Cinta CEO Untuk Gadis Butik

Cinta CEO Untuk Gadis Butik
Bab 16.Pingsan.


__ADS_3

Anayra POV.


Aku mengerjap saat mencium bau asap kendaraan.sejak kapan aku tertidur?.Seingatku tadi aku berjalan dibasement dan...Jatuh.


Mataku memicing saat menatap seorang pria yang duduk disampingku.Apakah dia pahlawan penolongku?.Tetapi wajahnya tak asing dan...Dia???...Mataku terbuka lebar saat mengenalinya.


Dia meliriku sekilas."Kamu sudah sadar?.Apa kamu sakit?.".Tanyanya kedua tangannya sibuk memegang kemudi.


Tenagaku lemah saat mau berteriak histeris.Kupijat keningku saat merasakan pusing dikepala ku.


Saat sudah sepenuhnya sadar,ku mengernyit bingung."Pak kenapa aku bisa disini?,seingatku tadi ada dibasement?.Dan Pak Khaffa mau bawa ku kemana?.".Tanyaku lemah dan beringsrut duduk tegak.


Percaya tak percaya,aku bersamanya saat ini.Bersama pria yang ku kenal angkuh dan dingin.Selain itu,semena-mena dan selalu menindasku.


"Tadi kamu pingsan,aku akan membawa mu kerumah sakit!.".Jawabnya datar tanpa menoleh.


Apa dia selalu seperti itu pada semua orang?.Atau hanya padaku saja?."Huuuh...".Ku hela nafas kecewa.


Kenapa harus dia yang menjadi pahlawan penolongku?.Tapi aku harus berterima kasih nanti sebab berniat baik menolongku.Bahkan dia menyelimuti tubuhku dengan jasnya.Aku rasa dia tak sejelek yang kupikir.


Kutilik penampilannya.Kemeja warna abu-abunya di keluarkan dari celananya,lengannya digulung sesikut dan dasinya tergantung asal.Rambutnya acak-acakan,tapi kenapa aku malah menyukai penampilannya saat ini???...Tampak seksi.


"Ga usah Pak!.Tolong antar aku pulang saja!.".Kataku menolak.


Aku panik dia mau membawaku kerumah sakit.Bukan masalah biaya yang harus kukeluarkan,sebab Bu Lulla pasti akan membantuku.Melainkan tak mau merepotkan orang lain dan membuat Alma serta keluargaku cemas.Secara,jika Alma tahu pasti takkan menutup mulutnya.


"Tapi kamu keliatan ga sehat,lebih baik diperiksa dulu!.Aku ga mau ada gadis penyakitan menularkan virus diMall ku!.Kamu tenang saja biar aku yang biayai!.".Katanya angkuh.


Whaaat???.Mataku membulat saking kagetnya.Dasar CEO otak kurang se ons.Kata-kata buasnya keluar juga.


"Sabar,sabar!.".lirihku mengelus dadaku pelan.


Bagaimana pun juga,dia malaikat penolongku.Maka,ku harus tetap baik meskipun terpaksa.


"Huuuh...".Ku menarik nafas dalam-dalam dan menghela panjang untuk meredam rasa kesalku.Kupaksakan bibirku untuk tetap tersenyum.


"Aku cuma kelelahan Pak.Mungkin Efek lembur dan ga makan juga.Kurasa Maagku pasti kambuh!.".Ucapku beralasan tetapi memang kenyataannya seperti itu.


Tubuhku memang rentan jika tak ada asupan makanan yang masuk kedalam perutku.ltu sering terjadi dan bukan pertama kali kurasakan.Apalagi jika merasa tertekan,stress dan frustasi.


"Konyol,kenapa kamu menyiksa diri?.Apa sedalam itu kamu mencintai pria itu sampai kamu seperti ini?.".Menatapku heran dan aneh.


Seolah mencibir dan meledekku.Dia menyeringai dan mendengus."Hmh...Apa semua wanita seperti itu sewaktu galau?.Atau cuma kamu saja?.".Katanya dan tersenyum miring.


Sarkastik,kata-katanya menusuk hatiku.Mentang-mentang dia menyaksikan dramaku tadi siang jadi besar kepala.


Kutatap sinis wajahnya.'Hei,dengar pak CEO!.Aku galau bukan akibat patah hati,tapi mantan kekasihku meminta balikan!.".Ingin sekali aku meneriakkan kalimat itu padanya.


Tanganku mengepal,siap mendaratkan tinju diwajahnya.Tapi ku tak bisa melakukannya sebab menghormatinya.Aku terdiam dan menjadi malas menjawab pertanyaanya.


"Pak tolong putar balik dan antarkan aku pulang ke jalan Cendana no 123.".Kataku sopan dan tersenyum masam.


Aku masih tetap tersenyum walaupun ucapannya tak enak didengar.Dia segera memutar kemudinya menuruti permintaanku.


Baru 30 menit lebih bersamanya membuat nafasku sesak dan susah bernafas.Apalagi menghabiskan waktu ku seharian bersamanya.


"Disini saja Pak!.Maaf sudah merepotkan!.Terima kasih sudah menolongku dan mengantarku pulang!.".Sesampainya didepan rumahku.


Kubuka pintu mobil dan keluar.Setengah limbung bergegas membuka pagar dan masuk kedalam halaman rumah.


"Heiii dengar!,ini ga gratis!.lngat!,kita masih punya urusan.Aku masih memikirkan hukuman yang pantas untuk kesalahanmu tempo hari.Siap-siaplah!.".Teriaknya didalam mobil dan refleks ku menoleh kearahnya.


Ku tak habis pikir,disaat seperti ini.Dia masih teringat oleh kesalahan yang kulakukan.


Kepala ku menggeleng tak percaya."Masya Allah...Kenapa aku harus dikelilingi dua pria brengsek dan menyebalkan?.Apa dosaku sangat besar sampai terlibat bersama mereka???.".Gumamku pelan.


Ku mengangguk dan tersenyum manis."Baik pak!.".Aku mengalah,bagaimana pun aku salah.


Berjalan menuju pintu dan membukanya setelah dia pergi.Bergegas masuk kedalam rumah dan mengunci pintu.


*End.


Khaffa POV.


Saat melihat jam di tanganku,waktu sudah menunjukkan jam 21:30 malam.

__ADS_1


Kumelipat laptopku dan merapikan berkas-berkas yang berserakan dimeja.Kumatikan lampu diruanganku sebelum keluar dan meluncur kebawah menggunakan lift.


Saat berjalan dibasement akan pulang,kulihat sosoknya.Sosok gadis yang kukenal berjalan sendirian disana.Tapi kenapa cara berjalannya seperti itu?.


"Apa dia mabuk atau sakit?.".Gumamku bertanya sendiri.


Aku berlari saat tubuhnya oleng dan akan terjatuh.Ku tangkap dan kutahan tubuhnya menggunakan kedua tanganku.


Segera ku mengangkat tubuhnya yang ringan dan memasukkan kedalam mobil ku.Ku dudukkan tubuhnya dikursi mobilku.


Setelah aku duduk dan memasang seat belt,kunyalakan mesin dan melajukannya.


"Konyol!.Dia pingsan dan gue nolongin dia.Kenapa dia bisa pingsan?,apa dia sakit atau tertekan oleh kejadian tadi siang?.".Cecarku bergumam sendiri.


"****!.".Kupukul setir mobilku dan geleng-geleng tak percaya oleh tindakanku yang menolongnya.Menolong gadis yang selalu menyulut emosiku.


Sulit kupercaya!.Dia bersamaku saat ini.Dia duduk disampingku dan terpejam.


Aku menatapnya dan ku akui jika dia memang cantik.Wajahnya manis saat tertidur.Tapi dia akan berubah seperti singa betina jika tersadar dan saat bicara padaku.


"Huuuh...Syukurlah!.".Aku bernafas lega.


Akhirnya dia sadar juga.Tapi kenapa secepat itu?,padahal aku belum puas memandang wajah cantiknya itu.


*End.


Author POV.


Setelah mengantar Anayra pulang.Khaffa memasuki kawasan elit dikota Jakarta.


Khaffa memasukan mobilnya kedalam halaman rumah yang besar dan megah.Setelah sang penjaga pintu membuka pagarnya besi setinggi 3 meter.


Menepikan mobilnya dihalaman rumah yang terhampar luas dan dipenuhi tanaman hias yang tertata rapi dan indah.Pilar-pilar rumah setinggi 5 meter menjulang tinggi dan gagahnya.


Khaffa memutuskan pulang kekediaman keluarganya.Rasa rindu menghampiri untuk bertatap muka dengan orang tua dan adiknya. setelah beberapa lama tak bertemu.


"Aku pulang!.".Khaffa membuka pintu dan mengedarkan pandangannya memandangi ruangan yang hening dan sepi.


Dan nihil,tak ada yang menyahut.Penghuni rumah ada diperaduannya masing-masing.


Khaffa melirik jam diponselnya dan waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.Beruntung Khaffa membawa kunci cadangan pintu rumah itu untuk berjaga-jaga disaat-saat seperti ini.


Setelah itu,langsung berganti pakaian di walk in closhet yang terhubung ke kamarnya.Kamar seluas 3 kali 5 meter bernuansa maskulin.Interior kombinasi warna putih,abu dan hitam.Warna favorit Khaffa.


"Gue rindu kamar ini.Tapi gue ga bisa sering pulang kemari dan bolak balik kemari.".Duduk ditepi tempat tidur dan mengelus seprainya.


"Kamar ini kayak biasanya bersih dan rapi,walaupun tanpa ada gue disini.Thanks Mam!..".Gumam Khaffa mengedarkan pandangannya menyusuri ruangan yang sudah lama tak ditempatinya.


Ruangan yang sangat dirindukannya.


Khaffa bangkit mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur diatas nakas.Menghempaskan tubuhnya ditempat tidur empuknya.Matanya menerawang menatap langit-langit berwarna putih dan tersenyum membayangkan wajah seseorang.Wajah yang ditatapnya lekat tadi.


Menyangga kepala dengan melipat kedua tangannya dibawah tengkuknya."Manis dan cantik,tapi konyol dan payah.Fisiknya tampak kuat dan sikapnya keras,tapi ternyata gadis lemah.".Gumam Khaffa berbicara sendiri dan tersenyum smirk.


***


Keesokan harinya.Pagi hari Khaffa terbangun saat sinar mentari menyelinap masuk melalui celah tirai jendelanya.Beringsrut duduk sejenak untuk meregangkan otot-otot tubuhnya dan beranjak menuju kamar mandi.


Handuk putih melilit dipinggangnya saat keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closhet.Membuka lemari pakaian dan memilih outfitnya dan memakainya..Setelan jas berwarna hitam menjadi pilihan Khaffa untuk dipakainya hari ini.


Setelah selesai,Khaffa keluar dari kamar dan bergegas turun melewati tangga.Mami dan Papi serta adik semata wayangnya sudah ada diruang keluarga dan duduk disofa.


Khaffa menghampiri dan tersenyum lebar memandangi ketiganya."Pagi Pi,Mi?.".Sapa Khaffa.


Secepat kilat ketiganya menoleh dan menatap Khaffa.


Khaira tercengang dan berdecak tak percaya."Ck,ck,ck...Ga salah liat nih?.Abang Malin pulang juga?,dikira ga ingat rimbanya.".Ceplos Khaira.


Refleks kepalan tangan Khaffa melayang dan mendarat di kepala Khaira.Khaffa kesal oleh celotehan adiknya.


"Auwww...".Khaira meringis dan mengusap-usap keningnya saat Khaffa menyentil keningnya.


Khaira menggerutu tak jelas merutuki kejahilan kakaknya,sedangkan Khaffa terkekeh geli saja.


"Akhirnya,abang pulang juga kamu nak?.Alhamdulillah,Papi dan Mami senang sekali.".Rena sang Mami berdiri dan memberikan pelukan hangat penuh kasih sayang pada putra kesayangannya.

__ADS_1


Beralih ke Andika sang Papi dan memeluknya."Abang,selamat datang dirumah.Kamu bisa mengurus dirimu dengan baik rupanya,tanpa belaian manja Mami.Hahaha...".Andika menepuk bahu Khaffa penuh rasa bangga dan senang.


Khaffa tersenyum tipis dan mengelus punggung ayahnya.


"Euleuh,maksud Papi apa?.Ya iyalah Pi,abang sudah dewasa sekarang dan sudah masuk kepala 3 usianya.Harusnya Mami sudah gendong cucu diusia Mami yang sekarang ini!.".Protes Rena merengut dan melipat kedua tangannya di dada.


"Abang jones Mi,jomblo ngenes.Tampang ok,dompet tebal tapi sayang,ga laku.Entah gadis seperti apa yang dicarinya.Tunggu ubanan kali,baru mau naik pelaminan.Hahaha....".


Tak ayal langsung memicingkan matanya dan menatap Khaira."KHAIRA...Pake mulutmu buat makan bukan buat nyumpahin abang!.".Hardik Khaffa geram.


Mode usil dan jahilnya Khaira on.Disofa Khaira tertawa cekikikan sembari memeluk bantal sofa.


"Sudah-sudah!,ayo kita sarapan!.".Ajak Rena.


"Tadi Mami masak dibantu bi Diah.Mami tau abang pulang semalam tadi mang Asep ngasih tau.Tapi Mami sengaja ga bangunin abang,takut mengganggu tidur abang.".Tutur Rena menggelayutkan tangannya dilengan Khaffa dan berjalan menuju meja makan.


Khaffa hanya manggut-manggut menanggapinya tanpa berkata-kata.Andika dan Khaira mengikuti langkahnya dibelakang.


Mereka duduk dikursinya masing-masing.Rena sigap melayani ketiga orang yang disayanginya.Mereka menyantap makanan setelah berdo'a lebih dulu.


Setelah selesai,keluarga bahagia dan terencana itu berbincang-bincang diruang keluarga.


"Abang,Papi lega sebab abang bisa menangani dan mengelola Mall dengan baik.Papi bangga oleh kerja kerasmu.Papi bisa beristirahat dengan tenang sekarang!.Tolong jaga reputasi dan nama baik perusahaan ya nak!.".Tegas Andika namun lembut.


Seksama Khaffa menyimak kata-katanya,tetapi bingung dan berkata."Makasih Pi!,tapi maksud Papi apa?.Istirahat dengan tenang?.".Khaffa mengernyit heran tak paham maksudnya.


"Pensiun abaaang...CEO tapi kok lemot.".Ceplos Khaira asal menimpali.


Rena tak diam saja dan angkat bicara."Khai' kamu ini.Mau Mami sumpal mulutmu pake ulekan,hah?.".Sengor Rena dan melototi Khaira.


"Ishhh...Ga muat Mami!dikira mulut aku cobek gitu.".Khaira acuh dan menceloskan kepalanya kesamping dan menatap siaran televisi.


"Heiii gadis tengil!,jangan merengek kalau nanti ga ada transferan ke rekening mu dari abang.Pi',Mi jangan memberinya uang sepeserpun,biar dia cari uang sendiri!.Jangan cuma malas-malasan dan foya-foya kerjanya setiap hari!.".


Mata Khaira terbelalak dan mulutnya menganga lebar.Khaira langsung menatap Khaffa."Ya ampun.Abaaang,Pliz jangan!.Abang kan tau wanita itu alat perangnya banyak.Masa iya setega itu sama aku?.".Memelas dan merajuk.


Namun Khaffa tak hirau dan tak perduli."Itu urusanmu Khai'.Belajarlah mandiri mulai sekarang dan jangan manja.Kamu bukan gadis remaja lagi.Jangan terus mengandalkan pemberian kami.Belajarlah mencari penghasilan sendiri,biar kamu bisa merasakan kerja keras kami mencari uang selama ini!.".Tegas Khaffa mengintimidasi Khaira.


"Kenapa aku selalu salah dimata Mami dan abang?.Apa aku ga penting bagi kalian?.".Protes Khaira kesal


Mata Khaira berkaca-kaca.Beranjak dari duduknya dan berlari pergi naik tangga keatas menuju menghempaskan tubuhnya ditempat tidur dalam posisi tertelungkup.Menangis sejadi-jadinya sembari memeluk guling.


"Apa aku anak adopsi atau anak pungut dikeluarga ini.Ku rasa cuma Papi yang peduli dan sayang.Ga pernah marah dan selalu menuruti kemauan ku.".Lirih Khaira disela isak tangisnya.


Andika tak bergeming dan memprotes tindakan Khaffa."Abang,jangan terlalu keras padanya.Dia sudah biasa dimanjakan jadi pelan-pelan mendidiknya.Ini salah Papi juga selalu menuruti keinginannya.".Andika bijak walaupun sedikit kecewa.


Perlakuannya sangat lembut dan memanjakan Khaira.Andika selalu menuruti keinginan Khaira dan tak marah apapun ulahnya selama itu tak melewati batas dan masih wajar.


"Biarkan saja!dia memang cengeng dan manja tapi tak mendendam.Nanti juga baik lagi.".Ucap Rena sudah hafal watak putrinya.


Khaffa menghela nafas pendek."Hmh...Baiklah abang pergi kerja dulu.". Khaffa beranjak berdiri di susul Rena dan Andika.


Khaffa berjalan didampingi orang tuanya menuju teras rumah.


"Hati-hati bang!.".Ucap Rena.


Khaffa memeluk orang tuanya bergantian dan mengecup punggung tangan sebelum pergi.


"Assalamu alaikum?.".Pamit Khaffa melambaikan tangannya.


"Waalaikum salam warahmatullahi.".Jawab keduanya memandangi putranya.


Khaffa masuk kedalam mobil dan melajukan kendaraan kesayangannya.Sang penjaga pintu sigap membuka gerbang,Khaffa bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Andika dan Rena masuk kembali kedalam menuju ruang tengah."Putra-putri kita sudah beranjak dewasa dan kita semakin tua.Kurasa rambut Mami mulai beruban Pi.".Rena duduk disofa dan menghela nafas berat.


Andika duduk disampingnya dan berkata."Benar!.Tapi Papi pikir bagus,Mami ga perlu repot mewarnai rambut Mami.Dimata Papi,Mami tetap wanita tercantik walaupun mulai keriput dan beruban.".


"Papi itu memuji atau meledekku?.".Rena mendelik dan merengut kesal.


Andika meraih remot dan mengganti saluran program televisi sembari terkekeh-kekeh.Rena meraih majalah wanita dikolong meja,membuka sampulnya dan menyimak setiap halaman demi halaman itu.Sementara Khaira memandangi ponselnya dan menelpon seseorang.


"Cepat ketaman dan tunggu disana sampai gue datang!.".Langsung menutup panggilan dan meletakkan ponselnya dinakas.


Bergegas bangkit menuju lemari pakaian dan berganti baju.Khaira meraih kunci mobil,dompet,ponsel dan keluar dari kamar.Tergesa-gesa menuruni tangga dan pergi keluar rumah menuju mobilnya.Setelah masuk dan siap dikursi kemudinya,cepat-cepat menginjak pedal gas saat gerbang rumah sudah terbuka lebar.

__ADS_1


 


 


__ADS_2