
Happy reading...💕
Terima kasih atas perhatiannya dan kesetiaan kakak semuanya...🥰
_________
Waktu tak bisa bergerak mundur.Alma menyesal tak mencegah Daniel pergi.Tak menyangka akhirnya akan begini jadinya.Namun semua sudah terlanjur terjadi.
Menahan atau merelakan?.Pilihan yang sangat sulit.Tak semudah itu dilakukannya.
Alma tak kuasa menghalangi Daniel mengemban tugas mulianya membantu Khaffa menyelamatkan Anayra.Sahabatnya kini menjadi iparnya.Keselamatan Anayra lebih penting meski Daniel harus menjadi korban.
Itu diluar dugaan dan bukan kehendak semua orang.Ini sudah suratan takdir.
Alma sedang berusaha menerima kenyataan ini.Namun air matanya tak berhenti mengalir.Ya,selain menangisi sosok pria yang terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang rumah sakit berbekal selang infus,oksigen dan Elektrokadiogram,tak ada yang bisa dilakukan Alma lagi.
Matanya terpaku pada tubuh sang suami yang terlihat begitu menyedihkan dan memprihatinkan.Bagian perut Daniel dibalut perban bekas luka tembak dan bekas operasi pengangkatan peluru tadi.Alma sedih,tetapi tak bisa berbuat apa-apa selain menanti keajaiban dan mukjizat Tuhan.
Sedu sedan tangisnya mendayu-dayu diruangan sunyi menunggu Daniel sadar.Tangannya tak beranjak memeluk Daniel."Sayang,aku dan anak kita ada disini bersama mu.Tetaplah bersama kami.Jangan pergi.Jangan pergi meninggalkan kami.".Mental Alma benar-benar belum siap andaikata harus menyandang status janda dan single parent.
Daniel terbujur kaku,bergeming dan tak bereaksi sedikit pun meski sudah diusik Alma."Apa ini dirimu sayang?.".Percaya tak percaya suaminya ada diantara hidup dan mati.Tetapi tak bisa disangkal Alma.Semua ini nyata.
Baru kemarin malam begitu eratnya memeluk Daniel seakan tak mau melepas nya pergi.Namun pada akhirnya tuk pertama kali dengan berat hati merelakan Daniel pergi.
"Sayang,kamu mencintai ku kan?.Jadi bangunlah.Jangan hancurkan mimpi dan harapan ku yang tertunda.".Merasa gusar dan putus asa,Alma terus mengguncang tubuh sang suami berharap Daniel terbangunkan dari tidur lelapnya.
Apa mau dikata jika kenyataan tak seindah mimpi dan asa.Seolah pupus angannya untuk menerima Daniel segenap jiwa raga dan mulai meniti hidup bahagia.Takdir tak membiarkan nya bahagia dan belum memberi nya kesempatan untuk menebus hari-hari yang dilalui kemarin tanpa getaran cinta.
Kecewa,tentu Alma sangat kecewa dan ingin mengutuk sosok yang telah membuat Daniel jadi begini.Namun tak bisa menyalahkan siapapun termasuk sang Penulis Takdir.Hatinya mencoba berdamai untuk pasrah dan ikhlas.
Sejenak Alma menyeka air matanya yang terus berlinang.Kepala Daniel dibelainya lembut.Palung hatinya tertimbun bukit cinta dan sayang.Menerjang deburan benci dan menghempas kabut keraguan.
"Sayang,ayo bangunlah!.Lihatlah aku!.Jangan buat aku lelah karena menangisi mu terus.".Tercabik-cabik hatinya melihat sang belahan jiwa tak menunjukkan tanda-tanda akan sadar dan tak bangun juga dari tidur lamanya.
Ketakutan akan kondisi Daniel semakin memburuk terlintas dibenaknya.Tidak akan pulih dan tidak selamatnya Daniel terbayang di pikirannya.Seakan-akan Daniel takkan membuka matanya lagi tuk selamanya.
Tidak.Jangan sampai itu terjadi,suamiku harus sembuh dan sehat.Ya Tuhan,kumohon jangan renggut nyawa suami* ku*...
Hatinya menjerit dan menggelengkan kepala menangkal pikiran buruk.Berharap Daniel akan segera pulih dan tetap hidup.Perlahan bangkit lalu menciumi kening dan pipi Daniel yang tak pernah dilakukan nya sekalipun.
"Bertahanlah suami ku!.Kamu harus tetap hidup demi aku dan anak kita.Kumohon!,aku tidak ingin kehilanganmu.".Berulang kali mengecup tangan Danieil,tak rela jikalau Daniel pergi meninggalkan nya secepat ini.
Saat itu,Alma memang bersedia dinikahi Daniel tanpa syarat yang berarti.Mau menerima Daniel dengan terpaksa dan penuh kebencian.Kapan pun Alma siap melepas Daniel dan menyandang status janda.Namun saat ini,Alma begitu takut dan tak ingin kehilangan Daniel.
Selama berjam-jam Daniel masih belum sadar dan masih ada dialam bawah sadarnya,efek obat bius saat operasi tadi.Seharusnya sekarang Daniel sudah sadar karena efek obat biusnya sudah habis.Namun hingga detik ini belum sadar juga.Hal itu membuat Alma risau.
Meski begitu,Alma bernafas lega karena operasi berhasil dilakukan.Alma sempat syok saat Daniel kehilangan banyak darah,namun stok darah yang sesuai dengan golongan darah Daniel aman.Daniel sempat Anfal pula dan denyut jantungnya berhenti untuk sesaat.Tetapi berkat Dokter bedah yang bertindak cepat memacu jantung Daniel dengan Defribrilator.Denyut jantung Daniel pun kembali berdetak normal.
Berjalan ditengah gurun cinta menerjang badai kebencian tak mudah dilakukan Alma.Namun Alma senang akhirnya bisa melaluinya sampai titik ini.
"Maafkan aku sayang.Hatiku dibutakan rasa benci.Kini aku sadar,rasa itu hanya mengotori hati ku dan telah membangun dinding penyekat antara kita.Dekat tapi terasa jauh.Tak perduli pahitnya awal mula kisah kita dimulai,tapi kamu suami yang sempurna.".Tangis Alma semakin menjadi menyesali keegoisan dan keangkuhannya selalu menjaga jarak dari Daniel dan seringkali mengacuhkannya.
Sejak peristiwa pahit itu saat Daniel merenggut kesuciannya,Alma begitu terpuruk di lembah trauma.Acap kali Alma mencoba bangkit dan melupakan namun selalu gagal.Hingga rasa benci terus melekat dihati.Namun seiring waktu,kini rasa benci nya terkikis habis karena kebaikan,kesabaran dan perhatian Daniel.Tragedi ini pun menjadi salah satu alasannya.
Tenggelam didasar laut kesedihan yang teramat dalam dan
menjorok,Alma berbisik lirih ditelinga Daniel."Aku mencintai mu,Daniel sayang.".Berderai air matanya tatkala mengucapkan kalimat yang tak pernah diucapkannya dan selalu dinantikan Daniel.
Harapnya semoga belum terlambat mengungkapkan perasaannya pada Daniel.Alma yakin,pasti Daniel bisa mendengar kata cinta nya ini.Kini Alma sadar,cintanya sangat besar dan dalam pada Daniel,disaat rasa takut kehilangan datang menerpa.
Tak disadari Alma,Daniel menggerakkan jari telunjuk nya seketika dan mengerjapkan mata.Mulai merespon dan bereaksi.Setetes air bergulir disudut mata Daniel yang terpejam.Bisikan kata cinta Alma telah memicu kesadarannya.
Flashback on.
Didepan kamar Alma,Lenni terus menggedor-gedor pintu berulang kali dengan wajah panik.
"Almaaaa,cepat bangun Alma.".Separuh jiwa Lenni terasa hilang dan runtuh kebahagiaan nya setelah mendapat telepon dari Khaffa jika Daniel tertembak.
Menunggu sekian lama Alma baru bisa tertidur pulas beberapa jam lalu,namun kini harus terbangun lagi karena dikejutkan suara berisik teriakan Lenni dan suara pintu dipukuli.
Perlahan Alma bangun dan melihat jam dinding waktu baru pukul 02:30 subuh.Setengah mengantuk Alma beranjak dari tempat tidur lalu bergegas membuka pintu.
"Ada apa Mama?.".Perasaan Alma mulai tak enak karena sang Ibu mertua membangunkan nya sedini ini.
Lenni terengah-engah sambil mengatur nafasnya yang memburu.Putra semata wayangnya berjuang dengan maut di rumah sakit Lenni sulit bicara dan gugup."Iiitu...Daniel Alma.Di-dia tertembak.".Seketika air matanya luruh dan mengalir deras di pipinya.
Sesuatu yang ditakuti Alma terjadi juga.Terjawab sudah penyebab Daniel tidak pulang dan tak memberi kabar padanya selepas pergi bersama Khaffa.
Mendengar itu dada Alma seperti ditindih bangunan yang rubuh.Berat dan sesak."Apa?.".Matanya terbelalak dan menutup mulutnya yang menganga lebar.
__ADS_1
Tiba-tiba kakinya terasa lemas dan serasa mau pingsan,Alma berpegangan pada gagang pintu dan berusaha tetap berdiri."Tidak mungkin.Itu tidak mungkin.".Rona kecewa terlihat jelas diwajahnya karena harapannya tak terwujudkan,Alma menggeleng tak percaya dengan yang terjadi pada Daniel.
Tak mau berdiam diri,tanpa memikirkan soal penampilan nya memakai piyama,Alma menyambar tas dan sweater lalu bergegas pergi bersama Lenni.
Al sudah standby didalam mobi dan memanaskan mesin mobil sebelum pergi.Setelah Lenni dan Alma sudah masuk mobil,Al menginjak gas.Alma dan Lenni berpelukan dan menangis sepanjang jalan tanpa henti.
Al tergagu dan bingung melihat pantulan wajah istri dan menantunya di kaca spion karena tak bisa menghibur hati keduanya.Hati Al diliputi ketakutan dan kecemasan yang sama seperti dua wanita yang duduk dibelakangnya.
Mobil patroli Polisi terus mengawal Daniel yang diangkut dengan ambulan menuju rumah sakit.Tiba di rumah sakit Daniel didorong menggunakan blangkar ke ruang ruang operasi oleh Tim medis.Kondisi Daniel begitu memprihatinkan.Kehilangan banyak darah,denyut jantung dan nadi lemah serta tak bereaksi karena itu harus segera dioperasi untuk antisipasi.
Didepan ruang operasi,Dokter bedah menunggu kedatangan anggota keluarga Daniel sebelum melakukan tindakan.Persetujuan dari pihak keluarga Daniel diperlukan sebagai syarat wajib dan sesuai prosedur yang berlaku di rumah sakit.
"Dimana anggota keluarga pasien?.Siapa walinya?.".Dokter bedah itu menanyakan keberadaan kerabat dekat dari Daniel pada seorang Perawat yang berdiri dihadapannya.
Tak seorang pun yang mendampingi Daniel ke rumah sakit hingga menuju ruang operasi selain Tim medis.Koridor didepan ruang operasi tampak kosong.Tak satu pun yang mendekat dan mengaku keluarga Daniel.
Dokter bedah tak bisa menindak lanjuti jika belum ada persetujuan keluarga pasien."Bagaimana ini suster?.Keluarga nya sudah dihubungikah?.Aku tidak bisa menunggu lama.Operasi harus segera dilakukan.".Baju operasi sudah melekat ditubuhnya berwarna hijau lumut.Tangan sudah dibersihkan,steril dan menggunakan sarung tangan.Masker dan penutup kepala.Sudah siap untuk mengoperasi Daniel.
"Keluarga pasien dalam perjalanan.Tunggu sebentar lagi Dokter.".Perawat yang ikut mendorong Daniel tadi menjelaskan.
Tau Daniel dibawa ke ruang operasi,Khaffa memutar arah dari IGD menuju ruang operasi dengan berlarian.Khaffa dikabari pihak polisi jika Daniel tertembak dan dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Anayra.Cukup melegakan hati Khaffa yang cemas dan panik karena bisa mengurDaniel
Sampai ditempat,Khaffa mendengar jelas pembicaraan Dokter bedah dan Perawat lalu mendekati."Dokter.Aku keluarga nya,adik sepupu pasien.Lakukan operasi nya sekarang.Kumohon selamatkan saudara ku.Lakukan yang terbaik untuk nya,Dokter.".Khaffa memohon dengan sangat,karenanya Daniel celaka dan terluka maka sangat berharap Daniel bisa diselamatkan Dokter bedah itu dimeja operasi.
Tugasnya sebagai seorang Dokter sudah kewajibannya menyelamatkan nyawa manusia.Namun jika takdir berkata lain dan Tuhan sudah berhendak,Dokter tak bisa berbuat apa-apa lagi.Tetapi bagaimana pun akan tetap berusaha keras dan takkan menyerah untuk menyelamatkan nyawa Daniel.
"Aku akan berusaha semampu ku.Tanda tangani surat persetujuan nya dan berdo'alah!.".Dokter bedah menanti Khaffa membubuhkan tanda tangan.
Tak mengulur waktu lagi Khaffa pun menandatangani surat persetujuan yang disodorkan Perawat.Tak mengulur waktu lagi Dokter bedah masuk ke ruang operasi.Lampu merah menyala tanda operasi dimulai.
Khaffa duduk menunggu hingga operasi Daniel selesai seraya mengacak-acak rambutnya tak karuan.Khaffa yakin,semua yang terjadi ini hanyalah mimpi.Namun sialnya,mimpi ini begitu nyata dan bisa dilihatnya.
"Ya Tuhan.Maafkan aku.Ini salahku.".Khaffa menyesal tak bisa mencegah Daniel pergi dan menyalahkan diri.
Daniel menghadapi bahaya dengan tangan kosong dan sendirian.Namun bersyukur pasukan khusus bisa menemukan jejak Daniel dan menolongnya.Sudah meringkus Franstian dan Sera Novi juga.Sekarang Khaffa tinggal menunggu kesembuhan Anayra dan keselamatan Daniel.
Tetapi tak disangka Khaffa hal ini akan terjadi.Khaffa baru mengukir senyum bahagia saat Anayra sudah ditemukan selamat.Sekarang dalam perawatan dan hamil pula.Namun sekarang Daniel dalam kondisi kritis.
Khaffa risau,gelisah dan putus asa membayangkan Daniel tak selamat.Alma dan orang tua Daniel pasti akan terpuruk dalam kesedihan.Kehilangan orang yang dicintai dan disayangi begitu menyakitkan.Bisa dirasakan Khaffa saat kehilangan Anayra karena diculik.
"Aku bodoh,payah,pengecut dan pecundang.".Khaffa mengutuk diri sendiri sambil memukuli kepalanya.
Tak berapa lama Alma,Lenni dan Al datang dengan tergesa-gesa dilobby rumah sakit menuju meja resepsionis.Air mata tak berhenti mengalir di pipi Alma dan Lenni.Keduanya begitu mencemaskan Daniel.
"Permisi,dimana korban luka tembak beberapa waktu lalu?.".Al menanyakan keberadaan Daniel pada pegawai resepsionis.
"Di ruang operasi.Sedang ditangani Dokter bedah,Pak.".Pegawai resepsionis menengadahkan tangan kearah koridor kanan menuju ruang operasi.
"Baiklah.Terima kasih.".Al melangkah pergi.
"Tunggu Pak!.Maaf anda keluarga dari pasien bernama Daniel Devandra?.".Pegawai resepsionis menahan Al.
"Benar.".Angguk Al.
Petugas resepsionis menyerahkan formulir pada Al untuk diisi."Tolong isi biodata lengkap pasien dan segera urus Admistrasi nya.".
Al mengerti yang dimaksud pegawai dan yang harus dilakukannya."Baiklah.".Al menoleh pada Alma dan Lenni.".Kalian pergi duluan.Papa disini dulu.".
"Iya Pa.".Alma dan Lenni mengangguk lalu pergi.
Suami berjuang melawan maut,Alma tak sabar ingin melihat keadaan Daniel.Lenni berdo'a di sepanjang kakinya melangkah meminta keselamatan Daniel.
Dokter bedah membedah dan mengangkat peluru yang bersarang di perut Daniel.Dibantu Tim tiga medis yang bersiaga membantu pemimpin operasi berjibaku diposisi masing-masing.Mengawasi monitor Holter,tensi darah dan infus,menyerahkan pisau bedah dan menyeka keringat Dokter,serta Dokter pendamping.
Peluru berhasil ditemukan lalu dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam wadah.Luka bekas operasi lalu dijahit oleh Dokter pendamping.
Lampu merah dimatikan tanda operasi selesai.
Flashback off.
_________
Dikoridor,derap langkah Dokter Obgyn menuju ruang inap Anayra didampingi seorang Perawat untuk mengontrol kondisi Anayra setelah dua hari dirawat dirumah sakit.
Disamping Anayra,Hani telaten menyuapi Anayra yang bersandar di tempat tidur."Anak gadis ibu akan menjadi ibu.Tapi kamu sangat manja,seperti anak kecil saja,kak.".
Kehamilan pertamanya membuat Anayra semakin manja sampai makan pun ingin disuapi Hani dan tidur juga harus ditemani Khaffa di rumah sakit.Anayra tak ingin jauh dari ibu dan suaminya.
Anayra hanya cemberut diledek ibunya.Ya,apa boleh buat.Mungkin ini sudah bawaan bayi yang dikandungnya.Anayra pun tak mengerti dengan perubahan yang terjadi padanya dan keanehan yang dirasakannya.Ini pengalaman pertama bagi nya.
__ADS_1
Makanan yang disediakan pihak rumah sakit sudah setengah piring dimakan Anayra.Ditiga suapan terakhir Anayra menyerah,tak sanggup menghabiskan makanannya lagi.Tiba-tiba perutnya terasa mual dan ingin muntah.
"Sudah Bu.Aku tidak kuat lagi mencium aroma makanan nya.".Anayra menutupi mulutnya dan menggelengkan kepala saat akan disuapi Hani lagi.
Sebagai seorang ibu dan seorang wanita,Hani mengerti yang Anayra rasakan saat ini.Namun kesehatan Anayra dan bayinya lebih penting dari apapun.
"Habiskan!.".Hani menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Anayra dan memaksanya makan."Ini untuk kebaikan mu dan cucu ku.".Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Hani atas kehamilan Anayra dan tak sabar ingin segera menimang cucu.
Kelahiran anak yang dikandung Anayra sekarang sangat dinantikan oleh kedua orang tuanya karena anak itu cucu pertama bagi mereka.Khaffa dan Anayra pun sangat Excited menanti kehadiran buah hati nya lahir ke dunia nanti.
"Baiklah.".Tak ingin berdebat dengan sang ibu,Anayra terpaksa melahap habis makanan nya hingga suapan terakhir.
Kini Anayra paham akan perjuangan menjadi seorang ibu.Ini baru permulaan saja.Mungkin akan lebih berat lagi perjuangan nya saat hamil besar dan melahirkan nanti.Namun Anayra akan melaluinya dengan senang hati.
Tatapan Anayra dan Hani teralihkan pada pintu yang terbuka lebar.
"Selamat pagi?.".
Dua orang berseragam putih berjalan menghampiri seraya tersenyum.Anayra dan Hani pun menyambutnya dengan senyuman.
Dokter Fachri selalu terpesona melihat senyuman Anayra.Begitu pula dengan Anayra mengagumi keramahan Dokter Fachri dan betah memandanginya.Keramahan Dokter Fachri mampu mengalahkan ketampanan suaminya yang dingin kaku dan suka marah-marah tak jelas.
Sikap posesif dan over protektif Khaffa begitu dominan.Sejujurnya Anayra bahagia dengan perhatian Khaffa namun terkadang risih dan membuatnya kesulitan berinteraksi dengan pria lain.
"Selamat pagi.Apa kabar dokter?.".Anayra tersenyum semanis mungkin pada Dokter Fachri,tak perduli dengan wanita disamping Dokter Fachri menatapnya tajam.
"Baik.Apa yang anda rasakan saat ini?.Apa ada keluhan?.".Setiap kali menatap Anayra,hati Dokter Fachri begitu tenang sampai tak mengedipkan mata.
Hani cukup terkejut melihat reaksi berlebihan Dokter Fachri pada Anayra.Aneh dan janggal.Tak semestinya Dokter Fachri menatap Anayra seperti itu.Namun Hani mencoba berpikir positif.Ya,mungkin Dokter Fachri hanya mengagumi kecantikan putrinya.
Meski tak wajar,Perawat itu sudah biasa melihat pemandangan tak menyenangkan didepannya.Tetapi anehnya,rasa sakit dan panas dihatinya masih tetap terasa.Perawat itu pun mengipasi wajahnya dengan papan dada berisi dokumen keperawatan.Jengah juga lama-lama melihat interaksi Anayra dan Dokter Fachri yang tampak akrab.
Menjadi calon ibu memang cukup membuat Anayra terkejut dan harus beradaptasi dengan perubahan baru didalam tubuhnya.Namun Anayra bahagia.Kehahadiran buah cintanya dengan Khaffa adalah anugerah terindah dari Tuhan sepanjang hidup nya.
"Sangat rumit diucapkan kata-kata.Rasanya aneh saat hamil,tapi aku bahagia,Pak Dokter.".Senyum Anayra merekah,tak pernah sebahagia ini.
Kebahagiaan Anayra jelas bisa dilihat Dokter Fachri dari pancaran auranya yang membuat Dokter Fachri iri.Mungkin jika memiliki istri akan bereaksi sama seperti Anayra ketika hamil.Sayangnya sampai detik ini belum menemukan wanita yang tepat untuk dijadikan teman hidup dan pelabuhan terakhirnya.
"Anda harus sabar nyonya.Siklus hormon wanita hamil berubah.Trimester awal akan merasakan dampaknya.Namun trimester kedua dan seterusnya akan kembali normal.".Dokter Fachri menjelaskan yang tidak Anayra tau.
"Begitu ya?.Maaf ya Dok'.Ini kehamilan pertama ku.".Anayra manggut-manggut,sekarang mengerti perubahan yang dirasakan di dalam tubuhnya.
Sejujurnya fase awal ini sangat menyiksa.Namun Anayra bertekad akan menjalani dengan ikhlas dan sabar.
"Aku tau.Nyonya akan terbiasa dengan kehamilan berikutnya nanti.Oiya,mungkin besok anda sudah bisa pulang.Kondisi anda sudah baik.".Terpaksa Dokter Fachri mengijinkan Anayra pulang.
Ia harus menjaga image dan tetap profesional sebagai seorang Dokter.Tak mungkin la menahan Anayra agar lebih lama dirumah sakit demi bisa melihatnya sesering mungkin.Rasa suka ini tidak wajar.Harus dihempaskan dan dikubur.
_________
Ikatan cinta nya tak ubahnya seperti berjalan di jalanan yang berkerikil,berbatu,berlubang,tergenang air dan berlumpur.Penuh tantangan dan rintangan dengan belokan,tanjakan terjal dan menukik tajam.
Tak semudah yang dibayangkan Lefrand dan tak seindah yang diharapkan Khaira.
Nomor yang anda tekan tidak dapat dihubungi.
Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif.
Sudah puluhan kali Lefrand mencoba menghubungi Khaira,lagi-lagi gagal.Khaira sulit dihubungi dan tak bisa ditemui juga.Sejak hubungan nya diketahui Rena,akses jalan nya untuk menemui pujaan hati terhalang.Hal itu membuat Lefrand putus asa.
Lefrand sudah berusaha menemui Khaira di kantornya namun dihadang empat orang bodyguard didepan pintu kantor Khaira.Mencoba mencegat mobil Khaira dijalan,namun dikawal dua mobil bodyguard.Itu semua menyulitkan langkah nya.
Tekad Lefrand sudah bulat akan nekad melawan bodyguard,namun dimenit terakhir diurungkan.Lefrand tak ingin membuat onar di kantor perusahaan besar dan terkemuka milik keluarga Khaira.Mempermalukan harga dirinya sama saja dengan mencemari nama baik Khaira.
Benda pipih berlogo apel itu dibanting Lefrand ke tempat tidur melampiaskan kekecewaan lalu."Aaakhhh...Sial!.Apa yang harus kulakukan sekarang?.".Terduduk dilantai seraya bersandar di sisi Spring bed dengan muka ditekuk.
Beberapa hari tak melihat wajah gadis dicintai membuat Lefrand begitu merindukan Khaira.Rindunya sudah menggebu-gebu namun apa daya jika tak bisa meluapkannya.
Bingkai foto Khaira yang menghiasi meja nakas menjadi obat pelipur lara dan sedikit mengobati rasa rindu nya.Wajah Khaira sedang tersenyum manis ditatapnya lekat.
"Khaira,haruskah aku datang kerumah mu dan memberontak lalu membawa mu pergi jauh dari sini?.".Sejenak Lefrand berpikir untuk melakukan itu lalu menimbang lagi.
Apa itu jalan terbaik?,membawa kabur anak gadis orang?.Apa nyali ku cukup besar untuk melakukan itu dan menghadapi ibu Khaira?...
Pergulatan batin dan logikanya rancu.Lefrand tak yakin bisa meluluhkan hati Rena yang begitu membencinya.Bingung juga harus melepas atau mempertahankan Khaira.
***
Terima kasih untuk like' nya...
__ADS_1