
Rena sangat antusias dan tak sabar sejak tadi untuk menyambut kedatangan mereka.Hati Rena sudah terbuka dan mau menerima Anayra.Sadar jika selama ini salah karena selalu bersikap egois dan memaksakan kehendaknya sendiri.
Kebahagiaan anak-anak adalah prioritas utamanya sekarang dan diatas segalanya.Tak bisa tergantikan oleh apapun dan lebih berharga dari harta kekayaan yang dimilikinya.Dan mulai berpikir jika kebahagiaan tak bisa ditukar dengan uang atau apapun.
"Nanti Mami bawakan jus buah segar dan cake ke kamar kalian.Cepat sana!,jangan buang waktu lagi!.Lakukan tugas kalian buatkan cucu yang banyak,dan lucu-lucu untuk kami.Nanti Mami bantu dengan do'a,ok!?,hahaha...".Rena terus mengoceh tak jelas dan tertawa renyah serta memandangi keduanya dengan mata berbinar-binar.
Betapa senangnya Rena hingga menunjukkan rona wajah berseri-seri melihat kebahagiaan Khaffa dan Anayra.Tak ada lagi gurat kebencian pada Anayra dan tak menyesal sudah merestui hubungan mereka,serta menikahkan Keduanya.Walaupun pada awalnya sangat menentang keras hubungan mereka.
Mendengar ucapan ibu mertuanya yang terang-terangan,Anayra tersipu-sipu dan menggigiti bibirnya.Tetapi sebaliknya,Khaffa tersenyum bangga mendapat dukungan dan semangat dari ibunya.Sedangkan Andika hanya terkekeh menanggapinya yang berdiri disamping Rena.
"Baik ibu ratu!.Dengan senang hati kami akan mengikuti permintaan Mami.Benar honey?.".Khaffa merangkul pinggang Anayra erat-erat hingga Anayra salah tingkah dibuatnya.
"Hahhh,emhhh i-iiya.".Anayra tersipu malu dan menunduk,menutupi pipinya yang merah merona.
Tetapi dalam lubuk hatinya begitu bahagia telah disambut baik dan hangat sang ibu mertua.Ini sebuah prestasi setelah menghadapi ujian cinta mereka.Pada awalnya harus melewati drama panjang yang menyedihkan,sebelumnya.Namun akhirnya kini bisa tersenyum bahagia.
"Anayra,jangan sungkan disini!.Anggap saja ini rumahmu sendiri.Sekarang kamu anak Mami dan Papi juga.Jadi tidak perlu malu lagi,ok!?.".Rena saat melihat sikap Anayra yang tampak canggung dan kaku,memperjelas posisi Anayra sekarang dirumah nya.
"Iiya,terima kasih!.".Anayra mengangguk dan tersenyum manis.
Melihat interaksi ibunya dan istrinya,senyum Khaffa terukir sempurna,tak bisa menyembunyikan luapan rasa bahagianya.
Usaha keras memang tidak akan mengkhianati hasil.Kebaikan yang ditanam,akan berbuah manis...
Khaffa bersyukur usaha kerasnya dengan Anayra membuahkan hasil yang manis.
"Ok!,cukup basa-basinya!.Ayo honey,kita kekamar!.Untuk mewujudkan permintaan Mami!.".Khaffa membawa Anayra berjalan menaiki tangga bersama, tanpa melepaskan rangkulannya menuju kelantai atas dimana kamarnya berada.
"Sayang,bisakah menjaga sikap mu didepan orang tua atau orang lain,lain kali?.Tidak pantas mengumbar kemesraan didepan mereka.".Anayra mencubiti perut Khaffa sampai meringis dan mendesis dan memegangi perutnya.
"Shhh...Sakit honey'.Kita sudah sah,untuk apa mencemaskan hal itu?.".Khaffa beralasan jika itu hal wajar.
Itu ada benarnya dan bisa dimengerti Anayra.Namun dirinya hanya mengingatkan saja."Sepertinya aku harus sering mengalah mulai hari ini,haaahhh.".Panjang nya Anayra menghela nafas pasrah dan mencebik.
Didepan pintu kamar,langkah Anayra dan Khaffa terhentiDisana saling berpandangan satu sama lain.
Khaffa memegang kedua bahu Anayra dan menatapnya lembut."Kata-kata seorang suami tidak pernah salah.Jika berkata salah,maka harus dibenarkan istri.".Mengedipkan mata dan tersenyum nakal,menggoda istrinya.
Namun Anayra acuh,tak perduli."Ooohhh...Begitu ya?.Kurasa itu egois namanya!?.".Memperjelas makna dibalik ucapan Khaffa,dan menajamkan pandangan mata nya saat menatap Khaffa.
"Itulah sebabnya,mengapa laki-laki harus menjadi nahkoda kapal yang mengambil alih kendali,saat membawa awak buah kapalnya,kemana pun dia pergi.".
Anayra mencerna kata-kata Khaffa dan mengernyit tak mengerti."Itu memang sudah tugas nahkoda.Tapi apa hubungannya itu dengan topik pembicaraan kita?.".Menatap Khaffa penuh selidik,menanti mendengar jawabannya.
Dibalas Khaffa dengan mengernyit dan heran,gadis cantik dan pintar seperti Anayra tak mengerti maksudnya."Kamu tidak mengerti honey?.Bukankah itu perumpamaan keren,yang dikarang seorang CEO tampan dan cerdas seperti ku?.Seharusnya kamu bersyukur memiliki suami seperti ku!?.".Membela diri sendiri dan tersenyum dengan bangganya.
"Baiklah.".Anayra mengalah demi kebaikan,sebelum urusan nya panjang dan tersenyum lebar yang dipaksakan.
Namun Khaffa menanggapinya lain dan tertawa-tawa meluapkan perasaannya yang sangat senang bisa menunjukkan kecerdasannya pada Anayra."Ha,ha,ha...Kamu pasti terkesan pada ku,honey!?.Dan bangga bisa hidup bersama ku.".Mencelos masuk kedalam kamar dengan senyum-senyum sendiri,meninggalkan Anayra sendiri yang terpaku di tempatnya.
"Ha,ha,ha...Ha,ha,ha...".Selain tertawa terbahak-bahak,Anayra tak bisa berkata apa-apa lagi untuk membalas ucapan suaminya.
Inilah konsekuensi yang harus diterimanya jika menikah dan menjadi istri seorang pria bernama Khaffa Alyandra.
Sesaat kemudian,Anayra mengentikan tawanya dan menghembus nafas kasar."Huhhh...Ini baru permulaan.Aku harus menyiapkan diri untuk mendengarkan kata-kata narsisnya yang lain.".Melenggang masuk menyusul Khaffa ke kamar,dan bersiap diri untuk itu.
Diruang tengah,Rena tak hentinya memandang kedua nya sampai menghilang dari pandangannya.
"Mami kelihatan senang sekali,sampai tidak berkedip memandangi mereka.Awasss!,nanti ada tawon masuk ke mata Mami!?.Mata Mami,bisa-bisa membengkak seperti ikan koki.".Andika berkelakar menggoda istrinya yang terbengong dan senyum-senyum sendiri.
Ekor mata Rena langsung mendelik melirik Andik dan mendesis."Hisss...".
Andika sudah siap menutupi kedua telinganya untuk mendengar ocehan istrinya.
"Papi salah!,bukan senang lagi tapi bahagiaaa sekali.".Rena meralat ucapan suaminya dan merentangkan kedua tangannya sampai mengenai wajah Andika,saking bahagianya.
Andika bernafas lega karena Rena ternyata tak marah.Dikiranya Rena akan mencibirnya dan mengumpatnya.Akan tetapi,tetap saja sial karena hidungnya harus terkena imbas senggolan tangan Rena,dan menjadi korban luapan kebahagiaan Rena.
"Bahagia boleh saja.Tapi wajah Papi jangan dijadikan tumbal!.Anak dan menantu datang,suami jadi dilupakan.".Andika merengut kecewa dan mengelus hidungnya yang memerah dan terasa ngilu.
Namun dalam benaknya,Andika senang melihat perubahan sikap istrinya yang menjadi lembut dan sabar.Tak keras dan tak egois lagi dalam menghadapi anak-anak.Terutama pada Khaira yang selalu menarik perhatiannya untuk dihujani dengan ocehan Rena setiap harinya.
"Awas ahhh!,jangan halangi jalan Mami!.".Rena menggeser tubuh suaminya yang berdiri tepat dihadapannya."Mami mau kedapur,mau siapkan makanan untuk mereka.Dan jamu untuk abang,biar tokcer nantinya.".Terus berceloteh saat berjalan menuju dapur,dan tertawa cekikikan sendiri membayangkan reaksi Khaffa nanti saat meminum jamu tradisional.
Andika tertawa saja mendengar celotehannya,dan mendudukkan tubuhnya disofa ruang tengah kemudian menelpon seseorang yang kini tengah mengalami masa-masa sulit.
"Assalamu alaikum?.Bang,gimana keadaan mbak Lenni,apa dia baik-baik saja?.".
__ADS_1
"Waalaikum salam.Dia menangis terus sejak tadi.Sekarang sedang mengunci diri didalam kamar.".
"Aku turut prihatin atas apa yang terjadi pada Daniel sekarang.Tapi maaf!,aku tidak bisa membantu masalah ini.Jejadian yang menimpa gadis itu tidak bisa dibenarkan.Biarkan Daniel merasakan hukumannya agar bisa berubah.Dan supaya bisa memetik pelajaran dan mengambil hikmah,dari perbuatannya.".
"Yaaa,aku mengerti,kamu memang benar!.Semoga saja dia mau berubah dan mau menjauhi minuman keras,setelah ini.Aku sudah sering mengingatkan dan menyadarkannya supaya tidak menyentuh minuman itu lagi,tapi tidak digubrisnya.Sekarang dia jadi merasakan sendiri hukuman akibat ulahnya sendiri itu.Gara-gara minuman haram itu,dia jadi terkurung dipenjara.".
"Kuharap dia cepat paham!.Jagalah kesehatan kalian,dan jangan terlalu banyak berpikir.Doa'kan saja yang terbaik untuk Daniel,dan kesembuhan gadis itu.Semoga saja ada keajaiban,dan kebaikan dari kejadian ini.".
"Yaaa,terima kasih.Kamu selalu mendukung ku.Tentu aku akan mendoakan dan berharap yang terbaik untuk mereka.Aku pun berharap yang sama seperti mu Dika.".
"Baiklah,aku tutup!.Istirahatlah!,agar tetap sehat,supaya bisa menjaga mbak Lenni,dan bisa melihat kebebasan Daniel,nanti.".
Setelah terdengar nada terputusnya sambungan teleponnya.Andika termenung sejenak disofa.Cemas dan khawatir pada kesehatan kakaknya dan kakak iparnya.
Andika sudah tahu jika Daniel dibawa aparat karena Khaffa sebelumnya sudah memberi tahukan soal itu.Andika perlahan bangkit dan pergi menuju ruang kerja pribadinya.
Sibuknya Rena didapur,menyiapkan makanan dan minuman untuk anak dan menantunya,dibantu oleh Bi Diah.
Khaffa dan Anayra ada dikamar Khaffa,yang akan ditempati bersama,dan tidur bersama.
"Kamu suka honey?.".Khaffa berkata lirih ditelinga Anayra dan memeluknya dari belakang,dengan dagu bertengger dipundak istrinya.
Takjubnya Anayra mengedarkan pandangannya memandangi ruangan yang dihias dengan indahnya,dan dipenuhi bunga-bunga bermekaran yang cantik.Wanginya semerbak dan menyeruak,memenuhi ruangan.
"Apa Mami yang menyiapkan ini semua?.".
Sebenarnya Anayra bisa menduga jika ibu mertuanya yang melakukan itu,namun ingin memastikan saja.
"Siapa lagi?,dibantu Khaira juga pastinya!.".Khaffa yakin tentang itu,dan kemudian menciumi tengkuk Anayra lalu menyesap aroma wangi tubuhnya.
"Emhhh,sayanggg...Tahan dulu!.".Anayra menggeliat kegelian."Mami akan kemari.Aku tidak mau terciduk dan menanggung malu.".Ingat akan ucapan Rena saat diruang tengah.
"Tenanglah!.Fokus saja pada tugas kita!.Harhgai kerja keras Mami dan Khaira,yang sudah menghiasi kamar ini!.".Khaffa memutar tubuh Anayra kearahnya,dan lekat-lekat menatap nya.
"Tidak!.".Tegasnya Anayra menolak dan menggeleng cepat."Aku harus merevisi tenaga ku.Kau pun pasti lelah,bukan?.".Anayra menahan dada Khaffa saat mau menciumnya.
"Aku masih kuat untuk itu!.Kamu sadar tidak?,terlalu sibuk merawat Alma,sampai melupakan suami!.".Khaffa mengeluh dan merengut kesal."Hitung!,berapa malam yang kita lewatkan tanpa bercinta?.".Memprotes dan mengelus-elus punggung Anayra.
Kedua tangan Anayra merengkuh leher Khaffa,dan menatapnya dengan penuh cinta dan sayang.Sebaliknya,Khaffa menatapnya dengan rasa rindu yang menggebu dan bergelora.Rindu untuk menyesap manisnya madu bercinta,yang terus tertunda-tunda.
"Kamu berbicara seperti bukan istri ku,tetapi seperti seorang sekertaris.".Khaffa berargumentasi dan tersenyum miring.
"Maaf!.Aku terbawa suasana di tempat kerja.Terbiasa bekerja di depan layar laptop,dan menyalin laporan.Tapi,kamu tau sayang?.Cinta kita seperti mesin fotocopy,dan JNE.".Anayra berbicara yang sulit dimengerti Khaffa.
"Mesin fotocopy dan JNE ?.Mengapa disamakan dengan semua itu?.".Entah bodoh atau memang dirinya tak memahami kata-kata Anayra,Khaffa mengkerutkan kening nya.
"Secepat kilat dan ekspres.".Anayra menjawab dengan ekspresi wajah penuh percaya diri yang tinggi,dan tersenyum manis.
Khaffa mengedipkan matanya,mencerna dan berusaha memahami kata-kata Anayra yang absurd."Ha,ha...Itu benar.Kilat dan ekspres.".Paham jika hubungan yang dijalani secepat itu."Kupikir benda itu tidak cocok untuk mendeskripsikan hubungan kita.".Khaffa tertegun memikirkan sesuatu,dan tersenyum lebar saat tercetus sesuatu dikepala nya."Buldoser.Aku jenius bukan?.".
"Yayaya...".Anayra hanya manggut-manggut saja,dan senyum masam.
"Baiklah,cukup!.Aku tidak ingin menunda waktu lagi.".Khaffa mulai bosan dan jengah,Anayra seperti sengaja mengulur waktu agar dirinya lupa pada niatnya.
Anayra mengerti dan paham dengan keinginan suaminya yang merindukan kehangatan.Bisa melihat dengan jelas dimata Khaffa jika suaminya sangat ingin menyalurkan hasratnya yang terpendam.Dan Khaffa menatap istrinya dengan tatapan mata menuntut untuk segera memenuhi kebutuhan batinnya.
Selama beberapa hari terakhir ini,Anayra terlalu fokus untuk merawat Alma sampai melupakan kewajibannya sebagai seorang istri dan juga mengabaikannya,sebab la merasa bersalah pada Alma.Dan setiap pulang ke apartemen Khaffa yang menjadi tempat tinggal mereka berdua sekarang ini,Anayra selalu tampak kelelahan sampai membuat Khaffa merasa iba melihatnya,sehingga la tak berani mengusiknya dan tak tega membangunkannya walaupun hasratnya sudah memuncak dan meledak-ledak.
"Mandilah dulu!.Kau pasti tidak nyaman usai bekerja?.".Bujuk Anayra supaya Khaffa tak terburu-buru.
"Kamu tau hon'?,apa yang belum sempat kita lakukan setelah menikah?.".Tanya Khaffa dengan lembut.
"Memangnya apalagi yang belum sempat kita lakukan?.".Tanya Anayra sembari berpikir keras.
Membuat bibir Khaffa tersungging mendengarnya
"Mandi bersama!.Ayo kita mandi bersama honey!,pasti menyenangkan.".Bisik Khaffa ditelinga Anayra memanfaatkan situasi dan kesempatan yang ada.
Terlintas dipikiran Khaffa untuk melakukan hal yang belum pernah dilakukan oleh mereka.
"Tidak.Itu akan memakan waktu lama.".Anayra geleng-geleng kepala menolaknya.
Anayra selalu kewalahan menghadapi Khaffa yang selalu tak puas membantainya,dan kuat dalam mendayung sampan asmara hingga dirinya terkapar tak berdaya.
"Tapi menjadi pahala untuk kita.Ayolah!,sekali ini saja?.".Khaffa mendorong tubuh Anayra dan menyandarkannya ke pintu kamar mandi.
"Tidak.Nanti Mami ke...Mphhh.".
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Khaffa membungkam mulut Anayra dengan bibirnya sebelum cicitannya panjang karena tak kuasa membendung rindunya untuk mengunjungi tempat favoritnya sekarang dan ingin segera meledakkan lahar hasratnya yang sudah membuncah dan sudah ada diujung kepalanya.
Saking asyiknya dan terlalu meresapi kenikmatan yang diberikan sentuhan tangan Khaffa.Saat berpetualang dibukit kembarnya,dan tangan kiri menyusup masuk kedalam bajunya.Anayra memejamkan matanya dan tak bisa menghindari,padahal tadi berusaha keras menolaknya.Namun karena tak tega,Anayra pun membalasnya dengan penuh cinta.Tak dipungkiri jika dirinya pun merasakan hal yang sama,tetapi keadaan tak mendukungnya.
Dari arah tangga Rena berjalan naik dengan membawa nampan dan bersenandung ria.
"Goyang senggol,goyang senggol ohhh asyiknya.Goyang senggol,goyang senggol ohhh syahdunya.".Senangnya Rena berjalan berlenggak lenggok menggoyang pinggulnya.
Tok,tok.
Mengetuk pintu,namun tak ada sahutan dari pemilik kamar.
"Yuhuuu,l'm coming!.Abang,Anayra Mami masuk ya!?.".Rena didepan kamar Khaffa membuka pintu dan menerobos masuk ke dalam,dan tersentak kaget."Astaghfirullah.Sudah mulai adegan film nya?.".Menutup satu matanya dan melangkah maju untuk meletakkan nampan diatas nakas.
Konsentrasi Khaffa dan Anayra pun buyar seketika saat fokus pada kegiatannya.Saling melepaskan diri dan salah tingkah.
"Maaf!,cut dulu sebentar setelah jeda iklan yang berikut ini lewat!.".Rena mengkode dengan tangannya seperti seorang sutradara,tanpa merasa malu atau bersalah karena sudah mengganggu.
"Ma-mami,kenapa tidak mengetuk pintu dulu?.".Khaffa garuk-garuk kepalanya yang tak gatal dan cengar-cengir.
Tampak salah tingkah dibuatnya,dan Anayra bersembunyi dibalik punggung Khaffa dengan semburat merah merona dipipinya menahan malu.
"Mami rasa kalian terlalu fokus.Sudahlah,lupakan.Tidak perlu malu,Mami sudah kebal melihat itu.Sebaiknys Abang minum ini saja!,biar manjur dan tokcer!.".Rena mengambil dan menyodorkan minuman berwarna kuning didalam gelas pada Khaffa.
"Apa ini?.Baunya amis dan warna nya aneh?.".Khaffa memandangi minumannya dan menutup hidung dengan jarinya,saat mengendus bau yang menyengat,menusuk indera penciuman nya.
"Minum saja!,jangan banyak bicara!.Nanti habis masa aktifnya.".Rena berkelakar dan mendorong gelas itu kemulut Khaffa supaya diteguknya.
"Fyuhhh...".Tak ayak Khaffa menyemburkan minumannya yang baru ditelannya sedikit.
"Rasanya pahit.Mami mau meracuni Abang?.".Khaffa tak habis pikir,ibunya memberinya minuman yang baru pertama kali dirasakan dan dilihatnya.
"Ya ampun...Kau ini.".Rena menjadi pusing dan kesal,hingga melototi Khaffa dan seolah mau memukul kepalanya."Mami membuat ini dengan susah payah.Ayo cepat habiskan!,sebelum kadaluarsa!.".Mendesak dan memaksa Khaffa agar meminumnya.
Untuk menghindari aroma yang tidak sedap,Khaffa memencet hidungnya dan meneguk jamu dengan cepat dan terpaksa.Tubuhnya bergidik merasakan sensasi aneh yang melekat di tenggorokannya.
Pertama kali melihat Khaffa bertingkah konyol,Anayra tertawa-tawa meluapkan kegelian nya.
"Bagaimana rasanya?.Abang pasti suka!?,jadi Mami akan sering membuatnya.".Rena antusias untuk terus membuatkan Khaffa jamu,dan sumringah.
"Apa?.".Khaffa melongo tak percaya,ibunya akan mencekokinya dengan minuman yang tak disukai nya,yang diberikan Rena.Maka dengan begitu,dirinya pun akan sering meminum jamu yang diracik oleh tangan Rena sendiri.
"Silahkan dilanjutkan!.Maaf.Sepertinya filmnya tidak lulus sensor.Mami melihatnya sedikit,tadi!.Hahaha...".Kelakar Rena dan berjalan keluar dengan tertawa terbahak-bahak.
"Awww,sayang sakit!.".Khaffa memekik kesakitan dengan kerasnya saat Anayra mencubit lengannya.
"Aku malu sudah terciduk ibu mertua.Bagaimana nanti aku menghadapi Mami dan Papi?.".
"Ya ampun,honey.Kenapa orang lain terus yang kamu pikirkan?.Pikirkan tentang kita saja!.".Khaffa membuka pintu kamar mandi,menarik tangan Anayra dan membawanya masuk kedalam.
Dengan hasrat yang menggebu-gebu,Khaffa dan Anayra membuka semua pakaiannya.Anayra kemudian mengisi air panas dan dingin kedalam bathtub.Didalam bathtub berisi air hangat,keduanya memadu cinta yang sudah lama tak tersalurkan.Saling memanjakan dan saling memberikan sensasi sentuhan yang membuat darah mereka mendidih.Desiran kenikmatan menjalar ke seluruh sel-sel organ vital keduanya.
Tak hanya sampai disitu.Berlanjut dibawah kucuran air shower yang dingin dan menyegarkan.Namun dinginnya air tak bisa membekukan karena suhu tubuh keduanya memanas.Khaffa tak hentinya berpetualang digoa tersembunyi yang penuh dengan rasa yang luar biasa indahnya,dan berkelana dibukit yang sintal dan kenyal.
Dengan agresif dan liar,Anayra membalas setiap serangan Khaffa dan mendominasi gerakannya.Terus memberikan pelayanan yang terbaik dan memuaskan pria yang menjadi belahan jiwanya saat ini.Walaupun terasa remuk redam tulang belulangnya tetapi la bangga dan bahagia bisa menjadi pemilik seutuhnya dan satu-satunya suami yang menjadi idaman semua kaum hawa.
Satu jam berlalu tetapi ritual ibadah sunah mereka belum selesai juga.Khaffa menggendong Anayra ala bridal style ketempat tidur yang dilapisi handuk berukuran jumbo.Melanjutkan hingga menuju puncak kenikmatan bersama.Setelah berhasil meledakkan mesiu kental dan bening,kedua sudut bibir Khaffa tersungging keatas membuat garis melengkung.Dengan penuh cinta dan kasih sayang,Khaffa mengecup keningnya.
Cuppp.
"Terima kasih honey!.Aku mencintaimu,sayang!.".Khaffa menyelimuti tubuh Anayra.
"Hemh...Sayang,aku lelah dan mengantuk.".Anayra berkata lirih dan parau,dengan wajah lelah memandangi iris mata Khaffa yang tampak puas dan bahagia.
"Tidurlah!.Sebelum matahari terbenam,akan ku bangunkan.".Khaffa mengelus puncak kepala Anayra.
Dengan mata terpejam,Anayra tertidur pulas diatas tempat tidur empuk dan dibawah selimut tebal dan menghangatkan tubuh nya yang tanpa busana.
Khaffa bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya kembali.Setelah selesai dan bersiap diri memakai pakaian lengkap,menghampiri tempat tidur untuk membenarkan selimut yang membungkus tubuh polos Anayra.Selimutnya tersingkap hingga terekspos bagian dada Anayra,dan memperlihatkan payud*ra padat dan berisi nya.
"Kamu mau menggodaku lagi,honey?.".Gemasnya Khaffa mencubit pipi Anayra dan menyunggingkan senyum."Kecantikan mu yang alami,tidak bisa mengalahkan ketampanan ku.Tapi bagiku,kamu gadis tercantik dihati ku,dan sangat ku cintai.".Tak jemu nya Khaffa memuji diri sendiri,dan terus membanggakan ketampanan nya serta tersenyum narsis.
Tetapi tak ditanggapi Anayra.Kini Anayra tengah asyik dialam bawah sadarnya.Khaffa terkekeh geli saat melihat wajah Anayra senyum-senyum sendiri,tanpa membuka mata dan memeluk guling.
"Kamu pasti sedang memimpikan ku.Aku belum memberi mu ijin.Tapi,tidak apa-apa!.Karena kamu istriku.".Khaffa terus berbicara sendiri,dan menatap syahdu wajah istrinya.
Setelah puas memandangi wajah istrinya,khaffa berjalan menuju kelantai bawah lalu mencari-cari keberadaan ayahnya.Banyak hal yang ingin dibicarakan dengan ayahnya,tentang sesuatu yang mengganjal dihatinya.
__ADS_1