?.Bukankah aku terlalu tampan sebagai asisten Presdir?.".Ranu menangkup kedua pipinya sendiri penuh percaya diri."Kukira sebaiknya aku menjadi model saja.".Berpose ala model majalah pria,menopang dagunya dimeja.
Daniel tersenyum miring dan berdecih melihat tingkah konyol Ranu."Cihhh,narsis sekali.Telingaku sampai gatal.".Mengorek telinganya yang mendadak terasa gatal namun bibirnya tersenyum samar.
Daniel sengaja menggoda Ranu dan meledeknya untuk mengalihkan perhatiannya supaya tak bersedih hati dan prihatin seperti Dani saat melihat kondisinya sekarang.
Daniel tahu,Ranu sangat peka dan peduli terhadapnya.Selalu memperhatikan dan ikut sibuk mengurus masalah pribadinya disamping mengurus tugasnya dikantor.Sebagai asisten dikantor tetapi Ranu merangkap menjadi asisten pribadinya,baik dirumah atau diluar rumah.
"Kurasa anda sependapat dengan ku tuan!.Hahaha....".Ranu berkelakar dan terdengar nyaring tawa renyahnya.
Hati Daniel senang sampai menyunggingkan senyuman lalu berkata."Yayaya,baiklah!.Kamu tampan,tapi membosankan dan naif!.".Tukasnya.
Daniel teringat saat megajak Ranu ke night club,Daniel menawarinya minuman berkadar alk*h*l rendah tetapi ditolak Ranu sebab takut mabuk dan tak sadar.Itu yang membuat Daniel berpikir jika Ranu membosankan dan naif.
Lainnya halnya bagi Ranu.Jika m*buk maka siapa yang akan menyetir mobil dan mengantar Daniel pulang yang sudah tak sadarkan diri akibat efek minuman itu.
Sontak kening Ranu berkerut dan berpikir mencari sikapnya yang seperti dikatakan Daniel.Membosankan,benarkah?.Apa selama ini dia buta?.Sikapku tidak kaku dan tidak dingin.Bukannya sebaliknya...Pikirnya tak ingat akan itu.
Pemikiran Ranu berbeda dengan pemikiran Daniel.
"Apa maksud anda tuan?.Sikapku tidak begitu!.Bukannya anda yang terlalu arogan padaku?.".Sanggah Ranu menunjuk Daniel lalu dirinya sendiri kemudian."Dan agresif,tapi bukan padaku.Pada gadis-gadis?.".Bisiknya pelan takut ada orang lain yang mendengarnya padahal hanya ada mereka berdua diruangan itu.
Tanpa ada penjagaan didalam melainkan penjagaan diluar didekat pintu masuk ruangan itu.
Bagaimana pun juga,Ranu sangat menghormati dan menghargai Daniel.Masih mengangap Daniel sebagai atasannya maka tetap menjaga 'image' nya.
"Kamu meledekku?.".Daniel menarik satu alisnya keatas.
"Maaf.Aku tidak berani tuan.".Ranu melambaikan tangannya diudara menepis ucapan Daniel.
"Panggil aku kakak!.".
Ranu menggelengkan kepalanya."Tidak berani tuan!.".Teringat akan ucapan Daniel tadi.
"Hemmmh...".Menggeram dan Memicingkan matanya menatap Ranu.
"Ba-baik tu- ehhh,kakak.".Jawab Ranu kikuk namun hatinya senang dan tersenyum lebar bibirnya.
"Satu menit lagi.".Daniel melirik jam didinding.
"Apanya?.".Ranu menautkan kedua alisnya keatas.
"Waktumu hampir habis disini.Jika tidak ada kata-kata penting yang ingin kamu sampaikan,lebih baik keluar saja!.".Sentak Daniel.
Ranu tak marah sebab sudah terbiasa mendengar suara bentakan keras Daniel.Disamping kata-kata kasar dan kerasnya Daniel,bagi Ranu tetap baik hati dan perhatian sikap Daniel padanya.
"Kita baru bertemu lagi,tapi malah mengusirku...".
"Kuhitung mundur,10,9,8...".
"Kakak,jaga dirimu baik-baik disini.Aku akan menunggumu sampai kakak keluar dari sini.Apapun masalah mu,kakak tetap Presiden Direktur yang terbaik dihotel.Dan aku akan tetap menjadi asisten setiamu sampai kapan pun dan...".Tutur Ranu tanpa jeda untuk mempersingkat waktunya yang pendek.
"End!.Terima kasih dan pergilah sebelum petugas mengusirmu keluar dari sini.".Usir Daniel tegas dan serius.
Ranu mendengus kesal dan berdecak."Ckkk.Baiklah,aku pergi.".Beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh kebelakang lagi.
"Hahhh,sikapnya dingin sekali.Apa dia tidak merindukan ku?.".Ranu membuka pintu dan keluar dengan hati yang dongkol.
__ADS_1
Daniel tersenyum tipis memandangi punggung Ranu hingga pergi.Hatinya terenyuh dan tersentuh oleh perhatian yang diberikan Dani dan Ranu.Tanpa memikirkan status dan kedudukannya saat ini,Dani dan Ranu masih bersikap sama seperti sebelumnya.Tak memandangnya sebagai seorang tahanan dan tak menganggapnya seperti penjahat.