Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
Bab 37.Kartu Undangan.


__ADS_3

Sore harinya menjelang waktu istirahat tiba.Dengan berat hati dan langkah diseret-seret.Anayra berjalan menuju gedung kantor MARSgroup untuk menemui sang CEO diruangannya setelah terlebih dahulu melewati meja resepsionis lalu melesat kelantai atas menaiki lift.Maksud kedatangannya kesana karena mau memberikan kartu undangan dari Lulla yang diberikan oleh Alma.


"Hai Cakapar,bisa kubantu?."Sapa Khaira ramah seraya berdiri dan tersenyum sumringah melihatnya.


Khaira langsung menyambut kedatangan Anayra saat berjalan menghampirinya.


"Cakapar?.".Gumam Anayra saat berdiri didepan meja Khaira.


"Ekhm...Calon kakak ipar maksudku kak,heee.".Jawab Khaira diakhiri cengiran kuda.


Anayra mengukir senyum masam karena merasa aneh dengan panggilan Khaira padanya.Dan Khaira memanggilnya seperti itu setelah pengakuan Khaffa dan ibunya tadi siang.


"Apa kakak mau ketemu Abang?.Cieee,yang ngebet mau ketemu karena rindu!.".Goda Khaira sambil cengengesan dan mengedip-ngedipkan matanya.


Walaupun belum terbukti kedekatan keduanya berdua dan masih ragu dengan hubungan mereka,tetapi membuat Khaira senang saja karena visi dan misinya untuk mencomblangi telah berhasil tanpa harus susah payah melakukannya.


Perut Anayra mendadak mual dan terasa ingin muntah saat mendengar Khaira berasumsi jika la rindu pada Khaffa.Namun la tidak melakukan itu karena menghargai Khaira.Bagaimanapun Khaira tidak tahu apa-apa tentang hubungan mereka.


"Enggak!,bukan begitu!.Aku cuma mau memberikan undangan untuk dari ibu Lulla,tolong berikan padanya ya!?.".Sangkal Anayra sambil memberikan kartu undangan berwarna dasar putih itu pada Khaira.


"Lahhh,kukira kak Anayra mau ketemu Abang?.".Tanya Khaira sambil menerima undangan itu.


Dugaan Khaira salah,la mengira Anayra datang untuk bertemu Khaffa karena secara Anayra kekasihnya saat ini,setahunya.


"Ga!,nanti saja aku buru-buru!.".Anayra beralasan.


Sebenarnya la ingin menemui Khaffa dan mencaci makinya untuk melampiaskan amarahnya atas kejadian tadi siang.Tapi diurungkan niatnya karena merasa tidak punya tenaga saat ini untuk melakukan itu.Dan la tidak mau dengan sengaja menemui Khaffa karena takut menurunkan moodnya lebih buruk lagi.


"Baiklah,tapi yakin ga mau ketemu Abang?.Nanti ga kuat lho kak,ga kuat menahan rindu hehe...".Khaira menggodanya lagi sambil cengar-cengir seperti kuda.


Tersenyum saja Anayra menanggapinya sambil bergeming.Walaupun pesona Khaffa sangat kuat tetapi untuk urusan hati tidak bisa asal terima saja.Anayra pun tidak mau banyak berharap pada Khaffa dan tidak pernah bermimpi untuk menjadi kekasih yang sebenarnya,sebab la sadar dan tahu diri perbedaan antara mereka.Anayra pikir,level Khaffa pasti sangat tinggi dalam memilih pasangan dan seleranya juga pasti berkelas.Maka dari itu la mengusir jauh-jauh pikiran itu dan mengubur dalam-dalam perasaannya.Dia tidak mungkin menjadi salah satu gadis yang masuk dalam kriteria pilihan Khaffa.


"Makasih ya Khaira,aku pamit pergi ya!.Masih banyak pekerjaan.".Ucap Anayra melambaikan tangannya lalu berbalik pergi.


Dibalik mejanya Khaira menatap punggung Anayra dengan wajah sedih.


"Semoga dia bisa jadi kakak iparku!.".Gumamnya pelan.


Dalam lubuk hati nya yang terdalam,Khaira sangat berharap jika Anayra bisa menjadi kakak iparnya dan bisa menikah dengan kakaknya.Sebab la merasa iba dan kasihan pada Khaffa yang lama hidup menyendiri dan kesepian.Dan menurutnya,Anayra lah wanita yang pantas dan cocok untuk kakaknya itu meskipun Khaira merasakan ada keanehan dan kejanggalan dengan hubungan mereka berdua.


Cklek.


"Tunggu Anayra!.".Cegah Khaffa tiba-tiba keluar dari ruangannya.


Anayra berbalik saat Khaffa menghentikan langkahnya.Dalam diamnya Anayra menatapnya dengan tatapan seolah bertanya 'ada apa?'.Gurat wajahnya tampak penasaran ingin tahu alasan Khaffa memanggilnya dan mencegahnya pergi.


"Bisa kita bicara sebentar!.".Tanya Khaffa saat berdiri didepan pintu ruangannya.


Tanpa berkata-kata Anayra merenung kemudian mengangggukkan kepalanya.Wajahnya datar tanpa senyuman dibibirnya dan kaku tidak seperti biasanya saat berhadapan dengan Khaffa.Biasanya la berargumentasi atau berkomentar.Sedangkan Khaffa sebaliknya,la tersenyum senang karena Anayra tidak menolak permintaannya.


Saat itu Khaffa tidak sengaja melihat Anayra melalui dinding kacanya ditengah kesibukannya.Beruntung la tidak terlambat dan segera keluar untuk mencegahnya saat Anayra akan pergi.


"Masuklah!.".Ucap Khaffa saat Anayra datang menghampirinya.


Dengan langkah terpaksa Anayra masuk kedalam ruangan CEO.Niatnya tidak ingin bertemu Khaffa tetapi ternyata harus bertemu juga.


"Duduklah!.".Titah Khaffa sambil mendudukkan dirinya disofa dan disusul Anayra duduk dihadapannya dengan acuh.


Dalam kebisuan,Khaffa menatap Anayra dengan perasaan penuh penyesalan.Namun jauh didalam relung hatinya merasakan kedamaian dan kenyamanan setiap bersama Anayra.Sekelumit rasa cinta yang masih tabu telah muncul dan hadir menghinggapi hatinya.Walaupun masih gamang dan samar antara ada dan tiada.


Sedangkan Anayra tertunduk diam dan acuh saja sambil memandangi laptop Khaffa dimeja dalam keadaan on.Dilaptopnya terlihat ada beberapa email yang masuk dan belum sempat dibaca Khaffa.


Sebelum memulai pembicaraan Khaffa berdehem untuk mengusir kegugupannya.


"Ekhm...Mmaafkan aku karena ulahku kamu harus terjebak didalam leluconku!.".Ucap Khaffa tulus sambil menatap Anayra dengan sendu.

__ADS_1


Hati Khaffa merasa menyesal dan bersalah atas apa yang menimpa pada mereka berdua.Sebenarnya terlambat untuk meminta maaf sebab semua sudah terjadi,menurut Anayra.Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur dan waktu tidak bisa diputar ulang.


Anayra menghela nafasnya sejenak sebelum menjawab pernyataan Khaffa.Jari jemarinya saling meremas kuat untuk menahan amarahnya supaya tidak meledak-ledak.


"Bisakah Pak Khaffa menjelaskan pada ibu anda siapa aku sebenarnya!?.".Pinta Anayra dengan tegas sambil menatapnya dingin.


"Tentu,tapi beri aku waktu!.".Jawab Khaffa dengan nada memohon.


"Lebih cepat lebih baik Pak sebelum semuanya terlambat.Jangan mendorongku terus untuk membohongi ibu anda dan memberinya harapan palsu!.".Cetus Anayra


"Aku mengerti,tolong bersabarlah!.Apa kamu masih mencintainya dan akan kembali padanya?.".Tanya Khaffa penasaran.


"Itu urusanku,Pak Khaffa ga perlu tau!.".Jawab Anayra ketud dengan raut wajah kesal.


Anayra tidak terima jika Khaffa mulai mencampuri urusan pribadinya karena Khaffa tidak punya hak untuk tahu soal itu.


"Maaf!.Aku cuma tanya jadi ga harus sekesal itu!?.".Dalih Khaffa segera meminta maaf untuk meredam rasa kesal Anayra.


Tersenyum miring saja Anayra menanggapinya sambil memalingkan wajahnya kesamping memandangi meja kerja Khaffa yang penuh dengan tumpukan berkas-berkas.Sedangkan Khaffa gelisah dan panik karena takut Anayra tersinggung dengan kata-katanya sambil memandangi wajah Anayra yang menawan hatinya.


"Kalo ga ada lagi yang mau disampaikan,aku permisi dulu!.".Ucap Anayra sambil berdiri kemudian berlalu pergi dari ruangan CEO.


Dengan cepat Khaffa sontak berdiri ingin mencegahnya pergi tetapi kakinya terasa berat untuk bergerak dan bibirnya terasa kaku untuk bicara.Mendadak kaku dan bisu.Dengan tatapan sedih dan hati seperti disayat-sayat,la hanya bisa meratapi kepergian Anayra.


Sepeninggal Anayra,Khaffa menghempaskan tubuhnya disofa kemudian menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya untuk menstabilkan perasaannya yang tak karuan.


"Fu*ck!.Kenapa gue ga bisa mencegah dia pergi?,kenapa gue ga suka liat dia didekat pria itu?.Kenapa dia selalu jutek sama gue?.".Umpatnya bersungut-sungut mengeluarkan keluh kesahnya sendiri sambil meremas-remas rambutnya.


Sementara diluar ruangannya,Anayra berpamitan pada Khaira.


"Sampai jumpa Khaira!.".Ucap Anayra sambil melambaikan tangannya saat berjalan melewati meja kerjanya.


Sembari menghela nafasnya Khaira memandangi Anayra yang berjalan semakin menjauh.


Heran,aneh dan bingung yang dirasakan Khaira saat melihat interaksi Anayra dan Khaffa tadi saat bertemu.


"Kayaknya benar kata Mami,aku harus menyelidiki mereka.".Sambungnya setelah membaca pesan dari ibunya tadi.


Karena penasaran oleh sesuatu yang belum diketahuinya,Khaira bergegas masuk kedalam ruangan kakaknya seraya membawa kartu undangan ditangannya.Dia ingin mencari tahu hal itu dan sekalian untuk memberikan kartu undangan itu.


"Abaaang,aku mau ta-...Abang kenapa?.".Ucapan Khaira tertahan saat melihat Khaffa duduk bersandar disofa.


Dengan posisi kepalanya menengadah keatas sambil memejamkan matanya.Tampak menyedihkan menurutnya.Ditambah penampilannya acak-acakan seperti orang sedang patah hati dan galau.


"Ada apa?.".Jawab Khaffa lemah seraya menoleh padanya dengan raut wajah sedih.


Dengan tatapan iba Khaira merasa kasihan melihat penampilan Khaffa saat ini.


"Bang,kenapa mukamu kusut gitu?.Bukannya senang abis ketemu soulmate mu?.Aku kira kak Anayra menyuntikkan vitamin pada Abang biar lebih semangat!.Ehhh,malah mukamu kayak baju belum disetrika!.Kusut!.".Celetuk Khaira mengoceh tak jelas bukannya menghiburnya malah meledeknya.


Namun dibalik kata-katanya itu tersimpan maksud tertentu.Dia ingin mengalihkan perhatian kakaknya supaya tidak terlalu fokus memikirkan hal yang direnungkan kakaknya.Khaira bisa menebaknya karena Khaffa tidak biasanya seperti itu,kecuali saat sedang galau atau patah hati.Seperti peristiwa dulu dimasa lalunya ketika kekasihnya menikah dengan pria lain.


Begitulah kira-kira penilaian Khaira pada Khaffa.


"Maksudmu apa Khai'?.Ada apa kamu kemari?.".Sentak Khaffa dengan kesal karena telah mengusik ketenangannya.


Ketenangannya yang sedang asyik merenung dan meratapi nasibnya sendiri.Serta memikirkan Anayra dan ibunya.


"Ini ada undangan dari kak Anayra Bang!.".Ucap Khaira sambil duduk disofa lalu menyodorkan kartu undangan itu pada Khaffa saat teringat dengan niatnya tanpa membahas hal yang membuatnya penasaran.


Sebab Khaira tidak tega menanyakan hal tersebut dan la pikir waktunya tidak tepat setelah melihat situasi dan kondisi kakaknya saat ini.


Sembari beringsrut duduk tegak,Khaffa terperanjat melihat kartu undangan yang ada ditangan Khaira dan spontan segera mengambilnya.Dengan jantung berdebar-debar perlahan la membukanya dan membaca tulisannya.


"Kukira undangan pernikahan.".Gumamnya pelan sambil bernafas lega dan tersenyum.

__ADS_1


Khaffa mengira itu undangan pernikahan Anayra dan Lefrand sebab Khaira tidak menjelaskan perihal undangan itu.Kartu undangan itu sekilas memang tampak seperti undangan pernikahan karena dari warna dan bentuknya yang menawan.Apalagi didominasi dengan tulisannya yang berwarna gold.


Tanpa bergerak ditempatnya,Khaira terheran dengan alis saling bertaut melihat reaksi Khaffa yang cepat sekali berubahnya.Tadi seperti terkejut-kejut tetapi sekarang malah senyum-senyum.Namun la enggan berkomentar karena tidak mau membuat suasana hatinya menjadi buruk lagi seperti sebelumnya.


"Abang,satu jam lagi akan ada pertemuan dengan pihak Fortuna Cosmetic yang akan menggelar event untuk membahas peluncuran produk baru mereka yang akan diadakan pekan ini.Bersiaplah!.".Tutur Khaira menjelaskan jadwal kesibukan Khaffa hari ini.


Jadwal kegiatan Khaffa yang sudah ditentukan jauh-jauh hari sebelumnya dan sudah masuk agenda kerjanya.


"Hemh...Kemana Riccy?.".Tanya Khaffa saat tidak melihat wujudnya sedari tadi tanpa menoleh pada Khaira dan masih fokus pada kartu undangan ditangannya.


"Istirahat Bang!.".Jawab Khaira pendek.


"Khai' siapkan setelan jas pesta buat Abang untuk pekan ini.Warnanya sesuaikan sama DC nya diundangan ini!.".Ucap Khaffa seraya meletakkan kartu undangan itu dimeja lalu beranjak berdiri.


"Dan tanyakan pada Riccy ukuranku!.".Ucap Khaffa sambil berjalan menuju kursi kerjanya kemudian duduk.


"Baik!.".Sembari mengangguk Khaira paham dengan ucapannya lalu bangkit dari duduknya.


"Khai',setelah urusan dengan Fortune selesai.Abang mau pulang dan suruh Riccy ambil alih disini!.".Khaffa berbicara saat Khaira akan berbalik pergi keluar dari ruangan kakaknya.


"Kenapa pu-....".


"Jangan tanya lagi!.Pergilah!.".Dengan cepat menyela ucapan Khaira tanpa menoleh padanya sambil mengibaskan tangannya memberi kode supaya Khaira pergi dari ruangannya.


"Ckkk,whatever.Up to you lahhh!.".Khaira berdecak kesal sambil berbalik dan melangkah pergi dengan langkah panjang menuju meja kerjanya.


Khaffa dan Riccy kadang-kadang kerja full time karena kedudukan Khaffa sebagai CEO menuntutnya untuk tetap standby diruangan kantornya.Dan begitu pula dengan Riccy,posisinya sebagai asisten dan kaki tangan Khaffa menuntutnya agar selalu siap dan siaga disetiap saat.


Namun kini ada Khaira yang sedikit membantu Riccy untuk menangani dan mengatur jadwal pekerjaan dan kesibukan Khaffa.Sehingga bisa mengurangi beban pekerjaan yang dipikul Riccy agar terasa lebih ringan.Tetapi waktu kerja mereka sewaktu-waktu bisa berubah kapan saja sesuai instruksi dari Khaffa.Jika ada hal atau sesuatu yang mendesak dan darurat.


Dan karena kepintarannya,Khaira cepat belajar dan memahami meskipun baru beberapa hari bekerja.Tugas yang diberikan oleh Riccy dan Khaffa pun bukanlah pekerjaan yang sulit dan berat.


Khaffa belum bisa sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab yang besar pada Khaira,mengingat usianya yang masih muda dan baru belajar mengurusi pekerjaan dikantornya.Mungkin jika Khaira sudah paham dan mahir dalam pekerjaannya maka Khaffa akan menyerahkan sebagian tanggung jawabnya padanya untuk mengelola perusahaan yang didirikan oleh ayah mereka.


Ditempat lain.


Sore harinya Alma menemani Riccy menghabiskan waktu istirahatnya disebuah coffe shop yang ada diseberang gedung kantor.Dia bisa menemani Riccy dengan sesuka hatinya karena sudah bebas tugas dari pekerjaannya.


"Benarkah?.Kenapa aku ga tau soal itu?.".Riccy dengan wajah terkejut-kejut setelah mendengarkan cerita Alma.


"Itulah kelebihanmu Babang,lebih banyak kekurangannya!.".Ceplos Alma sambil menarik sudut kiri bibirnya keatas tanda meledeknya.


"Apa maksud kamu?.".Tanya Riccy seraya mengaduk-aduk kopi lattenya.


"Babang kan asisten CEO,tapi kenapa ga tau apapun soal Bossmu itu?...Bukannya Babang selalu ada didekatnya dan harusnya tau semua tentang dia?.".Alma menyindirnya kemudian menyantap cakenya.


"Apa hubungannya?.Tugasku mengurusi pekerjaan dan kebutuhan CEO bukan mengurusi kehidupan pribadinya.Dan aku bukan detektif atau mata-mata yang harus selalu mengawasi gerak-geriknya.".Ucap Riccy sambil meletakkan cangkir dimeja setelah menyeruput lattenya.


"Aku ngerti!.Tapi ingat jangan katakan apapun sama CEO itu!,anggap aja Babang ga tau soal ini,ok!.Aku udah berbaik hati berbagi cerita jadi jangan sampai keceplosan.Paham!?.".Ancam Alma dengan mimik muka serius dan nada tegas.


"Paham ratuku!.Kamu telah menyempurnakan kekuranganku dan mengisi hari-hariku menjadi lebih indah!.".Jawab Riccy menggodanya sambil menggenggam tangannya dan menatapnya dengan intens.


Riccy ingin membuat Alma tersipu dan melihat pipinya merona karena terbawa perasaan oleh kata-kata romantisnya.Dan berharap jika Alma akan tersentuh oleh ucapan dan perlakuannya.Kemudian Alma membalasnya dengan kalimat pujian dan kata-kata yang romantis pula padanya.


"Fiuh,lebaaay!.".Ucap Alma sambil mencebikkan bibirnya.


Namun dalam hatinya berbunga-bunga dan bergembira ria.Dia tidak mau membuat Riccy narsis dan semakin posesif padanya.


"Huuuhhh.Kayaknya cuma aku yang kelewat bucin Al'!.".Sahut Riccy kecewa karena hal itu ternyata tidak mempan untuk Alma.


Sedangkan Alma hanya terkekeh geli menanggapinya.


Saat itu,Alma menceritakan tentang Anayra dan Khaffa karena Riccy merasa curiga dan penasaran ketika melihat perdebatan yang terjadi diRestoran saat itu.Tapi Riccy tidak mempunyai keberanian untuk menghampiri dan mencari tahu sebab Khaffa melarangnya.


Dan Khaira saat itu ketika datang menghampiri Riccy,la langsung duduk dihadapannya sambil asyik melakukan VC dengan Mia sahabatnya yang menanyakan kabarnya dan tentang pekerjaannya.Maka dari itu la tidak tahu-menahu soal kejadian itu.

__ADS_1


__ADS_2